cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
HUBUNGAN ASUPAN KALSIUM DAN FOSFOR, INDEKS MASSA TUBUH, PERSEN LEMAK TUBUH KEBIASAAN OLAHRAGA, USIA AWAL MENSTRUASI DENGAN KEPADATAN TULANG PADA REMAJA PUTRI Maspaitella, Meidi L; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.958 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.734

Abstract

Latar belakang : Remaja merupakan periode growth spurt sehingga kebutuhan zat gizi meningkat. Namun kenyataan beberapa remaja memiliki kepadatan tulang yang rendah hal ini disebabkan antara lain: asupan kalsium dan fosfor yang tidk seimbang, aktivitas olahraga yang kurang, kelebihan atau kekurangan berat badan  serta terlambat menstruasi. Tujuan : Mengindentifikasi hubungan antara indeks massa tubuh, persen lemak tubuh, kebiasaan olahraga, usia awal menstruasi, asupan kalsium, dan asupan fosfor dengan kepadatan Metode : Desain penelitian cross sectional dengan jumlah subjek 74 anak dipilih secara proportional stratified ramdom sampling. Data yang diteliti meliputi indeks massa tubuh (IMT), persen lemak tubuh yg diukur dengan Bio Impedance Analyzer dan microtoice, kebiasaan olahraga, usia awal menstruasi, asupan kalsium dan fosfor diukur melalui wawancara dengan kuesioner dan  food frequency questionnaire dan food recall serta kepadatan tulang diukur dengan Densitometer. Analisis bivariat  menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil : Sebanyak (28,4%) subjek mengalami osteopenia. Nilai z-score IMT  (1,4%) subjek  kategori sangat kurus, (13,5%) subjek  kategori kurus, (6,8%) subjek  kategori kelebihan berat badan,  (2,7%)  kategori kegemukan.  Pengukuran persen lemak tubuh (28,4%) subjek tergolong underfat, (9,5%) subjek tergolong obesitas. Sebagian besar subjek  kurang dalam melakukan olahraga yang meningkatkan kepadatan tulang, (16,2%) awal usia menstruasi  tergolong tidak normal.  Asupan kalsium tergolong kurang (93,2) dan (40,5%) asupan fosfor tergolong lebih. Sebanyak (28,4) subyek mempunyai  kepadatan tulang yang rendah. Indeks massa tubuh yang berlebih berhubungan dengan menurunnya kepadatan tulang pada remaja putri(r=-0,231 p=0,047).Faktor lain seperti persen lemak tubuh(r=-0,124 p=0,293), kebiasaan olahraga(r=-0,124 p=0,293), usia awal menstruasi( r=-0,052 p=0,660), asupan kalsium (r=0,,089 p=0,452)dan fosfor(r=0,087 p=0.463)  tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kepadatan tulang. Kesimpulan : Ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan kepadatan tulang.
PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata) DAN TEPUNG MOCAF TERHADAP KADAR PATI, NILAI INDEKS GLIKEMIK (IG), BEBAN GLIKEMIK (BG), DAN TINGKAT KESUKAAN PADA FLAKES KUMO Suryaningrum, Trisna; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.25 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16436

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus tipe II merupakan penyakit hiperglikemi kronis yang memerlukan konsumsi makanan rendah indeks glikemik. Pengolahan tepung labu kuning menjadi flakes diharapkan dapat menghasilkan flakes dengan nilai IG lebih rendah daripada flakes biasa.Tujuan : Menganalisis kandungan pati, indeks glikemik, beban glikemik, dan tingkat kesukaan flakes yang disubstitusi tepung labu kuningMetode : Penelitian eksperimental acak lengkap satu faktor yaitu substitusi tepung labu kuning sebesar 0%, 15%, 30%, dan 50% dengan simbol L0M90, L15M75, L30M60, L50M40. Analisis kadar pati menggunakan metode hidrolisis asam, nilai IG dengan metode incremental area under the blood glucose response curve (IUAC), tingkat kesukaan dengan metode uji hedonik.Hasil : Terdapat peningkatan pati seiring dengan subtitusi tepung labu kuning dengan kandungan pati tertinggi pada flakes  L50M40 , yaitu sebesar 75,33%. Nilai IG terendah pada flakes L50M40 sebesar 54,36% dan beban glikemik terendah pada flakes L0M90 sebesar 8,55.  Substitusi tepung labu kuning berpengaruh secara signifikan terhadap rasa, warna, dan tekstur tetapi tidak berpengaruh secara signifikan pad aroma flakes.Simpulan : Flakes rekomendasi adalah flakes L50M40 dengan kandungan pati sebesar 75,33%, nilai IG 54,36% dan BG 15,07, serta tingkat kesukaan yang lebih diterima.
HUBUNGAN PENGETAHAN GIZI DENGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, PHOSPHOR, DAN KALIUM PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS RUTIN DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Rachmawati, Tika Yeni; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.179 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4607

Abstract

Latar belakang: Asupan makan pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) cenderung rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi asupan makan adalah pengetahuan gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi dengan asupan energi, protein, phosphor, dan kalium pasien PGK dengan HD rutin di RSUD Tugurejo Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian crossectional. Subjek penelitian adalah pasien PGK dengan hemodialisis rutin. Jumlah subjek sebanyak 27 pasien, yang diambil secara quota sampling. Data umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, riwayat mual/muntah, lama hemodialisis dan pengetahuan gizi diperoleh dari kuesioner. Data asupan energi, protein, phosphor, dan kalium diukur dengan food record 3 hari. Analisis data menggunakan uji Pearson dan Spearman.Hasil: Subjek, terdiri atas 59,3% laki-laki, pendidikan subjek 55,6% SMA, 33,3% subjek bekerja sebagai pegawai swasta, dan 96,3% subjek tidak mempunyai riwayat mual/muntah. Sebanyak 96,3% subjek asupan energi dan proteinnya tidak baik, 55,6% asupan kaliumnya baik, 88,8% asupan phospornya tidak baik, dan 92,6% subjek mempunyai pengetahuan gizi yang rendah. Ada hubungan antara pengetahuan gizi dengan asupan protein (p=0,026). Tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi dengan asupan energi (p=0,871), asupan phosphor (p=0,250), dan asupan kalium (p=0,901).Kesimpulan: Pengetahuan gizi berhubungan dengan asupan protein, tapi tidak berhubungan dengan asupan energi, phosphor, dan kalium
ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA YOGHURT DENGAN PENAMBAHAN NANAS MADU (Ananas Comosus Mer.) DAN EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum Burmanni) Kusumawati, Inmas; Purwanti, Rachma; Afifah, Diana Nur
Journal of Nutrition College Vol 8, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.751 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i4.25833

Abstract

Latar belakang : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi dan aktivitas antioksidan pada yoghurt dengan penambahan nanas madu dan ekstrak kayu manis. Metode : Penelitian eksperimental dengan sampel yoghurt dengan penambahan nanas madu (0%, 20%, 40% dan 60%)  dan ekstrak kayu manis (2% dan 4%). Protein dianalisis dengan metode Bradford, lemak dianalisis dengan metode soxhlet, kadar air dianalisis dengan metode oven, kadar abu dianalisis dengan metode Drying Ash, karbohidrat dianalisis dengan metode Carbohydrate by different, kandungan vitamin C dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis. Aktivitas antioksidan dianalisis dengan metode DPPH, sedangkan uji organoleptik dianalisis dengan uji hedonik. Hasil : Pada penelitian ini didapatkan hasil kandungan protein tertinggi sebesar 4,62 mg, kandungan lemak tertinggi sebesar 3,10 mg, kandungan kadar air tertinggi sebesar 84%, kandungan kadar abu tertinggi sebesar 4,54% ,kandungan karbohidrat tertinggi sebesar 19,51%, sedangkan kandungan vitamin C dan aktivitas antioksidan tertinggi yaitu sebesar 4,29 mg dan 62,4%. Simpulan : Berdasarkan skoring yang dilakukan peneliti dengan mempertimbangkan kandungan yang sesuai dengan SNI dan tingkat penerimaan konsumen yoghurt dengan penambahan nanas madu dan ekstrak kayu manis sebanyak 60% dan 2% (sampel N60K1) adalah yang paling direkomendasikan.
PENGARUH KONSELING MODIFIKASI GAYA HIDUP TERHADAP PENURUNAN ASUPAN NATRIUM, TEKANAN DARAH, DAN KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA REMAJA OBESITAS DENGAN SINDROM METABOLIK Rizky F, Addina; Sulchan, Muhammad
Journal of Nutrition College Vol 4, No 3 (2015): Juli 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.909 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i3.10097

Abstract

Latar Belakang: Sindrom metabolik merupakan prediktor dari penyakit kardiovaskular. Modifikasi gaya hidup merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penanganan sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konseling modifikasi gaya hidup tehadap penurunan asupan natrium, tekanan darah, dan kadar CRP pada remaja obesitas dengan sindrom metabolik.Metode: Desain penelitian ini adalah non randomized pre-post test control group design yang melibatkan 27 remaja di SMA 2 Semarang. Intervensi yang diberikan berupa konseling modifikasi gaya hidup untuk memperbaiki kualitas diet dan aktifitas fisik selama 2 bulan. Tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer sedangkan kadar CRP diukur menggunakan teknik aglutinasi. Pada analisis statistik digunakan uji independent-t-test, Mann Whitney, dan  Wilcoxon.Hasil: Konseling modifikasi gaya hidup dapat meningkatkan kualitas diet dan aktivitas fisik serta menurunkan asupan natrium, tekanan darah sistolik, dan kadar CRP. Pada kelompok konseling intensif, variabel yang meliputi kualitas diet, asupan natrium, dan kadar CRP memiliki perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara sebelum dan sesudah penelitian. Pada kelompok konseling intensif, kualitas diet (1,09) lebih baik daripada kelompok konseling tidak intensif (0,81), penurunan asupan natrium (989) lebih baik daripada kelompok konseling tidak intensif (935), sedangkan penurunan kadar CRP (2,91) lebih tinggi dibandingkan dengan konseling tidak intensif (1,21).Simpulan: Konseling modifikasi gaya hidup berpengaruh terhadap peningkatan kualitas diet dan aktifitas fisik serta penurunan asupan natrium, tekanan darah sistolik, dan kadar CRP. Dibandingkan dengan kelompok konseling tidak intensif, pada kelompok konseling intensif terjadi peningkatan kualitas diet, penurunan asupan natrium dan kadar CRP tetapi tidak terjadi peningkatan aktifitas fisik dan penurunan tekanan darah.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DURI IKAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS) DAN BUBUR RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) TERHADAP KADAR KALSIUM, KADAR SERAT KASAR DAN KESUKAAN KERUPUK Ariyani, Mega; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.535 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2121

Abstract

Latar Belakang : Masyarakat Indonesia kurang mencukupi asupan kalsiumnya sehari-hari, yakni rata-rata sebesar 254 mg/hari. Susu dan suplemen merupakan sumber kalsium yang telah banyak diketahui tetapi tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat Indonesia kurang mencukupi asupan serat sehari-hari, yakni rata-rata sebesar 10,5 g/hari. Pengkayaan kadar kalsium dan serat dapat dilakukan dengan pemanfaatan bahan lokal seperti duri ikan lele dumbo, dimana ikan lele dumbo banyak dijumpai di pasar, harganya terjangkau, dan kadar kalsium kerupuk duri ikan lele dumbo lebih banyak dibandingkan kerupuk udang dan daging ikan, dan Eucheuma cottonii, merupakan salah satu rumput laut dengan sumber serat yang cukup tinggi, dan tidak mengandung asam fitat yang dapat menghambat absorbsi kalsium, pada kerupuk sebagai produk yang mudah diterima, mudah dijangkau berbagai kalangan ekonomi, dan mencakup segala usia. Tujuan : menganalisis pengaruh variasi penambahan tepung duri ikan lele dumbo dan rumput laut terhadap kadar kalsium, serat kasar, dan kesukaan yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur kerupuk. Metode : merupakan penelitian eksperimental acak lengkap satu faktor dengan 6 taraf perlakuan dan kontrol. Variasi perlakuan tepung duri ikan lele dumbo dan bubur rumput laut adalah 25%:0%, 20%:5%, 15%:10%, 10%:15%, 5%:20%, 0%:25%, dan 0%:0%. Analisis statistik kadar kalsium dan serat kasar menggunakan uji One Way ANOVA CI 95% dilanjutkan Posthoc test Tukey dan LSD. Analisis statistik kesukaan menggunakan uji Friedman CI 95% dilanjutkan uji Wilcoxon sign rank test. Hasil : variasi penambahan tepung duri ikan lele dumbo dan bubur rumput laut pada kerupuk berpengaruh terhadap peningkatan kadar kalsium dan serat kasar juga kesukaan meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Kadar kalsium tertinggi terdapat pada kerupuk dengan penambahan tepung duri ikan lele dumbo 25%, dan kadar serat kasar tertinggi terdapat pada kerupuk dengan penambahan bubur rumput laut 25%. Kesimpulan : semakin tinggi penambahan tepung duri, semakin tinggi kadar kalsium kerupuk. Semakin tinggi penambahan bubur rumput laut, semakin tinggi kadar serat kasar dan kesukaan terhadap kerupuk.
KUALITAS DIET DAN AKTIVITAS FISIK PADA REMAJA OBESITAS DAN NON OBESITAS Retnaningrum, Garnis; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.846 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10150

Abstract

Latar Belakang: Obesitas pada remaja disebabkan oleh rendahnya kualitas diet yang digambarkan melalui asupan makanan yang tidak sesuai dengan rekomendasi, sedangkan aktivitas fisik (pengeluaran energi) sangat minimal. Tujuan: menganalisis pengaruh kualitas diet dan aktivitas fisik terhadap status obesitas remaja.Metode: Penelitian observasional dengan pendekatan case control melibatkan 112 subjek di SMP Nasima, SMP Al Azhar 14, dan 23 Semarang. Subjek terdiri dari 56 remaja obesitas dan 56 remaja non obesitas usia 13-15 tahun yang dipilih melalui proportional random sampling dan dilakukan matching terhadap jenis kelamin dan asal sekolah. Data yang dikumpulkan meliputi identitas sampel, persen lemak tubuh, kualitas diet, dan aktivitas fisik. Persen lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), kualitas diet diperoleh melalui formulir Diet Quality Index- International (DQI-I), dan aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-short form (IPAQ-short form). Uji chi square untuk menganalisis hubungan kualitas diet dan aktivitas fisik terhadap status obesitas. Uji regresi logistik untuk menganalisis variabel yang paling berpengaruh terhadap status obesitas.Hasil: Sebagian besar remaja obesitas (96.4%) dan non obesitas (64.3%) memiliki kualitas diet rendah. Kualitas diet rendah pada remaja non obesitas digambarkan dengan rendahnya asupan serat dan mikronutrien, tingginya asupan lemak jenuh dan adanya ketidakseimbangan proporsi makronutrien dan asam lemak, sementara pada remaja obesitas ditambah dengan tingginya asupan energi, karbohidrat, lemak, kolestrol, dan makanan rendah zat gizi. Sebanyak 73.2% remaja obesitas juga memiliki aktivitas fisik yang rendah, sementara remaja non obesitas yang memiliki aktivitas fisik rendah hanya 23.2%. Remaja dengan kualitas diet rendah dan aktivitas fisik rendah masing-masing memiliki risiko 10.4 dan 7.2 kali lebih besar untuk mengalami obesitas.Simpulan: Kualitas diet yang rendah dan aktivitas fisik yang rendah berpengaruh terhadap status obesitas pada remaja.
ANALISIS AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, KANDUNGAN ZAT GIZI MAKRO DAN MIKRO SNACK BAR BERAS WARNA SEBAGAI MAKANAN SELINGAN PENDERITA NEFROPATI DIABETIK Hakim, Verina Permatasari; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.007 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3724

Abstract

Latar Belakang: Nefropati diabetik merupakan salah satu komplikasi mikrovaskuler akibat hiperglikemi yang bersifat kronis pada pasiaen diabetes mellitus. Strategi yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko atau memperlambat progresifitas nefropati diabetik adalah dengan melakukan penatalaksanaan diet yang tepat untuk mempertahankan status gizi optimal, mengendalikan glukosa darah, lipida darah, tekanan darah, asupan protein dan antioksidan, serta mempertahankan keseimbangan elektrolit. Modifikasi makanan selingan berupa snack bar menggunakan produk olahan beras warna serta bahan pengikat berupa inulin dan isomalt dapat menghasilkan produk yang menarik dengan kandungan zat gizi lebih baik.Tujuan: Menganalisis aktivitas antioksidan, kandungan zat gizi makro dan mikro snack bar beras warna, sehingga dapat diperoleh standar porsi snack bar beras warna yang dapat direkomendasikan sebagai makanan selingan penderita nefropati diabetik. Metode: Penelitian eksperimental acak lengkap 1 faktor yaitu 3 produk olahan beras warna meliputi brondong beras coklat, merah dan hitam. Data kandungan lemak, antioksidan, kalium dan fosfor, dianalisis dengan uji Tukey.Hasil: Kandungan zat gizi pada formulasi snack bar beras coklat dengan takaran saji 40 g adalah 160,39 kkal energi, 2,78 g protein, 1,42 g lemak, 34,04 g karbohidrat, 14,27 % aktivitas antioksidan, 46,82 mg kalium, 25,69 natrium, dan 0,16 mg fosfor. Kandungan zat gizi pada formulasi snack bar beras merah dengaan takaran saji 40 g adalah 158,47 kkal energi, 2,53 g protein, 1,51 g lemak, 33,68 g karbohidrat, 14,72 % aktivitas antioksidan, 34,44 mg kalium, 19,33 mg natrium, dan 0,11 mg fosfor. Kandungan zat gizi pada formulasi snack bar beras hitam dengan takaran saji 40 g adalah 157,14 kkal energi, 2,63 g protein, 1,30 g lemak, 33,73 g karbohidrat, 25,52 % aktivitas  antioksidan, 47,46 mg kalium, 23,90 mg natrium, dan 0,19 mg fosfor.Kesimpulan: Semua snack bar beras warna memiliki kandungan protein dan lemak yang rendah namun kandungan karbohidrat lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil perhitungan kandungan zat gizi makanan selingan penderita nefropati diabetik. Snack bar beras hitam memiliki aktivitas antioksidan (25,52 % per 100 g snack bar) yang paling tinggi diantara ketiga jenis snack bar. Snack bar yang direkomendasikan adalah snack bar beras hitam.
Faktor Risiko Kegagalan ASI Eksklusif Wendiranti, Catra Ibriza; Subagio, Hertanto Wahyu; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 3 (2017): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v6i3.16916

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan ASI eksklusif sangat umum terjadi di Indonesia, walaupun ASI eksklusif telah dianjurkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kegagalan ASI eksklusif.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case-control dengan subjek ibu menyusui yang memiliki bayi usia 6-8 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pegandan. Total subjek penelitian ini sebanyak 70 orang, yang terbagi menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol. Informasi mengenai dukungan suami, pemberian informasi oleh petugas kesehatan, penolong persalinan, tempat bersalin, pendapatan keluarga, status pekerjaan ibu, dan ketersediaan ruang ASI di tempat kerja didapatkan melalui wawancara langsung. Analisis data dengan tabulasi silang 2x2 dan regresi logistik.Hasil: Hampir separuh subjek penelitian berada di kelompok usia 20-29 tahun dengan rerata usia 31,1±5,58. Ibu menyusui yang tidak didukung suami untuk melakukan ASI eksklusif berisiko 3,59 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif, ibu menyusui yang melahirkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama berisiko 5,18 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif, serta ibu menyusui yang menerima informasi yang salah dari petugas kesehatan berisiko 8,06 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif.Simpulan: Faktor risiko kegagalan ASI eksklusif adalah suami yang tidak mendukung, tempat bersalin di fasilitas kesehatan pertama, dan pemberian informasi yang salah oleh petugas kesehatan.
HUBUNGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANC (Ante Natal Care) DENGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI PADA BAYI USIA 6 BULAN Kirimunun, Maria Pangkrasia; Noer, Etika Ratna
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.536 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6874

Abstract

Latar Belakang: ASI bermanfaat untuk kesehatan bayi. Namun saat praktiknya masih rendah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif di Indonesia hanya 15,3%. Penyebab rendahnya pemberian ASI Eksklusif di Indonesia adalah faktor sosial budaya dan kurangnya pengetahuan ibu hamil, keluarga dan masyarakat.Tujuan: Mengetahui hubungan frekuensi kunjungan ANC (Ante Natal Care) dengan riwayat pemberian ASI pada bayi usia 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mopah Kabupaten Merauke, Propinsi Papua.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional dan subjek adalah ibu menyusui. Data karakteristik subjek, frekuensi kunjungan ANC dan riwayat pemberian ASI diperoleh melalui kuesioner. Subjek sebanyak 30 ibu diperoleh dengan cara purposive sampling. Data dianalisis secara kuantitatif dan menggunakan uji chi square.Hasil: Hasil univariat menunjukkan frekuensi kunjungan ANC tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan riwayat pemberian ASI pada bayi usia 6 bulan (p=0,713). Pengetahuan dan budaya merupakan penyebab yang masih mendukung ibu untuk tidak melakukan  pemberian ASI Eksklusif.Simpulan: Frekuensi kunjungan ANC tidak berhubungan dengan riwayat pemberian ASI pada bayi usia 6 bulan.