cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
ASUPAN ISOFLAVON KEDELAI KURANG SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEPADATAN TULANG RENDAH PADA WANITA PASCAMENOPAUSE Prabaningrum, Nimas; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.635 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6884

Abstract

Latar Belakang : Osteoporosis pascamenopause merupakan osteoporosis yang paling sering terjadi, disebabkan oleh penurunan kadar estrogen dan faktor – faktor lain antara lain asupan kalsium, vitamin (A, D, C, K) ,konsumsi kafein, riwayat penyakit diabetes melitus (DM) dan lama menopause pada wanita. Isoflavon kedelai dapat berfungsi sebagai hormone replacement therapy karena memiliki kemiripan struktur kimia dan fungsi dengan hormon estrogen. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis asupan isoflavon kedelai, vitamin (A, D, C, K), kalsium, konsumsi kafein, riwayat DM dan lama menopause sebagai faktor risiko kepadatan tulang rendah wanita pascamenopause.Metode : Penelitian observasional dengan desain kasus kontrol pada wanita pascamenopause di Kelurahan Ngemplak Simongan, Bongsari dan Barusari Kota Semarang. Kelompok kasus (50 orang) didapatkan dengan cara random sampling, lalu dicari kelompok kontrol (50 orang) dengan melakukan matching status gizi berdasarkan persen lemak tubuh. Data kepadatan tulang diperoleh menggunakan densitometer quantitative ultrasound, data persen lemak tubuh diperoleh menggunakan BIA (Bioelectrical Impedance Analyzer), data riwayat asupan zat gizi diperoleh melalui wawancara menggunakan semi-quantitatives food frequency questionnaire. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan Fisher Exact, analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik.Hasil : Rerata kepadatan tulang (T-Score) kelompok kasus -1,9±0,49 SD sedangkan kelompok kontrol -0,4±0,47 SD. Rerata variabel asupan zat gizi (isoflavon kedelai, kalsium, vitamin A, vitamin D, vitamin C, vitamin K) kelompok kontrol lebih besar dibandingkan kelompok kasus. Asupan isoflavon kedelai, vitamin A, vitamin K, riwayat DM dan lama menopause merupakan faktor risiko kepadatan tulang rendah pada wanita pascamenopause yang bermakna. Faktor risiko paling berpengaruh pada kepadatan tulang rendah pada wanita pascamenopause yaitu asupan isoflavon kedelai kurang (p=0,000;OR=7,9), riwayat penyakit diabetes melitus (p=0,004;OR=13,682) dan lama menopause > 10 tahun (p=0,037;OR=3,364).Kesimpulan : Asupan isoflavon kedelai kurang, riwayat penyakit diabetes melitus (DM) dan lama menopause > 10 tahun merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh pada kepadatan tulang rendah wanita pascamenopause. Asupan isoflavon kedelai < 35 mg/hari meningkatkan risiko kepadatan tulang rendah sebesar 7,9 kali, riwayat DM meningkatkan risiko kepadatan tulang rendah sebesar 13,7 kali dan lama menopause > 10 tahun meningkatkan risiko kepadatan tulang rendah sebesar 3,4 kali.
PENGARUH PEMBERIAN BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY DENGAN HIPERKOLESTEROLEMIA Dewi, Claudia Kartika; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.819 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.427

Abstract

ABSTRACTBackground : Coronary Heart Disease (CHD) is a cardiovascular disease wich primary  cause of deadness in any countries. It is one of the causes hypercholesterolemia. Papaya fruit has many benefits for health such as anti-inflammatory, anti-hypertension, it can reduce triglyceride levels and it can reduce total cholesterol levels in the blood. The purpose of this study is to investigate the effect of administration of papaya (Carica papaya L) for total cholesterol levels in Sprague Dawley rats with hypercholesterolemia.Method : This research was true-experimental pre-post test control with rondomized group design. Subjects were male Sprague Dawley rats aged 7-8 weeks, weight 100-200 grams are a given blended of  papaya fruit as much as 5.4 g, 7.2 g and 9.0 g per within 4 weeks. Total cholesterol levels are determined by the CHOD-PAP method Enzimatic Precipitation Colorimeter Test. Data normality was tested by Shapiro Wilks. Data were analyzed by ANOVA test, followed by LSD test.Result : the research shows that giving papaya 5.4 g per day is able to reduce  total cholesterol were significantly (p = 0.001). Giving papaya in dosage of 7,2 g can reduce cholesterol but it is insignificance (p= 0,086) and giving papaya in dosage of 9,0 g can not reduce the cholesterol (p= 1,000).Conclusion : Giving papaya dosage 5.4 gr, 7.2 g and 9 g can not lower significantly of total cholesterol levels Key Words : hypercholesterolemia, papaya, total cholesterol
ANALISIS KEAMANAN MIKROBIOLOGI DAN LOGAM BERAT (AS) KETUPAT AIR TANJUNG Fadhilah, Eva; Margawati, Ani
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.201 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16375

Abstract

Latar Belakang: Di Tasikmalaya, ketupat merupakan makanan sumber karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari. Di wilayah tersebut, ketupat dimasak menggunakan air tanjung. Berdasarkan hasil oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta tahun 2007 dan 2013, air tanjung dilarang digunakan karena kandungan mikrobiologi dan logam arsen diatas ambang batas. Berdasarkan hasil oleh laboratorium tersebut, peneliti ingin menguji keamanan ketupat air tanjung dari aspek mikrobiologi dan logam arsen.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian adalah ketupat yang menggunakan air tanjung sebagai bahan pengolahannya. Data yang dikumpulkan meliputi total mikroba, Escherichia coli, kapang dan arsen. Data diperoleh dari pengujian di Laboratorium FTIP Universitas Padjadjaran dan Laboratorium Kesehatan Daerah Ciamis. Metode laboratorium untuk total mikroba dengan metode hitung cawan (Total Plate Count), Escherichia coli dengan metode MPN Escherichia coli (Most Probable Number), dan kapang dengan metode TPC (Total Plate Count) Koloni Kapang, sedangkan untuk kandungan arsen menggunakan metode Absorption Atomic Spectrophotometer (AAS).Hasil:  Rata –rata kandungan total mikroba, Escherichia coli, kapang dan arsen pada ketupat air tanjung adalah 4x103 cfu/g, ˂3 APM/g, 2,3x102 cfu/g, dan 0,02 mg/kg. Kandungan total mikroba, Escherichia coli, kapang, dan arsen pada air tanjung tidak melebihi ambang batas cemaran mikrobiologi dan logam menurut SNI mie basah matang dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.Simpulan: Berdasarkan uji yang dilakukan, ketupat air tanjung terbukti aman dari cemaran mikrobiologi dan logam arsen.
HUBUNGAN SKOR FREKUENSI DIET BEBAS GLUTEN BEBAS CASEIN DENGAN SKOR PERILAKU AUTIS Arfiriana, Rifmie Arfiriana; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.397 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4525

Abstract

Latar Belakang: Salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya perilaku autis, yaitu dengan cara menghindari makanan yang mengandung gluten maupun casein sebab pada penderita autis terjadi hipermeabilitas mukosa usus yang mengakibatkan kedua jenis protein tersebut sulit dicerna dan akan membentuk suatu zat yang disebut peptide. Peptide gluten menghasilkan gluteomorphin atau gliadimorphin dan peptide casein membentuk caseomorphin. Kedua zat tersebut dapat mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga menimbulkan gangguan perilaku.Metode: Penelitian observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan di Pusat Terapi Pendidikan Ananda Bekasi. Jumlah sampel sebanyak 30 subjek yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data yang dikumpulkan, meliputi data identitas sampel berupa usia terdiagnosis autis, berat badan dan tinggi badan, berat badan saat lahir, data karakteristik orangtua, usia ibu saat hamil subjek, data skor frekuensi diet bebas gluten bebas casein diperoleh melalui FFQ serta data pengamatan perilaku yang diperoleh melalui kuesioner lembar perilaku ICD-10. Analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product Moment.Hasil: Penderita autis lebih banyak ditemukan pada laki-laki (83,3%) dibandingkan perempuan. Usia terdiagnosis autis paling dominan antara 1-2 tahun (53,3%) dan sebagian besar status gizinya normal (46,7%), tetapi adapula subjek (40%) yang mengalami overweight dan obesitas. Subjek yang  mengalami penurunan perilaku autis sebesar (26,7%). Seluruh (100%) subjek pada penelitian ini masih mengonsumsi makanan yang mengandung gluten maupun casein. Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan antara skor frekuensi diet bebas gluten bebas casein dengan skor perilaku autis (r=0.369, p=0.045).Simpulan: Terdapat hubungan antara skor frekuensi diet bebas gluten bebas casein dengan skor perilaku autis.
Asupan Protein dan Asam Lemak Omega 6 Berlebih Sebagai Faktor Risiko Kejadian Obesitas pada Anak Sekolah Dasar di Semarang Rachmawati, Rizki Khoirur; Ardiaria, Martha; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 7, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.317 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i4.22275

Abstract

Latar Belakang: Obesitas adalah kondisi multifaktoral yang ditandai dengan akumulasi lemak berlebih dalam tubuh. Obesitas pada usia sekolah merupakan masalah serius yang berlanjut hingga usia dewasa dan dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif. Tingginya asupan protein pada anak usia 10-12 tahun di Jawa Tengah (113,1%) dan terjadi perubahan pola konsumsi dari pola konsumsi dunia barat yaitu tingginya asam lemak omega 6 menyebabkan terjadinya obesitas pada anak sekoah dasar.Metode: Desain penelitian case control dengan 66 anak usia 10-12 tahun yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu obesitas dan normal. Penelitian ini dilakukan di SDN Pekunden. Data yang diteliti meliputi asupan protein, serat, asam lemak omega 3 dan asam lemak omega 6 sebagai variabel bebas, serta asupan energi, karbohidrat, lemak dan aktivitas fisik sebagai variabel perancu. Data asupan makan diperoleh melalui kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire dan data aktivitas fisik diperoleh dari The Physical Activity Questionnaire for Older Children. Analisis data menggunakan uji Chi Square.Hasil: Rerata asupan protein dan asam lemak omega 6 pada kelompok obesitas lebih tinggi (100,7±23,48; 159,6±43,49) daripada kelompok normal (81,4±26,13; 141,5±68,09). Terdapat hubungan antara asupan protein dan asam lemak omega 6 berlebih dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar, dimana subjek dengan asupan protein berlebih memiliki 4,81 kali lebih besar berisiko obesitas (p=0,003) dan subjek dengan asupan asam lemak omega 6 berlebih memiliki 5,81 kali lebih besar berisiko obesitas pada anak sekolah dasar (p=0,02).Simpulan: Asupan protein dan asam lemak omega 6 berlebih merupakan faktor risiko terhadap kejadian obesitas pada anak sekolah dasar.
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, SENG, DAN KEBUGARAN FISIK DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK STUNTING DI SDN PENGANTEN I, II, DAN III KECAMATAN KLAMBU KABUPATEN GROBOGAN Shokibi, Ahmad; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 4, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.601 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i1.8623

Abstract

Latar Belakang : Prestasi belajar anak stunting lebih rendah dibanding anak non-stunting.Faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah asupan energi, protein, seng, dan kebugaran fisik, sehingga apabila asupan dan kebugaran anak stunting baik maka ada harapan prestasi belajarnya juga baik. Tujuan : Mengetahui hubungan asupan energi, protein, seng, dan kebugaran fisik dengan prestasi belajar anak stuntingMetode : Jenis penelitian ini adalahanalitic observational dengan desaincross-sectionalpada 67 murid stuntingkelas III - VI SDN Penganten I, II, dan III. Data asupan energi, protein, dan seng diperoleh melalui Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (FFQ), data kebugaran fisik diperoleh melalui harvard step test untuk anak usia Sekolah Dasar, data prestasi belajar diperoleh dari rata-rata nilai matematika, bahasa Indonesia, dan IPA semester terakhir (Januari-Juni 2014) yang diperoleh dari rapor. Hubungan asupan energi, protein, seng, dan kebugaran fisik dengan prestasi belajar menggunakan uji Pearson.Hasil : Rerata asupan energi, protein, dan seng subjek berturut-turut 1648 ± 809 kkal, 68 ± 25 gr, 7.1 ± 2.6 mg dengan sebagian besar tingkat kecukupan energi, protein, dan seng subjek berturut-turut adalah rendah (46.3 %), tinggi (66.7 %), rendah (80.6 %). Rerata skor kebugaran fisik subjek 59 ± 15 dengan sebagian besar masuk kategori tingkat kebugaran sedang (61.2 %). Rerata nilai prestasi belajar subjek sebesar 75 ± 7. Terdapat hubungan positif antara kebugaran fisik dengan prestasi belajar anak stunting (r : 0.744, p<0.05). Tidak ada hubungan antara asupan energi, protein, dan seng dengan prestasi belajar anak stunting (p>0.05).Kesimpulan : Kebugaran fisik terbukti berhubungan dengan prestasi belajar anak stunting, dimana semakin baik kebugaran fisik anak stunting maka prestasi belajarnya juga semakin baik.Asupan energi, protein, dan seng tidak terbukti  memiliki hubungan dengan prestasi belajar anak stunting.
PENGARUH PEMBERIAN NATA DE COCO TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA WANITA HIPERKOLESTEROLEMIA Purwani, Ni Putu Ratih; Mulyati, Tatik
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.492 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.735

Abstract

Latar Belakang : Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Konsumsi makanan tinggi serat dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Nata de coco mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin yang berperan dalam menurunkan kadar kolesterol total dalam darah. Metode : Jenis penelitian adalah true experimental dengan rancangan control group pre-test-post-test. Subyek adalah wanita hiperkolesterolemia dengan kadar kolesterol total ≥200 mg/dl, dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan 1 mendapat 160 g nata de coco/hari (serat 4.8 g) dan perlakuan 2 mendapat 320 g nata de coco/hari (serat 9.6 g). Intervensi dilakukan selama 14 hari. Metode CHOD-PAP digunakan untuk menganalisis kadar kolesterol total, darah diambil setelah subyek berpuasa selama 10 jam. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk. Analisis statistik menggunakan uji paired-samples t test dan uji Kruskal-Wallis. Hasil : Konsumsi nata de coco dengan dosis 160 g/hari (serat 4.8 g) dan 320 g/hari (serat 9.6 g) dapat menurunkan kadar kolesterol total berturut-turut sebesar 5.17%  (p=0.049) dan 6.59% (p=0.011),  namun tidak ada perbedaan penurunan kadar kolesterol total antara kedua kelompok (p=0.857). Sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan kadar kolesterol total sebesar 1.7% (p=0.024). Kesimpulan : Konsumsi nata de coco berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol total pada wanita hiperkolesterolemia, namun tidak ada perbedaan penurunan kadar kolesterol total antara kedua kelompok.
PENGARUH PEMBERIAN JUS JERUK MANIS (Citrus sinensis) TERHADAP INDEKS KELELAHAN OTOT ANAEROB PADA ATLET SEPAK BOLA DI GENDUT DONY TRAINING CAMP (GDTC) Kusumastuti, Evi; Widyastuti, Nurmasari
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.765 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16437

Abstract

Latar belakang : Kelelahan otot anaerob terjadi karena aktivitas atau intensitas tinggi yang membutuhkan energi cepat dalam waktu yang singkat. Produk sampingan berupa asam laktat yang apabila terakumulasi dapat menghambat kontraksi otot. Pemberian karbohidrat sebesar  30-60 gram/jam mampu untuk mempertahankan level glukosa dan dapat menjaga tingkat pembakaran karbohidrat di dalam tubuh sehingga terjadinya kelelahan dihambat hingga 30-60 menit. Buah jeruk mengandung karbohidrat sebagai sumber energi dan kalium untuk keseimbangan cairan dan elektrolit. Kombinasi zat gizi pada buah jeruk berpotensi untuk mengurangi kelelahan otot.Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus jeruk manis untuk mengurangi kelelahan otot anaerob pada atlet sepak bola.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan rancangan post test only with control group design. Jumlah subjek 21 atlet sepak bola usia 15-18 tahun di  Gendut Dony Training Camp yang dibagi secara acak menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Subjek penelitian menerima intervensi pemberian jus jeruk manis dan placebo sebanyak 300 ml yang diberikan 30 menit sebelum tes. Kelelahan otot anaerob pada atlet sepak bola diukur dengan menggunakan RAST (Running-based Anaerobic Sprint Test) dengan menghitung nilai AF (Anaeroic Fatigue). Data dianalisis menggunakan uji Independent Sampel T-tes.Hasil : Antara dua kelompok subyek tidak ada perbedaan yang bermakna antara umur, berat badan, tinggi badan, IMT, dan rerata asupan makan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Rerata nilai indeks kelelahan otot anaerob kelompok perlakuan adalah 6,72±3,02 dan kelompok kontrol adalah 11,17±1,92. Simpulan : Pemberian jus jeruk manis 30 menit sebelum olahraga secara bermakna dapat mencegah kelelahan otot pada fase anaerob. 
PERBEDAAN PENGARUH ASUPAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea) REBUS DAN PANGGANG TERHADAP KADAR ASAM URAT DALAM DARAH PADA WANITA DISLIPIDEMIA Angelina, Fransiska; DK, Kusmiyati; Wirawanni, Yekti
Journal of Nutrition College Vol 3, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.52 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i2.5117

Abstract

LatarBelakang : Hiperurisemi dipengaruhi oleh keadaan dislipidemia dan asupan purin. Kondisi dislipidemia mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim GA3PDH (Glyceraldehyde 3 phospate dehydrogenase) yang menyebabkan terjadinya diversi ribose-5-phospate menjadi PRPP (phosphoribosyl pyrophosphate). PRPP lalu ditransformasi menjadi inosine monophosphate (IMP). Dari senyawa perantara yang berasal dari adenosine monophosphate (AMP) dan guanosine monophosphate (GMP), purinic nucleotides digunakan untuk sintesis DNA dan RNA, dilanjutkan dengan  inosinyang kemudian akan mengalami degradasi menjadi hipoxantin, xantindan akhirnya menjadiasam urat. Asupan purin yang berlebihan seperti kacang tanah juga dapat meningkatkan kadar asam urat darah. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuiperbedaan pengaruhasupan kacang tanah rebus dan panggang pada wanita dislipidemia.Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan rancangan pre test – post test. Subjek adalah 22 wanita dislipidemia dengan kadar kolesterol LDL  ≥ 130 mg/dl,  HDL ≤ 40 mg/dl dan kadar asam urat normal 2,4-6,1 mg/dl. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok dengan metode simple randomization, yang terdiri atas kelompok perlakuan pertama dan kelompok perlakuan kedua, masing-masing kelompok terdiri dari 11 subjek. Kelompok perlakuan pertama mendapatkan kacang tanah rebus sebanyak 77 gram/hari dan kelompok perlakuan kedua mendapatkan kacang tanah panggang sebanyak 77 gram/hari. Pemberian kacang tanah rebus dan panggang dilakukan selama 4 minggu. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji dependent t-test dan independent t-test.Hasil : Rerata kadar asam urat sebelum intervensi pada kelompok rebus yaitu 3,94 mg/dl dan pada kelompok panggang 4,45mg/dl. Rerata kadar asam urat  setelah intervensi pada kelompok rebus yaitu 4,79 mg/dl dan pada kelompok panggang 4,41mg/dl. Ada perubahan rerata kadar asam urat darah setelah diberikan kacang rebus (p=0,002). Tidak ada perubahan rerata kadar asam urat darah setelah diberikan kacang panggang (p=0,851).Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh konsumsi kacang tanah rebus dan panggang terhadap kadar asam urat darah pada wanita dislipidemia. Ada perubahan rerata kadar asam urat darah setelah diberikan kacang tanah rebus (p=0,002).
ANALISIS KADAR PROTEIN, ASAM AMINO, DAN DAYA TERIMA PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) PEMULIHAN BERBASIS LABU KUNING (CUCURBITA MOSCHATA) UNTUK BATITA GIZI KURANG Widya, Fiona Christina; Anjani, Gemala; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 8, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.203 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i4.25834

Abstract

Latar Belakang: Batita dengan status gizi kurang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan yang terbuat dengan bahan-bahan bernilai gizi tinggi seperti labu kuning (Cucurbita moschata) dapat menjadi alternatif makanan yang baik. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan kandungan protein, asam amino, dan daya terima dari PMT-P berbasis labu kuning dengan tiga macam formulasi.Metode: Tiga macam formulasi—20% biji labu (A1); 25% biji labu (A2); 30% biji labu (A3) —diuji dalam eksperimen rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan, kecuali untuk uji kandungan asam amino yang hanya dilakukan satu pengulangan. Kandungan protein diuji dengan metode Kjeldahl, di mana kandungan asam amino dianalisis dengan metode HPLC. Uji organoleptik dilakukan dengan uji hedonik berskala 5 pada 25 orang panelis. Perbedaan kandungan protein diuji dengan One Way ANOVA dan daya terima dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis pada α = 5%. Sedangkan kandungan asam amino dianalisis secara deskriptif.Hasil: Kadar protein (% w/w) menunjukkan perbedaan signifikan antarformulasi (p = 0,000), dengan kandungan tertinggi pada formulasi A3 (13,87±0,30), diikuti dengan A2 (11,70±0,19) and A1 (9,63±0,23). Formulasi dengan kadar asam amino (% w/w) tertinggi secara keseluruhan adalah pada formulasi A3 (10,00), diikuti dengan A2 (8,65) dan A1 (7,39). Tingkat kesukaan tertinggi dari segi penampilan, warna, dan aroma ditemukan pada formulasi A1 (p = 0,007; 0,000; and 0,028). Simpulan: Formulasi PMT-P berbasis labu kuning dengan 30% biji labu kuning memiliki kandungan protein dan asam amino tertinggi, sedangkan PMT-P dengan 20% biji labu kuning memiliki tingkat kesukaan paling tinggi. Formulasi yang direkomendasikan untuk digunakan adalah formulasi A1.