cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KELIMPAHAN EPIFAUNA DI SUBSTRAT DASAR DAN DAUN LAMUN DENGAN KERAPATAN YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG PROVINSI LAMPUNG Prakoso, Kukuh; Supriharyono, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.864 KB)

Abstract

Pulau Pahawang merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di kawasan Teluk Lampung yang memiliki ekosistem lamun. Lamun di Pulau Pahawang merupakan salah satu habitat yang mendukung kehidupan biota akuatik salah satunya epifauna. Epifauna yang hidup di lamun tersebut memanfaatkan lamun sebagai habitat dan juga memanfaatkan nutrisi dari serasah lamun sebagai makanannya, dimana parameter lingkungan dan predasi mempengaruhi distribusi lamun dan kehidupan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis lamun dengan kerapatan yang berbeda, mengetahui kelimpahan epifauna di substrat dasar daun lamun, dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan lamun yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2015 dengan menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu dua jenis lamun, tujuh jenis epifauna di daun lamun dan enambelas jenis epifauna di substrat dasar. Lamun jenis Enhalus sp mendominasi nilai terbesar didapatkan di kerapatan padat 8615 ind/25m2, epifauna di daun lamun yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp 22 ind/15m2 dan Rhinoclavis sp 20 ind/15m2 pada kerapatan padat, sedangkan epifauna di substrat dasar yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp sebesar 91 ind/15m2 dan Cronia sp sebesar 26 ind/15m2 pada kerapatan padat. Berdasarkan hasil regresi terdapat hubungan antara kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan yang berbeda dimana kenaikan kerapatan lamun akan menyebabkan kenaikan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun. Pahawang Island is a small island located in the Gulf region which grows seagrass Lampung. Seagrass Pahawang Island is one of the habitats that support aquatic biota one epifauna. Epifauna uses seagrass as habitat and also uses the nutrition from the litter seagrass as food, where the environmental parameters and predation affect seagrass distribution and epifauna life. The purpose of this study was to find the species of seagrass with different densities, knowing the abundance of epifauna in seagrass leaves the base substrate, and to analyze the relationship in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves with different seagrass density. This study was conducted in March-April 2015 by using descriptive method. Measurment includes of sampling, identification, data analysis and evaluation of data. The study resulted that there are two species of seagrass, seven types of epifauna in seagrass leaf and sixteen types of epifauna in the base substrate. Seagrass tspecies Enhalus sp dominates in the solid density 8615 ind / 25m2, epifauna on seagrass leaves most commonly found are the species Cerithium sp 22 ind / 15m2 and Rhinoclavis sp 20 ind / 15m2 at solid density, while the base substrate epifauna at most found that many species of Cerithium sp was 91 ind / 15m2 and Cronia sp by 26 ind / 15m2 on a solid density. Based on the results of regression there is a relationship between the abundance of epifauna in the base substrate and seagrass leaves with different densities of sea grass where the increase in density will lead to a rise in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves.
Pengaruh Penambahan Kitosan Terhadap Pertumbuhan Rhizopora mucronata dengan Konsentrasi Berbeda di Tambak Desa Mangunharjo, Semarang Yasinta, Ayuk
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 1, No 1 (2012): Journal of Management of Aquatic Resources
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.071 KB)

Abstract

Rhizophora mucronata adalah salah satu species mangrove, species ini banyak ditanam untuk menangulangi abrasi. Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut tumbuhan yang hidup diantara laut dan daratan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 sampai Maret 2012. Lokasi penelitian adalah pematang antara tambak budidaya ikan dan pembibitan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap pertumbuhan Rhizophora mucronata sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik sebagai acuan pembibitan. Rata-rata pertumbuhan tinggi pucuk Rhizopora mucronata (cm) berdasarkan nilai R2 terbesar yaitu 0,998 dan pertambahan panjang dan lebar bibit Rhizopora mucronata (cm) yang terbesar 0,895 pada konsentrasi 10 ppm. Uji t dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan kitosan terhadap pertumbuhan dengan membandingkan kontrol dengan perlakuan, hasilnya F hitung < F tabel. Perbandingan kontrol dengan konsentrasi 10 ppm F hitung -3,822) < F tabel 1,782 kontrol dengan konsentrasi 15 ppm F hitung -2,779) < F tabel 1,782 kontrol dengan konsentrasi 33 ppm F hitung -3,223) < F tabel 1,782. Berdasarkan analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh nyata antara penambahan kitosan dengan rata-rata pertumbuhan Rhizopora mucronata, dari kesimpulan tersebut maka tidak didapatkan konsentrasi yang terbaik digunakan untuk pembibitan.Kata Kunci: Konsentrasi kitosan, Pertumbuhan, Rhizopora mucronataAbstractRhizophora mucronata is one species of mangrove, species are widely planted to overcome abrasion. Mangrove is the vegetation that grows at tidal zone that live between the sea and land. The method used in this study is an experimental method. The research were implemented on December 2011-March 2012. The purpose of this study were determine effect of chitosan addition on the growth of Rhizophora mucronata so it can be used to obtain the best concentration as a reference seedlings. Study site is the embankment of fish farming pond and mangrove seedlings. Average height growth Rhizophora mucronata shoots (cm) that is based on the largest value of R2 is 0,998 and width of seeds Rhizopora mucronata (cm) which had the largest correlation value 0.895 thing happened on the chitosan concentration of 10 ppm. T test conducted to see the effect of adding chitosan on growth by comparing control with treatment, results F hitung < F tabel. Comparison of control with a concentration of 10 ppm F hitung -3,822) < F tabel 1,782 control with a concentration of 15 ppm -2,779 < F tabel 1,782 control with a concentration of 33 ppm F hitung -3,223 < F tabel 1,782. Based on the analysis of the above data it can be concluded that there is no significant effect between the addition of chitosan with an average growth of Rhizophora mucronata, of this conclusion it is not obtained concentration best for the breed.Keywords: Concentration of chitosan, Growth, Rhizopora mucronata
SEBARAN BAKTERI HETEROTROF, BAHAN ORGANIK TOTAL, NITRAT DAN KLOROFIL-A AIR MUARA SUNGAI CIPASAURAN, SERANG Santi, Denita Irma; Afiati, Norma; Pujiono Wahyu Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.421 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Cipasauran merupakan ekosistem yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan rumah tangga. seperti mandi, mencuci pakaian dan kegiatan nelayan. Aktivitas kegiatan tersebut menyebabkan masuknya air limbah ke saluran air sungai lainnya. Hilir Cipasauran Muara, berakhir di Pantai Anyer. Kegiatan penangkapan ikan di sekitar Pantai Anyer menunjukkan kualitas air yang relatif baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan sebaran bakteri heterotrofik, bahan organik total, nitrat dan klorofil-a, serta untuk mengetahui hubungan antara variabel. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sampel dari 4 lokasi di muara Cipasauran ke Pantai Anyer. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan interval dua minggu, masing-masing dengan dua kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri heterotrofik  di empat stasiun berkisar antara 250-2500 cfu/ml, kandungan bahan organik jumlah berkisar 27,83-100,64 mg/l, konsentrasi nitrat berkisar antara 4,12-11,8 mg/l, dan klorofil-a pada empat stasiun berkisar 0,01- 6,31 mg/m3. Muara Sungai Cipasauran termasuk dalam kategori perairan yang subur (Eutrofik). Analisis regresi berganda memperlihatkan bakteri heterotrof signifikan pada bahan organik total (0,02< p<0,05). Adapun, ekstrak klorofil-a yang dihasilkan dari fitoplankton lebih tergantung kepada kadar nitrat (0,03<p< 0,05) dibandingkan terhadap kadar bahan organik total (0,11>p>0,05), sehingga unsur hara yang lebih banyak dibutuhkan adalah nitrat. Namun tingginya nitrat dapat memicu terjadinya eutrofikasi.  Kata Kunci : Bakteri Heterotrof; Bahan Organik Total; Nitrat; Klorofil-A; Muara Sungai Cipasauran ABSTRACT Cipasauran estuarine ecosystems utilized by local communities for household activities, such as bathing, washing clothes and fishing activities. These activities led to an influx of wastewater into waterways of the river. Downstream Cipasauran Estuary, ends at Anyer Beach. Fishing activities around Anyer Beach indicates the relatively good water quality. The purpose of this study is to determine the distribution of heterotrophic bacteria, total organic material, nitrate and chlorophyll-a, as well as to study the relationship between those variables. The material used in this study is water sampled from 4 location, at the estuary of Cipasauran down to Anyer Beach. The study used purposive sampling technique. Sampling was conducted at intervals of two weeks, each with two replication. The results showed that number heterotrophic bacteria in four stations ranged between 250-2500 cfu/ml, where as total organic materials ranged from 27.83 to 100,64 mg/l, nitrates ranged from 4.12 to 11.8 mg/l, and  chlorophyll-a at four stations ranged from 0.01 to 6.31 mg/m3. Cipasauran estuarine included in the fertile waters (Eutrofik). Regression analysis showed a significant increase in heterotrophic bacterial organic matter total (0.02<p<0.05). So, extract the chlorophyll-a resulting from more phytoplankton depend on nitrate levels (0.03<p<0.05) compared against the total organic material levels (0.11>p>0.05), so the more nutrient elements needed is nitrate. But high nitrate can trigger the onset of eutrophication.                Keywords: Heterotrophic Bacteria, Total Organic Material, Nitrate, Chlorophyll-a Cipasauran Estuary 
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON UNTUK MENGEVALUASI TINGKAT PENCEMARAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI KALIGARANG SEMARANG Utami, Dian Ayu Sapta Nur; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Kaligarang merupakan salah satu sungai terbesar di Kota Semarang yang berperan penting bagi masyarakat sekitarnya, karena menyediakan bahan baku air bersih dan di sisi lain juga dianggap sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat di sekitarnya, yang berdampak pada pencemaran perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status mutu air berdasarkan tiga pendekatan, yaitu menggunakan struktur komunitas fitoplankton untuk menghitung kelimpahan fitoplankton, jumlah genera, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi; melalui perhitungan SI dan TSI; dan menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.Penelitian yang dilaksanakan bulan Desember 2013 ini menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun dimana setiap stasiun terdiri dari tiga titik. Pengambilan sampel fitoplankton menggunakan plankton net, kemudian diawetkan menggunakan Lugol iodine dan diidentifikasi di laboratorium. Analisis data yang dilakukan yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan baku mutu perairan yang disyaratkan oleh pemerintah, kemudian data yang diperoleh diolah dengan metode Storet serta menentukan tingkat pencemaran air melalui perhitungan SI dan TSI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton yang diperoleh adalah kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae dan Synurophyceae. Komunitas fitoplankton yang mempunyai kelimpahan tinggi adalah Nitzschia. Kelimpahan fitoplankton yang didapatkan tergolong sedang (mesotroph). Parameter kualitas air sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah, kecuali kandungan fosfat yang melebihi persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan perhitungan SI, TSI dan metode Storet menunjukkan skor -8 yang mempunyai arti Sungai Kaligarang termasuk kelas B dengan mutu air baik tetapi tercemar ringan.  Kaligarang is one of the largest river in Semarang City. The river has an important role for the surrounding community, as it provides raw materials for clean water and also regarded as a waste basket for communities around the river. The purpose of this study was to determine pollution level in the river by means of three approaches i.e. phytoplankton community, Saprobic Index (SI) and Tropical Saprobic Index (TSI), as well as water quality standard of the Minister of Environment Decree No. 115, 2003 pursuant to rule the Government of the Republic of Indonesia No. 82, 2001. This study was conducted in December 2013 by using a descriptive method. Sampling was conducted at three stations, where each station consists of three points. Phytoplankton sampled passively by sieving 100 liter waters into the net bucket, preserved in Lugol iodine and identified in the laboratory. Phytoplankton data were analysed  for their indices of community structure and Saprobic indices, whereas the routine physical and chemical data were analysed by means of Storet methods according to the Minister of Environment Decree No. 115, 2003.The results showed that phytoplankton community consist of 7 classes, i. e. Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae and Synurophyceae. As a summary of the findings, Kaligarang river is lightly polluted. This has been withdrawn from the result of the study, i. e. planktonic diversity and dominance indices ranging from --- to --- and --- to --- consecutively, Saprobic and Tropic Saprobic Indices ranging from --- to --- and --- to ---, whereas Storet calculations gave a scor -8, means this B category river is still in good water quality but lightly polluted.
ANALISIS KONSENTRASI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM (Cd) DI SUNGAI SILANDAK, SEMARANG Heavy Metal Lead (Pb) and Cadmium (Cd) Concentration Analysis in Silandak River, Semarang Hanifah, Nisrina Nurfitria; Rudiyanti, Siti; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.384 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24264

Abstract

ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober – Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 – 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober – Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 – 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).  ABSTRACTThe Silandak River is located in Semarang City, Central Java, that receives a lot of waste from the transportation, industrial, and local’s (domestic) activities. These waste contained the heavy metal Lead (Pb) and Cadmium (Cd), that concentration in waters caused by many factors, one of which is rainfall. Rainfall caused a rise in water discharge and causes a dilution of concentration in the waters. The purpose are to identify Pb and Cd concentration that will be compared with the quality of the environment, the difference of Pb and Cd concentration in October – December 2018, and also the correlation of water discharge with Pb and Cd concentration. The survey method was used in this study with purposive sampling for the sampling method. The sampling was done four times (in October – December 2018) at five stations. The result showed concentration of Pb = 0,03 – 0,003 mg/l and Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. The concentration are below the quality standards according to The Government Regulation No. 82, Year 2001 (Pb < 0,03 mg/l and Cd < 0,01 mg/l), but some are still above the quality standards according to Minister of Environment Decree No. 51, Year 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). There is a difference in the Pb and Cd concentration on October – December 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 and Cd = 0,037. The water discharge and the concentration of Pb (R = 0,576) and Cd (R = 0,563) showed a quite strong relationship.
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DENGAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Prasetya, Derry Kurnia; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.903 KB)

Abstract

Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi hewan makrobenthos yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan hewan makrobenthos serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan hewan makrobenthos yang ada di perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp dan terdapat 4 jenis lamun yang ditemukan di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. Kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Pulau Panjang adalah 68 ind/m3, 77 ind/m3 dan 103 ind/m3, sedangkan kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Teluk Awur adalah 43 ind/m3, 62 ind/m3 dan 84 ind/m3. Berdasarkan hasil regresi menunjukkan antara kelimpahan hewan makrobenthos dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan hewan makrobenthos. Awur Bay and Panjang Island which are located in Jepara, have a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both location will affect the level of density macrobenthic animal who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass and abundance of macrobenthic animal both in Panjang Island and Awur Bay, Jepara. The research has been done in April 2015. The method used was case study and analyzed descriptive. Research carried out measures that take sample, identification, data analysis and data evaluation. The result showed that there were 5 type of seagrass found in Panjang Island Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp and there were 4 type of seagrass found in Awur Bay Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. The abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Panjang Island was 68 ind/m3, 77 ind/m3 and 103 ind/m3. While the abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Awur Bay was 43 ind/m3, 62 ind/m3 and 84 ind/m3. Based on regression result showed that between abundance of macrobenthic animal with seagrass density there were a close correlation so that the higher seagrass density will be followed by higher abundance of macrobenthic animal.
Valuasi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Ekosistem Terumbu Karang Pada Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta Subekti, Julianto; Saputra, Suradi Wijaya; Triarso, Imam
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.062 KB)

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di laut yang mempunyai banyak manfaat. Kegiatan utama pemanfaatan dalam kawasan TNKpS yang mendominasi adalah kegiatan perikanan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2011 di yang berada dalam kawasan SPTN 1 – SPTN 3 Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di kawasan TNKpS dan nilai ekonomi total manfaat ekonomi terumbu karang di TNKpS. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei sedangkan untuk pengambilan contoh yang digunakan adalah metode purposive sampling. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 71 orang, yaitu 33 orang nelayan, 12 orang pembudidaya, 4 orang penangkapan ikan hias, 15 orang masyarakat sekitar kawasan dan 10 orang pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu. Nilai ekonomi total (Total Economic Value) manfaat ekosistem terumbu karang di TNKpS seluas 98.176 ha adalah sebesar Rp. 20.241.981.976 per tahun dengan rincian manfaat langsung Rp. 12.718.678.584 (69,24%), manfaat tidak langsung Rp. 2.319.596.989 (11,46%), dan manfaat pilihan Rp. 1.451.321.082 (7,17%).
TINJAUAN KUALITAS HABITAT BERDASARKAN TINGKAT PRODUKTIVITAS SEBAGAI BASIS DATA PEMANFAATAN PERAIRAN PESISIR DESA TASIKAGUNG, REMBANG (Habitat Quality Review based on Level of Productivity as Utilization Database Coastal Waters Tasikagung Village, Rembang) Sari, Dita Yuliana; Haeruddin, Haeruddin; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.945 KB)

Abstract

Desa Tasikagung merupakan salah satu desa yang terletak di kawasan pesisir kota Rembang. Perairan pesisir merupakan bagian dari perairan laut yang dapat dijadikan sebagai habitat bagi suatu organisme. Habitat yang baik membutuhkan suplai makanan yang dapat mendukung segala akitivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perairan ditinjau dari produktivitas primer, konsentrasi nitrat dan fosfat serta kelimpahan fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey yang bersifat deskriptif dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis parameter fisika kimia air selama penelitian diperoleh temperatur air (29-31°C), kecerahan (32-81 cm), kedalaman (72-152 cm), kecepatan arus (0,02-0,09 m/s). pH 8, oksigen terlarut (2,8-4,6 mg/l), salinitas (23-33), produktivitas primer (8,33-58,75 mgC/m3/jam), nitrat (0,6232 mg/l), dan fosfat (0,4238 mg/l). Fitoplankton yang teridentifikasi terdiri dari 18 genera. Kelimpahan fitoplankton tiap stasiun berkisar antara (1619-3148 ind/liter), keanekaragaman (1,44-2,17), keseragaman (0,66-0,94), dan dominasi (0,16-0,36). Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton mempunyai hubungan yang sangat lemah. Tasikagung village is one of the villages located in coastal area of Rembang city. Coastal waters are part of the marine area that become habitat for some organisms. A good habitat is requiring food supply that can support all activities. The aim of this research is to known the  quality of waters in terms of primary productivity, concentration of nitrate and phosphate also phytoplankton abundance. This research was conducted in May 2017. Research methods used is method survey which is descriptive with purposive sampling technique. The results of analysis of water chemistry physics parameters during the study obtained water temperature (29-31 ° C), brightness (32-81 cm), depth (72-152 cm), current velocity (0.02-0.09 m / s). PH 8, dissolved oxygen (2.8-4.6 mg/l), salinity (23-33), primary productivity (8.33-58.75 mgC/m3/jam), nitrate (0.6232 mg/l), and phosphate (0.4238 mg/l). The identified phytoplankton consists of 18 genera. The phytoplankton abundance of each station ranged from (1619-3148 ind / liter), diversity (0.66-0.94), and dominance (0.16-0.36). The result of linear regression test showed that nitrate and phosphate concentration has a very weak relationship.
ASPEK BIOLOGI IKAN MENDO (Acentrogobius sp) DI WADUK MALAHAYU KABUPATEN BREBES Soekiswo, Yasintia Aryanov; Widyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.609 KB)

Abstract

Waduk Malahayu memiliki luas 620 Ha, terletak di Kabupaten Brebes. Waduk yang memiliki jenis ikan dari ikan domestik dan introduksi, berpotensi untuk dimanfaatkan salah satunya dibidang perikanan seperti kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Ikan Mendo adalah salah satu ikan domestik yang masih jarang di kenal masyarakat luas, ikan yang memiliki potensi sebagai salah satu komuditas penangkapan. Belum banyak informasi tentang ikan Mendo dan menurunnya populasi di alam menjadi permasalahan untuk populasinya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dan pengelolaan lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aspek biologi (aspek pertumbuhan dan aspek reproduksi) dan melihat perkembangan produksinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2014. Metode yang digunakan yaitu metode simple random sampling. Dalam penelitian ini diperlukan data primer dan sekunder. Data primer merupakan 10% dari total tangkapan, sedangkan data sekunder meliputi data produksi ikan Mendo tahun 2006 sampai 2011. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada ikan Mendo sebanyak 822 ekor, pertumbuhan ikan Mendo bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,202. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,088 yang tergolong dalam ikan yang pipih atau tidak gemuk. Ukuran ikan Mendo yang tertangkap sudah layak untuk ditangkap, karena Lc50% > ½ L∞ dan ikan sudah pernah melakukan pemijahan, karena Lm50% < Lc50%. Tingkat kematangan gonad ikan Mendo menurut Holden dan Raitt (1974) didominasi oleh TKG III dan IV yaitu fase matang. IKG tertinggi pada ikan Mendo selama penelitian yaitu 22,50%. Fekunditas tertinggi sebesar 8250 butir dengan panjang tubuh 28 mm dan berat tubuh 0,7 gram. Pada perkembangan produksi ikan Mendo terjadi penurunan pada tahun 2009 hingga sekarang. Malahayu Reservoir has an area of 620 Ha, which located in Brebes Town. The reservoir which has a kind of fish from domestic and introduction of fish, one of which has the potential to be used as fishing activities in the field of fisheries and fish cultivation. Mendo fish is one of the domestic fish were still rare in the general public know, which have potential as one of the commodities arrest. There has not been much information about the Mendo fish and the declining populations in the world became problems for the population, therefore it is necessary to more conduect research and management. The purpose of this research is to know the biological aspects (aspect of growth and reproduction aspect) and see the development of production. This research has been done in Juni to July 2014. The metode used is simple random sampling method. This research needed primary and secondary data. Primary data is 10% from all catches, while secondary data includes data production of Mendo fish in 2006 to 2011. The result of this research which has been done with 822 Mendo fishes, the growth of Mendo fish has the quality negative allometric of the b value is 2,202. The condition factor of obtained is 1,088 classified to the flat or not fat. The size of Mendo fish which caught was suitable, because Lc50%> ½ L∞.The gonad maturity level of Mendo fish based on Holden & Raitt (1974) is domination by TKG IV, it is mature fase. The highest IKG of Mendo fish during the research is 22,50%. The highest fecundity is 8250 eggs with the lenght of the body is 28mm and the weight is 0,7 gram. In the development of production Mendo fish, there was a decrease in 2009 until now.
MONITORING PERIKANAN LEMURU DI PERAIRAN SELAT BALI Nugraha, Satria Wiratama; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.003 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22533

Abstract

Perairan Selat Bali merupakan perairan yang berada diantara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Perairan ini memiliki sumber daya perikanan pelagis kecil yang melimpah, terutama ikan lemuru. Pendaratan ikan lemuru di Perairan Selat Bali berpusat di UPT PP (Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan) Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan ukuran kapal, serta alat bantu penangkapan, Catch Per Unit Effort penangkapan, dan pengelolaan  perikanan lemuru di perairan Selat Bali. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Maret – 21 Mei  2017. Metode yang digunakan adalah observatif. Data yang digunakan adalah data produksi ikan lemuru di  UPT PP Muncar dan PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara) Pengambengan dari tahun 1980-2016, data kapal dan alat tangkap dari tahun 2010-2016. Berdasarkan data tersebut, dilakukan perhitungan Maximum Sustainable Yield (MSY) dengan menggunakan model surplus produksi Gordon Scheafer. Jumlah kapal yang digunakan untuk penangkapan ikan lemuru saat ini adalah 326 armada dengan ukuran 10-30 GT (gross ton) yang didominasi oleh kapal ukuran 29/30 GT . Jumlah kapal 10 – 30 GT di Muncar 190 unit, sedangkan di Pengambengan 136 unit. Alat tangkap yang digunakan adalah purse seine dengan jumlah 326 dengan panjang 180 depa ( ± 338 meter) dan mesh size 0,5 inchi, dengan rata – rata kekuatan mesin 120 – 240 PK, lampu 700 - 1200 watt sebanyak 5 – 12 unit / kapal. Nilai CPUE terendah adalah 0,378 ton/trip, dengan rata – rata 3,43 ton/ trip. Nilai MSY yang didapatkan sebesar 25.107,32 ton/tahun, sementara nilai JTB (Jumlah Tangkapan Diperbolehkan) adalah 20.085,86 ton per tahun. Perairan Selat Bali berada dalam otonomi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Provinsi Bali. Sehingga pada tahun 1977 dikeluarkan Surat Keputusan Bersama Gubernur Jawa Timur, dan Gubernur Bali, untuk mengatur sistem penangkapan ikan di Perairan Selat Bali. Surat Keputusan Bersama ini diperbarui beberapa kali, kemudian dikeluarkan Peraturan Menteri Kelautan Perikanan dan Kelautan Nomor 68 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan  Ikan Lemuru di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia.   Bali Strait waters is a located between Java Island and Bali Island. This waters has a lot of pelagic fish resources, especially lemuru fish. Lemuru fisheries centered on UPT PP ( Unit Techic Implementers Fisheries Port) Muncar, Banyuwangi Region. This research goals are to knows the amount of  boat and it size, total fishing gears, Catch Per Unit Effort lemuru fisheries on Bali Strait waters, and know the status of lemuru fishings. This research held on 20 Maret – 21 Mei 2017. The method of the research is observative. The data wich used is the data  production of lemuru fishing on UPT PP Muncar and PPN (Archipelago Fisheries Port) Pengambengan on 1980 -2016, boats data and fishing gears on 2010 – 2016. Based on the data, calculating MSY using surplus production model by Gordon Scheafer. Total boats for lemuru fishes are 326 boats, wich sizes 10-30 GT (gross tonnage) and dominated by 29/30 GT . The boats 10 – 30 GT in Muncar 190 units, event on Pengambengan 136 units. Fishing gears using purse seine wich 326 units, width 180 depa ( ± 338 meters) and mesh size 0,5 inchi, wich average powers 120 – 240 PK, lightning 700 - 1200 watt  5 – 12 units / boats. The value of lowest  CPUE is 0,378 ton/trip, with average is 3,43 ton/trip. The value of MSY is 25.107,32 ton/year, and TAC (Total Allowable Catch) is 20.085,86 ton/year. Bali Strait waters under otonomy by East Java and Bali Government. So, in 1977 formed GRC (Government Regulatory Compliance) by East Java and Bali Government to ruled fisheries systems on Bali Strait waters. This GRC renew few times, and then formed Regulation by Minister of Marine and Fisheries number 68 year 2016 about Plans Management Fisheries of Lemuru Fish in Indonesia Region Management.