cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KONDISI KUALITAS AIR KOLAM BUDIDAYA DENGAN PENGGUNAAN PROBIOTIK DAN TANPA PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp) DI CIREBON, JAWA BARAT Pratama, Farizan Adiya; Afiati, Norma; Djunaedi, Ali
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.314 KB)

Abstract

Ikan lele sangkuriang termasuk dalam kelas Pisces dari filum Chordata yang tidak mempunyai sisik, berbentuk memanjang serta licin. Probiotik berasal dari bahasa Yunani pro dan bios yang berarti “untuk kehidupan”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas air dan pengaruh penggunaan probiotik terhadap ikan lele sangkuriang antara kolam yang menggunakan probiotik dan tanpa probiotik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2015 di Desa Kertasura dengan Kelompok Tani Kersa Mulya Bakti dan Desa Dukuh dengan Kelompok Tani Mina Mulya Kecamatan Kapetakan Cirebon, Jawa Barat. Metode pengambilan sampel air pada setiap kolam penelitian bersifat metode stratifikasi, yaitu dengan menganggap bahwa perairan memiliki beberapa lapisan atau karakteristik berbeda yang terdiri dari 3 stasiun dengan 2 pengulangan untuk setiap stasiun. Selanjutnya dilakukan pengujian kualitas air meliputi uji oksigen terlarut, amoniak dan asam sulfida. Kemudian pengukuran pertumbuhan ikan lele dengan mengukur panjang dan berat ikan lele. Kolam probiotik memiliki kualitas air yang lebih baik yaitu konsentrasi awal amoniak 0,07 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,04 ppm dan konsentrasi H2S awal 0,003 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,002 ppm. Pada kolam tanpa probiotik memiliki konsentrasi awal amoniak 0,11 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,08 ppm dan konsentrasi awal H2S 0,004 ppm, konsentrasi akhir 0,004 ppm. Pada kolam probiotik pertambahan panjang total ikan (L) 3,2 cm/2 minggu dan pertambahan berat total ikan (W) 16,3/2 minggu gr sedangkan pada kolam tanpa probiotik pertambahan panjang total ikan (L) 1,4 cm/2 minggu dan pertambahan berat total ikan (W) 11,6 gr/2 minggu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas air kolam probiotik lebih baik dari kolam tanpa probiotik. Pengaruh penggunaan probiotik berdampak positif pada ikan lele ditinjau dari pertambahan panjang dan berat.The sangkuriang catfish belongs to class Pisces of the Chordata phylum. The fish has an elongated body without scales. The word probiotic comes from Greek words pro and bios, meaning “for life”. The objective of this study is to investigate the difference of water quality between probiotic pond and non-probiotic pond, and their effect on sangkuriang catfish. The research was conducted on July, 2015 at Kertasura Village with Tani Kersa Mulya Bakti Group and at Dukuh Village with Tani Mina Mulya Grup, Kapetakan District, Cirebon-West Java. The sampling method is the stratification method, which assumes that the waters have multiple layers or different characteristics. The samples were taken on 3 stations with 2 repetition for each station. Hereafter, the water quality analysis includes testing dissolved oxygen, ammonia and hydrogen sulfide, by catfish growth measured from it’s legth and weight. Probiotic pond has a better water quality with the initial ammonia concentration of 0.07 ppm and final ammonia concentration of 0.04 ppm. This pond also has an initial H2S concentration of 0.003 ppm and final H2S concentration of 0.002 ppm. In the non-probiotic pond, the initial ammonia concentration was 0.11 ppm, with final ammonia concentration of 0.08 ppm, and the initial H2S concentration of 0.004 ppm, with final H2S concentration of 0.004 ppm. Growth measured as the total length of fish in probiotic pond (L) was 3.2 cm/2 week and the total weight of fish (W) was 16.3 gr/2 week while on the non-probiotic pond, the total length of fish (L) was 1.4 cm/2 week and the total weight of fish (W) was 11.6 gr/2 week. Thus, the implementation of probiotic has a positive effect to the growth of catfish, as can be seen from the length and weight of the catfish during this study.
Analisis Panjang-Berat dan Faktor Kondisi pada Udang Rebon (Acetes japonicus) di Perairan Cilacap, Jawa Tengah Akbar, Pratik Primas; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.55 KB)

Abstract

Udang Rebon merupakan jenis udang berukuran kecil yang hidup diperairan pantai yang dangkal dan berlumpur serta merupakan jenis udang yang memiliki sifat fototaksis positif. Fototaksis positif adalah tingkah laku udang yang tertarik untuk mendekati sumber cahaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengambilan sampel atau data menggunakan metode random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang total (mm) dan berat (gram) dari udang Rebon serta ukuran mata jaring (mesh size) arad sebagai alat tangkapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari udang Rebon adalah allometrik negatif, bentuk tubuhnya kurus, dan jaring arad yang digunakan untuk menangkap udang Rebon tergolong tidak selektif. Sifat pertumbuhan allometrik negatif memiliki arti bahwa pertambahan panjang udang Rebon lebih cepat dari pertambahan beratnya. Nilai ukuran pertama kali udang Rebon tertangkap (L50%) adalah 24,6 mm, nilai L infinite (L~) sebesar 33,89 mm, Faktor Seleksi (FS) sebesar 2,05 dan mesh size jaring arad 0,5 inchi. Ukuran udang Rebon layak tangkap sebesar 16,95 mm.
ASPEK BIOLOGI UDANG BERAS MERAH (Metapenaeopsis barbata) di PERAIRAN UTARA KABUPATEN BATANG DAN PEMALANG, JAWA TENGAH (Biological Aspect of Whiskered Velvet Shrimp (Metapenaeopsis barbata) in North of Batang and Pemalang Disctrict Seas) Hanggoro, Adnan Lintang; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.474 KB)

Abstract

Kegiatan penangkapan ikan di Pantai utara Provinsi Jawa Tengah yang terus meningkat dan penggunaan alat tangkap yang tidak selektif oleh nelayan akan mempengaruhi jumlah stok udang di perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan membandingkan aspek-aspek biologi Udang Beras Merah (Metapenaeopsis barbata) yang meliputi aspek pertumbuhan dan reproduksi menurut perbedaan waktu pengambilan sampel (temporal) dan perbedaan perairan daerah penangkapan (spasial). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – April 2017 di Kabupaten Batang dan Pemalang. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan systematic random sampling. Hasil sampling yang dilakukan di Kabupaten Batang dan Pemalang menunjukkan panjang total udang M. barbata yang tertangkap berkisar pada ukuran 40 – 106 mm dan 52 – 118 mm. Pola pertumbuhan M. barbata yang tertangkap di Kabupaten Batang bersifat allometrik negatif, sedangkan udang yang didaratkan di Kabupaten Pemalang bersifat allometrik positif. Nilai faktor kondisi pada udang M. barbata yang didaratkan di Kabupaten Batang dan Pemalang selama penelitian adalah 1,908 dan 1, 584. Ukuran udang M. barbata yang pertama kali tertangkap di Kabupaten Batang dan Pemalang adalah 63 mm dan 88 mm. Rasio perbandingan nisbah kelamin Udang M. barbata jantan dan betina yang tertangkap selama penelitian sebesar 1 : 2,11. Udang M. barbata yang didaratkan di Kabupaten Pemalang pertama kali mengalami matang gonad pada ukuran panjang total 94,2 mm. Upaya untuk mempertahankan tersedianya stok spesies M. Barbata adalah dengan mengatur intensitas eksploitasi sumberdayanya dan ukuran mata jaring alat tangkap arad agar diperbesar menjadi ukuran 1,75 inchi. Pendataan jumlah produksi dan trip alat tangkap udang M. barbata penting untuk dilakukan, dengan tujuan pemerintah daerah tetap bisa memantau intensitas eksploitasi yang dilakukan nelayan. Fishing activities on the North Coast of Central Java Province are increasing and the using of fishing gear which is not selective by fishermen will affect the amount of shrimp stock in the waters. The purpose of this research was to examine and compare the biological aspects of Whiskered Velvet Shrimp (M. barbata) which are growth and reproduction aspects according to differences in timing of sampling (temporal) and different fishing ground (spatial). The research was conducted on February to April 2017 in Batang and Pemalang districts. The method used systematic random sampling. The results of the sampling carried out in Batang and Pemalang shows the total length caught M. barbata range in size of 40-106 mm and 52-118 mm. The growth pattern M. barbata caught in Batang is allometric negative, while the shrimp landed in Pemalang are positive allometric. The value of the condition factor on M. barbata landed in Batang and Pemalang District during the study was 1.1688 and 1.0618. The average size of M. barbata  first caught in Batang and Pemalang District is 63 mm and 88 mm. The ratio of sex ratio of male and female M. barbata caught during the study was 1: 2,11. Red Rice Prawns are landed in Pemalang District first experience mature gonads at a total length of 94.2 mm. The effort to maintain the availability of stock of the species M. barbata is to adjust the intensity of exploitation of resources and setting the mesh size of fishing gear in order arad (small bottom trawl) enlarged to a size of 1.75 inches. Documenting the amount of production and the number of trips M. barbata fishing tools necessary to do, with the aim is the local government can still monitor the intensity of exploitation of fishermen.
KARAKTERISTIK DAN TOKSISITAS LIMBAH CAIR DARI KEGIATAN PERIKANAN DI PASAR KOBONG, SEMARANG TERHADAP Chlorella sp. Lestari, Agustiani Puji; Haeruddin, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.768 KB)

Abstract

Pasar Kobong merupakan salah satu tempat berdagang bagi masyarakat di kawasan Pengapon, Kecamatan Semarang Utara. Limbah cair dihasilkan dari kegiatan pencucian ikan dan air sisa perebusan ulang dari ikan pindang. Hal ini dapat berdampak pada penurunan kualitas air dengan adanya perubahan kondisi fisika, kimia, dan biologi perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik limbah cair dilihat dari parameter temperatur, pH, BOD5, dan COD, serta untuk mengetahui tingkat toksisitas limbah cair dari kegiatan perikanan di Pasar Kobong terhadap Chlorella sp. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Pemberian perlakuan pada media uji terhadap Chlorella sp. dengan konsentrasi pengenceran air limbah 0%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100%, kemudian dihitung nilai kepadatan akhirnya. Pengukuran parameter fisika dan kimia meliputi temperatur, pH, BOD5, dan COD. Kemudian melakukan analisis regresi korelasi dan one way anova. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hubungan antara log konsentrasi limbah cair dengan Probit persentase penghambatan pertumbuhan Chlorella sp. memiliki nilai keeratan dengan nilai r = 0,8415. Hasil analisis anova menunjukkan konsentrasi limbah berpengaruh terhadap pertumbuhan Chlorella sp. dengan nilai signifikansi 0,000 (sig <0,05). Nilai konsentrasi penghambatan median (IC50) 96 jam adalah 22387,21% atau 223,88 kali dari media uji untuk menghambat pertumbuhan Chlorella sp. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa limbah cair yang dihasilkan di Pasar Kobong memiliki karakteristik suhu berkisar antara 27-28 ºC, pH 7-8,  sedangkan nilai BOD5 dan COD berbahaya bagi lingkungan perairan karena telah melebihi ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan, dengan nilai BOD5 70,66-1447,10  mg/l, dan COD 114,62-2296,30 mg/l. Berdasarkan uji toksisitas menunjukkan bahwa air limbah dari kegiatan perikanan di Pasar Kobong tidak menghambat pertumbuhan Chlorella sp. tapi bersifat sebagai perangsang pertumbuhan Chlorella sp. Pasar Kobong is one of fish market in the region Pengapon, North Semarang District. Liquid waste water generated from washing of fish and from boiled fish. Its can impact on the quality of the water by the changing conditions in physics, chemistry, and biology of the waters. The purposes of this study are to know waste water characteristics which is seen from the parameters of temperature, pH, BOD5, and COD, as well as to determine the toxicity of the effluent from the fisheries in the Pasar Kobong toward Chlorella sp. This study used laboratory experimental method. The experimental design used was completely randomized design. Treatment on the test medium toward Chlorella sp. with a concentration of waste water are 0%, 12,5%, 25%, 50%, and 100%, and the final density value will be calculated. Measurement of physical and chemical parameters include temperature, pH, BOD5, and COD. Then, data analyzed using regretion correlation and one way anova test. Regression analysis showed that the relationship between log concentration waste water by probit percentage inhibition of growth of Chlorella sp. have strong correlation with r value is 0.8415. The results of the ANOVA analysis showed effluent concentration effect on the growth of Chlorella sp. with a value of significant is 0,000 (sig<0,05). The median inhibitory concentration (IC50) 96 hours is 22387,21%, or 223,66 times of test media could inhibit the growth of Chlorella sp.. Based on the results of this study is concluded that the waste water produced in the Pasar Kobong has characteristics temperatures between 27-28 ºC, pH 7-8, wich BOD5 and COD are harmful for environment with value of BOD5 70.66 to 1447.10 mg/L, and COD from 114,62 to 2296,30 mg/L. Based on toxicity test showed that waste water from the fisheries in the Pasar Kobong is not inhibit the growth of Chlorella sp. but stimulating growth of Chlorella sp.
ANALISA SEBARAN TANGKAPAN IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) BERDASARKAN DATA SATELIT SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DI PERAIRAN SELAT BALI Ridha, Urfan; Hartoko, Agus; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.141 KB)

Abstract

Sumberdaya ikan Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan sumberdaya perikanan yang paling dominan dan bernilai ekonomis di Selat Bali, sehingga ikan lemuru paling banyak dieksploitasi oleh nelayan yang bermukim di sekitar Selat Bali. Kegiatan penangkapan lemuru tersebut tidak terlepas dari ketepatan dalam penentuan lokasi penangkapan, yang merupakan salah satu aspek penting bagi usaha perikanan karena berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan. Lokasi ikan pelagis kecil seperti lemuru, sangat ditentukan oleh beberapa kondisi perairan termasuk suhu permukaan laut dan kandungan klorofil-a.Tujuan dari penelitian untuk mengetahui perkembangan hasil tangkapan ikan Lemuru (S. lemuru), sebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a, dan mengetahui korelasi dari variabel suhu permukaan laut dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan Lemuru (S. lemuru) di perairan Selat Bali selama tahun 2012.Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit Aqua MODIS, data titik koordinat daerah penangkapan lemuru, jumlah trip, dan hasil tangkapan lemuru selama tahun 2012. Metode penelitian menggunakan metode eksploratif, yaitu untuk mencari tahu suatu kejadian tertentu atau hubungan antara dua atau lebih variabel, dimana variabel tersebut yaitu suhu permukaan laut dan klorofil-a (independent variable), dan hasil tangkapan lemuru (dependent variable).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangkapan lemuru pada musim barat (1.986 ton) lebih besar daripada musim timur (556 ton), tetapi jumlah trip pada musim barat (1.188) lebih rendah daripada musim timur (1.534). Berdasarkan peta koordinat lokasi penangkapan lemuru tahun 2012 dari 5 sampel kapal menunjukkan jumlah lokasi penangkapan lemuru pada musim barat (19 titik) lebih banyak daripada musim timur (13 titik). Sebaran suhu permukaan laut pada musim barat (27o - 30oC) lebih tinggi daripada musim timur (22o - 28oC) dan kandungan klorofil-a  pada musim barat (0,01 - 0,9 mg/L) lebih rendah daripada musim timur (0,09 - 3,9 mg/L).Analisa regresi tunggal antara satu independent variable terhadap satu dependent variable menunjukkan nilai koefisien regresi dari kandungan klorofil-a (r = 0,74 - 0,77) lebih berhubungan erat dengan hasil tangkapan lemuru daripada suhu permukaan laut (r = 0,56 - 0,68). Analisa regresi ganda antara dua independent variable terhadap satu dependent variable menunjukkan nilai koefisien regresi (0,814 - 0,831) yang berarti bahwa terdapat hubungan antara suhu permukaan laut dengan kandungan klorofil-a serta terhadap hasil tangkapan lemuru. Hubungan tersebut yaitu dipengaruhi kuat oleh proses upwelling di perairan Selat bali, karena proses upwelling menyebabkan peningkatan kandungan klorofil-a dan menurunkan suhu permukaan laut.
PERBEDAAN JUMLAH BAKTERI DALAM SEDIMEN PADA KAWASAN BERMANGROVE DAN TIDAK BERMANGROVE DI PERAIRAN DESA BEDONO, DEMAK Tyas, Diani Estining; WIdyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 2 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.687 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i2.22541

Abstract

Mangrove adalah salah satu ekosistem pesisir yang unik dan rawan serta termasuk tempat terjadinya proses dekomposisi. Bakteri sebagai dekomposer memiliki peran yang besar terhadap proses dekomposisi bahan – bahan organik sedimen. Oleh sebab itu total bakteri pada sedimen dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total bakteri dalam sedimen pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove dan untuk mengetahui perbedaan total bakteri sedimen pada kedua kawasan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada 8 – 22 November 2017 untuk pengambilan sampel sedimen di Perairan Desa Bedono, Demak dan analisis total bakteri sedimen dilaksanakan di Laboratorium Tropical Marine Biotechnology, Universitas Diponegoro selama November hingga Desember 2017. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, isolasi bakteri dilakukan dengan metode pour plate dan metode yang digunakan dalam perhitungan total bakteri adalah Total Plate Count (TPC). Jumlah bakteri yang didapat pada kawasan bermangrove sebesar 0,26 x 104 hingga  0,80 x 104 CFU/gr. Pada area tidak bermagrove total bakteri yang didapat sebesar 0,84 x 104 hingga 1,35 x 104 CFU/gr. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan uji Mann – Whitney diketahui adanya perbedaan jumlah bakteri sedimen pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove. Mangrove is one of the unique prone coastal ecosystems and it belongs to the place of the decomposition process. Bacteria as decomposers have a major role in the decomposition process of sedimentary organic materials. Therefore, the total bacteria in sediment can be used as an indicator of environmental quality. The purposes of this research are to know the total sedimentary bacteria  in mangrove and non-mangrove area and to know the differences of total sedimentary bacteria in both areas. The research was conducted from 8 to 22 November 2017 for the sampling of sediments in the waters of Bedono Village, Demak and total analysis of sediment bacteria was conducted in the Tropical Marine Biotechnology Laboratory, Diponegoro University during November to December 2017. The method used in this research was survey method, bacterial isolation was done by pour plate method and the method used in total calculation of bacteria was Total Plate Count (TPC). The total bacteria which gained in the mangrove area are 0.26 x 104 to 0.80 x 104 CFU / gr. While in the non-mangrove area the total bacteria which gained are 0.84 x 104 to 1.35 x 104 CFU / g. The conclusion of this research, by Mann - Whitney test, is known there are the differences of total sedimentary bacteria in the mangrove area and non-mangrove area.
FILTRATION RATE KERANG DARAH DAN KERANG HIJAU DALAM MEMFILTRASI BAHAN ORGANIK TERSUSPENSI LIMBAH TAMBAK UDANG INTENSIF Kusumawati, Lysa Any; Haeruddin, -; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.204 KB)

Abstract

Salah satu akibat dari pembuangan limbah dari kegiatan budidaya udang intensif ke perairan adalah terjadinya kekeruhan yang diakibatkan oleh tingginya padatan tersuspensi yang berakibat terhalangnya penetrasi cahaya matahari ke perairan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan  filtrasi kerang darah dan kerang hijau dalam menyaring padatan tersuspensi limbah tambak udang. Serta pembandingan laju filtrasi keduanya dan untuk mengetahui signifikansi waktu terhadap kecepatan filtrasi kerang darah dan kerang hijau. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai Jepara. Penelitian ini menggunakan metodologi eksperimental skala laboratorium. Wadah uji yang berisi air limbah tambak udang diisi masing-masing dengan 10 ekor kerang darah dan kerang hijau yang diberikan pengulangan 3 kali. Kecepatan filtrasi diukur berdasarkan volume air dan TSS yang disaring. Analisis data menggunakan analisis SPSS ancova.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan konsentrasi padatan tersuspensi pada kerang darah berkisar 216,67 mg/ml-466,67 mg/ml; kerang hijau 150 mg/ml-416.67 mg/ml. Kecepatan filtrasi kerang darah 260 ml/jam-1 -540 ml/jam-1; kerang hijau 260 ml/jam-1 -540ml/jam-1. Suhu 28⁰C-29⁰C, salinitas 25 ppm. pH 7.2. Analisis ancova interaksi waktu terhadap kecepatan filtrasi memiliki signifikansi sebesar 0.00. artinya waktu memberikan pengaruh terhadap kecepatan filtrasi. Kerang hijau memiliki kecepatan filtrasi yang lebih baik dari kerang darah sebab kerang hijau memiliki sifat menjernihkan perairan yang keruh. As one results of waste water from instense shrimp cultivation is caused the turbidity in the water by suspended materials blocking the light of the sun in the water. The purpose of this study are the filtration rate of Anadara granosa and Perna viridis to filtrate suspended materials waste water of intens shrimp cultivation. Compare the both filtration rate, significant on filtration rate of the Anadara granosa and Perna viridis.This study did in the development of the region shore laboratory. This study used laboratory experimental methodology. The aquarium which contain with waste water filled with 10 Andara granosa and Perna viridis given three replication. Filtration rate of bivalve were measure by water volume and test of total suspended solid. Data analyze used ancova.The results of this study, showed that the consentration for suspended material of Anadara granosa were 216,67 mg/ml-466,67 mg/ml and Perna viridis 150 mg/ml-416.67 mg/ml. The filtration rate of Anadara granosa is 273,33 ml/ hour-1 - 576,66 ml/ hour-1 and filtration rate of Perna viridis is 230 ml/ hour-1 - 616,66 ml/ hour-1. Water quality of media has characteristics temperature between 28⁰C-29⁰C, water salinity 25 ppm. pH 7.2. The analyze of ancova showed that the time have significant on filtration rate with a value of significant is 0.00. Perna viridis had a better filtration rate than Anadara granosa because Perna viridis can cleared the water turbid.
HUBUNGAN PERBEDAAN KERAPATAN LAMUN DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA DI PANTAI LIPI, PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU Kusumaatmaja, Kartika Putri; Rudiyanti, Siti; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.666 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Pari merupakan kawasan perairan yang memiliki ekosistem lamun.Ekosistem ini merupakan salah satu habitat yang mendukung kehidupan biota akuatik, salah satunya epifauna.Ekosistem ini digunakan sebagai tempat mencari makan bagi epifauna dengan memanfaatkan serasah daun lamun.Adanya perbedaan tingkat kerapatan lamun dapat memberikan pengaruh terhadap kelimpahan epifauna.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis lamun, kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda, dan keeratan hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna.Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016.Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan titik sampling menggunakan metode purposive sampling yaitu pembagian stasiun sampling berdasarkan perbedaan kerapatan lamun (padat, sedang dan jarang).Pengambilan sampel epifauna dilakukan secara manual menggunakan tangan setiap satu minggu sekali selama 3 minggu. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat tiga jenis lamun diantaranya Thalassia sp., Enhalus sp. dan Cymodocea sp. Pada kerapatan padat (stasiun A) dengan jumlah tegakan 399 ind/m2 memiliki kelimpahan epifauna 121 ind/m2, kerapatan sedang (stasiun B) dengan jumlah tegakan 333 ind/m2 memiliki kelimpahan epifauna sebanyak 93 ind/m2, dan pada kerapatan jarang (stasiun C) dengan jumlah tegakan 308 ind/m2, memiliki kelimpahan epifauna sebanyak 67 ind/m2. Hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna mendapatkan koefisien korelasi sebesar r = 0,949 dengan nilai α < 0,05 menandakan adanya keeratan hubungan yangpositif dan kuat. Kata Kunci          : Ekosistem Lamun, Kelimpahan Epifauna, Pulau Pari.  ABSTRACT                 Pari Island is an area of ocean waters that have a seagrass ecosystem. This ecosystem is one of the habitats that support life of aquatic organism, which is epifauna. This ecosystem is used for feeding grounds for epifauna by utilizing the seagrass leaf litter. Difference of seagrass species density can influence abundance of epifauna. This research aims to determine the seagrass species, the abundance of epifauna in different seagrass densities, and the relationship between seagrass density with the abundance of epifauna. The research activities conducted in May-June 2016. The method used is survey method in determining the point of sampling using purposive sampling method namely the allocation of sampling stations based on different seagrass density (dense, medium and rare. The sampling of epifauna was done manually using hand every once a week for 3 weeks. The results obtained that there are three species of seagrass including Thalassia sp, Enhalus sp and Cymodocea sp. The densities in dense seagrass (station A) by the number of stands 399 ind/m2 had an abundance of epifauna 121 ind/m2, medium density (station B) by the number of stands 333 ind/m2 the abundance of epifauna 93 ind/m2, and precision rarely (station C) by the number of stands 308 ind/m2, has an abundance of epifauna 67 ind/m2. The correlation values between the density of seagrass with the abundance of epifauna have a value of correlation coefficient r = 0,949 with the value α < 0.05 indicates that there is a positive and high correlation. Keywords              : Seagrass Ecosystem, Epifauna’s Abundance, Pari Island.
STATUS KUALITAS PERAIRAN SUNGAI BREMI KABUPATEN PEKALONGAN DITINJAU DARI KONSENTRASI TSS, BOD5, COD DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON Mayagitha, Kafin Aulia; Haeruddin, -; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.002 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi TSS, BOD5, COD, struktur komunitas fitoplankton, dan pola hubungan konsentrasi TSS, BOD5, COD dengan struktur  komunitas fitoplankton di Sungai Bremi, serta mengetahui status kualitas perairan Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi TSS, BOD5, COD dan struktur komunitas fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013 di Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Dari hasil pengamatan, fitoplankton yang ditemukan di tiga stasiun terdiri atas kelas Bacillariophyceae, Dinophyceae, dan Cyanophyceae dengan kelimpahan berkisar antara 1042-1271 sel/liter. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 1,283-1,382, indeks keseragaman berkisar antara 0,617-0,685, dan indeks dominansi berkisar antara 0,275-0,394. Hasil konsentrasi TSS di tiga stasiun berkisar antara 58,5-93,16 mg/l, konsentrasi BOD5 berkisar antara 10,71-11,49 mg/l, dan konsentrasi COD berkisar antara 80,21-93,16 mg/l. Nilai koefisien korelasi (r) antara konsentrasi TSS, BOD5, dan COD dengan struktur komunitas fitoplankton berkisar antara 0,750-0,828. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan konsentrasi TSS, BOD5, dan COD dengan struktur  komunitas fitoplankton memiliki korelasi yang kuat. Status kualitas perairan Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi TSS, BOD5, COD dan struktur komunitas fitoplankton dalam kondisi tercemar.
Valuasi Ekonomi Sumberdaya Ikan Dan Ekowisata Mangrove Di Muara Angke, Jakarta Mahardhika, Septya Mega; Saputra, Suradi Wijaya; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.412 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22670

Abstract

Muara Angke merupakan satu – satunya kawasan yang masih memiliki ekosistem mangrove di daerah pesisir Jakarta. Luas Muara Angke kurang lebih 964,98 ha dibagi menjadi tiga zona. Dua diantaranya berkontribusi pada sektor Perikanan dan Ekowisata, yaitu Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK). Kurangnya pemahaman umum tentang manfaat ekonomi ekosistem mangrove  menyebabkan masyarakat mengeksploitasi secara berlebihan sehingga terjadi perubahan penggunaan lahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai ekonomi yang dihasilkan ekosistem mangrove berdasarkan dua aspek yaitu Perikanan Tangkap dan Ekowisata. Data Perikanan Tangkap menggunakan data sekunder dari Pengelola PPI Muara Angke tahun 2016 – 2017. Data sosial ekonomi diperoleh menggunakan  wawancara dengan bantuan kuesioner. Data biaya perjalanan rata – rata diperoleh dengan wawancara pengunjung TWAAK. Analisis Valuasi Ekonomi Perikanan Tangkap menggunakan Market Price Method. Analisis Valuasi Ekonomi Ekowisata Mangrove menggunakan Travel Cost Method. Metode penentuan 100 responden nelayan tangkap menggunakan Random Sampling sedangkan penentuan 100 responden pengunjung TWAAK menggunakan Accidental Sampling. Hasil penelitian didapatkan nilai ekonomi pada aspek perikanan tahun 2016 Rp. 13.148.945.100, tahun 2017 Rp.21.087.388.300 dan tahun 2018 Rp. 370.313.869.500. Hasil penelitian didapatkan nilai ekonomi ekowisata tahun 2018 Rp.40.28.400.000 Muara Angke is the only area that still has mangrove ecosystems in the coastal areas of Jakarta. Muara Angke area is approximately 964.98 ha divided into three zones. Two of them contribute to the Fisheries and Ecotourism sector, namely Fish Landing Base (PPI) and Angke Kapuk Nature Park (TWAAK). Lack of general understanding of the economic benefits of mangrove ecosystems causes people to over-exploit so that land use changes occur. The purpose of this study was to determine the economic value generated by mangrove ecosystems based on two aspects, namely Capture Fisheries and Ecotourism. Capture Fisheries Data uses secondary data from Muara Angke PPI Manager in 2016 - 2017. Socio-economic data were obtained using interview with Muara Angke fishermen with questionnaire assistance. Average travel cost data is obtained by interviewing TWAAK visitors. Capture Fisheries Economic Valuation Analysis using Market Price Method. Economic Valuation Analysis of Ecotourism Mangroves use the Travel Cost Method. The method of determining 100 respondents of capture fishermen uses Random Sampling while the determination of 100 respondents of TWAAK visitors uses Accidental Sampling. The results of the study obtained economic value in aspects of fisheries in 2016 Rp. 13,148,945,100, in 2017 Rp.21,087,388,300 and in 2018 Rp. 370,313,869,500. The results of the study obtained the economic value of ecotourism in 2018 Rp. 40.28.400.000