cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
ANALISIS TINGKAT KEMATANGAN GONAD TERIPANG KELING (Holothuria atra) DI PERAIRAN MENJANGAN KECIL, KARIMUNJAWA Harahap, Malasari; Sulardiono, Bambang; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.07 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22550

Abstract

Pulau Menjangan Kecil berada di perairan Laut Jawa tepatnya di Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Perairan Menjangan Kecil memiliki keindahan alam bawah laut yang menarik dan memiliki potensi perikanan yang menyebabkan perairan ini menjadi tempat untuk dilaksanakannya penelitian. Salah satu contoh hasil perikanan dari Perairan Menjangan Kecil yang bisa diandalkan adalah Teripang Keling. Teripang Keling (Holothuria atra) merupakan spesies yang  mudah dikenal dan seringkali menjadi spesies yang dominan dalam  suatu ekosistem, karena memiliki warna tubuh hitam, kulit tubuhnya licin dan tebal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kematangan gonad Holothuria atra dan mengetahui pengaruh parameter fisika, kimia terhadap kematangan gonad Holothuria atra di Perairan Menjangan Kecil, Karimunjawa. Penelitian dilaksanakan  pada bulan Mei 2017 di Perairan  Menjangan Kecil, Karimunjawa. Metode yang digunakan adalah  metode observasi, yaitu kegiatan mengamati sampel secara langsung. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan analisis di laboratorium. Data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah dan warga sekitar Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa. Penelitian ini dilakuan pada 4 stasiun dan 12 titik. Hasil pengamatan tingkat kematangan gonad Holothuria atra tergolong pada tahap perkembangan dan pengaktifan. Tingkat salinitas 34 ppt, suhu berkisar 29 – 31 ̊C, pH 8 dan kedalaman antara 63 – 124 cm.  Menjangan Kecil Island was located in Java Sea precisely in District Karimunjawa, Jepara, Central Java. Menjangan Kecil Island has an attractive natural underwater beauty and has fishery potential that causes these waters to be a place for conducting research. One example of fishery products from Menjangan Kecil Island that can be relied was Lollyfish. Lollyfish (Holothuria atra) was a species that was easy to recognized and it’s dominant species in ecosystem, because it has a black body, skin of the body slippery and thick. The purpose of this study was to determine the maturity rate of gonad Holothuria atra and to explain the influence of physical, chemical parameters on the maturity of the gonad Holothuria atra in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa. This research has been done in May 2017 at Menjangan Kecil Island, Karimunjawa. The method used was observating method. This research used primary data and secondary data. Primary data were obtained through direct field observating and laboratory analysis. Secondary data obtained from government agencies and residents around Menjangan Kecil Island, Karimunjawa. This research was conducted in 4 stations and 12 points. The maturity level of the Holothuria atra gonad was classified as the stage of development and activation. The salinity level was 34 ppt, the temperature ranges from 29 - 31 ̊C, pH 8 and the depth of sea water was between 63 - 124 cm. 
ASPEK BIOLOGI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN KUNIRAN (Upeneus moluccensis) YANG DIDARATKAN DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) TAWANG KABUPATEN KENDAL PROVINSI JAWA TENGAH Abdullah, Febyansyah Nur; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.534 KB)

Abstract

Ikan Kuniran merupakan salah satu ikan demersal yang saat ini produksinya semakin menurun karena tingkat penangkapan yang meningkat sehingga perlu dijaga kelestariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi, tingkat pemanfaatan dan strategi pengelolaan sumberdaya ikan Kuniran di Perairan Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2014. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling atau acak sederhana. Data primer meliputi panjang berat ikan, tingkat kematangan gonad, dan fekunditas untuk mengetahui aspek biologi ikan Kuniran, sedangkan data sekunder meliputi data produksi sumberdaya ikan Kuniran selama 5 tahun terakhir (2009-2013). Hasil penelitian menunjukkan ukuran panjang ikan Kuniran dengan kisaran 105 mm - 193 mm dan berat dengan kisaran 12,3 gram - 90 gram, ukuran pertama kali ikan tertangkap (L50%) adalah 145,6 mm. Sifat pertumbuhannya adalah allometrik positif dengan nilai Kn adalah 1,051. Tingkat kematangan gonad ikan Kuniran jantan didominasi oleh TKG III dan TKG IV, sedangkan tingkat kematangan gonad ikan Kuniran betina didominasi oleh TKG IV. Nilai indeks kematangan gonad terendah pada ikan Kuniran jantan adalah 0,193 % dan nilai IKG tertinggi adalah 1,195 %, sedangkan nilai IKG terendah pada ikan Kuniran betina adalah 1,26 % dan nilai IKG tertinggi adalah 3,89 %. Ikan Kuniran jantan dan betina pertama kali matang gonad (Lm) berukuran masing-masing sebesar 150,5 mm dan 166,4 mm, artinya ikan Kuniran jantan lebih cepat matang gonad daripada ikan Kuniran betina. Fekunditasnya berkisar antara 6.565-17.301 butir. Nilai CPUE selama tahun 2009-2013 berkisar antara 2,525-6,804. Nilai MSY dan Foptimum yang didapatkan masing-masing adalah 9.928,084 kg dan 2551 trip. Nilai tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Kuniran pada tahun 2009 sampai 2013 berkisar antara 77,24%-98,72%. Upaya pengelolaan Ikan Kuniran di Perairan Kabupaten Kendal adalah dilakukan dengan cara memperbesar mesh size atau ukuran mata jaring alat tangkap. Goldband goatfish is one of the demersal fish which needs to be preserved because of increasing capture efforts. The objective of the study was to observe the biological aspects, utilization level and strategies to manage goldband goatfish resources in Kendal Regency waters. The study was conducted in June-July 2014 use descriptive methods. The samples were obtained use simple random sampling method. Primary data includes length and weight of the fish, gonad maturity level, and fecundity to identify the goldband goatfish biological aspects, while the secondary data includes the production of goldband goatfish for the recent 5 years (2009-2013). The study has shown that the lengt of the goldband goatfish ranges from 105 mm to 193 mm and weigh 12,3g-90g, and the size of the first captured fish (L50%) was 145,6 mm. The growth observed was positive allometric showing the value of Kn 1,051. The gonad maturity level for male goldband goatfish was dominated by TKG III and TKG IV, while for female goldband goatfish was dominated by TKG IV. The lowest gonad maturity index for male goldband goatfish was 0,193 % and the highest was 1,195 %, while for female fish the lowest gonad maturity index was 1,26 % and the highest index was 3,89 %. For both male and female fish, first mature gonad was obtained when they were 150,5 mm and 166,4 mm, male fish mature faster rather than female fish gonads. The fecundity ranged from 6.565  to 17.301 items. The CPUE value during 2009-2013 ranged from 2,525 to 6,804. The MSY and Foptimum obtained was 9.928,084 kg and 2551 trips. The goldband goatfish level of utilization during 2009-2013 ranged from 77,24% to 98,72%. The effort to manage goldband goatfish in Kendal waters was done by enlarging the mesh size.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI PULAU PAHAWANG PROPINSI LAMPUNG Mardani, Arif; Purwanti, Frida; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.33 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Pahawang di Teluk Lampung memiliki potensi sumberdaya alam beragam dan produktif sehingga dapat dikembangkan sebagai objek ekowisata. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2016 di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi sumberdaya alam Pulau Pahawang, mengetahui persepsi, partisipasi dan aspirasi responden serta menyusun strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di pulau Pahawang. Metode penelitian adalah metode deskriptif kualitatif yang bersifat studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan kesesuaian lahan pantai dan wawancara menggunakan kuesioner kepada 50 responden yang terdiri dari 25 responden masyarakat dan 25 responden pengujung. Data dianalisa menggunakan metode analisis SWOT. Hasil analisa kesesuaian lahan pantai di Pulau Pahawang sebagai kawasan objek wisata sangat sesuai (95%). Potensi ekosistem mangrove dan terumbu karang juga menjadi daya tarik wisata di pulau Pahawang. Persepsi responden tentang  pengembangan ekowisata pulau Pahawang cukup baik, menurut masyarakat (40%) dan pengunjung (44%). Partisipasi masyarakat terhadap kegiatan wisata di pulau Pahawang cukup baik (45%) sedangkan partisipasi pengunjung dalam menjaga kebersihan pulau Pahawang sudah baik (62%). Aspirasi responden terhadap pengembangan ekowisata pulau Pahawang meliputi akses transportasi, promosi, fasilitas umum, biaya perjalanan dan dukungan pemerintah untuk masyarakat 50% dan pengunjung 59%. Hasil analisis SWOT untuk strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Pulau Pahawang yaitu berada pada posisi strategi Strength-Opportunities (SO). Prioritas strategi SO adalah pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pendampingan lembaga dan pemerintah. Kata Kunci : Pahawang; Ekowisata; Persepsi; Partisipasi; Aspirasi; Masyarakat; SWOT  ABSTRACT Pahawang Island in the Bay of Lampung has diverse natural resources and productive so that it can be developed as an ecotourism object. This research was carried out from February to March 2016 at Pesawaran Regency Pahawang islans in Lampung Province. The research aims to know the natural resource potential in the Pahawang island, to know perception, participation and aspirations of respondents as well as to set up strategy of community-based ecotourism development in the Pahawang island. The research method used descriptive qualitative methods that be case studies. Data collection is carried out by observing land suitability of the beach and interviewing using questionnaires to 50 respondents consisting of 25 local community and 25 visitors. Data were analyzed using SWOT analysis. The results of land suitability analysis of the beach on the Pahawang island is very appropriate (95%). The mangrove ecosystems and coral reefs are also potential to be a tourist attraction on the Pahawang island. Perception of respondents on development of ecotourism at Pahawang island is good enough, for the community 40% and visitors 44%. Public participation toward tourism activities on the Pahawang island is good enough for the community 45% whereas the participation of visitors in maintaining the cleanliness of the Pahawang island is good (62%). The respondent's aspirations towards development of ecotourism at Pahawang Island include transportation, promotion, access to public facilities, travel costs and Government support, for the community is 50% and visitors is 59%. The results of SWOT  analysis on the strategy of community-based ecotourism development in the Pahawang Island that is in the position of Stregth-Opportunities (SO). The priorities strategy SO are development of community-based ecotourism with accompaniment of institution and the Government.  Keywords: Pahawang; Ecotourism; Perception; Aspiration; Participation; Community; SWOT 
KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS PADA DAERAH YANG TERKENA REKLAMASI DAN TIDAK TERKENA REKLAMASI DI PANTAI MARINA, SEMARANG Dewi, Tiara Surya; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.657 KB)

Abstract

Jumlah penduduk Indonesia yang besar tidak seimbang dengan luas lahan yang tersedia untuk berbagai kegiatan penduduk, membuat pemerintah menerapkan kebijakan untuk melakukan reklamasi pantai agar kebutuhan lahan penduduk terpenuhi. Reklamasi merupakan proses pembentukan lahan baru di daerah pesisir dengan tujuan menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kegiatan reklamasi memiliki dampak positif dan negatif bagi ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kelimpahan hewan makrobenthos pada daerah yang terkena reklamasi (A) dan daerah yang tidak terkena reklamasi (B) dan dampak reklamasi terhadap kelimpahan hewan makrobenthos di Pantai Marina Semarang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2013 di Pantai Marina Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi. Metode sampling yang digunakan adalah metode sistematik sampling. Pengambilan sampel dilakukan di 2 lokasi, dimana pada masing-masing lokasi ditentukan 7 titik sampling dan setiap titik sampling dilakukan 3 kali ulangan. Jarak antara satu titik sampling ke titik sampling lainnya adalah 5 meter. Kelimpahan hewan makrobenthos yang diperoleh di lokasi A adalah 54 ind/m3 dan terdiri dari 10 genera dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 1,06 dan nilai indeks keseragaman (e) 0,65. Kelimpahan hewan makrobenthos di lokasi B adalah 125 ind/m3 terdiri dari 14 genera dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 2,55 dan nilai indeks keseragaman (e) 0,96. Kesimpulan dari penelitian ini adalah daerah yang tidak terkena reklamasi memiliki kelimpahan jenis, indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman yang lebih tinggi daripada daerah yang terkena reklamasi. The population of Indonesia is disproportionate to the available land area for various activities of the population, making the government implemented a policy to conduct land reclamation population that needs are met. Reclamation is the process of formation of new land in the coastal strip with the aim of making a watery area damaged or useless for the better and beneficial. Reclamation activities have positive and negative impacts to the aquatic ecosystem. This study aims to determine: makrobenthos animal abundance in areas that have been reclaimed and areas that have not been reclaimed and the reclamation impact on abundance animal makrobenthos in Marina Semarang. The study was conducted in December 2013 at the Marina Beach in Semarang. The method used is the method of observation. The sampling method used is the method of systematic sampling. Sampling was conducted on animals makrobenthos 2 locations, where at each sampling point locations determined 7 and each sampling point 3 replications. The distance between the sampling point to another sampling point is 5 meters. Makrobenthos abundance of animals obtained at the location A is 54 ind / m3 0.05 and consists of 10 genera of the value of diversity index (H ') of 1.06 and uniformity index value (e) 0.65. Makrobenthos abundance of animals at the site B is 125 ind / 0.05 m3 consists of 14 genera of the value of diversity index (H ') of 2.55 and uniformity index value (e) 0.96.
EVALUASI PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI PANTAI CAHAYA, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH Evaluation of Marine Tourism Development at Cahaya Beach, Kendal Regency, Central Java Amalia, Yusrina; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.262 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24229

Abstract

ABSTRAK Pantai Cahaya terletak di Desa Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal dikelola oleh PT. Wersut Seguni Indonesia yang merupakan lembaga konservasi mamalia yang sejak tahun 1999. Pengembangan wisata Pantai Cahaya kini sudah baik dengan adanya atraksi wisata, aksesibilitas, dan fasilitas yang disediakan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengembangan wisata bahari di Pantasi Cahaya. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2018. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan membagikan kuisioner kepada 60 responden pengunjung menggunakan teknik accidental sampling 30 responden masyarakat setempat, dan 6 responden pengelola menggunakan teknik purposive sampling. Evaluasi pengembangan wisata bahari di Pantai Cahaya masuk dalam tahap stagnasi dimana atraksi wisata didominasi oleh wisata buatan, sarana prasarana telah banyak disediakan, aksesibilitas sudah dikembangkan, jumlah kunjungan tertinggi telah tercapai dan stagnan pada 2 tahun terakhir, pengunjung yang datang merupakan repeater guest.ABSTRACT Cahaya Beach is located at the Sendang Sikucing Village, Rowosari District, Kendal Regency, managed by PT. Wersut Seguni Indonesia, a mammal conservation organization that was established in 1999. Development of Cahaya Beach is supported by the presence of tourist attractions, accessibility, and provided facilities. The purpose of this study was to evaluate the development of marine tourism in the Cahaya Beach. The study was conducted in November-December 2018. This study used a qualitative and quantitative, collect data method with observation and interviews by distributing questionnaires to 60 visitors using accidental sampling techniques, 30 local communities, and 6 managers using purposive sampling technique. Evaluation of the development of marine tourism at Cahaya Beach was included in the stage of stagnation where tourist attractions were dominated by mainmade tourism, infrastructure had been widely provided, accessibility had been developed, the highest number of visits had been reached and stagnant in the last 2 years, visitors were guest repeaters. 
HUBUNGAN TOTAL BAKTERI DENGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TOTAL DI MUARA SUNGAI BABON, SEMARANG Marwan, Ahmad Hadi; Widyorini, Niniek; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.253 KB)

Abstract

Muara merupakan salah satu ekosistem yang yang berada di pesisir, yang merupakan tempat terjadinya siklus dekomposisi unsur-unsur hara. Ketersediaan unsur hara didalam susatu perairan dapat menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur hara yang dilihat adalah kandungan bahan organik total di perairan muara kali Babon, Semarang. Zat hara tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme didalamnya. Bakteri sebagai dekomposer bahan- bahan organik sangat berperan aktif untuk menyediakan zat- zat hara di perairan seperti bahan- bahan organik. Oleh sebab itu, kandungan total bakteri di sebuah perairan terutama dalam penyediaan unsur hara dapat digunakan sebagai indikator kesuburan perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2015 dengan tujuan untuk mengetahui total bakteri, kandungan bahan organik total dan hubungan antara total bakteri dan kandungan bahan organik total di perairan muara sungai Babon, Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat deskriptif. Pengambilan sampel air pada penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun pengamatan, stasiun satu merupakan bagian akhir dari aliran muara Sungai Babon yang sudah berbatasan langsung dengan laut, stasiun dua merupakan bagian tengan aliran air muara Sungai Babon, dan stasiun tiga merupan bagian awal aliran muara Sungai Babon. Sampel air dianalisis di laboratorium untuk pengukuran total bakteri dan bahan organik total. Selain itu pengukuran yang dilakukan secara in situ adalah pengukuran suhu, kecerahan, arus, derajat keasaman, oksigen terlarut dan salinitas. Total bakteri di perairan muara Sungai Babon, Semarang berkisar antara  120 x 102 koloni/gr hingga 180 x 102 koloni/gr. Kandungan bahan organik total di perairan muara Sungai Babon, Semarang berkisar antara 15,484 mg/l hingga 28,598 mg/l . Total bakteri dengan bahan organik total yang terdapat di perairan muara kali Babon, Semarang memiliki hubungan yang sangat erat dengat tingkat keeratan sebesar 92%. Estuary is one of the important ecosistems located on the coast. Estuary is also site of the decomposition cycle nutrient. The availability of nutriens in the water can be an indicator of water fertility. In this case, the element nutrient which is visible content of Total Organic Matter in Babon River Estuary, Semarang. The nutrients are crucial to survival of organism in there. Bacteria as a decomposers of organic material very active role to provide nutrient substances in the water such as organic materials. Therefore, the total content of bacteria in a water especially in nutrient provider can be used as an indicator of waters fertility. This researh was conducted on February – March 2015 in order to determine the total bacteria, amout of total organic matter and relations between total bacteria and total organic matter in Babon River Estuary, Semarang. The method used in this research is descriptive. Sampling was conducted at Babon River Estuary at three observation stations, station one is the final part of Babon River Estuarine stream which is directly adjacent to the sea, station two is a central part of Babon River Estuarine stream, station three is the first part of Babon River Estuarine stream. Sample of waters was analized in the laboratory for measurement of total bacteria and total organic matter. In addition, measurements are made in situ measurements of temperature, brightness, flow, waters acidity, total oxygen and salinity. Total bacteria in Babon River Estuarine waters, Semarang ranging from 120 x 102 koloni/gr up to 180 x 102 koloni/gr. Content of total organic matter in Babon River Estuarine waters, Semarang ranging between 15,484 mg/l up to 28,598 mg/l. Total bacteria and content of total organic matter in Babon River Estuarine waters, semarang has a very close relation.
ANALISIS HUBUNGAN SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS DAN SUB-SURFACE TEMPERATURE DATA ARGO FLOAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN TUNA DI SAMUDERA HINDIA Latumeten, Geertruidha Adelheid; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.399 KB)

Abstract

Tuna is a large pelagic fish that has three characters. First, most of Tuna were found in upwelling and sea water front area. Second, Tuna have a migratory instinct to locate abundant source of food area. Third, each species of Tuna has sub-surface temperature preference The research used explorative method and the sampling method used purposive sampling. Data used in the research are sea surface temperature, chlorophyll-a from the MODIS satellite data and sub-surface temperature from the ARGO Float data. The result has shown that the highest Tuna catch occurs on the east season except for southern bluefin Tuna which was only caught on the west season. The upwelling phenomenon was detected on the west season and the sea water front phenomenon was detected on the east season.  Analysis of single and multiple correlation between sub surface temperature and Tuna catch has shown high correlation with the coefficient correlation value is above 0.5 for both seasons. Based on the research, yellowfin Tuna has temperature range of 21 – 27 ⁰C in the depth of 80 m – 100 m, bigeye Tuna is 10 – 23 ⁰C in the depth of 150 m, albacore is 11 – 19 ⁰C in the depth of 150 m and southern bluefin Tuna is 12 – 16 ⁰C in the depth of 200 m.
PEMETAAN KARAKTERISTIK FISIK SEDIMEN DI PANTAI BERMANGROVE DI PESISIR DESA TIMBULSLOKO, KABUPATEN DEMAKPEMETAAN KARAKTERISTIK FISIK SEDIMEN DI PANTAI BERMANGROVE DI PESISIR DESA TIMBULSLOKO, KABUPATEN DEMAK Hapsari, Rania Widia; Hendrarto, Boedi; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1287.951 KB)

Abstract

ABSTRAK Karakteristik fisik sedimen dan dinamika pergerakannya mempunyai peranan penting bagi stabilitas suatu kawasan pesisir. Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak merupakan salah satu desa di kawasan pesisir yang memiliki pantai yang bermangrove. Sama dengan daerah pesisir lainnya, daerah ini juga mendapat pengaruh faktor lingkungan dari darat dan laut yang dikhawatirkan dapat menyebabkan perubahan garis pantai. Penelitian ini dilakukan guna menjawab permasalahan belum banyaknya informasi mengenai karakteristik fisik sedimen dalam hubungannya dengan mangrove di kawasan tersebut. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Maret 2017 bertempat di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi kawasan pesisir Desa Timbulsloko ditinjau dari karakteristik fisik sedimen dan kondisi kerapatan relatif hutan mangrovenya. Sampling sedimen dilakukan disepanjang pantai sejauh 775m. Beberapa metode yang dilakukan pada penelitian yaitu Metode Soil Jar Test, Haphazard, Point Centered Quarter, dan Principal Component Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi oleh fraksi lumpur (92,50%), sedimen memiliki warna coklat muda hingga kehitaman dengan nilai HUE 28,53-36,61o, salinitas sedimen berkisar antara 13,60-25‰. Jenis mangrove yang mendominasi kawasan tersebut yaitu Rhizophora sp.. Berdasarkan analisa PCA, fraksi liat dan lumpur dalam sedimen berkorelasi positif dengan kerapatan total mangrove. Kata Kunci : Karakteristik Fisik Sedimen; Kerapatan Relatif Hutan Mangrove; Desa Timbulsloko ABSTRACT The physical characteristics of sediment and the dynamics of its movement have an important role for the stability of a coastal region. Timbulsloko Village, Demak Regency is one of the villages in the coastal area overgrown by mangroves.  Similar to other coastal areas, this area also has the effect of environmental factors from land and sea that are feared can cause coastline shifts. This research was conducted to answer the problem of the lack of information about the physical characteristics of sediment in relation to the mangroves in the area. The research was conducted in March 2017 at Timbulsloko Village, Demak Regency. This study aimed to determine the condition of coastal areas of Timbulsloko Village in terms of physical characteristics of sediment and relative density of mangrove forest conditions. Sediment sampling was done along the coast as far as 775m. Some method that used in this study are Soil Jar Test, Haphazard, Point Centered Quaretr, and Principal Component Analysis. The results showed that sediment was dominated by mud fraction (92,50%), sediment had light brown to blackish with HUE value 28,53-36,61o, sediment salinity was between 13,60-25 ‰. Type of mangrove that dominates the area is Rhizophora sp.. Based on PCA analysis, clay and mud fraction in the sediment correlated positively with the total relative density of mangrove. Keyword : Physical Characteristic of Sediment; Relative Density of Mangrove Forest; Timbulsloko Village
ASPEK PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) DI PERAIRAN RAWA PENING KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG Rochmatin, Siti Yuliani; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.195 KB)

Abstract

Rawa Pening merupakan perairan umum yang potensial di Jawa Tengah dan tempat mata pencaharian utama bagi nelayan sekitar. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) adalah salah satu ikan air tawar asli perairan umum Indonesia yang dapat ditemukan di Rawa Pening. Saat ini ikan Nilem dieksploitasi tidak hanya untuk dikonsumsi dagingnya saja tetapi juga telurnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan agar stok ikan di alam tetap terjaga dengan  mengkaji dari aspek pertumbuhan dan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek pertumbuhan dan reproduksi ikan Nilem serta strategi pengelolaan yang baik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014– Maret 2014 di Rawa Pening Kecamatan Tuntang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey yang bersifat deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel simple sensus sampling. Data yang digunakan yaitu data primer. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 minggu sekali. Selama penelitian didapatkan 78 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa sifat pertumbuhan ikan Nilem adalah alometrik negatif, dengan nilai b sebesar 2,8392. Faktor kondisi ikan Nilem sebesar 1,144 yaitu kurang pipih (bertubuh kurus). Ukuran rata – rata pertama kali tertangkap ikan Nilem 135 mm dan ukuran pertama kali matang gonad 102,93 mm, menunjukkan ukuran tersebut layak tangkap. Tingkat Kematangan Gonad didominasi TKG IV dan V yaitu dalam keadaan matang gonad. Nilai Indeks Kematangan Gonad tertinggi ikan betina diperoleh 45,32%  sedangkan IKG tertinggi pada ikan Nilem jantan sebesar 23,07%. Fekunditas tertinggi sebanyak 156.695 butir sedangkan nilai fekunditas terendah sebanyak 2966 butir. Perbandingan jantan dan betina 1:1,29. Strategi pengelolaan yang dapat dilakukan adalah dengan cara mempertahankan ukuran mata jaring, mengurangi intensitas penangkapan dan penegakan hukum. Rawa Pening is a water source which is potential in Central Java and the main livelihood for fishermen living around. Nilem fish (Osteochilus hasselti) is one of the native freshwater fish in Indonesia, and can be found in Rawa Pening. Currently, Nilem is exploited not only for its meat but also its eggs to be consumed. Therefore, it is necessary that conserving fish in nature should be examined based on the aspects of growth and reproduction. The research was intended to determine some aspects of reproduction and growth, as well as good management strategy. The research was done from January 2014 – March 2014 in Rawa Pening, District Tuntang. The research method used was descriptive survey using simple sampling method to collect the data. Primary data was used in the research and the sample was done once in two weeks. During the study 78 samples obtained. The results of the research has shown that Nilem has negative alometric growth showing b value as much as 2,8392. The condition factor of Nilem has indicated that the fish was flat (thin) based on value 1,144. The average first caught Nilem has the size 135 mm and the first measurement of gonad maturity was 102,93 mm, showing that the fish was suitable catching. The gonad maturity was dominated by level TKG IV and V, showing that the fish were mature. The highest index of gonad maturity in female fish was 45,32%, while in male fish was 23,07%. The highest fecundity was 156.695 while the lowest was 2.966. The ratio of male and female fish was 1 : 1,29. The management strategy that can be use were maintain the mesh size, minimize the intensity of catch and law enforcement.
Konsentrasi Nitrat Fosfat di Sungai Banjir Kanal Barat dan Sungai Silandak Semarang Concentration of Nitrates Phosphates in the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers in Semarang Adriani, Arina; Ain, Churun; Febrianto, Sigit
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.541 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26550

Abstract

Sungai Banjir Kanal Barat dan Sungai Silandak merupakan sungai yang alirannya bermuara di Teluk Semarang. Lokasi sungai yang berada di tengah kota dan padatnya aktivitas manusia (pemukiman dan industri), akan berpengaruh terhadap kualitas air di sekitar aliran sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi nitrat dan fosfat serta untuk mengetahui status trofik Sungai Banjir Kanal Barat dan Sungai Silandak. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober – 1 November 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penentuan titik lokasi sampling menggunakan metode purposive sampling, dilakukan di 7 (tujuh) titik  dengan 2 (dua) kali pengulangan dari hulu sampai hilir dengan karakteristik penggunaan lahan berupa pemukiman, industri, perairan dan vegetasi. Data yang dianalisis adalah nitrat, fosfat, pH, oksigen terlarut, salinitas, kedalaman, arus, dan suhu. Nilai rata-rata konsentrasi nitrat di Sungai Banjir Kanal Barat yaitu 2,84 mg/l sedangkan fosfat yaitu 1,51 mg/l. Nilai rata-rata konsentrasi nitrat di Sungai Silandak yaitu 2,11 mg/l, sedangkan fosfat yaitu 1,39 mg/l. Sungai Banjir Kanal Barat dan Sungai Silandak termasuk dalam perairan mesotrofik berdasarkan konsentrasi nitrat, sedangkan berdasarkan konsentrasi fosfat dikategorikan dalam perairan eutrofik. Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers are rivers whose flow empties into the Gulf of Semarang. The location of the river in the middle of the city and the density of human activities (settlements and industry), will affect the quality of water around the river flow. The purpose of this study was to determine land use around the river, to determine the concentration of nitrate and phosphate and to determine the trophic status of the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers. This research was conducted on 15 October - 1 November 2018. The method used in this study was descriptive method. Determination of sampling location using purposive sampling method, carried out in 7 (seven) points with 2 (two) repetitions from upstream to downstream with land use characteristics in the form of settlements, industries, waters and vegetation. Data analyzed were nitrate, phosphate, pH, DO, salinity, depth, current, and temperature. The average value of nitrate concentration in the Banjir Kanal Barat River is 2.84 mg/l while phosphate is 1.51 mg/l. The average value of nitrate concentration in Silandak River is 2.11 mg/l, while phosphate is 1.39 mg/l. The Banjir Kanal Barat River and Silandak River are included in the mesotrophic waters based on nitrate concentration, while based on phosphate concentration are categorized in eutrophic waters.Â