cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
ANALISA PROSPEK BISNIS BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG Wijaya, David Panca; Elfitasari, Tita; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.593 KB)

Abstract

Prospek budidaya pembesaran ikan bandeng di Tugu memiliki potensi yang baik karena permintaan pasar yang selalu meningkat. Penelitian ini menggunakan dua sampel POKDAKAN yaitu Mina Barokah dan Mina Usaha Mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek finansial pembesaran ikan bandeng (Chanos chanos) dan prospek bisnis pembesaran ikan bandeng (Chanos chanos) di Kecamatan Tugu Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dan metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode wawancara dan distribusi kuisioner. Metode analisis data yang digunakan adalah NPV, IRR, B/C Ratio, Payback Period, SWOT, Uji Validitas dan Uji Realibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kekuatan tertinggi adalah manajemen budidaya dan potensi lahan, faktor kelemahan tertinggi adalah strategi bisnis dan keterbatasan dana, faktor peluang tertinggi adalah sumber daya manusia dan manajemen budidaya, faktor ancaman tertinggi adalah kualitas benih ikan bandeng dan harga jual yang fluktuatif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa prospek bisnis pembesaran ikan bandeng dengan menggunakan sistem ekstensif plus menempati kuadran I yang berarti kondisi budidaya ikan bandeng berada pada kondisi yang baik sehingga sangat diharapkan untuk dikembangkan lagi. Sedangkan untuk aspek ekonomi POKDAKAN Mina Barokah menghasilkan nilai NPV Rp. 92.048.895,00, IRR 24%, B/C Ratio 2.35, Payback Periode 0,82 dengan jumlah siklus 1-3 kali/tahun dan POKDAKAN Mina Usaha Mandiri Menghasilkan nilai NPV Rp. 441.656.142,00, B/C Ratio 4, Payback Periode 1 dengan jumlah siklus 1-3 kali/tahun. Berdasarkan nilai tersebut maka kedua POKDAKAN dikategorikan layak untuk dikembangkan lagi.There is a good prospect for milkfish rearing in Tugu with the increasing market demands. This study using two sample fish farmers group, Mina Barokah and Mina Usaha Mandiri. The aim of this study is to analyse the financial aspects and business prospects of milkfish (Chanos chanos) rearing in District Tugu Semarang. The method used in this study is case study where interviews and questionnaires distribution were carried out. Data analysis method used were NPV, IRR, B/C Ratio, Payback Period, SWOT, validity and reliability test. The results showed that the highest strength factors are fish farming management and the land potential, the highest weakness factors are the utilization of funds and lack of funds, the highest opportunities are human resources and aquaculture management, the highest threat factors are seed quality and fluctuation selling prices. It is concluded that the prospect for fish rearing business occupy quadrant 1, which means the business is in a good condition and can be expected to develop more. For the economic aspect  Fish farmers group Mina Barokah  produce values NPV Rp 92.048.895,00, IRR 24%, B/C Ratio 2.35 and Payback Periode 0,82 while Mina Usaha Mandiri produce values NPV Rp. 441.656.142,00, B/C Ratio 4 and Payback Periode 1, with the total production 1-3 times/year. Based on the value, both of the fish farmers group business are categorized as worth to develop more.
PENGARUH C/N RATIO BERBEDA TERHADAP EFESIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN UDANG WINDU(Penaeusmonodon) PADA MEDIA BIOFLOK Hidayat, Riyan; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.704 KB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas yang di andalkan dalam peningkatan devisa negara dari sektor non migas. Udang mampu berkembang dengan pesat bila dibudidayakan secara baik, terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dan tidak ada gangguan lingkungan. Pakan merupakan komponen budidaya yang menyerap biaya paling besar sampai 80%. Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif penyediaan pakan tambahan berprotein untuk kultivan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan sistem bioflok dengan sumber C/N yang berbeda terhadap efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu dan mengetahui ratio C/N yang menghasilkan efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu yang terbaik. Parameter variable bebas yang dikaji meliputi pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), tingkat konsumsi pakan (TKP), efesiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan kelulushidupan (SR). Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (C/N ratio 12), perlakuan B (C/N ratio 18), dan perlakuan C (C/N ratio 24). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah karbon yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pertumbuhan harian dan efesiensi pemanfaatan pakan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan (SR). Ratio C/N yang memberikan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan terbaik adalah 24, dengan nilai SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 dan kualitas air masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang windu (Penaeus monodon). Shrimp is one commodity in the count in an increase in national income of the non-oil sector. Shrimp able to thrive if cultivated properly, meet all the needs of life and no environmental interference. Feed an cultivating components that absorb the greatest costs up to 80%. Bioflok technology is an alternative to the provision of additional food protein kultivan so as to improve growth and feed effeciency. The purpose of this study was to determine the effect of the use of the system with the source bioflok C/N is different to the feed effeciency and growth of balck tiger shrimp and determine the ratio C/N which produces feed effeciency and growth of tiger shrimp are best. Free variabel parameters studied include the absolute growth, specific growth rate (SGR), the level of feed intake (TKP),  effeciency of feed utilization (EPP), survival rate (SR). Parameters of this study supports using a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications, namely treatment A (C/N ratio 12), treatment B (C/N ratio 18), and treatment C (C/N ratio 24). The results showed that the number of different carbon gives significant influence (P<0,01) the daily growth rate and  effeciency of feed utilization and not significant effect (P>0,05) to survival rate (SR). Ratio C/N which gives the best growth and feed effeciency was 24, with a value of  SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 and the water quality is still within the range for a decent life tiger shrimp (Penaeus monodon).
STUDI KASUS KEBERADAAN PENYAKIT IMNV (INFECTIOUS MYONECROSIS VIRUS) PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PERTAMBAKAN PEKALONGAN, JAWA TENGAH Sarah, Humidah; Prayitno, Slamet Budi; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.207 KB)

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu spesies andalan bagi pertambakan di indonesia. Salah satu kendala pada pembudidaya udang vaname saat ini adanya penyakit IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). Pekalongan merupakan salah satu produksi udang vaname yang cukup penting di Jawa Tengah. Pemantauan penyakit penting seperti IMNV sangat perlu dilakukan untuk mengetahui potensi resiko tertular dan tersebarnya penyakit IMNV di Pekalongan. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji status kesehatan udang khususnya dari infeksi IMNV pada tambak intensif di Kota Pekalongan. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode studi kasus, dengan melakukan pengambilan sampel udang melalui purposive random sampling dan wawancara kepada pemilik tambak. Jumlah udang 144 ekor dari 8 tambak terpilih. Hasil real time PCR dan analisa histopatologi terhadap organ daging bagian ekor menunjukkan bahwa 25% tambak contoh terinfeksi IMNV yaitu di desa Krapyak dan desa Kandang Panjang, sedangkan hasil histopatologi menunjukkan bahwa jaringan daging udang mengalami nekrosis. Berdarsarkan hasil diatas, tambak intensif di Kota Pekalongan memiliki potensi terinfeksi IMNV pada tahap sedang. Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) became a prime species cultivated in brackish water  ponds in Indonesia. The problem that are often found in field, is IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) disease. Pekalongan district is one of important shrimp produces in Central Java. Disease monitoring program is an importanted step that should be carried out especially for IMNV infection. This was to evaluate the potential disease infection and spread into the culture area. The aim of this research was to study the health status of intensive shrimp culture in Pekalongan with regard IMNV infection. 144 shrimp were randomly selected brackish water intensive ponds. The sample were then analysed by real time PCR to correct the present of IMNV. Histopathologycal study was also cound. The research showed that 25% of intensive shrimp ponds samples were infected by IMNV. Furthemore, their caudal flesh demmostrated necrosis. This can be concluded that shrimp ponds in Pekalongan mildly risk of IMNV.
Pengaruh Perbedaan Protein Pakan dengan Penambahan Protein Sel Tunggal dari Produksi MSG terhadap Pertumbuhan Nila (Oreochromis sp.) pada Salinitas 15ppt Kandida, Putri Farah; Samijan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 1 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.117 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penambahan Protein Sel Tunggal (PST) dari produk MSG berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan, protein efisiensi rasio, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan bobot mutlak, pemanfaatan protein bersih dan kelulushidupan benih nila yang dibudidayakan pada media bersalinitas 15 ppt. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu A (0% PST), B (5% PST), C (10% PST) dan D (15% PST).  Peubah yang diukur yaitu data tingkat konsumsi pakan (TKP), rasio efisiensi protein (PER), rasio konversi pakan (FCR), pertumbuhan bobot mutlak (W), laju pertumbuhan spesifik (SGR), pemanfaatan protein (NPU), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Penelitian ini dilaksanakan di BBPBAP Jepara pada bulan April – Juni 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan PST dalam pakan berpengaruh terhadap penurunan nilai SGR dan W secara nyata (P<0,05) dan penurunan nilai TKP dan PER secara sangat nyata (P<0,01), tetapi tidak menurunkan nilai FCR dan SR (P>0,05).  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan Protein Sel Tunggal (PST) dari produksi MSG dalam pakan buatan tersebut menurunkan nilai TKP, PER, W, dan SGR nila pada media bersalinitas 15 ppt.   ABSTRACT The aims of this experiment were to examine whether the additional of single cell protein from MSG production to artificial diet give an effect toward voluntary feed intake, feed conversion ratio, protein efficiency ratio, spesific growth rate, absolute growth rate, net protein utilization and survival rate of tilapia’s juvenil cultured in saline water.. This experiment used experimental method which is done with a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, i.e. A (0% SCP), B (5% SCP), C(10% SCP) and D (15% SCP).  The measured variables are voluntary feed intake (VFI), feed conversion ratio (FCR), protein efficiency ratio (PER), absolute growth rate (W), spesific growth rate (SGR), net protein utilization (NPU), survival rate (SR) and water quality. This expriment was carried out in BBPBAP Jepara on April – June 2012. The results showed that the treatments decreased the values of SGR and W significantly (P<0,05), also decreased VFI and PER values very significantly (P<0,01), but did not affect on FCR and SR values (P>0,05).  Based on the results, it can be concluded that supplementations of SCP from MSG production have resulted in decreasing VFI, PER, W, and SGR of tilapia reared in 15 ppt salinity water.
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN DAN PAKAN BUATAN UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP POSTLARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon, Fab.) Cahyanti, Erni Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.514 KB)

Abstract

Pakan alami Artemia sp. merupakan jenis pakan yang cocok untuk udang windu stadia postlarva, sebab selain kandungan protein yang tinggi yaitu sekitar 50%, Artemia sp. juga mudah dicerna oleh larva udang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan pakan berupa Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan pakan buatan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup postlarva udang windu (P. monodon, Fab.).  Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (Artemia sp. beku), B (Artemia sp. awetan), dan C (pakan buatan).  Udang yang digunakan adalah udang windu PL-8 dengan bobot biomassa rata-rata yaitu perlakuan A sebesar 0,0045±0,0003 g, B sebesar 0,0043±0,0002 g, dan C sebesar 0,0044±0,0002 g.  Panjang individu rata-rata udang windu perlakuan A sebesar 0,54±0,0124 cm, B sebesar 0,53±0,0068, dan C sebesar 0,54±0,0015 cm.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara, Jawa Tengah selama 35 hari.  Pakan diberikan 3 kali sehari dengan menerapkan metode relative feeding rate, yaitu sebesar 30%/bobot biomassa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbeda berpengaruh (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efficiency ratio (PER), namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap nilai kelangsungan hidup.  Nilai untuk RGRW dan RGRL, EPP, dan PER sebesar 16,83%/hari, 8,07%/hari, 25,23%, 0,45%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan Artemia sp. menghasilkan nilai pertumbuhan, EPP, dan PER yang lebih tinggi pada udang windu bila dibandingkan dengan pakan buatan, sedangkan pakan Artemia sp. dalam bentuk beku lebih baik daripada Artemia sp. yang berbentuk awetan. Artemia sp. was a suitable life food for tiger shrimp postlarvae stage, because it has high protein level, (that was about of 50%), and it easily digested by the larvae.  The  purpose  of  this  research  was to determine  of  consumption  and  utilization  rate of  frozen Artemia sp., preserved Artemia sp., and artificial feed for growth and survival rate postlarvaee tiger shrimp (P. monodon, Fab.).  The experimental method used was completely randomized design (CRD), with three treatment and three replicaties. The trials used with A (frozen Artemia sp.), B (preserved Artemia sp.), and C (artificial feed). The experimental shrimp used was PL-8 with biomass weight a trial A of 0.0045±0.0003 g, B of 0.0043±0.0002 g, and C of 0.0044±0.0002 g.  The individual length a trial A of 0.54±0.0124 cm, B of 0.53±0.0068, and C of 0.54±0.0015 cm.  The trial shrimp maintenanced at The Coastal Development Laboratory Jepara, Central Java for 35 days.  Feeding frequency applied 3 times a day with relative feeding rate of 30% total biomass weight.  The result showed that the different (P<0.05) on relative growth rate of weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio, but no significant (P>0.05) on the survival rate.  Those value for RGRW dan RGRL, EPP, and PER were 16.83%/days, 8.07%/days, 25.23%, 0.45%.  It was concluded that the tiger shrimp fede on Artemia sp. produce highest growth rate to tiger shrimp when compared with artificial feed, whereas frozen Artemia sp., better resulted om growth the preserved Artemia sp.
INFESTASI Octolasmis PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) HASIL BUDIDAYA DARI DESA SURODADI, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Herlinawati, Annisa; Sarjito, - -; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.517 KB)

Abstract

Kepiting bakau (S. serrata) memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga layak untuk dibudidayakan. Salah satu masalah pada budidaya kepiting adalah adanya parasit octolasmis. Parasit octolasmis dapat menyebabkan terganggunya sistem respirasi, penurunan bobot tubuh, kondisi inang menjadi lemah, dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis parasit octolasmis yang menginfeksi kepiting bakau, mengetahui gejala klinis kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis, dan mengetahui nilai intensitas, prevalensi, dan dominasi parasit octolasmis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi, dan metode pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Materi yang digunakan yaitu 100 ekor kepiting bakau yang berasal dari Desa Surodadi, Kabupaten Demak dengan panjang rerata 8,47 ± 0,53 cm dan bobot rerata 119,8 ± 25,71 g. Pengamatan parasit octolasmis dilakukan pada organ target yaitu organ insang pada kepiting bakau untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Parasit octolasmis yang telah ditemukan sebanyak dua jenis yaitu Octolasmis cor dan Octolasmis angulata. Gejala klinis pada kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis adalah insang berwarna hitam dan adanya struktur seperti kecambah pada bagian insang. Nilai intensitas intensitas (37), prevalensi (36%) dan dominasi (57,8%) dimiliki oleh parasit Octolasmis cor, sedangkan nilai intensitas (24), prevalensi (40%) dan dominasi (42,1%) dimiliki oleh parasit Octolasmis angulata. Mud crab has a high economic value so very potential feasible to be cultivated. One of the problems in the cultivation of mud crab is the presence of parasites octolasmis. The parasites can causes disruption of octolasmis respiration system, decreased body weights, condition of the host to be weak, and death. This study aimed to know parasites octolasmis that infected mud crab, the determine clinical signs of mud crab infected parasites octolasmis, and determine intensity, prevalence, and dominasi of parasites octolasmis. This research was conducted in January to March 2017. The methode used in this research is a exploratory and a random sampling methode. This research used 100 of mud crab that culture from the Surodadi Village, Demak with an average length of 8,47 ± 0,53 cm and an average weight of 119,8 ± 25,71 g. Observation parasites octolasmis gills at mud crab to be observed under a microscope. Parasites that have been found are two types, namely Octolasmis cor and Octolasmis angulata. Mud crab whose infected by parasites octolasmis have clinical signs such as the gills are black and the structure like sprouts. The intensity (37), prevalence (36%), and dominasi (57,8%) is parasites Octolasmis cor and intensity (24), prevalence (40%), and dominasi (42,1%) is parasites Octolasmis angulata.
Pengaruh Substitusi Tepung Ikan Dengan Silase Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Dalam Pakan Buatan Terhadap Pemanfaatan Pakan Dan Pertumbuhan Juvenil Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus) Tanake, Gusti Ladini; Rachmawati, Diana; Subandiyono, Subandiyono
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 3 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.633 KB)

Abstract

Tiger grouper is one of the important fishery commodities due to the market and highly economical value. One of the problems faced by the farmers was the high price of fish meal. Therefore, it was needed to find alternative ingredients as a substitution for the fish meal. One of the alternative was using earthworms (Lumbricus rubellus). This research aimed to determine the effects of substitution of fish meal with earthworm silage in the artificial food on the growth and survival rate of tiger grouper (Epinephelus fuscogutattus). This experiment used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replicates i.e. treatment A (0% without earthworm silage), B (25% earthworm silage), C (50% earthworm silage), D (75% earthworm silage), and E (100% earthworm silage). This research was carried out on April to June 2012 for 42 days in Great Hall of Brackish Water Aquaculture Development (BBPBAP), Jepara. The research revealed that the substitution of fish meal with earthworm silage resulted significant effect (P0,05) for EPP, PER, FCR, and SR values. It was suggested that diet with 100% substitution of earthworm silage, i.e. treatment E, could be used for tiger grouper feeds.
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Caulerpa lentillifera YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI TAMBAK BANDENGAN, JEPARA Sarah Nur Iskandar; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.004 KB)

Abstract

Caulerpa lentillifera termasuk kedalam alga hijau. Produksi C. lentillifera masih rendah karena mengandalkan hasil dari alam sehingga dibutukan teknologi budidaya untuk menunjang kontinuitas produksi C. lentillifera. Perbedaan biomassa awal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Hal ini sangat berkaitan dengan persaingan setiap individu rumput laut dalam mendapatkan unsur hara sebagai makanannya. Keberhasilan sistem penanaman dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang baik dan bobot yang sesuai akan meningkatkan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot awal penanaman terhadap pertumbuhan C. lentillifera yang dibudidayakan dengan metode longline dan bobot awal penanaman rumput laut yang memberikan pertumbuhan terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2015 - 22 April 2015 di Tambak Bandengan, Jepara, Jawa Tengah. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis C. lentillifera yang berasal dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi. Tanaman uji dibudidayakan dengan metode longline dan dipelihara selama 35 hari. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu perlakuan A (50 g), B (75 g), C (100 g), dan D (125 g). Variabel yang diamati adalah pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air. Hasil analisa ragam anova menunjukkan bahwa perbedaan bobot awal berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pertumbuhan C. lentillifera. Hasil uji wilayah ganda (Duncan) menunjukkan perlakuan A dengan bobot 50 g memberikan pertumbuhan terbaik. Kesimpulan yang diperoleh adalah pertumbuhan rumput laut C. lentillifera dengan bobot awal penanaman 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik sebesar 152.00±10.95%, dan pertumbuhan spesifik terbaik yaitu sebesar 2.64±0.13%/hari dan disarankan untuk dibudidayakan. Caulerpa lentillifera is belong to green algae species. C. lentillifera production is remains low and still depend on natural harvest, in other to cultivation technology is necessary to support the sustainable production of C. lentillifera. Initial weigh of biomass greatly affect the growth of seaweed. It is strongly associated with each individual seaweed competition in getting nutrients as food. The success of the culture system is affected by using a good seed and the appropriate weights will increase the growth. The aims of this study was to determine the effect of different initial weights on the growth of seaweed C. lentillifera and to find out the initial weight that gives the best growth during culture period with Long line method. This study was conducted from February 7th to April 22th 2015. The plants test used in this study was seaweed C. lentillifera that comes from Brackish Water Aquaculture Center (BPBAP) Takalar, Sulawesi. The tested of C. lentillifera cultivated by long line method and maintained for 35 days. This study using experimental design by Completely Randomized Design with 4 treatments and 5 replications. The treatments tested were A (50 g), B (75 g), C (100 g) and D (125 g). The variables measured were relative growth, specific growth rate, and water quality. ANOVA variance analysis results indicate that the initial weight difference was highly significant (P<0.01) on the growth of C. lentillifera, the result of the double region (Duncan) showed treatment A with 50 g in weight gave the best growth. The conclusion of this study that the growth of C. lentillifera with 50 g Initial weigh of planting gives the best result in relative growth rate about 152.00±10.95% and specific growth rate about 2.64±0.13%/day and it recommended to be cultured.
PENGARUH KOMUNITAS PERIKANAN BUDIDAYA DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK TERHADAP KUALITAS PEMBUDIDAYA PERIKANAN DI JAWA TENGAH Nugroho, Ari Panggih; Elfitasari, Tita; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.622 KB)

Abstract

Menurut Wijaya (2012), dari total jumlah pengguna media sosial di Indonesia 87% diantaranya merupakan pengguna media sosial facebook. Pengguna media sosial facebook menurut Puskakom UI (2015),  dari seluruh pengguna media sosial facebook 26% diantaranya bekerja sebagai wirausaha, dimana 68% merupakan wirausaha dibidang perdagangan, jasa, dan agroindustri seperti perikanan. Facebook dipilih oleh pembudidaya ikan karena media sosial ini sangat mudah digunakan, jaringan yang luas, dan juga terdapat layanan grup yang memudahkan untuk pembudidaya ikan dapat berinteraksi berdasarkan kesamaan seperti dalam komoditas budidaya dan daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komunitas perikanan budidaya di media sosial facebook terhadap peningkatan pengetahuan pembudidaya perikanan dan peningkatan ekonomi pembudidaya perikanan. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif. Teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah teknik survei menggunakan angket. Teknik  pengambilan  sampel  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah dengan menggunakan teknik pengambilan Random Sampling. Sampel yang digunakan adalah 60 sampel pembudidaya perikanan budidaya di Jawa Tengah.  Data yang telah didapatkan kemudian diuji statistik menggunakan uji Independent t-test dengan menggunakan program komputer SPSS v.20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas perikanan budidaya di media sosial facebook berpengaruh signifikan (t hitung -7,424 dan sig 0,000) terhadap peningkatan pengetahuan pembudidaya perikanan. Hasil nilai rata-rata pembudidaya perikanan yang tergabung di dalam komunitas perikanan budidaya di media sosial facebook lebih tinggi dibandingkan dengan pembudidaya yang tidak menggunakan media sosial facebook. Aspek ekonomi juga menunjukkan  komunitas perikanan budidaya di media sosial facebook berpengaruh signifikan (t hitung -3,775 dan sig 0,000) terhadap peningkatan ekonomi pembudidaya perikanan. Hasil nilai rata-rata pembudidaya perikanan yang tergabung di dalam komunitas budidaya perikanan di media sosial facebook lebih tinggi dibandingkan dengan pembudidaya yang tidak menggunakan media sosial facebook. According to Wijaya (2012), among total number of social media users in Indonesia, 87% of them are users of social media facebook. Facebook users according Puskakom UI (2015), of all users of social media facebook, 26% of them are working as self-employment, and 68% of them entrepreneur are in the field of trade, services, and agro-industries such as fisheries. Facebook were selected by fish farmers since it is very easy to use, extensive network, and also there is a group of services that make it easier for fish farmers to can interact based on similarities such as the cultivation of commodities and regions. The objective of this study was to determine the effect of aquaculture community on facebook towards farmers knowledge and economic improvement. This research used quantitative approach where data were collected using questionnaire distribution. The sampling technique used were random sampling, and used 60 samples of fish farmers in Central Java. The data obtained were then tested using the test statistic Independent t-test using SPSS v.20. The results showed that the aquaculture community in social media facebook have a significant effect (t -7.424 and sig 0.000) to increase knowledge of the fish farmers. The results of the average value of the aquacultere farmers who joined in the aquaculture community on facebook  were higher than farmers who do not use facebook. The economic aspect also shows the aquaculture community on facebook have a significant effect (t -3.775 and sig .000) towards the economic improvement of fish farmers. The results of the average value of the fishery farmers who are members in the community aquaculture on  facebook higher than farmers who do not use facebook.
PENGARUH PEMBERIAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN GURAME var Bastard (Osphronemus gouramy Lac, 1801) Fitriadi, Mohamad Warham; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.899 KB)

Abstract

Peningkatan produksi gurame dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan rGH. Penggunaan rGH pada ikan diduga sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan ikan budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pemberian rGH melalui metode oral dengan interval waktu yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan larva ikan gurame. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Muntilan, Magelang, pada bulan Semptember-November 2013.  Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan gurame umur 10 hari setelah habis kuning telur.  Pemeliharaan dilakukan selama 63 hari. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan untuk masing-masing perlakuan. Perlakuan pertama (A) adalah larva ikan gurame diberi rGH setiap 3 hari, Perlakuan kedua (B) adalah larva ikan gurame diberi rGH setiap 4 hari,  Perlakuan ketiga (C) adalah larva ikan gurame diberi rGH setiap 5 hari, dan perlakuan keempat (D) yaitu tanpa pemberian rGH. Variabel yang diukur meliputi kelulushidupan (SR), Spesific Growth Rate (SGR) bobot, panjang mutlak, rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air.   Nilai kelulushidupan (SR) pada perlakuan A 83,67±1,53, B 82,67±0,58, C82,67±1,53 ,dan D 69,00±1,00; Panjang mutlak pada perlakuan A 3,24±0,02, B 2,93±0,01, C 2,58±0,01, C 2,22±0,01; SGR bobot pada perlakuan A 5,700±0,010, B5,513±0,009, C 5,219±0,012, D 4,966±0,007; dan FCR perlakuan A 0,769±0,016, B 0,829±0,008, C 0,967±0,031, D 1,083±0,028. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian rGH melalui metode oral sangat efektif untuk digunakan pada larva ikan gurame, dan  pemberian rGH dengan interval waktu 3 hari menghasilkan laju pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik pada larva ikan gurame.   The increased production of giant gouramy can be improve to accelerate the achievement of giant gouramy production. This can be done by an rGH in the diet. The use of rGH in the diet was alleged as an alternative methods to improve the growth of giant gouramy aquaculture. The purpose of this research was to determine the effectiveness of oral administration of rGH through application of rGH diet at different time intervals with regane to survival and growth of giant gouramy larvae.  This research was conducted in the Central Seed Freshwater Aquaculture (BPBIAT) Muntilan, Magelang, on september-november 2013.  The fish sample used are giant gouramy larvae age 10 days after the expiration of the yolk.  Maintenance performe during 63 days.  This study uses 4 treatments and 3 replicates for each treatment.  The first treatment (A), giant gouramy larvae was given rGH every 3 days, the second treatment (B), giant gouramy larvae was given rGH every 4 days, the third treatment (C), giant gouramy larvae was given rGH every 5 days, and the fourth treatment (D) was without rGH. The variables measured include survival rate (SR), spesific growth rate (SGR) weight, ansolute growth, food conversion ratio (FCR), and water quality.  Survival value (SR) in the treatment of  A 83.67 ± 1.53  B 82.67 ± 0.58, C 82, 67 ± 1.53, and D 69.00 ± 1.00;  absolute growth treatment A 3.24 ± 0.02, B 2.93 ± 0.01, C 2.58 ± 0.01, and D 2.22 ± 0.01; SGR weight on treatment A 5,700 ± 0,010, B 5, 513 ± 0.009, C 5.219 ± 0.012, and D 4.966 ± 0.007, and  FCR treatment A 0.769 ± 0.016,  B 0.829 ± 0.008, C 0.967 ± 0.031, and  D 1.083 ± 0.028.  Based on these results it can be concluded that rGH administration via oral method very effective to be application in giant gouramy larvae, and rGH administration at 3 days intervals resulted in the best growth rate and survival rate of the giant gouramy larvae.

Page 11 of 31 | Total Record : 305