cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGARUH KONSENTRASI KONSORSIUM BAKTERI K7, K8 DAN K9 TERHADAP STATUS KESEHATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) Raharja, Edward; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.38 KB)

Abstract

E. cottonii berperan sebagai penyumbang utama produksi perikanan. Salah satu faktor penghambat produksi adalah penyakit ice-ice. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri patogen terhadap thallus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis rumput laut (E. cottonii) yang terinfeksi konsorsium bakteri dan Mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi bakteri penyebab timbulnya penyakit ice-ice pada rumput laut (E. cottonii). Metode pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya dengan konsorsium bakteri K7,K8 dan K9 yang sama dan konsentrasi yang berbeda yaitu A (106 CFU/ml), B (107 CFU/ml), C (108 CFU/ml), dan D (tanpa inokulasi/kontrol).  E. cottonii bobot 1-1,5 gram dan panjang  5 cm dipelihara dalam botol kaca yang diisi air laut steril 200 ml selama 9 hari. Kondisi suhu 28°C, salinitas 30 ‰, dan pH 7. Pemeliharaan menggunakan shaker kecepatan 100 rpm. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi konsorsium K7, K8 dan K9 yang berbeda berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap nilai pertumbuhan mutlak E. cottonii. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah munculnya spot putih yang kemudian akan bertambah panjang dan mengakibatkan thallus patah. Bakteri konsorsium yang menyebabkan gejala klinis tersebut adalah Corynebacterium sp., Baccilus sp., dan Alteromonas sp.. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsorsium bakteri K7, K8 dan K9 dengan konsentrasi 106 CFU/ml sudah mampu menimbulkan gejala klinis terhadap rumput laut uji. E. cottonii is one of a major contributor to the fisheries production. One of the inhibiting production factor is due to ice-ice disease. It is caused by several bacterial pathogens against seaweed thallus. The purposes of this research were to discover the clinical signs of seaweed (E. cottonii) that infected by bacterial consortium and the effect of the concentration levels of disease-causing bacteria ice-ice on seaweed (E. cottonii). The method in this study using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Treatments were exposure of bacterial consortium K7, K8 and K9 at different concentrations namely A (106 CFU / ml), B (107 CFU / ml), C (108 CFU / ml), and D (without inoculation / control) to E. cottonii at 1-1,5 gram and 5 cm long was preserved in a glass jar filled with 200 ml of sterile sea water for 9 days. Bioecological condition was kept at 28 ° C, salinity 30 ‰, and pH 7 by using shaker at 100 rpm. The results showed that concentrations of a consortium of K7, K8 and K9 significantly different (P <0.05) to the absolute growth of E. cottonii. Clinical signs were ebserved by the appearance of white spots at the edge of thallus and spread up to along the thallus and end up with the broken thallus. Consortium of bacteria that cause the clinical signs were Corynebacterium sp., Baccilus sp., And Alteromonas sp.. Based on the results above it can be concluded that the bacterial consortium K7, K8 and K9 with a concentration of 106 CFU / ml are already capable of causing the clinical sign of ice-ice to seaweed experimental.
KARAKTERISASI BAKTERI DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG TERSERANG PENYAKIT “MATA BELO” Latifah, Anisa Dwiaryani; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.198 KB)

Abstract

Mata belo adalah salah satu penyakit yang menyerang budidaya ikan gurami. Penelitian ini bertujuan mengetahui gejala klinis dan karakterisasi bakteri serta gambaran histopatologi ginjal, hati dan mata pada ikan gurami yang terserang penyakit “mata belo”. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksploratif, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Ikan gurami yang digunakan untuk isolasi dan histopatologi berukuran 16,8±3,4 cm sebanyak 7 ekor. Organ yang diisolasi yaitu ginjal, hati, mata, geripis dan luka. Isolasi bakteri menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA) dan Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolat dipilih dengan melakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk uji reinfeksi. Ikan gurami yang digunakan sebagai ikan uji untuk uji reinfeksi berukuran 7 – 9  cm sebanyak 10 ekor per akuarium. Penyuntikan dilakukan dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dan dosis 0,1 mL. Identifikasi bakteri dengan uji biokimia dan morfologi bakteri. Organ yang diamati saat uji histopatologi yaitu ginjal, hati dan mata. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis seperti exopthalmia, ekor geripis, luka pada tubuh dan hemorrhagic pada insang. Hasil isolasi didapatkan 28 isolat bakteri. Seleksi berdasar morfologi koloni bakteri didapatkan 7 isolat bakteri (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 dan NG14) untuk uji reinfeksi. Hasil uji reinfeksi menunjukkan bahwa 7 isolat bakteri mengakibatkan tingkat kematian ikan uji yang beragam yaitu 96,67%; 80,00%; 63,33%; 60,00%; 53,33%; 50,00%; 46,67%. Bakteri yang menyebabkan penyakit “mata belo” adalah bakteri Aeromonas hydrophila, sedangkan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit “mata belo” adalah Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris dan Bacillus mycoides. Hasil pengamatan histopatologi ditemukan kelainan yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi pada ginjal, kongesti, melanomakrofag dan degenerasi pada hati serta nekrosis pada mata. Mata belo is one of the fish diseases that infect the culture of gouramy. The aim of this study to determine the clinical sign of the disease and to know histopathology characterization of kidney, liver and eye. The method in this research used sampling method with purposive sampling method. The gouramy samples to used isolation and histopathology have length 16.8±3.4 cm. Isolation of bacteria using media Tryptic Soy Agar (TSA) and Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolated organs are kidneys, liver, eye, and wound. Isolates selected based on colony morphology for reinfection test. Gouramy samples for reinfection test have length 7 – 9 cm. The density of injection 108 CFU bacteria/mL with dose 0.1 mL. Identification of bacteria based from biochemical and morphological criteria. Histopathology organs were kidneys, liver and eye. The results of the clinical sign was a exopthalmia and hemorrhagic in the gills. Results obtained 28 isolates of bacterial isolation. The isolat was selected 7 isolates (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 and NG14) to reinfection test. The test results showed that mortality in 7 isolates were 96.67%; 80.00%; 63.33%; 60.00%; 53.33%; 50.00%; 46.67%. The bacteria was caused on “mata belo” is Aeromonas hydrophila, while the bacteria was associated on “mata belo” are Aeromonas hydrophila, Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris and Bacillus mycoides. Histopathology results were congestion, necrosis and degeneration of the kidneys, while in the liver was congested, melanomacrofag, degeneration and necrosis at the eye.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Kurniawan, Andri; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.935 KB)

Abstract

Pengembangan dan penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi budidaya ikan bawal air tawar berkaitan dengan upaya peningkatan pertumbuhan telah banyak dilakukan, namun upaya tersebut masih memiliki kekurangan diantaranya metode yang kurang aplikatif dan tidak sesuai dengan isu keamanan pangan. Penggunaan protein rekombinan hormon pertumbuhan (rGH) ikan adalah salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rGH melalui metode oral dengan interval waktu berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) serta mengetahui interval wantu pemberian rGH terbaik. Penelitian dilaksanakan di Laboraturium Departemen Akuakultur Universitas Diponegoro, Semarang,  Jawa Tengah pada bulan  Januari-Maret 2017. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) dengan bobot rata-rata 2,67±0,05 g dan panjang 5,61±0,01 cm. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan yaitu, pemberian rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan dengan interval waktu yang berbeda: A (tanpa rGH), B (3 hari sekali), C (4 hari sekali), D (5 hari sekali). Variabel yang diukur meliputi: Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Pertumbuhan Panjang Mutlak, Pertumbuhan Bobot Mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR), Kelulushidupan, dan Kualitas Air. Penelitian berlangsung selama 45 hari. Nilai JKP pada perlakuan A 194,65±12,05 g; B 197,57±5,88 g; C 197,55±5,89 g; D 198,99±4,47 g; FCR pada perlakuan A 1,34±0,07; B 1,12±0,02; C 1,20±0,05 g; D 1,26±0,02 g; Pertumbuhan Panjang Mutlak pada perlakuan A 2,41±0,04 cm; B 2,99±0,16 cm; C 2,80±0,24 cm; D 2,55±0,12 cm;  Pertumbuhan Bobot Mutlak perlakuan A 7,55±0,54 g; B 8,84±0,25 g; C 8,41±0,10 g; D 8,00±0,10 g;  SGR perlakuan A 2,83±0,15 % bobot/hari; B 3,15±0,12 % bobot/hari, C 3,06±0,07 % bobot/hari; D 2,96±0,06 % bobot/hari  dan SR pada perlakuan A 93,33±7,64 %; B 98,33±2,89 %; C 96,67±5,77 %; D 96,67±2,89 %. Hasil yang didapatkan menunjukkan pemberian rGH melalui metode oral sangat efektif untuk digunakan pada benih ikan bawal air tawar, dan pemberian rGH dengan interval waktu 3 hari menghasilkan laju pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. The development and application of technology to improve the efficiency of tambaqui fish cultivation in relation to efforts growth increase has been done, but these efforts still have shortcomings among the methods that are less applicable and not in accordance with food safety issues. The application of recombinant growth hormone (rGH) is one of the alternatives that can be done to solve the problem. This research aims to determine the influence of recombinant growth hormon (rGH) by oral administration methods with different time intervals on the growth and survival of C. macropomum fry as well as examining the best dosage of rGH. The experiment was conducted at the Department of Aquaculture Diponegoro University Laboratory, Semarang, Central Java, in January – March 2017. Fish samples used are the fry of C. macropomum with an average weight of 2,67±0,05 g and length of 5,61±0,01 cm. This reaserch used experimental method with completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 3 time repetitions. The treatments is administration of rGH 2 mg/kg of feed with different time intervals: A (without rGH), B (once for three days), C (once for four days), D (once for five days). The variables measured include total consumtion feed, feed conversion ratio (FCR), absolute length growth, absolute weight growth, spesific growth rate (SGR), survival, and water quality. The experiment lasted for 45 days. Total consumtion feed value on treatment A 194,65±12,05 g; B 197,57±5,88 g; C 197,55±5,89 g; D 198,99±4,47 g; FCR value on treatment A 1,34±0,07; B 1,12±0,02; C 1,20±0,05 g; D 1,26±0,02 g; absolute growth length on treatment A 2,41±0,04 cm; B 2,99±0,16 cm; C 2,80±0,24 cm; D 2,55±0,12 cm;  absolute growth weight on treatment A 7,55±0,54 g; B 8,84±0,25 g; C 8,41±0,10 g; D 8,00±0,10 g;  SGR on treatment A 2,83±0,15 %weight/day; B 3,15±0,12 % weight/day, C 3,06±0,07 %weight/day; D 2,96±0,06 % weight/day and survival rate on treatment A 93,33±7,64 %; B 98,33±2,89 %; C 96,67±5,77 %; D 96,67±2,89 %. The results obtained show that rGH administration via oral method very effective to be application in tambaqui fish fry, and rGH administration at 3 days intervals resulted in the best growth rate and survival rate. 
ANALISA GENETIC GAIN ANAKAN IKAN NILA PANDU (Oreochromis niloticus) F5 HASIL PEMBESARAN I Ayu, Nurin Dalilah; Hastuti, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.315 KB)

Abstract

Budidaya ikan nila (O. niloticus) di Indonesia berkembang cukup pesat. Hal tersebut didukung oleh peluang pasar cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor. Teknik budidaya ikan nila dinilai cukup mudah. Berkembangnya budidaya ikan nila didukung pula oleh pemeliharaan dan pemijahan yang mudah, yang kemudian mutu produksi semakin tidak terkontol. Upaya mengatasi masalah tersebut adalah adanya perbaikan mutu induk yaitu dengan perbaikan genetik calon induk salah satunya dengan seleksi breeding. Target dilakukannya seleksi untuk menghasilkan produksi biomasa tinggi sebagai ikan konsumsi. Tolak ukur keberhasilan kegiatan seleksi dapat dilihat dari nilai genetic gain. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai genetic gain dan membandingkan pertumbuhan antara anakan nila top 10% dan anakan nila rataan. Anakan top 10% merupakan hasil seleksi ikan dengan karakteristik 10% terbaik dari populasi. Anakan rataan merupakan ikan dengan karakteristik rata-rata pada populasi atau tanpa melalui seleksi individu disebut juga kontrol. Penelitian ini dilaksanakan pada April-Juni 2012 di Satker PBIAT Janti, Klaten. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 3 kali ulangan, perlakuan tersebut adalah ikan nila pandu top 10% dan ikan nila pandu rataan. Kultivan uji berumur D90 dengan  panjang 11-13cm, dengan kisaran bobot 24.84-45.72g. Kultivan dipelihara hingga D150. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Data yang diambil meliputi kelulushidupan, pertumbuhan panjang dan bobot, FCR, SGR, genetic gain serta data kualitas air sebagai data penunjang. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa karakteristik pertumbuhan ikan nila pandu F5 top 10% lebih baik dibanding ikan nila pandu F5 rataan. Rerata genetic gain bobot dan panjang pada sampling D90 adalah 84.04% dan 17.92%, D120 (♂) : 88.51% ,22.39% dan , D120 (♀) : 86.00% dan 20.51%, D150 (♂): 95.77 % dan  26.28%, D150 (♀): 90.83% dan 24.15%. Rerata genetic gain SGR pada D120 2.76% dan D150 (♂,♀) adalah 7.71% dan 6.29%. Rerata genetic gain FCR D120, D150 adalah 4.42%, 2.93% dan rerata genetic gain SR adalah 3.89%.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus [L] skeels) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOPATOLOGI GINJAL IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Cahyaningrum, Ditha; Sarjito, -; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.751 KB)

Abstract

Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) adalah salah satu komoditas ikan air tawar ekonomis penting. Pengembangan budidaya melalui sistem intensifikasi dapat memperbesar peluang terjangkitnya penyakit bakteri. Salah satu penyakit bakteri yang menyerang yaitu Aeromonas hydrophila. Penggunaan antibiotik untuk mengobati ikan dapat meningkatkan resistensi, sehingga diperlukan obat alternatif untuk mengobati dari daun ceremai (Phyllanthus acidus[L] skeels) yang mengandung flavonoid, tanin dan saponin sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dan dosis terbaik ekstrak daun ceremai terhadap kelulushidupan serta histopatologi ikan patin yang di infeksi bakteri A. Hydrophila. Ikan uji di injeksi bakteri A. Hydrophila sebanyak 0,1mL dengan konsentrasi 107 CFU/mL secara intramuskular. Setelah menunjukkan gejala klinis berupa peradangan yang kemudian menjadi luka (ulcer) di bekas suntikan dan haemorage pada sirip dubur, ikan patin direndam dalam ekstrak daun ceremai selama 15 menit. Hasil pengamatan diperoleh nilai kelulushidupan tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 60%, diikuti oleh perlakuan D sebesar 43,33%, perlakuan B sebesar 6,67%  dan pada perlakuan A sebesar 3,33%. Penggunaan ekstrak daun ceremai terbukti berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin yang di infeksi bakteri A. hydrophila. Pada pengamatan  histopatologi diperoleh adanya kelainan pada organ ginjal seperti adanya nekrosis, degenerasi vakuola dan kongesti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ceremai mampu  menyembuhkan  ikan patin yang di infeksi bakteri A. hydrophila, dimana dosis terbaik terdapat pada perlakuan C (1500 ppm) dengan nilai kelulushidupan tertinggi sebesar 60%. Catfish (Pangasius hypophthalmus) is one of freshwater fish commodity that has economic value. Intensification system can increase of chances contracting bacterial disease. One of bacterial disease that formed by Aeromonas hydrophila. Utilization of antibiotics for treat a fish againts to increase resistance, necessitating alternative medicine to treat it from ceremai leaf (Phyllanthus acidus [L] Skeels) that containing flavonoids, tannins and saponins as a antibacterial. The purpose of this study is to determine the effect of immersion and the best dose of ceremai leaf extract againts survival and histopathological of catfish that in A. hydrophila bacterial infections. Fish injection test in bacteria A. hydrophila as 0,1mL with concentration 107 CFU / mL intramuscularly. After was showed clinical symptoms inflammation that become wound (ulcer) at the injection site and haemorage in anal fin, than all of catfishis had immersion session with is ceremai leaf extract for 15 minutes. The Observations showed that the highest survival rate is in treatment C at 60%, followed by treatment D 43.33%, amounting to 6.67% B treatment and the treatment A of 3.33%. The utilization of ceremai leaf extracts proved significantly effect (P<0,05) on the survival of catfish infected bacteria A. hydrophila. From histopathological observations acquired abnormalities in internal organs such as necrosis, degeneration vacuoles, congestion. In kidney the results showed that ceremai leaf extract is able to heal catfish that was infected by A. hydrophila, and had best dose in treatment C (1500 ppm) with the highest survival rate of 60%.
PENGARUH PROTEIN DAN ENERGI YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Putranti, Gita Paramadina; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.535 KB)

Abstract

Ikan  mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan tawar yang bernilai ekonomis penting, ikan ini tergolong ikan omnivora. Protein merupakan kunci yang diperlukan untuk pertumbuhan ikan mas. Pemberian protein yang cukup dalam pakan perlu dilakukan agar pakan tersebut dapat diubah menjadi protein tubuh secara efisien. Kadar protein dan rasio protein terhadap energi pakan harus sesuai dengan kebutuhan ikan agar pakan buatan dapat efisien dan memberikan pertumbuhan yang optimal.Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas dengan bobot rata-rata 1,38±0,11 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (kadar protein 27%), B (kadar protein 30%), C (kadar protein 33%) dan D (kadar protein 36%) dengan nilai E/P setiap perlakuan sebesar 9 kkal/g protein. Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), protein efficiency ratio (PER), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), tingkat konsumsi pakan (TKP), kelulushidupan (SR), dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kadar protein dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap RGR, PER dan EPP namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR dan TKP. Persentase optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan ikan mas yaitu pakan buatan dengan kadar protein 30% pada pakan buatan mampu menghasilkan 1,87% untuk RGR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan mas. Carp (Cyprinus carpio) is one of fresh water fish which have an important economics value, carp is an omnivora. Protein is the key which is needed for growth. Protein enough in fish feed can changed to be body protein eficiently. The stadia and size of fish determined the amount of dietary protein and energy required in diets.The fish samples which were used in this experiment are the seed of the carp which had average of weight, 1.38 ± 0.11 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1. The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (27% of protein), B (30% of protein), C (33% of protein), and D (36% of protein)with value of E/P is 9 kkal/g protein each treatment. The data observed were relative growth rate (RGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), feed consumption rate (FCR), survival rate (SR), and water quality.The results showed that the different of protein was significantly (P <0.05) of the RGR, PER and EPP but not significantly different (P> 0.05) to FCR and SR. Optimal percentage that can increase the growth of channel catfish the optimal is 30% of protein in the feed is able to produce 1.87% for RGR. Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for  farming carp.
PENGARUH JUS NANAS DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP DERAJAT PEMBUAHAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN (Pangasius pangasius) Larasati, Stya; Basuki, Fajar; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.951 KB)

Abstract

Ikan patin (Pangasius pangasius) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala dalam budidaya ikan patin ini adalah proses pemijahan, salah satunya adalah rendahnya derajat penetasan telur. Hal ini disebabkan telur ikan patin mempunyai daya rekat yang menyebabkan telur menggumpal. Sifat adhesive pada telur disebabkan karena adanya lapisan glukoprotein atau senyawa gula dan protein yang terdapat pada permukaan telur. Upaya untuk menghilangkan daya rekat pada telur ikan patin salah satunya adalah dengan pemberian jus nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus nanas pada telur ikan patin dengan konsentrasi berbeda terhadap derajat pembuahan dan penetasan telur ikan patin (P. Pangasius). Penelitian ini dilaksanakan di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar  (PBIAT) Ngrajek, Magelang pada bulan Januari - Maret 2017. Ikan uji yang digunakan adalah telur ikan patin yang berasal dari pemijahan sepasang induk jantan dan betina dengan bobot 1,8 kg – 2,5 kg. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan yakni perlakuan A (tanpa jus nanas), perlakuan B (1 % jus nanas), perlakuan C (2 % jus nanas) dan perlakuan D (3% nanas). Variabel yang diukur meliputi tingkat pembuahan telur (FR), tingkat penetasan telur (HR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian jus nanas pada telur ikan patin berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap kelulushidupan dan tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap tingkat pembuahan dan tingkat penetasan. Perlakuan B menunjukkan hasil terbaik terhadap tingkat pembuahan 83,15 % ± 6,61, tingkat penetasan 70,95% ± 6,40 dan kelulushidupan 63,54 % ± 1,36. Catfish ( pangasius pangasius )  is a commodities that have high economic value.The problem faced on catfish the process of spawning .one of them is the low degrees of  hatching rate .because catfish eggs has an  adhesive power that causes eggs clot . Of the nature of adhesive on eggs caused as a result of the layers of glukoprotein or compound sugar and proteins on the surface of the egg. One of the efforts to deprive  adhesive power of  egg catfish is giving a  pineapples juice .The purpose of this study is to understand  of the influence of the provision from pineapples juice to egg catfish by the different concentration against degrees fertilization and hatching rate eggs catfish ( P .Pangasius ) . The research conducted in working unit spawning and cultivation of fish freshwater ( PBIAT ) Ngrajek , Magelang from january to march 2017 .Fish test used is catfish eggs  derived from spawning a pair of broodstoke male and female with weights 1.8 kg - 2.5 kg . This reaserch used experimental method with completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 3 time repetitions. The treatment A ( without pineapples juice ) , treatment B( 1 %  pineapples juice ) , treatment C ( 2 % pineapples juice) and treatment D (3 % pineapples juice) .Variable measured covering level fertilization rate (FR), hatching rate ( HR ) , survival rate ( SR ) and water quality .This research result indicates that the the juice of pineapples to the catfish eggs significantly( P< 0.05) of survival rate and not significantly ( P> 0.05 ) on the fertilization degrees and hatching degrees .Treatment B results showed best on the fertilization rate 83,15 % ± 6,61 ,hatching rate 70,95 % ± 6.40 and survival rate 63,54 % ± 1.36 .
PENGARUH EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP TINGKAT PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Aniputri, Fadityas Desi; Hutabarat, Johannes; Subandiyono, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.605 KB)

Abstract

Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan nila (O.  niloticus) adalah penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan dikenal sebagai penyakit bercak merah. Bahan alami seperti ekstrak bawang putih dapat digunakan sebagai alternatif untuk menghambat aktifitas bakteri A. hydrophilla. Zat aktif dalam ekstrak bawang putih (Allium sativum) yaitu Allicin yang berpotensi sebagai antibakteri.  Secara in vitro, ekstrak bawang putih  berpotensi sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophilla.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ekstrak bawang putih dalam pakan ikan terhadap tingkat pencegahan infeksi A. hydrophila serta nilai kelulushidupan ikan nila. Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan, yaitu penambahan ekstrak bawang putih pada perlakuan A (0%), B (2,5%), dan C (5%). Pemberian pakan uji dilakukan selama 35 hari kemudian dilakukan pengamatan setelah uji tantang selama 10 hari.  Uji tantang dilakukan dengan menyuntikkan bakteri  A. hydrophila (108 cfu/ml) secara intramuskular sebanyak 0,1 mL.  Konsentrasi ekstrak bawang putih sebesar 45% merupakan konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan A. hydrophila pada uji in vitro. Pada uji in vivo, ekstrak bawang putih menunjukkan hasil yang berbeda terhadap kelulushidupan, gejala klinis dan penyembuhan luka, serta pertumbuhan. Dosis terbaik yang didapat untuk penambahan ekstrak bawang putih pada pakan ikan yaitu sebesar 2,5% untuk tingkat pencegahan dan nilai kelulushidupan pada ikan nila.  Berdasarkan pada hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih dapat dipergunakan untuk pencegahan infeksi bakteri  A. hydrophilla dan meningkatkan nilai kelulushidupan ikan nila. One of the diseases that often attack Tilapia (O. niloticus) is MAS (Motile Aeromonas Septicemia) caused by Aeromonas hydrophilla and known as red spot disease.  Natural ingredients such as garlic extract can be used as an alternative to inhibit bacterial activity of A. hydrophilla.  The active substances in the garlic extract (Allium sativum) is allicin which was potentially as an antibacterial.  Sased on in vitro assays, the garlic extract showed potentiallty to inhibite the growth of A. hydrophilla.  The purpose of this research was to examine the influence of garlic extract in fiets to the prevention  bacteria infection of A. hydrophila and survival rate of  tilapia.  This research used three treatments, there were A (0%), B (2,5%), and C (5%) of additional garlic extract.  The feeds sample is given throughout 35 days and then carried out obeservation after challenge test over 10 days.  The challenge test was done by injecting 0,1 mL A. hydrophilla (108 cfu/ml) intramuscularly.  The garlic extract concentration of 45% was an effective concetration to inhibit the growth of A. hydrophila in the in vitro assay.  In the in vivo assay, garlic extract showed different results on survival rate, clinical signs, wound healing, and growth.  The best dose of additional garlic extract in the diet was 2,5% for prevention and survival rate in Tilapia.  It was concluded that garlic extract can be used for prevention of A. hydrophilla and increase the survival rate of Tilapia.
PERFORMA EFISIENSI PAKAN PERTUMBUHAN DAN KUALITAS NUTRISI ELVER SIDAT (Anguilla bicolor) MELALUI PENGKAYAAN PAKAN BUATAN DENGAN MINYAK IKAN Perdana, Asditra Anabela; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.216 KB)

Abstract

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai potensi ekspor. Kendala dalam budidaya sidat adalah perumbuhanya yang lambat. Penambahan minyak ikan ke dalam pakan buatan diduga dapat mempercepat pertumbuhan sidat stadia elver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan minyak ikan dalam pakan buatan terhadap performa efisiensi pakan, pertumbuhan dan kualitas nutrisi elver sidat (A. bicolor). Ikan uji yang digunakan adalah ikan sidat dengan bobot rata-rata 9,25±0,3 g/ekor dan padat tebar 1 ekor/2l. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 08.00 dan 16.00. Ikan uji dipelihara dalam ember plastik volume 30 liter air selama 50 hari. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penambahan minyak ikan pada pakan buatan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap SGR, EPP dan PER, dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap FCR dan SR; dan Tidak ada dosis terbaik penambahan minyak ikan dalam setiap perlakuan, baik perlakuan A (dosis minyak ikan 0%), B (dosis minyak ikan 2%), C (dosis minyak ikan 4%) maupun D (dosis minyak ikan 6%). Kualitas air pada media pemeliharaan masih berada dalam kondisi yang layak untuk budidaya ikan sidat. Eel (Anguilla bicolor) is one types of fish that have potential as an export commodity. The problem of culture of eel is on the growth that very slow. However, added fish oil into artificial feed as a substance that can accelerate growth in stadia Elver eels. This study aims to determine the effect of fish oil in feed on performance of Elver eel feed efficiency, growth and nutritional quality Elver eels (A. bicolor). The eel weight of 9.25 ± 0.3 g / tail in avarage and initial density of 1tail/2L were cultivated in 30L conical plastic bucket with 20L in water volumes during 50 days. Feeding was do 2 times a day at 08:00 and 16:00. This research was conducted by an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study was the addition of fish oil in artificial feed ie: treatment A (dosage fish oil 0%), B (dosage fish oil 2%), C (dosage of fish oil 4%) and D (dosage of fish oil 6%). Data observed SGR, PER, FE, FCR, SR and water quality. The results showed that the addition of fish oil in artificial feed was no significant effect (P <0.01) on the SGR, FE and PER but no significant by effect (P> 0.05) on FCR and SR. There no best of dosage of 2% fish oil in the diet on SGR, PER, FE and FCR respectively. However, the water quality in the culture media was still in the proper conditions for the cultivation of eel.
PENGARUH PERSENTASE JUMLAH PAKAN BUATAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Qomariyah, Lailiyul; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.716 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu modal operasional yang besar dalam usaha budidaya kepiting bakau (S. paramamosain).  Pakan yang digunakan harus dapat berperan efisien, supaya dapat menekan biaya tanpa mengurangi tingkat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase pakan optimal terhadap perkembangan budidaya kepiting bakau (S. paramamosain). Penelitian ini menggunakan Metode Eksperimental yang dilakukan di lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan A (pakan 3% dari bobot biomassa pakan), B (pakan 5% dari bobot biomassa pakan), C (pakan 7% dari bobot biomassa pakan, D (pakan 9% dari bobot biomassa pakan). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan berat awal rata-rata 111,91±1,12 g/ekor. Pakan uji merupakan pakan buatan yang diperkaya dengan vitamin E dengan dosis 0,8 g/100 g  pakan, kandungan protein dalam pakan mencapai 35 %. Kepiting bakau (Scylla paramamosain) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 25 x 16 x 15 cm selama 56 hari. Hasil penelitian menunjukkan persentase pakan buatan  memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR, EPP, PER, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR kepiting bakau.  Persentase optimal yang dihasilkan dari pertumbuhan adalah 7,59%, sedangkan untuk efisieinsi pakan adalah 7,72%. Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla paramamosain) berkisar antara 66,67–100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah persentase pemberian pakan dengan jumlah berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi pakan, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. persentase pemberian pakan yang dapat diberikan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla paramamosain) adalah pakan dengan persentase 7% dari bobot biomassa. Feed is one of the major operating in cultivation of mud crab (S. paramamosain). Feed used must be able to act efficiently, in order to reduce costs without reducing the level of production. This research aims to determine the optimal effect of the feed percentage on the growth of mud crab aquaculture (S. paramamosain). This research was conducted using Experimental Methods with completely randomized design (CRD), those is 4 treatments and 3 replications. Treatment A (3% feeds of the weight biomass), B (5% feeds of weight biomass), C (7% feeds of weight biomass feed, D (9% feeds of weight biomass). Animal testing used was mud crab (S. paramamosain) with an average initial weight of 111.91 ± 1.12 g / individual. Feed testing is artificial feed enriched with vitamin E at a dose of 0.8 g/100 g of feed, protein content in the feed is 35%. Mud crab (S. paramamosain) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 25 x 16 x 15 cm during 56 day. The results shows the percentage of artificial feed gives significant effect (P <0.05) on RGR, EPP, PER, but not significantly (P> 0.05) on SR mangrove crabs. The optimal resulting percentage of growth was 7.59%, while for efisieinsi feed is 7.72%. The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%.The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. percentage of feeding that can be given on artificial feed for mud crab (S. paramamosain) is feed to the percentage of 7% of the weight of the biomass.