cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGARUH PAPAIN PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) Ananda, Tri; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.895 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu permasalah dalam budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Pakan yang digunakan oleh petani  mengandung protein yang tidak dapat diserap secara optimal oleh ikan patin sehingga salah satu solusi untuk mempermudah penyerapan protein dengan penambahan enzim papain. Papain merupakan enzim protease yang mampu menghidrolisis protein menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana sehingga dapat dicerna dan diserap dengan optimal oleh tubuh ikan patin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis optimal enzim papain  pada pakan buatan  terhadap pertumbuhan  ikan  patin(P. hypopthalmus). Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan papain dalam pakan buatan A (0%), B (0,75%), C (1,5%) dan D (2,25%). Hewan uji menggunakan ikan patin dengan bobot rata-rata 4,23±0,30 gram/ekor. Ikan patin dipelihara dalam akuarium ukuran 50x30x30cm3 dengan volume air 20 liter. Padat tebar 1 ekor/liter dilakuakan selama 42 hari. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari pada pukul 08.00, 13.00 dan 17.00 WIB secara at satiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain dalam pakan buatan  berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan. Rasio efisiensi protein berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin. Nilai optimal laju pertumbuhan spesifik ikan patin adalah 2,42%/ hari dengan dosis papain 1.16 %/100gram pakan. Pola hubungan berbentuk kuadratik dengan persamaan Y= -0.14696888x2 + 0.3409066x + 2.21965750 dengan R2=0,508. Nilai efisiensi pemanfaatan pakan optimal ikan patin adalah 55,4% dengan dosis papain 1,19%/100gram pakan. Pola hubungan berbentuk kuadratik dengan persamaan Y = -6.72741330x2 + 15.97306x + 45.88719250 dengan R2=0,817. Nilai rasio efisiensi protein pakan ikan patin yang dicapai adalah 1,76% dengan dosis papain 1,19 %/100gram pakan. Pola hubungan berbentuk kuadratik dengan persamaan Y= -0.2103643x2 + 0.500759x + 1.46454750 dengan R2=0,819. Selama penelitian nilai kualitas air baik pH dan suhu masih berada di kisaran optimum untuk pemeliharaan ikan patin.  Feed is one of the problems in catfish (P. hypophtalmus) culture. Feed used by farmers usuallly did not contain the enzyme papain. Therefore, the protein contained in the feed may not be optimally absorbed by the catfish. Papain is aprotease enzyme that is able to hydrolyz proteins into the elements that is more simple and can be optimally absorbed by the body of catfish.This research aims to know the effect and optimum doses of enzyme papain on artificial feed on the growth out of catfish (P. hypopthalmus). This research method was used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 raplications. The treatment were the addition of papain in artificial feed A (0%), B(0.75%), C (1.5%) dan D (2.25%). Animal trial used catfish with an average weight of 4,23±0,30 g. Catfish kept in the aquarium 50x30x30cm3 with a water volume of 20 liters of water. Stocking density 1 tail/liter conducted for 42 days. Frequency of feeding 3 times a day at 08.00, 13.00 and 17.00 were at satiation. The result showed  that the addition of papain enzyme in artificial diets was very significantly influenced  on the feed utilization efficiency (P<0.01). Protein eficiency ratio significantly influenced on the specific growth rate of fish (P<0.05),  but it had no significantly influenced on the survival of catfish ( P>0.05). Optimal value eficiency of feed utilization of catfish was 55,4% with a dose of papain 1.19 %/100gram. Pattern quadratic relationship was the equation Y = -6.72741330x2 + 15.97306x + 45.88719250 with R2=0.817. Optimal value of the protein efficiency ratio was 1.76% with a dose of papain 1.19 %. Pattern of relationship was the quadratic equation Y= -0.2103643x2 + 0.500759x + 1.46454750 with R2=0.819. Optimal value of the specific growth rate was 2.42%/day with a dose of  papain 1.16%/100gram. Pattern of relationship was the quadratic equation Y= -0.14696888x2 + 0.3409066x + 2.21965750 with R2=0.508. During the study the water quality of both pH value and the temperature were still in the optimum range for maintenance catfish.
PENGARUH KANDUNGAN PROTEIN PAKAN YANG BERBEDA DENGAN NILAI E/P 8,5 kkal/g TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Masitoh, Dewi; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.233 KB)

Abstract

Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Jenis dan umur ikan menentukan jumlah kebutuhan protein. Untuk mengetahui kebutuhan energi pada ikan, harus terlebih dahulu mengetahui tingkat kebutuhan protein optimal dalam pakan bagi petumbuhan. Nilai E/P bagi pertumbuhan optimal ikan bekisar antara 8-9 kkal/gram.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh kandungan protein pakan yang berbeda dengan nilai E/P 8,5 kkal/g terhadap pertumbuhan ikan mas (C. carpio).  Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan yang diterapkan adalah perlakuan A, B, C, dan D (27%; 30%; 33%; dan 36%). Hewan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot rerata 1,76±1,42 gram dengan padat penebaran 1 ekor/liter air yang ditampung dalam toples plastik ukuran 8 liter, dengan masa pemeliharaan selama 35 hari. Frekuensi pemberian pakan yaitu 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB. Metode pemberian pakan dalam penelitian ini dengan menggunakan at satiation.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein dalam pakan buatan dengan kadar yang berbeda pada tiap perlakuan, memberikan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi rasio pada ikan mas (C. carpio), sedangkan pada variabel tingkat konsumsi pakan dan kelulushidupan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada perlakuan B merupakan hasil terbaik yang menghasilkan nilai TKP (19,73±0,06 g), EPP (55,58±1,11%), PER (1,86±0,04%), RGR (2,94±0,10%/hari), dan SR (95,83±7,22%). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perbedaan kadar protein pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi rasio, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi pakan dan kelulushidupan ikan mas (C. carpio). Protein played an important role, weather for growth and producing energy. The stadia and size of fish determined the amount of dietary protein and energy required in diets. To determine the energy requirements on the fish, must first determine the level of need for optimal protein in feed for growth. Value DE/P for optimal growth of the fish ranged between 8-9 kcal/g.The aim of this research was to review the influence of various dietary protein level on the growth of carp (C. carpio). The experimental method used was completely randomized design (CRD), which consisted of 4 treatments and 3 replicates. The treatments applied was treatment A, B, C, and D, that were diet with protein level of 27, 30, 33, and 36%,  respectively. The trial fish used was carp (C. carpio) with the average body weight of 1.76±1.42 gram. The fish was maintenance in 8 l-plastic tanks for 35 days with its density of 1 fish/l. The fish were feed 3 times a day, at 08.00, 12.00, and 16.00, by applying at satiation method.   The data showed that various dietary protein resulted significantly different (P<0.05) on the relative growth rate (RGR), feed utilization efficiency (FUE), and protein efficiency ratio (PER); while for the feed consumption rate (FCR) and survival rate (SR) were not significantly different (P>0.05). Treatment B indicated the best result with FCR value (19.73±0.06 g), FUE (55.58±1.11%), PER (1.86±0.04%), RGR (2.94±0.10%/day), and SR (95.83±7.22%), respectively. It was concluded that the various dietary protein level affected significantly different on the relative growth rate, feed utilization efficiency, and protein efficiency ratio; but did not the feed consumption rate and survival rate values.
PEMANFAATAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) YANG DIFERMENTASI DALAM PAKAN BUATAN UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) Handayani, Tri; Susilowati, Titik; Subandiyono, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.91 KB)

Abstract

Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan salah satu bahan pakan alternatif sebagai sumber karbohidrat yang keberadaannya berlimpah di alam.  Lamtoro mengandung nutrisi yang cukup baik yaitu protein kasar sebesar 27,89%, lemak kasar sebesar 8,73%, serat kasar sebesar 19,13%, abu sebesar 11,33%, serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 33,12%. Serat kasar daun lamtoro sulit dicerna oleh ikan.  Upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui proses fermentasi. Melalui proses fermentasi diharapkan dapat menguraikan karbohidrat kompleks menjadi sederhana, sehingga meningkatkan kandungan nutrisi lamtoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun lamtoro yang telah di fermentasi ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas (Cyprinus carpio).  Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot individu rata-rata 2,30±0,02 g/ekor.  Pakan diberikan pada pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore secara at satiation. Wadah yang digunakan adalah bak dengan kapasitas 15 liter.  Ikan uji dipelihara selama 40 hari dengan padat tebar 1 ekor/l.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan A, B, C dan D dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0, 5, 10 dan 15%.  Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju perumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi daun lamtoro memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER dan RGR dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR. Perlakuan C memberikan nilai tertinggi pada TKP sebesar 69,03%, EPP sebesar 41,89%, PER sebesar 1,23% dan RGR sebesar 3,14%/hari.  Parameter kualitas air selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan mas (C. carpio).  Kesimpulan yang diperoleh yaitu pakan daun lamtoro hasil fermentasi dapat meningkatkan proses pertumbuhan ikan mas (C. carpio).Lamtoro (Leucaena leucocephala) was one of the alternative feed ingredients that could be used a as carbohydrate source which was available abundantly in the nature.  Lamtoro leaves contained valuable nutrients such as crude protein of 27,89%, crude lipid of 8,73%, crude fiber of 19,13%, ash of 11,33%, and nitrogen-free extract of 33,12%. Leucaenas crude fiber was difficult to be digested by fish.  The solution for that problem was by applying fermenting proccesses.  Through the fermenting processes reduce crude fiber composition improve lamtoro nutritive value. This experiment was to study the influence of leave lamtoro flour which has been fermented into practical diets on the growth of carp (Cyprinus carpio) seeds.  The trail fishes used were carp (C. carpio) seeds with the average body weight of 2,30±0,02 g/fish.  Feeding frequency applied was twice a day, i.e., at 08.00 a.m and 16.00 p.m, and by appliying at satiation method.  The container used was a tub with a capacity of 15 liters. The fishes were cultured for 40 days with the stocking density of 1 fish/l.  The experimental method used was completely randomize design (RCD) with 4 treatments and 3 replicates.  The treatment of A, B, C, and D were the trial diets with the prosentation of lamtoro leave flour of 0, 5, 10, and 15%.  The measured data included for of feed consumption rate, feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER) relative growth rate (RGR), survival rate (SR) and water quality parameters.  The data showed that the used of fermented lamtoro into the diets resulted on significantly effects (P<0,05) on the feed consumption rate, FE, PER on the highest biological indicators and RGR valuess, but not for SR value.  Treatment C resulted that feed consumption rate 69,03%, FE 40,62%, PER 1,23% and RGR 3,14%/day.  The water quality parameters during this study were varied for into suitable range the fish life.  It was can be concluded that fermenting lamtoro leaf feed increase the growth process of carp (C. carpio) seeds.
PATOGENISITAS Aeromonas hydrophila YANG DIISOLASI DARI LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG BERASAL DARI BOYOLALI Triyaningsih, -; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.127 KB)

Abstract

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah ikan yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Salah satu kendala dalam budidaya lele dumbo adalah serangan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemiae) yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas bakteri A. hydrophila dan pengaruhnya terhadap total leukosit lele dumbo. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu dan Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro pada bulan Mei - September 2013. Ikan uji yang digunakan adalah 180 ekor lele dumbo sehat ukuran 7 - 9 cm. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Konsentrasi bakteri yang digunakan adalah A, B, C, D, E, dan F berturut- turut 100 CFU/ml, 105 CFU/ml ¸106 CFU/ml 107 CFU/ml, 108 CFU/ml dan 109 CFU/ml Pengamatan gejala klinis dilakukan tiap 6 jam sekali selama 96 jam dan pengamatan total leukosit dilakukan tiap 24 jam sekali selama 6 hari. Hasil penelitian menunjukan gejala klinis lele dumbo yang diinfeksi A. hydrophila adalah penurunan respon terhadap pakan, berenang abnormal, luka dibagian tubuh. Berdasarkan perhitungan uji LD50 didapatkan dosis yang dapat mematikan 50% ikan uji dalam waktu 96 jam adalah bakteri A.hydrophila dengan konsentrasi 1,25x106 cfu/ml, untuk perhitungan rata-rata total leukosit tertinggi pada (F) 3,69x104 sel/mm3 yaitu sebesar dan terendah pada perlakuan (A) yaitu sebesar 1,86x104 sel/mm3. The Catfish (Clarias gariepinus) is popular fish among the people of Indonesia, especially in Java. One problems  in catfish culture is a disease from MAS (Motile Aeromonas Septicemiae) is caused  by Aeromonas hydrophila. The aims of this study was to determine the pathogenicity of bacteria A. hydrophila and effect on total leukocytes from catfish. This research was carried at the Integrated Laboratory and Aquaculture Laboratory, Marine And Fisheries Faculty, Diponegoro University of in May-September 2013. The fish sample was 180 catfish with sizes 7-9 cm. experimental method was applicated. The concentration of  A. hydrophila in treatment A, B, C, D, E, and F were 100 CFU/ml, 105 CFU/ml, 106 CFU/ml, 107 CFU/ml, 108 CFU/ml, and 109 CFU/ml rescpectively. Clinical sign pathogenicity tests were observed done every 6 hours for 96 hours whereas total leukocyte was observed every 24 hours for 6 days. The results showed that clinical sign of catfish infected by A. hydrophila was a decreased in response to feeding, abnormal swimming, injured parts of the body, skin peeling, damaged on the body and abdominal dropsy. Based A. hydrophila on this results of pathogenicity tests with that 96 hours 1,25x106 CFU/ml. the results also showed that highest average total leukocyte was treatment (F) 3.69 x104 cel/mm3 and the lowest was treatment (A) 1.86 x104 cel/mm3.
PENGARUH PENGKAYAAN BEKATUL DAN AMPAS TAHU DENGAN KOTORAN BURUNG PUYUH YANG DIFERMENTASI DENGAN EKSTRAK LIMBAH SAYUR TERHADAP BIOMASSA DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Syahendra, Falstiyan; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.932 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu yang difermentasi menggunakan ekstrak limbah sayur terhadap pertumbuhan produksi biomassa dan kandungan nutrisi cacing sutera serta mengetahui dosis kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu yang memberikan hasil terbaik terhadap produksi cacing sutera. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing- masing 3 kali ulangan. Perlakuan A (tanpa kotoran burung puyuh), B (kotoran burung puyuh 25g/L), C (kotoran burung puyuh 50g/L) dan D (Kotoran burung puyuh 75g/L). Kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu dimasukkan kedalam 12 wadah plastik dengan ukuran 30x21x7 cm. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 gram/wadah, dan dipelihara selama 40 hari. Data yang diamati meliputi pertumbuhan biomassa mutlak, populasi, kandungan nutrisi dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan nutrisi dengan kotoran burung puyuh berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Perlakuan C 50 g/L kotoran burung puyuh, 100 g/L bekatul dan 50 g/L ampas tahu memberikan nilai biomassa, populasi dan kandungan protein tertinggi yaitu biomassa sebesar 151,98±0,46 g/0,044m2, populasi sebesar 40.070,21 ± 250,82 individu/0,044m2 dan kandungan protein sebesar 65,17±0,35%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Secara umum, kandungan ammonia, DO, suhu, dan pH selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan cacing sutera. This research was aimed to determine the effect of the use of quail manure on a mixture of rice bran and tofu waste that fermented using waste vegetable extracts on the growth of biomass production and nutrient content of sludge worms and determined the dose of quail manure,rice bran and tofu waste that gives the best results to production of sludge worms. This research used the experimental method Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions each. Treatment A (without quail manure), B (quail manure 25g/L), C (quail manure 50g/L) and D (quail manure 75g/L). Quail manure, rice bran and tofu waste was added to 12 plastics containers with size 30x21x7 cm. The media is littered with sludge worms of 10 grams/container, and maintained for 40 days. The observed data covers absolute of biomass growth, population, nutrient and water quality. The results showed that the addition of quail manure highly significant (P <0.01) for the production of biomass, population and nutrition content of sludge worms (Tubifex sp.). C Treatment (quail manure 50g/L)  has the highest biomass, population and protein content value the biomass of 151.98±0.46 g/0.044m2, a population of 40070.21±250.82 individuals/0.044m2 and protein content of 65.17±0.35%. Based on the results of this research concluded that the addition of quail manure, rice bran and tofu waste can increase biomass production, population and nutrition content of sludge worms. In general, the content of ammonia, DO, temperature, and pH during the research are in the reasonable range for the life of the sludge worm.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C DENGAN DOSIS YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) Ambarwati, Ananti Trisno; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB)

Abstract

Peningkatan nilai nutrisi pakan buatan dapat dilakukan dengan penambahan vitamin C sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan serta mengetahui dosis terbaik vitamin C terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g), dan E (30 mg/100 g). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (Scylla sp) dengan bobot rata-rata 114,7±1,6 g/ekor. Kepiting bakau (Scylla sp) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 21 cm x 21 cm x 16 cm selama 56 hari dan pemberian pakan 5%/bobot biomassa/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Pertumbuhan bobot mutlak yang tertinggi dicapai oleh perlakuan D (18,90±5,60 g), efisiensi pemanfaatan pakan tertinggi pada perlakuan D (5,56±1,62%). Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp) berkisar antara 66,67–100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis vitamin C yang dapat ditambahkan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla sp) adalah 12 mg/100 g hingga 24 mg/100 g pakan. Improvement of nutrition value of artificial feed can be done with the addition of vitamin C that are expected to enhance the growth and survival rate of mud crab (Scylla sp). This study aims to determine the effect of vitamin C with different doses on artificial feed, and know the best dose of vitamin C on the growth and survival of mud crab (Scylla sp). This study used a completely randomized design  with 5 treatments and 3 replications. The treatment is the addition of vitamin C with different doses on artificial feed, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g) , and E (30 mg/100 g). The animal trials that used was mud crab (Scylla sp) with an average weight of 114.7±1.6 g/individual. Mud crab (Scylla sp) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 21 cm x 21 cm x 16 cm during 56 days of feeding 5% / biomass  weight/day. The results showed that the addition of vitamin C with different doses on artificial diets significantly (P <0.05) on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but not significantly different to the survival of mud crab (Scylla sp). The highest absolute weight growth achieved by treatment D (18.90 ± 5.60 g), the highest efficiency of feed utilization by treatment D (5,56±1,62%). The survival rate of mud crab (Scylla sp) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition of vitamin C with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. The dose of vitamin C can be added to artificial feed for mud crab (Scylla sp) is 12 mg/100 g to 24 mg/100 g of feed. 
PENGGUNAAN COPEPODA, Oithona sp. SEBAGAI SUBTITUSI Artemia Sp., TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) Lestari, Indah; Suminto, - -; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.839 KB)

Abstract

Penggunaan pakan alami Artemia impor dalam pembenihan udang yang meningkat membuat permintaan Artemia impor selalu tinggi. Perlu ada pengganti Artemia impor mengingat stok Artemia di alam terbatas dan untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi dan memanfaatkan sumberdaya pakan alami dari perairan Indonesia. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pemberian pakan berupa Oithona sp., sebagai subtitusi Artemia sp., terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva udang vaname (L. vannamei). Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva udang stadia M-3 dan padat tebar 50 ekor/L.. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (100% Instar I Artemia), B (50% Oithona dan 50% Instar I Artemia). Data yang diamati meliputi perkembangan larva, pertumbuhan larva, tingkat kelulushidupan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan alami 100% Instar I Artemia sp., dan menggunakan 50% Instar I Artemia sp. dan 50%   Oithona   sp. tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan panjang dan bobot, tetapi berbeda nyata(P>0,05) terhadap tingkat kelulushidupan pada larva udang vaname. Nilai tingkat kelulushidupan larva pada stadia PL-10 yang tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan A sebesar 82.6±1.67%,sedangkan untuk perlakukan B lebih rendah yaitu 77,6±1.14%. Disimpulkan bahwa pemeliharaan larva udang vaname (L. vannamei) dari stadia M-3 sampai PL-10 yang diberi pakan alami, 100% Artemia Instar I, dengan yang diberi pakan alami, 50% Artemia Instar I dan 50% Oithona sp., tidak terjadi perbedaan yang nyata pada bobot rata-rata individu larva,panjang rata-rata individu larva, dan rata-rata prosentase perkembangan stadia larva, tetapi berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan larva. The use of lives food Artemia import in shrimp hatcheries makes Artemia's import demand always high. There should be Artemia substitution imported, given that Artemia supplies are limited and depress higher production costs and utilize natural food sources from Indonesian waters. The purpose of this research activity is to know the difference of feeding of Oithona sp., As substitution of Artemia sp., To growth and survival rate of shrimp larvae (L. vannamei). Shrimp samples used in this study were M-3 stage with density of 50 individuals/L. The experimental method was applied in this study with Completely Randomized Design (CRD) with 2 treatments and 5 replicates. Those treatments were:  A (100% Instar I Artemia), B (50% Oithona and 50% Instar I Artemia) The observed data included the development of larvae, growth of larvae, survival rate and water quality. The results showed that the feeding of natural 100% Instar I Artemia sp., And using 50% Instar I Artemia sp. and 50% Oithona sp. was not significantly different (P <0.05) on growth in length and weight, but was significantly different (P>0.05) from the survival rate of Whitelag shrimp larvae. The highest survival rate of larvae at PL-10 stage with treatment A was 82.6 ± 1.67%, while for treatment B lower was 77.6 ± 1.14%.  Concluded that the maintenance of whitelag shrimp larvae (L. vannamei) from M-3 to PL-10 was use 100% Artemia Instar I, with use 50% Artemia Instar I and 50% Oithona sp. did not differ significantly on the average weight of the individual larvae, the average length of the individual larvae, and the mean percentage of stadia larvae, but differed significantly on the survival rate of the larvae.
ANALISA KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA PANDU (Oreochromis niloticus) PADA GENERASI 4 (F4) DAN GENERASI 5 (F5) Rizkiawan, Angga
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.476 KB)

Abstract

Ikan nila merupakan komoditas ikan air tawar ekonomis penting. Ikan nila relatif mudah dibudidayakan dan memiliki beberapa keunggulan antara lain laju pertumbuhannya cepat, toleransi tinggi terhadap lingkungan, dan tahan terhadap penyakit. Nila yang berkembang di masyarakat mengalami penurunan karakter fenotipe. Hal ini disebabkan antara lain kualitas induk awal, terjadinya silang dalam, jumlah induk yang terbatas, dan penanganan yang salah pada pembudidaya. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Upaya yang dilakukan salah satunya dengan menggunakan teknik seleksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan karakter reproduksi ikan nila pandu generasi 4 (F4) dan generasi 5 (F5) sehingga dapat diketahui adanya peningkatan performa karakter reproduksi dari generasi 4 ke generasi 5. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 April – 30 Juni 2012 di Satker PBIAT Janti, Klaten. Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah induk ikan nila pandu (O.niloticus) pada generasi 4 (F4) dan generasi 5 (F5). Media pemeliharaan induk yaitu berupa kolam pemberokan dan kolam pemijahan. Media penetasan telur dan pemeliharaan larva dilakukan dengan menggunakan corong penetasan di hatchery. Penelitian dilakukan dengan 2 perlakuan dan 30 ulangan. Perlakuan A (pemijahan dengan menggunakan induk F4) dan perlakuan B (pemijahan dengan menggunakan induk F5). Data karakter reproduksi meliputi fekunditas, hatching rate, bobot dan diameter telur, jumlah larva di mulut, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur serta analisis menggunakan perhitungan nilai heritabilitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan performa karakter reproduksi dari induk nila pandu F4 ke F5 dilihat dari meningkatnya hasil fekunditas, HR, berat dan diameter telur, berat dan panjang larva kuning telur, berat dan panjang larva lepas kuning telur serta jumlah larva dalam mulut. Hal ini didukung dengan hasil perhitungan nilai heritabilitas karakter reproduksi berkisar antara 0,37 – 0,81, nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi. Nilai heritabilitas di atas 0,3 termasuk kategori tinggi dan menyatakan bahwa pengaruh genetik tetua pada anakan cukup dominan. Kualitas air selama penelitian masih layak untuk kehidupan nila yaitu suhu 28-290C, pH 7,3-7,6, dan oksigen terlarut 4,4-4,6 mg/L.
PENGARUH Chlorella sp. DARI HASIL PENCUCIAN BIBIT SEL YANG BERBEDA DALAM FEEDING REGIMES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Budianto, Panji; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.717 KB)

Abstract

Salah satu kendala dalam budidaya kerapu macan adalah tingkat mortalitas yang tinggi pada fase larva.  Kematian larva diduga karena ukuran dan kandungan nutrisi pakan alami yang diberikan kurang sesuai dengan kebutuhan larva, serta adanya kontaminasi berupa bakteri dan mikroorganisme lain didalam pakan alami yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel yang berbeda dalam feeding regimes terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva  kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan mengetahui tingkat pencucian sel Chlorella sp. terbaik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan. Metode penelitian adalah eksperimental laboratoris menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan.  Perlakuan itu adalah pemberian Chlorella  sp. tanpa pencucian (A), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 1 kali (B), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 2 kali (C), dan pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 3 kali (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel kedalam feeding regimes tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang relatif, tetapi berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan. Nilai pertumbuhan panjang relatif pada masing-masing perlakuan adalah 21,48±0,20 %/hari pada perlakuan A,  21,36±0,21 %/hari pada perlakuan B, 21,52±0,24 %/hari pada perlakuan C, dan 21,54±0,20%/hari pada perlakuan D. Nilai terbaik pada variabel kelulushidupan larva kerapu macan ditunjukkan pada perlakuan D dengan tingkat kelulushidupan larva D10 mencapai 7,78±0,19%, dibandingkan pada perlakuan A sebesar 5,22±0,51%. One of the problems of brown-marbled grouper culture were high mortality rate in the larval stage.  The mortality of larval stage assumed due to the size and nutritional content of live food was given less suitable for larvae requirements, as well as the presence of contaminants such as bacteria and other microorganisms in live food. The aims of this research was to know the effect of Chlorella sp. of the results different cell washing seeds in to feeding regimes on the growth and survival rate of brown-marbled grouper  (E. fuscoguttatus) larvae and to determine the best effect of the level of cell washing Chlorella sp. on growth and survival rate. The experiment method was used in this research by completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates respectivaly.  Those treatment were the addition of Chlorella sp. without cells seed washing (A), addition of Chlorella sp. with one times washed (B), addition of Chlorella sp. with two times washed (C), and addition of Chlorella sp. with three times washed (D). The results of research on showed that addition of Chlorella sp. with washed treatment in feeding regimes had no significant effect on the growth of brown-marbled grouper, but the significantly effect on the survival rate.  The growth valeu of relative length in the treatments, respectively were 21.48 ± 0.20 %/day on treatment A, 21.36 ± 0.21 %/day in treatment B , 21.52 ± 0.24 %/day in treatment C, and 21.54 ± 0.20 %/day in the treatment variable D. However, the best result on the survival rate of brown-marbled grouper larvae shown in treatment D with D10 larval survival rate reached 7.78 ± 0.19%, compared to treatment A was 5.22 ± 0.51%.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA DALAM PAKAN YANG MENGANDUNG rGH TERHADAP RASIO JENIS KELAMIN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Huda, Rachmat Nurul; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.507 KB)

Abstract

Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) terus dikembangkan hingga saat ini. Berbagai teknologi dalam bidang perikanan telah diterapkan, salah satunya yaitu sex reversal dalam hal ini jantanisasi. Ikan nila jantan lebih cepat pertumbuhannya dari pada ikan nila betina sehingga dapat meningkatkan hasil produksi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung testis sapi dan dosis terbaik tepung testis sapi dalam pakan yang mengandung  rGH terhadap rasio jenis kelamin, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila. Bahan uji yang digunakan adalah larva ikan nila dengan stadia larva yang berumur 7 hari setelah lepas kuning telur dan memiliki bobot rata-rata 0,07 gram/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu dengan menambahkan tepung testis sapi dengan dosis pada perlakuan A (0%/kg pakan), perlakuan B (3%/kg pakan), perlakuan C (6%/kg pakan) dan, perlakuan D (9%/kg pakan). Pakan pada setiap perlakuan dalam penelitian ini telah ditambahkan rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan. Data yang diamati meliputi rasio jenis kelamin, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan tingkat kelulushidupan (SR) ikan nila. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan C (6% tepung testis sapi/kg pakan) memberikan hasil terbaik dimana nilai rasio jenis kelamin jantan sebesar 74,44±5,09% dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 9,48±0,10% bobot/hari. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu adanya pengaruh nyata terhadap rasio jenis kelamin dan tingkat pertumbuhan spesifik, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan nila dengan pemberian dosis tepung testis sapi terbaik adalah 6% tepung testis sapi/kg pakan. Tilapia fish (Oreochromis niloticus)cultivation still continue to be developed until nowdays. Many fisheries technology had been applied, and one of them is sex reversal which is masculinization. Male tilapia fish grows faster than the female one, so this can boost the produce of the fish. This research aims to know the effect of cow testicle flour addition and determine the best dosage on the fish feed which contains rGH towards the male-sex ratio, growth, and survival rate of tilapia fish. The material which used in this research was tilapia fish (O. niloticus) which under the larvae phase 7 days post the separated egg yolk which have average weight of 0,07 grams/each. This research used experimental methods with Completely Randomized Design of 4 treatments and 3 times of repetitions. The treatments in this research was addition of  different dosage of bull testicle which treatment A (0%/kg fish feed),treatment B (3%/kg fish feed), treatment C (6%/kg fish feed) and, treatment D (9%/kg fish feed). The fish feed in every treatment had been added with 2mg rGH/kg fish feed. Data observation  during this research were male-sex ratio, specific growth rate (SGR), and survival rate (SR) of tilapia fish. Results of the research showed that treatment C (6%/kg fish feed) gave the best result as male-sex ratio by 74,44±5,09% and specific growth rate by 9,48±0,10% weight/day. Conclusion obtained from this research was: there was different result  towards the male-sex ratio and specific growth rate, but there was no difference between the treatments towards the survival rate, the best bull testicle flour dosage was 6%/kg fish feed.