cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN MADU PADA PAKAN BUATAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA LAJU PERTUMBUHAN RELATIF, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) Islamiyah, Dini; Rachmawati, Diana; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.521 KB)

Abstract

Kualitas pakan yang baik selain dari kandungan protein, juga berasal dari kandungan mineral yang terdapat di dalamnya. Penambahan madu dalam pakan buatan mampu memberikan kadar mineral yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan. Madu mengandung mineral-mineral yang berfungsi untuk pembentukan sel, pengatur kadar air dalam tubuh dan mengandung antioksidan yang dapat berfungsi untuk ketahanan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan madu pada pakan buatan terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan kelulushidupan ikan bandeng (Chanos chanos). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bandeng (C. chanos) ukuran nener dengan rata-rata bobot awal sebesar 0.8 – 1.2g dengan jumlah padat tebar 25 ekor/wadah. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari pada pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB dan 17.00 WIB sebesar 5% dari bobot biomassa. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penambahan madu dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan, antara lain: A (0 ml/kg pakan); B (125 ml/kg pakan); C (250 ml/kg pakan) dan D (375 ml/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan madu pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak (W), laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan protein efesiensi rasio (PER) serta tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap Survival Rate (SR). Perlakuan D (375ml/kg pakan) merupakan perlakuan terbaik yang memberikan nilai tertinggi pada W (249,53±2,75g); RGR (24,55±0,17%/hari); EPP (47,36±0,50%), dan PER (1,81±0,08%). Kualitas air pada media pemeliharaan yang meliputi suhu, DO, pH, amonia dan salinitas tergolong pada kisaran yang sesuai untuk budidaya ikan bandeng (C. chanos). The quality of the feed is good aside from the content of protein as well as from mineral contained therein. Addition of honey in artificial fish feed could gave some minerals which needed for growing up. Honey contains minerals that served for the establishment of a regulator, cell water content in the body and contains antioxidants that could served for the resilience of the body. This research aims to know the effect of the addition of honey in the feeding -made against relative growth rate, efficiency of feed utilization and the survival rate of milkfish (Chanos chanos). The fish used in this research is the milkfish (C. chanos) in size with an average weight of 0.8 – 1.2 g to the amount of dense stocking 25-ind /cages. Frequency of feeding was done in 3 times a day at 7:00 PM GMT, 12:00 PM GMT and 17:00 PM GMT amounting to 5% of the weight of biomass. This research was conducted with the experimental method using random design complete (RAL), with the 4 treatments and repetition as much as 3 times. The treatments in this study is the addition of honey with different doses in artificial feed such as  A (0 ml/kg of feed); B (125 ml/kg of feed); C (250 ml/kg of feed) and D (375 ml/kg of feed). The results showed that the addition of honey in artificial feed has significant (P < 0.05) in absolutally weight (W), relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP) and protein effeciency ratio (PER) and has no significant (P > 0.05) for survival rate (SR).  The treatment D is the best once which has gave the highest value on the W (249,53 ± 2,75 g); RGR (24,55 ± 0,17 %/day); EPP (47,36±0,50%), and PER (1.81±0.08%). Water quality maintenance of media such as temperature, DO, pH, salinity and ammonia have in range that is suitable for the cultivation of milkfish (C. chanos).
Pengaruh Kepadatan Yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan Dan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pada Sistem Resirkulasi Dengan Filter Bioball Alfia, Averus Rizki; Arini, Endang; Elfitasari, Tita
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 3 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.49 KB)

Abstract

Aquaculture production process have started to use intensive systems, with high stocking density and minimum water usage. High density may become dangerous for the survival of fish, inhibits the growth of fish and water quality. This research was carried out to know the effect of different density on survival rates and growth of Tilapia (Oreochromis niloticus) in the recirculation system using bioball filter. This research was performed at the Laboratory of Fisheries building, Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University, Semarang. And conducted for 42 days from August to October 2012. The research used 9 containers size 18 liters buckets, each bucket’s filled with 10 liters of water and flowed by filter bucket. Experimental fish was tilapia with an average initial weight of 2.9 g/fish. The research used completely randomized design with 3 treatment (density of 10, 15 and 20 fishes) and three replications. Feed used in the form of commercial feed given 3% of the biomass. The results showed that density has no significant effect on survival rate, but it shows a highly significant effect towards absolute gowth and specific gowth rate. Best density is 10 fishes with an average absolute gowth of 8.77 g, and the specific gowth rate of 3.268%/days. Use filters bioball for ammonia recirculation system can reduce the density of 20 fishes up to the sixth week of the experiment.
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT LATOH (Caulerpa lentillifera) YANG DIBUDIDAYA DI DASAR TAMBAK, JEPARA Novianti, Denisa Novianti; Rejeki, Sri; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.391 KB)

Abstract

Caulerpa lentillifera merupakan kelompok alga hijau yang memiliki kandungan antioksidan tinggi. Ketersediaan C. lentillifera masih bergantung pada alam dan belum dibudidayakan secara baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot awal yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut C. lentillifera dan mengetahui bobot awal yang memberikan pertumbuhan terbaik yang di budidayakan dengan metode dasar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah perlakuan A (50 g), B (75 g), C (100 g) dan D (125 g). Rumput laut dipelihara didalam keranjang dan direndam di dasar tambak. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan bobot pada awal tanam berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan C. lentillifera dan hasil Specific Growth Rate (SGR) terbaik ditunjukan oleh perlakuan A (50 g) yaitu, 2.66±0.10 %/hari.Caulerpa lentillifera is one of green algae that have high antioxidant content. However, production of C. lentillifera is still depend on natural harvest. The aims of this study was to determine the effect of different initial weights on the growth of seaweed C. lentillifera and to find out the initial weight that gives the best growth during culture period with bottom methods. This study was conducted from March to April 2015 using experimental design by Completely Randomized Design with 4 treatments and 5 replications. The treatments tested were A (50 g), B (75 g), C (100 g) and D (125 g). Seaweed placed in a basket and immersed in to the pond bottom. The results showed that different innitial weight significantly affected the growth of the C. lentillifera and the best result of Relative growt rate was shown by treatment A (50 g) with average growth 2.66±0.10%/day.
AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERI PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DARI KENDAL Muna, Nailil; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.332 KB)

Abstract

Permintaan pasar yang meningkat membuat produksi kepiting bakau (Scylla serrata)  tinggi. Tetapi pada tahun 2011 produksi kepiting bakau di Jawa tengah mengalami penurunan. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah penyakit. Penyakit bakterial yang menyerang kepiting bakau dapat menyebabkan mortalitas 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakteri pada kepiting bakau. Materi yang digunakan yaitu 6 ekor kepiting bakau sakit (17,53±0,82 cm) yang berasal dari Kendal. Isolasi bakteri menggunakan media NA, GSP, dan TCBS dengan metode spread plate yang diambil dari karapas (luka), insang, hepatopankreas dan hemolimph sebanyak 1 ml dari 10-1, 10-3 dan 10-5. Isolat murni didapatkan dengan ±3kali ulangan, kemudian disimpan pada NA miring. Hasil isolasi diperoleh 24 isolat bakteri yang kemudian dipilih 7 isolat bakteri secara morfologi untuk postulat koch (SJK1, SJK5, SJK6, SJK11, SJK21, SJK22 dan SJK23). Uji postulat koch menghasilkan tingkatan mortalitas yang beragam yaitu 100%, 66,67-100% dan 33,33-66,67%. Berdasarkan hasil karakterisasi secara morfologi dan biokimia ketujuh isolat agensia penyebab penyakit pada kepiting bakau dari Kendal adalah Vibrio harveyi (SJK1), Moraxella sp. (SJK5), V. ordalii (SJK6 dan SJK11), Staphylococcus delphini (SJK21), Micrococcus luteus (SJK22) dan Pseudomonas putida (SJK23). Increasing market demand of mud crabs (Scylla serrata) makes its production high. But, in 2011, mud crab production in Central Java was declined. One of the inflluence factor was disease outbreak. Bacterial disease that infected mud crab can cause mortality of 90%. This study aims to determine the bacterial agents that cause disease in mud crab. Samples of 6 infected mud crabs with 17.53±0.82 cm length  from Kendal were used in this study. Bacteria was isolated on media NA, GSP and TCBS, under spread plate method taken from the carapace (the wound), gills, hepatopancreas and hemolymph as much as 1 ml of dilution. Pure isolates obtained with 3 replications, then stored in the NA slant. The isolation produced 24 isolates of bacteria. Seven isolates were selected morphologically for postulate koch (SJK1, SJK5, SJK6, SJK11, SJK21, SJK22 and SJK23). Koch postulate resulted in vary mortality levels i.e. 100%, 66.67-100% and 33.33-66.67%. Based on the results of morphological and biochemical characterization, 7 isolated causative agents bacterial disease of mud crabs from Kendal were Vibrio harveyi (SJK1), Moraxella sp. (SJK5), V. ordalii (SJK6 dan SJK11), Staphylococcus delphini (SJK21), Micrococcus luteus (SJK22) dan Pseudomonas putida (SJK23).
PENGARUH KONSENTRASI KONSORSIUM BAKTERI K4, K5 DAN K6 TERHADAP TINGKAT KESEHATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) Situmorang, Anggun Putriani; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.918 KB)

Abstract

Eucheuma cottonii adalah jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis penting karena memiliki kandungan karaginan yang tinggi (Kappa carageenin dan Lota carageenin). Penyakit ice ice merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pembudidaya  E. cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi konsorsium bakteri penyebab timbulnya penyakit ice ice pada rumput laut (E. cottonii) dan mengetahui gejala klinis rumput laut (E. cottonii) yang terinfeksi konsorsium bakteri. Penelitian dilaksanakan pada bulan  2015. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi konsorsium bakteri yang berbeda dengan perlakuan A (106), B (107), C (108) dan D (100). Rata rata panjang E. cottonii pada penelitian 5 cm dengan bobot rata rata awal 1,5 gr. Pengujian dilakukan selama 22 hari yaitu aklimatisasi 10 hari dan uji patogenitas 12 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis pada E. cottonii pasca inokulasi bakteri adalah terdapat spot putih pada thallus, pemudaran warna thallus dan bagian permukaan thallus mulai mengelupas, munculnya lendir pada thallus, cabang cabang thallus patah dan akhirnya seluruh bagian thallus patah. Pertumbuhan bobot mutlak rumput laut E. cottonii dalam penelitian selama 12 hari, diketahui bahwa E. cottonii mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan negatif paling rendah terjadi pada perlakuan C (-0.90±0.02). Kualitas air selama penelitian tergolong layak untuk kehidupan E. cottonii yaitu suhu pada kisaran 27-29 ˚C, pH pada kisaran 7-8, salinitas pada kisaran 28-30 ppt, nitrat pada kisaran 2,06-0,01 mg/l dan fosfat pada kisaran 1,07-0,2 mg/l. Berdasarkan identifikasi secara biokimia adalah isolat K4 dan K5 teridentifikasi bakteri Baccilus spp dan isolat K6 teridentifikasi bakteri Corynebacterium sp. Eucheuma cottonii is a type of seaweed that has an important economic value because it has a high content of carrageenan (carageenin Kappa and Iota carageenin). Ice- ice disease is a common problem faced by farmers E. cottonii . This study aims to determine the effect of the concentration levels of disease -causing bacteria consortium ice ice on seaweed (E. cottonii) and know the clinical symptoms of seaweed (E. cottonii) were infected with bacterial consortium. The method used in this study is the experimental method. The study design used completely randomized design (CRD), with 4 treatments and 3 replications. Treatments were different concentrations of bacterial consortium with treatment A (106), B (107), C (108) and D (100). Average length of E. cottonii on research 5 cm with an average initial weight of 1.5 gram . Tests conducted over 26 days, 14 days of acclimatization and pathogenicity test 12 days. The results showed that the clinical symptoms of E. cottonii post- inoculation of bacteria is contained white spots on thallus, color fading and surface  thallus began to peel, mucus in the thallus and the media maintenance, broken branches and eventually the entire  thallus broken parts. The growth of the absolute weight of E. cottoniiseaweed in the study for 12 days, it is known that E. cottoniidecreased body weight. The highest decrease in body weight occurred in treatment C (-0.90 ± 0:02). Water quality for relatively decent maintenance for the life of E. cottonii that the temperature in the range of 27-29 °C, pH in the range 7-8 , in the range of 28-30 ppt salinity, nitrate at the end of the maintenance ranging from 2,06-0,01 mg / l and phosphate of the maintenance ranging from 1,07-0,2 mg/l. Based on the biochemical identification of the isolates K4 and K5 are identified Baccilus spp bacteria and bacterial isolates identified K6 Corynebacterium sp .
PEMANFAATAN BERBAGAI JENIS MAKROALGA UNTUK PERTUMBUHAN ABALON (Haliotis squamata) DALAM BUDIDAYA PEMBESARAN Nurfajrie, -; Suminto, -; Rejeki, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.492 KB)

Abstract

Pemanfaatan makroalga sebagai pakan alami diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan abalon. Pengaruh jenis pakan rumput laut yang berbeda terhadap pertumbuhan panjang maupun berat mutlak, laju pertumbuhan harian, kelulushidupan, rasio konversi pakan  dan kualitas air yang mendukung telah dianalisa dan diobservasi pada penelitian.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Pakan yang digunakan pada perlakuan adalah Gracilaria verucosa (A); Euchema spinosum (B); Ulva sp (C); Gracilaria arcuata (D). Pakan tersebut diberikan sebanyak 20% dari total biomassa. Biota Abalon dengan berat rata-rata 13,45±1,06 g dan panjang rata-rata 4,32±0,07 cm sebanyak 20 ekor dimasukkan ke dalam keranjang yang berukuran 0,12 m3 yang menggunakan shelter dengan masa pemeliharaan selama 56 hari. Penelitian dilakukan di Balai Budidaya Laut, Sekotong, Lombok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memberikan hasil terbaik dengan laju pertumbuhan harian terbaik (0.11±0.00 g/hari), pertumbuhan bobot mutlak (6,36±0.09 g), pertumbuhan panjang mutlak (0,50±0,02 cm), fcr (25,54±1,47) dan kelulushidupan (98,33±2,89%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pakan rumput laut yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05), terhadap pertumbuhan, dan FCR abalon. The utilization of macroalga as a natural feed of abalone is expected to increase the growth. Effect of the type of seaweed different feed on the growth of absolute length and weight, daily growth and survival rate.This research was done to find out the effects of different type of macroalga as natural feed and the growth, survival rate of abalone, and its Food Conversion Rate (FCR). A completely randomized design was applied in this experiment with 4 treatments and each treatment was replicated 3 times.  The treatment were Gracilaria verucosa (A); Euchema spinosum (B); Ulva sp (C); Gracilaria arcuata (D). The feed was given 20% of the total biomass. Abalone was average weight of 13,45±1,06 g and  average weight of 4,32±0,07 cm were used in this experiment. The stocking density was 20 abalone/basket (0.12m3). The research was done for 56 days in Marine Research Centre, Sekotong, Lombok.The results showed that different type of seaweeds were significantly affected (P<0,05) the growth in weight and lenght of abalone. The best result was at treatment A (Gracilaria verucosa) which showed that spesific growth rate, absolute weight, absolute length, survival rate and FCR were 0.11±0.00 g/day, 6,36±0.09 g, 0,50±0,02 cm, 98.33±2.89% and 25.54±1.47, respectively . 
ANALISA KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA KUNTI (Oreochromis niloticus) F6 DAN F7 Prayuda, Dwi Ari; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.514 KB)

Abstract

Ikan nila di Indonesia merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Berbagai upaya terus dilakukan dalam meningkatkan produksi ikan nila, salah satunya adalah dengan pemuliaan seperti perbaikan genetik. Selective breeding adalah riset genetik yang dominan untuk memperbaiki pertumbuhan sebagai tujuan utama baik dari seleksi famili maupun individu.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakter reproduksi yang dihasilkan dari ikan nila kunti F6 dan F7 sehingga diketahui terjadinya  peningkatan performa karakter reproduksi dari generasi 6 ke generasi 7. Hasil penelitian perbandingan karakter reproduksi antara ikan nila kunti F6 dan F7 berpengaruh nyata. Ikan nila F6 lebih baik dari F7 dari variabel seperti hatching rate, bobot dan diameter telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur. Akan tetapi ikan nila kunti F7 baik di variabel seperti fekunditas dan jumlah larva dimulut, itu membuktikan bahwa ikan nila F7 masih tetap terjaga kualitasnya. Variabel pengukuran untuk ikan nila kunti F6 meliputi nilai fekunditas 881±73 dan HR 91,24±1,75% yang kemudian ditunjang oleh data variabel lain seperti diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Sedangkan data variabel F7 meliputi nilai fekunditas 887±102 dan HR 89,37±2,13%, ditunjang data diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang  larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Nilai heritabilitas dari F6 ke F7 untuk fekunditas -0,81, HR -0,08 nilai tersebut tidak sesuai dengan nilai heritabilitas pada umumnya karena nilai heritabilitas berkisar antara 0-1. Diameter dan bobot telur 0,67 dan -0,09, panjang dan bobot larva kuning telur 0,05 dan -0,11, panjang dan bobot larva lepas kuning telur 0,47, 0,49 dan jumlah larva dimulut 0,69 di duga disebabkan oleh faktor keturunan dan juga faktor inbreeding atau silang dalam yang akan menghasilkan individu homozigositas yang akan melemahkan individu-individu terhadap perubahan lingkungan. Tilapia in Indonesia is one of the freshwater fish that has a significant economic value.  Various efforts continue to be made in increasing the production of tilapia, one of roomates is the breeding as genetic improvement. Selective breeding is a dominant genetic research to improve growth as the main objective of both the family and individual selection. The purpose of this research was to compare the reproductive characters generated from tilapia kunti F6 and F7 thus known to the increased performance of reproductive character from generation 6 to generation 7. The result of comparison of reproduction character between tilapia kunti F6 and F7 have real effect. Tilapia F6 is better than F7 from variables such as hatching rate, weight and egg diameter, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of loose egg yolks. However, Kunti F7 tilapia is good in variables such as fecundity and the number of larvaes in mouth, it proves that F7 tilapia is still maintained in quality. Measurement variables for kunti F6 include fecundity value 881±73 and HR 91.24±1.75% which then supported by other variable data such as egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and length of yellow larvae eggs and larval number of mouths. While the data of F7 variable include fecundity value 887±102 and HR 89,37±2,13%, supported data of egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of egg yolk and larva number of mouth. The heritability value of F6 to F7 for fecundity -0.81, HR -0.08 is not in accordance with the heritability value in general because the heritability value ranges from 0-1. The diameter and weight of the eggs were 0.67 and -0.09, the length and weight of the 0.05 and -0.11 yolk larvae, the larvae length and larvae off 0.47, 0.49 and the larval larvae of 0.69 in Allegedly caused by hereditary factors and also of inbreeding or cross-linking factors that would result in individual homozygosity that would weaken individuals towards environmental change.
Identifikasi Agensia Penyebab dan Profil Darah Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Terserang Penyakit Bakteri Minaka, Anisha; M.App.Sc., Sarjito; Hastuti, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.59 KB)

Abstract

Usaha budidaya ikan gurami (Osphronemus gouramy) adalah usaha yang memiliki prospek untuk dikembangkan,hal ini dibuktikan dengan harga jual yang tinggi berkisar antara Rp. 21.000-24.000/kg ditingkat pembudidaya, dan tentunya harganya akan semakin tinggi di tingkat retailer. Budidaya ikan gurami tidak terlepas dari infeksi penyakit bakteri yang dampaknya sangat merugikan para pembudidaya. Salah satu indikator untuk mengetahui keadaan kesehatan ikan adalah melalui profil darah ikan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gejala klinis dan  jenis bakteri yang menginfeksi Ikan gurami (O. gouramy) yang terserang bakteri serta mengetahui profil darah (jumlah eritrosit, leukosit, hematokrit, hemoglobin, glukosa darah serta nilai SGOT dan SGPT)  pada Ikan gurami (O. gouramy) yang sehat dan yang terinfeksi bakteri. Metode yang di gunakan adalah eksplorasi. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampel. Pengamatan gejala klinis di lakukan terhadap 10 ekor ikan gurami yang sakit dan yang sehat. Di lanjutkan isolasi bakteri dan pengambilan sampel darah pada tiap ikan yang sehat dan sakit masing masing sebanyak 4 ekor. Hasil karakterisasi bakteri selanjutnya di lakukan uji secara morfologi dan biokimia di Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis ikan Gurami yang terserang penyakit bakteri memiliki luka kemerahan pada bagian tubuh dan sirip, terdapatnya luka yang berwarna coklat-kuning. Hasil karakterisasi secara morfologi dan biokimia menemukan bahwa agensia penyebab penyakit pada ikan Gurami setelah uji adalah Aeromonas hydrophila, Staphylococcus  saprophyticus, Aeromonas caviae dan Flavobacterium sp. Profil darah Ikan gurami (O. gouramy)  yang meliputi eritrosit (2,47x106sel/mm3±0,12), leukosit (81,52x103 sel/mm3±12,07), hemoglobin (12,9 gr/dl±1,1), serta hematokrit (35,3% ±5,0) ikan gurami sehat lebih tinggi dari pada eritrosit (1,62x106 sel/mm3±0,16), leukosit (46,95x103 sel/mm3±2,71), hemoglobin (8,45gr/dl±1,5), hematokrit (21,1%±2,9) ikan gurami yang terserang penyakit bakteri. Untuk rerata nilai glukosa darah (161,5 mg/dl±22,6), SGOT (33,5± 17,9) dan SGPT (7,5±3,1) ikan gurami yang terserang bakteri lebih tinggi dari pada nilai glukosa darah (62,5 mg/dl±10,0), SGOT (30,5± 11,2) dan SGPT (6,75±6,2) ikan gurami yang sehat. Hasil pemeriksaan profil darah untuk nilai eritrosit, leukosit, hemoglobin serta hematokrit berada pada kisaran nilai ikan sehat (normal). Namun untuk pemeriksaan nilai glukosa darah, SGPT dan SGOT mendapatkan hasil yang tinggi untuk ikan yang terserang bakteri dan nilai yang rendah untuk ikan sehat.  
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN, DAN CACING SUTRA SEGAR UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Chahyaningrum, Retno Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.454 KB)

Abstract

Pakan berperan penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan stadia larva.  Pakan alami cacing sutra sering digunakan sebagai pakan lele stadia larva.  Selain cacing sutra, pakan alami lainnya yang dapat diberikan adalah Artemia sp. Jenis pakan ini dapat diberikan dalam bentuk beku maupun awetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan dan cacing sutra segar untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva lele sangkuriang.  Metode penelitian ini adalah eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi 3 macam pakan perlakuan yaitu Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan cacing sutra segar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara selama 20 hari.  Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), dan kelangsungan hidup (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh (P<0.05) terhadap RGRW, EPP, PER, dan SR, namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap RGRL.  Nilai untuk RGRW, RGRL, EPP, PER, dan SR sebesar 10.05, 11.62%/hari, 14.24, 0.23, 60.18%.  Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa perlakuan pemberian pakan terbaik untuk larva ikan lele sangkuriang adalah cacing sutra segar. Feed played an important role on the growth and survival rate of fish larvae stage.  Silk worm was often used as life food for catfish larvae.  Instead of silk worm, the other life food for catfish larvae was Artemia sp. It can be used in the form of frozen and preserved.  This research was aimed to study the utilization rate of frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp., and fresh silk worm on the growth and survival rate of catfish “sangkuriang” larvae.  The experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replicates.  The trial fish were fed on frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp.,  and fresh silk worm respectively.  The research was conducted in The Coastal Development Laboratory (LPWP) Jepara for 20 days.  Variables measured  included relative growth rate weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio and survival rate.  The result of research was different types of life food (P<0.05) had effect for RGRW, EPP, PER, and SR, but it had not effect (P>0.05) for RGRL.  Those values for RGRW, RGRL, EPP, PER, and SR were 10.05, 11.62%/day, 14.24, 0.23, 60.18%, respectively.  Based on the result of these study, it was concluded that the best feeding trial for catfish “sangkuriang” larvae was fresh silk worms.
Perbandingan genetic gain ikan nila pandu dan Nila kunti (Oreochromis niloticus) F4 Pada Pendederan I – III Ainida, Alfi Nurul; Hastuti, Sri; Rejeki, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 3 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.634 KB)

Abstract

The objectives of this research were to determine the genetic gain value of tilapia pandu and tilapia kunti F4 and to compare the growth between the best 10% (Top 10) tilapia pandu and tilapia kunti F4, also average tilapia pandu and tilapia kunti F4 fry (without selection). This study was done at Satker PBIAT (Central of Fresh Water Fish Culture Working Unit) Janti, Klaten from April – June. The top 10% of tilapia pandu and tilapia kunti F4, and the average tilapia pandu and tilapia kunti F4 (without selection) were used in this research. The fries were cultured in a 4x2x1 m3 net cages from nursery I –III. This research consisted of 4 treatments and 3 replication. Treatment A fry F4 top 10% tilapia and treatment B tilapia F4. Treatment C top 10% fry F4 kunti tilapia and treatment D fry tilapia kunti F4. The data collected were survival rate (SR), food convertion ratio (FCR), genetic gain, and water quality parameters. The data were analysed discriptively. tment B and D (average). In tilapia F4 got genetic gain in survival rate (SR) nursery I, II and III are 4.72%, 6.98%, 5.15%. Genetic gain values of weight nursery I, II and III are 47.23%, 51.35%, 63.37%. Genetic gain values of total length nursery I, II and III are 11.29%, 15.73%, 17.90%. Genetic gain FCR nursery I, II and III are 2.93%, 3.64%, 4.11%. While genetic gain obtained by kunti F4 survival rate (SR) nursery I, II and III are 6.35%, 5.40%, 7.20%. Genetic gain value of weight nursery I, II and III are 48.51%, 52.09%, 60.48%. Genetic gain value of total length nursery I, II and III are 8.77%, 13.29%, 24.54%. Genetic gain FCR nursery I, II and III are 3.44%, 3.79%, 4.14%. Water quality parameters during the research were still viable for the life of tilapia. Based on the results of this study concluded that individual selection program conducted in tilapia and tilapia kunti F4 could improve the performance of fish such as its survival, growth, and the food convertion ratio.