cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Implementasi Peran Stakeholder Dalam Strategi Pengembangan Ekowisata Rekreasi Pantai Tirang, Semarang Dea Sekarwangi Putri Rinaryadi; Rini Pramesti; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49840

Abstract

Pantai Tirang, yang terletak di pesisir Kota Semarang, memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan, namun pengelolaannya saat ini kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan wisata rekreasi Pantai Tirang dan peran stakeholder dalam ekowisata. Metode yang digunakan adalah survei dengan observasi langsung, kuesioner, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis SWOT strategi SO (Strengths-Opportunities) dengan nilai IFAS 3,458 dan EFAS 3,423 terdapat 7 matriks ranking dengan skala prioritas. Strategi yang diutamakan adalah pemanfaatan prasarana dan pengembangan promosi paket wisata (6,88). Analisis keterlibatan stakeholder di Pantai Tirang berdasarkan kepentingannya terdiri dari stakeholder primer yaitu masyarakat sekitar dan wisatawan serta stakeholder sekunder yaitu dinas pekerjaan umum, dinas perumahan dan pemukiman, dinas lingkungan hidup, dinas pariwisata dan kebudayaan, bappeda, pdam, masyarakat lokal, perumahan graha padma, dan semarang mangrove.
Karakterisasi Fisikokimia Dan Hedonik Selai Lembaran Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii Doty, 1985) dan Buah Mangga (Mangifera indica L., 1753) Aisya Tri Maharani; Rini Pramesti; AB Susanto
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.50486

Abstract

Selai lembaran merupakan modifikasi selai semi cair menjadi bentuk lembaran. Proses pembuatannya melibatkan perubahan tekstur selai menjadi padat lembaran. Materi penelitian yaitu rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii sebagai bahan baku untuk membentuk tekstur lembaran dicampur dengan buah mangga (Mangifera indica L.) sebagai perasa alami. Penelitian ini bertujuan menentukan perlakuan terbaik selai lembaran berdasarkan rasio yang berbeda: A (40:60), B (50:50), C (60:40). Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter yang diamati yaitu kekerasan, proksimat, dan hedonik dengan uji berturut-turut uji kekerasan dan proksimat dianalisis menggunakan ANOVA dan hedonik dengan Kruskal-Wallis. Adanya perbedaan yang signifikan dilanjut dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata uji kekerasan 0,14-0,21 kgf; karbohidrat total 62,13-77,92%; kadar protein 0,70-1,14%; kadar lemak 0,03-0,05%; kadar air 20,38-36,60%; kadar abu 0,28-0,64%; dan uji hedonik berdasarkan selang kepercayaan dengan perlakuan A = 7,58 < μ < 8,09; B = 7,29 < μ < 7,78; dan C = 7,05 < μ < 7,70. Berdasarkan hasil, diketahui perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah perlakuan A.  Sheet jam refers to the transformation of the jam from semi-liquid to sheet form. This process requires modifying its texture into sheets. Seaweed (Kappaphycus alvarezii) was selected as the raw material to form the jam into a jelly texture, and mango (Mangifera indica L.) was used as the natural flavor. This study aims to determine the optimal formulation of seaweed and mango sheet jam using the ratios A (40:60), B (50:50), and C (60:40). The experimental laboratory method was used with a Completely Randomized Design (CRD). Parameters observed included hardness, proximate, and hedonic, with hardness and proximate tested using ANOVA and hedonic tested using Kruskal-Wallis. Significant differences will be further examined using Duncan's test. The results showed that the hardness test ranged from 0,14 to 0,21 kgf; total carbohydrate 62,13%-77,92%; protein content 0,70%-1,14%; fat content 0,03%-0,05%; moisture content 20,38-36,60%; ash content 0,28-0,64%; and hedonic test based on confidence interval with treatment A = 7,58 < μ < 8,09; B = 7,29 < μ < 7,78; and C = 7,05 < μ < 7,70. Based on these results, sheet jam formulation A is the best treatment in this study.
Jenis Substrat dan Tingkat Kerapatan Mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove Baros Yogyakarta Zigtharinta Agiska Velati; Suryono Suryono; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43088

Abstract

Kawasan Konservasi Mangrove Baros memiliki tingkat kerapatan dan jenis substrat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis substrat dan kerapatan serta adanya pengaruh antara keduanya. Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerapatan dan jenis substrat dilakukan dengan pengamatan langsung. Penentuan lokasi stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan perbedaan tingkat kerapatan dari jarang, sedang hingga rapat. Stasiun I terletak di ujung barat dan berbatasan langsung dengan lautan Samudra Hindia memiliki kerapatan jarang, stasiun II berada di antara stasiun I dan stasiun III memiliki kerapatan rapat dan stasiun III yang terletak di ujung timur dan terpengaruh langsung oleh aliran Sungai Opak memiliki kerapatan sedang. Pengambilan sampel sedimen dilakukan menggunakan sekop dengan kedalaman 10-30 cm dari permukaan substrat lalu dilakukan analisis ukuran butir dengan metode pengayakan kering untuk mengetahui jenis substrat dan metode Loss on Ignition untuk mengetahui kandungan bahan organik. Stasiun I diketahui bersubstrat pasir, stasiun II lumpur berpasir dan stasiun III pasir berlumpur. Jenis substrat juga sangat berpengaruh pada kandungan bahan organik yang berperan penting untuk pertumbuhan mangrove, substrat dengan fraksi lumpur yang tinggi cenderung memiliki kandungan bahan organik yang juga tinggi. Substrat stasiun I yang didominasi oleh fraksi pasir memiliki kerapatan dan bahan organik paling rendah yaitu 733,33ind/ha dan 1,22%, sedangkan stasiun II didominasi fraksi lumpur memiliki kerapatan dan bahan organik tertinggi yaitu 2633,33ind/ha dan 8,54%. Fraksi sedimen pada substrat memiliki hubungan yang sangat kuat dan berpengaruh 97,5%-98% dengan kerapatan tingkat pohon.   The Baros Mangrove Conservation Area has different levels of density and substrate types. This research aims to determine the substrate types, density levels, and the influence between them. The method used to assess the density levels and substrate types is through direct observations. Station locations are determined using purposive sampling method considering varying density levels from sparse to dense. Station I is located at the western end directly bordering the Indian Ocean with sparse density, Station II is between Station I and Station III with dense density, and Station III at the eastern end directly influenced by the Opak River flow with moderate density. Sediment sampling is done using a shovel at a depth of 10-30 cm from the substrate surface, followed by grain size analysis using dry sieving method to determine substrate types and Loss on Ignition method to assess organic content. Station I is known to have sandy substrate, Station II has sandy mud, and Station III has muddy sand substrate. The substrate type significantly affects the organic content crucial for mangrove growth; substrates with high mud fraction tend to have high organic content. Station I, dominated by sandy fraction, has the lowest density and organic content at 733.33 ind/ha and 1.22%, respectively, while Station II dominated by mud fraction has the highest density and organic content at 2633.33 ind/ha and 8.54%. The sediment fraction in the substrate has a very strong relationship influencing 97.5%-98% of tree density levels.
Analisis Kesesuaian Wisata dan Daya Dukung sebagai Kawasan Ekowisata di Pantai Krakal, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul Audy Salsabila Firdausiah; Ria Azizah Tri Nuraini; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.46042

Abstract

Pantai Krakal terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta. Pantai ini terkenal akan keindahan alam, pasirnya yang putih dan pantainya yang memanjang. Untuk mengoptimalkan potensi kawasan wisata perlu dilakukan analisis mengenai indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan untuk kategori berenang dan rekreasi pantai di Pantai Krakal. Metode penelitian yang digunakan ialah metode survey. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 Desember 2023 dan 1-2 Juni 2024. Analisis kelayakan fisik dilakukan dengan menghitung Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) dan Daya Dukung Kawasan (DDK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Krakal memiliki Indeks Kesesuaian Wisata sebesar 87% (Sangat Sesuai) untuk kategori rekreasi dan 75% (sesuai) untuk kategori berenang. Daya Dukung Kawasan untuk kategori rekreasi pantai 2.217 orang/hari dengan luas area 14.780m2 dan 380 orang/hari untuk kategori berenang dengan luas area 950m2. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Pantai Krakal memiliki potensi untuk destinasi wisata pantai.
Pembentukan Zona Hambat Patogen Staphylococcus aureus dan Escherichia coli terhadap Pigmen Fukosantin Ekstrak Sargassum polycystum C. Agardh Mhevy Nadya Pasaribu; Rini Pramesti; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.47898

Abstract

Pigmen fukosantin merupakan pigmen yang terdapat dari rumput laut cokelat Sargassum polycystum yang kadarnya tertinggi dari pigmen lainnya. Pigmen ini dapat digunakan sebagai sediaan bahan kosmetik dan  obat – obatan. Dalam bidang farmasi tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai anti-obesitas, anti-diabet, antiinflamasi dan antibakteri. Sampel diperoleh dari perairan Pulau Panjang, Jepara. Tujuan penelitian mengetahui proses isolasi pigmen fukosantin dan potensi antibakteri pigmen fukosantin S. polycystum. Identifikasi fukosantin menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Isolasi fukosantin dengan metode kromatografi kolom. Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Bakteri patogen yang digunakan S. aureus dan E. coli. Konsentrasi ekstrak fukosantin sebagai sampel uji digunakan 150 µg/disk, 250 µg/disk dan 500 µg/disk. Pengamatan zona hambat selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak pigmen fukosantin memiliki aktivitas antibakteri. Rerata diameter zona hambat terbesar terdapat pada jam ke-24 terhadap patogen S. aureus adalah 10,6 ± 0,057 mm dan zona hambat terbesar terdapat pada jam ke -24 pada patogen E. coli adalah 10,1 ± 0,014 mm. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas pigmen fukosantin berpotensi sebagai antibakteri. 
Komposisi dan Struktur Vegetasi Lamun di Pantai Prawean dan Pantai Marina, Kabupaten Jepara Sifra Ann Hanania Sarumaha; Ita Riniatsih; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49127

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang berperan penting bagi biota laut dan keseimbangan lingkungan perairan.  Namun, saat ini kondisi ekosistem lamun mengalami penurunan luasan akibat adanya pengaruh dari aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi vegetasi lamun secara ekologis, mencakup komposisi jenis lamun, kerapatan dan penutupan vegetasi lamun, serta kondisi lingkungan perairan. Metode penelitian yang digunakan dalam penentuan lokasi adalah purposive sampling, dengan menetapkan dua stasiun.  Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode line transect dan transek kuadran 50x50 cm yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun dari LIPI. Hasil penelitian di kedua lokasi ditemukan enam jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Oceana serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium. Persentase tutupan lamun pada Pantai Prawean memiliki nilai 45,98% dan pada Pantai Marina 30,55% yang tergolong sedang. Kerapatan jenis bervariasi antara 34–634 ind/m², kerapatan tertinggi pada jenis Thalassia hemprichii dan kerapatan terendah pada jenis Syringodium isoetifolium. Pantai Prawean didominasi substrat pasir berlumpur dan Pantai Marina didominasi substrat pasir dan pecahan karang. Parameter perairan di kedua lokasi penelitian masih berada dalam kategori baik untuk keberlangsungan ekosistem lamun. 
Studi Kelimpahan Megabenthos di Padang Lamun Perairan Jepara Speranda Speranda; Ita Riniatsih; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.43131

Abstract

Megabenthos adalah organisme berukuran lebih dari 1 cm yang tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan fungsi ekologis di padang lamun. Kelimpahan megabentos dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah presentase penutupan lamun, kondisi, dan substrat dasar perairan. Penelitian bertujuan untuk membandingkan kelimpahan jenis megabenthos pada Perairan Jepara, khususnya di perairan Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan line transect quadrant. Kelimpahan jenis megabenthos (ind/m2) yang pada Perairan Pulau Panjang periode September 2023 mendapatkan hasil total kelimpahan megabenthos sebanyak 0,31-0,39 ind/m2 dengan kelimpahan terbesar adalah Cerithium traillii dan yang terkecil adalah Canarium labiathum. Kelimpahan megabenthos pada pantai Prawean Bandengan pada periode September 2023 memperoleh kelimpahan megabenthos dengan total 0,15 - 0,22 ind/m2 dengan kelimpahan terbesar pada Pantai Prawean Bandengan adalah Cerithium trailii dan yang terkecil adalah Anadara antiquata. Kelimpahan jenis megabenthos (ind/m2) yang berapa padang lamun pada Pantai Kartini periode September 2023 mendapatkan hasil kelimpahan megabenthos dengan kisaran total sebanyak 0,06-0,07 ind/m2 dengan kelimpahan megabenthos terbesar pada Pantai Kartini adalah Trochus maculatus dan yang terkecil adalah Cerithium zonathum. Kelimpahan jenis tertinggi ditunjukkan oleh Pulau Panjang, diduga dipengaruhi oleh keanekaragaman megabenthos, presentase penutupan lamun, parameter/kondisi perairan, kandungan bahan organik, dan kondisi substrat perairan. Megabenthos is an organism with a size of more than 1 cm that grows and lives in seagrass ecosystem. This organism is often found in seagrass bed because of the ecological function provided by it. The abundance of megabenthos in seagrass beds is influenced by several factors. One of them is the percentage of seagrass cover and water conditions. Marine tourism activities in Jepara Regency, Central Java, including Panjang Island, Prawean Bandengan Beach, and Kartini Beach, influence the seagrass ecosystem. Jepara waters have vast expanses of seagrass beds with different characteristics and water conditions, especially in the waters of Panjang Island, Kartini Beach, and Bandengan Beach. The abundance of megabenthos types (ind/m2) in seagrass beds in Panjang Island waters, which was observed during the period September 2023, results in a total range of 0,31 ind/m2 and 0,39 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Panjang Island is Cerithium trailii and the smallest is Canarium labiathum. The abundance of megabenthos on Prawean Bandengan beach in the September 2023 period indicates a total of 0,15 ind/m2 and 0,22 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Prawean Bandengan Beach is Cerithium trailii and the smallest is Anadara antiquata. The abundance of megabenthos types (ind/m2) in seagrass beds on Kartini Beach for the period September 2023 indicates a total range of 0,06 ind/m2 and 0,07 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Kartini Beach is Trochus maculatus and the smallest is Cerithium zonathum.
Profil Flavonoid, Fenolik Total, dan Tanin pada Filtrat dan Residu Ekstrak Alga Coklat Sargassum Muliawati Handayani; Agung Kurniawan; Mulya Septika
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.48974

Abstract

Sargassum, genus alga coklat yang termasuk dalam kelompok rumput laut, memiliki potensi biosprospektif yang signifikan. Keberadaannya yang melimpah di Teluk Lampung menjadikannya sumber daya yang menarik untuk dieksplorasi. Pemanfaatan Sargassum saat ini, yang umumnya terbatas pada produksi agar-agar dan karaginan, dapat diperluas ke bidang farmakologi melalui penelitian mendalam terhadap kandungan senyawanya. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak Sargassum, serta menganalisis perbandingan profil metabolit sekunder antara filtrat dan residu hasil ekstraksi. Ekstraksi dilakukan melalui metode maserasi menggunakan metanol sebagai pelarut dengan rasio 1:3. Identifikasi kualitatif senyawa aktif kemudian dikonfirmasi melalui analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada filtrat (7,84 mg QE/g ekstrak) secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan residu (18,99 mg QE/g ekstrak). Sebaliknya, kandungan fenolik dan tannin pada filtrat (masing-masing 16,13 mg GAE/g dan 36,86 mg TAE/g) lebih tinggi dibandingkan dengan residu (masing-masing 1,56 mg GAE/g dan 1,38 mg GAE/g).  Sargassum is a genus of seaweed that belongs to the brown algae group and has great potential as a bioprospecting material. This type of seaweed is widely found in the Lampung Bay area. Currently, the use of Sargassum as a raw material for agar-agar and carrageenan needs to be further developed in the field of pharmacology through further research on its active compound content. This study aims to identify the types of active compounds in Sargassum extract and to compare the secondary metabolite profiles found in the filtrate and extract residue. The extraction process was carried out by the maceration method using methanol solvent with a ratio of 1:3. Qualitative analysis was continued with quantitative testing using UV-Vis spectrophotometry. The results of quantitative testing showed that the flavonoid content in the filtrate was 7.84 mg QE/g extract, lower than the flavonoids in the residue which reached 18.99 mg QE/g extract. On the other hand, the content of phenolic and tannin compounds in the filtrate was 16.13 mg GAE/g and 36.86 mg TAE/g respectively, higher than in the residue which was only 1.56 mg GAE/g and 1.38 mg TAE/g.
Penilaian Risiko Logam Tembaga (Cu) pada Anadara granosa Terhadap Kesehatan Manusia Nurwahyu Ningsih; Irma Suryana; Mohammad Sumiran Paputungan; Irwan Ramadhan Ritonga
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.46415

Abstract

Logam tembaga (Cu) merupakan salah satu nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, ada saat logam Cu masuk ke tubuh manusia telah melewati baku mutu, mungkin dapat mengakibatkan efek samping terhadap kesehatan manusia. Logam Cu dapat masuk ke lingkungan perairan melalui bioakumulasi dalam rantai makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Cu dan menganalisis risiko kesehatan akibat mengkonsumsi Kerang Darah (Anadara granosa) terhadap tubuh manusia baik dewasa dan anak – anak. Sampel A. granosa dengan ukuran berbeda dibeli dari beberapa pasar tradisional di kota Samarinda. Konsentrasi Cu pada A. granosa ditentukan dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Kisaran Cu pada daging A. granosa adalah 0,10 – 0,26 µg/g dengan rerata 0,20 ± 0,05 µg/g berat basah. Konsentrasi Cu pada A. granosa lebih rendah dari beberapa baku mutu untuk bahan pangan manusia berdasarkan Ditjen POM No.03725/B/SK/1989 (20,0 µg/g). Akumulasi Cu pada A. granosa dipengaruhi oleh panjang, berat, kebiasaan makan dan habitat. Penilaian risiko menunjukkan bahwa semua nilai bahaya target (HQ) yang diamati berada dibawah ambang batas 1 (HQ<1). Hal ini menunjukkan tidak ada potensi risiko bahaya non-karsinogenik jangka panjang bagi tubuh orang dewasa dan anak – anak di kota Samarinda akibat konsumsi A. granosa.  Copper metal (Cu) is one of the nutrients needed by the human body. However, if Cu metal entering the human body has exceeded the quality standard, it may cause adverse effects on human health. Cu metal could enter the aquatic environment through bioaccumulation in the food chain. The purpose of this study is to determine the concentration of Cu and analyse the health risks of consuming blood clams (Anadara granosa) to the human body both adults and children. Samples of A. granosa with different sizes were purchased from several traditional markets in Samarinda city. Cu concentration in A. granosa was determined using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The range of Cu in A. granosa meat was 0,10 – 0,26 µg/g with a mean of 0,20 ± 0,05 µg/g wet weight. Cu concentration in A. granosa was lower than several quality standards for human food based on Ditjen POM No.03725/B/SK/1989 (1,00 µg/g). Cu accumulation in A. granosa was influenced by length, weight, feeding habits and habitat. The risk assessment indicates that all observed Hazard Quotient (HQ) values were below the threshold of 1 (HQ<1), demonstrating no potential long-term non-carcinogenic risk to adults and children in Samarinda from the consumption of A. granosa.
Analisis Perubahan Luasan Mangrove Tahun 2017-2023 Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 Di Desa Lontar, Kabupaten Serang, Banten Atika Siti Nuraisyah; Rudhi Pribadi; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.45917

Abstract

Ekosistem mangrove di Indonesia dapat ditemukan di pesisirIndonesia yang memiliki arus dan gelombang yang tidak kencang. Perubahan luasan hutan mangrove di Indonesia terus terjadi tiap tahunnya. Perubahan luasan hutan mangrove disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan iklim, kegiatan rehabilitasi, bencana alam, dan aktivitas antropogenik. Permasalahan degradasi telah menjadi isu tiap tahunnya sehingga dibutuhkan monitoring yang rutin dilakukan untuk mengetahui perubahan dan mempersiapkan penanganan lebih lanjut. Dalam penelitian ini dilakukan pemantauan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan melakukan analisis spasial untuk mengetahui perubahan luasan hutan mangrove di Desa Lontar dalam periode tahun 2017-2023 dengan menggunakan citra sentinel 2. Data satelit diolah dengan Software ArcGIS, QGIS, dan Google Earth Pro. Identifikasi wilayah mangrove dilakukan dengan komposit RGB 8, 11, dan 4 kemudian pemisahan objek mangrove dan non-mangrove menggunakan metode klasifikasi terbimbing. Tahap selanjutnya dilakukan analisis kerapatan dengan formula Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil penelitian menunjukkan wilayah mangrove Desa Lontar mengalami perubahan luasan dalam periode 3 tahun (2017-2020) sebesar 16,79 hektar dan pada periode 3 tahun (2020-2023) sebesar 7,25 hektar dengan laju perubahan dalam periode 3 tahun (2017-2020) sebesar 65,86% dan pada tahun (2020-2023) sebesar 17,14%. Secara umum, luas mangrove di Desa Lontar mengalami peningkatan atau penambahan luasan mangrove.The mangrove ecosystem in Indonesia can be found along the coasts that have calm currents and waves. The extent of mangrove forests in Indonesia changes continuously. These changes caused by several factors, such as climate change, rehabilitation activities, natural disasters, and anthropogenic activities. This degradation issue has become a significant concern, as it is estimated that the extent of mangrove areas changes annually. Therefore, regular monitoring is required to understand these changes and prepare further management actions. In this study utilized remote sensing technology and spatial analysis to monitor and identify changes in the extent of mangrove forests in Lontar village from 2017 to 2023 using Sentinel-2 imagery. The satellite data was processed using ArcGIS, QGIS, and Google Earth Pro software. The identification of mangrove areas was performed using RGB composite 8, 11, and 4, followed by separating mangrove and non-mangrove objects using the supervised classification method. The next step was to perform density analysis using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) formula. The results showed that the mangrove area in Lontar village experienced changes in extent over a three-year period (2017-2020) by 16.79 hectares and over the next three-year period (2020-2023) by 7.25 hectares, with a rate of change in the three-year period (2017-2020) of 65.86% and in the period (2020-2023) of 17.14%. Overall, the mangrove changes in Lontar village showed an increase or expansion in the mangrove area.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue