cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Estimasi Simpanan Karbon Pada Padang Lamun di Perairan Jepara Menggunakan Metode Nondestruktif Raynazza Anditra Khawarizmi; Ita Riniatsih; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49111

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem penting di wilayah pesisir yang memiliki berbagai peran. Salah satu peran lamun adalah sebagai penyerap karbon (carbon sink). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur simpanan karbon pada padang lamun di Pantai Prawean dan Pantai Marina, Jepara, menggunakan metode nondestruktif. Hasil menunjukkan bahwa Pantai Prawean memiliki simpanan karbon sebesar 66,54 gC/m² dan tingkat sekuestrasi karbon 5,73 ton C/ha/tahun, lebih tinggi dibandingkan Pantai Marina yang memiliki simpanan karbon 51,53 gC/m² dan tingkat sekuestrasi 4,43 ton C/ha/tahun. Perbedaan ini dipengaruhi oleh tutupan lamun, dengan Pantai Prawean mencapai 46,07% dibandingkan Pantai Marina yang hanya mencapai 31,01%. Metode nondestruktif terbukti efisien untuk mengestimasi karbon lamun, meskipun dibutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk dapat lebih memfaktorkan variasi ekosistem dan meningkatkan akurasi model.
Kajian Pertumbuhan Biji Lamun (Enhalus acoroides) Berdasarkan Perbedaan Substrat dan Wadah Tanam Zulfikar Zulfikar; Ita Riniatsih; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.44052

Abstract

Kondisi kesehatan padang lamun mengalami penurunan hampir di seluruh perairan dunia. Tekanan yang terjadi pada ekosistem padang lamun menjadi penyebab penurunan kondisi padang lamun. Tekanan ini dapat dating dari adanya perubahan kualitas perairan hingga aktivitas manusia di sekitar pesisir. Kegiatan restorasi merupakan bentuk penanggulangan permasalahan terkait penurunan kondisi kesehatan padang lamun. Metode alternatif terkait upaya restorasi padang lamun diperlukan guna meingkatkan keberhasilan kegiatan restorasi. Penumbuhan bibit lamun menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam upaya restorasi padang lamun. Penelitian terkait penumbuhan semaian biji lamun   dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara perbedaan jenis substrat serta perbedaan jenis wadah media tanam dalam skala laboratorium. Suhu, salinitas, pH dan kandungan nutrien dalam substrat menjadi bagian dari faktor pembatas pertumbuhan lamun dalam penelitian ini. Kegiatan penumbuhan semaian biji lamun Enhalus acoroides dilakukan di Laboratorium Basah, FPIK, Universitas Diponegoro pada bulan Juni hingga Agustus 2023. Penelitian dilakukan menggunakan dua jenis substrat yang berbeda (Pasir Laut dan Pasir Kuarsa) serta dua jenis wadah media tanam yang berbeda (Wadah Besek dan Wadah Ijuk) yang ditempatkan pada akuarium percobaan beserta sistem sirkulasi oksigen. Perbedaan jenis substrat berbeda nyata (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan lebar dan jumlah daun lamun E. acoroides. Grafik laju pertumbuhan lamun E. acoroides menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada semaian biji lamun yang tumbuh pada substrat pasir laut dibandingkan dengan substrat pasir kuarsa.  The health of seagrasses has declined in nearly all waters worldwide. The pressure that occurs in seagrass ecosystems is the cause of the decline in seagrass conditions. This pressure can come from changes in water quality to human activities around the coast. Restoration activities are a form of overcoming problems related to the decline in seagrass health conditions. Alternative methods are needed to enhance the success of seagrass restoration efforts. Seagrass seedlings are one alternative that can be used in seagrass restoration efforts. Research related to seagrass seedling growth was conducted to determine the effect of different types of substrates and other types of planting media containers on a laboratory scale. Temperature, salinity, pH and nutrient content in the substrate are part of the limiting factors for seagrass growth in this study. The activity of growing seagrass seedlings of Enhalus acoroides was carried out at the Wet Laboratory, FPIK, Diponegoro University, from June to August 2023. The study was conducted using two different types of substrates (Sea Sand and Quartz Sand) and two different types of planting media containers (Besek Container and Ijuk Container) placed in an experimental aquarium along with an oxygen circulation system. The difference in substrate type was significantly different (p<0.05) on the growth rate of width and number of leaves of seagrass E. acoroides. The graph of the growth rate of seagrass E. acoroides showed higher values in seagrass seedlings grown on marine sand substrate compared to quartz sand substrate.
Variasi Harian Kelimpahan Relatif Ikan Pada Ekosistem Lamun di Perairan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Sari Wahyuni; Ahmad Zahid; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.46287

Abstract

Diantara peran penting ekosistem lamun diantaranya sebagai tempat memijah, pengasuhan, mencari makan, dan tempat berlindung bagi berbagai organisme laut seperti ikan. Sebagai kota yang berada di wilayah pesisir, Tanjungpinang memiliki sebaran ekosistem lamun yang tersebar pada beberapa area. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajar terkaitani kondisi struktur ekosistem lamun, variasi harian kelimpahan ikan, dan keterkaitan antara asosiasi ikan dengan  struktur ekosistem lamun di perairan Kota Tanjungpinang. Terdapat empat stasiun pengamatan pada penelitian ini. Metode pengambilan data tutupan lamun dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan kuadrat dengan ukuran 50x50 cm sedangkan asosiasi ikan pada ekosistem lamun diamati dengan cara mengumpulkan ikan yang ditangkap dengan menggunakan jaring insang (Bottom gill net) yang memiliki karakteristik mata jaring ukuran 1,5 inci sepanjang 100 m dan lebar 2 m. Diperoleh 7 jenis lamun yang ditemukan di setiap stasiun dengan tutupan lamun tertinggi terdapat di Tanjung Duku. Teridentifikasi sebanyak 89 ikan yang berasosiasi dengan ekosistem lamun yang terdiri dari 23 famili dan 30 spesies. Hasil analisis one way ANOVA, menunjukkan bahwa variasi harian kelimpahan ikan pada siang dan malam hari memiliki nilai Sig. 0,014 (P< 0,05). Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kelimpahan jenis ikan pada siang dan malam hari. Hasil analisis korespondensi antara kelimpahan ikan dengan kategori tutupan lamun menunjukkan adanya kelompok sebaran jenis ikan berdasarkan karakteristik tutupan ekosistem lamun. Among the crucial roles of seagrass ecosystems are as a place for spawning, nurturing, foraging, and shelter for various marine organisms such as fish. As a city located in a coastal area, Tanjungpinang has a distribution of seagrass ecosystems spread across several regions, each with its unique characteristics and importance. This study aims to study the condition of the seagrass ecosystem structure, daily variations in fish reports, and the relationship between fish associations and the structure of the seagrass ecosystem in the waters of Tanjungpinang City. This study has four observation stations. The method of collecting seagrass cover data using a line transect assisted by a 50x50 cm square, while the fish association in the seagrass ecosystem is observed by collecting fish caught using gill nets which have characteristics of 1.5 inch mesh size, 100 m long and 2 m wide. Seven types of seagrass were found at each station with the highest seagrass cover at Tanjung Duku. 89 fish were identified as being associated with the seagrass ecosystem, consisting of 23 families and 30 species. The results of the one-way ANOVA analysis showed that daily variations in reporting fish during the day and night had a Sig. Value of 0.014 (P <0.05). This indicates that there are differences in reporting fish species during the day and night. The results of the analysis of the delivery between fish reporting and seagrass cover categories indicate the existence of groups of fish species distribution based on the characteristics of seagrass ecosystem cover.
Potensi Daya Hambat Ekstrak Daun Mangrove (Sonnearatia casseolaris dan Avicennia alba blume) Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophylla di Muara Sungai Jagir, Wonorejo, Surabaya Alifia Putri Rahmadani; Mahmiah Mahmiah; Rudi Siap Bintoro
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.45421

Abstract

Aeromonas hydrophylla merupakan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan manusia. pada ikan bekteri ini menyebabkan penyakit Motil Aeromonas Speticia, sedangkan pada manusia menyebabkan penyakit Gastrointestinal Aeromonas. Upaya yang dapat diakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri salah satunya dengan menggunakan antibiotik alami dari bahan mangrove. Metode yang digunakan yaitu metode uji fitokimia secara kualitatif dan uji antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Pelarut yang digunakan adalah metanol dengan konsentrasi 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm. Kontrol positif menggunakan kloramfenikol dan kontrol negatif menggunakan aquades. Hasil uji fitokimia menunjukkan daun mangrove Sonneratia caseolaris dan Avicennia alba blume positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri pada daun S. caseolaris berturut turut sebesar 6 mm; 6,33 mm; 7,78 mm; 9,51 mm. Sedangkan pada daun A. alba blume sebesar 8,67 mm; 9.51 mm; 9,68 mm. Metabolit sekunder yang terdapat pada kedua stasiun yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri terbesar yaitu 11,11 mm dan 9,68 mm sehingga mampu dijadikan sebagai antibakteri terhadap bakteri A.hydrophylla.  Aeromonas hydrophylla merupakan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan manusia. pada ikan bekteri ini menyebabkan penyakit Motil Aeromonas Speticia, sedangkan pada manusia menyebabkan penyakit Gastrointestinal Aeromonas. Upaya yang dapat diakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri salah satunya dengan menggunakan antibiotik alami dari bahan mangrove. Metode yang digunakan yaitu metode uji fitokimia secara kualitatif dan uji antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Pelarut yang digunakan adalah metanol dengan konsentrasi 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm. Kontrol positif menggunakan kloramfenikol dan kontrol negatif menggunakan aquades. Hasil uji fitokimia menunjukkan daun mangrove Sonneratia caseolaris dan Avicennia alba blume positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri pada daun S. caseolaris berturut turut sebesar 6 mm; 6,33 mm; 7,78 mm; 9,51 mm. Sedangkan pada daun A. alba blume sebesar 8,67 mm; 9.51 mm; 9,68 mm. Metabolit sekunder yang terdapat pada kedua stasiun yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri terbesar yaitu 11,11 mm dan 9,68 mm sehingga mampu dijadikan sebagai antibakteri terhadap bakteri A.hydrophylla. 
Kelimpahan dan Keanekaragaman Makrozoobentos pada Perakaran Mangrove Berbeda di Teluk Benoa, Bali Rani Ariza Sinaga; Ni Made Ernawati; Ni Luh Gede Rai Ayu Saraswati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.51619

Abstract

Mangrove memiliki sistem perakaran yang khas yang dimanfaatkan oleh biota laut sebagai daerah perlindungan dan mencari makan. Mangrove berperan sebagai penyedia makanan bagi biota makrozoobentos dan sebaliknya makrozoobentos berkontribusi dalam proses dekomposisi bahan organik untuk membantu mangrove dalam memperoleh nutrien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobentos pada tipe perakaran mangrove berbeda di kawasan mangrove Teluk Benoa, Bali serta korelasinya dengan parameter lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan  Desember 2024 hingga Februari 2025 di ekosistem mangrove Teluk Benoa, Bali. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel makrozoobentos diambil pada bagian akar/batang dan sedimen hingga kedalaman 20 cm.  Analisis data menggunakan software Microsoft Excel. Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan 25 spesies makrozoobentos dari 13 famili. Kelimpahan makrozoobentos tertinggi ditemukan pada tipe akar napas yaitu sebesar 29 ind/m² dan terendah pada tipe akar lutut sebesar 18,78 ind/m². Nilai indeks keanekaragaman pada ketiga tipe perakaran yang berbeda tergolong sedang dengan nilai berkisar antara 2,231-2,596. Nilai parameter lingkungan yang diperoleh masih sesuai untuk kehidupan makrozoobentos. Korelasi pH tanah dan kelimpahan makrozoobentos tergolong kuat dengan koefisien korelasi sebesar 0,557. Korelasi salinitas dengan kelimpahan makrozoobentos tergolong sangat kuat dengan koefisien korelasi sebesar 0,932. Korelasi pH tanah dengan keanekaragaman makrozoobentos tergolong sangat kuat dengan koefisien korelasi sebesar 0,944. Korelasi antara salinitas dan keanekaragaman makrozoobentos tergolong cukup dengan koefisien korelasi sebesar 0,321. Mangroves have a distinctive root system that is utilized by marine biota as a refuge and foraging area. Mangroves act as food providers for macrozoobenthos biota and vice versa macrozoobenthos contribute to the process of decomposition of organic matter to help mangroves in obtaining nutrients. The purpose of this study was to determine the abundance and diversity of macrozoobenthos in different mangrove rooting types in the mangrove area of Benoa Bay, Bali and its correlation with environmental parameters. This research was conducted from December 2024 to February 2025 in the mangrove ecosystem of Benoa Bay, Bali. The method used was descriptive with a quantitative approach. Macrozoobenthos samples were taken at the root/stem and sediment to a depth of 20 cm.  Data analysis using Microsoft Excel software. Based on the observation, 25 species of macrozoobenthos from 13 families were found. The highest abundance of macrozoobenthos was found in the breath root type which amounted to 29 ind/m² and the lowest in the knee root type at 18.78 ind/m². Diversity index values in the three different root types were classified as moderate with values ranging from 2.231-2.596. Environmental parameter values obtained are still suitable for macrozoobenthos life. Correlation of soil pH and macrozoobenthos abundance is strong with a correlation coefficient of 0.557. Correlation of salinity with macrozoobenthos abundance is very strong with a correlation coefficient of 0.932. Correlation of soil pH with macrozoobenthos diversity is very strong with a correlation coefficient of 0.944. The correlation between salinity and macrozoobenthos diversity is moderate with a correlation coefficient of 0.321.
Kesehatan Ekosistem Lamun di Pantai Kartini, Pantai Prawean, dan Pantai Semat Jepara Salsabila Nur Nilamsari; Ita Riniatsih; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.42823

Abstract

Ekosistem lamun berperan penting sebagai peredam gelombang, perangkap sedimen, produsen primer, bahan obat, habitat dan tempat memijah biota di perairan. Kondisi ekosistem diperairan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain dampak masukan sedimen dan nutrien dari daratan dan aktivitas manusia. Perubahan kondisi perairan akan berpengaruh terhadap kesehatan ekosistem lamun. Penilaian Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) diperlukan untuk menggambarkan perubahan kondisi kesehatan ekosistem lamun di perairan. Penilaian ini penting diketahui sebagai langkah awal upaya konservasi berdasarkan kondisi ekosistem lamun apakah mengalami peningkatan maupun penurunan. Hasil penilaian tersebut digunakan untuk mengetahui tindakan yang dilakukan dalam menjaga kelestarian ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui perbandingan nilai IKEL di Pantai Kartini, Pantai Prawean, dan Pantai Semat Kabupaten Jepara. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif exploratif dan transek garis digunakan dalam pengambilan sampel. Parameter yang diamati meliputi keanekaragaman jenis dan tutupan lamun, tutupan makroalga, tutupan epifit, serta kecerahan perairan. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Oceana serrulata, dan Thalassia hemprichii. Nilai IKEL yang diperoleh di Pantai Kartini sebesar 0,52, Pantai Semat sebesar 0,41 yang termasuk dalam kategori buruk dan Pantai Prawean sebesar 0,63 dengan kategori sedang. Jenis aktivitas yang berpengaruh terhadap nilai IKEL di lokasi penelitian meliputi kegiatan dermaga, pemukiman warga, kegiatan wisata, dan nelayan. Seagrass ecosystems have important roles as wave absorbers, sediment traps, primary producers, medicinal materials, habitats and spawning grounds for aquatic biota. The condition of seagrass ecosystems in the waters is influenced by many factors, including the impact of sediment and nutrient inputs from land and human activities. Changes in water conditions will affect the health of seagrass ecosystems. Therefore, an assessment of the Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) is needed to describe changes in the health condition of seagrass ecosystems in the waters. The assessment is important to know as the first step of conservation efforts for monitoring based on the condition of the seagrass ecosystem whether it has increased or decreased. Thus, the value is used to determine the actions that must be taken in preserving the seagrass ecosystem. The purpose of this study was to determine the comparison of SEQI values at Kartini Beach, Prawean Beach, and Semat Beach, Jepara Regency. The data collection method used was a line transect conducted at three stations. Parameters observed include seagrass species diversity, seagrass cover, macroalgae cover, epiphyte cover, and water brightness.Seagrass species found in the research location are Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Oceana serrulata, and Thalassia hemprichii. The SEQI value obtained is Kartini Beach at 0.52 and Semat Beach at 0.41 with a poor category and Prawean Beach at 0.63 with a moderate category. Activities that affect the SEQI value at the research location include dock activities, residential areas, tourism activities, and fishermen.
Efektivitas Bioremediasi Air Laut yang Terkontaminasi Minyak Mentah menggunakan Oil Spill Dispersant (OSD) dan Bacillus subtilis CYA27 Kurnia Nia Yati; Moh Yani; Anas Miftah Fauzi
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.52937

Abstract

Tumpahan minyak di perairan merupakan permasalahan lingkungan yang serius dan memerlukan penanganan yang cepat serta efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kombinasi oil spill dispersant (OSD) dan bakteri Bacillus subtilis CYA27 dalam proses bioremediasi minyak bumi pada skala laboratorium. Dua jenis OSD digunakan, yaitu Bio-OSD berbahan dasar olein sawit dan non-Bio-OSD berbasis turunan minyak bumi. Bioremediasi dilakukan dengan variasi rasio OSD terhadap minyak (Dispersant to Oil Ratio/DOR) sebesar 0,1:1, 0,5:1, dan 1:1. Efektivitas biodegradasi dievaluasi melalui pengukuran total petroleum hydrocarbon (TPH) dan analisis GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Bio-OSD + B. subtilis CYA27 pada DOR 0,5:1 menghasilkan efisiensi degradasi tertinggi, yaitu sebesar 68,5%. Ini ditandai dengan hilangnya senyawa hidrokarbon rantai panjang (C16–C44) pada kromatogram GC-MS. Fase eksponensial pertumbuhan B. subtilis CYA27, yang terjadi antara jam ke-3 hingga jam ke-45, menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah sel. Selama proses bioremediasi, nilai pH tetap berada dalam kisaran optimal (7,15–8,59), yang mendukung aktivitas metabolik bakteri. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi antara Bio-OSD dan B. subtilis CYA27 merupakan pendekatan yang efektif dan berpotensi sebagai strategi berkelanjutan dalam penanggulangan tumpahan minyak di lingkungan perairan.
Total Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Gracilaria Sp. Hasil Pemisahan Kromatografi Kolom Anindita Rizky Nittya; Hafiludin Hafiludin
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.46338

Abstract

Rumput laut Gracilaria sp. merupakan jenis rumput laut yang memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, steroid, saponin, flavonoid, dan tanin. Sumber senyawa antioksidan pada Gracilaria sp. berasal dari senyawa yang bersifat fenolik. Aktivitas antioksidan pada ekstrak kasar Graciilaria sp. didapatkan nilai IC50 masih tergolong rendah dan memerlukan pemurnian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa bioaktif dan total flavonoid pada ekstrak metanol rumput laut Gracilaria sp. serta aktivitas antioksidan hasil pemisahan menggunakan kromatografi kolom. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu analisis fitokimia, pemilihan eluen terbaik menggunakan metode kromatografi lapis tipis, pemisahan ekstrak metanol Gracilaria sp. dengan menggunakan kromatografi kolom, analisis total flavonoid, dan analisis aktivitas antioksidan hasil pemisahan kromatografi kolom. Senyawa bioaktif hasil analisis fitokimia pada ekstrak metanol Gracilaria sp. didapatkan senyawa flavonoid dan saponin Pemilihan eluen terbaik menggunakan kromatografi lapis tipis dengan perbandingan eluen n-heksan : etil asetat (7:3), (16:4), (17:3), dan (18:2). Hasil pemilihan eluen terbaik dan identifikasi senyawa menggunakan kromatografi lapis tipis didapatkan nilai Rf terbaik dihasilkan oleh perbandingan eluen n-heksan : etil asetat (7:3) sebesar 0,963 cm dengan warna noda jingga. Pemisahan ekstrak metanol Gracilaria sp. dengan kromatografi kolom didapatkan total 9 fraksi. Analisis total flavonoid hasil pemisahan kromatografi kolom dilakukan pada fraksi dengan nilai absorbansi tertinggi didapatkan sebesar 12,456 mg QE/g. Aktivitas antioksidan pada fraksi dengan nilai absorbasi tertinggi didapatkan nilai IC50 sebesar 219,17 ppm. Aktivitas antioksidan yang didapatkan lebih baik dari hasil aktivitas antioksidan ekstrak kasar rumput laut Gracilaria sp. 
Korelasi Kesehatan Mangrove dengan Kelimpahan Gastropoda di Ekosistem Mangrove Desa Pejarakan, Bali Putu Gita Asmarani; Gede Surya Indrawan; Ni Made Ernawati
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.45044

Abstract

Mangrove merupakan flora yang tumbuh di pesisir pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut. Salah satu biota yang berasosiasi di ekosistem mangrove adalah gastropoda. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan mangrove, kelimpahan gastropoda, korelasi kesehatan mangrove dan kelimpahan gastropoda serta kondisi parameter lingkungan dan substrat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang menggambarkan atau menjelaskan fenomena yang sedang terjadi melalui pengumpulan dan analisis data numerik. Pengambilan dan analisis data dilakukan pada bulan Januari 2024. Data mangrove dan sampel gastropoda di ambil  di ekosistem mangrove Desa Pejarakan, Bali, sedangkan identifikasi gastropoda dan analisis data dilakukan di Laboratorium Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana. Pengumpulan data mangrove dilakukan dengan metode purposive sampling membuat plot berukuran 10x10m2, sedangkan untuk sampel gastropoda dikoleksi menggunakan subplot berukuran 1x1 meter2 di dalam plot mangrove. Stasiun pengambilan data berjumlah 3 dengan total 9 plot per stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Kesehatan Mangrove di lokasi penelitian berkisar antara 30,83%-63,38% dengan kategori kesehatan buruk (poor) hingga sedang (Moderate). Jenis gastropoda yang ditemukan yaitu sebanyak 14 spesies dari 10 Famili yang didominansi oleh gastropoda yang berasal dari famili Potamididae yaitu spesies Terebralia sulcata dan Telescopium telescopium. Kesimpulan dari hasil yang didapatkan korelasi antara kesehatan mangrove dengan kelimpahan gastropoda menunjukkan hubungan positif dengan nilai koefisien (r) senilai  0,64 yang artinya adanya pengaruh kesehatan mangrove terhadap kelimpahan gastropoda pada suatu ekosistem. Kemudian, kondisi parameter perairan dan tipe substrat di lokasi penelitian ideal bagi kehidupan mangrove dan gastropoda.
Pengelolaan Konservasi Penyu Di Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Heny Budi Setyorini; Agustina Setyaningrum; Edy Masduqi; Sri Haryanti Prasetiyowati; Primanda Kiky Widyaputra
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.45156

Abstract

Kawasan pesisir Kabupaten Bantul memiliki karakteristik tipe pantai berpasir yang berfungsi sebagai lokasi peneluran penyu. Penyu merupakan biota laut yang tengah menghadapi ancaman kepunahan karena faktor manusia maupun alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengelolaan yang telah dilakukan sebagai dasar dalam pengembangan konservasi penyu untuk menjaga kelestarian penyu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2023 di Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Materi dalam penelitian ini meliputi penyu, dan pengelola konservasi penyu di Pantai Samas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik pengambilan data melalui wawancara mendalam (indepth interview) bersama Bapak Rujito selaku pengelola konservasi penyu di Pantai Samas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis penyu yang mendarat di Pantai Samas, Kabupaten Bantul, antara lain penyu lekang (L. olivacea), penyu sisik (E. imbricate), dan penyu belimbing (D. coriacea). Upaya pengelolaan konservasi penyu di Pantai Samas diwujudkan melalui berbagai aktivitas, antara lain peneluran penyu, penetasan telur penyu, pelepasan tukik, penyelamatan penyu yang sakit, dan peningkatan kualitas habitat alami penyu. Upaya pengelolaan tersebut telah melibatkan berbagai pihak, antara lain masyarakat lokal, komunitas reiSPIRASI, Pemerintah Daerah, dan pemerhati lingkungan. The coastal area of Bantul Regency features sandy beaches that serve as nesting sites for sea turtles. Sea turtles are marine organisms currently facing the threat of extinction due to both human and natural factors. This study aims to identify the management efforts undertaken as a foundation for developing conservation strategies to preserve sea turtles. The research was conducted in January 2023 at Samas Beach, Bantul Regency, Yogyakarta. The subjects of this study included the sea turtles and the conservation managers at Samas Beach. The method used in this research is descriptive, utilizing in-depth interviews with Mr. Rujito, the manager of turtle conservation at Samas Beach. The results indicate that several species of turtle’s land at Samas Beach, Bantul Regency, including the olive ridley turtle (L. olivacea), the hawksbill turtle (E. imbricata), and the leatherback turtle (D. coriacea). The turtle conservation management efforts at Samas Beach include various activities such as turtle nesting, egg hatching, turtle hatchling release, rescuing sick turtles, and improving the natural habitat quality for turtles. These conservation efforts have involved various parties, including local communities, the reiSPIRASI community, the local government, and environmental activists.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue