cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Analisis Kesesuaian Wisata dan Daya Dukung Kawasan di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Nusa Tenggara Barat Nisrina Audini; Agus Indarjo; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.35646

Abstract

Kuta Mandalika merupakan salah satu destinasi wisata di Lombok yang menjadi prioritas utama kunjungan wisatawan. Mandalika memiliki konsep pengembangan pariwisata yang berbasis wawasan lingkungan. Daya dukung kawasan mempunyai keterkaitan dengan pengelolaan secara berkelanjutan, artinya dalam pengembangan wisata untuk peningkatan ekonomi hendaknya memperhatikan aspek ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan yang menjadi daya dukung untuk kesesuaian kawasan wisata dan menyusun alternatif strategi pengelolaan untuk pengembangan wisata Pantai Kuta Mandalika, Lombok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan purposive sampling untuk pengambilan data, analisis parameter fisika dan kimia, analisis kesesuaian wisata, dan analisis daya dukung kawasan. Kesesuaian kawasan Pantai Kuta Mandalika, Lombok dinilai sangat cocok untuk kegiatan rekreasi pantai, berenang, snorkeling, diving serta aktifitas wisata air lainnya. Hasil perhitungan Indeks kesesuaian wisata menunjukkan nilai di atas 80% yang termasuk kategori S1 atau Sangat Sesuai. Daya Dukung Kawasan di wilayah Pantai Kuta Mandalika mengindikasikan bahwa kawasan ini dapat menampung 105 orang per hari untuk kegiatan rekreasi pantai. Strategi pengelolaan dan pengembangan kawasan wisata dapat dilakukan dengan cara pemaksimalan promosi wisata, menyediakan aktraksi-aktraksi wisata, pengoptimalan penyerapan tenaga kerja dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. Pembatasan jumlah pengunjung wisatawan bertujuan untuk menjaga kualitas kenyaman sekaligus agar tidak melebihi daya dukung kawasan wisata.
Kandungan Logam Berat Pada Ikan Pelagis di Pesisir Kota Cilegon Silvi Olivia Putra Nia; Agung Setyo Sasongko; Ahmad Beni Rouf
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.44745

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kandungan logam berat tembaga (Cu) dan juga kadmium (Cd) pencemaran pada perairan muara sungai sekitar wilayah Kota Cilegon. Stasiun penelitian ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data primer dari observasi. Penelitian ini juga akan mengambil sampel organisme yaitu ikan pelagis yang ada di sekitar muara sungai. Selanjutnya dilakukan analisis logam berat menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) untuk mengetahui kandungan logam pada organisme. Hasil penelitian sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menunjukkan perairan muara sungai di wilayah Kota Cilegon sebagian tidak terdeteksi adanya kandungan logam berat Kadmium (Cd), namun sebagian lagi terdeteksi adanya kandungan logam tembaga (Cu), sebesar 0,116 mg/L. Demikian pula organisme yang hidup di dalam perairan, yaitu ikan. Ikan pelagis kecil sering ditemui di berbagai muara sungai, ikan ini bersifat estuari (air tawar, dan air asin). Hasil pengamatan logam berat menunjukkan beberapa ikan (ikan belanak, ikan kaca asia, dan ikan mujair) yang sering ditemui mengandung logam berat kadmium (Cd) dan tembaga (Cu), dengan rata-rata logam kadmium (Cd) sebesar 1,2517 mg/kg dan rata-rata logam tembaga (Cu) sebesar 0,5527 mg/kg. Hasil ini tentu saja lebih dari batas standar baku mutu yang ada sesuai dengan Permen KP Nomor: 37/PERMEN-KP/2019 baku mutu tembaga (Cu) ialah 0,3 mg/kg dan sesuai dengan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2022 baku mutu Kadmium (Cd) ialah 0,05 mg/kg, sehingga ikan-ikan di perairan ini tidak bisa dikonsumsi.  This study was conducted to determine the content of heavy metals, such as copper (Cu) and cadmium (Cd), that are polluting the estuary waters around the Cilegon City area. The research station was determined using the purposive sampling method. The research was conducted in a quantitative descriptive study using primary data from observations. This study will also take samples of organisms, namely pelagic fish, around the estuary. Furthermore, heavy metal analysis was carried out using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) to determine the metal content in organisms. The results of the study following Government Regulation No. 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management showed that the waters of the river estuary in the Cilegon City area were partially undetectable for heavy metal Cadmium (Cd). Still, some were detected for copper (Cu), amounting to 0.116 mg / L. Similarly, the organisms living in the waters of the river estuary in the Cilegon City area were not detected. Similarly, the organisms that live in the waters are fish. Small pelagic fish are often found in various river estuaries; these fish are found in both freshwater and saltwater estuaries. The results of heavy metal observations show that some fish (mullet, Asian glassfish, and tilapia) are often found to contain heavy metals cadmium (Cd) and copper (Cu), with an average cadmium metal (Cd) of 1.2517 mg/kg and an average copper metal (Cu) of 0.5527 mg/kg. These results are of course more than the limit of the existing quality standards following KP Regulation Number: 37/PERMEN-KP/2019 copper (Cu) quality standard is 0.3 mg/kg and following the Food and Drug Administration Regulation Number 9 of 2022 the quality standard for Cadmium (Cd) is 0.05 mg/kg, so the fish in these waters cannot be consumed. 
Hubungan Jenis Lamun dengan Jenis Sedimen di Perairan Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah Nur Ikhsan Setiawan Jody; Ita Riniatsih; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49327

Abstract

Padang lamun di ekosistem perairan dangkal memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai produsen primer, tempat tinggal bagi berbagai biota, menstabilkan dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur zat hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan  jenis lamun dan substrat dasar di Pantai Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah. Data  komposisi jenis dan persentase tutupan lamun dikumpulkan dengan metode line transect quadrat yang panjangnya 100 m pada jarak antara transek satu sama lainnya 50 m dengan pengulangan sebanyak 11 kuadran di satu line transect. Sementara itu, dilakukan analisis laboratorium untuk mengetahui nitrat dan fosfat menggunakan metode spektrofotometri, sedangkan bahan organik menggunakan metode pengabuan dan substrat dasar menggunakan analisis granolometri. Hasil menunjukkan di Pantai Prawehan rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 74,21% ± 14,12%; nitrat, fosfat, dan bahan organik tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir. Sementara iitu, di Pantai Marina memiliki rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 56,26% ± 3,47%; nitrat, fosfat, dan bahan organik yang tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir kasar. Hasil PCA menunjukan bahwa  Oceana  serrulata dan Cymodocea rotundata berkorelasi positif dengan lumpur dan nitrat. Thalassia hemprichii berkorelasi positif dengan bahan organik, tutupan, fosfat,pasir dan salinitas. Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium dan Enhalus acoroides. 
Analisis Hubungan Aktivitas Petrokimia terhadap Kelimpahan Mikroplastik di Perairan dan Sedimen Pantai Sekucing (Kab. Kendal), Pantai Karangjahe dan Caruban (Kab. Rembang) Denny Hendrik Nainggolan; Amelia Naomi Agustina; Haryo Mubiarto
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.54213

Abstract

Pencemaran mikroplastik menjadi isu lingkungan di kawasan wisata pantai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelimpahan, karakteristik, dan sumber mikroplastik serta upaya penanggulangannya di Pantai Sendang Sikucing (Kendal), Pantai Karang Jahe, dan Pantai Caruban (Rembang). Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan pengambilan sampel air dan sedimen berdasarkan SNI 8995:2021. Identifikasi mikroplastik dilakukan melalui penyaringan basah, oksidasi peroksida, pemisahan densitas, mikroskopi, dan analisis FT-IR. Hasil menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik tertinggi di perairan ditemukan di Pantai Karang Jahe (0,26315 partikel/m³), sedangkan pada sedimen juga tertinggi di lokasi yang sama (0,38768 partikel/kg). Jenis mikroplastik yang ditemukan meliputi fragmen, serat, dan film. Sumber utama berasal dari aktivitas industri, pelabuhan, perikanan, pariwisata, dan pemukiman. Disimpulkan bahwa pencemaran mikroplastik di pantai perlu ditangani melalui edukasi publik, insentif pengurangan sampah plastik, dan penegakan aturan terhadap pelanggaran.  Microplastic pollution has become a major environmental issue in coastal tourist areas. This study aims to analyze the abundance, characteristics, and potential sources of microplastics, as well as mitigation strategies, at Sendang Sikucing Beach (Kendal), Karang Jahe Beach, and Caruban Beach (Rembang). A quantitative descriptive method was used, with water and sediment samples collected in accordance with SNI 8995:2021. Microplastic identification involved wet sieving, wet peroxide oxidation, density separation, microscopy, and FT-IR analysis. Results show the highest microplastic abundance in seawater at Karang Jahe Beach (0.26315 particles/m³) and in sediment at the same site (0.38768 particles/kg). Identified microplastics include fragments, fibers, and films. Main sources include industrial, port, fisheries, tourism, and residential activities. The study concludes that microplastic pollution in coastal areas requires public education, incentives for plastic reduction, and strict enforcement of environmental regulations.
Penambahan Plasticizer Sorbitol terhadap Karakteristik Bioplastik dari Limbah Dekaragenan Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty ex P. C. Silva, 1966 Esayani Rosadi; Ali Ridlo; Sunaryo Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.40654

Abstract

Kekhawatiran terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbaharui menyebabkan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dan mudah terurai (biodegradable) sebagai bahan baku pembuatan bioplastik menjadi solusi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sorbitol terhadap sifat fisik, mekanik (kuat tarik dan elongasi) dan biodegradabilitas bioplastik limbah dekaragenan Kappaphycus alvarezii, meliputi: kuat tarik, elongasi, ketebalan, ketahanan air, keburaman, laju transmisi uap air dan biodegradasi. Penelitian menggunakan metode ekperimental laboratoris dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 5 konsentrasi sorbitol yang berbeda, yaitu: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) dan E(12%) dengan 3 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varians dan apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Tukey. Bioplastik dibuat dengan mencampurkan 50 gram limbah dekaragenan K. alvarezii dan 100 mL akuades dipanaskan selama 30 menit suhu 700C, kemudian ditambahkan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda-beda (0, 3, 6, 9, dan 12%). Campuran limbah K. alvarezii dan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda kemudian dilarutkan dengan 100 mL akuades dan dipanaskan selama 30 menit dengan suhu 700C menggunakan hot plate magnetic stirrer. Bioplastik kemudian dituang pada cetakan dan dikeringkan di oven pada suhu 600C selama 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sorbitol yang berbeda berpengaruh sangat  nyata terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik (p<0,01). Bioplastik terbaik terdapat pada penambahan konsentrasi sorbitol 3% dengan kuat tarik sebesar 2,92±0,04 N/mm2, elongasi 19,43±0,94%, ketebalan 208,33±6,43µm, ketahanan air 87,52±0,01%, keburaman 27,08±0,33%, laju transmisi uap air  0,0031±0,0001 g/mm2/hari dan tingkat biodegradasi sebesar 93,42±0,01% per hari.Concerns about non-renewable resources have led to the use of renewable and biodegradable natural resources as raw materials for bioplastics production as an alternative solution. This research aims to determine the effect of sorbitol concentration on the physical, mechanical properties of Kappaphycus alvarezii decarrageenan waste bioplastics, including: tensile strength, elongation, thickness, water resistance, opacity, water vapor transmission rate and biodegradation. The research used experimental laboratories method and was designed using a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 5 differences sorbitol concentrations, namely: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) and E(12%) with 3 replications. Data were analyzed using one way anova, furthermore, a Tukey test was carried out if there were significant differences between the treatments. Bioplastics were made by mixing 50 grams of K. alvarezii decarrageenan waste and 100 mL of distilled water heated for 30 minutes at 70°C, then adding sorbitol with different concentrations (0, 3, 6, 9, and 12%).The mixture of K. alvarezii waste and sorbitol with different concentrations was then dissolved in 100 mL of distilled water and heated for 30 minutes at 70°C using a magnetic stirrer hot plate. The bioplastic is then poured into the mold and dried in the oven at 60°C for 12 hours. The results showed that different concentrations of sorbitol had a very significant effect on the physical and mechanical properties of bioplastics (p<0.01). The best bioplastic is found with the addition of 3% sorbitol concentration with a tensile strength of 2.92 ± 0.04 N/mm2, elongation of 19.43 ± 0.94%, thickness of 208.33 ± 6.43 µm, water resistance of 87.52 ± 0 .01%, opacity 27.08±0.33%, water vapor transmission rate 0.0031±0.0001 g/mm2/day and biodegradation rate 93.42±0.01% per day.  
Analisis Kesesuaian Perairan untuk Budidaya Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Perairan Menjagan Besar, Taman Nasional Karimunjawa, Jepara Jamaludin Jamaludin; Arif Mustofa; Luky Mudiarti
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.48068

Abstract

Gugusan kepulauan Karimunjawa yang mempunyai potensi tinggi, baik di tinjau keanekaragaman sumberdaya hayati, sumberdaya ikan dan tentunya faktor pendukung ialah ekosistem terumbu karang yang sehat untuk menunjang produksi perikanan. Dengan jarak yang terjangkau relative tidak jauh, perairan yang tenang, terlindung yang menjadi faktor penentu lokasi dan kesesuaian zonasi yang berada di Taman Nasional Karimunjawa. Kepulauan Menjangan Besar secara maritim mempunyai kelimpahan dan ekosistem yang cukup lengkap antara lain mangrove, padang lamun, tumbuhan pantai dan terumbu karang yang mengelilingi kepulauan, pengembangan budidaya berbasis keramba jaring apung (KJA) khususnya ikan kerapu. Penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya ikan kerapu macan sangat diperlukan untuk mendukung efektivitas budidaya. Beberapa parameter yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi yaitu parameter suhu, salinitas, DO, kedalaman, pH, kecerahan, kecepatan arus, gelombang, nitrat dan fosfat. Penelitian ini dilakukan melalui survei pada 7 titik stasiun dengan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui modifikasi pada matriks kriteria kesesuaian. Berdasarkan hasil perhitungan matriks kesesuaian diperoleh bahwa stasiun 3 (91%), stasiun 4 (87%) dan stasiun 5 (82%) merupakan daerah yang sesuai untuk menunjang kegiatan budidaya budidaya. Dari 7 stasiun tersebut maka dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata skoring dan pembobotan menunjukkan bahwa stasiun 3 (91%) merupakan lokasi yang paling baik untuk dijadikan lokasi budidaya ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).  The Karimunjawa archipelago has high potential, both in terms of the diversity of biological resources, fish resources and of course the supporting factor is a healthy coral reef ecosystem to support fisheries production. With a relatively close reach, calm, protected waters are the determining factors for the location and suitability of the zoning in the Karimunjawa National Park. The Menjangan Besar Islands maritimely have an abundance and a fairly complete ecosystem including mangroves, seagrass beds, coastal plants and coral reefs surrounding the islands, development of floating net cage-based cultivation (KJA) especially grouper fish. Determining a suitable location for tiger grouper fish cultivation activities is very necessary to support the effectiveness of cultivation. Several parameters that need to be considered in determining the location are temperature, salinity, DO, depth, pH, brightness, current speed, waves, nitrate and phosphate. This study was conducted through a survey at 7 station points using the purposive sampling method. Data analysis was carried out through modifications to the suitability criteria matrix. Based on the results of the suitability matrix calculations, it was obtained that station 3 (91%), station 4 (87%) and station 5 (82%) are areas suitable for supporting cultivation activities. From the 7 stations, it can be concluded that the average scoring and weighting values show that station 3 (91%) is the best location to be used as a location for cultivating tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus).
Sebaran Jenis Diatom Di Perairan Teluk Bima: Pasca Fenomena Seasnot Chandrika Eka Larasati; Paryono Paryono; Ayu Adhita Damayanti; Baiq Hilda Astriana; Rhojim Wahyudi
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.48847

Abstract

Fenomena sea snot di Teluk Bima diduga mempengaruhi struktur komunitas diatom sebagai bagian penting dari ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi dan kelimpahan diatom di perairan Teluk Bima pasca fenomena tersebut. Pengambilan sampel dilakukan di 10 stasiun menggunakan plankton net, kemudian diidentifikasi di laboratorium menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400×. Identifikasi jenis diatom menggunakan bantuan alat Sedgwick rafter counting cell, sedangkan sebaran diatom diolah dengan Analisis Koresponden (CA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nitzschia longissima merupakan spesies yang paling melimpah (14.837 sel/L), diikuti oleh Coscinodiscus centralis (11.629 sel/L), sementara spesies lainnya memiliki kelimpahan kurang dari 1.500 sel/L. Hasil analisis koresponden menunjukkan adanya sebaran jenis diatom dan stasiun penelitian yang terbagi menjadi  dua kelompok. Kelompok I (Stasiun 3, 4, 5, 6, 9, dan 10) dicirikan oleh spesies Bacteriastrum sp., Chaetoceros atlanticus, C. constrictus, C. didymus, Coscinodiscus granii, C. wailesii, N. longissima, dan Surirella robusta, yang ditemukan di muara, kawasan budidaya rumput laut, industri minyak bumi, dan wilayah bekas pencemaran sea snot tahun 2022. Kelimpahan jenis diatom yang tinggi pada stasiun ini diduga dipengaruhi oleh parameter lingkungan perairan. Selain itu, keberadaan sungai dan mangrove kaya akan sumber hara yang sangat dibutuhkan oleh diatom untuk pertumbuhannya. Kelompok II (Stasiun 1, 2, 7, dan 8) dicirikan oleh C. centralis, C. lineatus, Hemidiscus hardmanianus, Pleurosigma normanii, dan Pseudonitzschia, yang lebih beradaptasi pada perairan dengan pengaruh air tawar.Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi perairan pasca sea snot dapat mempengaruhi distribusi diatom. Hasil ini dapat menjadi dasar dalam pemantauan ekosistem perairan dan strategi mitigasi eutrofikasi di Teluk Bima.
Profil Kandungan Fitokimia Ekstrak Lamun Enhalus acoroides Sebagai Antibakteri Escherichia coli dan Vibrio harveyi dari Perairan Sapeken-Madura Eka Nurrahema Ning Asih; Siti Nihayatun Ni&#039;amah; Insafitri Insafitri; Ary Giri Dwi Kartika; Wiwit Sri Werdi Pratiwi; Nike I. Nuzula
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39354

Abstract

Meningkatnya penggunaan antimikroba sintetik beresiko menghasilkan mutasi strain bakteri patogen resisten dan jumlah toksisitas perairan menyebabkan gagalnya budidaya perikanan. Perlu alternatif lain untuk mengatasi resiko ini dengan mengoptimalkan vegetasi laut kaya senyawa bioaktif sebagai antibakteri seperti lamun Enhalus acoroides dari perairan Sapeken. Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan fitokimia ekstrak E.acoroides dan menganalisis perbedaan signifikan zona hambat bakteri V. harveyi dan E. coli terhadap beberapa konsentrasi ekstrak E. acoroides. Metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, uji fitokimia merujuk Harbone (1987) dan uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Terdapat 4 konsentrasi ekstrak yang diuji antibakteri yaitu 10000 ppm, 20000 ppm, 40000 ppm dan 80000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), dan kontrol negatif (aquades) dengan 3 kali ulangan selama 3x24 jam pengamatan. Uji ANOVA dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan signifikan pengaruh konsentrasi ekstrak E. acoroides terhadap masing-masing bakteri uji. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak E. acoroides dari perairan Sapeken mengandung alkaloid, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat bakteri E. coli berbeda nyata signifikan (p<0,05) terhadap konsentrasi ekstrak, sebaliknya diameter zona hambat V. harveyi tidak berbeda nyata signifikan (p>0,05) terhadap konsentrasi ekstrak. Konsentrasi 80.000 ppm merupakan konsentrasi terbaik sebagai antibakteri E. coli dan V. harveyi. Penelitian ini menjadi informasi awal pengembangan produk antimikroba berbahan E. acoroides.
Mikroplastik pada Biofilm Daun Lamun Thalassia hemprichii di Perairan Kampung Madong, Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang Raquel Manalu; Andi Zulfikar; Tri Apriadi
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.42350

Abstract

Ekosistem lamun memiliki peran penting dari segi ekologis yaitu sebagai produsen primer, penyedia pangan bagi masyarakat pesisir, menstabilkan sedimen perairan, habitat bagi biota lain, dan tempat mencari makanan. Salah satu ancaman bagi ekosistem lamun ialah sampah plastik berukuran mikro. Keberadaan epifit yang melekat pada biofilm memungkinkan mikroplastik terjerat di biofilm daun lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan mikroplastik serta menganalisis pengaruh tutupan lamun dan luasan daun lamun terhadap kepadatan mikroplastik di biofilm daun laun lamun T. hemprichii. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2023 di Perairan Kampung Madong, Tanjungpinang. Metode penelitian ini menggunakan teknik random samplingsebanyak 30 titik. Hasil penelitian mendapatkan jenis mikroplastik fiber yang karakteristiknya berwarna hitam, biru, dan merah (134,60-269,81 µm). Fragmen yang karakteristik berwarna biru dan hijau (49,21-450,70 µm). Sedangkan film kerakteristiknya berwarna cenderung transparan dan tipis (131,76-224,98 µm). Total mikroplastik yang dijumpai sebanyak 1.178 partikel, dengan kepadatan rata-rata 8 partikel/cm2. Tutupan lamun memiliki pengaruh terhadap kepadatan mikroplastik sedangkan luasan daun lamun T.hemprichii tidak memiliki pengaruh terhadap kepadatan mikroplastik.
Karakteristik Bio-Fisik Pantai Sebagai Tempat Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Di Pantai Kali Ratu Jogosimo Kebumen Dandi Setiawan; Nur Taufiq-SPJ; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.40131

Abstract

Populasi penyu lekang di alam mengalami penurunan diakibatkan oleh aktivitas manusia dan kerusakan alam. Keruskan alam mempengaruhi penyu dalam bereproduksi ataupun bertelur. Pantai yang dipilih sebagai lokasi peneluran harus memenuhi kriteria bio-fisik yang optimal, termasuk akses yang lancar dari laut, posisi sarang yang terletak di tempat yang relative lebih tinggi, adanya pasir pantai berukuran sedang, dan kemiringan pantai yang landai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang biofisik pantai tempat peneluran penyu di Kawasan Pantai Kali Ratu, Jogosimo, Kabupaten Kebumen. Karakteristik bio-fisik meliputi suhu pasir, struktur pasir, lebar pantai, kemiringan pantai, vegetasi pantai dan hewan predator. Karakteristik pantai dapat diperoleh melalui penerapan metode survei dan pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi langsung. Hasil penelitian karateristik bio-fisik Pantai Kali Ratu, meliputi: suhu pasir rata-rata 33,79oC dengan rata-rata pada pukul 07.00 sebesar 30,93oC; pukul 13.00 sebesar 35,14oC; dan pukul 19.00 sebesar 35,29oC. Presentase jenis pasir 97,59% dengan kategori pasir sedang (0.25-0.84 mm). Lebar slope pantai rata-rata 33,26 m dengan rata-rata pada pukul 07.00 sebesar 30,19 m; pukul 13.00 sebesar 42,46 m; dan pada pukul 19.00 sebesar 27,13 m; kemiringan pantai rata-rata 1,99o pada pukul 07.00 sebesar 1,73o; pukul 13.00 sebesar 2,91o; dan pukul 19.00 sebesar 1,33o. Vegetasi pantai yang ditemukan adalah: Eleusine indica, Ipomoea pas-caprae, Spinifex littoreus, Canavalia maritima, dan Cyperus maritima. Sementara hewan predator yang ditemukan burung camar, biawak, anjing, kepiting dan semut api. Sehingga dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pantai Kali Ratu memiliki karakteristik bio-fisik yang menguntungkan atau mendukung sebagai lokasi peneluran yang sesuai bagi penyu lekang.The olive ridley turtle population in nature has decreased due to human activities and natural damage. Natural damage affects turtles in reproduction or laying eggs. The beach chosen as a nesting site must meet optimal bio-physical criteria, including smooth access from the sea, relatively high nest positions, medium-sized beach sand, and a gentle beach slope. Therefore, this study aims to understand the biological and physical characteristics of sea turtle nesting beaches in the Kali Ratu Beach Area, Jogosimo, Kebumen Regency. Bio-physical characteristics, i.e., sand temperature, sand structure, beach width, beach slope, vegetation, and predatory animals. Coastal characteristics can be obtained by applying survey methods and the data were collected by direct observation. The results show that the bio-physical characteristics of Kali Ratu Beach i.e: an average sand temperature of 33.79oC with an average temperature at 07.00 is 30.93oC; at 13.00 is 35.14oC; and at 19.00 is 35.29oC. Percentage of sand structure is dominated by sand in the medium category (0.25-0.84 mm) with an average percentage of sand types of 97.59%. The average beach width is 33.26 m i.e. of 30.19 m at 07.00; 42.46 m at 13.00 at; and at 19.00 it was 27.13 m; meanwhile, the average beach slope is 1.99o i.e. of 1.73o at 07.00; 2.91o at 13.00; and at 19.00 was 1.33o. Coastal vegetation found are: Eleusine indica, Ipomoea pas-caprae, Spinifex littoreus, Canavalia maritimea, and Cyperus maritima. While, predatory animals found are: seagulls, monitor lizards, dogs, crabs and fire ants. Hence, the results showed that Kali Ratu Beach has favorable or supportive in bio-physical characteristics as a suitable nesting location for olive ridley turtles.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue