cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Fungsi Sosial dan Transendental Tradisi Lisan Dero-Sagi Suku Bajawa-Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur Sastri Sunarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.350

Abstract

Keterpingiran dan kehilangan tradisi lisan di Indonesia pada dekade terakhir menjadi isu yang kerap dikeluhkan oleh para peneliti di bidang tradisi lisan. Namun, dalam tulisan ini saya mencoba memperlihatkan bagaimana Dero-Sagi (tradisi lisan) masyarakat Ngada, Bajawa, Flores, NTT bertahan dalam gempuran globalisasi dan permarginalan tradisi lokal. Ritual Dero-Sagi merupakan ritual pengungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen kepada Tuhan YME. Dalam praktiknya Dero-Sagi memiliki dua fungsi yakni fungsi sosial dan fungsi transendental. Tulisan ini bermaksud mengupas kedua fungsi tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud mengungkapkan komposisi skematik lisan dalam tuturan lisan pertunjukan Dero-Sagi.
N. RIANTIARNO, TEATER KOMA, DAN REFLEKSI POLITIK DALAM KARYA SASTRA Ganjar Harimansyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.424

Abstract

This paper was originally the result of a research discussing the syntagm “politics in literature” which reflected a certain relationship between politics as a form of collective practice and literature as a historical regime of the art of writing. The phenomena of N. Riantiarnno as a litterateur, Teater Koma as a theatre institution and Trilogy of Cokroach Opera as a literature piece show a certain aesthetic and politics elements hidden inside the literatures as the reflection of society which is influenced by its history and politics state. On the other hand, the relation between litterateurs, the institution where they worked, the texts they created and the consuming societies indicates that the production and consumption of literature pieces are not separated from practical politics practice. AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian yang berangkat dari sintagma "politik dalam karya sastra" yang merefleksikan hubungan tertentu antara politik sebagai bentuk praktik kolektif dan sastra sebagai rezim historis dari seni menulis. Penelitian ini menggunakan prinsip analisis isi kualitatif dalam kerangka analisis wacana kritis. Di dalam tulisan ini diungkapkan hubungan antara fenomena N. Riantiarno sebagai sastrawan, Teater Koma sebagai institusi teater, dan teks drama sebagai karya sastra memperlihatkan elemen estetik dan politik tertentu yang tersembunyi di dalam karya sastra sebagai refleksi masyarakat yang dipengaruhi kondisi sejarah dan politiknya. Di sisi lain, hubungan sastrawan, institusi tempat ia berkarya, teks yang dihasilkannya, dan masyarakat pengonsumsi karya tersebut memperlihatkan bahwa pemroduksian dan pengonsumsian sebuah karya sastra pun taklepas dari aspek politik praktis. 
Translation Method Analysis on Figurative Language in Novel Crazy Rich Asians Translated into Kaya Tujuh Turunan Riris Mutiara Simamora; Andre Priyono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5265

Abstract

This research is aimed to find the types of figurative language used and to identify translation method that the translator chooses to translate figurative language from Crazy Rich Asians novel into Kaya Tujuh Turunan. This research is descriptive qualitative research with secondary data. The object of this research is a novel by Kevin Kwan titled Crazy Rich Asians (2013) which translated into Kaya Tujuh Turunan (2016) by Cindy Kristianto. The novel is analyzed using Abram’s figurative language theory (1999) and Newmark’s translation method. The novel contains 154 figurative languages. After examining the figurative language data in Crazy Rich Asians, it was discovered that there were 51 similes, 43 hyperboles, 25 imagery, 22 metonymy, and 13 ironies. According to the findings of the research, six of the eight translation methods given by Newmark were employed in translating the words, phrases, clauses, and sentences from English to Indonesian in the novel Crazy Rich Asians. They are literal (94), faithful (4), semantic (3), idiomatic (2), and communicative translation (21). According to the findings of the analysis, the most dominant translation method utilized in translating the novel is literal translation. Based on the most often employed translation methods in translating the novel, it is possible to deduce that the translator prioritizes the corresponding word or expression in the target language that has the same meaning and nuance as in the source language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe gaya bahasa kiasan dan metode penerjemahan gaya bahasa dari novel Crazy Rich Asians menjadi Kaya Tujuh Turunan. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder. Objek dalam penelitian ini adalah novel karya Kevin Kwan yang berjudul Crazy Rich Asians (2013) dengan membandingkan versi terjemahan Bahasa Indonesia Kaya Tujuh Turunan (2016) karya Cindy Kristianto. Novel ini dianalisis dengan menggunakan teori Bahasa kiasan dari Abram (1999) dan metode terjemahan Newmark. Setelah melakukan analisis, ditemukan 154 gaya bahasa kiasan, yaitu 51 bentuk simile, 43 bentuk hiperbola, 25 bentuk imagery, 22 bentuk metonimi, dan 13 bentuk ironi. Ditemukan enam metode dalam penerjemahan gaya bahasa kiasan, yaitu terjemahan literal (94), terjemahan setia (4), terjemahan semantik (3), terjemahan idiomatik (2), dan terjemahan komunikatif (21). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode penerjemahan yang paling dominan adalah terjemahan literal. Metode ini dipakai penerjemah untuk memprioritaskan ekspresi yang paling sesuai dan berterima dalam Bahasa sasaran sehingga pesan dan nuansa yang disampaikan sama seperti dalam Bahasa sumber.
Representasi Citra Perempuan dalam Cerita Rakyat Dayak Kenyah Tilo Enggau Jogarni Maria Marta; Nina Queena Hadi Putri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8281

Abstract

This study aims to reveal the image of women in the Tilo Enggau folktale from the Dayak Kenyah community as a symbolic, spiritual and socio-cultural discourse. This study uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews with informants from the Dayak Kenyah community and documentation of unpublished folklore texts as objects of study. The data were analyzed using three feminist perspectives: radical feminism, cultural feminism and ecofeminism. The results of the study show that the female characters in the story appear as independent figures who reject the norms of marriage, experience supernatural pregnancies and give birth to descendants from heaven. The female characters in this story not only carry out biological functions, but also represent strong socio-cultural constructions. Women are the center of lineage and have symbolic authority as guardians of social harmony. This representation is emphasized through the sacred ancestral speech "ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni" which means "don't come here because we are the grandchildren of the one who took tilo enggau fell," as a symbol of women's authority over lineage and communal harmony. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap citra perempuan dalam cerita rakyat Tilo Enggau dari masyarakat Dayak Kenyah sebagai wacana simbolik, spiritual dan sosial budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap narasumber dari komunitas Dayak Kenyah serta dokumentasi teks cerita rakyat yang belum pernah dipublikasikan sebagai objek kajian. Data dianalisis menggunakan tiga perspektif feminisme: feminisme radikal, feminisme kultural dan ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam cerita tampil sebagai figur mandiri yang menolak norma pernikahan, mengalami kehamilan supranatural dan melahirkan keturunan dari kayangan. Tokoh perempuan dalam cerita ini tidak hanya menjalankan fungsi biologis, tetapi juga merepresentasikan konstruksi sosial-budaya yang kuat. Perempuan menjadi pusat garis keturunan dan memiliki otoritas simbolik sebagai penjaga harmoni masyarakat. Representasi ini ditegaskan melalui tuturan sakral leluhur “ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni” yang berarti "jangan datang ke sini karena kami adalah cucu dari yang mengambil tilo enggau jatuh,” sebagai simbol otoritas perempuan atas garis keturunan dan harmoni komunal.
KEARIFAN LOKAL BUDAYA MINANGKABAU DALAM SENI PERTUNJUKKAN TRADISIONAL RANDAI iswadi Bahardur
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.932

Abstract

Randai merupakan seni pertunjukkan  tradisional yang memuat beragam kearifan lokal budaya Minangkabau. Berpedoman pada hal tersebut dipandang penting untuk mengkaji dan meempertahankan kelestarian randai di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau modern. Pertimbangan lainnya adalah pesatnya budaya modern yang berorientasi liberalistik-kapitalistik  memasuki berbagai lapisan kehidupan masyarakat Minangkabau menyebabkan seni tradisi beserta nilai-nilai tradisional mengalami kegamangan. Dilatarbelakangi fakta-fakta tersebut penelitian  terhadap kearifan lokal budaya Minangkabau dalam seni pertunjukkan tradisional randai ini dilakukan. Dengan menggunakan metode library research, tujuan yang hendak dicapai adalah menganalisis unsur kearifan lokal budaya Minangabau dalam seni pertunjukkan tradisional randai. Proses penelusuran literatur dan penelaahan kembali berbagai hasil kajian randai, baik dari aspek estetika gerak dan tari, musik, gerak silat, lakon, dan naskah cerita menghasilkan simpulan bahwa Randai Minangkabau memuat ragam unsur kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, adat, serta falsafah alam.  Temuan ini membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang kaya akan seni tradisi dan berkehidupan  dilandasi oleh ajaran agama, adat, serta kepedulian terhadap alam semesta. 
Eksploitasi Marilyn Monroe dalam Film Blonde Karya Sutradara Andrew Dominik: Perspektif Psikologi Feminisme Umi Rosidah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6331

Abstract

This study reveals the elements of feminism in Blonde by Andrew Dominik through the perspective of feminist psychology. This study aims to 1) reveal and explore the forms of torture and exploitation experienced by Marilyn 2) find out the struggles that Marilyn Monroe did in the film Blonde to fight against this injustice. This research is a qualitative research. This study uses the technique of observing and taking notes carefully and repetitively. Data were analyzed descriptively according to the theory of feminist psychological concepts. The steps of data collection carried out by researchers are as follows. 1) watch the entire contents of the film Blonde carefully. 2) finding data in the form of one by one dialogue related to the main character's feminism in the perspective of feminism psychology contained in the film Blonde. 3) noted the significant features that show the main character's feminism in the perspective of the psychology of feminism contained in the film Blonde. 4) summarize the data related to the psychology of feminism in the Blonde film. This research resulted in an analysis and exploitation of Marilyn Monroe in the form of sexual, physical and verbal violence and no opportunity to determine her own path in life. Struggle in the form of verbal and action by Marilyn Monroe to get out of a bad work environment.AbstrakKajian studi ini mengungkapkan unsur feminisme dalam film Blonde karya Andrew Dominik melalui perspektif psikologi feminis. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengungkapkan dan mengeksplorasi bentuk-bentuk penindasan dan eksploitasi yang dialami Marilyn 2) mengetahui perjuangan yang dilakukan Marilyn Monroe pada film Blonde untuk melawan ketidakadilan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.  Penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat secara saksama dan repetitif. Data dianalisis secara deskriptif sesuai teori konsep psikologi feminisme. Langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut. 1) menonton keseluruhan isi film Blonde secara saksama. 2) menemukan data berupa satuan dialog yang berkaitan tentang feminisme tokoh utama dalam perspektif psikologi feminisme yang terdapat dalam film Blonde. 3) mencatat ihwal-ihwal signifikan yang menunjukkan feminisme tokoh utama dalam perspektif psikologi feminisme yang terdapat dalam film Blonde. 4) meringkas data yang terkait dengan psikologi feminisme dalam film Blonde. Penelitian ini menghasilkan analisis penindasan dan ekploitasi pada Marilyn Monroe dalam bentuk kekerasan seksual, fisik, dan verbal serta tidak ada kesempatan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Perjuangan dalam bentuk verbal dan tindakan yang dilakukan Marilyn Monroe untuk keluar dari situasi lingkungan kerja yang buruk.
MOTIF FIKSI POSMODERN DALAM ADAPTASI KABA CINDUA MATO Esha Tegar Putra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.256

Abstract

In Minangkabau cosmology, Kaba Cindua Mato occupies an important position. Kaba is a representation of the balance, orderliness, and the structure of Minangkabau society. The structure of the story is arranged genealogically, tracing the presence of Bundo Kanduang as an analogy of the 'nature' of Minangkabau so that Kaba Cindua Mato can be said as an ideal image of the Minangkabau. This idealization makes Kaba Cindua Mato popular from time to time. The story in the kaba continues to experience the process of transformation, from oral stories to written text, audio, and video. Tito Alexi's Cindua Mato novel is the latest adaptation of Kaba Cindua Mato by Syamsuddin St.. Rajo Endah. Tito Alexi revamped the time context in the novel by presenting Minangkabau after the nuclear war took place and the people formed new colonies. Tito Alexi also transformed kaba’s linear flow into a flashback with the addition and subtraction of some events in kaba. What is the form of change in the adaptation of kaba done by Tito Alexi? The main argument of this research is that Tito Alexi did the adaptation using postmodern novel concept.ABSTRAKDalam kosmologi Minangkabau,  Kaba Cindua Mato menempati posisi penting. Kaba tersebut merupakan penggambaran dari keseimbangan, ketertiban, dan struktur masyarakat Minangkabau. Struktur ceritanya secara genealogis, merunut kehadiran Bundo Kanduang sebagai analogi dari ‘alam’Minagkabau hingga Kaba Cindua Mato dapat dikatakan sebagai gambaran ideal tentang Minangkabau Keidealan tersebut membuat Kaba Cindua Mato digemari dari masa ke masa. Cerita dalam kaba tersebut terus mengalami proses alih wahana, mulai dari cerita lisan hingga teks tertulis, audio, dan video. Novel Cindua Mato karya Tito Alexi merupakan adaptasi terbaru yang berangkat dari Kaba Cindua Mato karangan Syamsuddin St. Rajo Endah. Tito Alexi melakukan perombakan terhadap konteks waktu dalam novel dengan menghadirkan Minangkabau setelah perang nuklir terjadi dan masyarakat membentuk koloni-koloni baru.  Tito Alexi turut mengubah alur linear kaba menjadi kilas balik dengan penambahan dan pengurangan beberapa peristiwa dalam kaba. Bagaimana bentuk perubahan dalam proses adaptasi terhadap kaba yang dilakukan Tito Alexi? Argumen utama penelitian ini bahwa Tito Alexi telah melakukan proses adaptasi menggunakan konsep novel posmodern. 
PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI Jentera: jurnal Kajian Sastra Volume 10, No 2, Desember 2021
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BAHASA DAN SASTRA MODERN INDONESIA SEBAGAI BAHASA DAN SASTRA PERKOTAAN Aslan Abidin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.388

Abstract

Universitas Negeri Makassar
Menyoal Konsep Keibuan di Indonesia dan Nigeria Melalui Sastra: Pendekatan Komparatif Desca Angelianawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.2835

Abstract

Bearing children has become one of the most essential aspects in a human’s life. The concept of motherhood is also intersected and varies from time to time upon location. Through qualitative research and library study, this article compares the the concept of Nigerian and Indonesian motherhood through literature. Two selected novels are Ibuk written by Iwan Setyawan and The Joys of Motherhood by Buchi Emecheta. The findings show that both mothers share similar concepts and representations of motherhood. In addition, those representations are used to maintain the social contructions which legitimise the patriarchal system. The African motherhood may be different with the Asian concept of motherhood in practical, yet mothers will focus on the wealth of their children no matter where they are.AbstrakKeharusan untuk menjadi seorang ibu dipandang sebagai salah satu aspek esensial dalam kehidupan manusia. Konsep dan nilai keibuan juga bersifat lintas budaya dan bervariasi dari waktu ke waktu berdasarkan lokasi dan adat setempat. Berdasarkan pemikiran tersebut, artikel ini membandingkan penggambaran konsep ibu dari dua buku karangan penulis Nigeria dan Indonesia. Melalui penelitian kualitatif dan studi pustaka, artikel ini mengilustrasikan penggambaran konsep ibu dan mengeksplorasi alasan penggambarannya melalui karya sastra pilihan. Novel yang dijadikan objek penelitian adalah The Joys of Motherhood karya Buchi Emecheta dan Ibuk karya Iwan Setyawan. Hasil penemuan dari artikel ini mengekstrapolasi konsepsi global keibuan dan bagaimana hal itu dipresentasikan. Dapat disimpulkan bahwa penggambaran konsep keibuan dalam novel digunakan untuk memelihara konstruksi sosial yang meligitimasi sistem patriarki. Konsep keibuan di Afrika mungkin sedikit berbeda dari konsep keibuan di Asia pada prakteknya, tetapi mereka akan selalu berfokus pada kesejahteraan anak-anaknya di mana pun ibu berada.