cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
TRADISI LISAN MALE-MALE: NYANYIAN KEMATIAN DALAM MASYARAKAT CIACIA Asrif Asrif
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.272

Abstract

Male-male adalah syair yang dinyanyikan sesaat setelah seorang warga yang dianggap sosok sempurna meninggal dunia. Tradisi lisan male-male itu menggambarkan penghargaan masyarakat terhadap sosok sempurna melalui ungkapan kesedihan, kerinduan, ketabahan, dan puji-pujian. Pelaksanaan male-male memiliki sejumlah fungsi, baik fungsi pribadi (penutur dan tuan rumah) maupun fungsi bagi masyarakat (warga yang melayat). Bagi penutur dan tuan rumah, tradisi itu berfungsi untuk menghibur, memberikan kepedulian sesama, menyebarkan nilai sosial, agama, dan prestise, serta mewariskan tradisi. Bagi masyarakat, male-male berfungsi sebagai sarana mengingatkan diri akan kematian, memperkukuh keimanan, serta meningkatkan empati, dan solidaritas sesama. Untuk itu diperlukan upaya pewarisan dalam menjaga keberlanjutan tradisi itu. Pewarisan formal dilakukan melalui sekolah, sedangkan pewarisan informal melalui penguatan lembaga adat.
NASIONALISME CHAIRIL ANWAR Radea Hafidh Rakata Iskandar; Bayu Indra Pratama
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.926

Abstract

Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan bangsaIndonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan nasionalis dalam puisi- puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisi-puisinya yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949 sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses penciptaan puisi.
Paanthungi, Puisi Lisan Gorontalo sebagai Media Pemertahanan Bahasa Daerah Ellyana Hinta; Asna Ntelu; Dakia Djou; NFN Zulkipli
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4874

Abstract

The purpose of this study is to describe Panthungi, Gorontalo's oral poetry as a medium for maintaining local languages. This research is descriptive in nature which is the result of a literature review related to Paanthungi. Therefore, the method used is a qualitative descriptive method. This method is intended to describe Gorontalo Oral Poetry as a Regional Language Defense Media. The data collection technique is in the form of a documentation technique by digging back into literature studies related to the Gorontalo Pantun which can be used as a medium for maintaining regional languages. The results showed that Paanthungi is a social rhyme that is sung to the accompaniment of music, dances, or without music, and is used when welcoming guests or used in traditional rituals in Gorontalo. Paanthungi or pantun is an art that needs to be developed and maintained by the people of Gorontalo because in addition to being entertaining, paanthungi also plays a very important role in protecting the Gorontalo regional language from extinction. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Panthungi, puisi lisan Gorontalo sebagai media pemertahanan bahasa daerah. Penelitian ini bersifat deskriptif yang merupakan hasil kajian studi pustaka terkait dengan Paanthungi. Oleh sebab itu, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini dimaksudkan untuk mendiskripsikan Puisi Lisan Gorontalo Sebagai Media Pemertahanan Bahasa Daerah. Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi dengan menggali kembali kajian kepusatakaan terkait dengan Pantun Gorontalo yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemertahanan bahasa daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paanthungi adalah pantun pergaulan yang dilagukan dengan iringan musik, tari-tarian, atau juga tanpa musik, dan digunakan pada saat penyambutan tamu atau digunakan pada ritual-ritual adat di Gorontalo.Paanthungi atau pantun itu adalah sebuah seni yang perlu dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat Gorontalo karena di samping dapat menghibur, paanthungi juga sangat berfungsi untuk menjaga bahasa daerah Gorontalo agar terhindar dari kepunahan.
Kategori Emosi Tokoh Utama dalam Novel Rajapati di Pananjung Karya Ahmad Bakri: Kajian Psikologi Sastra Malik Fajar; Dedi Koswara
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7462

Abstract

This research aims to describe the emotion category of the main character in the novel Rajapati di Pananjung by Ahmad Bakri using David Krech’s theory of emotional categories through a literary psychology approach. The method used in this research is descriptive  with content analysis technique. The result of this study describe David Krech’s categorisation theory on Yoyo as the main character.  Using this categorisation theory as a theoretical basis in dissecting the categorisation of Yoyo as the main character in this novel. The result of the analysis show the classification of emotions described by the author, one of which is through Yoyo as the main charcate. Thus, Krech’s categorisation of emotions can provide an overview and prove the truth of this thoughts through the category of emotions. This research is expected to provide an understanding of David Krech’s basic categorisation that can be used in dissecting the category of emotions in the novel Rajapati di Pananjung by Ahmad Bakri. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan kategori emoasi tokoh utama dalam novel Rajapati di Pananjung karya Ahmad Bakri dengan menggunakan teori kategori emosi oleh David Krech melalui pendekatan psikologi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini mendeskripsikan teori kategorisasi David Krech pada Yoyo sebagai tokoh utama. Menggunakan teori kategorisasi ini sebagai dasar teori dalam membedah kategorisasi Yoyo sebagai tokoh utama dalam novel ini. Dari hasil analisis tersebut memperlihatkan klasifikasi emosi yang digambarkan oleh pengarang salah satunya melalui Yoyo sebagai tokoh utama. Sehingga, kategorisasi emosi yang dikemukakan Krech dapat memberikan gambaran dan membuktikan kebenaran pemikirannya melalui kategori emosi. Penelitian ini diharapakan dapat memberikan pemahaman tentang kategorisasi dasar David Krech yang dapat digunakan dalam membedah kategori emosi dalam novel Rajapati di Pananjung karya Ahmad Bakri.
GAYA KEPENGARANGAN GODI SUWARNA DALAM KUMPULAN CERPEN MURANG-MARING Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.475

Abstract

This research aims to reveal the style of author Godi Suwarna in the short stories collection buku Murang-Maring. In the universe of Sundanese literature, the Godi’s writing style is a new thing that contradicts the general style of Sundanese literature that is realism. Godi grew up in a rural area, and later as an adult continued in an urban environment. His short stories are the collaboration and mixing between the city and the village, traditional and modern. The ideas that are raised into his work are also mostly reconstruct the traditional stories that already exist, be it from folklore, pantun stories, wayang stories, fairy tales and so forth into a new, more modern form in accordance with the will of the author. Godi and his works are dissected by using expressive studies that focus the discussion to the collection of short stories Murang-Maring and the character of Godi himself. Based on the results of the research, Godi is an author who is upset with the surrounding social circumstances. The clash between rules and freedom also greatly influences Godi's self in his works. Godi's short story works are like a container for aspiration and criticism. In addition, the influence of wayang is very visible in the short stories, either from the stroytelling style or borrowing the characters with his nyeleneh and unique style.AbstrakRiset ini bertujuan untuk mengungkap gaya pengarang Godi Suwarna dalam buku kumpulan cerpen Murang-Maring. Di jagat kesusastraan Sunda, gaya mengarang Godi adalah hal baru yang bertolak belakang dari gaya umum sastra Sunda yang beraliran realis. Godi dibesarkan di lingkungan pedesaan, dan kemudian setelah dewasa berlanjut di lingkungan perkotaan. Cerpen-cerpennya adalah kolaborasi dan percampuran antara kota dan desa, tradisional dan modern. Ide-ide yang diangkat ke dalam karyanya pun kebanyakan merekonstruksi cerita-cerita tradisional yang sudah ada, baik itu dari foklor, cerita pantun, cerita wayang, dongeng, dan sebagainya ke dalam bentuk baru yang lebih modern sesuai dengan kehendak pengarang. Godi dan karyanya dibedah dengan memakai kajian ekspresif yang memfokuskan pembahasan kepada kumpulan cerpen Murang-Maring dan sosok Godi sendiri. Berdasarkan hasil  penelitian, Godi termasuk pengarang yang gundah dengan keadaan sosial di sekitarnya. Benturan antara aturan dan kebebasan juga sangat memengaruhi diri Godi dalam karya-karyanya. Karya cerpen-cerpen Godi juga seperti wadah untuk menyalurkan aspirasi dan kritik. Selain itu, pengaruh wayang sangat kental terlihat dari cerpen-cerpennya, baik itu dari gaya penceritaannya maupun meminjam tokoh-tokoh dengan gayanya yang nyeleneh dan khas.
Mengungkap Bentuk, Makna, dan Fungsi Ritual Vunja: Upaya Pemertahanan Kearifan Lokal Masyarakat Pantolobe Gazali Gazali; Fendi Eko Widodo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6071

Abstract

The study that uses descriptive qualitative method with hermeneutic approach aims to reveal the form, significance, and function of the "vunja" ritual. The result shows that there are eight forms of the ritual, such as molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, and patompo manu. We discovered that vunja rituals have two significant meanings, verbal and nonverbal symbols. Whereas, we also discovered the significance of the rituals as (1) a sign of respect for the ancestor who bestowed a bountiful harvest, (2) an offering to the ancestor in the hope of future harvests, (3) a forum mutual cooperation of the local community for the swift implementation of the vunja ritual, and (4) a means for the vunja community members to interact with one another. AbstrakPenelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik ini bertujuan untuk mengungkap bentuk, makna, dan fungsi ritual vunja. Hasil penelitian menyimpulkan bentuk ritual vunja terdiri atas delapan tahapan, yaitu molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, dan patompo manu. Makna yang terkandung dalam ritual vunja adalah makna simbol verbal dan makna simbol nonverbal. Sementara itu, fungsi ritual vunja adalah (1) sebagai bentuk penghargaan kepada nenek moyang yang telah memberikan hasil panen yang berlimpah, (2) bentuk persembahan dengan harapan diberikan hasil yang lebih baik lagi pada musim tanam berikutnya, (3) wadah gotong royong masyarakat setempat untuk kelancaran pelaksanakan ritual vunja, dan (4) wadah menjalin interaksi antara masyarakat yang melaksanakan vunja dengan kerabat yang datang dari desa lain.
Simbol Lokal dalam Lagu Karya Didi Kempot: Analisis Semiotika Ayunda Putri Nazarrina; Dzarna Dzarna; Yerry Mijianti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8417

Abstract

This study aims to analyze the denotative, connotative, and mythological meanings of local symbols in Didi Kempot's song lyrics using Roland Barthes' semiotic approach. The method used is descriptive qualitative with a focus on interpreting the meaning of the lyric text. Data collection techniques were carried out through documentation of song lyrics containing local symbols such as Stasiun Balapan, Cidro, Suket Teki, Sewu Kuto, and Pamer Bojo, as well as literature studies from scientific sources relevant to Javanese culture and semiotic theory. The analysis was carried out by tracing linguistic elements in the lyric text that function as symbols of Javanese culture through Barthes's three levels of meaning: denotation (literal meaning), connotation (emotional and cultural meaning), and myth (ideological meaning). The results of the study show that at the denotative level, the symbols depict concrete objects such as stations, terminals, and traditional foods. At the connotative level, these symbols contain emotional meanings related to separation, betrayal, and life's struggles. Meanwhile, at the mythical level, these symbols reflect the Javanese people's view of life, which is receptive, patient, and upholds human values. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis makna denotatif, konotatif, dan mitologis dari simbol-simbol lokal dalam lirik lagu Didi Kempot menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan fokus pada penafsiran makna teks lirik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi lirik lagu yang mengandung simbol lokal seperti Stasiun Balapan, Cidro, Suket Teki, Sewu Kuto, dan Pamer Bojo, serta studi kepustakaan dari sumber-sumber ilmiah yang relevan dengan budaya Jawa dan teori semiotika. Analisis dilakukan dengan menelusuri unsur linguistik dalam teks lirik yang berfungsi sebagai simbol budaya Jawa melalui tiga tingkatan makna Barthes: denotasi (makna literal), konotasi (makna emosional dan kultural), dan mitos (makna ideologis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotatif, simbol-simbol tersebut menggambarkan objek konkret seperti stasiun, terminal, dan makanan tradisional. Pada tingkat konotatif, simbol-simbol ini mengandung makna emosional yang berkaitan dengan perpisahan, pengkhianatan, dan perjuangan hidup. Sedangkan pada tingkat mitos, simbol-simbol tersebut merefleksikan pandangan hidup masyarakat Jawa yang nrimo, sabar, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
SINTREN DARI SUDUT PANDANG SECONDARY ORALITY yeni mulyani supriatin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1330

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan sintren, sebuah tradisi lisan sebagai primary orality yang bertransformasi dalam bentuk secondary orality. Masalah yang dibahas adalah bagaimana sintren dalam bentuk secondary orality? Apakah benar-benar berubah atau ke luar dari bentuk asalnya? Teori yang digunakan dalam penganalisisan data adalah pendekatan modern dan sudut pandang secondary orality. Metode yang digunakan adalah metode modern dengan teknik perbandingan dan penyimakan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sintren dalam bentuk secondary orality lebih variatif, fungsional, dan lebih menarik, baik dari aspek bentuk maupun tampilannya. Simpulan penelitian ini adalah bahwa secondary orality merupakan satu bentuk penerobosan baru agar sintren sebagai tradisi lisan lebih bertahan, lebih diketahui generasi masa kini, dan lebih bisa menembus zamannya
Diskriminasi Tokoh Utama dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan Karya Andina Dwi Fatma: Kajian Feminisme Liberal Fatima Tuz Zahro; Dian Risdiawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6475

Abstract

The novel Silent Than a Whisper tells about household life which is full of ups and downs facing problems related to having a baby. The aims of this research are (1) to describe the form of discrimination of the main character in the novel More Silent than a Whisper by Andina Dwifatma, and (2) to describe the factors that cause discrimination of the main character in the novel More Silence than a Whisper by Andina Dwifatma. This study uses a qualitative descriptive method with a mimetic literature research approach. The data in this study are in the form of monologues, dialogues, and narratives in Andina Dwifatma's novel More Silence than a Whisper. The data source is the novel Silent Than a Whisper by Andina Dwifatma with 155 pages thick. The data collection technique uses the note-taking technique, namely by reading the novel repeatedly, coding the text according to the instrument, and classifying the data according to the problem under study. The research results showed that Amara experienced forms of gender discrimination, namely marginalization, stereotyped views, violence and double burdens. In addition, there are factors that cause discrimination of the main character in the novel Silent and Whispered by Andina Dwifatma, namely socio-cultural factors, reproductive factors, and economic factors. AbstrakNovel Lebih Senyap dari Bisikan menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku menghadapi permasalahan terkait momongan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk diskriminasi tokoh utama pada novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian sastra mimetik. Data dalam penelitian ini berupa monolog, dialog, dan narasi yang terdapat dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Sumber data berupa novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma dengan tebal 155 halaman. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat, yaitu dengan membaca novel secara berulang, memberi kode pada teks sesuai instrumen, dan melakukan klasifikasi data sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian diperoleh Amara mengalami bentuk diskriminasi gender yakni marginalisasi, pandangan stereotip, kekerasan dan beban ganda. Selain itu terdapat adanya faktor-faktor yang menyebabkan diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma yakni faktor sosial budaya, faktor reproduksi, dan faktor ekonomi.
Women as Guardians of Nature’s Fertility in the Legend of Dewi Sri: An Ecofeminist Study Cahni Cahni; Ari Kusmiatun; Setyawan Pujiono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8615

Abstract

This study aims to describe the representation of women, the representation of nature, and the relationship between women and nature in the legend of Dewi Sri based on an ecofeminist analysis. This study is motivated by the importance of literary studies that explore the relationship between women and the environment in the folklore of the Indonesian archipelago. The legend of Dewi Sri was chosen because it presents women as symbols of fertility and guardians of the survival of agrarian communities. This study employs a qualitative approach using a descriptive-analytical method. The data sources consist of the text of the Dewi Sri legend obtained through literature review. Data collection was conducted using the observe-and-record technique, while data analysis utilized an interactive analysis model encompassing data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that women in the legend of Dewi Sri are represented as symbols of life, fertility, and protectors of agrarian communities. Nature is represented as a source of life, a spiritual space, and a symbol of community well-being. The relationship between women and nature in the legend of Dewi Sri demonstrates a harmonious connection built upon the values of fertility, protection, care, and the sustainability of life. The ecofeminist perspective in this legend demonstrates that women and nature are two interrelated elements crucial to maintaining the balance of life in the agrarian communities of the Nusantara. This study is expected to contribute to the development of ecofeminist studies in Indonesian oral literature, particularly in Nusantara folklore. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi perempuan, representasi alam, serta relasi perempuan dan alam dalam legenda Dewi Sri berdasarkan kajian ekofeminisme. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian sastra yang mengungkap hubungan antara perempuan dan lingkungan dalam folklor Nusantara. Legenda Dewi Sri dipilih karena menghadirkan perempuan sebagai simbol kesuburan dan penjaga keberlangsungan hidup masyarakat agraris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Sumber data penelitian berupa teks legenda Dewi Sri yang diperoleh melalui studi pustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat, sedangkan teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam legenda Dewi Sri direpresentasikan sebagai simbol kehidupan, kesuburan, dan pelindung masyarakat agraris. Alam direpresentasikan sebagai sumber kehidupan, ruang spiritual, dan simbol kesejahteraan masyarakat. Relasi perempuan dan alam dalam legenda Dewi Sri menunjukkan hubungan harmonis yang dibangun melalui nilai kesuburan, perlindungan, kepedulian, dan keberlanjutan hidup. Perspektif ekofeminisme dalam legenda ini memperlihatkan bahwa perempuan dan alam merupakan dua unsur penting yang saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat agraris Nusantara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian ekofeminisme dalam sastra lisan Indonesia, khususnya pada folklor Nusantara.

Page 11 of 27 | Total Record : 266