cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Nilai Moral dalam Novel Catétan Poéan Réré Karya Ai Koraliati Bayu Wahyudin; Ruhaliah Ruhaliah; Agus Suherman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8273

Abstract

This study examines the narrative structure and moral values in the novel Catétan Poéan Réré by Ai Koraliati, a contemporary Sundanese literary work that boldly addresses LGBTQ+ issues, particularly gender identity and sexual orientation (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer/Questioning), within a society that upholds religious norms, propriety, and social harmony. The study employs a qualitative descriptive method with content analysis techniques to identify forms of moral values, classified according to Sudaryat’s framework, which includes human relationships with God, the self, others, nature, time, and the pursuit of both physical and spiritual well-being. The analysis reveals that all six categories of moral values are manifested explicitly and implicitly through the narrative, dialogues, and character actions. The novel presents emotional dynamics, moral conflicts, and reflective processes experienced by the characters as they face social pressures and questions of identity. Beyond its strong narrative structure, the work conveys profound ethical messages without being didactic. Catétan Poéan Réré illustrates how literature can serve as a space for dialectical engagement between traditional values and the complexities of contemporary Sundanese social realities. Abstrak Penelitian ini mengkaji struktur naratif dan nilai-nilai moral dalam novel Catetan Poéan Réré karya Ai Koraliati, sebuah karya sastra Sunda kontemporer yang secara berani mengangkat Isu LGBTQ+ merujuk pada identitas gender dan orientasi seksual (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer/Questioning) yang ada dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma agama, kesopanan, dan harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nilai moral yang diklasifikasikan oleh Sudaryat, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, alam, waktu, serta dalam meraih kebahagiaan lahiriah dan batiniah. Hasil analisis menunjukkan bahwa keenam kategori nilai tersebut terwujud dalam narasi, dialog, dan tindakan tokoh secara eksplisit maupun implisit. Novel ini menampilkan dinamika emosional, konflik moral, serta proses reflektif tokoh-tokohnya dalam menghadapi tekanan sosial dan identitas. Selain menyuguhkan struktur cerita yang kuat, karya ini juga menyisipkan pesan-pesan etis yang dalam, tanpa kesan menggurui. Catetan Poéan Réré memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi ruang dialektika antara nilai-nilai tradisional dan kompleksitas realitas sosial kontemporer masyarakat Sunda.
PERSPEKTIF BOURDIEU PADA POLA INTERRELASI PADA EKSISTENSI LENGGER LANANG LANGGENG SARI DALAM PERTUNJUKAN SENI DI BANYUMAS lynda susana widya ayu fatmawaty; NILA MEGA MARAHAYU; SHOFI MAHMUDAH BUDI UTAMI; IMAM SUHARDI
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.916

Abstract

Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini.Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini.
Father Absence and Female Masculinity in Little Women (2019) and Yuni (2021) Nafiatur Rizqiyah; Danial Hidayatullah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6325

Abstract

This research aims to find the relation between the father's absence and the masculinity of the daughter and how the father's absence can influence a daughter's masculine behavior in characters Jo of Little Women (2019) and Yuni of Yuni (2021). Therefore, the researcher found the relationship between these issues using Carl Jung's father absence theory and Jack Halberstam's female masculinity theory. Then researchers use qualitative methods by interpreting or defining the comparison of Jo and Yuni's characters. The data units in this research are scenes of the movie that are explained through story narration and the lingual unit of verbal dialogues. Then, the researcher created a database to facilitate the analysis process, which collects data as a dialogue. Then, the researcher assigns markings or codes to the data to divide the relevant dialogue. Next, to analyze the data, the researcher adjusting the behavior of Jo and Yuni related to the female masculinity variable, namely tomboy or, more specifically, independent and rebellious behavior. From those behaviors, the researcher determines the root cause of the existing similarities. After that, the researcher concludes the findings. The results obtained in this research are father’s absence has been shown to affect daughters' masculinity. Then, there is a tendency for tomboy behavior in them. These behaviors are independence and rebellion. Both behaviors arise because of the form of father's absence experienced. Then, the daughter who experiences a father's absence not must have the same form of behavior. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara ketidakhadiran ayah dan maskulinitas anak perempuan dan bagaimana ketidakhadiran ayah dapat mempengaruhi perilaku maskulin anak perempuan pada karakter Jo dari Little Women (2019) dan Yuni dari Yuni (2021). Oleh karena itu, peneliti menemukan hubungan antara isu-isu tersebut dengan menggunakan teori ketidakhadiran ayah dari Carl Jung dan teori maskulinitas perempuan dari Jack Halberstam. Kemudian peneliti menggunakan metode kualitatif dengan memaknai atau mendefinisikan perbandingan karakter Jo dan Yuni. Unit data dalam penelitian ini adalah adegan-adegan film yang dijelaskan melalui narasi cerita dan unit lingual berupa dialog verbal. Kemudian, peneliti membuat database untuk memudahkan proses analisis, yaitu mengumpulkan data berupa dialog. Kemudian, peneliti memberikan tanda atau kode pada data untuk membagi dialog yang relevan. Selanjutnya, untuk menganalisis data, peneliti menyesuaikan perilaku Jo dan Yuni yang berkaitan dengan variabel maskulinitas perempuan, yaitu tomboi atau, lebih spesifiknya, perilaku mandiri dan pemberontak. Dari perilaku tersebut, peneliti menentukan akar penyebab dari kesamaan yang ada. Setelah itu, peneliti menyimpulkan hasil temuannya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah ketidakhadiran ayah terbukti mempengaruhi maskulinitas anak perempuan. Kemudian, terdapat kecenderungan perilaku tomboi pada diri mereka. Perilaku tersebut adalah kemandirian dan pemberontakan. Kedua perilaku tersebut muncul karena bentuk ketidakhadiran ayah yang dialami. Kemudian, anak perempuan yang mengalami ketidakhadiran ayah belum tentu memiliki bentuk perilaku yang sama.
The Linguistic Structure and Socio-Religious Functions of the Tolak Bala Mantra in the Babadan Village Vicky Ardi Kurniawan; Nina Queena Hadi Putri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8540

Abstract

Oral tradition in the form of tolak bala mantras represents a form of local wisdom within Javanese society, reflecting the spiritual relationship between humans, nature, and God. This study aims to examine the linguistic structure, symbolic meaning, and socio-religious functions of tolak bala mantras in Babadan Village, Werungotok District, Nganjuk Regency, East Java. This research employs a descriptive qualitative method and was conducted on October 4, 2025. The data consist of mantra utterances and interview results involving five informants, including one village elder, two community leaders, and two local residents. Data were collected through in-depth interviews, observation, and note-taking techniques, and analyzed using the Miles and Huberman model with triangulation. The findings reveal that the tolak bala mantra reflects religious syncretism between Islamic teachings and Javanese local beliefs, functions as a form of spiritual protection, and serves as a medium for preserving cultural identity through symbolic, repetitive, and performative language structures. The implications highlight the importance of preserving mantras as oral cultural heritage that reinforces religious values, ecological awareness, and social identity. Abstrak Tradisi lisan berupa mantra tolak bala merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang merefleksikan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur bahasa, makna simbolik, serta fungsi sosial-religius mantra tolak bala pada masyarakat Desa Babadan, Kecamatan Werungotok, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilaksanakan pada 4 Oktober 2025. Data penelitian berupa tuturan mantra dan hasil wawancara dengan lima informan yang terdiri atas satu sesepuh desa, dua tokoh masyarakat, dan dua warga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra tolak bala merepresentasikan sinkretisme religius antara ajaran Islam dan kepercayaan lokal Jawa, berfungsi sebagai doa perlindungan spiritual, serta menjadi sarana pelestarian identitas budaya melalui struktur bahasa yang simbolik, repetitif, dan performatif. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian mantra sebagai warisan budaya lisan yang memperkuat nilai religius, kesadaran ekologis, dan identitas sosial masyarakat.
Kemampuan Pemain Teater Cepung Lombok sebagai Kekayaan Dramaturgi Tradisional Salman Alfarisi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.348

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang fenomena Teater Cepung Lombok di tengah masyarakat Sasak. Dengan menggunakan metode kualitatif, artikel ini berpijak pada keinginan untuk mengetahui tentang Teater Cepung Lombok, khususnya mengenai pemain yang secara tradisional memiliki kemampuan untuk menafsirkan teks Tutur Monyeh sebagai sumber penciptaan Teater Cepung.Meneropong dengan teori teks, artikel ini menunjukkan bahwa Teater Cepung merupakan produk kesenian asli Lombok yang menonjolkan kekuatan pemain sebagai keutamaan dalam pementasan. Meskipun dikategorikan tradisional, namun pemain teater Cepung pada hakikatnya memberikan ruang baru untuk memahami kekayaan bentuk dramaturgi Indonesia.
Class Struggle Seen in Ernest Jones’ Three Selected Poems: The Song of The Poor, The Song The Lower Classes, and A Song for People Andi Ahmad Fijai; Hat Pujiati; Ikwan Setiawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2773

Abstract

This article discusses class struggle of the working class through Ernest Jones’ three selected poems: The Song of The Poor, The Song of The Lower Classes, and A Song for People in the Industrial Revolution era in England. Industrial Revolution is a shift in goods production from human power into mechanical power. This research uses Michael Riffaterre’s Semiotics of Poetry theory to find out the meaning and significance of the chosen poems and uses some opinions and history as hypogram to portray the class struggle of the workers in Industrial Revolution era. The result of this research shows that these poems articulate the voices of the working class in struggling to get justice against the ruling class. AbstrakArtikel ini membahas tentang perjuangan kelas pekerja di tiga puisi pilihan karya Ernest Jones: The Song of The Poor, The Song of The Lower Classes, dan A Song for People di era Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri adalah perubahan cara produksi barang yang awalnya menggunakan tenaga manusia menjadi tenaga mekanik. Penelitian ini menggunakan teori Semiotika Puisi oleh Michael Riffaterre untuk mengetahui meaning (makna) dan significance (arti) puisi yang terpilih dan menggunakan beberapa opini dan sejarah sebagai hipogram untuk menggambarkan perjuangan kelas pekerja di era Revolusi Industri. Hasil penelitian ini mengeksplorasi perjuangan para pekerja di era Revolusi Industri. Jones melalui puisinya mengartikulasikan suara-suara kelas pekerja dalam perjuangannya mendapatkan keadilan melawan kelas pengusa.