cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dan Implementasinya dalam Cerita Rakyat Batu Goloq Ahmad Taufiq; Widyastuti Purbani; Else Liliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7670

Abstract

This article discusses the educational values contained in the Lombok folktale entitled Batu Goloq. This study uses a qualitative research approach with a narrative method to explore educational values. The main data sources are Batu Goloq folklore books and other related literature. Data collection techniques involved reading, listening, and recording, and data analysis was done descriptively. The study's findings discussed a variety of educational ideals, including the importance of empathy and social awareness, the value of accountability and sacrifice, the importance of believing and the efficacy of prayer, and the importance of self-reflection. Furthermore, these values can be applied in character education through a variety of methods, such as curriculum alignment for Social and Emotional Learning (SEL) to improve students' social and emotional skills, the use of inspirational stories to reinforce understanding, and a multicultural approach to recognize value diversity. The goal of all these tactics is to create people who interact with society in a responsible, compassionate, and empathic manner. AbstrakArtikel ini membahas nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Lombok berjudul Batu Goloq. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode naratif untuk mengeksplorasi nilai-nilai pendidikan. Sumber data utamanya adalah buku cerita rakyat Batu Goloq dan literatur terkait lainnya. Teknik pengumpulan data melibatkan pembacaan, menyimak, dan pencatatan, analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian memaparkan berbagai bentuk nilai-nilai pendidikan, seperti nilai kesadaran sosial dan empati, nilai tanggung jawab dan pengorbanan, nilai kepercayaan dan kekuatan doa, dan nilai tentang refleksi diri. Selanjutnya implementasi dalam pendidikan karakter dapat menerapkan nilai-nilai ini melalui berbagai pendekatan: menggunakan cerita inspiratif untuk memperkuat pemahaman, mengadopsi pendekatan multikultural untuk menghargai keragaman nilai, dan menyelaraskan Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL) dalam kurikulum untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa. Semua strategi ini bertujuan membentuk individu yang bertanggung jawab, peduli, dan berempati dalam interaksi mereka dengan masyarakat.
Muatan Kearifan Lokal dalam Teks Lagu Anak Berbahasa Jawa sebagai Penanaman Pendidikan Karakter di Sekolah Mukti Widayati; Benedictus Sudiyana; Nurnaningsih Nurnaningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.5991

Abstract

Javanese children's songs semiotically signify the life of children with Javanese social and cultural backgrounds. The purpose of this study is to describe local wisdom that carries character values in Javanese children's song texts and to describe alternative implementations of character education in schools. This type of research is qualitative. The source of the research data is the text of Javanese children's songs or tembang dolanan that are still circulating in Javanese society. The data is in the form of quotations of words, expressions, or phrases in the tembang dolanan which contain character values. Data collection was carried out by reading and recording as well as by applying data analysis through critical analysis using heuristic and hermeneutic methods through content analysis. The results show that the local wisdom found is very relevant to character education according to the pillars of religion, harmony, respect for parents, responsibility, independence, prudence, cooperation, and integrity, as determined by the Ministry Education, Culture, Research, and Technology through literacy activities at the habituation stage and learning activities at the school. In conclusion, Javanese children's songs sung repeatedly can help instill character education. Therefore, tembang dolanan need to be given and sung repeatedly followed by understanding the values so that the atmosphere of planting 18 characters can be realized in accordance with the expectations of teachers and parents as recommended by the Ministry Education, Culture, Research, and Technology.  AbstrakLagu anak-anak berbahasa Jawa secara semiotik menandakan kehidupan anak dengan latar sosial dan latar budaya Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kearifan lokal yang membawa nilai-nilai karakter dalam teks lagu anak-anak berbahasa Jawa dan mendeskripsikan alternatif implementasinya pada pendidikan karakter di sekolah. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian teks. Sumber data penelitian adalah teks lagu anak berbahasa Jawa atau tembang dolanan yang masih beredar di masyarakat Jawa. Data berupa kutipan kata, ungkapan, atau frasa dalam tembang dolanan tersebut yang memuat nilai karakter. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan pencatatan sekaligus dengan menerapkan analisis data melalui analisis kritis menggunakan cara heuristik dan hermeneutika melalui analisis konten. Hasilnya menunjukkan bahwa kearifan lokal yang ditemukan sangat relevan dengan pendidikan karakter sesuai dengan pilar religius, harmoni, hormat kepada orang tua, bertanggung jawab, mandiri, keberhati-hatian, gotong royong, integritas, sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui kegiatan literasi tahap pembiasaan dan kegiatan belajar di sekolah. Hasil penelitian menyimpulkan lagu anak-anak berbahasa Jawa yang dinyanyikan berulang-ulang dapat membantu penanaman pendidikan karakter. Oleh karena itu, tembang dolanan perlu diberikan dan dinyanyikan secara berulang diikuti pemahaman nilai agar suasana penanaman 18 karakter dapat terwujud sesuai dengan harapan guru dan orang tua sebagaimana yang direkomendasikan Kemendikbudristek. 
Eco-Simbolisme dalam Narasi Kaba Siti Baheram: Perspektif Ekokritik terhadap Alam dan Manusia Ananda Putriani; Syihabuddin Syihabuddin; Destiani Destiani; Sri Wahyuni; Yusrawati Jr Simatupang; Dewi Sari Sumitro
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8423

Abstract

This research originates from the global ecological crisis and Indonesia’s alarming rate of deforestation, highlighting the need to reinterpret traditional literary works as sources of ecological awareness. Kaba Siti Baheram was chosen because it reflects the Minangkabau philosophy of alam takambang jadi guru and contains rich ecological symbolism, yet has seldom been examined through a contemporary ecocritical framework. This study aims to identify the forms of ecological symbolism in Kaba Siti Baheram, map ecological representations using Garrard’s five ecocritical themes pastoral, wilderness, dwelling, pollution, and apocalypse and analyze how natural phenomena function as narrative agents that shape conflict and plot progression. The research employs a qualitative descriptive method, using close reading and content analysis of the Kaba Siti Baheram text published by the Balai Bahasa of West Sumatra, supported by theoretical triangulation involving ecocriticism and Minangkabau ecological cosmology. The findings show that pastoral and dwelling are the most dominant themes, represented through agrarian landscapes, the rumah gadang, rice fields, fish ponds (tabek), and the nagari as ethical–ecological living spaces. Wilderness appears as a liminal zone and the site of violence that signifies the severance of human–nature relations, while pollution and apocalypse emerge through floods, damaged rice fields, and the collapse of the nagari, functioning as metaphors for ecological and social degradation caused by destructive human behavior. Overall, ecological symbolism in the kaba serves as a moral structure, a narrative driving force, and an educational medium grounded in local wisdom, contributing to cultural preservation and the strengthening of contemporary environmental awareness. Abstrak Penelitian ini bertolak dari krisis ekologis global dan tingginya laju deforestasi di Indonesia, serta kebutuhan membaca ulang karya tradisional sebagai sumber kesadaran ekologis. Kaba Siti Baheram dipilih karena merepresentasikan filosofi alam takambang jadi guru dan menyimpan simbolisme alam yang kuat, namun belum banyak dikaji melalui perspektif ekokritik kontemporer. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk simbolisme ekologis dalam Kaba Siti Baheram, memetakan representasi ekologis berdasarkan lima tema ekokritik Garrard pastoral, wilderness, dwelling, pollution, dan apocalypse, serta menjelaskan fungsi fenomena alam sebagai agen naratif dalam pembentukan konflik dan alur cerita. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik close reading dan analisis isi terhadap teks Kaba Siti Baheram edisi Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, yang diperkuat dengan triangulasi teori ekokritik dan kosmologi ekologis Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema pastoral dan dwelling paling dominan melalui representasi lanskap agraris, rumah gadang, sawah, tabek, dan nagari sebagai ruang hidup etis-ekologis. Wilderness hadir sebagai ruang liminal dan lokasi kekerasan yang menandai pemutusan relasi manusia–alam, sedangkan pollution dan apocalypse terwujud dalam banjir, kerusakan sawah, dan runtuhnya nagari sebagai metafora kehancuran ekologis dan sosial akibat perilaku destruktif manusia. Simbolisme alam dalam kaba berfungsi sebagai struktur moral, penggerak alur, sekaligus media pendidikan ekologis berbasis kearifan lokal yang relevan bagi pelestarian budaya dan penguatan kesadaran lingkungan kontemporer.
Opresi Pernikahan Bagi Perempuan dalam Cerpen “Jemari Kiri” Karya Djenar Maesa Ayu Amriani Happe; Ati Murmahyati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1828

Abstract

This study aims to discuss the forms of oppression that occur in a marriage. In the short story “Jemari Kiri” by Djenar Maesa Ayu found oppression carried out in a marriage is very detrimental to women. This research uses literature study method and data collection through the reading of the “Jemari Kiri” short story which is conducted to obtain the description of the oppression that occurs in the short story. The data were then analyzed using descriptive methods and feminist theory by linking oppression in marriage and women depicted in the short story “Jemari Kiri”. The results showed that the oppression that occurs in marriage described in the short story “Jemari Kiri” caused women to experience limitations in living their lives as free human beings so that equality of rights between husband and wife was needed to achieve an ideal marriage and provide happiness for both parties. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk opresi yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Dalam cerpen “Jemari Kiri” karya Djenar Maesa Ayu ditemukan opresi dalam pernikahan yang sangat merugikan kaum perempuan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan pengumpulan data melalui pembacaan cerpen “Jemari Kiri” yang dilakukan untuk memperoleh gambaran opresi yang terjadi dalam cerpen tersebut. Data kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif dan teori feminis dengan menghubungkan opresi dalam pernikahan dan perempuan yang tergambar dalam cerpen “Jemari Kiri”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opresi yang terjadi dalam pernikahan yang digambarkan dalam cerpen “Jemari Kiri” menyebabkan perempuan mengalami keterbatasan dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia yang bebas sehingga dibutuhkan kesetaraan hak antara suami dan istri untuk mencapai pernikahan yang ideal dan memberikan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.
Sebelas Patriot: Representasi Perlawanan Masyarakat Melayu terhadap Belanda melalui Sepakbola Rhillaeza Mareta
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.12

Abstract

Fakta bahwa beragam karya sastra yang sarat jejak rekam potret zaman suatu bangsa masih diminati hingga kini kiranya jelas. Dalam karya semacam itu, terdapat “kegelisahan” masyarakat yang terwakilkan dan tergambarkan. Dengan membaca karya sastra berkarakter demikian, khalayak pembaca memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan budaya bangsa di belahan bumi bagian mana saja. Berdasarkan hal-hal tersebut, menarik kiranya untuk menggali kedekatan hubungan antara suatu karya sastra yang terasa begitu merekam potret zaman dengan torehan sejarah sesungguhnya. Sebelas Patriot merupakan karya Andrea Hirata yang sarat potret masyarakat Melayu di Belitung pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1945. Dalam tulisan ini, penulis berusaha menganalisis kedekatan unsur sejarah, juga warna lokal, yang digambarkan Hirata dalam novel Sebelas Patriot dengan fakta-fakta yang tercatat dalam data sejarah sesungguhnya. Kekuatan topik sepakbola yang menjangkiti masyarakat Melayu terjajah sebagai bahasan kuat dalam novel akan turut dipaparkan pula sepanjang sajian. Pada bagian simpulan, penulis meyakini bahwa Sebelas Patriot kiranya penting dianggap sebagai karya sastra yang mengungkap sejarah dan kondisi sosial budaya masyarakat Melayu di Belitung pada zaman pendudukan Belanda dengan gaya penceritaan yang mengalir. Karya ketujuh Hirata ini tak kalah bersinar pula dengan karya-karya terdahulunya dalam menyengat dan mengobarkan semangat kebangsaan anak negeri.Kata Kunci: Sebelas Patriot, Andrea Hirata, Belitong, sejarah, warna lokal.
Citra Ibu dalam Karya Sastra Anak Indonesia: Kajian Feminisme Ema Apriyani; Yenni Hayati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra perempuan sebagai ibu yang digambarkan oleh pengarang anak-anak dalam kumpulan cerpen Surga di Tangan Ibu. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan kata-kata dan kemudian diinterpretasikan dalam pembahasan. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik baca dan catat. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan. Objek penelitian adalah citra ibu dalam kumpulan cerpen Surga di Tangan Ibu seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kritik sastra feminisme. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengarang anak-anak menggambarkan sosok ibu sebagai ibu super sabar, ibu rumah tangga, ibu yang pekerja keras, ibu sebagai ibu tiri,dan ibu yang rela berkorban demi anaknya. Pengarang anak dalam menciptakan karya sastra cenderung menampilkan citra ibu berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang pernah dialami bersama ibu.
DECONSTRUCTION OF SORI GUSTI POETRY ANTHOLOGY BY DARMANTO JATMAN Rina Zuliana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3840

Abstract

This paper discussed the deconstruction of linguistic structures, forms, and contents in an antology of Sori Gusti's poems by Darmanto Jatman. The aim was to reveal the things behind the form and content of Sori Gusti's poetry text by using the strategy of reading Derrida's Deconstruction. The use of multilinguality in the text to decentering in the use of the concept of language, between local languages and foreign languages, as well as between other language opposition. The reversal and obscurity of the opposition of the language led to the reconciliation of culture represented in the text as a form of diversity. In terms of typography poetry, negation or obscurity of the center (decentering) through the use of the form of speech spoken by “aku lirik” as an inferior voice. At conventions generally speeches had a vertical concept, the speech of the leader to his people, then obscured by a horizontal concept (equivalent line). The vertical-horizontal conception was then formulated to reveal the political content behind the text, neo-imperialism of Orde Baru regim. AbstrakTulisan ini membahas dekonstruksi struktur linguistik, bentuk, dan isi dalam kumpulan puisi Sori Gusti karya Darmanto Jatman. Tujuannya untuk mengungkap hal ihwal di balik bentuk dan isi teks puisi Sori Gusti dengan menggunakan strategi pembacaan Dekonstruksi Derrida. Pemanfaatan  multilingualitas dalam teks untuk meniadakan pusat (decentering) dalam penggunaan konsep bahasa, baik antara bahasa lokal dengan bahasa asing, maupun antaroposisi bahasa lainnya. Pembalikan dan pengaburan oposisi bahasa tersebut  mengarah pada pendamaian budaya yang terepresentasi dalam teks sebagai bentuk keberagaman. Dari segi tipografi puisi dan peniadaan atau pengaburan pusat (decentering) melalui penggunaan bentuk pidato yang dituturkan oleh aku lirik sebagai suara inferior . Pada konvensi umumnya pidato memiliki konsep vertikal, tuturan pemimpin kepada rakyatnya, kemudian dikaburkan dengan konsep horisontal (garis setara).  Konsepsi vertikal-horisontal kemudian diformulasikan untuk mengungkap muatan politis di balik teks, yakni neoimperialisme Orde Baru.
HIBRIDITAS TOKOH DALAM NOVEL REMAJA KERONCONG CINTA KARYA AHMAD FAISHAL Dheny Jatmiko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.447

Abstract

The novel Keroncong Cinta by Ahmad Faishal was an adolescent novel about social, politics and culture life of a family due to the interracial Europe-Java marriage at the end of colonial era. This research used postcolonial approach to reveal the forms of characters hybridity and interpret it in relation to the colonial era in Dutch East Indies context. This research discovered that the hybridity in Dutch East Indies caused by marriage, concubinage, education and the spirit to gain equality experienced by the Indo. The forms of characters hybridity showed through the identity ambivalence and ambiguity as the results of contradiction between indigenous and Europe cultures. These forms among others are identity ambiguity and awareness of the Indo as the third class, the blurring of colonialism contradictive lines and a lady’s Europe orientation. This research also proofed that adolescent literatures, as a part of popular literatures, are not only literatures filled with entertainment and simplicity.AbstrakNovel Keroncong Cinta karya Ahmad Faishal merupakan novel remaja yang menceritakan kehidupan sosial, politik, dan budaya sebuah keluarga karena perkawinan antarras Eropa-Jawa di akhir masa kolonial. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan poskolonial untuk mengungkap bentuk-bentuk hibriditas tokoh dan diinterpretasi dalam kaitannya dengan konteks masa kolonial di Hindia Belanda. Penelitian ini menemukan bahwa hibriditas di Hindia Belanda disebabkan oleh perkawinan, pergundikan, pendidikan, dan semangat memperoleh persamaan derajat yang dialami kalangan Indo. Bentuk-bentuk hibriditas tokoh ditunjukkan dengan adanya ambivalensi dan ambiguitas identitas sebagai akibat dari kontradiksi antara kultur Eropa dan pribumi. Bentukbentuk hibriditas tokoh antara lain ambiguitas identitas dan kesadaran orang Indo sebagai kelas ketiga;pengaburan garis-garis kontradiktif koloniaslisme; dan orientasi ke-Eropa-an seorang Nyai. Penelitian ini sekaligusmembuktikan bahwa sastra remaja, sebagai bagian sastra populer, bukan hanya sastra yang berisi hiburan dan kesederhanaan.
“The Forbidden Kingdom”: Dari Representasi sampai Dependensi Kajian Orientalisme Edward Said Badri Badri; Abi Ihsanullah; Lilis Heriyanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4711

Abstract

The objectives of this research are to describe the representation and the dependency of the East and West using Edward Said's Orientalism. This research uses a descriptive qualitative method. The data collection method uses library research. The researcher watched The Forbidden Kingdom movie, then read books and journals that related to the topic. Data analysis was carried out by descriptive analysis between the data obtained and the explanation of the theory. The findings are the author represents the East through Lu Yan, The Silent Monk, Warlord, and Monkey King. Lu Yan represents a lazy and irrational person, The Silent Monk represents a harbored suspicion person, Warlord represents a depravity and inhuman person, and Monkey King represents a foolish person. The author also represents the East through the forests which have high grass and the deserts which have extreme weather. These places are dangerous and not friendly. The author also represents the East through citizens who are irrational and love violence. The author describes dependency on East to West, through China to Jason, while Jason is pulled by the golden staff to China in order to make China peaceful. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi serta ketergantungan Timur dan Barat menggunakan teori orientalisme milik Edward Said. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Peneliti menonton film The Forbidden Kingdom kemudian melakukan pembacaan terhadap buku dan jurnal terkait dengan topik yang akan diteliti. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif antara data-data yang diperoleh dengan penjelasan teori. Hasil dari penelitian ini yaitu pengarang merepresentasikan Timur melalui tokoh Lu Yan, Biksu Pendiam, Warlord, dan Raja Monyet. Lu Yan digambarkan sebagai sosok yang pemalas dan irasional, Biksu Pendiam digambarkan sebagai sosok yang memendam rasa curiga, Warlord digambarkan sebagai sosok yang bejat moral dan tidak manusiawi, serta Raja Kera digambarkan sebagai sosok yang bodoh. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui hutan yang mempunyai rerumputan tinggi dan padang pasir yang bercuaca ekstrim. Dua tempat ini berbahaya dan tidak bersahabat. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui kehidupan sosial warga yang irasional dan mendahulukan kekerasan. Pengarang merepresentasikan ketergantungan Timur terhadap Barat melalui China terhadap Jason yang diawali dengan ditariknya Jason oleh tongkat emas menuju China untuk membuat China damai kembali.
REPRESENTASI HEGEMONI DALAM NOVEL MÉMOIRES D’HADRIEN KARYA MARGUERITE YOURCENAR Laila Fariha Zein; Dadang Sunendar; Tri Indri Hardini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1063

Abstract

This writing  aims to analyze and describe the elements of hegemony based on Gramsci's perspective in novel Mémoires d’Hadrien of Marguerite Yourcenar. Gramsci's hegemony is a mastery concept or strategy based on intellectual leadership, moral awareness, and agreement. The method used in this research is the descriptive-qualitative. The instrument used in this research is the bibliographic study and documentation. The population of the research is novel Mémoires d’Hadrien, and the sample of the research is hegemony based on Gramsci's perspective that contained in those work. The result of this research is the types of hegemony, including a) ideological hegemony; b) power hegemony; c) cultural hegemony; d) moral hegemony; and e) economic hegemony. Furthermore, the worldview of the author seems to integrate with the story of the characters in the novel. Abstrak: Penelitian ini difokuskan pada unsur-unsur hegemoni Gramsci pada novel Mémoires d’Hadrien karya Marguerite Yourcenar. Hegemoni Gramsci adalah suatu konsep dan strategi penguasaan berbasis kepemimpinan intelektual dan kesadaran moral yang dilandasi persetujuan. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Teknik penelitian ini menggunakan Studi Pustaka dan Studi Dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah novel Mémoires d’Hadrien, sedangkan sampel penelitiannya adalah unsur hegemoni yang terdapat pada karya tersebut. Berdasarkan hasil kajian, hegemoni yang muncul meliputi: a) hegemoni ideologi; b) hegemoni kekuasaan; c) hegemoni budaya; d) hegemoni moral; dan e) hegemoni ekonomi. Adapun selanjutnya, pandangan dunia pengarang terlihat berintegrasi dengan cerita tokoh pada novel.