cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Rekonsiliasi Keluarga dalam Cerita Rakyat Purbasari Ayu Wangi Atawa Lutung Kasarung (2008) dan Iklan Marjan 2020: Kajian Alih Wahana Yuni Riyanti; Lily Tjahjandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6648

Abstract

This study uses the folklore of Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung by Ajip Rosidi (2008) and its adaptation works in the form of an advertisement for Marjan's product which will be broadcast in 2020. It is interesting to study this work to see how a folktale undergoes multiple transformations and still experiences changes when used as a commercial tool in the form of advertisements on television today. This research examine how ride-hailing travels in two media, namely text and video advertisements. The method used in this study is a qualitative method  focuses on adaptation. Theories and concepts used in this study are A.J. Greimas' structural theory, the concepts of adaptation, folklore, and advertising media discourse. The purpose of this research is to find out the family reconciliation contained in both corpus. The results of the study show that changes in media result in ideological changes in the conflicts shown through video advertisements. The journey of conflict in Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung shows how the power of older siblings dominates younger siblings. Family reconciliation is shown by how women are weak and dependent on men. Meanwhile, in the advertisement for Marjan 2020, the character Purbasari is shown to have power over herself. The presence of a man, namely Lutung Kasarung, plays a role in helping family reconciliation, but Purbasari appears with her own strength in resolving internal family conflicts. This research helps show how re-direction can improve the position of women without changing the core story. AbstrakPenelitian ini menggunakan cerita rakyat Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung (2008) karya Ajip Rosidi dan karya adaptasinya berupa iklan produk Marjan yang tayang pada tahun 2020. Karya tersebut menarik diteliti untuk melihat sebuah cerita rakyat mengalami transformasi berkali-kali dan masih mengalami perubahan ketika dijadikan alat komersil dalam bentuk iklan di televisi pada masa kini. Penelitian ini mengkaji perjalanan alih wahana dalam dua media, yakni teks dan video iklan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan alih wahana yang berfokus pada adaptasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural A.J. Greimas. Sementara itu, konsep yang digunakan berupa konsep adaptasi, folklor, dan wacana media iklan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rekonsiliasi keluarga yang terdapat dalam kedua korpus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan wahana mengakibatkan perubahan ideologi dalam konflik yang ditampilkan melalui video iklan. Perjalanan konflik dalam Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung memperlihatkan kuasa kakak mendominasi adik, rekonsiliasi keluarga diperlihatkan perempuan sebagai sosok yang lemah dan bergantung kepada laki-laki. Sementara itu, dalam iklan Marjan 2020 tokoh Purbasari diperlihatkan mempunyai kuasa atas dirinya sendiri. Kehadiran laki-laki yakni Lutung Kasarung berperan membantu rekonsiliasi keluarga, tetapi Purbasari tampil dengan kekuatannya sendiri dalam menyelesaikan konflik internal keluarga. Penelitian ini membantu memperlihatkan alih wahana dapat membuat posisi perempuan menjadi lebih baik tanpa harus mengubah inti ceritanya.
Analytical Shifts in Contemporary Literary Studies: From Digital Humanities to New Directions in Indonesian Literature Andri Wicaksono; Dany Ardhian; Sultan Tirta Mujtaba
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8545

Abstract

Contemporary literary studies are undergoing significant analytical transformations alongside the increasing use of computational methods and digital humanities. This article aims to examine the epistemological tensions emerging from these transformations and to formulate a critical analytical framework for contemporary literary studies. The study employs a critical literature review combining narrative and systematic review approaches. Data were collected from academic publications indexed in Scopus, Web of Science, JSTOR, Google Scholar, and major academic publishers focusing on digital humanities, distant reading, critical digital studies, representation theory, and intertextuality. The collected data were analyzed through critical interpretation and thematic synthesis to identify major conceptual debates and methodological tendencies. The study finds that computational literary approaches expand the scale of textual exploration but also risk reducing literary meaning into statistical abstraction and reproducing representational bias when detached from critical reflection. Based on these findings, the article proposes a layered critical analytical model integrating computational exploration, hermeneutic interpretation, and critical reflection. The framework is further contextualized within Indonesian literary studies characterized by multilingualism, digital literary practices, and diverse cultural traditions. This study contributes to the development of contemporary literary studies by offering an integrative framework that connects scale, interpretation, and power relations in the digital era. Abstrak Kajian sastra kontemporer mengalami transformasi analitik yang signifikan seiring meningkatnya penggunaan metode komputasional dan humaniora digital. Artikel ini bertujuan mengkaji ketegangan epistemologis yang muncul dari transformasi tersebut serta merumuskan kerangka analitik kritis bagi kajian sastra kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka kritis yang mengombinasikan pendekatan narrative review dan systematic synthesis. Data penelitian diperoleh dari publikasi akademik yang terindeks Scopus, Web of Science, JSTOR, Google Scholar, serta berbagai penerbit akademik utama yang membahas humaniora digital, distant reading, kajian digital kritis, teori representasi, dan intertekstualitas. Data dianalisis melalui interpretasi kritis dan sintesis tematik untuk mengidentifikasi perdebatan konseptual dan kecenderungan metodologis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komputasional dalam kajian sastra mampu memperluas skala eksplorasi teks, tetapi juga berisiko mereduksi makna sastra menjadi abstraksi statistik dan mereproduksi bias representasi apabila tidak disertai refleksi kritis. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini mengajukan model analitik kritis berlapis yang mengintegrasikan eksplorasi komputasional, interpretasi hermeneutik, dan refleksi kritis. Kerangka ini kemudian dikontekstualisasikan dalam kajian sastra Indonesia yang bercirikan multibahasa, praktik sastra digital, dan keragaman tradisi budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sastra kontemporer melalui kerangka integratif yang menghubungkan skala, interpretasi, dan relasi kuasa di era digital.
Sambutan Novel Java Joe: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang Karya J.H Setiawan terhadap Teks Babad Prambanan Pipit Mugi Handayani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.366

Abstract

Kajian yang membandingkan antara sastra klasik dengan sastra modern yang menggunakan objek cerita Rara Jonggrang belum pernah dilakukan. Pada analisis ini kajian dibatasi pada pengaruh dan kesamaan antara teks Babad Prambanan dengan Novel Populer Java Joe: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang. Kajian ini terfokus pada pengisahan cerita. Teks Babad Prambanan diposisikan sebagai teks yang lebih dahulu lahir sebagai karya sastra tulis dibanding dengan Novel Java Joe: rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang yang lahir berikutnya dengan jarak waktu yang relatif jauh. Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari pembaca sebagai penerima. Pada penelitian ini digunakan adalah resepsi sastra yang pada hakekatnya menempatkan pembaca sebagai subjek bagi sebuah karya sastra. Hasil penelitian ini dapat disimpulankan bahwa Novel Java Joe: Rahasia bangkitnya Rara Jonggrang merupakan tanggapan karya sebelumnya yang berupa babad dengan menghadirkan ide baru dan mempergunakan kreasi-kreasi berbalut science sebagai tampilan baru. Tanggapan tersebut merupakan penyangkalan cerita yang telah ada tentang cerita masa lampau sehingga esensi cerita yang ada tidak diabaikan. Perbedaan ide tersebut semata-mata adalah hasil pembacaan yang bertujuan memenuhi horizon harapan yang masih kosong pada karya sastra sebelumnya yang dijadikan sumber. Bisa jadi novel tersebut merupakan koreksiterhadap ide cerita pada karya sastra sebelumnya.
TRADISI AKIKAH MASYARAKAT MELAYU PENTAS SASTRA LOKAL “SYAIR NYANYIAN ANAK” DALAM KAJIAN ETNOPUITIKA Sahril Sahril
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.433

Abstract

This study examines the Akikah tradition through performing “Syair Nyanyian Anak” to the Malay people of North Sumatra. The problem studied, namely how the concept stage “Syair Nyanyian Anak” is present in Akikah tradition. This study uses the theory ethnopoetics with qualitative research methods. Data was collected through observation, interviews, and literature. The findings of this study are, Akikah tradition is still often done by people, but with regard to the implementation stage “Syair Nyanyian Anak” by a group of very rare marhaban been implemented. The pattern of the local literary scene found a poem without reading the written text sung by the group marhaban. Text lyric sung alternately by marhaban group. Success is highly dependent on the literary stage if voice chanting poetry text. The texts of these poems contain didactic values and can be used as teaching material for the formation of character.AbstrakPenelitian ini mengkaji tradisi akikah melalui pentas “Syair Nyanyian Anak” di masyarakat Melayu Sumatera Utara. Masalah yang dikaji adalah bagaimana konsep pentas “Syair Nyanyian Anak” hadir dalam tradisi akikah. Penelitian ini menggunakan teori etnopuitika dengan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka. Temuan penelitian ini adalah bahwa tradisi akikah masih sering dilakukan oleh masyarakat, tetapi berkaitan dengan pelaksanaan pentas “Syair Nyanyian Anak” oleh kelompok marhaban sudah sangat langka dilaksanakan. Pola pentas sastra lokal yang ditemukan berupa pembacaan syair tanpa teks tertulis yang dinyanyikan oleh kelompok marhaban. Teks syair dinyanyikan secara bergantian oleh kelompok marhaban. Keberhasilan pentas sastra sangat bergantung pada olah suara yang melantunkan teks syair. Teks-teks syair itu mengandung nilai didaktis dan dapat dijadikan bahan ajar untuk pembentukan karakter anak.
Critical Discourse Analysis of Pantun in Elementary School Textbook Indra Nugrahayu Taufik; Dewi Siti Solihah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5666

Abstract

The purpose of this study is to explain the use of pantun in textbooks in elementary schools, especially the description of the use of types of rhymes, errors in the number of syllables, distribution of pantun types based on age/user, distribution of pantun types based on content, distribution of thematic pantun, pantun distribution based on integrativeness, distribution pantun based on cross-curriculum integration. This research is classified as Critical Discourse Analysis which is part of qualitative research so it uses actual, objective, and systematic explanations. The research was conducted by analyzing and interpreting the pantun contained in the text of elementary school textbooks, both those used by teachers and books used by students. Critical discourse analysis is seen from the perspective of the author. This research provides a more concrete picture of the involvement of textbooks in the preservation of pantun as an Indonesian cultural heritage. In this study, positive results were shown, the existence of pantun in textbooks had created expressive spaces for students. AbstrakTujuan penelitian ini untuk menjelaskan penggunaan pantun dalam buku pelajaran di sekolah dasar khususnya uraian penggunaan jenis rima, penggunaan jumlah suku kata, pembagian jenis pantun berdasarkan usia/pengguna, pembagian jenis pantun berdasarkan isi, pembagian pantun tematik, pembagian pantun berdasarkan keterpaduan, pembagian pantun berdasarkan integrasi lintas kurikulum. Penelitian ini tergolong dalam penelitian Analisis Wacana Kritis yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif sehingga menggunakan penjelasan yang aktual, objektif, dan sistematis. Penelitian dilakukan dengan menganalisis dan menginterpretasikan pantun yang terdapat dalam teks buku pelajaran sekolah dasar, baik yang digunakan oleh guru maupun buku yang digunakan oleh siswa. Analisis wacana kritis dilihat dari sudut pandang pengarang. Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih konkret tentang keterlibatan buku ajar dalam pelestarian pantun sebagai warisan budaya Indonesia. Dalam penelitian ini ditunjukkan hasil yang positif, keberadaan pantun dalam buku pelajaran telah menciptakan ruang ekspresif bagi siswa.
Representasi Feminisme dalam Film Level 16 Karya Danishka Esterhazy Kajian Semiotika Stuart Hall Nurhidayat Alip Alawi; Siti Suwadah Rimang; Abdul Munir
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8319

Abstract

This study aims to identify the dominant, negotiating, and oppositional positions in the film Level 16 in representing women's struggles against patriarchal power. The method used is qualitative content analysis with observation techniques and visual documentation of scenes, dialogues, and symbols that appear in the film. Primary data is the film Level 16, while secondary data is obtained from feminist theory literature and media studies. Stuart Hall's representation theory is used to identify three positions of reading meaning, namely dominant, negotiating, and oppositional. The results of the study show that the dominant position is displayed through institutional control over the bodies and behavior of girls in the academy. The negotiating position is seen from the main character's doubts about the system, while the oppositional position is manifested in acts of resistance and escape. This study confirms that Level 16 symbolically conveys criticism of the patriarchal and capitalist systems through the construction of a dystopian narrative. These findings reinforce the relevance of social feminism theory and media representation in shaping gender awareness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi dominan, negosiasi, dan oposisi dalam film Level 16 dalam merepresentasikan perjuangan perempuan terhadap kekuasaan patriarkal. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif dengan teknik observasi dan dokumentasi visual terhadap adegan, dialog, serta simbol-simbol yang muncul dalam film. Data primer berupa film Level 16, sementara data sekunder diperoleh dari literatur teori feminisme dan kajian media. Teori representasi Stuart Hall digunakan untuk mengidentifikasi tiga posisi pembacaan makna, yakni dominan, negosiasi, dan oposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi dominan ditampilkan melalui kontrol institusi terhadap tubuh dan perilaku perempuan-perempuan dalam akademi. Posisi negosiasi terlihat dari keraguan karakter utama terhadap sistem, sedangkan posisi oposisi terwujud dalam tindakan perlawanan dan pelarian. Penelitian ini menegaskan bahwa film Level 16 secara simbolik menyampaikan kritik terhadap sistem patriarki dan kapitalistik melalui konstruksi narasi distopia. Temuan ini memperkuat relevansi teori feminisme sosial dan representasi media dalam membentuk kesadaran gender.
Mitos Air Terjun Likunggavali: Kajian Strukturalisme Levi-Strauss Ida Nuraeni; Risvirenol Risvirenol; Arini Nurazizah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6544

Abstract

This research aims to describe the structure found in the mythical Likunggavali waterfall in the village of Uevolo. This research uses qualitative descriptive research methods. The source of the data in this study is the oral text obtained from the results of interviews and observations. The data in this study is the units of language as a sentence. The data was analyzed using the Levi-Strauss structuralist approach. The results of this study show that the structure found in the mythical Likunggavali waterfall is divided into two categories: geographical structure and sociological structure. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang terdapat di dalam mitos air terjun Likunggavali di desa Uevolo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualititatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks lisan.  pengamatan, wawancara, perekaman, pencatatan, dan dokumentasi. Yang menjadi data dalam penelitian ini adalah satuan bahasa berupa kalimat. Data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan kajian strukturalisme Levi-Strauss. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur yang terdapat dalam mitos air terjun Likunggavali terbagi dua yaitu struktur geografis dan struktur sosiologis.
Structure of Feeling and Digital Alienation: Cultural Materialism in Okky Madasari's Novel "Kerumunan Terakhir" Riska Yunita; Else Liliani; Rio Mardani Suhardi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8564

Abstract

This study aims to analyze Okky Madasari's novel Kerumunan Terakhir (2016) through the concepts of cultural materialism and Raymond Williams' (1977) structure of feelings in order to reveal the dynamics of digital alienation and identity precarity experienced by urban subjects in the social media era. This research is a qualitative study with a descriptive-analytical approach. The data are in the form of textual units, including dialogue excerpts, internal monologues, and narrative descriptions, sourced from the novel as the main data source. Data collection was carried out through a literature study with repeated reading techniques and corpus recording, while the analysis used the triple hermeneutics method that integrates literary analysis with critical media studies and affect theory. The results show that Madasari's narrative articulates the structure of emergent feelings through the duality of the novel's characters: Jayanegara, who is a nobody in the real world, transforms into @Matajaya, who is adored on social media; and Noname, who lives in a remote village, transforms into the influential @Akardewa, a manifestation of digital alienation, the precarity of virtual identity, and the subject's inability to separate their real self from their digital persona. This study concludes that Indonesian fiction functions as an archive of digital social experiences that have not been formally articulated and demonstrates the transnational relevance of Williams's theory in the context of the Digital Global South. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis novel Kerumunan Terakhir (2016) karya Okky Madasari melalui konsep materialisme budaya dan struktur perasaan Raymond Williams (1977) guna mengungkap dinamika alienasi digital dan prekaritas identitas yang dialami subjek urban di era media sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data berupa satuan tekstual mencakup kutipan dialog, monolog internal, dan deskripsi naratif yang bersumber dari novel sebagai sumber data utama. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik pembacaan berulang dan pencatatan korpus, sedangkan analisis menggunakan metode triple hermeneutics yang mengintegrasikan analisis sastra dengan kajian studi media kritis dan teori afek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Madasari mengartikulasikan struktur perasaan emergen melalui dualitas tokoh-tokoh novel Jayanegara yang bukan siapa-siapa di dunia nyata menjelma menjadi @Matajaya yang dipuja di media sosial; Noname, yang hidup di perdesaan terpencil, menjelma menjadi @Akardewa yang berpengaruh sebagai manifestasi dari alienasi digital, prekaritas identitas virtual, dan ketidakmampuan subjek memisahkan diri nyata dari persona digitalnya. Studi ini menyimpulkan bahwa fiksi Indonesia berfungsi sebagai arsip pengalaman sosial digital yang belum terartikulasikan secara formal dan mendemonstrasikan relevansi teori transnasional Williams dalam konteks Global South Digital.
Kearifan pada Lingkungan Hidup dalam Novel-Novel Karya Andrea Hirata (Tinjauan Strukturalisme Genetik) Andri Wicaksono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.346

Abstract

Hasil cipta sastra akan selalu berbicara tentang manusia dengan segala permasalahan hidupnya, baik hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya maupun manusia dengan penciptanya. Melalui karya sastra, nilai-nilai moral dalam kehidupan meresap menjadi pengetahuan tidak sadar pembaca, menjadi buah pikiran, dan emosi pembaca.Emosi pada kelanjutannya melahirkan tindakan; tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk karakter. Dalam kajian ini akan difokuskan pada hubungan manusia dengan lingkungan/alam yang secara spesifik termasuk dalam ajaran nilai dan pendidikan karakter. Yang dikaji sebagai subjek penelitian ini adalah novel-novel karya Andrea Hirata, di antaranya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Padang Bulan. Metode penelitian yangdigunakan adalah deskriptif interpretif dengan tinjauan strukturalisme genetik. Unsur nilai dalam hubungan manusia dengan alam meliputi pemanfaatan sumber daya alam, peduli lingkungan, serta menjaga dan melestarikan alam. Karya sastra dan sosiologi tidak hanya menghubungkan manusia dengan lingkungan sosial budaya, tetapi juga dengan alam. Alam Belitong yang indah dengan segala bentuk tipikalnya, ciri dan karakter kedaerahan, warna lokalitas serta kearifan dalam mencintai pesona juga kenestapaannya.
Representasi Unsur-Unsur Multikulturalisme dalam Novel Lukisan Tanpa Bingkai Karya Ugi Agustono J Jafar Lantowa; Nonny Basalama; Riman Kasim
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4783

Abstract

The purpose of this study is to describe the representation of multicultural elements in the novel Painting Without a Frame by Ugi Agustono J. The research uses an interpretive descriptive method, which uses interpretive methods by presenting them in the form of descriptions. Data collection is done by reading and note-taking techniques. The data analysis technique uses a content analysis model. The results of the study show that in Ugi J's Painting Without Frames novel contains seven elements of multiculturalism, namely: (1) solidarity and brotherhood, (2) gender equality, (3) open trade, (4) family values, (5) respect for etiquette, (6) feel enough in life, (7) share and control power. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan representasi unsur-unsur multikultural dalam novel Lukisan Tanpa Bingkai karya Ugi Agustono J. Penelitian menggunakan metode deskriptif interpretatif yakni memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan model analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Lukisan Tanpa Bingkai karya Ugi J mengandung tujuh unsur multikulturalisme, yakni: (1) solidaritas dan persaudaraan, (2) kesetaraan gender, (3) perdagangan terbuka, (4) nilai kekeluargaan, (5) penghormatan terhadap tata susila, (6) merasa cukup dalam hidup, (7) berbagi dan kontrol kekuasaan.