cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
THE PRESS HISTORY REPRESENTATION BEFORE AND AFTER INDONESIA'S INDEPENDECE IN MENCARI SARANG ANGIN NOVEL Khoirul Mttaqin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.2903

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi sejarah pers di masa sebelum kemerdekaan dan pascakemerdekaan Indonesia dalam novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah. Dalam penelitian ini dimanfaatan teori new historicism. Hasil penelitan ini adalah paparan analisis representasi sejarah pers di masa Hindia-Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, dan sampai masa pemberotakan PKI. Representasi sejarah tersebut berkaitan dengan peran penting pers. Pers digambarkan mempunyai posisi strategis dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia. Hal itu mencerminan bahwa representasi sejarah ini merupakan wujud perlawanan terhadap pemerintah Orde Baru yang sangat membatasi pers. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dala novel Mencari Sarang Angin disusun sebuah sejarah baru yang memposisikan pers sebagai lembaga utama yang berjasa dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia.Abstract: This study aims to analyze the the press history representation before and after Indonesia's independece in Mencari Sarang Angin novel by Suparto Brata. This study is a qualitative study with a historical approach. In this study, the theory of new historicism is utilized. The result of this study is an analysis of press history representation of Hindia Belanda, Japan, the Independence Period, until the PKI rebellion. This historical representation is related to the important role of the press. The press is depicted to have a strategic position in Indonesia's independence and unity. This reflects that historical representation is a form of resistance against Orde Baru government which severely restricted the press. Therefore, it can be concluded that in the novel Mencari Sarang Angin a new history was compiled that positioned the press as the main institution that contributed to Indonesia's independence and unity.
SUBJEKTIVITAS PRAMUDYA ANANTA TOER DALAM NOVEL PERBURUAN KAJIAN PSIKOANALIS HISTORIS SLAVOJ ZIZEK Ramayda Akmal
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.381

Abstract

Penelitian ini menguraikan subjektivitas Pramoedya Ananta Toer dalam tindakannya menulis novel Perburuan. Tindakan itu bertujuan untuk membangun jarak dan melepaskan diri dari jerat Yang Simbolik. Penelitian dalam perspektif ini perlu dilakukan sebab beberapa penelitian terhadap Pram sebelumnya selalu melihat diri dan karyanya sebagai representasi dimensi simbolik tanpa memperhatikan fakta-fakta bahwa Pram juga menunjukkan penolakan frontal terhadap Yang Simbolik itu. Penelitian ini menggunakan konsep subjektivitas yang dirumuskan oleh Slavoj Zizek, di mana subjek selalu terdiri atas komponen Yang Riil, Yang Imajiner dan Yang Simbolik. Penolakan terhadap Yang Simbolik dilakukan ketika muncul kekurangan (lack) akibat Yang Simbolik berupaya untuk terus mentotalisasi. Kesadaran bahwa ada yang kurang membuat subjek terus berjalan meninggalkan Yang Simbolik menuju Yang Riil dan menjadi subjek yang otentik. Dalam perspektif inilah tindakan Pram menulis novel Perburuan akan dicermati. Untuk mengetahui berbagai dimensi simbolik yang ada dalam novel Perburuan dan bagaimana Pram menyikapinya, peneliti menggunakan metode analisis sudut pandang Tzetan Todorov. Pergerakan sudut pandang Pram sebagai narator di dalam cerita, hubungannya dengan tokoh lain, keterlibatan dan sikap-sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa tertentu menjadi indikasi subjektivitas Pram secara menyeluruh. Apa yang ada di dalam novel Perburuan dan sikap Pram sebagai narator di dalamnya kemudian ditarik keluar dan dilihat kemungkinan homologi struktural dan kulturalnya dengan konteks historis Pram kala itu. Apa yang dapat dilihat di dalam cerita serta apa yang terjadi terhadap novel itu secara keseluruhan menjadi satu kesatuan tindakan yang dapat menunjukkan karakter subjektivitas Pram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjektivitas Pram ketika melakukan tindakan penulisan novel Perburuan menunjukkan karakteristik yang dapat dikatakan radikal terhadap beberapa dimensi simbolik yang dominan di sekelilingnya. Dimensidimensi tersebut antara lain, dimensi familialisme, feodalisme, nasionalisme dan humanisme. Karakter radikal juga tampak dari keseluruhan proses penciptaan novel Perburuan, mulai dari aspek waktu dan tempat penciptaan, homologi cerita novel dengan kehidupan Pram, serta tema-tema yang muncul di dalamnya. Tindakan-tindakan radikal emansipatif tersebut memunculkan perubahan Yang Simbolik di sekitar Pram sekaligus dalam momen bersamaan menarik subjektivitas Pram kembali kepada Yang Simbolik.
COVER BELAKANG Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, Nomor 2, Desember 2022 Jentera: jurnal Kajian Sastra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CERITA BERSAMBUNG “SRIPANGGUNG KETHOPRAK”: SEBUAH PENEGUHAN TERHADAP KEBANGSAAN PADA ZAMAN HINDIA BELANDA Dhanu Priyo Prabowo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.442

Abstract

The research is aimed at exploring the role of Javanese Ngoko style as media to convey nationalism idea in Sripanggung Kethoprak serial story. Sripanggung Kethoprak serial story is Javanese literary piece that succeeded in setting free the use of Javanese Krama style in its narration story. The use of Javanese Ngoko style was one of reactions toward Krama Javanese style (in story narration) which was published by Balai Pustaka. The use of Javanese Ngoko style (in story narration) in Sripanggung Kethoprak serial story was manifestation of nationalism spirit in favor of democratic condition. Literary sociology (Ronald Tanaka macro literary system) was employed in the research. And, descriptive method was used to describe or to give systematical, factual, and accurate picture of facts, features, and inter – phenomenon relations that were investigated (Sripanggung Kethoprak serial story).AbstrakPenggunaan ragam bahasa Jawa ngoko dalam narasi cerita merupakan salah satu reaksi atas otoritas bahasa Jawa ragam krama (dalam narasi cerita) yang diproduksi oleh penerbit Balai Pustaka. Pemakaian bahasa Jawa ragam ngoko (dalam narasi cerita) pada cerita bersambung Sripanggung Kethoprak adalah manifestasi dari semangat kebangsaan untuk menuju pada suatu keadaan yang demokratis.Adapun teori yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra (sistem makrosastra Ronald Tanaka). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan peran bahasa Jawa ragam ngoko sebagai media penyampai gagasan kebangsaan di dalam cerita bersambung Sripanggung Kethoprak. Cerita bersambung Sripanggung Kethoprak merupakan karya sastra Jawa yang berhasil membebaskan pemakaian bahasa Jawa ragam krama dalam narasi ceritanya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan-hubungan antarfenomena yang diteliti (cerita bersambung Sripanggung Kethoprak).
PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, No 2, Desember 2022
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Karakter Tokoh dalam Novel Yang Telah Lama Pergi Karya Tere Liye dan Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Karya Puthut Ea: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow Ulfa Amalia; Muhammad Akhir; Ratnawati Ratnawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8344

Abstract

The purpose of this study was to analyze the development of character figures in the novels Yang Sudah Lama Pergi by Tere Liye and Cinta Tak Pernah Tepat Waktu by Puthut EA with the approach of Abraham Maslow's humanistic psychology. The focus of the analysis is on the fulfillment of Maslow's five levels of needs: physiological, security, love and belonging, self-esteem, and self-actualization. The method used is descriptive qualitative with literature study techniques, intensive reading, recording, and text documentation. Data in the form of words, sentences, which contain elements of humanistic psychology. The data sources come from the novels Yang Sudah Lama Pergi, and Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. The results of this study found 23 data in the novel Yang Sudah Lama Pergi while in the novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu there were 5 data. Thus, the prominent characters in the first novel reflect assertiveness, devotion, and leadership, while the prominent characters in the second novel show gentleness, deep reflection, and strength from within so that the need for self-actualization is fulfilled. The main difference between the two novels lies in the context of fulfilling the character's needs. The characters in the novel Yang Sudah Lama Pergi develop in a dynamic and action-packed social-collective situation, while the characters in the novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu develop more through personal reflection and emotional conflict. This study contributes to the study of literary psychology and can be a reference in learning literature based on a humanistic approach. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan karakter tokoh dalam novel Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA dengan pendekatan psikologi humanistik Abraham Maslow. Fokus analisis pada pemenuhan lima tingkat kebutuhan Maslow: fisiologis, rasa aman, cinta dan rasa memiliki, harga diri, serta aktualisasi diri. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka, pembacaan intensif, pencatatan, dan dokumentasi teks. Data berupa kata, kalimat, yang mengandung unsur psikologi humanistik. Sumber data berasal dari novel Yang Telah Lama Pergi, dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Hasil penelitian ini terdapat 23 data pada novel Yang Telah Lama Pergi sementara pada novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu terdapat 5 data. Dengan demikian, karakter yang menonjol dalam novel pertama mencerminkan ketegasan, pengabdian, dan kepemimpinan, sedangkan karakter yang menonjol dalam novel kedua menunjukkan kelembutan, refleksi mendalam, dan kekuatan dari dalam sehingga terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri. Perbedaan utama dari kedua novel terletak pada konteks pemenuhan kebutuhan tokoh. Tokoh-tokoh dalam novel Yang Telah Lama Pergi berkembang dalam situasi sosial-kolektif yang dinamis dan penuh aksi, sedangkan tokoh dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu lebih banyak melalui refleksi pribadi dan konflik emosional. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian psikologi sastra dan dapat menjadi acuan dalam pembelajaran sastra berbasis pendekatan humanistik.
DEKONSTRUKSI DALAM CERPEN MONOLOG "AKU, PEMBUNUH MUNIR" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Ephrilia Noor Fitriana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.719

Abstract

Abstract: This papper is a study of identifying the explicit meaning of monologue short story entitled "Aku, Pembunuh Munir" by Seno Gumira Ajidarma. The pronlem of the study is denoted through words, phrases and sentences used by the author tend to imply contradictive meanings. The method uses literatute study and deep meaning towards the text applying deconstruction theory by Derrida in order to help elaborate the meaning in wide point of view. The result of the study says that the meaning of text contains contradictive, irony and paradox meanings, consisting: the confession of character "Aku" does not reveal the murderer of Munir. The study concludes that those contradictive, irony and pa radox meanings represent the impression of a satire of Indonesian law which tends to be loose delivered by the author.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna eksplisit dari cerpen monolog yang berjudul "Aku, Pembunuh Munir" karya Seno Gumira Ajidarma. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah makna-makna kontradiktif yang tersirat pada kata-kata, frase, dan kalimat yang digunakan oleh pengarang. Dalam penelitian ini digunakan metode studi literatur serta pemaknaan yang mendalam terhadap teks dengan menerapkan teori dekonstruksi Derrida untuk membantu menguraikan makna secara luas. Hasil penelitian ini adalah makna-makna kontradiktif, ironi, dan paradoks dalam kata-kata yang digunakan oleh pengarang, yaitu pengakuan tokoh "Aku" yang sebenarnya  ti dak menjawab siapa pembunuh Munir yang sesungguhnya. Simpulan penelitian ini adalah pengarang ingin menyampaikan makna-makna kontradiktif, ironi, dan paradoks yang merupakan sindiran terhadap hukum di Indonesia yang dirasa kurang tegas terkait dengan kasus Munir. 
Representasi Konflik Masyarakat Jawa Bagian Timur dalam Babad Blambangan Dwi Rahmawanto; Titik Pudjiastuti; Mamlahatun Buduroh; Turita Indah Setyani; Rias Antho Rahmi Raharjo; Mu’jizah Mu’jizah; Eko Suwargono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7283

Abstract

The opposition between community members that gave rise to the conflict was recorded in the Babad Blambangan (BB), an East Javanese manuscript from the 19th century. The text narrated the causes of the succession of the kings in Blambangan and the conflict situations that accompanied the change of power for every king in Blambangan, from Prabu Tawangalun until Raden Tumenggung Pringgakusuma. The conflicts that are represented indicate the existence of ideas in the minds of the people of East Java about building and maintaining social relations between communities. In this regard, this research aims to understand the perspective of the East Java society towards the phenomenon of conflict in social relations as represented in BB. To find this perspective, qualitative methods were used. This research was also carried out using a multidisciplinary approach through language analysis and socio-cultural conflict approaches. With this approach, various phenomena are classified, identified, analyzed, and interpreted. Theories used to understand the conflict phenomenon are semantics preference and conflict situations. The results of this research show that the conflict in the BB is dominated by issues of power and retaliation. This results reflects the community's perspective on social relations in eastern Java at that time, namely that the existence of personal ambition for power was something that needed to be controlled. If this desire is left uncontrolled, it can damage social relations in society. The findings also strengthen and add to the ideas of previous research regarding the concept of harmony in Javanese society, especially in eastern Javanese society. AbstrakSituasi pertentangan antaranggota masyarakat yang menimbulkan konflik tersebut tercatat dalam Babad Blambangan (BB), naskah Jawa Timur yang berasal dari abad ke-19. Dalam naskah itu dikisahkan penyebab suksesi raja-raja di Blambangan dan situasi konflik yang mengiringi pergantian kekuasaan setiap raja-raja di Blambangan mulai dari Prabu Tawangalun hingga Raden Tumenggung Pringgakusuma. Konflik-konflik yang direpresentasikan tersebut menandai adanya gagasan dalam pemikiran masyarakat Jawa Timur tentang membangun dan mempertahankan hubungan sosial antarmasyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang masyarakat Jawa bagian timur terhadap fenomena konflik dalam hubungan sosial yang direpresentasikan dalam BB. Upaya untuk menemukan cara pandang tersebut dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian ini juga dilakukan dengan pendekatan multidisiplin melalui analisis bahasa dan pendekatan konflik sosio-kultural. Dengan pendekatan tersebut, fenomena konflik diklasifikasi, diidentifikasi, dianalisis dan diinterpretasi. Teori yang dimanfaatkan untuk memahami fenomena konflik tersebut adalah preferensi semantik dan konsep conflict situation. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa konflik dalam kisah BB didominasi oleh isu kekuasaan dan pembalasan. Hal tersebut mencerminkan cara pandang masyarakat tentang hubungan sosial masyarakat di Jawa bagian timur di masa  itu yakni keberadaan ambisi pribadi atas kekuasaan merupakan suatu hal yang perlu dikendalikan. Apabila kehendak tersebut dibiarkan tanpa kendali maka dapat merusak hubungan sosial di masyarakat. Temuan dalam penelitian ini memperkuat dan menambahkan gagasan penelitian terdahulu tentang  konsep kerukunan masyarakat Jawa,  terutama pada masyarakat Jawa bagian timur.
Gender Roles in Dahlia Rasyad’s Novel Perempuan Yang Memetik Mawar: Talcott Parsons’ Perspective Andi Indah; Anshari Anshari; Usman Usman; N. Ifga Gunawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8553

Abstract

The purpose of this study is to analyze the constructed gender roles in Dahlia Rasyad’s novel Perempuan yang Memetik Mawar using a gender sociology perspective, specifically structural-functional theory (Parsons, 1949; Parsons & Bales, 1995). This study employs a qualitative research design with a descriptive method. The data in this study consist of words, phrases, and sentences from the primary data source, namely Dahlia Rasyad’s novel Perempuan yang Memetik Mawar, collected through the read-and-record technique. The data were analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions, which were then verified using source and theoretical triangulation. The results of the study indicate that this novel constructs traditional gender roles, in which women perform expressive roles (domestic, nurturing, providing emotional support) and men perform instrumental roles (public, earning a living). However, the study also identified representations of masculine women who work hard and earn a living, as well as feminine men who perform domestic work and provide emotional support. This study contributes to the field of gender sociology while serving as a vehicle for social critique of gender inequality in Indonesian society, particularly within the context of the local culture of South Sumatra. Abstrak Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis peran gender yang dikonstruksikan dalam novel Perempuan yang Memetik Mawar karya Dahlia Rasyad menggunakan perspektif sosiologi gender, yaitu teori struktural fungsional oleh Parsons (1949) dan Parsons & Bales (1995). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat dari sumber data utama, yaitu novel Perempuan yang Memetik Mawar, yang dikumpulkan melalui teknik baca dan catat. Analisis dengan cara reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan kemudian diverifikasi menggunakan triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini mengonstruksikan peran gender tradisional di mana perempuan menjalankan peran ekspresif (domestik, mengasuh, memberi dukungan emosional) dan laki-laki menjalankan peran instrumental (publik, mencari nafkah). Namun, ditemukan pula representasi perempuan maskulin yang bekerja keras dan mencari nafkah, serta laki-laki feminim yang melakukan pekerjaan domestik dan memberi dukungan emosional. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam studi sosiologi gender, sekaligus menjadi sarana kritik sosial terhadap ketidaksetaraan gender dalam masyarakat Indonesia, khususnya dalam konteks budaya lokal Sumatera Selatan.
CULTURAL HYBRIDITY AND ITS COMPLEXITY IN ESMERALDA SANTIAGO’S ALMOST A WOMAN IKWAN SETIAWAN
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2495

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan hibriditas dalam novel Almost A Woman karya Esmeralda Santiago. Novel ini menceritakan permasalahan kultural yang dialami Negi, tokoh utama, sebagai imigran Puerto Rico di New York, di mana ia harus mengapropriasi budaya Amerika agar bisa diterima oleh masyarakat induk. Untuk membahas permasalahan tersebut, kami akan menggunakan teori poskolonial Bhabha. Analisis tekstual digunakan untuk menjelaskan data terpilih dengan cara pandang poskolonial tanpa mengabaikan keterkaitan kontekstualnya dengan dinamika imigrasi dan diaspora. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tokoh utama harus menjalankan strategi kultural berupa mimikri dan hibriditas agar bisa diterima di masyarakat induk dan bisa mendukung impian modernnya. Meskipun menikmati budaya Amerika secara apropriatif, ia masih berusaha untuk tidak melupakan budaya Puerto Rico. Dengan strategi ini subjek diasporik bisa menegosiasikan kepentingannya di tengah-tengah masyarakat induk dan kuasa budaya dominan, tanpa harus meninggalkan sepenuhnya budaya Puerto Rico.   Abstract. This paper discusses hybridity in Esmeralda Santiago’s Almost A Woman. This novel tells about cultural problems experienced by Negi, the main character, as a Puerto Rican immigrant in New York, where she must appropriate American cultures in order to be accepted by the host community. To discuss this problem, we will apply Bhabha's postcolonial theory. Textual analysis is used to explain selected data from a postcolonial perspective without ignoring its contextual relationship with the dynamics of immigration and diaspora. The results of this study show that the main character must carry out a cultural strategy in the form of mimicry and hybridity in order to be accepted in the parent community and be able to support his modern dreams. Despite enjoying appropriately American culture, she still tries not to forget Puerto Rican cultures. With this strategy the diasporic subject can negotiate its interests in the midst of the host society and the dominant cultural power, without having to completely abandon Puerto Rican culture.