cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
CITRA PEREMPUAN DALAM KABA ANGGUN NAN TUNGGA KARYA AMBAS MAHKOTA Ninawati Syahrul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.407

Abstract

Karya sastra daerah Minangkabau cukup dominan menghadirkan tokoh perempuan. Apabila dihubungkan dengan sistem kekerabatan yang dianut masyarakatnya, yakni matrilineal, sangat menarik untuk mengkaji eksistensi tokoh perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikancitra perempuan Minangkabau sebagai pribadi dan mendeskripsikan citra perempuan Minangkabau sebagai anggota masyarakat dalam kaba Anggun Nan Tungga. Penelitian ini bersifat deskriptif. Untuk melihat gambaran citra perempuan dalam penelitian ini digunakan pendekatan objektif sastra yang dikaitkan dengan teori psikologi wanita, psikologi umum, dan filsafat manusia. Citra perempuan yang digambarkan dalam kaba Anggun Nan Tungga menunjukkan bahwa pada umumnya tokoh perempuan mempunyai kepribadian sangat baik karena ia memiliki kedua aspek citra perempuan, yaitu citra perempuan sebagai pribadi dancitra perempuan sebagai anggota masyarakat. Hal itu sudah mencerminkan tokoh perempuan yang diidealkan. Perempuan merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga dan masyarakat. Ia berfungsi memberikan arahan dan pengaruh besar bagi generasi muda.
Vitalitas Sastra Lisan Kayori Yunidar Yunidar; M Asri B; Tamrin Tamrin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5203

Abstract

Vitality of Kayori oral literature was conducted with purpose to know the vitality or the health level of Kayori oral literature. This research was planned as qualitative and quantitative research which contained study of vitality of Kayori oral literature. The qualitative data of study of vitality of Kayori oral literature was analyzed by using analyzing method which consisted of three main activities which covered (1) data reduction, (2) data display, and (3) conclusion drawing. Furthermore, the quantitative data which was gotten through questioner technique was analyzed by quantitative descriptive based on calculation of frequency and percentage. The calculation was started by calculating the frequency and percentage the respondent characteristic. The advanced calculation was calculation of frequency and percentage from each question items which was part of testing indicator of literature vitality. The respondents of this research were 30 people from several of age level, education level, and job level. The data was gotten from the observation and questionnaire. Quantitative descriptive analysis based on calculating of frequency and percentage to determine the vitality criteria of Kayori oral literature. The result to determine the vitality or the health level of Kayori oral literature was based on eight indicators that were (1) inheriting in circle of young generation, (2) proportion of Kayori speaker in population, (3) transition of Kayori realm, (4) switch of Kayori vehicle, (5) Learning Kayori in the school, (6) Government attitude, (7) Society attitude, and (8) number and quality of documentation. Based on these results, it could be stated that Kayori oral literature had in endangered condition. AbstrakVitalitas sastra lisan Kayori dilaksanakan dengan tujuan mengetahui daya hidup atau tingkat kesehatan sastra lisan Kayori. Penelitian ini berancangan kualitatif dan kuantitatif yang memuat kajian vitalitas sastra lisan Kayori. Data kualitatif kajian vitalitas sastra lisan Kayori dianalisis dengan menggunakan model analisis yang terdiri atas tiga kegiatan utama yang meliputi (1) reduksi data (data reduction), (2) penyajian data (data display), dan (3) penarikan simpulan atau verifikasi (conclution drawing). Selanjutnya, data kuantitatif yang diperoleh melalui teknik kuesioner dianalisis secara deskriptif kuantitatif berdasarkan penghitungan frekuensi dan persentase. Penghitungan diawali dengan menghitung frekuensi dan persentase karakteristik responden. Perhitungan lanjutan adalah menghitung frekuensi dan persentase setiap item pernyataan yang merupakan bagian indikator pengujian vitalitas sastra. Responden dalam kajian ini berjumlah 30 orang dari berbagai jenjang umur, pendidikan, dan pekerjaan. Data diperoleh dari hasil pengamatan dan kuesioner. Untuk menentukan kriteria vitalitas sastra lisan Kayori digunakan analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan penghitungan frekuensi dan persentase. Hasil perhitungan untuk menentukan daya hidup atau tingkat kesehatan sastra lisan Kayori didasarkan pada delapan indikator, yaitu (1) pewarisan di kalangan generasi muda, (2) proporsi penutur Kayori dalam populasi penduduk, (3) peralihan ranah Kayori, (4) alih wahana Kayori, (5) Kayori dalam pembelajaran di sekolah, (6) sikap pemerintah terhadap Kayori, (7) sikap masyarakat terhadap Kayori, serta (8) jumlah dan kualitas dokumentasi. Berdasarkan hasil itu, dapat dikemukakan bahwa sastra lisan Kayori sudah dalam kondisi terancam punah (endangered).
Analisis Tokoh Rawana dalam Hikayat Maharaja Rawana: Sebuah Kompleksitas Karakter Kurniasih Kurniasih; Kirana Atsiila Zulfa Salma; Asep Yudha Wirajaya
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.6602

Abstract

Hikayat Maharaja Rawana is one of the manuscript versions of Hikayat Sri Rama that presents the complete story. In this hikayat there are a number of characters that are the same as the Hikayat Sri Rama, such as Dewi Sita, Sri Rama, Rawana, Lesmana. Each character has distinctive characteristics and plays an important role in the development of the story. One of the interesting characters to analyze is Rawana, a character who, although known as an antagonist, has complex character dimensions. Therefore, this study aims to analyze the character of Rawana in Hikayat Maharaja Rawanad by focusing on the aspects that shape his personality and how they contribute to the overall narrative. The research method used is descriptive qualitative method with intrinsic approach. The data collection technique used the simak catat technique and in analyzing the data used the content analysis technique. The results obtained from this study are several characters of Rawana, namely 1) likes to hurt others, 2) strong and powerful, 3) likes to seize things belonging to others, 4) breaks promises, 5) careless, 6) easily lied to, 7) easily offended, and 8) does not want to listen to advice. Rawana does have a slightly complex character, because on the other hand he has a patient character that is identical to the protagonist, but the saga reveals that Rawana has this trait. AbstrakHikayat Maharaja Rawana merupakan salah satu versi naskah dari Hikayat Sri Rama yang menyajikan penceritaan secara lengkap. Dalam hikayat ini terdapat sejumlah tokoh yang sama dengan Hikayat Sri Rama, seperti Dewi Sita, Sri Rama, Rawana, Lesmana. Setiap tokoh memiliki karakteristik khas yang mendalam dan berperan penting dalam perkembangan cerita. Salah satu tokoh yang menarik untuk dianalisis adalah Rawana, tokoh yang meskipun dikenal sebagai antagonis, tetapi memiliki dimensi karakter yang kompleks. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakter dari tokoh Rawana dalam Hikayat Maharaja Rawanadengan berfokus pada aspek-aspek yang membentuk kepribadiannya dan bagaimana karakter tersebut berkontribusi dalam keseluruhan narasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan intrinsik. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat dan dalam menganalisis data memakai teknik analisis isi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ditemukan beberapa karakter dari Rawana, yakni 1) suka menyakiti orang lain, 2) kuat dan sakti, 3) suka merebut sesuatu milik orang lain, 4) ingkar janji, 5) ceroboh, 6) mudah dibohongi, 7) mudah tersinggung, dan 8) tidak mau mendengarkan nasihat. Sosok Rawana memang memiliki karakter yang sedikit kompleks, sebab di sisi lain ia memiliki karakter sabar yang identik dengan tokoh protagoni, tetapi dalam hikayat terungkap bahwa Rawana memiliki sifat tersebut.
JAGAD ALUS MISTIS JAWA DALAM CERPEN-CERPEN DANARTO DAN FANTASI MAGIS TERNATE DALAM NOVEL CALA IBI KARYA NUKILA AMAL Tjahjono Widijanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.682

Abstract

Artikel ini mengkaji kumpulan cerpen Godlob karya Danarto dan novel Cala Ibi karya Nukila Amal dari sudut pandang realisme magis. Realisme magis dipahami sebagai gaya estetetik yang mengandung unsur-unsur magis bercampur aduk dengan realitas. Dalam realisme magis wilayah mistis dan realitas empiris diperlakukan sejajar karena yang fantasi dan supranatural mengakar pada realitas kultural dan historis. Kajian dalam tulisan ini berdasarkan pandangan bahwa teks sastra pasti akan terpengaruh oleh kultur masyarakat dan pengarangnya. Muatan makna yang terdapat di dalam karya sastra akan dipengaruhi dan ditentukan oleh kosmologi budaya, nila-nilai, norma, konvensi sosial budaya atau bahkan ideologi pengarangnya. Metode dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata atau kalimat tertulis yang menunjukkan kadar realisme magis dalam cerpen-cerpen Danarto yang terkumpul dalam kumpulan cerpen Godlob dan dalam novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Dalam kumpulan crpen Godlob karya Danarto maupun novel Cala Ibi Nukila Amal dapat ditemukan ciri-ciri realisme magis, yakni elemen yang tidak dapat direduksi, dunia fenomenal, keraguan-keraguan yang menggoyahkan, penggabuangan antara yang magis fantasi dengan realitas dan rusaknya batas, ruang, waktu dan identitas. Dalam cerpen-cerpen Danarto, realisme magis berlandaskan mistisisme Jawa berupa konsep-konsep sangkan paraning dumadi, mulih-mulanira, dan manunggaling kawula-gusti, sedangkan dalam novel Cala Ibi, realisme magis berdasarkan  mitos-mitos historis Ternate, dan sufisme Islam dengan konsep wahdatul wujud.Abstract: These article investigate the short story collections of Godlob by danarto and novel Cala Ibi by Nukila Amal from from point of view magical realism. Magical realism is being understood as an aesthetic style which is consist of magical elements that mixed by reality. In magical realism, the mistic and empirical reality treated parallely because of the fantasy and supranatural which is rooted to cultural and historical reality. The study of these writing based on a view that literature writing will be affected and determined cultural cosmology, values, norm, cultural social converence or even the writer ideology. The metode in these writing using descriptive qualitative metode, that is research procedure which is produced descriptive datas contain word`s or `written sentences pointed Godlob and the novel Cala Ibi by Nukila Amal can be found in the magical realism: elements that cannot be reducted, fenomenal world, faltering doubts, merging between magical fantasy with reality and the damage limit, space, time and identity. In Danarto’s short story, magical realism based on Javanese mistism such as concept sangkan paraning dumadi,mulih mulanira and manunggaling kawula gusti. While in the novel Cala Ibi, magical realism based on Ternate historical myths and Islamic sufism with wihdatul wujud comcept.
Di Atas Kereta Angin: Berjalan di Ruang Hibriditas Mardiani Mardiani; Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6730

Abstract

This study aimed to strip the journey of colonised and coloniser subjects in the short story Di Atas Kereta Angin (DAKA). The exploration used Homi K. Bhabha's postcolonial concept to see the characters' walking into hibridity space. By used a qualitative method, the results of this study show that there is mimicry in the way Dullah and bumiputra characters look and behave in front of Europeans. The mimicry was triggered by the justice and equality discourse and the changing times produced by Europeans. Although the mimicry as mockery in the eyes of one of the Europeans, Jan Buskes. The mimicry of Dullah and the bumiputra character makes them a hybrid subject, situated between Java and Europe. This hybrid condition creates a space of hybridity. The space of hybridity in DAKA is basically a negation created by the relationship between the coloniser and the colonised. On the one hand, Dullah and the bumiputra use it to achieve the justice and equality created by Kees and the other colonies. But on the other hand, it also became a space for the coloniser, Kees, to discipline Dullah's body. The existence of the narratives of justice and equality that were used to soften the hearts of Dullah and other natives, turned out to create a space of hybridity-ambivalence. With this ambivalence, DAKA is the one that negates the author's own view that Dutch figures have a humanist side. Furthermore, through DAKA, Bhabha's concept of mimicry as mockery does not apply universally, for example Kees condition, instead he deconstructs it. Finally, through DAKA, postcolonial studies can be used even though DAKA is set during the colonization era in the Indies. This means that postcolonial can speak beyond a specific time and space—when colonisation was still going on, before, or after. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menelanjangi perjalanan subjek terjajah dan penjajah di dalam Cerpen Di Atas Kereta Angin (DAKA). Penelanjangan tersebut menggunakan konsep poskolonial Homi K. Bhabha untuk melihat perjalanan tokoh-tokoh di ruang hibriditas. Dengan menggunakan metode kualitatif, maka hasil penelitian ini menunjukkan adanya mimikri cara berpenampilan dan bertingkah laku tokoh Dullah dan bumiputra di hadapan orang Eropa. Mimikri tersebut dipicu oleh wacana keadilan dan kesetaraan serta zaman sudah berubah yang diproduksi oleh orang Eropa. Meskipun mimikri tersebut juga menjadi mockery di hadapan mata salah satu orang Eropa, Jan Buskes. Mimikri tokoh Dullah dan bumiputra menjadikannya sebagai subjek yang hibrid, berada di antara Jawa dan Eropa. Kondisi yang hibrid inilah yang melahirkan ruang hibriditas. Ruang hibriditas dalam DAKA pada dasarnya adalah negasi yang diciptakan oleh hubungan antara penjajah dan terjajah. Di satu sisi, Dullah dan bumiputra menggunakannya untuk mencapai keadilan dan kesetaraan yang diciptakan oleh Kees dan koloni-koloni lainnya. Akan tetapi di sisi lain juga menjadi ruang penjajah, Kees, dalam mendisiplinkan tubuh Dullah. Keberadaan narasi keadilan dan kesetaraan yang digunakan untuk melunakkan hati Dullah dan bumiputra lainnnya, ternyata melahirkan ruang hibriditas-ambivalen. Dengan adanya ambivalen tersebut, maka DAKA—menjadi salah satu—yang menegasi padangan penulisnya sendiri yang menggap tokoh-tokoh Belanda memiliki sisi humanis. Selanjutnya, melalui DAKA, konsep mimicry as mockery Bhabha tidak berlaku secara universal, contohnya Kees tidak terganggu sama sekali, malahan dia mendekonstruksinya kembali. Terakhir, melalui DAKA, kajian pokolonial dapat digunakan meskipun DAKA memiliki latar waktu saat era kolonialisasi di Hindia berlangsung saat itu. Artinya, poskolonial dapat berbicara di luar ruang dan waktu tertentu—saat era kolonialisasi masih berlangsung, sebelum, atau sesudahnya.
Sastra Lingkungan sebagai Praktik Pembelajaran Berkelanjutan: Studi Deskriptif pada Guru SMP Aprilia Nur Azizah; Wahda Rahma Laila; Ari Ambarwati; Dyah Werdiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8455

Abstract

Environmental literature has strategic potential in sustainable education because it is able to convey ecological values in an affective, critical, and contextual manner. This study aims to describe the practice of environmental literature learning by junior high school teachers in East Java as a form of sustainable learning implementation with consideration of gender dimensions. The novelty of this study lies in presenting the perspective of teachers as the main actors who build eco-literacy through symbolic-affective interpretations of nature, thereby reflecting emotional and reflective relationships with environmental issues, in contrast to previous studies that focused more on texts or student responses. This study uses a descriptive mixed-methods approach, through closed questionnaires (Likert scale) and open-ended questions, which are analyzed quantitatively and thematically using the Miles & Huberman model. The results show the dominance of teachers' positive attitudes towards environmental literature despite obstacles and gaps in knowledge and practice. In addition, there is a complementary gender polarity that shows the dominance of male teachers with concrete-active strategies, while female teachers excel in reflective-literary strategies. The conclusion of the study confirms that environmental literature functions as an effective ecological-pedagogical space for reflection, with gender polarity being synergistic as a transformative force. Implicitly, these findings can form the basis for the development of contextual and applicable environmental literature curation at the school level. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pembelajaran sastra lingkungan oleh guru SMP di Jawa Timur sebagai implementasi pembelajaran berkelanjutan dengan mempertimbangkan dimensi gender. Penelitian menggunakan metode mixed-methods deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup berbasis skala Likert dan pertanyaan terbuka yang diberikan kepada guru SMP. Data kuantitatif dianalisis secara statistik deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki sikap positif terhadap pemanfaatan sastra lingkungan dalam pembelajaran, namun masih terdapat hambatan pada aspek penguasaan konsep dan implementasi pedagogis. Analisis berdasarkan gender memperlihatkan adanya polaritas komplementer, yakni guru laki-laki cenderung menerapkan strategi pembelajaran yang konkret dan aktif, sementara guru perempuan lebih dominan menggunakan pendekatan reflektif dan literer. Simpulan penelitian menegaskan bahwa sastra lingkungan berfungsi sebagai media refleksi ekologis-pedagogis yang efektif, dengan perbedaan strategi berbasis gender yang bersifat sinergis dan berpotensi memperkuat transformasi pembelajaran berkelanjutan. Temuan ini berimplikasi pada perlunya pengembangan kurasi sastra lingkungan yang kontekstual dan aplikatif untuk mendukung praktik pembelajaran di tingkat sekolah menengah pertama.
TARAWANGSA DAN PENGEMBANGANNYA Yeni Mulyani Supriatin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.277

Abstract

Perubahan pandangan dari budaya agraris ke budaya industri dan budaya pascaindustri telah menyebabkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat. Bertolak dari pandangan itu, dapat dikatakan bahwa tradisi lisan Sunda, contoh kasus tradisi tarawangsa, dapat dikembangkan untuk membangun ekonomi kreatif. Tarawangsa adalah jenis kesenian rakyat yang lazim dipertunjukkan dalam upacara ritual yang berhubungan dengan magis religius untuk menghormati Dewi Sri. Kondisi tarawangsa pada saat ini terancam punah, selain akibat modernisasi dan ditinggalkan oleh maestronya berpulang ke rahmatullah, juga efek dari pewarisannya yang tidak sebagaimana mestinya. Tulisan ini membahas seni tarawangsa, dalam hal ini mengkreasi tarawangsa dalam dunia industri pariwisata dan pengembangannya dalam industri kreatif. Upaya lintas sektoral diharapkan dapat melestarikan dan merevitalisasi tradisi tarawangsa serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tulisan ini menerapkan metodologi kajian tradisi lisan dan berbagai pemahaman tentang kajian tradisi lisan dengan industri kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni tarawangsa memiliki kepentingan praktis kemasyarakatan dan kemanfaatan lintas sektoral, yakni mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif.Kata kunci: tradisi lisan, tarawangsa, industri kreatif
Nilai Moral dan Budaya dalam Cerita Rakyat Sakera dari Pasuruan Pradicta Nurhuda; Novi Anoegrajekti; Siti Gomo Attas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.4364

Abstract

Sakera was a figure whom the people of Pasuruan loved in his day because he opposed the injustices committed by the Dutch on the workers. However, his struggle to defend the weak turns out his love was betrayed by Brodin who had an affair with his wife. This study aims to (1) describe the moral values in the Sakera folklore, (2) describe the cultural values in the Sakera folklore. This research is a qualitative descriptive study. The data source in this study is the Sakera folklore published on the Pasuruan Regency website. The object of this research is the moral values and cultural values of Sakera folklore. Data collection techniques were carried out by reading and note-taking techniques. Checking the validity of the data used in this study is by diligently reading and taking notes and checking the validity of reference stories through published folklore. The results of this study indicate that (1) the moral values found in the Sakera folklore are (a) the value of tolerance, (b) the value of discipline, (c) the value of hard work, (d) the value of independence, (e) the value of democracy, (f) ) curiosity value, (g) friendly value, (h) social care value, and (i) responsibility value; (2) the cultural values found in the Sakera folklore are (a) philosophical values, (b) the value of patience, (c) the value of togetherness (solidarity), (d) the value of courage, and (e) the value of firm stance. AbstrakSakera merupakan sosok yang sangat dicintai rakyat Pasuruan di zamannya karena dia menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh Belanda kepada buruh. Namun, di balik perjuangannya membela kaum lemah, ternyata cintanya dikhianati oleh Brodin yang berselingkuh dengan istrinya. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan nilai moral dalam cerita rakyat Sakera, (2) mendeskripsikan nilai budaya dalam cerita rakyat Sakera. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat Sakera yang dimuat dalam situs laman Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Objek penelitian ini adalah nilai moral dan nilai budaya cerita rakyat Sakera. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan teknik catat. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan ketekunan membaca dan mencatat serta mengecek kevalidan cerita referensi melalui cerita rakyat yang sudah dipublikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) nilai moral yang ditemukan dalam cerita rakyat Sakera adalah (a) nilai toleransi, (b) nilai disiplin, (c) nilai kerja keras, (d) nilai mandiri, (e) nilai demokratis, (f) nilai rasa ingin tahu, (g) nilai bersahabat, (h) nilai peduli sosial, dan (i) nilai tanggung jawab; (2) nilai budaya yang ditemukan dalam cerita rakyat Sakera adalah (a) nilai filosofis, (b) nilai kesabaran, (c) nilai kebersamaan (solidaritas), (d) nilai keberanian, dan (e) nilai teguh pendirian.
PERBANDINGAN EXTRAORDINARY ELEMENT DALAM NARASI FANTASI, FIKSI ILMIAH DAN REALISME MAGIS Henny Indarwaty; Sri Utami Budi; Scarletina Vidyayani Eka
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.384

Abstract

Narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis mempunyai satu unsur yang sama yaitu elemen yang tidak rasional atau disebut extraordinary element. Namun demikian unsur ini tidak digunakan dengan cara yang sama dalam ketiga narasi tersebut sehingga membedakan jenis narasinya. Artikel ini akan mengkaji karakteristik narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis untuk melihat keberadaan extraordinary element di dalamnya serta fungsinya dalam pembentukan plot. Karakteristik ini akan diambil dari studi pustaka sekaligus dari hasil identifikasi beberapa karya sastra yang telah dilegitimasi sebagai teks dengan narasi-narasi tersebut. Artikel ini menunjukkan keberadaan extraordinary element dalam ketiga jenis narasi ditampilkan dengan aturan yang berbeda sehingga sebuah teks bisa dikatakan memakai gaya narasi fantasi, fiksi ilmiah, atau realisme magis. Extraordinary element dalam fantasi merupakan rekaan yang menciptakan dunia sendiri dan aturan yang memakai logikanya sendiri yang berbeda dengan logika dunia non-fiksi. Extraordinary element dalam fiksi ilmiah merupakan rekaan yang tetap harus berbasis aturan logika ilmu pengetahuan dalam dunia non-fiksi. Sedangkan extraordinary element dalam realisme magisberbasis mitos budaya yang diperlakukan sebagai hal biasa dan bukan dirayakan sebagai pusat tontonan. Artikel ini menggunakan metode perbandingan naratologi. Hasil artikel ini diharapkan bisa membantu para akademisi lainnya, terutama mahasiswa, untuk menentukan obyek material yang tepat sesuai teori yang ingin mereka terapkan; misalnya memilih narasi realisme magis untuk studi poskolonial, narasi fantasi dan fiksi ilmiah untuk studi cultural studies.
Pemistisan Kucing Hitam dalam Cerpen “Kucing” dan “Kucing Hitam”: Kajian Sastra Bandingan Anto Rantojati; Denny Adrian Nurhuda
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.4915

Abstract

This paper aims to explore the relationship of structure and meaning in the short stories “Kucing” by Toni Lesmana and “Kucing Hitam” by Edgar Allan Poe. This paper is a comparative literary study with the Levi-Strauss mythological structuralism study model. The method used in this study is descriptive qualitative. The result shows that through the mythicization of the black cat, the two short stories try to reveal the dominance of gender in the opposite domestic area. The difference in dominance is represented through the relational structure of the short story which is oppositional. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menggali relasi struktur dan makna dalam cerita pendek “Kucing” karya Toni Lesmana dan “Kucing Hitam” karya Edgar Allan Poe. Tulisan ini merupakan kajian sastra bandingan dengan model kajian strukturalisme mitos Levi-Strauss. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa melalui pemistisan kucing hitam, kedua cerpen berusaha mengungkap dominasi gender dalam wilayah domestik yang berlawanan. Perbedaan dominasi tersebut direpresentasikan melalui relasi struktur cerpen yang oposisional.

Page 1 of 27 | Total Record : 266