cover
Contact Name
Dwi Hastuti
Contact Email
dwi.mkpugm@gmail.com
Phone
+6282138220026
Journal Mail Official
dwi.mkpugm@gmail.com
Editorial Address
Sharia Faculty (Fakultas Syariah), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Jl. Mataram No. 1 Mangli, Kaliwates, Jember 68136, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Criminal Law Review (CLEAR)
ISSN : -     EISSN : 2987520X     DOI : https://doi.org/10.35719/clear
Core Subject : Social,
Focus and Scope of Criminal Law Review (CLEAR) Journal publishes article on law criminal from perspectives islamic and normative. This journal emphasizes aspects of positive legal with special reference to Islamic criminal law or criminal law (normative). We invite observers, researchers, lecturers, students to contribute by contributing critical thoughts and providing updates to legal developments. Journal Criminal Law Review, which is a forum for the study of Indonesian law, it supports studies focused on specific themes and interdisciplinary studies related to the subject matter. So that with this journal forum it can be used as a reference and a medium for exchanging ideas. For detail, Scope of Clear Journal known as: 1. Criminal law 2. Islamic criminal law 3. Philosophy of criminal law 4. Criminal law theory 5. Comparative criminal law 6. Criminology 7. Criminal justice 8. Health criminal law (forensics) 9. Cyber Criminal law 10. Criminal Law Politics
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 42 Documents
Kajian Yuridis Sosiologis Terhadap Penegakan Hukum Lingkungan Akibat Pencemaran Air : Sociological Legal Study of Environmental Law Enforcement Due to Water Pollution Istiana; Dominikus Rato
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 1 (2024): CLEAR Journal of May 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i1.16

Abstract

Nowadays, environmental problems due to water pollution have become a burden in themselves, where law enforcement and community participation are of course important in environmental safety and sustainability. Law as a pioneer of change in social groups aims to realize a sense of justice. So, to produce a sense of justice, of course the roles of both law enforcers and the community must be in harmony to make this happen. So the theory of justice needs to be applied in environmental law enforcement mechanisms.   Permasalahan lingkungan akibat pencemaran air menjadi beban tersendiri dalam dimanaka penegakan hukum, peran serta masyarakat tentunya menjadi hal penting dalam keselamatan dan kelestarian lingkungan. Hukum sebagaipelopor perubahan dalam kelompok  masyarakat yang tak lain bertujuan untuk mewujudkan rasa keadilan. Sehingga untuk menghasilkan rasa keadilan tentunya peran kedua antaran penegak hukum dan masyarakat harus selaras untuk mewujudkan. Sehingga teori keadilan perlu diterapkan dalam mekanisme penegakan hukum lingkungan
Pemberatan Sanksi terhadap Pelaku Pemerkosaan Keluarga Kandung dalam Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks: Increased Sanctions for Perpetrators of Rape of a Biological Family in Makassar District Court Decision Number: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Mutmainah Mutmainah
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 1 No. 2 (2023): Clear Journal of November 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v1i2.18

Abstract

Children are a picture of a generation of a great and civilized nation or a damaged nation. The focus of this research is 1. What is the basis of the judge's legal considerations (Ratio Decidendi) in the Makassar District Court Decision Number: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Positive Legal Perspective and Islamic Criminal Principles? 2. What are the severity of criminal sanctions in the crime of rape of a biological child in the Makassar District Court case number: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks from the perspective of the principle of justice? This research uses qualitative normative juridical analysis. As a means of supporting this research, identifying problems uses library research and uses several approach methods, including: statutory approach, case approach and conceptual approach. The results of this research are: 1.) The judge's legal considerations stated that the defendant's brother was sentenced to 8 years in prison on the grounds that he had committed the crime of raping a minor's biological child. 2.) Rape is based on a child having trust in his parents who should be his main protector and will not commit the crime of rape against him.     Anak merupakan sebuah gambaran suatu generasi bangsa yang besar dan beradab atau bangsa yang rusak. Fokus peneitian ini adalah 1. Apakah Dasar Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio Decidendi) Pada Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Hukum Positif dan Prinsip Pidana Islam? 2. Apakah Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Kandung dalam Perkara Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Asas Keadilan? Penelitian ini menggunakan analisis yuridis normatif bersifat kualitatif. Sebagai sarana pendukung penelitian ini, dalam mengidentifikasi permasalahan menggunakan penelitian pustaka dan menggunakan beberapa metode  pedekatan antara lain : pendekatan Undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil dari penelitian ini adalah: 1.) Dasar Pertimbangan Hukum Hakim yang menyatakan bahwa saudara terdakwa di jatuhi hukuman 8 tahun penjara atas pertimbangan sudah melakukan tindak pidana pemerkosa anak kandung di bawah umur. 2.) Pemerkosaan yang didasari oleh seorang anak memiliki kepercayaan kepada orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama dan tidak akan melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadapnya.
Sanksi Pidana Pelaku Tindak Pidana Order Fiktif dalam Transportasi Berbasis Aplikasi Online Prespektif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam: Criminal Sanctions for Perpetrators of Fictitious Order Crimes in Online Application-Based Transportation from the Perspective of Positive Law and Islamic Criminal Law Wasil Wasil
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 1 No. 2 (2023): Clear Journal of November 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v1i2.19

Abstract

The focus of the problem examined in this thesis is 1) Is the application of criminal sanctions against perpetrators of fictitious criminal acts in online application-based transportation in accordance with the criminal sanctions system in Indonesia? 2) How does Islamic criminal law review the criminal sanctions for criminal acts of fictitious orders in online application-based transportation? Researchers use normative juridical research or library research using several approaches, namely the statutory approach, the case approach and the conceptual approach. The researcher reached the conclusion 1) Based on the Indonesian criminal system, the judge in handing down the sentence was in accordance with the Indonesian criminal system. As in Article 51 jo 35 paragraph (1) Law no. 19 of 2016. As a form of criminal act of online fraud through fictitious orders. 2) Fictitious orders are fake orders, using fake accounts to deceive the company. Fictional orders are included in the category of jarimah ta'zir, because at the time of the Prophet Muhammad SAW, technology in the form of the internet, computers or cellphones had not been discovered as a tool for committing crimes. So there is not a single verse that explains this fictitious order case. In Islamic criminal law, a fictitious order can be considered an act of fraud. So the sanctions are not qisash and had but rather punishments including Jarimah in ta'zir, then the punishment or sanctions for perpetrators of fictitious orders are determined by the Judge or Ulil Amri (government).   Fokus masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Apakah penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana order fiktif dalam transportasi berbasis aplikasi online telah sesuai dengan stelsel pemidanaan di Indonensia? 2) Bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi pidana tindak pidana order fiktif dalam transportasi berbasis aplikasi online? Peneliti menggunakan jenis penelitian yuridis normatif atau penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan beberapa pendekatan, yakni pendekatan peraturan perundang-undangan (Statutte Approach), pendekatan kasus (Case Approach), dan pendekatan konseptual (Conceptual Approach). Peneliti memperoleh kesimpulan 1) Berdasarkan stelsel pemidanaan Indonesia, hakim dalam menjatuhkan pemidanaan sudah sesuai dengan stelsel pemidanaan Indonesia. Sebagaimana dalam Pasal 51 jo 35 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016. Sebagai bentuk tindak pidana penipuan online melalui order fiktif. 2) Order fiktif merupakan orderan paslu, dengan menggunakan akun palsu untuk menipu perusahaan. Order fiktif masuk dalam katagori jarimah ta’zir, karena pada zaman Nabi Muhammad SAW belum ditemukan teknologi berupa internet dan komputer maupun ponsel sebagai alat dalam melakukan kejahatan. Sehingga tidak ada satu pun ayat yang menjelaskan mengenai kasus order fiktif ini. Di dalam hukum pidana Islam, order fiktif dapat dikatakan perbuatan penipuan. Sehingga sanksinya bukanlah qisash dan had melainkan hukuman termasuk Jarimah dalam ta’zir, maka hukuman atau sanksi bagi pelaku order fiktif ditentukan oleh Hakim atau Ulil Amri (pemerintah).
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Ditinjau dari Hukum Pidana dan Hukum Pidana Islam: Criminal Liability of Corporations in Terrorism Financing Crimes Reviewed from Criminal Law and Islamic Criminal Law Muhammad RIzky Afwan Fanani
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 1 No. 2 (2023): Clear Journal of November 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v1i2.17

Abstract

The main focus of this research is: 1) What is the form of corporate criminal liability in the crime of financing terrorism? 2) What is the form of corporate criminal liability in the criminal act of financing terrorism in terms of Islamic Criminal Law? In research methods, it uses normative juridical research with statutory, conceptual and comparative approaches which are relevant to the title of this research. The analysis technique uses literature study. In this research, 2 conclusions can be drawn, namely: 1) The form of corporate criminal responsibility for the crime of financing terrorism refers to Law Number 9 of 2013 concerning the Prevention and Eradication of Criminal Acts of Terrorism Funding. Corporations are subject to a basic criminal charge, namely a fine of up to Rp. 100,000,000,000 (one hundred billion rupiah). 2) The form of corporate criminal responsibility for acts of terrorist financing when viewed from Islamic criminal law is Ta'zir. Ta'zir punishment is given only to administrators or those in charge. This is because themukallaf, which is one of the conditions for criminal responsibility, is only owned by humans, because a corporation explicitly does not have the mind, let alone the will to do something, so it cannot be charged with legal responsibility..   Fokus utama dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah bentuk Pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana pendanaan terorisme? 2) Bagaimana bentuk pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana pendanaan terorisme ditinjau dari Hukum Pidana Islam? Dalam metode penelitian, menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual dan perbandingan yang mempunyai relevansi dengan judul penelitian ini. Teknik analisisnya menggunakan studi kepustakaan. Dalam Penelitian ini, dapat disimpulkan 2 kesimpulan yaitu: 1) Bentuk pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana pendanaan terorisme merujuk pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak pidana Pendanaan Terorisme. Korporasi dibebani pidana pokok yaitu denda paling banyak Rp. 100.000.000.000 (seratus miliar rupiah). 2) Bentuk pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pendanaan terorisme jika ditinjau dari hukum pidana Islam adalah Ta’zir. Hukuman Ta’zir diberikan hanya kepada pengurus atau yang bertanggung jawab saja. hal ini disebabkan karena mukallaf yang menjadi salah satu syarat pertanggungjawaban pidana hanyalah dimiliki oleh manusia saja, karena sebuah korporasi secara eskplisit tidak memiliki akal apalagi kehendak dalam berbuat sesuatu hingga tidak dapat dibebankan pertanggungjawaban hukum  
Tumpang-Tindih Kewenangan Penyidikan Tindak Pidana Illegal Fishing oleh PPNS Perikanan, Penyidik TNI AL, dan Kepolisian: Overlapping Authority for Investigating Illegal Fishing Crimes by Fisheries PPNS, Indonesian Navy Investigators, and the Police Arvina Hafidzah
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 3 No. 1 (2025): CLEAR Journal of May 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v3i1.28

Abstract

Illegal Fishing is a form of crime that has cost the Indonesian state  billions of dollars, so every stage of law enforcement in the criminal  justice system must be able to create legal certainty. However, in the  investigation process, three institutions have the authority to  investigate the a quo crime. Thus, this article focuses on the application policy related to the harmonization of authority among multi-agency investigators in illegal fishing crimes. This article is a normative legal research with a statutory, conceptual, and historical approach. The research findings are: First, the authority of multi agency investigations is stipulated in Article 73 of the Fisheries Law, which historically is a political compromise between the three agencies. Furthermore, based on the principle of legal certainty by Otto, clear regulations are needed regarding the material limitation of authority. This serves as a reference in the formulation of application policies to.   Abstrak Illegal Fishing ialah salah satu bentuk tindak pidana yang merugikan Negara Indonesia hingga miliaran dollar, hingga setiap tahapan penegakan hukum dalam sistem peradilan pidana haruslah dapat menimbulkan kepastian hukum. Namun, pada proses penyidikan terdapat tiga lembaga yang memiliki kewenangan dalam melakukan selidik terhadap tindak pidana a quo. Demikian, Artikel ini berfokus pada kebijakan Aplikasi terkait dengan harmonisasi kewenangan di antara penyidik multi-instansi di tindak pidana illegal fishing. Artikel ini merupakan penelitian hukum (legal research) yang bersifat normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan historis. Ditemukan hasil penelitian yakni yang pertama Kewenangan penyidikan oleh multi-instansi termaktub dalam Pasal 73 UU Perikanan yang berdasarkan sejarahnya merupakan kompromi politis ketiga instansi, selanjutnya berdasarkan prinsip kepastian hukum oleh Otto, diperlukan adanya aturan yang lugas terkait dengan pembatasan kewenangan secara materiil, hal tersebut menjadi acuan dalam formulasi kebijakan aplikasi guna tercapai keselarasan dalam penanggulangan tindak pidana illegal fishing di Indonesia
Legal Protection for Female Sexual Harassment Victims in Campus: Based on Indonesian Criminal Justice System Reviewed by Permendikbud Number 30 of 2021 Joni Irawan; Indra Rukmono; Abustan Abustan; Brilian Ahmad Sugiono
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 2 (2024): Clear Journal of November 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i2.22

Abstract

This current study aims at perceiving the form of legal protection in accordance with the latest policy regarding the Prevention and Handling of Sexual Violence (PPKS) on campus, reviewed from the policy of the Minister of Education and Culture Regulation No. 30 of 2021. Sexual harassment is a crime committed by harassing, humiliating, insulting which results in psychological or physical disorders. This sexual crime does not only occur in the private, family, online game, office and company environment, but also happen in a college environment. Thereby, the current study set their focus to grasp the legal protection of female sexual harassment victims in a university environment and the legal protection for sexual protection in a university environment reviewed from the Minister of Education and Culture Regulation No. 30 of 2021. A normative legal study was piloted in the study. With the presence of the Minister of Education and Culture Regulation Edition 30 of 2021, all universities in Indonesia must prevent and overcome sexual violence. In addition, sexual harassment encompasses psychological violence, physical violence, economic violence, verbal violence and cyber-sexual violence. Kajian saat ini bertujuan untuk mempersepsikan bentuk perlindungan hukum sesuai dengan  kebijakan terbaru terkait Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di kampus, ditinjau dari kebijakan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 30 Tahun 2021. Pelecehan seksual adalah kejahatan yang dilakukan dengan melecehkan, mempermalukan, menghina yang mengakibatkan gangguan psikologis atau fisik. Kejahatan seksual ini tidak hanya terjadi di lingkungan pribadi, keluarga, game online, kantor dan perusahaan, tetapi juga terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Dengan demikian, kajian saat ini menjadi fokus mereka untukmemahami perlindungan hukum terhadap korban pelecehan seksual perempuan di lingkungan universitas dan perlindungan hukum terhadap perlindungan seksual di lingkungan universitas yang ditinjau dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 30 Tahun 2021. Sebuah studihukum normatif diujicobakan dalam penelitian tersebut. Dengan hadirnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 30 tahun 2021, seluruh perguruan tinggi di Indonesia harus mencegah dan mengatasi kekerasan seksual. Selain itu, pelecehan seksual meliputi kekerasan psikologis, kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan verbal, dan kekerasan cyber-seksual.
PEMIDANAAN ANAK DALAM KECELAKAAN LALU LINTAS ( STUDI KASUS DI KABUPATEM BANYUANGI ): CHILD VICTIMIZATION IN TRAFFIC ACCIDENTS (CASE STUDY IN BANYUWANGI REGENCY) Lailatul Fitria; Dwi Hastuti
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 2 (2024): Clear Journal of November 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i2.29

Abstract

Law Number 22 of 2009 concerning Road Traffic and Transportation aims to improve public welfare and ensure safety and smooth traffic flow. However, problems arise when minors are involved in traffic accidents that result in fatalities. Two cases in Banyuwangi have drawn attention: Okta, a student who hit a man while on his way to school, and Marstelysia Denasya, who was involved in an accident on February 16, 2023, on the Banyuwangi–Jember Highway. This study formulates two main questions: how is the process of handling minors in traffic violations that lead to death carried out, and what is the criminal responsibility of minors in such cases? The research method used is empirical, combining sociological, legislative, and phenomenological approaches. The study shows that both cases were not brought to court. The handling was based on Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System and Supreme Court Regulation Number 4 of 2014, emphasizing the principle of restorative justice. The resolution process was conducted transparently, accountably, and in an integrated manner, by bringing together the victim and the perpetrator in a forum to engage in dialogue and seek a mutual solution. This approach is considered more appropriate for dealing with legal violations committed by minors, while still taking into account legal and humanitarian aspects.   Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakatserta menciptakan keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Namun, persoalan muncul ketika anak di bawah umur terlibat dalam kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian. Dua kasus di Banyuwangi menjadi sorotan: Okta, seorang pelajar yang menabrak seorang pria saat berangkat sekolah, dan Marstelysia Denasya yang mengalami kecelakaan pada 16 Februari 2023 di Jalan Raya Banyuwangi– Jember. Penelitian ini merumuskan dua pertanyaan utama: bagaimana proses penanganan anak dalam pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kematian, dan bagaimana pertanggungjawaban pidana anak di bawah umur dalam kasus tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah empiris, dengan pendekatan sosiologis, perundangundangan, dan fenomenologis. penelitian menunjukkan bahwa kedua kasus tidak dilanjutkan ke pengadilan. Penanganan dilakukan berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Peraturan Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2014, dengan mengedepankan prinsip restorative justice. Proses penyelesaian dilakukan secara transparan, akuntabel, dan terpadu, dengan mempertemukan korban dan pelaku dalam satu forum untuk berdialog dan mencari solusi bersama. Pendekatan ini dianggap lebihsesuai dalam menangani pelanggaran hukum oleh anak di bawah umur, dengan tetap mempertimbangkan aspek hukumdan kemanusiaan
PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PENGEMIS YANG DILAKUKAN MELALUI LIVE STREAMING TIKTOK: Criminal Liability for Begging Conducted Through TikTok Live Streaming Nurma Novita Sari; Yudha Bagus Tunggala Putra
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 2 (2024): Clear Journal of November 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i2.30

Abstract

The phenomenon of begging is not only occurring in public spaces; with the advancement of technology, this phenomenon has also emerged in the virtual world, particularly on TikTok, where individuals engage in inappropriate methods to gain the sympathy of others and receive gifts that can be  exchanged for money. This practice is referred to as online begging. The rise of online beggars can be attributed to several factors, including a lack of education, limited skills, and the influence of the surrounding environment.Among these, the lack of education and skills is the primary reason why some individuals choose to become beggars. Education is a critical factor in determining one's wage value and plays a significant role in influencing income levels within society. As such, education serves as a benchmark for acquiring employment status. Based on the background regarding the phenomenon outlined above, this thesis focuses on the following research questions: 1) Can online beggars, using electronic media platforms (such aslive streaming on TikTok), be prosecuted under Article 504 of the Indonesian Penal Code (KUHP)? 2) What is the Islamic legal perspective on the phenomenon of online begging through electronic media (such as live streaming on TikTok)?
ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA KOHABITASI PERSPEKTIF KITAB UNDANGUNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) DAN HUKUM PIDANA ISLAM: Juridical Analysis of Cohabitation Criminal Offenses from the Perspective of the Penal Code (KUHP) and Islamic Criminal Law Ahmad Faissol Akbar; Rafid Abbas
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 2 (2024): Clear Journal of November 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i2.31

Abstract

In adolescence, or what can be called the threshold of adulthood, there is a high potential for engaging in promiscuity or cohabitation. This is a matter of great concern and anxiety for parents, as well as for society and the state. The type of research method used is normative legal research, utilizing legal material sources that focus on the analysis of legal regulations.The results of this study are as follows: (1)The absence of a legal enforcement system for perpetrators of the criminal act of cohabitation in Indonesia in the past has contributed to the prevalence of such disgraceful acts. However, with the enactment of the new Criminal Code (KUHP), which explicitlycriminalizes this offense, it is expected that community life in Indonesia will become more peaceful and prosperous. (2)Theperspective of Islamic criminal law clearly and strictly prohibits acts of cohabitation, especially for all Muslims in Indonesia, due to therisk of falling into immoral acts and major sins. (3)Both the KUHP and Islamic criminal law equally prohibit the criminal act ofcohabitation, considering the negative impacts that would arise if such actions were allowed to spread unchecked in Indonesia   Pada usia remaja atau dapat disebut usia diambang dewasa sangat berpeluang besar terjadinya pergaulan bebas maupun kohabitasi, oleh karena itu hal tersebut yang sangat ditakuti dan dicemaskan orang tua, terlebih masyarakat dan negara. Adapun jenis metode penelitian yang digunakan yakni penelitian hukum Normatif dengan menggunakan sumber bahan hukum yang berfokus pada analisis aturan-aturan hukum. Hasil dari penelitian ini yaitu, 1) Tidak adanya sistem penegakan hukum bagi pelaku tindak pidana kohabitasi di Indonesia sebelumnya yang membuat maraknya tindakan tercela tersebut di Indonesia, tetapi dengan adanya KUHP baru yang secara tegas mengancam tindak pidana tersebut diharapkan kehidupan di lingkungan masyarakat Indonesia menjadi jauh lebih damai dan sejahtera. 2) perspektif hukum pidana Islam yang secara jelas telah melarang keras agar menjauhi tindakan kohabitasi ini khususnya bagi seluruh umat muslim di Indonesia, karena dikhawatirkan terjerumus ke perbuatankeji dan dosa besar. 3) KUHP maupun Hukum Pidana Islam telah sama-sama melarang tindak pidana kohabitasi karena mengingatdampak negatif yang ditimbulkan akibat tindakan tersebut jika terus merajalela di Indonesia.
Pertanggung Jawaban Pidana Pelatih Pencak Silat Terhadap Anggotanya yang Meninggal Perspektif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam: Criminal Liability of Pencak Silat Trainers for the Death of Their Members: A Perspective of Positive Law and Islamic Criminal Law Ilham Khoirul Ummah
CLEAR: Criminal Law Review Vol. 2 No. 2 (2024): Clear Journal of November 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/clear.v2i2.32

Abstract

Criminal liability of a pencak silat coach for the death of a student is an issue that frequently arises within pencak silat organizations,particularly when incidents result in fatalities. Such cases fall under the category of negligence when viewed from the perspective of the positive legal system, specifically under Article 359 of the Indonesian Criminal Code (KUHP). From the perspective of Islamic criminal law (fiqh jinayah), the applicable punishment is diyat (compensation to the victim’s family). This study addresses three main questions: (1) What is the form of criminal liability for a coach whose actions result in the death of a student, from the perspective of positive law?(2) What is the form of criminal liability for such a coach, from the perspective of fiqh jinayah?(3) What are the similarities and differences in the criminal liability of a pencak silat coach causing the death of a student, when viewed from both positive law and fiqh jinayah? The objectives of this research are: (1) To analyze the form of criminal liability of a pencak silat coach whose actions result in the death of a member, from the perspective of positive law.(2) To examine the same matter from the viewpoint of fiqh jinayah.(3) To compare the criminal liability of a pencak silat coach causing the death of a member in bothfiqh jinayah and positive law. This study employs a normative legal research method, meaning it relies on obtaining data and information relevant to the legal issue under discussion through a literature review.   Pertanggung jawaban pidana pelatih pencak silat terhadap anggotanya yang meninggal merupakan permasalahan yang seringterjadi di kalangan organisasi pencak silat yang sampai ke titik meninggal, faktor ini masuk dalam kategori kelalaian jika dilihat darisistem hukum positif menggunakan pasal 359 KUHP, jika dilihat dari sistem hukum pidana islam hukumannya berupa diyat, (1)Bagaimana bentuk pertanggung jawaban pidana terhadap pelatih yang menyebabkan kematian kepada siswanya ditinjau perspektifhukum positif ? (2) Bagaimana bentuk pertanggung jawaban pidana terhadap pelatih yang menyebabkan kematian kepada siswanyaditinjau perspektif Fiqh Jinayah? (3) Bagaimana komparasi persamaan dan perbedaan pertanggung jawaban pelatih pencak silatyang menyebabkan kematian di tinjau dari hukum positif dan fiqh jinayah? Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk menganalisabentuk pertanggung jawaban pidana terhadap pelatih pencak silat yang menyebabkan kematian kepada anggotanya dalam prespektif Hukum Positif. (2) Untuk mengetahui pelatih yang menyebabkan kematian terhadap anggotanya dalam pandangan Fiqh Jinayah. (3) Untuk mengkomparasi pertanggung jawaban pelatih pencak silat yang menyebabkan kematian terhadap anggotanya di tinjau dari fiqh jinayah dan hukum positif. Penelitian ini merupakan hukum normatif dengan artian penelitian yang dilakukan dengan cara mendapatkan data atau informasi yang sesuai dengan isu hukum yang dibahas dengan kajian pustaka.