cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
CHATTAM AMAT REDJO SEBAGAI PENGEMBANG SENI TARI DI KOTA MALANG (STUDI KASUS PEMADATAN TARI BESKALAN) NADYA ASMARA, GLADIS; YANUARTUTI, SETYO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chattam Amat Redjo merupakan salah satu seniman yang telah lama melakukan pengembangan seni tari di Kota Malang. Ada beberapa tari yang telah dikembangkan oleh Chattam Amat Redjo. Salah satu tari yang menonjol bahkan sekarang menjadi ikon Malang adalah tari Beskalan. Proses pengembangan tari Beskalan ini melalui metode pemadatan. Hal ini menarik untuk dikaji. Fokus penelitian ini yaitu mendeskripsikan riwayat hidup kehidupan dan kesenimanan Chattam Amat Redjo, mendeskripsikan konsep pengembangan yang dilakukan Chattam Amat Redjo dalam mengembangkan tari Malangan, mendeskripsikan tentang proses pemadatan dan bentuk pertunjukkan tari Beskalan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep pengembang seni oleh Edy Sedyawati, teori kreativitas oleh Jakob Sumardjo, konsep latar belakang dari teori Studi Tokoh oleh Arief Furchan dan Agus Maimun, konsep pemadatan dari S.D Humardani yang ditulis oleh Sutopo lalu konsep seni tari yang dikemukakan oleh Sumandiyo Hadi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa Chattam Amat Redjo gemar terhadap seni karena pengaruh dari keadaan lingkungan sekitar (keluarga danlingkungan sekitar). Beliau memutuskan untuk menggeluti dan mengembangkan seni tari gaya Malangan. Dirinya beranggapan bahwa seni tari gaya Malangan harus tetap lestari dan semua penari di Malang harus memiliki teknik yang bagus saat menari tari gaya Malangan. Secara kualitatif pengembangan tari gaya Malangan Chattam Amat Redjo memiliki konsep pengembangan yang berpegang teguh pada teknik tari yang kuat. Teknik tari yang dimaksud oleh Chattam Amat Redjo adalah 5 teknik tari Malangan yaitu patrap, solah, greged, ulat, pandeleng. Salah satu tari yang dikembangkan secara kualitatif oleh Chattam Amat Redjo yaitu tari Beskalan dengan menggunakan metode pemadatan. Tari Beskalan mengalami pemadatan dengan menjadikan tari Beskalan lebih singkat, mengurangi gerakan-gerakan yang sama, serta mengubah tempo tarian menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Dalam penelitian ini peneliti juga membahas tentang bentuk pertunjukkan tari Beskalan setelah mengalami pemadatan yaitu dari segi gerak, tata rias dan busana, iringan musik, tempat pertunjukkan, properti, tata sinar/lighting. Secara kuantitatif Chattam Amat Redjo menyebarkan tari-tari yang telah dikembangkannya dengan membuka Sanggar Swastika, di rumahnya dan melatih ke berbagai sanggar, instansi, sekolah hingga ke luar negeri. Dalam bidang seni tari Chattam Amat Redjo juga banyak meraih prestasi dan penghargaan salah satunya Penghargaan dari Gubernur Jawa Timur atas pengabdiannya di bidang seni dan budaya. Tari Beskalan merupakan salah satu tari yang telah dikembangkan oleh Chattam Amat Redjo melalui proses pemadatan. Tari ini memiliki kuakitas yang baik terbukti dengan dijadikannya tari ikon Kota Malang. Penelitian ini membuktikan bahwa Chattam Amat Redjo telah melakukan pengembangan seni tari Malangan dengan banyak hal dalam meningkatkan kualitas seni tari salah satunya memadatkan tari Beskalan, sehingga Chattam Amat Redjo bisa dikatakan sebagai pengembang tari di Kota Malang. Kata kunci: Chattam Amat Redjo, pengembang, seni tari, pemadatan dan tari Beskalan
MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN TAYUB ADI LARAS DI DESA TALOK KECAMATAN TUREN KABUPATEN MALANG NANDA DEWI, VITA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malang merupakan sebuah kota atau kabupaten di Jawa. Ada beberapa budaya-budaya yang dapat kita jumpai di Malang, antara lain Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), Tayub, Jaranan, Bantengan, dan lain sebagainya. Diantara dari beberapa kesenian yang ada di Malang, ada salah satu kesenian yang populer dari daerah Malang Selatan yaitu Tayub Adi Laras tempatnya di Desa Talok Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Adi Laras merupakan organisasi Tayub yang sangat populer di daerah Malang. Ada dua kemasan pertunjukan yang ditawarkan kepada konsumen yaitu Tayuban dan Campursari. Itulah yang menjadi alasan konsumen puas dengan mengundang Adi Laras, karena Kepopuleran Adi Laras terbukti dari album yang dimiliki sudah mencapai 40 album, video yang sudah ditonton banyak orang melalui youtube, dan jadwal pementasan yang sangat padat. Keberhasilan Adi Laras ini, tentu ada manajemen yang mengelola. Kata kunci: Tayub, Adi Laras, Manajemen
KREASI TARI CELENG PUTRI SEBAGAI PENINGKAT KUALITAS DALAM PERTUNJUKAN JARANAN MANGGOLO CAHYO MUDO DARMAWANTI, ANIS; YANUARTUTI, SETYO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana asal-usul penari celeng putri dalam pertunjukan jaranan MCM, dan bagaimana kreasi tari celeng putri dalam pertunjukan jaranan MCM.Penelitian ini berlokasi di Paguyuban Jaranan MCM yang beralamat di Dusun Rembang Ngreco, Desa Rembang, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Objek penelitian ini yaitu penari celeng putri. Metode yang digunakan yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa MCM menampilkan penari celeng putri dengan tujuan untuk kiat bisnis, inovasi, serta kreasi pertunjukan agar tidak terkesan membosankan.Kreasi tari celeng putri memiliki pengaruh pada kualitas pertunjukan jaranan MCM. Kreasi tersebut menjadikan pertunjukan jaranan lebih menarik melalui komponen sajian tari celeng. Simpulan penelitian ini yaitu penari celeng putri memiliki peranan yang sangat kuat dalam pertunjukan Jaranan Manggolo Cahyo Mudo. Penari celeng putri memiliki kontribusi dan manfaat yang dapat membangun eksistensi dari sebuah paguyuban.Kata kunci: Peranan, Perempuan, Penari Celeng Putri, Kesenian Jaranan
KREASI PENYAJIAN KESENIAN TAYUB DI KABUPATEN TULUNGAGUNG (TINJAUAN STRUKTUR DAN GAYA) KRISTIAN ARUM SARI, FEMILIA; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Tayub terdapat hampir di seluruh Pulau Jawa dan menjadi salah satu ekspresi yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Kesenian Tayub merupakan sebuah ritual kesuburan. Kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung dalam penyajiannya berbeda dari daerah lain, bahkan mempunyai sebutan tersendiri yaitu Tayub Tulungagung-an. Keunikan pada penyajian Tayub Tulungagung-an ini terdapat pada jumlah waranggana yang banyak dan ciri khas pada saat ngibingan. Peneliti ingin mengkaji lebih jauh dengan rumusan masalah ;1. Bagaimana struktur penyajian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung?, 2. Bagaimana gaya penyajian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung?.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan objek penelitian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian ini membahas tentang struktur dan gaya penyajian kesenian tayub di Kabupaten Tulungagung. Terdapat elemen-elemen yaitu gerak, iringan, pola lantai, busana juga tempat dan waktu pelaksanaan. Elemen tersebut menjadi satu kesatuan yang harus ada dalam sebuah penyajian kesenian Tayub. Struktur penyajian terdiri dari struktur besar yaitu nguyu-nguyu(pra acara), bedayan (tarian selamat datang), gedhog (proses pembagian sampur diawali pramugari), ngibingan (adegan waranggana dan pengibing menari bersama). Gaya dipengaruhi oleh bentuk, teknik dan faktor-faktor. Secara bentuk, gaya pada kesenian Tayub Tulungagungan terdapat pada sajian bedayan dan ngibingan, yang memunculkan pola gerak megol mental, ngeper dan ogek lambung. Sajian gendingnya menggunakan pola kendang ganggamina, dengan teknik pukulan yang keras sehingga menghasilkan pola geraknya mengikuti tekanan kendang yang disajikan kemudian memunculkan karakter yang sigrak dan dinamis. Karakter tersebut dipengaruhi oleh faktor individual, yaitu disebabkan waranggana yang centil dan genit. Pola lantai yang disajikan merupakan gambaran filosofi kehidupan manusia yang selalu maju mundur, dan lintasan pola lantai yang berpapasan kemudian coblosan adalah sebuah makna simbolis dari kesenian Tayub, yaitu sebuah lambang kesuburan.Kata kunci :Tayub, Tulungagung-an, Struktur, Gaya
BENTUK DAN FUNGSI TARI GANDHONG DESA BANGUN, KECAMATAN MUNJUNGAN, KABUPATEN TRENGGALEK KUSUMAWARDANI, PUTRI; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Gandhong Desa Bangun Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya, biasanya dalam sebuah satu sajian tari terdapat satu durasi yang utuh artinya dalam satu objek tersebut menampilkan satu objek yang spesifik, namun pada Tari Gandhong memiliki 4 sub tema pembentuk Tari Gandhong tersebut. Struktur penyajian inilah yang nantinya akan membentuk elemen-elemen unsur pada Tari Gandhong menjadi sangat unik. Tari Gandhong ini merupakan tarian yang mengalami kesenjangan atau pergeseran, semula digunakan sebagai tarian pengesah pada ritual menjadi tarian pengiring pada ritual, maka dari masalah tersebut mengalami perubahan bentuk dan pergeseran fungsi.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pada Tari Gandhong Desa Bangun Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan perekaman dengan validitas data berupa teknik triangulasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Struktur pertunjukan Tari Gandhong terdiri dari empat sub tema yaitu Tari Sarak, Tari Tani Makaryo, Tari Celeng, dan Tari Onggotruno. Keunikan pada Tari Gandhong yang menjadi ciri khas yaitu pada ke empat sub tema tersebut. Empat sub tema itulah yang membentuk elemen-elemen pada Tari Gandhong ini memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Berdasarkan fungsi, Tari Gandhong memilki dua fungsi yaitu fungsi primer dan sekunder, fungsi primer pada Tari Gandhong adalah sebagai pengiring ritual. Fungsi yang kedua yaitu fungsi sekunder yang terdiri dari fungsi sebagai pengikat dan pembangkit rasa solidaritas, media komunikasi, sarana kebutuhan ekonomi, dan sarana regenerasi.Kata Kunci: Tari, Gandhong, Trenggalek, bentuk, struktur, fungsi
BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN JARANAN TURONGGO JENGKI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG JAWA TIMUR YESSYEKA LOVIANI, ERVINA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Desa Beji Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan. Kesenian Jaranan Turonggo Jengki tercipta terbentuk secara tidak sengaja, berawal dari perkumpulan seniman biasa kemudian salah seorang seniman menerima job Jaranan , salah satu menerima job Ngelawak di Kediri, dan seniman yang lain hanya datang untuk menonton. Namun pada saat hari dimana akan tampil salah satu teman berhalangan hadir karena ada kegitan, akhirnya seniman yang menonton diajak untuk ikut menggantikan. Selesainya Job tersebut mereka berfikir bahwa Jaranan yang mereka bawakan disukai oleh banyak penonton karena ada unsur lawakan yg menjadikan Jaranan ini unik beda dari Jaranan lain. Terbentuknya nama Turonggo Jengki sendiri berasal dari kata Turonggo berarti sepeda laki laki dan Jengki berarti sepeda perempuan, maka maknanya penonton laki laki dan penonton perempuan menyukai jaranan tersebut. Di awal tahun 2013 nama Jaranan Turonggo Jengki di resmikan karena para seniman jaranan ingin lebih dikenal di semua kalangan. Untuk menampung para generasi muda yang berjiwa seni tinggi dan sadar akan pelestarian kebudayaan maka dibentuklah komunitas tari Jaranan Turonggo Jengki yang diprakarsai oleh Amit Bagus Prasetyo. Kesenian Jaranan Turonggo jengki mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan.Pada kesempatan inilah peneliti ingin mengkaji lebih jauh mengenai Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo jengki dengan rumusan masalah, 1). Bagaimana bentuk penyajian kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur ?, 2). Apa fungsi kesenian Jaranan Turonggo Jengki bagi masyarakat penikmatnya saat ini ?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitiannya yaitu Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Kabupeten Tulungagung dan objek penelitiannya Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Bentuk oleh Soedarsono ( 1978:21-36), Teori Fungsi Soedarsono (2002:123.). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu.Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Bentuk Penyajian Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur mempunyai keunikan khusus yaitu pada bentuk penyajian yakni pertunjukan dengan menggabungkan antara kesenian jaranan dengan lawakan. Hal ini mengakibatkan jaranan ini berbeda dengan jaranan yang lainnya yang hanya menyajikan tarian saja. Dalam penelitian ini bentuk yang dimaksud adalah perwujudan yang diartikan sebagai hasil dari berbagai elemen tari dimana secara bersama-sama elemen itu menyatu dalam pertunjukan kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Elemen-elemen pada Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yaitu gerak, pola lantai, iringan, tata rias, tata busana, tempat pertunjukan, dan properti. Berdasarkan fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yang bersifat kerakyatan memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer dan sekunder, fungsi primer adalah sebagai media hiburan. Fungsi yang kedua yaitu fungsi sekunder yang terdiri sebagai pengikat dan pembangkit rasa solidaritas, media komunikasi, dan sarana kebutuhan ekonomi.Kunci : Kesenian, Jaranan Turonggo Jengki, Tulungagng, bentuk, struktur, fungsi
GAYA PERTUNJUKAN COLOR GUARD PADA ACARA BANDUNG MARCHING BAND CHAMPIONSHIP OLEH KOMUNITAS GITA WIDYA AGNI SURABAYA RAFLI ALI ASNAN, MOHAMAD; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Color guard merupakan bagian non musik pada pertunjukan Marching Band yang mendukung keindahan secara visual, biasanya berupa olah tubuh atau tarian dengan menggunakan properti flag (bendera), rifle (senapan), sabre (pedang), serta properti lain sesuai dengan konsep yang ingin dibawakan pada saat pertunjukannya. Seiring dengan perkembangan zaman dan format pertunjukan color guard yang awalnya merupakan bagian dari pertunjukan musik Marching Band, kini telah menjadi sebuah pertunjukan yang lepas dari awalnya dengan memamerkan keindahan permainan bendera, permainan properti, permainan akrobatik, dan juga sebuah tarian yang biasanya menggunakan iringan musik yang diadopsi dari lagu yang sudah ada (rekaman). Di Surabaya ada komunitas color guard yang memiliki sebuah ciri khas dalam setiap pertunjukannya yaitu ?Gita Widya Agni? Surabaya. Adapun fokus penelitian ini yaitu mendeskripsikan gaya pertunjukan color guard pada komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya, mendeskripsikan ciri-ciri estetik pertunjukan color guard pada komunitas komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gaya tari oleh Sumaryono, teori estetika oleh Djelantik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan didekatkan teori keilmuan estetik. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pertunjukan color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya memiliki sebuah gaya pertunjukan yang berbeda, ditinjau dari segi gerak, iringan, tata rias dan busana memiliki ciri tersendiri yang menjadikan sebuah identitas di setiap pertunjukannya. Hal ini tidak lepas dari kreativitas seorang koreografer dalam mengkemas pertunjukannya sehingga menjadi sebuah sajian pertunjukan yang apik. Arinto Prihatmoko merupakan koreografer dari color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya. Dalam menganalisis gerak pada color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya dapat dilihat pada penggunaan gerak akrobatik yang lebih bervariatif seperti fronts hand spring, toss jump dll. Gerak akrobatik tersebut memberikan kesan memukau kepada para penonton sehingga menjadikan sebuah identitas tersendiri disetiap pertunjukannya. Iringan musik yang digunakan dalam pertunjukan color guard diadopsi dari musik rekaman yang sudah ada dan ditambah dengan musik instrumen serta vokal untuk membangun suasana yang diinginkan. Konsep rias dan busana yang digunakan juga memiliki makna agar tidak lepas dengan konsep pertunjukannya. Warna biru menjadi warna dominan dalam penggunaan rias dan busana dikarenakan konsep yang dibawakan yaitu hujan. Apabila ditinjau dari ciri-ciri estetik, pertunjukan color guard yang dibawakan oleh ?Gita Widya Agni? Surabaya tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari berkelompok. Namun pertunjukan color guard memiliki perbedaan pada penggunaan properti sebagai media ungkapnya, jika pada pertunjukan tari properti dihadirkan sesuai dengan konsep atau sesuai dengan kebutuhan yang menunjang sebuah penampilan karya tari, sedangkan color guard properti yang menjadi alat memamerkan unsur keindahannya. Perpaduan gerak tari, pergerakan properti serta unsur akrobatik dalam pergerakan pemain menjadikan sebuah keberagaman variasi pada pertunjukan color guard. Penggunaan gerak akrobatik, dinamika gerak, tata rias dan busana, serta penggunaan properti yang berbeda-beda menghasilkan daya tarik atau kekuatan dari pertunjukan color guard yang dapat membuat orang terpaku di setiap pertunjukannya. Setiap pemain color guard memiliki sebuah intensitas atau kekuatan yang tidak sama, maka dari itu agar terlihat seimbang antar para pemain bisa dicapai pada penyusunan desain pola lantai (display) dan penempatan pembagian properti yang di pertontonkan pada setiap pertunjukannya. Dengan demikian akan nampak sebuah keseimbangan dari para pemainnya.Kata kunci: Color guard, Gita Widya Agni, gaya, ciri-ciri estetik
FUNGSI TARI BRANYAK POTTRA KEMBHAR PADA THOPÈNG ḌHÂLÂNG “BUDI SASMITO” DESA MARENGAN KECAMATAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP MADURA INDRIAWATI, NENSI; WAHYUNI RAHAYU, EKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Branyak Pottra Kembhar sebuah bentuk tari tradisional yang menggambarkan sebagai tari putra berpasangan yang menggambarkan tentang kepandaian menari dalam keratin sumenep. Tarian ini pernah mengalami keeksintesian dan sangat fungsional dalam masyarakat pendukungnya. Keberadaan menjadi tari membuka dala pertunjukan thopèng ?hâlâng dan sebagai sarana pembelajaran. Akan tetapi saat ini kondisinya sangat memperhatinkan, hampir punah dan jarang dipentaskan lagi. Sebagai warisan leluhur yang dulunya pernah manjadi bagian kehidupan dan sangat fungsional dimasyarakat, maka sangat disayangkan apabila tari tersebut hilang begitu saja tanpa bekas, Tari Branyak Pottra Kembhar terssebut memiliki ciri khas yang sangat spesifikasi dan layak untuk dikembangkan sesuai dengan selera masyarakat. Berdasarkan fenomena tersebut, maka merasa prihatin dan tertarik untuk ikut melakukan penyelamatan, dengan melakukan penelitian dan mengangkat judu ?Bentuk Dan Fungsi Tari Branyak Pottra Kembhar Pada Thopèng ?hâlâng ?Budi Sasmito? Desa Marengan Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep Madura?. Rumusan masalah yang diajukan untuk mengungkap fenomena tersebut yaitu (1)Bagaimana bentuk Tari Branyak Pottra Kembhar yang ada pada Thopèng ?hâlâng ?Budi Sasmito? di Desa Marengan Laok Kecamatan?(2)Bagaimana fungsi Tari Branyak Pottra Kembhar yang ada pada Thopèng ?hâlâng ?Budi Sasmito? di Desa Marengan Laok Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep?. Tujuan penelitian ini, secara (1)Untuk mendeskripsikan bentuk Tari Branyak Pottra Kembhar pada Thopèng ?hâlâng?Budi Sasmito? di Desa Marengan Laok Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep.Untuk mengetahui fungsi Tari Branyak Pottra Kembhar yang ada pada Thopèng ?hâlâng ?Budi Sasmito? di Desa Marengan Laok Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti yaitu dapat menambah wawasan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu, studi pustaka, studi lapangan dan wawancara dilengkapi dengan pencatatan dan pendokumentasian atau perekaman.Hasil penelitian bahwa tari Tari Branyak Pottra Kembhar merupakan dua lelaki kembar yang pantai menari dikeraton, pola gerak berhias dan memiliki arti tempat kanan kiri yaitu kebaikan (kanan) dan keburukan (kiri), tari ini merupakan sebuah tari tradisional yang juga digunakan sebagai media pembelajaran disekolah.Kata kunci: Fungsi, Tari Branyak Pottra Kembhar, Thopèng ?hâlâng ?Budi Sasmito?
KARYA TARI SAMUDIWARAGATI SEBAGAI UNGKAPAN RASA SYUKUR MASAYARAKAT NEKAYAN PANTAI PRIGI DALAM BENTUK DRAMATIK YULIANA SAPUTRI, PUPUT; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Desa Tasikmadu sebagian besar menggantungkan hidupnya di laut. Sebagai ungkapan rasa syukur dan berdoa memohon keselamatan dalam bekerja, para nelayan mempunyai kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap setahun sekali yaitu Larung Sembonyo. Penulis mencoba menciptakan sebuah sajian tari untuk menarik perhatian masyarakat yang berisi ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil laut melalui sajian sebuah karya koreografi baru dengan teknik gerak tradisional yang dikembangkan dengan tipe tari dramatik.Kajian teori koreografi dari berbagai ahli dijadikan pijakan dalam penciptaan karya tari ini, koreografi kelompok oleh Sumandiyo Hadi, metode konstruksi I oleh Jacqueline Smith, dan teori ungkapan oleh Soedarsono. Hasil penciptaan karya tari yang relevan juga turut menjadi sumber atau referensi mengenai konsep, teknik, dan gaya untuk memperlihatkan perbedaan orisinalitas masing-masing karya tari.Konsep dalam penciptaan karya tari ini terdiri dari tema yaitu wujud syukur dengan judul Samudiwaragati. Penata tari menggunakan tipe dramatik, dengan mode penyajian representatif dan simbolis. Penerapan tipe tari dramatik penulis ingin memunculkan suasana-suasana yang mendukung pada karya Samudiwaragati. Elemen utama tari adalah gerak dengan penggunaan teknik tradisional yang dikembangkan dan gaya tari Mataraman. Elemen pendukung meliputi iringan, tata cahaya, tata rias dan busana, tata pentas. Proses penciptaan dimulai dari rangsang, kerja studio sampai terbentuknya karya tari dengan judul Samudiwaragati. Karya tari ini diharapkan dapat menjadi sebuah karya yang inspiratif melalui tema yang dihadirkan dan memberikan informasi tentang budaya yang ada di Trenggalek. Konsep garap karya ini memiliki kecenderungan pada gerak-gerak anggun dan lemah lembut sehingga dapat melatih kemampuan serta meningkatkan kualitas kepenariannya dalam hal intensitas dan konsentrasi penari dalam bergerak. Penggunaan tipe dramatik dalam karya ini memberikan kesan agung sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat.Kata Kunci: Samudiwaragati, Ungkapan, Syukur, Dramatik.
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER KESENIAN KARAWITAN DI SMAN 1 DONGKO KABUPATEN TRENGGALEK RIRIS SWASTUTI RAHAYU, TITIK; HIDAJAD, ARIF
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrakurikuler yang ada di SMAN 1 Dongko Kabupaten Trenggalek salah satunya kesenian karawitan yang terbentuk pada tahun 2009 bulan April, terbentuk atas dasar antusias siswa yang sangat banyak terhadap kesenian karawitan dan kesenian paling berpotensi. Latihan ekstrakurikuler dilakukan dua kali dalam satu minggu, materi yang diajarkan berpedoman pada buku karangan dari Ki Narto Subdho dan di tulis oleh A.Sugiarto, S.Kar.dengan judul buku ?Kumpulan Gending Jawa Karya Ki Narto Sabdho?, dengan metode pengajaran pembelajaran melalui seni dan pembelajaran tentang seni. Media yang digunakan berupa media visual dan audio visual, serta dilengkapi dengan seperangkat gamelan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif menurut Kirk & Miller (dalam Nasution 1988:23), dengan menggunakan teknik studi pusta berupa reverensi dari pustaka cetakan dan studi lapangan berupa: observasi, wawancara dan dokumentasi dalam pengumpulan data. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini seperti (1)Reduksi data, (2)Penyajian data (3)Pengambilan kesimpulan. Validasi data dalam penelitian ini (1)Triangulasi Sumber dan (2)Triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kesenian karawitan di SMAN 1 Dongko kabupaten Trenggalek sebagai media pembentukan karakter, pembentuk budi luhur yang halus, dengan melalui gending-gending yang dimainkan secara tidak langsung mampu membentuk perilaku yang halus, karena gending yang di mainkan meliputi gending-gending klasik yang bernuansa halus dan rancak, sehingga gending dalam karawitan bisa sebagai terapi kepribadian siswa. Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Ekstrakurikuler, Karawitan.