cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
ANALISA BENTUK LAGU PLAYFUL DUET (MIRROR) KARYA W. A. MOZART DWI AYU P, LIDYA; KRISTIANDRI, DHANI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk lagu Playful Duet, duet biola sopran karya W. A Mozart yang berbentuk mirror. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik yang disertai dengan analisa musikologis. Penelitian ini lebih mendekatkan pada metode naturalistik, kerena variabel penelitian merupakan objek yang apa adanya, sesuai dengan aslinya tanpa adanya perubahan dari peneliti. Objek penelitian ini adalah lagu Playful Duet (mirror) untuk dua biola sopran karya W. A Mozart, baik melalui skor maupun dengan mendengarkan dan memainkan lagu Playful Duet karya W. A Mozart. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Playful Duet karya W. A Mozart merupakan lagu untuk (duet) dua biola sopran, yang berbentuk mirror, dimana skor/ notasi untuk dua instrumen (dua biola sopran) ditulis dalam bentuk yang merupakan cerminan dari instrumen lainnya (notasi biola satu merupakan cerminan dari notasi biola dua, dan sebaliknya notasi biola dua merupakan cerminan dari notasi biola satu). Teknik komposisi yang digunakan dalam lagu Playful Duet ini selain menggunakan teknik mirror retrograde, juga menggunakan teknik pembalikan (inversion) interval, serta pertukaran ritme, melodi dan harmoni secara retrograde antara biola satu dan biola dua, mulai separuh akhir lagu, sehingga meskipun sekilas lagu Plafyul Duet ini terlihat sederhana, namun jika dikaji terlebih dalam terdapat kerumitan yang mengagumkan.Kata kunci: Analisa bentuk, duet, mirror
METODE PELATIHAN KEAKTORAN PADA EKSTRAKURIKULER TEATER DEKIK SMAN 1 KRAKSAAN GUNAWAN WIBISONO, FERI; HIDAJAD, ARIF
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode pelatihan seorang aktor merupakan langkah awal yang menjadi bagian penting bagi seluruh pelatih teater di Indonesia untuk membentuk anak didiknya, terlebih dalam ruang pelajar SMA. Melihat hal tersebut, penulis dalam penelitiannya ini lebih menitik beratkan pada metode pelatihan keaktoran yang di terapkan di teater dekik SMAN 1 Kraksaan, Probolinggo. Metode penelitian yang di gunakan oleh peneliti menggunakan metode kualitatif untuk dapat mendeskripsikan informasi dengan menggunakan teknik pengumpulan data yakni ; Study Pustaka, Pengamatan, Wawancara, dan Dokumentasi. Penulis menggunakan Triangulasi metode, Sumber, dan Waktu untuk dapat menguji keabsahan dan kebenaran penelitian. Teater Dekik merupakan salah satu teater yang masih eksis di kalangan pelajar SMA di Kabupaten Probolinggo, hal tersebut di dukung oleh pelatih yang memiliki metode tersendiri dalam pembentukan aktor. Pelatih mengombinasikan metode keaktoran dari WS. Rendra yang meliputi ; Cara muncul dan keluar, Mendengar dan menanggapi dengan teknik keaktoran stanislavski, antara lain ; Motivasi, Imajinasi, Konsentrasi, Ingatan emosi, Adaptasi, Keadaan kreatif batiniah. Selain itu,metode maju mundur juga menjadi salah satu metode yang mampu menumbuhkan pengetahuan, kreatifitas, dan juga melatih kecerdasan siswa.Kata Kunci : Metode Pelatihan, Aktor, Teater Dekik
TEKNIK PENCIPTAAN TATA ARTISTIK PADA NASKAH “HEART OF ALMOND JELLY” KARYA WISHING CHONG SUTRADARA DIMAS ADI PUTRA ANUGRA ROSZITA, ONI; SURYANDOKO, WELLY
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tata artistik merupakan salah satu unsur pendukung seni Teater dengan elemen penting yang memiliki beberapa bagian didalamnya, yakni Tata panggung atau biasanya disebut setting. Setting merupakan bentuk ruang beserta perangkatnya yang diciptakan oleh penata artistik untuk menunjukan kepada penonton tentang latar peristiwa pada naskah. Make-up adalah hal yang penting dalam pertunjukan karena dengan menggunakannya kita dapat memberitahukan karakter tokoh dan dengan busana dapat menunjukkan identitas suatu tokoh. Tiga elemen tersebut merupakan keinginan penulis untuk mengerjakannya, sehingga penulis memilih naskah ?Heart of Almond Jelly?, karya Wishing Chong, Sutradara Dimas Adi Putra.?Heart of Almond Jelly? akan dikemas dengan Gaya Pementasan Realis, yakni bentuk pertunjukan yang sangat sering disajikan atau dipertunjukan. Namun pada umumnya ketika menciptakan bentuk visual tata artistik seorang penata jarang menganalisis ataupun mengkaji lebih detail hingga memiliki adanya sebuah konsep untuk memperkuat dan lebih detail dalam melakukan penciptaan tata artistik, sehingga ketika penulis melakukan sebuah proses penciptaan maka sebagai penata artistik, penulis harus benar - benar memperhitungkan pertimbangan naskah, realita, dan konsep sutradara dengan tujuan untuk memberi kesesuaian pada keinginan konsep sutradara ataupun kenyamanan pandangan penonton dalam menyaksikan pertunjukan teater. Naskah ?Heart Of Almond Jelly? karya Wishing Chong, dialihbahasakan kedalam bahasa Inggris oleh Keiko Tsunade & Peter Marsh, dan dialihbahasakan kedalam bahasa Indonesia oleh Teguh Heri Prasetyo & Yoko Nomura, dengan penyalaras teks Gunawan Maryanto. Naskah ini dibuat pada tahun 2000, menceritakan curahan sepasang kekasih sebelum berpisah pada malam natal. Tatsuro tokoh laki - laki berperan sebagai husband, dan pengangguran menjadikannya salah satu penyebab perpisahan dengan Sayoko. Sayoko merupakan tokoh perempuan yang memiliki karakter pekerja keras, dan karena masalah keguguran ketika proses kelahiran, hubungan pasangan rumah tangga yang mereka jalani mulai kacau. Selain itu, karena mereka menganggap bahwa hubungan rumah tangga yang dibangun hanyalah sebuah lelucon tetangga, maka mereka memutuskan untuk berpisah ketika malam natal yang diakhiri dengan pelukan.Jenis karya setting yakni, interior set dengan acuan metode penciptaan tata artistik, pada ?The set deigner?s role? dengan pendekatan dekorasi (scenery) dengan pendekatan latar peristiwa pada tahun 2000, dikawasan kastil Himeji dengan bentuk visual interior rumah. Selanjutnya yakni tata rias atau make-up penulis memilih Make-up Korektif dengan acuan teknik Nearly natural yang ditulis oleh Mary Quant menggunakan jenis make- up korektif dan kostum dengan pendekatan tahun 2000. Penciptaan tata artistik akan berusaha divisualisasikan oleh penulis dan mengaplikasikannya dengan pendekatan suasana Jepang pada tahun 2000. Ketika penulis melakukan sebuah proses penciptaan maka sebagai penata artistik, penulis terlebih dahulu melakukan observasi melalui data verbal, data visual hingga membuat desain tentang setting, make-up dan kostum pada pertunjukkan ini. yang nantinya dibuat atau di visualisasikan secara utuh dalam sebuah pertunjukkan. Untuk membuat sebuah pertunjukan yang utuh atau menghadirkan sebuah suasana Jepang tahun 2000 tidaklah mudah, karena penulis harus benar - benar memperhitungkan pertimbangan naskah, realita, dan konsep sutradara dengan tujuan untuk memberi kesesuaian pada keinginan konsep sutradara dan kenyamanan pandangan penonton dalam menyaksikan pertunjukan teater oleh karena itu ketika proses tahap satu hingga pertunjukan terjadi, banyak sekali perubahan ataupun perkembangan dari segi setting, make-up, dan kostum. Perubahan dan perkembangan terjadi karena dibutuhkan adanya penyesuaian dari wilayah panggung, hingga perkembangan adegan yang dilakukan oleh sutradara terhadap pemain, sehingga bisa mempengaruhi rancangan dan bentuk tata artistik untuk lebih di sesuaikan kembali dengan perkembangan adegan dari sutradara.Kata Kunci : Heart of Almond Jelly, Tata artistik, Setting, Make-up, dan Tata Busana
VISUALISASI TOKOH WAROK PONOROGO PADA KARYA TARI “PRAMONO ROGO” KURNIA MAHENDRA, NUNGKI; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warok Ponorogo merupakan tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo yang mempunyai tekd suci, serta siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok berasal dari kata wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran yang lain tentang hidup yang baik. Warok merupakan tokoh yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin. Warok sangat disegani dan dihormati. Penggambaran wantah dari seorang Warok adalah diwujudkan dalam bentuk perawakan besar, berkumis, dan bagian dada tumbuh bulu-bulu hitam. Menurut kepercayaan hitam mengandung makna keteguhan, sedangkan kesucian budi, ilmu, an tingkah laku digambarkan berupa kolor yang bewarna putih, panjang dan terurai ujungnya. Dari sini didapatkan pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu dan tingkah laku.Pada penggarapan karya tari ini memfokuskan pada suasana yang mencoba dibangun melalui isi cerita penggambaran sosok Warok melalui karya tari ?Pramono Rogo?. Pramono Rogo merupakan asal kata dari Ponorogo yang bearti Pramono berarti daya kekuatan, rahasia hidup, sedangkan Rogo berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut bisa ditafsirkan bahwa dibalik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, yang berarti harus mampu melihat diri kita dan mengerti luar dalamnya. Bila kita mampu mengenal diri kita secara utuh, kita akan mengenal Tuhan. Hal tersebut merupakan awal pencapaian cinta yang nantinya Manunggaling Gusti lan Kawulo. Manusia yang memiliki olah batin mantap dan mapan mampu menempatkan diri dimanapun dan kapanpun berada.Pada penggarapan karya tari ini menggunakan metode kontruksi yang meliputi rangsang awal, eksplorasi, dan improvisasi. Rangsang awal berupa gagasan yang dibentuk melalui intensi untuk menyampaikan gagasan atau menggelarkan cerita. Eksplorasi berupa motif gerak yang sesuai dengan motivasi kekuatan badan manusia yang tercermin dalam arti ?Pamono Rogo? dengan berpijak pada gerak-gerak Panoragan. Improvisasi berupa penggabungan motif gerak dengan pengembangan gerak Panoragan melalui penentuan transisi, ekspresi atau rasa sehingga terbentuklah gerak-gerak yang dinamis. Kata Kunci : Warok, Pramono, Rogo
PENCIPTAAN TATA ARTISTIK PADA NASKAH ORANG KAYA BARU KARYA MOLIERE SADURAN NANO RIANTIARNO SUTRADADA DODOT WAHYU RISWANDA, ADHITYA; HIDAJAD, ARIF
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tata Artistik merupakan penampakan visual yang dibuat oleh seorang penata artistik dalam teater uang tujuannya untuk membantu menkomunikasikan pertunjukan teater kepada pennton. Tata Artistik merupakan unsur pokok yang tidak dapat dipisahkan dari teater, pertunjukan menjadi tidak utuh tanpa adanya tata artistik yang mendukung. Tata artistik memiliki lima unsur bagian yaitu setting, property, make-up, dan kostum yang dapat membantu pementasan menjadi lengkap dan sempurna sebagai pertunjukan. Oleh karena itu penulis memilih tata artistik sebagai ujian tugas akhir karena penulis merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa seorang penata artistik perempuan juga dapat memberikan karya terbaiknya yang tidak kalah jika dibandingkan dengan penata artistik laki-laki lainnya. Dengan mengambil naskah ?Orang Kaya Baru Karya Moliere Saduran Nano Riantiarno Sutradara Dodot?.Naskah asli Moliere yang berjudul ?Le Bourgeouis Gentilhomme? disadur oleh Nano Riantiarno dan dibawa ketahun 1900 dengan judul ?Orang Kaya Baru?, naskah ini membawa dua percampuran adat didalamnya, yaitu akulturasi budaya Betawi dengan Belanda. Oleh karena itu penulis sekaligus penata artistik menghadirkan pencampuran dua adat tersebut kedalam visualisasi penggarapan artistiknya, baik itu pada setting, make-up dan kostum.Metode penggarapan setting yang dipilih penulis berupa set multifungsi dan simbolis dengan mendekatkan pada bentuk bangunan Batavia tahun 1900 dengan penambahan-penambahan sesuai dengan kebutuhan panggung. Pengaplikasian naskah pada pertunjukan menggunakan make-up korektif, makeup karakter, dan make-up fantasi. Penggarapan kostum pada naskah ?Orang Kaya Baru? penulis mengambil pendekatan pada kostum Beatawi dan Belanda pada tahun 1900-an, begitu pula dengan setting yang dibuat juga dibuat sedekat mungkin dengan tahun 1900-an.Setelah melakukan observasi melalui data verbal, data visual dan observasi langsung, penulis sekaligus penata artistik merancang desain setting, make-up, dan kostum untuk naskah ?Orang Kaya Baru Karya Moliere Saduran Nano Riantiarno Sutradara Dodot?. Setelah desain sudah dibuat selanjutnya divisualisasikan secara utuh kedalam sebuah pertunjukan.Kata Kunci : Tata Artistik, Setting, Make-up, Kostum, Orang Kaya Baru.
TEKNIK KEAKTORAN TOKOH JORDANA PADA NASKAH “ORANG KAYA BARU” KARYA MOLIERE SADURAN NANO RIANTIARNO SUTRADARA DODOT RANGGA DIPUTRA, RIZQI; ABDILLAH, AUTAR
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktor merupakan bagian terpenting penyampai gagasan sutradara dalam pertunjukan teater. Penulisan ini lebih menitik beratkan pada kajian teknik penokohan karakter Jordana pada naskah ?Orang Kaya Baru? karya Moliere saduran Nano Riantiarno dengan sutradara Dodot. Teknik keaktoran yang di gunakan sebagai proses penciptaan tokoh Jordana pada naskah ?Orang Kaya Baru? adalah metode pelatihan V-Effect yang dikaji dari buku WS Rendra dan Teater Mini Kata. Metode V-Effect yang ditemukan penulis memiliki 4 Teknik yakni : 1) Narasi Tindakan, 2) Disorientasi Tokoh, 3) Penghancuran Dinding Keempat 4) Improvisasi/Timing.Pementasan Orang Kaya Baru karya Moliere saduran Nano Riantiarno dengan sutradara Dodot melalui metode keaktoran V-Effect sebagai pendekatan pelatihan actor mampu menciptakan interaksi antara aktor dan penonton. Penonton merasa dekat dengan aktor begitu juga aktor yang memberikan dialognya untuk penonton sehingga timbullah kedekatan. Kedekatan yang terjadi bertujuan agar penonton berfikir kritis tanpa terjadi katarsis namun tetap terhibur. Permasalahan yang ada didalam naskah diolah secara otonom oleh aktor disesuaikan dengan isu atau berita yang sedang terjadi saat ini sehingga penonton merasa terhibur dan tetap berfikir kritis.Kata Kunci : Teknik Keaktoran, Aktor, V-Effect, Penonton
TEKNIK PENYUTRADARAAN PADA NASKAH ORANG KAYA BARU KARYA MOLIERE SADURAN NANO RIANTIARNO DODOT , DODOT; ABDILLAH, AUTAR
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teater merupakan suatu pertunjukan yang menggabungkan unsur seni yang kompleks, yaitu seni drama, seni tari, seni musik dan seni rupa sedangkan Penyutradaraan menjadi sesuatu bagian penting dalam sebuah pementasan teater. Maka dari itu sutradara berfungsi sebagai pemimpin tunggal yang merencanakan, memutuskan, mengerahkan, mewujudkan dan bertanggung jawab penuh. Salah satu lakon yang komplit dengan kemungkinan kompleksitas cabang seni ialah Orang Kaya Baru saduran Nano Riantiarno dari naskah Moliereyang berjudul ?Le Bourgeois Gentilhomme?. Lakon Orang kaya baru merupakan potret kehidupan Manusia yang focus mencari nama dan gelar dengan segala cara, peristiwa yang terjadi memfokuskan pada dampak negative kapitalisasi pada kehidupan bermasyarakat saat ini dan tecermin pada seorang tokoh utama bernama Jordana.Penyutradaraan pada lakon Orang Kaya Baru menggunakan teknik penyutradaraan dari Bertolt Brecht dengan di dukung teknik penyutradaraan lainya. Adapun teknik yang digunakan adalah 1) Pra Produksi, meliputi persiapan-persiapan fisik dan mental, pemilihan naskah, pemilihan tim, pemilihan aktor, pemilihan pemusik dan penari, latihan (tubuh, vokal, pencarian karakter tokoh, teknik memberi isi, movement, gladi kotor, gladi bersih), 2) Produksi, meliputi latihan-latihan ( pengenalan konsep teater brech, mencari, memberi isi, pengembangan dan pemantapan) serta eksplorasi (peran, hand-property, setting panggung, koreografi, lagu, movement dan blocking). Berdasarkan teknik penyutradaraan diatas, pementasan karya Orang Kaya Baru berjalan lancar, maksimal dan antusias dari penonton luar biasa dengan durasi pementasan 210 menit. Meskipun terdapat beberapa kekurangan pada keseimbangan vokal serta permasalahan teknis panggung, Pementasan Orang kaya Baru saduran Nano Riantiarno memberikan sajian pertunjukan yang menarik dan memberikan kesan tersendiri dibenak penonton.Kata kunci : Penyutradaraan, Orang Kaya Baru
KONSTRUKSI KESENIAN TAYUB DI KAMPUNG TANDHAK KABUPATEN MOJOKERTO MELALUI KOREOGRAFI LINGKUNGAN PADA KARYA TARI “LANGEN BEKSAN” HARDINA CANDRA WULAN, YULAI; YANUARTUTI, SETYO
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Mojokerto memiliki kesenian yang bervariasi, misalnya Kesenian Tayuban dari Dusun Rembu Lor, Desa Japanan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan Tayuban dilaksanakan saat bersih Desa setiap tahunnya. Pagelaran Tayuban dimulai dengan Gendhing Giro, Tari Remo sebagai pembuka, setelah itu Tayuban/ Ngibing. Koreografer tertarik mengangkat kesenian Tayub karena generasi Tandhak sekarang kurang mempercayai Ritual Gembyangan. Gembyangan dilakukan setelah para Tandhak berlatih pada guru, apabila sudah mumpuni Tandhak tersebut melaksanakan Ritual Gembyangan, sehingga dapat menjalankan profesinya sebagai Tandhak. Ritual Gembyangan dilaksanakan di Punden belakang Balai Dusun Rembu Lor. Karya tari ini terdiri dari fokus isi gembyangan/ wisuda tandhak, kemudian fokus bentuk koreografi lingkungan, karena pagelaran karya dilakukan di Balai Dusun Rembu Lor dan Punden Nyai Pandan Sari yang berada di belakang Balai Dusun tersebut. Koreografer pada karya tari ini menggunakan metode pendekatan Konstruksi (rangsang awal, penentuan tipe tari, penentuan mode penyajian representasional atau simbolis, improvisasi, evaluasi improvisasi, seleksi dan penghalusan, motif). Kemudian teori yang digunakan pada karya ?langen beksan? yaitu Koreografi Lingkungan dan Komposisi prinsip-prinsip bentuk seni. Nilai-nilai yang didapat koreografer pada proses karya tari ini yaitu Nilai Sosial Budaya masyarakat setempat, kebersamaan, gotong royong, kerjasama, dsb. Wujud visualisasi karya tari ini, bentuk pertunjukan lingkungan yaitu melibatkan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi pada pagelaran, misalnya arak-arakan menuju Punden, kemudian Ritual di Punden, selanjutnya ngibing dilakukan oleh penonton bersama para penari. Kebanyakan gendhing yang mengiringi pagelaran yaitu gendhing-gendhing tayuban, misalnya eling-eling saat arakan-arakan dan ritual, srampat, walang kekek. Busana karya ini, menggunakan konsep remo putri (kemben, jarit, rapek depan-belakang, pedang-pedangan kanan-kiri, sabuk, sampur, lalu menggunakan sanggul jawa), serta riasan cantik pada penari (pensil alis hitam, eyeshadow berwarna merah dibaur dengan warna hitam, blush on berwarna merah, shading coklat, kemudian lipstik merah gelap). Kata Kunci : Gembyangan, Tayuban, Koreografi Lingkungan
MITOLOGI KAIN PARANG DI DESA NGLUYU SEBAGAI GAGASAN BERKARYA TARI “KESRIMPET PARANG” SUKMAWATI, NITA; TUTUKO, DJOKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Ngluyu Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk merupakan desa yang masih mempertahankan kepercayaan terhadap mitos kain parang yang berkembang sacara turun menurun. Kain parang merupakan benda kesayangan Pangeran Suromangundjoyo, sehingga sampai saat ini masyarakat dilarang untuk membawa atau memakai kain parang di wilayah tersebut. Dari sini penata tari tertarik untuk mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuah karya tari dengan judul Kesrimpet Parang, karya tari ini menceritakan asal mula mitos kain parang di daerah tersebut. Karya tari ini disajikan dengan fokus isi mala petaka dan fokus bentuk dramatari, penata tari memilih fokus bentuk dramatari karena penata ingin memunculkan tokoh-tokoh pada fenoma tersebut.Dalam karya tari ini penata tari melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya-karya tari sebelumnya yang memiliki tema hampir sama dengan karya ini yaitu tari Ampak-ampak Parang Rusak dan tari Kawung. Pengkajian teoritis yang pada karya tari ini adalah mitologi, malapetaka, dramatari, dan koreografi.Kajian pustaka yang digunakan dalam penyusunan karya tari ini menggunakan metode konstruksi yaitu metode yang ada pada Jaquelin Smith. Gaya dalam penggarapan karya tari ini, penata tari lebih menggunakan pada gaya tari tradisi yang dikembangkan. Dalam metode konstruksi yang diterapkan dalam proses penciptaan karya tari ini telah melalui beberapa tahap, yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, komposisi, analisi dan evaluasi serta finishing.Alur pada karya tari ini dibagi menjadi 6 bagian yaitu introduksi, adegan 1, adegan 2, adegan 3, adegan 4, dan yang terakhir adalah ending. Karya tari ini menggunakan tata rias dan busana yang disesuaikan dengan penokohan masing-masing penari, dan menggunakan properti topeng daun untuk menyimbolkan pepohonan serta properti kain parang yang disesuai dengan tema yang diangkat dalam karya tari ini. Karya tari ini menggunakan musik digital editing yang tergolong dalam musik pentatonis. Menggunakan panggung procenium dan tata cahaya yang disesuai dengan suasana.Karya tari merupakan sebuah garapan tari baru, yang mempunyai isi tentang cerita mitologi masyarakat Desa Ngluyu atas pantangan membawa kain parang yang apabila dilanggar maka akan terjadi mala petaka. Dalam proses penciptaan karya tari ini mengingatkan kita agar menaati norma yang berlaku pada suatu lingkungan dan penting bagi penata tari untuk benar-benar memikirkan konsep garapan serta perlu adanya dukungan dan konsistensi antara personal yang terlibat dalam proses kretatif.Kata kunci : mitologi, parang, Pangeran Suromangundjoyo
“SUROBOYO JUANG” (UNGKAPAN PERJUANGAN PERISTIWA 10 NOVEMBER 1945 DALAM BENTUK DRAMATIK) AJENG PANGESTUNINGTYAS INGGARI, JUNIACE; TUTUKO, DJOKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa 10 November 1945 merupakan peristiwa heroik Rakyat Surabaya yang tangis bahagianya masih terasa hingga saat ini. Arek-arek Suroboyo dan segenap lapisan masyarakat melawan sekutu dengan kobaran semangat tanpa senjata. Perang ini memiliki intensitas tinggi dalam peperangan di Indonesia karena mencerminkan jiwa keadilan dan nasionalisme yang kuat dari masyarakat kota Surabaya. Maka, koreografer menciptakan tari Suroboyo Juang seba gai bentuk ungkapan peristiwa 10 November 1945. Karya tari ini memiliki fokus isi perjuangan dalam peristiwa 10 November 1945, dan fokus bentuknya merupakan sajian dari sebuah karya tari yang bertipe dramatik.Dalam proses penciptaan karya tari Suroboyo Juang ini koreografer melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya yang telah diciptakan oleh koreografer terdahulu yang tentunya telah relevan seperti Tari Benteng Suroboyo, Tari Joko Berek, dan Tari Greget Sawunggaling. Tidak hanya itu, pengkajian teori juga menggunakan teori ungkapan, perjuangan, sejarah, dramatik, dan koreografi.Karya tari Suroboyo Juang menggunakan metode konstruksi yang telah dikenalkan oleh Jacqueline Smith digunakan sebagai langkah-langkah untuk membangun sebuah ide yang akhirnya menjadi konsep. Dalam mengkonstruksi karya tari dibutuhkan pemahaman tentang elemen dasar tari seperti tenaga, ruang, dan waktu serta tatanan tari yang baik melalui tahap rangsang awal, menentukan tipe tari, mode penyajian, eksplorasi, improvisasi, analisis dan evaluasi, serta penghalusan. Judul Suroboyo Juang menjadi makna dari rakyat Surabaya yang sedeang berjuang dalam peristiwa 10 Novenber 1945. Teknik dan gaya tari Suroboyo Juang ialah gaya Jawa Timuran yang dikembangkan dengan kelincahan kaki, kekuatan tangan dan kaki, serta ragam gerak Tari Remo yang menjadi acuan karena memiliki rasa yang sama yaitu perjuangan.Alur pada karya tari ini dibagi menjadi empat bagian yakni introduksi, adegan 1, adegan 2, dan adegan 3. Koreografi dalam karya ini tentunya harus didukung dengan tata rias dan busana yang menggambarkan atau menyimbolkan karakter tarian tersebut. Sebagai pendukung karya tari, iringan musik menjadi hal yang penting. Dalam karya ini menggunakan iringan pentatonic dalam bentuk digital.Karya tari Suroboyo Juang menawarkan bentuk sajian yang mengeksplorasi tubuh berdasarkan tipe tari dramatik. Penyampaian gerak dalam karya ini dipertimbangkan dari sisi konsep karya dan kemampuan para penari yang tentunya memiliki motivasi dan isi. Pada hal tersebut koreografer berharap kepada para penikmat untuk tidak melupakan sejarah dan selalu mengapresiasi perjuangan para pahlawan. Kata Kunci: Ungkapan, Suroboyo Juang, dan Dramatik.