cover
Contact Name
Yunika Triana
Contact Email
yunika@staff.uinsaid.ac.id
Phone
+6289518181336
Journal Mail Official
yunika@staff.uinsaid.ac.id
Editorial Address
Jl. Pandawa, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia.
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History
ISSN : -     EISSN : 31640273     DOI : https://doi.org/10.22515/alabsah.v2i1.139
Core Subject :
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History aims to provide a scholarly platform for the publication of research articles related to the fields of adab, language, literature, and history. This journal welcomes interdisciplinary studies that explore these areas from various perspectives within language studies, literary studies, and studies of adab and Islamic culture.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Kiai Abdul Qohhar Bayat Klaten : Napak Tilas Tokoh Mahaguru Spiritual Kasunanan Surakarta Asrifah Nur Khasanah; Arya Bagus Nur Ajiyanto
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.135

Abstract

Artikel ini mengkaji, dari perspektif historis dan reflektif, sosok Kiai Abdul Qohhar sebagai seorang cendekiawan Islam karismatik dari Ngruweng , Bayat, Klaten , yang memegang posisi penting sebagai guru spiritual dalam lingkungan Kasunanan Surakarta. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi peran dakwah dan warisan spiritual Kiai Abdul Qohhar melalui pendekatan historiografi kualitatif dengan menggabungkan sumber tertulis, tradisi lisan, dan observasi lapangan. Sumber utama penelitian ini meliputi Serat Sesingir yang ditulis oleh Paku Buwono IX, data media, dan wawancara dengan masyarakat setempat. Temuan menunjukkan bahwa Kiai Abdul Qohhar adalah utusan Paku Buwono IV dalam menyebarkan Islam di wilayah Bayat dan kemudian diakui sebagai guru spiritual istana kerajaan. Pendekatan dakwahnya bersifat budaya dan spiritual, tercermin dalam praktik riyadhah , tradisi haul , dan nilai-nilai kearifan lokal yang terus bertahan hingga saat ini. Studi ini juga mengidentifikasi masalah epistemologis dalam dominasi narasi lisan yang belum sepenuhnya didukung oleh sumber primer yang autentik. Jika direnungkan, Kiai Abdul Qohhar mewakili model dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan patut dicontoh lintas generasi.
Integrasi Literasi Digital dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Critical Thinking Mahasiswa di Era Artificial Intelligence M. Thoriq Aziz; Syamsul Ma’arif
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.137

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the integration strategies of digital literacy and Islamic educational values, alongside their implications for enhancing students' critical thinking skills amidst the massive utilization of Artificial Intelligence (AI). The research employed a descriptive qualitative method with a case study approach in an Islamic higher education institution. Data collection was carried out through in-depth interviews, participatory observation, and documentation of students' academic activities. The results indicated that the instant utilization of AI technologies risks degrading students' analytical sharpness. However, a curriculum reconstruction that blends digital literacy skills such as information validation and comparative thinking with Islamic epistemological values (the principles of tabayyun and tafakkur) proved effective as both an ethical filter and a stimulant for critical reasoning. The study concludes that the integration of technological and Islamic axiological aspects successfully transforms students' roles from mere consumers of AI platforms into critical and adaptive information evaluators. This integration model is recommended as a tactical blueprint for policymakers in Islamic higher education to effectively respond to digital technology disruptions. Keywords: Artificial Intelligence; Critical Thinking; Digital Literacy; Islamic Education; Undergraduate Students.
Satire and Political Subversion: Critical Discourse Analysis of Javanese Power Ethics in Serat Wicara Keras Dewa Alfaquin Faturangga; Diefa Octavia Poetra; M. Syirojul Huda
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.139

Abstract

This study aims to analyze satire and political subversion in Serat Wicara Keras by R. Ng. Yasadipura II as a critique of Javanese power ethics. The research employs a qualitative method using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis approach to examine the relationship between language, ideology, and power within the text. Data were collected through library research and textual analysis of verses containing socio-political criticism. The findings reveal that Yasadipura II utilizes satire, irony, pejorative metaphors, and moral symbolism as discursive strategies to criticize the moral decadence of the priyayi elite and the crisis of political legitimacy within the royal court. The criticism is conveyed indirectly through a hidden transcript mechanism, enabling symbolic resistance against feudal political culture without direct confrontation. This study also finds that the critical values contained in Serat Wicara Keras remain relevant to contemporary Indonesian politics, particularly regarding oligarchy, dynastic politics, corruption, and the crisis of leadership ethics. Therefore, Serat Wicara Keras is not only a literary and historical text but also a medium of socio-political criticism that reflects the relationship between language, culture, and power in the Javanese tradition.
Krisis Makna Cinta Peradaban Modern: Telaah Humanisme Erich Fromm Dalam Buku The Art Of Loving Muhammad Arif Fur’qon; Arya Bagus Nur Ajiyanto
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.142

Abstract

Penelitian ini mengkaji krisis makna cinta dalam peradaban modern melalui lensa humanisme Erich Fromm sebagaimana tersaji dalam The Art of Loving. Tujuan penelitian adalah (1) menganalisis konsep cinta dalam kerangka humanisme Fromm, (2) mengkaji kritik Fromm terhadap peradaban modern yang mereduksi cinta, dan (3) menjelaskan relevansi gagasan Fromm bagi kehidupan sosial kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis interpretatif melalui close reading teks primer serta pemetaan literatur pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Fromm memosisikan cinta sebagai sebuah art—keterampilan etis yang harus dilatih serta sebagai aktivitas produktif yang terdiri atas empat unsur: care, responsibility, respect, dan knowledge. Dalam peradaban modern, orientasi having (memiliki) yang didorong oleh kapitalisme dan rasionalitas instrumental telah menggeser orientasi being (menjadi), sehingga cinta kerap direduksi menjadi komoditas, mengalami relasi yang bersifat instrumental, dan menyuburkan alienasi emosional. Implikasi praktisnya terlihat pada rapuhnya solidaritas dan melemahnya fungsi humanistik cinta dalam ruang publik. Kemudian  menemukan titik temu penting antara gagasan Fromm dan nilai-nilai religious, terutama konsep rahmah dalam tradisi Islam sebagai landasan untuk mereaktualisasikan cinta sebagai tenaga moral dalam rekonstruksi etika sosial. Kesimpulannya, pemikiran Erich Fromm tetap relevan dan menawarkan kerangka konseptual yang berguna untuk memahami dan merespons krisis relasi kemanusiaan di era modern.

Page 3 of 3 | Total Record : 24