cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Tatalaksana Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna: Laporan Kasus Hilda Zaniba Ariffah; Dony Hartanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan suatu kondisi infeksi/inflamasi kronik mukoperiosteum dan jaringan tulang telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari liang telinga lebih dari 2 bulan. Terdapat dua tipe OMSK, yaitu OMSK tipe benigna (tanpa kolesteatoma) dan tipe maligna (dengan kolesteatoma). Diagnosis OMSK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Dua jenis klasifikasi yang sering digunakan yaitu OMSK tipe benigna dan tipe maligna, dan berdasarkan aktivitas sekret yang keluar (OMSK aktif dan OMSK tenang). Penatalaksanaan tuli mendadak meliputi terapi konservatif dengan beberapa medikamentosa tergantung dari tipe OMSK dan komplikasi yang menyertai. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memberikan gambaran pemahaman yang komprehensif mengenai penatalaksanaan OMSK. Laporan kasus: seorang wanita usia 54 tahun datang dengan keluhan keluar cairan dari telinga kanan sejak 1 bulan yang lalu. Cairan yang keluar berwarna kuning kental, tidak berbau, dan tidak disertai rasa gatal. Pasien mengaku sebelumnya sering mengorek telinga. Pada status present dan status generalis dalam batas normal. Pada telinga kanan ditemukan sekret mukopurulen. Pada membran timpani kanan tampak perforasi pada bagian sentral regio postero superior. Tatalaksana yang diberikan berupa pembersihan liang telinga, antibiotik topikal dan sistemik.
Severe Dengue dengan Syok Terkompensasi dan Hipertensi Stage II Cantika Trikharena Ardityawati; Rengganis Ayu Kinanthi
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Severe dengue adalah kondisi Infeksi virus dengue yang harus segera mendapat penanganan di rumah sakit. Diantara kasus severe dengue, 244 (90%) mengalami perembesan plasma, perdarahan hebat 39 (14%), dan disfungsi organ berat 28 (10%). Severe dengue terbagi menjadi 2 klasifikasi yaitu syok dengue terkompensasi dan syok dengue tidak terkomoensasi. Kami melaporkan kasus Severe dengue dengan syok terkompensasi dan HT stage II pada anak Laki-laki 17 th di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan penuruanan kesadaran, nyeri perut hebat, perdarahan dan muntah terus- menerus. Keadaan Umum pasien tampak sakit berat dengan GCS E3V4M5 dengan tensi 140/91 mmHg. Pemeriksaan fisik didapatkan wajah bengkak , rongki paru (+/+), hepatomegaly. Hasil pemeriksaan darah rutin didapatkan trombosit 19.000/ul, HCT 60.7%, SGOT 105U/L, SGPT 59U/L, Na 125.9 mmol/L, Kalsium 8.30 mg/dL. Pasien kemudian mendapatkan penanganan berupa pemasangan DC, infus NaCL 0.9% 40 tpm, O2 nasal canul 2 lpm, paracetamol 750mg/6 jam, Ondancetron 8mg/8j, Omeprazole 1v/12j, captopril 2x25 mg, beserta terapi penunjang lainnya.
Seorang Laki-Laki Berusia 41 Tahun dengan Fistula Perianal Pengobatan TB on OAT: Laporan Kasus Mandarini Dwi Putri Aryati; Hitaputra Agung Wardhana
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fistel adalah hubungan abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh yang terpisah satu sama lain. Fistula ani terjadi akibat abses anorektal yang telah keluar dan merupakan fase kronis. Kasus ini mendeskripsikan pasien berusia 41 tahun yang datang ke Poli RSUP Surakarta dengan keluhan keluar cairan dari lubang di dekat anus setelah terdapat benjolan yang pecah. Berdasarkan klasifikasi kasus ini termasuk fistula simplex subcutaneus karena mempunyai satu saluran dengan satu lubang eksterna dan satu lubang interna. Fistula ani lebih sering terjadi pada laki-laki. Hampir semua fistula ani disebabkan oleh infeksi anal glands pada interspinchter plane dan juga merupakan manifestasi dari tuberkulosis. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisis dan penunjang didapatkan diagnosis fistula perianal dengan pengobatan TB on OAT. Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi Fistulotomi atau Fistulektomi merupakan baku emas untuk tatalaksana fistula parianal.
Efektivitas dan Keamanan Anestesi Total Intravena Versus Anestesi Inhalasi terhadap Hasil Pascaoperasi Darurat: Tinjauan Sistematik Kanina Listyowati; Jenny Khayla Zahirani; Lutfi Lafil Cahya Putra; Eka Maulana Zainul Muttaqin
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan teknik anestesi dalam operasi darurat dipengaruhi oleh faktor ketidakstabilan hemodinamik dan risiko komplikasi tinggi. TIVA (Total Intravenous Anesthesia) sering digunakan dalam operasi darurat karena memiliki awitan cepat, pemulihan terprediksi, dan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi. Sementara itu, INHA (Inhalation Anesthesia) terbukti dapat melindungi fungsi ginjal, meskipun memiliki awitan lebih lambat. Dengan demikian, tinjauan sistematik diperlukan untuk membandingkan kedua teknik ini dalam operasi darurat. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengevaluasi efektivitas dan keamanan TIVA dan INHA dalam mencegah komplikasi pascaoperasi. Tinjauan sistematik melalui pencarian literatur di PubMed dan Scopus menghasilkan 366 studi, dengan enam studi tersisa berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data meliputi karakteristik studi, teknik anestesi, dan hasil pascaoperasi. Analisis data menggunakan deskripsi komparatif. TIVA menunjukkan keunggulan dengan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi, menghasilkan skala nyeri lebih rendah pada pasien thoracostomy dan perubahan AST/ALT lebih rendah pada pasien post non-hepatic surgery. TIVA juga memiliki insidensi POD (postoperative delirium) lebih rendah dibandingkan INHA. Sebaliknya, INHA pada pasien pediatri meningkatkan risiko bradikardia hingga 11 kali lipat dan insidensi IOA yang lebih tinggi. Maka dari itu, TIVA terbukti lebih aman dengan risiko komplikasi lebih rendah. Berdasarkan tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas dan keamanan penggunaan TIVA lebih unggul dibandingkan INHA dalam operasi darurat.
Perbandingan Efektivitas Penerapan Splenorrhaphy dan Splenektomi pada Trauma Limpa Derajat Ringan hingga Berat Billy Daniel Messakh; Casey Clarissa Gondo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Trauma limpa sering terjadi akibat trauma tumpul atau penetratif pada abdomen dan berisiko tinggi menyebabkan perdarahan internal yang signifikan. Splenorrhaphy dan splenektomi menjadi pilihan dalam memeperbaiki kondisi ini. Tinjauan ini mengeksplorasi perbandingan dari indikasi dan dampak yang diberikan baik dari tindakan splenektomi dan splenorrhaphy. Metode: Literatur ini membahas perbedaan, indikasi tindakan, efek, dan efisiensi biaya dari splenektomi dan splenorrhaphy. Data untuk literatur ini diperoleh dari sumber seperti PubMed Central dan Google Scholar dengan kata kunci splenektomi, splenorrhaphy dan trauma limpa. Hasil dan Diskusi: Splenorrhaphy dan splenektomi dapat digunakan untuk trauma ringan hingga berat dengan perdarahan masif atau kerusakan limpa yang tidak dapat diperbaiki. Splenorrhaphy memiliki risiko perdarahan ulang, sedangkan splenektomi meningkatkan risiko infeksi serius (Overwhelming Post-Splenectomy Infection/OPSI) karena hilangnya fungsi imun limpa. Kombinasi kedua tindakan ini dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi imun parsial sambil mengatasi cedera yang berat. Kesimpulan: Pendekatan manajemen cedera limpa memerlukan evaluasi berdasarkan kondisi pasien dan tingkat keparahan cedera. Splenorrhaphy dapat mengurangi mortalitas dibandingkan splenektomi total, tetapi jika gagal, tindakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, penulis lebih mengutamakan splenektomi dilanjutkan dengan autotransplantasi untuk cedera limpa derajat sedang hingga berat.
Tiroidektomi pada Struma Nodusa Non Toksik: Laporan Kasus Muhammad Ghazy Attoriq; B Bakri
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Struma atau biasa yang disebut dengan goiter merupakan suatu pembesaran dari kelenjar tiroid yang diakibatkan oleh kelainan kelenjar tiroid. penyebab paling umum dari struma adalah kekurangan yodium. Manifestasi klinis dari penderita struma nodusa non toksik ini sebagian kecil mengeluh adanya penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakhea (sesak nafas). Ultrasound adalah pendekatan radiologi awal yang paling umum digunakan untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi nodul tiroid. Pada kasus ini dilaporkan seorang pria berusia 67 tahun dengan struma nodusa non toksik di RSUD Karanganyar. Metode utama yang digunakan untuk penyembuhan pada kasus ini yaitu dengan dilakukannya tindakan operasi yaitu metode tiroidektomi.
Oesofagus Maag Duodenum (OMD) Kontras pada Ny. S Usia 19 Tahun dengan Suspek Gastritis Nastiti Aisyah Athari; Abdul Aziz
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastritis merupakan suatu masalah kesehatan yang umum terjadi, hampir 10% dari orang-orang yang di rawat di unit gawat darurat rumah sakit di Indonesia. Badan penelitian kesehatan dunia (WHO) tahun 2017 melakukan tinjauan terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil presentase angka kejadian gastritis di Inggris 22%, China 31%, Kanada 35%, Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8 - 2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO pada tahun 2017 adalah 40,8%. Pemeriksaan Oesophagus Maag Duoenum merupakan jenis pemeriksaan radiologi yang mempunyai banyak manfaat terutama dalam melakukan diagnosis terhadap kelainan pada saluran pencernaan khususnya pada esofagus sampai usus halus (duodenum). Pemeriksaan OMD dapat membantu dalam mendiagnosis adanya gangguan seperti gastritis, divertikulus, dyspepsia dan beberapa penyakit lain pada esofagus, lambung dan duodenum.
Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 3 Tahun dengan Glomerulonefritis Akut pasca Streptokokus Yazid Aufa Najib; Ida Farida Nurohmah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS) adalah suatu bentuk peradangan glomerulus yang secara histopatologi menunjukkan proliferasi dan inflamasi glomeruli yang didahului oleh infeksi grup beta hemolytic strectococcus dan ditandai dengan gejala nefritik seperti hematuria, edema, hipertensi, oliguria yang terjadi secara akut. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 3 tahun 7 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo diantar oleh keluarga dengan keluhan buang air kecil berwarna kemerahan disertai bengkak pada wajah dan kedua ekstremitas atas dan bawah. Keluhan ini sudah berlangsung sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mempunyai riwayat sering radang tenggorokan disusul batuk lama sembuh. Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema wajah terutama pada periorbital, ektremitas atas dan bawah, dan edema minimal pada skrotum. Pasien mendapat terapi infus ringer laktat 12cc/jam, injeksi cefotaxime 500mg/12j, injeksi gentamicin 15 mg/12j, injeksi ondancetron 1,5 mg/8 jam, Injeksi ranitidin 15 mg/12 jam, Injeksi Paracetamol 150mg/6 jam (bila suhu>38,5C), injeksi furosemide 10mg/12 jam.
Seorang Perempuan Usia 61 Tahun dengan Fibrokistik dan Fibroadenoma: Laporan Kasus Amalia Salsabella; Bakri Hasbullah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor mammae merupakan kelainan mammae yang sering terjadi pada wanita. Tumor terbagi menjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas. Tumor terbagi menjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas. Dimana tumor jinak dibagi menjadi kista mammae, fibroadenoma, tumor filoides, fibrokistik, dan galaktokel, sedangkan carcinoma mammae termasuk tumor ganas yang sering menyerang wanita. Pemeriksaan fisik, terutama mamografi, dan biopsi jaringan harus dilakukan untuk mendiagnosis tumor payudara. Pemeriksaan yang seksama dapat meningkatkan tingkat keberhasilan dari tatalaksana yang yang akan diberikan pada pasien tumor mammae, serta meningkatkan kualitas hidup pada pasien carcinoma mammae. Kami laporkan kasus tumor mammae pada perempuan usia 61 tahun dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara bagian kanan. Pasien mengatakan awal mula benjolan kecil lalu semakin besar selama kurang lebih 1 bulan ini. Pasien juga mengeluhkan benjolan di payudara kanan terkadang nyeri. Pada pemeriksaan mammae didapatkan kedua payudara tampak tidak simetris, teraba sebuah massa di garis anterior axilla, bentuk bulat lonjong, konsistensi kenyal lunak, mobile, berbatas tegas, dan terdapat nyeri tekan. Pada pasien dilakukan terapi operati yaitu mastektomi. Pemeriksaan Histopatologi yang didapatkan dari mastektomi menghasilkan lesi fibrokistik, fibroadenoma intra dan perikanalikuler, serta matitis kronik dengan supurasi, ulserasi dan jaringan granulasi.
Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 3 Tahun dengan Bronkopneumonia Catur Permana Putra; Elvia Maryani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bronkopneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak kecil dan bayi, seringkali disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia dan Hemofilus influenza. Secara global, pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah usia 5 tahun. Rancangan studi kasus yang digunakan adalah deskriptif. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 3 tahun 11 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo diantar oleh keluarga dengan keluhan demam tinggi 38.2oC disertai batuk dan pilek. Demam sudah berlangsung sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit dan batuk sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan terus menerus dan batuk juga terus menerus hingga mengganggu aktivitas. Pasien juga mengeluhkan muntah ketika sedang batuk. Tidak ada penurunan kesadaran dan saat masuk rumah sakit pasien tampak lemas. Pasien mendapat terapi Inf. RL 45cc, Ampicilin 290mg/6j, Inj. Gentamicin 35mg/12j, Injeksi Ondancetron 1 mg/8 jam, Injeksi Paracetamol 120mg/4 jam (bila suhu>38,5C), paracetamol syrup 1cth/4jam (bila suhu >37,5C-38,5C (PO), dan Puyer Batuk 3x1 (Ambroxol 6mg, Salbutamol 1mg, dan Trifed 1/5 tablet).