cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Laki-Laki Usia 48 Tahun dengan Periappendiceal Mass: Laporan Kasus Dhia Naila Alfatikha; Yudi Eko Prasetiyo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa. Appendicitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan dapat mengenai semua kelompok usia. Pada sebuah kasus dilaporkan seorang laki laki usia 48 tahun dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah sejak 10 hari yang lalu disertai mual muntah,konstipasi, dan demam. Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan kuadran kanan bawah dan score alvarado 9 poin. Pemeriksaan penunjang darah lengkap menunjukkan peningkatan neutrofil, limfosit, dan leukosit serta pada pencitraan USG abdomen menyokong gbr. App Akut -Sub akut dengan peri infiltrat, cystitis, gambaran Fatty liver dengan hepatomegali. Tatalaksana yang diberikan infus ringer lactat 20 tpm, injeksi omeprazole 40 mg/ 12 jam, injeksi ondancentron 4 mg /8 jam, injeksi paracetamol 1 gr/ 8 jam dan dilakukan CITO laparatomi oleh dokter spesialis bedah.
Laki-Laki Usia 46 Tahun dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Sifilis Laten Lanjut, dan HIV Meidina Putri Pitaloka; Milany Harirahmawati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Sifilis mempunyai sifat perjalanan penyakit yang kronik, dapat menyerang semua organ tubuh, menyerupai berbagai penyakit (great imitator disease), memiliki masa laten yang asimtomatik, dapat kambuh kembali, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin yang menyebabkan sifilis kongenital. Diagnosis sifilis harus selalu didukung hasil laboratorium yang sesuai dengan tetap mengacu hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan serologi sering untuk diagnosis, skrining, dan memantau respons terapi. Sifilis dapat disembuhkan pada tahap awal infeksi, tetapi apabila tidak mendapat pengobatan adekuat dapat menjadi infeksi sistemik dan berlanjut ke fase laten. Laki-Laki Usia 46 Tahun dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Sifilis Laten Lanjut, dan HIV. Tatalaksana yang diberikan O2 5 lpm, Infus RL 20 tpm, Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam, Solvinex 1 amp/8 jam, paracetamol 3x500mg, DST lini II, TLD 1x1 (pagi), Inj Benzatin B Penisilin 2,4 IU IM single dose (1x/seminggu sampai 3x pemberian), Inj Vit C 1gr/24jam, Itrakonazole tab 2x100mg, Nystatin drop 3xC1, CTM 3x2 tab. Sifilis merupakan infeksi menular seksual disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pallidum. Manifestasi klinis tergantung stadium primer, sekunder, laten, atau tersier. Terapi sifilis berdasarkan pada stadium klinis.
Seorang Laki-Laki Usia 75 Tahun dengan Emfisema Subkutis Farah Nabila Ryani; Hitaputra Agung Wardhana
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emfisema subkutis adalah kondisi dimana terdapatnya udara bebas pada jaringan subkutis dinding dada yang menjalar ke jaringan lunak di wajah, leher, dada atas, dan bahu. Tanda dan gejala emfisema subkutis bervariasi tergantung dari penyebab dan lokasi terjadinya. Tanda paling khas emfisema subkutis yaitu oedem dan krepitasi. Berdasarkan tingkat keparahan, emfisema subkutis dibagi menjadi 5 kategori. Penatalaksanaan pada kasus emfisema subkutis derajat berat dapat dilakukan dengan insisi subkutan dan drainase hingga cervical mediastinotomy sebagai opsi terakhir. Sementara itu, pada kasus emfisema subkutis yang bersifat ringan terapi khusus umumnya tidak diperlukan. Terapi juga perlu dilakukan pada penyebab yang mendasari emfisema subkutis. Komplikasi emfisema subkutis adalah gangguan pernafasan dan henti jantung. Laporan kasus ini akan membahas tentang perjalanan dan terapi pasien pasca kecelakaan lalu lintas. Tn. SS usia 75 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak nafas dan bengkak pada hampir seluruh bagian tubuh. Selama perawatan didapatkan pneumothorax dan emfisema subkutis masif. Dilakukan penatalaksanaan dengan metode minimal invasif yaitu insisi multipel dan pemasangan WSD. Evaluasi fungsi paru dan komplikasi paska pembedahan dilakukan selama proses penyembuhan.
Cephalgia Kronis Et Causa Brain Tumor pada Pasien Pediatric Ichsan Novianto; Erupsiana Fitri Indrihapsari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor otak adalah sel-sel jaringan otak yang tumbuh secara abnormal yang asalnya dari otak maupun meningens, yang berupa tumor jinak maupun ganas yang membuat pendesakan desakan secara masif. Pendesakan bisa juga diakibatkan oleh edema di sekitar jaringan tumor sehingga terjadi peningkatan tekanan di daerah intracranial. Space occupying process (SOP) merupakan generalisasi adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Cephalgia merupakan gejala umum selama masa anak-anak, mempengaruhi 12,8% anak usia sekolah dan meningkat secara progresif menjadi 49% pada tahun-tahun remaja. Cephalgia mungkin merupakan gejala yang paling dikenal di antara gejala-gejala yang berhubungan dengan tumor otak dan pasien dengan cephalgia sering kali khawatir bahwa mereka mungkin memiliki neoplasma intrakranial. Kami melaporkan pasien anak perempuan berusia 12 tahun dengan diagnosis Cephalgia kronis et causa Brain Tumor yang dibuktikan pada anamnesis, pemeriksaan fisik didapatkan parese nervus VI sinistra dan nervus VII sinistra, UMN, serta pemeriksaan MRI didapatkan adanya massa pada frontoparietalis dextra. Diagnosis dapat ditegakkan lebih awal serta dapat dilakukan tindakan terapi yang sesuai dapat menurunkan angka mortalitas.
Anak Perempuan Usia 6 Tahun dengan Anemia Penyakit Kronis, Bronkopneumonia, dan Infeksi Saluran Kemih: Laporan Kasus Kharisma Antanagara; Ida Farida Nurohmah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia pada penyakit kronik merupakan bentuk anemia tersering kedua setelah anemia defisiensi besi (ADB) dan yang tersering diantara pasien dengan penyakit kronik. Bronkopneumonia adalah peradangan pada saluran nafas utama dan paru-paru akibat infeksi. Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi pada ginjal dan saluran kemih. Berdasarkan laporan kasus ini, seorang anak perempuan berusia 6 tahun 5 bulan yang mengalami Anemia Penyakit Kronis (APK), Bronkopneumonia, dan Infeksi Saluran Kemih (ISK). Pasien datang ke IGD dengan keluhan utama demam naik turun selama 4 hari, disertai badan lemas, pucat, pusing, nyeri perut, mual, muntah, batuk kering, dan pilek. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya anemia, pembesaran kelenjar getah bening, suara ronki pada paru-paru, serta tanda-tanda infeksi saluran kemih. Diagnosis ditegakkan ditunjang berdasarkan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urine, dan rontgen thorax. Tatalaksana yang diberikan meliputi infus cairan, antibiotik, antipiretik, antiemetik, transfusi darah, dan diet khusus. Pada kasus ini, terdapat kombinasi tiga penyakit serius dan membutuhkan penanganan multidisiplin. Meskipun mengalami kondisi serius, pasien menunjukkan perbaikan signifikan dalam waktu singkat sehingga membuktikan efektivitas terapi yang diberikan.
Seorang Wanita Usia 34 Tahun dengan Abses Mammae Dextra Alda Amelia Rifat; Budi Yuwono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abses mammae adalah akumulasi nanah di jaringan payudara yang sering terjadi pada wanita menyusui akibat mastitis. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang signifikan, serta memengaruhi kualitas hidup pasien. Laporan ini membahas kasus abses mammae dextra pada seorang wanita berusia 34 tahun. Tujuan: Menganalisis penyebab, diagnosis, dan penatalaksanaan abses mammae dextra pada pasien serta memberikan wawasan mengenai pendekatan klinis yang optimal. Metode: Pendekatan deskriptif dilakukan berdasarkan data anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penunjang. Penanganan meliputi insisi dan drainase abses, serta pemberian terapi antibiotik yang sesuai. Hasil: Pasien mengeluhkan nyeri payudara kanan sejak dua minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan gejala demam, bengkak, dan kemerahan. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (13,6 x 10^3/μL) dan anemia ringan. Pasien didiagnosis dengan abses mammae dextra. Intervensi berupa insisi dan drainase berhasil dilakukan, diikuti oleh pemberian antibiotik ampisilin dan analgesik. Pasien menunjukkan perbaikan klinis setelah beberapa hari perawatan. Kesimpulan: Penatalaksanaan abses mammae yang meliputi drainase dan terapi antibiotik efektif dalam mengatasi infeksi dan gejala klinis. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Acute Kidney Injury pada Pasien dengan Chronic Kidney Disease: Laporan Kasus Desita Asri Yulistina; Retno Suryaningsih
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Acute Kidney Injury (AKI) masih menjadi masalah kesehatan global. Kejadian AKI mencapai 2.000-3.000 juta individu per tahun. AKI dapat terjadi pada kondisi Chronic Kidney Disease (CKD) dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas termasuk hilangnya fungsi ginjal jangka panjang. Penting untuk memahami lebih lanjut mengenai Acute on Chronic Kidney Disease (ACKD) termasuk peran CKD sebagai faktor risiko utama, serta manajemen yang tepat untuk mencegah penurunan fungsi ginjal lebih lanjut. Presentasi Kasus: Pria 58 tahun datang dengan keluhan sesak napas memburuk selama 3 hari terakhir. Terdapat riwayat hipertensi tidak terkontrol dan operasi batu ginjal. Ditemukan adanya ronki pada thoraks. Laboratorium menunjukkan anemia berat, kreatinin 5,4 mg/dL, dan nilai GFR 12 mL/min/1,73 m². USG ginjal menunjukkan hidronefrosis dengan hidroureter. Pasien didiagnosis AKI pada CKD akibat obstruksi. Diskusi: AKI dapat terjadi pada individu yang memiliki CKD karena pasien dengan CKD memiliki gangguan mekanisme autoregulasi ginjal yang mengurangi kemampuan kompensasi terhadap penurunan perfusi ginjal. Diagnosis AKI pada CKD mengacu pada kriteria Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), melibatkan peningkatan serum kreatinin atau penurunan output urin. Simpulan: AKI pada CKD memperburuk prognosis ginjal. Diagnosis dan intervensi dini penting untuk mencegah komplikasi serius dan meningkatkan kelangsungan hidup pasien.
Seorang Laki-Laki Berusia 53 Tahun dengan Gagal Ginjal Kronis Stadium V: Laporan Kasus Sherly Marchelina; Fadhilah Nurluthfi Sari; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah gangguan progresif fungsi ginjal yang ditandai dengan adanya penurunan laju filtrasi glomerulus lebih dari tiga bulan. Kondisi ini menjadi masalah kesehatan global karena dampaknya terhadap kualitas hidup pasien dan angka mortalitas yang semakin meningkat dengan penyebab tersering adalah hipertensi. Prevalensi GGK berdasarkan The Global Burden of Disease Study pada tahun 2017, mencapai 9,1% (697,5 juta) dengan peringkat ke-12 dunia penyebab kematian (sekitar 1,2 juta) akibat GGK. Angka ini akan semakin meningkat terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018, angka kejadian GGK di Indonesia sebesar 0,38% meningkat dari 0,2% dan 60% diantaranya menjalani hemodialisa. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional. Hasil : Seorang laki-laki 53 tahun dengan keluhan bengkak pada kedua tungkai kaki dengan diagnosis gagal ginjal kronis stage V. Diagnosis GGK ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana yang diberikan kepada pasien adalah pembatasan konsumsi cairan, pemberian obat diuretik dan rencana hemodialisa. Kesimpulan: Gagal ginjal kronis merupakan masalah kesehatan serius yang mempengaruhi kualitas hidup pasien, sehingga diperlukan upaya pencegahan progresi perburukan fungsi ginjal pada GGK.
Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 6 Tahun dengan Diare Cair Akut disertai Dehidrasi Ringan-Sedang Wanda Emdia Almansyah; Isna Nurhayati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare akut adalah buang air besar yang terjadi lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan perubahan konsitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Episode diare dibedakan menjadi akut dan persisten atau diare kronis berdasarkan durasinya. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Cara penularan diare pada umumnya melalui fekal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. Faktor risiko lainnya adalah makanan yang tidak higienis, tempat penyimpanan makanan dingin yang kurang, kontak makanan dengan lalat, dan mengkonsumsi air minum yang tercemar. Terapi dilakukan sesuai lintas diare dengan pemberian cairan rehidrasi dilanjutkan dengan maintenance, zinc, meneruskan nutrisi melalui makanan yang bergizi, dan membrikan nasihat kepada keluarga. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 6 tahun 5 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo dengan diare cair akut disertai dehidrasi ringan-sedang.
Seorang Laki-Laki Berusia 51 Tahun dengan Tetanus disertai Pneumonia CAP: Laporan Kasus Mawardah Al Nimmah; Rio Yunandar; Febri Retnosari; Mohamad Ananto Cahyoajibroto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tetanus merupakan masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia terutama di negara-negara berkembang akibat penyakit ini yang disebabkan karena program imunisasi yang buruk. Tetanus merupakan toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang diproduksi oleh C. tetani ditandai dengan kekakuan dan kejang otot yang berkala dam parah. Neurotoksin ini akan menghambat pelepasannya neurotransmitter di sistem saraf pusat, menyebabkan kekauan otot. Laporan kasus seorang pria berusia 51 tahun datang ke Unit Gawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan utama nyeri telan, pasien merasakan tenggorokan sakit sehinnga sulit untuk menelan makanan dan minuman sejak 2 hari karena terasa nyeri, selain itu pasien mengeluhkan demam sejak 2 hari yang lalu, batuk, kadang sesak, keringat dingin, mual muntah, lemas, pasien mengatakan belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Sebelumnya pasien sempat mengalami sakit pada area gigi berlubangnya dan tidak mendapat perawatan yang baik. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi maupun DM. Tanda vital 125/78 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 18x/menit, suhu 37 C, SpO2 97%. Pada pemeriksaan fisik didapatkan trismus, leher kaku, rigiditas perut, opistotonus. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, Tn. S 51 tahun didiagnosis dengan tetanus. Pasien diberikan terapi clindamycin 3x1, diazepam 3x1 dan asam folat 2x1.