cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR-FAKTOR DALAM KONDISI SOSIAL,EKONOMI DAN LINGKUNGAN KELUARGA MISKIN KELURAHAN JAGIR KECAMATAN WONOKROMO KOTA SURABAYA RIZKY AKBAR, MUHAMMAD
Swara Bhumi Vol 0, No 3 (2017): Volume 04 Nomor 3 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FAKTOR-FAKTOR DALAM KONDISI SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN KELUARGA MISKIN KELURAHAN JAGIR KECAMATAN WONOKROMO KOTA SURABAYAMuhammad Rizky Akbar Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya Dra. Sri Murtini, M.SiDosen Pembimbing Mahasiswa AbstrakData Badan Pusat Statistik (BPS)  Jawa Timur tahun 2014 menyebutkan bahwa angka kemiskinan tertinggi di Kecamatan Wonokromo terletak di Kelurahan Jagir. Posisi tersebut berbanding terbalikdengan data BPS Jawa Timur tahun 2013 yang menempatkan Kelurahan Jagir pada posisi terendah.Fenomena tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Faktor -Faktor dalamkondisi Sosial, Ekonomi dan lingkungan keluarga miskin di Kelurahan Jagir Kecamatan WonorkomoKota Surabaya”. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor dalam kondisi sosial, ekonomi danlingkungan keluarga miskin  di Kelurahan Jagir. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatifyang berlokasi di Kelurahan Jagir Kecamatan Wonokromo dengan responden kepala keluarga miskin diKelurahan Jagir yang berjumlah 280 kepala keluarga. Analisis data diketahui bahwa program pemerintahmerupakan faktor tertinggi dengan jumlah 16,84% dari keseluruhan faktor. Urutan selanjutnya yakni lamapendikan yang mencapai 16,09.  Faktor ketiga yang dominan adalah rawan bencana (15,88%) yang dalamhal ini adalah keluarga biasanya di serang hama tikus dan genangan air saat musim hujan, faktor dominanyang keempat adalah jumlah pengeluaran dan jumlah pendapatan masing-masing menyumbang 13,10%dan 12,71% dari total keseluruhan. Faktor selanjutnya adalah beban tanggungan (13,27%), jenispekerjaan (6,22%),  umur (5,38%) dan faktor yang paling sedikit memegaruhi adalah kondisi jalan (1,54%).Kata Kunci: Faktor-faktor,Kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, keluarga miskin.  
KAJIAN GEOGRAFIS PENDUKUNG EKSISTENSI ANGKUTAN PEDESAAN DI KABUPATEN NGANJUK DENGAN INDIKATOR PENDAPATAN SOPIR SETYOKOADI,
Swara Bhumi Vol 0, No 3 (2017): Volume 04 Nomor 3 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk mengalami penurunan disemua trayek pada tahun 2014 sampai 2015. Penurunan jumlah armada terjadi sebanyak 22 unit angkutan pedesaan serta terjadi penyusutan trayek  sebanyak 3 trayek pada tahun 2015. Permasalahan yang ada dalam angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk adalah berkurangnya jumlah penumpang dari waktu ke waktu, sehingga para pengusaha angkutan desa di Kabupaten Nganjuk mengalami kerugian karena keberlangsungan angkutan pedesaan tersebut diukur dari cukup tidaknya pendapatan yang diperoleh sopir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun permasalahan cukup kompleks, namun eksistensi angkutan pedesaan tersebut masih terjaga dapat ditunjukkan dengan masih adanya faktor pendukung keberadaan angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung yang berpengaruh terhadap eksistensi angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk. Populasi penelitian ini adalah seluruh wilayah trayek angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk yang berjumlah 5 unit yaitu Nganjuk-Kertosono, Nganjuk-Wilangan-Sudimoroharjo, Kertosono-Patianrowo-Ngepung-Lengkong, Nganjuk-Sawahan, dan Kertosono-Kemaduh-Lengkong. Data diperoleh dari pengamatan di lapangan dan dari berbagai sumber dan instansi yang terkait. Teknik analisis data menggunakan  regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh antara  jumlah armada, headway, waktu tempuh dengan eksistensi angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk. Faktor yang paling berpengaruh terhadap eksistensi angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk adalah jumlah armada angkutan pedesaan di Kabupaten Nganjuk. Besar pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat sebesar 99%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa wilayah trayek yang dilayani oleh angkutan pedesaan secara terus-menerus dan teratur berkembang menjadi daerah yang maju, yang mampu mengimbangi pesatnya perkembangan pusat kota. Namun daerah – daerah yang dilayani oleh angkutan umum yang tidak terus menerus dan teratur akan semakin tertinggal. Indikasinya dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa trayek dengan jumlah armada dan trayek terbanyak diikuti dengan jumlah kepadatan penduduk tinggi dan wilayah yang luas. Kata Kunci : Angkutan Pedesaan, Faktor-Faktor Pendukung, Eksistensi Angkutan Pedesaan.
MOTIF SOSIAL EKONOMI BERALIHNYA PETANI TAMBAK UDANG WINDU KE UDANG VANNAME DI KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN PRAMANTA PRAMESWARA, ECKY
Swara Bhumi Vol 0, No 3 (2017): Volume 04 Nomor 3 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang Vanname merupakan komoditas utama yang sedang berkembang di Kabupaten Lamongan. Fenomena beralihnya para petani Udang Windu di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan ke Udang Vanname disebabkan  motif sosial ekonomi yakni Udang Vanname dirasa lebih baik dibudidaya dibanding Udang Windu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana motif sosial serta motif ekonomi dari petani tambak Udang Windu beralih ke Udang Vanname di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.Informasi dalam penelitian kualitatif ini ditentukan secara triangulasi, data monografi Kecamatan Turi, serta informan kunci dan ahli. Pendekatan analisis yang digunakan adalah proses keruangan, tetapi analisis dalam bahasan penelitian ini terbatas pada motif petani tambak saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal mula petani tambak di Kecamatan Turi untuk beralih budidaya merupakan akibat kegagalan mengolah Udang Windu pada tahun 1998 hingga tahun 2000 dan secara berangsur mulai tahun 2006 hingga 2008 keseluruhan petani sudah menggunakan Udang Vanname sebagai komoditas utama di tambak mereka. Motif Sosial yang menyebabkan Udang Vanname sebagai pengganti Udang Windu berupa motif affiliasi atau interaksi antar petani, mendapatkan kabar dari rekannya jika Udang Vanname dapat memberi keuntungan menyebabkan keseluruhan petani tambak mencoba membudidayakan Udang Vanname. Motif prestasi atau bisa dikatakan bahwa para petani juga ingin hidup sukses dan maju. Motif ekonomi juga menjadikan dasar untuk para petani selalu berganti budidaya yaitu pemenuhan kebutuhan dan juga untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Kata kunci : motif sosial ekonomi, petani tambak, Udang Vanname
DAYA DUKUNG LAHAN PERTANIAN TERHADAP HASIL PRODUKSI PADI DI KABUPATEN SAMPANG VITA MAISYAROH, FARA
Swara Bhumi Vol 0, No 3 (2017): Volume 04 Nomor 3 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertanian di Kabupaten Sampang cenderung mengalami penurunan. Tahun 2007 kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sampang sebesar 47,46%, pada tahun 2008 turun menjadi 46,36%, dan secara terus menerus mengalami penurunan tiap tahunnya hingga pada tahun 2011 menjadi 42,42%.  Tahun 2014 hasil produksi padi belum merata di setiap kecamatan artinya ada beberapa kecamatan yang tergolong hasil produksi padinya rendah, sedang dan tinggi maka dapat terjadi kerawanan pangan yang disertai dengan ancaman ketergantungan terhadap masukan bahan pangan dari luar (food trap) guna mengatasi hal tersebut, maka dibutuhkan adanya analisis lahan pertanian di sektor pertanian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis apakah sektor pertanian ini memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Sampang atau tidak dan dengan membandingkan lahan yang tersedia dengan kebutuhan lahan di Kabupaten Sampang ini maka diketahui apakah lahan pertanian di Kabupaten Sampang masih mampu menghasilkan produksi padi lebih besar lagi ataukah sudah terpenuhi secara menyeluruh disetiap kecamatan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyakat Sampang. Kecamatan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup hayati penduduknya dengan ketersediaan lahan yang ada adalah kecamatan dengan daya dukung lahan pertaniannya surplus, sedangkan kecamatan dengan ketersediaan lahan pertaniannya yang ada belum bisa memenuhi kebutuhannya berarti desa itu memiliki daya dukung lahan defisit. Penelitian ini dilakukan di 5 kecamatan yang sudah mewakili 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Sampang dengan tingkatan hasil produksi padi tergolong rendah, sedang dan tinggi. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan perhitungan rumus untuk memperoleh daya dukung lahan pertanian di tiap kecamatan untuk kemudian dibandingkan dengan hasil produksi padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Sampang daerah yang produksi padinya tinggi. Daya dukung lahan pertaniannya defisit, hal ini menunjukkan bahwa meskipun daerah tersebut produksi padinya tinggi namun masih tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan penduduk dan daerah yang menghasilkan padi rendah, daya dukung lahan pertaniannya surplus, daerah tersebut masih mencukupi kebutuhan penduduknya dan masih bisa ditingkatkan lagi produksi padinya. Kata kunci: Daya Dukung Lahan Pertanian, Hasil Produksi Padi Kabupaten Sampang Abstract              Agriculture in Sampang tends to decrease. In 2007, the agricultural sector contributed 47.46% to the PDRB of Sampang regency, but it decreased to 46.36%. In 2008 till 2011 it decreased  to 42.42%. In 2014 rice production was not evenly distributed in each district.It means that there were some districts categorized as low, medium, and high rice production. Because of those reasons, food crisis could happen which is followed by dependency of food export (Food Trap). To overcome this problem, it was necessary to have the analysis of the agricultural land in the Agricultural sector. Moreover, this analysis was used to know whether or not agricultural sector fulfiled the community needs in Sampang. Furthermore, by comparing the available land with the land needs in Sampang it would be known whether the agricultural land in Sampan was able to produce larger rice production it had been fulfiled completely in every district to meet the basic needs of Sampang society. Sub districts that were able to meet the needs of its population were sub districts which supplied the biological availability of land, or in other words they were sub districts which had the surplus farm land, while sub districts which did not have agriculture land to supply their needs meant that the village had deficit or lack of land capacity deficit.             This research was conducted in 5 sub districts which represented 14 sub districts with the level of low, medium, and high rice production in Sampang, The analysis technique used was the calculation formula to obtain the supporting capacity of agricultural land in each district then compared with the results of rice production.             The results showed that high rice production areas in Sampang lack of supporting capacity. It indicated that although the area of ?? rice production was high but still not enough to meet the food needs of the population. However, a low area which produced rice, the supporting capacity of the farm was surplus. This meant that the area met the needs of the population and the rice production could still be improved.   Keywords: the supporting capacity of agricultural land, rice production of sampang
PENGARUH  FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN GOEGRAFIS TERHADAP PRODUKTIVITAS USAHA TAMBAK IKAN BANDENG SEJAK PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO KE SUNGAI PORONG DI KECAMATAN PORONG DAN DI KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO MASITANINGRUM, PRAMESTI
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana lumpur Sidoarjo yang terjadi pada tahun 2006 telah berdampak luas bagi kehidupan masyarakat sekitar. Material yang terkandung di lumpur lapindo dapat berpengaruh langsung terhadap budidaya bandeng  kawasan tambak di Kabupaten Sidoarjo dan sekitarnya. Berdasarkan hasil uji kualitas air diketahui bahwa air lumpur Porong-Sidoarjo mengandung Phenol, Zat Tersuspensi (TSS), Zat Padat Terlarut (TDS), Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chamical Oxygen Demand (COD) melebihi baku mutu lingkungan (Direktorat Pesisir dan Lautan, Dep KP, 2006). Produktivitas budidaya ikan bandeng di Kecamatan Jabon pernah menurun hingga 48% sedangakan produktivitas budidaya ikan bandeng di Kecamatan Porong hanya mengalami penurunan sebesar 5%. Kecamatan Jabon dan Kecamatan Porong merupakan wilayah yang berada dekat dengan daerah semburan lumpur lapindo dan pembuangan lumpur ke sungai porong. Tujuan penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh faktor-faktor lingkungan geografis (faktor-faktor produksi) terhadap produktivitas usaha tambak ikan bandeng di Kecamatan Jabon dan Kecamatan Porong dan untuk mengetahui isu pencemaran lumpur lapindo terhadap produktivitas tambak ikan bandeng berdasarkan variasi jarak tambak dengan pusat pembuangan lumpur lapindo maupun dengan sungai porong. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat penggumpulan data yang dianalisis dengan persamaan regresi berganda dan analisis System Informasi Geografi (SIG) yang berdasar pada nilai variabel setiap  tambak ikan bandeng. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sample(sampel bertujuan), yaitu dilakukan dengan cara mengambil subyek didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 titik. Hasil analisis serta pembahasan dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas ikan bandeng di Kecamatan Porong dan Kecamatan Jabon adalah ketinggian tempat, penggunaan obat-obatan, dan hari orang kerja, sedangkan variabel yang lain seperti luas lahan,  jarak tambak-pembuangan, jarak tambak-sungai, kualitas air, dan teksturtanah memiliki pengaruh tetapi tidak signifikan. Isu adanya pengaruh pembuangan lumpur lapindo terhadap produktivitas usaha tambak ikan bandeng tidak dapat dibetulkan. Pembuangan lumpur lapindo ke sungai porong tidak memberikan kerugian yang fatal terhadap produktivitas usah tambak ikan bandeng dikarenakan kandungan lumpur lapindo tidak secara langsung memcemari perairan tambak ikan bandeng dan disekitar tambak dikelilingi pohon bakau yang berfungsi menyerap zat-zat berbahaya. Faktor-faktor lingkungan geografis yang ada, penggunaan obat-obatan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap produktivitas ikan bandeng di Kecamatan Porong dan Kecamatan Jabon mempunyai nilai α < 0,05 yakni sebesar sig. = 0,000 dan β = 0,601. Hal ini dikarenakan penggunaan penambahan obat vitamin nafsu makan digunakan sesuai dosis pemakaian dan dapat mempersingkat waktu panen dengan hasil yang tinggi. Berdasarkan hasil analisis kompleks kewilayahan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) diperoleh tambak-tambak yang berpotensi memiliki produktivitas tambak ikan bandeng tinggi apabila ketinggian tempat rendah, penggunaan obat-obatan tinggi, dan hari orang kerja rendah yaitu tambak yang berada di sekitar titik B.   Kata kunci: Lumpur Lapindo, Faktor Produksi, Produktivitas Usaha Tambak Ikan Bandeng.
PENGEMBANGAN HANDOUT GEOGRAFI SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN APRILIA SARI, SUCI
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti di MA BAHRUL ULUM mengenai bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran, siswa hanya memperoleh  materi pelajaran dari buku teks yang terbatas serta referensi buku  geografi di perpustakaan yang kurang variatif sehingga dalam pembelajaran siswa hanya bergantung pada guru dan buku teks yang terbatas dan menyebabkan hasil belajar yang masih rendah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengembangan, kelayakan, dan hasil belajar siswa setelah diberikan bahan ajar berupa Handout geografi pada materi Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan.             Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian pengembangan 4D model Thiagarajan yang mempunyai 4 tahap yaitu tahap pendefinisian, tahap perencanaan, tahap pengembangan dan tahap penyebaran. Penelitian ini hanya dilakukan tiga tahap yaitu pendefinisian, perencanaan, dan pengembangan, tahap ke empat yaitu penyebaran tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Pengembangan perangkat berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), handout dan tes hasil belajar. Mengetahui dampak pengembangan handout terhadap hasil belajar siswa dilakukan dengan cara memberikan pre test dan post test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis hasil belajar siswa menggunakan SPSS 16 dengan uji t.              Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil validasi dosen ahli  mendapatkan persentase sebesar 66,7%  untuk  kelayakan desain, 80% untuk kelayakan isi dan 80% untuk kelayakan Bahasa.Validasi guru geografi  mendapat persentase sebesar 80% untuk kelayakan desain, 95% untuk kelayakan isi dan 80% untuk kelayakan bahasa.Menurut skala likert dengan kriteria yang di peroleh menunjukkan bahwa handout layak digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis data pre test dan post test kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disimpulkan bahwa data kedua kelas berdistribusi normal dengan menggunakan uji one sample Kolmogorov smirnov. Uji perbedaan hasil pre test dan post test dengan menggunakan uji t paired sample t test pada kelas eksperimen. Kelas eksperimen diperoleh nilai p sebesar 0.000 < α sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan handout. Kata kunci: Handout Geografi, Materi Pelestarian Lingkungan Hidup   Abstract The result of interview conducted by researcher in MA Bahrul Ulum about learning material used in teaching and learning process showed that the students only received limited information from text books and geography books in the library. Therefore, during teaching and learning process, students just depended on teachers and those limited text books. This study aimed to find out development process, appropriateness, and students’ learning outcomes after given geography handouts as learning materials on Environmental Preservation in Relation with Sustainable Development subject. The design of this research was developmental research using 4D model by Thiagarajan which consists of four stages: defining, planning, developing, and dissemination. However, in this research there were only three stages used, they were; defining, planning, and developing, whilst the fourth stage, dissemination, was not conducted because of limited time and expense. Teaching and learning set developed were lesson plan, hand out, and post-tests. In order to find out the effects of handout development on students’ learning  outcomes, the writer gave  pre-test and post-test on the experiment class and control class. The results of this research showed that the validation from expert lecturer were  66,7% for the design,80% for the contents and 80% for the language and from geography teacher were  80% for the design, 95% for the contents and 80% for the language and it showed that the handout was appropriate to be used in teaching and learning process.  According to the result of pre-test and post-test data analysis on experiment class and control class, it can be concluded that data of the two classes normally distribute using one sample test proposed by Kolmogorov Smirnov. Thus, the writer conducted a test to find out the difference between pre-test and post-test result using paired sample T test on experiment class. From experiment class, it is obtained that p value was 0.000 < a , therefore it can be concluded that Ho is rejected and Ha is accepted which then shows that there is difference between before and after using handout   Keywords: Handout Geography, Material conservation of the environment
ANALISIS KUALITAS BUTIR SOAL PADA TES FORMATIF  KD 3.1, KD 3.2, DAN KD 3.3 MATA PELAJARAN GEOGRAFI SEMESTER GASAL KELAS X SMA NEGERI 1 MANYAR ANGGRAINI NAFI, SELLA
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                 Berdasarkan keterangan guru geografi di SMA Negeri 1 Manyar, guru melakukan penyusunan alat penilaian bersumberkan pada contoh-contoh soal yang ada pada buku pelajaran, dan kumpulan-kumpulan soal yang ada di bank soal sekolah. Penyusunan soal selama ini dilakukan dengan memperkirakan indeks kesukaran dan indeks daya pembeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Kualitas soal pada tes formatif geografi semester gasal kelas X  ditinjau dari segi tingkat kesukaran, 2) Kualitas soal pada tes formatif geografi semester gasal kelas X  ditinjau dari segi indeks daya pembeda.                 Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Obyek penelitian adalah soal,  kunci jawaban, dan lembar jawaban  siswa pada KD 3.1, KD 3.2, dan KD 3.3 mata pelajaran geografi semester gasal kelas X. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi kepustakaan dan metode dokumentasi berupa tes formatif yang telah dikerjakan oleh siswa kelas X IPS 1.Teknik analisis data menggunakan analisis indeks tingkat kesukaran dan indeks daya pembeda.Analisis kuantitatif pada pilihan ganda menggunakan program Microsoft Excel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Butir soal tes formatif KD 3.1 menunjukkan analisis indeks tingkat kesukaran soal sebanyak 10% sukar, 63%, sedang dan 27% mudah. Analisis indeks daya pembeda baik sebanyak 0%, sedang 20%, dan  kurang 80%. Hasil analisis butir soal dengan kriteria baik terdapat 1 soal dan 29 soal direvisi. 2) Butir soal tes formatif KD 3.2 menunjukkan indeks tingkat kesukaran soal sebanyak 7% sukar, 23% sedang, dan 70% mudah. Analisis indeks daya pembeda baik sebanyak 0%, sedang 23%, dan kurang 77%. Hasil analisis butir soal dengan kriteria baik terdapat 4 soal dan 26 soal direvisi. 3) Butir soal tes formatif  KD 3.1 menunjukkan analisis indeks tingkat kesukaran soal sebanyak 7% sukar, 40% sedang, dan 53% mudah. Analisis indeks daya pembeda baik sebanyak 0%, sedang 3%, dan  kurang 97%. Hasil analisis butir soal dengan kriteria baik keseluruhan soal yaitu 30 soal direvisi. Secara keseluruhan kualitas butir soal pada bank soal KD 3.1, KD 3.2, KD 3.3 SMA Negeri 1 Manyar termasuk dalam kategori tidak baik dan perlu direvisi kembali apabila soal tersebut dipergunakan. Kata kunci : Indeks Kesukaran, Indeks Daya Pembeda Abstract              Based on the description of the geography teacher at SMA Negeri 1 Manyar, teachers are doing the preparation of an assessment tool which is based on examples of problems that exist in textbooks, and multitudes of problems that exist in the questions bank. Preparation of the matter has been done by estimating the difficulty index and the index of distinguishing. This research aims: 1) To determine the quality of the questions on the test formative geography odd semester grade terms of the difficulty index 2) To determine the quality of the questions on the test formative geography odd semester grade X terms of the discrimination index.              This research is descriptive researches with quantitative methods. The research object is a matter (including answer key), the answer sheets of students at KD 3.1, KD 3.2 and KD 3.3 Odd Semester Geography Class X. data collection through interviews, literature study and documentation of methods of formative tests that have been done by the students of class X IPS 1.Teknik analyzed using the index and the index level of difficulty distinguishing. Quantitative analysis on the multiple choice using Microsoft Excel program.              The results of this study show that: 1) Those items formative tests KD 3.1 analysis of difficulty index shows about 10% the level of difficult, 63% moderate, and 27% easily. Analysis of discrimination index show about  good of 0%, was 20%, and less than 80%. From the analysis of items with both criteria are 1 problem, and 29 about revised. 2) Those items formative tests KD 3.2 analysis of difficulty index shows about 7% the level of difficult, 23% moderate, and 70% easily. Analysis of discrimination index show about  good of 0%, was 23%, and less than 77%. From the analysis of items with both criteria there are 4 questions, and 26 about the revised. 3) Those items formative tests KD 3.1 analysis of difficulty index shows about 7% the level of difficult, 40% moderate, and 53% easily. Analysis of discrimination index show about  good of 0%, while 3%, and less than 97%. From the analysis of items with either the overall criteria of 30 questions about the revised.              Overall the quality of items on the questions bank KD 3.1, 3.2 KD, KD 3.3 SMA Negeri 1 Manyar included in the category is not well and needs to be revised again if the issue is being used. Keywords: Difficulty Index, Discrimination Index.
FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN BISNIS YANG BERPENGARUH TERHADAP PENDAPATAN DAN PENGELUARAN PEDAGANG DI PASAR AGROBIS SEMANDO BABAT DAN PASAR LAMA BABAT ANDINI, PUTRI
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

                                                                                  Abstrak Kecamatan Babat merupakan pusat perdagangan di Kabupaten Lamongan. Ada banyak pasar di wilayah ini. Pasar yang paling besar adalah Pasar Lama Babat berada di kelurahan Babat jenis pasar ecer dan Pasar Agrobis Semando Babat berada di desa Plaosan untuk pasar hasil pertanian dengan sistem pasar grosir. Namun, sistem yang sudah ditetapkan oleh pemerintah hanya berlaku sementara, sehingga pedagang kedua pasar yang awalnya saling membutuhkan, saat ini berebut pembeli. Bahkan kini kedua pasar tersebut menjadi pasar biasa tanpa spesifikasi tertentu terhadap pembeli. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran yang dialami pedagang. Atas dasar itu peneliti mengangkat permasalahan ini untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan bisnis yang berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran pedagang di Pasar Agrobis Semando Babat dan Pasar Lama Babat. Analisis penelitian ini didasarkan pada data primer. Populasi penelitian adalah satuan-satuan wilayah fungsional pasar di Kecamatan Babat yang berjumlah 2 pasar. Terdapat 7 variabel bebas yang dierhatikan dalam penelitian ini yaitu: tingkat pendidikan pedagang, luas kios, modal usaha, daerah asal, tenaga yang dipekerjakan, lokasi usaha, dan pendapatan pedagang diluar usaha. Analisis dijalankan secara statistik berdasarkan persamaan regresi linier. Hasil analisis serta pembahasan dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor lingkungan bisnis yang berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan dan pengeluran pedagang di Pasar Agrobis Semando Babat adalah tingkat pendidikan, luas kios, modal usaha, tenaga yang dipekerjakan, dan pendapatan diluar usaha, sedangkan faktor yag tidak berpengaruh secara signifikan meliputi daerah asal dan luas kios. Faktor lingkungan bisnis yang berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran pedagang di Pasar Lama Babat meliputi tingkat pendidikan, modal usaha, tenaga yang dipekerjakan, daerah asal, dan pendapatan diluar usaha, sedangkan faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan adalah luas kios, lokasi usaha, dan daerah asal. Modal usaha menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran di kedua pasar (93.1 % ). Hal tersebut dikarenakan modal merupakan dasar seseorang untuk melakukan usaha. Dengan adanya modal maka pedagang mampu untuk memvariasikan jenis dagangan dan nantinya akan menarik pembeli. Berdasarkan analisis keterjangkauan wilayah bisnis menggunakan  data daerah asal pembeli dapat diperoleh wilayah bisnis pasar Agrobis Semando Babat dan pasar Lama Babat  meliputi Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Bojonegoro.   Kata kunci :Pedagang pasar, Pendapatan dan pengeluaran, Faktor – faktor lingkungan bisnis
KAJIAN POLA PERSEBARAN PENDERITA ISPA PADA BALITA DI KECAMATAN BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO SALDAN, AHMAD
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Meningkatnya populasi manusia menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan yang harus dipenuhi dengan sumberdaya alam yang tersedia sehingga mengakibatkan berbagai masalah sosial dan lingkungan. Persebaran penduduk dalam suatu wilayah memberikan berbagai dampak salah satunya adalah masalah kesehatan, pertambahan penduduk yang selalu mengalami peningkatan menyebabkan laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali sehingga menimbulkan peningkatan akan kebutuhan serta pelayanan bagi masyarakat. Beberapa penyakit terkait kondisi lingkungan dan polusi udara memperoleh perhatian khusus salah satunya adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA adalah iklim tropis, prevalensi (peluang terpapar) yang tinggi dari penyakit, parasit, dan defisiansi nutrisi (kurang gizi). Penyakit ISPA serta hubungannya juga dengan faktor lingkungan rumah seperti ventilasi yang buruk, pencahayaan yang tidak memenuhi syarat, kepadatan hunian yang tinggi serta keadaan rumah yang lembab. Kecamatan Balongbendo sendiri mengalami kenaikan sebesar 22% dari tahun 2014 sebesar 425 penderita ISPA Balita menjadi 447 pada tahun 2015. Penelitian yang digunakan adalah penelitian survey analitik secara deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua penderita ISPA balita sebesar 169 orang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan pedoman wawancara dan teknik analisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase dan menggunakan teknik analisis tetangga terdekat atau Nearest Neighbour Analysis (NNA). Berdasarkan temuan data yang didapat di lapangan dari 169 orang tua balita penderita ISPA yang masih memiliki pengetahuan kurang sebesar 96 orang dan yang memiliki pengetahuan baik sebesar 73 orang, sedangkan orang tua yang memiliki sikap kurang sebesar 86 orang dan yang memiliki sikap baik sebesar 83 orang. Analisis tetangga terdekat atau Nearest Neighbour Analysis (NNA) pola persebaran penderita ISPA pada balita yaitu bergerombol dengan nilai T = 0,200735 < 0,7 dan Z score -8,938817. Persebaran pengetahuan orang tua balita penderita ISPA paling banyak terdapat di daerah yang dekat dengan jalan raya dan lokasi industri, selain itu persebaran sikap orang tua balita penderita ISPA  terbanyak terdapat di daerah yang jauh dari jalan raya dan lokasi industri. Hasil tersebut disebabkan oleh faktor lain penyebab ISPA. Kata Kunci : Persebaran ISPA Balita, Pengetahuan, Sikap   Abstract  The increasing of human population makes unbalance conditions between life necessity and availability of natural resources so that it causes social and environment problem. The distribution of population in the region gave tsucheffects like health, rapid growth of population followed by increasing of necessity and public services. Therefore, any disease related toenvironment condition and air pollution was paid special attention and one of them was Acute Respiratory Infections (ARI) disease. The factors influencing to ARI, weretropical climate, high prevalence, parasite, and nutrient deficiency. There wereother factors such as bad ventilation, lack of light, high density, and humidity. In Balongbendo, there was increasing of infant patients with Acute Respiratory Infections of 22% in  year of 2014, that was 425 patients to 447 patients in the year of  2015. The type of this research was analytical survey research with quantitative descriptive. The setting of this research was in Balongbendo, Sidoarjo. The sample of this research was the parent of patients with ARI about 169infants. The data were collected by usinginterviewing manual and analyzed using quantitative descriptive anylisis with percentage and Near Neighbor Analysis (NNA) The result of this research showed that from 169 parents of infants with ARI. There were 96 parents who still had  lack of knowledge, and only 73 with  good knowledge, while the parent having lack of healthy attitude were  as and 83 who had By NNA analysis, the distribution pattern of infant patients with ARI was cluster pattern, that was T =0,200735<0,7and Z score-8,938817. The distribution of parent’ good knowledge was mostly at place near big road and industry location while the distribution of parents’ attitude of healthy was in a place far from big road and industry. The  previous result is based on another factor of ISPA. Keyword : Distribution of ARI, Knowledge, attitude of healthy
ANALISIS KUALITAS UDARA AMBIEN (DUST PARTICULATE) TERHADAP PENYAKIT PERNAPASAN ISPA DI KECAMATAN MANYAR KABUPATEN GRESIK TAHUN 2013-2015 FACHRURROZI, MUCHAMMAD
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Hasil rekapan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah penderita wabah epidemi/endemi tahun 2013 dan 2014 di Kecamatan Manyar menunjukkan ISPA merupakan gejala penyakit yang paling banyak diderita masyarakat kecamatan Manyar dengan jumlah penderita sebesar 2.676 penderita, lebih tinggi jumlahnya dari penderita wabah muntah berak (muntaber) sebesar 1.087 penderita dan Demam Berdarah (DB) yang berjumlah 62 penderita. Penderita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sukomulyo Kecamatan Manyar meliputi Desa Sukomulyo, Desa Yosowilangun, Desa Roomo, Desa Suci dan Desa Tebalo berjumlah total 1.069 penderita. Jumlah tersebut cukup tinggi mengingat desa-desa tersebut berjarak cukup dekat dengan jalan raya dan industri sehingga diduga hal tersebut menjadi pencetus dari penyakit ISPA pada masyarakat di desa-desa tersebut. Tingkat konsentrasi dust particulate yang tinggi dapat mengakibatkan pencemaran udara yang mencetuskan penyakit ISPA. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran Kualitas Udara Ambien (dust particulate) terhadap penyakit gangguan pernapasan ISPA Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik tahun 2013-2015. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei. Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi dan literatur. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu penentuan sampel dipilih dengan sengaja berdasarkan keputusan subyektif peneliti. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata konsentrasi dust particulate/ partikel debu yang pengukurannya dilakukan di sepanjang Jalan Raya Sukomulyo, Manyar, Gresik sebesar 27,82 µg/m3 melebihi baku mutu yang telah ditetapkan. Jumlah penyakit pernapasan ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sukomulyo Kecamatan Manyar kabupaten Gresik yang meliputi Desa Sukomulyo, Desa Yosowilangun, Desa Roomo, Desa Suci dan Desa Tebalo mengalami tren cenderung meningkat. Rata-rata penyakit ISPA tahun 2013 mencapai nilai sebesar 33,2 atau 18 persen. Tahun 2014 rata-rata penyakit pernapasan ISPA mencapai 34 persen dan pada tahun 2015 rata-rata penyakit pernapasan ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sukomulyo kecamatan manyar naik menjadi 88 atau 48 persen. Gambaran kemungkinan meningkatnya penyakit pernapasan ISPA yang terjadi disebabkan oleh faktor selain dari dust particulate/partikel debu dikarenakan terdapat pada suatu periode hasil pengukuran partikel debu mengalami penurunan, namun jumlah penyakit pernapasan ISPA justru mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah penyakit pernapasan ISPA dalam kasus ini diduga bukan oleh sebab pencemaran udara berupa dust particulate/partikel debu melainkan faktor selain dari pencemaran udara seperti faktor individu atau faktor perilaku dari penderita ISPA. Kata Kunci : Dust particulate, penyakit pernapasan ISPA, analisis deskriptif kuantitatif   Abstract                 The data from statistics of Manyar about epidemi/endemi illnes patterns in 2013 and 2014 at Manyar showed Acute Respiratory tract Infection (ARI) illness was the most common symptoms of the illness afflicting the community of Manyar subdistrict with 2.676 sufferer even higher the number of outbreaks of vomiting diarrhea with 1.087 sufferers and dengue fever with 62 sufferers. ARI sufferers in the working region of Sukomulyo Subdistrict health centers, Manyar which included Sukomulyo Village, Yosowilangun Village, Roomo Village and Tebalo Village were 1.069 sufferers. That number was quite high due to the villages was close to the highway and the industry so predictably it becomes cause of ARI illness on communities in the villages. High concentrations of dust particulate levels could result in air pollution that triggers Acute Respiratory tract Infection (ARI) illness. This research aims to know  the description of dust particulate against respiratory disease in manyar subdistrict, gresik at 2013 to 2015.  The type of the research was a survey. The technique of data collection was using documentation and literature. Sampling techniques used was a purposive sampling method, namely the determination of the sample selected deliberately on the basis subjective decision researchers. Technique of data analysis using quantitative descriptive analysis. The results of the research showed that average concentrations of dust particulate on measurement was done along highway Sukomulyo, Manyar, Gresik of 27.82 µg/m3 exceeding the predetermined quality raw. The number of ARI illnesses in the region Sukomulyo Subdistrict health center of Manyar Gresik that included the Sukomulyo Village, Yosowilangun Village, Roomo Village and Tebalo Village were experiencing a trend of an increased number of ARI illness. Average of ARI illness by 2013 achieved value amounted to 33,2 or 18 percent. In 2014 the average of ARI illness reached 34 percent and in 2015 the average of ARI illness in working region Sukomulyo Subdistrict health centers increased to 88 or 48 percent. The description of the possible caused increasing ARI illness by factors other than dust particulates because it was on a period of measurement results of dust particulate decreased but the number of ARI illness increased. There was a rising possibility of a picture of ARI illness that occured were caused by factors other than dust particulate. This was  because there was  period of measurement results dust particulates that decreased but the number of ARI illness increased. In this case the possibility of a number of ARI illnesses increased was not because of air pollution in the form of dust particulate but other factors such as individual factors or behavior of the sufferers factors of ARI illness. Key words: Dust particulate, ARI illness, quantitative descriptive analysis