cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
KAJIAN TENTANG SALINITAS SUMUR DANGKAL DI  KECAMATAN PUCUK KABUPATEN LAMONGAN DAN ADAPTASI MASYARAKATNYA RIZAL SA UD, MUHAMMAD
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keadaan geologi Kabupaten Lamongan daerah tengah yang merupakan cekungan dan ketika musim kemarau sulit air bahkan ada beberapa danau yang hampir kering khususnya di kecamatan Pucuk. Air yang masih bisa didapat oleh masyarakat adalah air sumur, tetapi keadaan salinitas air yang tinggi membuat rasa air sumur bervariasi dari yang berasa tawar, payau maupun asin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persebaran salinitas sumur dangkal dan menjelaskan adaptasi masyarakat Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan dalam menggunakan air untuk mensiasati keadaan salititas air sumur dangkal yang ada di daerah penelitian. Jenis penelitian adalah penelitian survey, pengumpulan data menggunakan teknik observasi, pengukuran dan wawancara, data yang didapat dianalisis menggunakan metode deskripsi kuantitatif untuk persebaran salinitas air dan prosentase untuk mengukur adaptasi penggunaan air. Sampel sumur gali adalah 27 sumur gali yang tersebar di desa-desa di kecamatan pucuk. Penentuan sampel diatas menggunakan teknik stratified random sampling berdasarkan jumlah sumur pada tiap-tiap desa di Kecamatan Pucuk dan pengambilan sampel di lapangan diambil berdasarkan teknik judgement sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumur yang ada di Kecamatan Pucuk rata-rata mempunyai rasa yang payau yaitu sebanyak 23 sampel atau 85,2% dari total sampel sedangkan sumur yang memiliki rasa air yang tawar sebanyak 3 sampel atau 11,1% dan hanya ada 1 sampel sumur yang memiliki rasa air yang asin atau 3,7%. Semakin tinggi tingkat kekayaan masyarakat Kecamatan Pucuk semakin tinggi pula kebutuhan airnya. Kebutuhan air masyarakat Kecamatan Pucuk yang memiliki sumur yang salin tidak semua bergantung pada sumber air sumur karena kebanyakan sumber air sumur di kecamatan pucuk kabupaten lamongan memiliki rasa yang payau maupun asin. Penggunaan air yang salin hanya terbatas pada kebutuhan MCK (Mandi Cuci dan Kakus) untuk pemenuhan kebutuhan memasak 14,8% menggunakan air sumur, 11,1% menggunakan air sumur bor, 59,3% membeli air dari tempat lain, 3,7% menggunakan air telaga dan 11,1%  menggunakan air weslic (pam desa), sedangkan untuk minum 11,1% menggunakan air sumur, 3,7% menggunakan air sumur bor, 81,5% membeli dari tempat lain dan 3,7% menggunakan air telaga. Kata kunci: salinitas, adaptasi, sumur
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT DALAM MENGGUNAKAN KONTRASEPSI VASEKTOMI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG PAHIM MUKLISON, AHMAD
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Keluarga Berencana merupakan program pemerintahan dalam menekan laju pertumbuhan penduduk. Kontrasepsi merupakan alat yang digunakan untuk mensukseskan keberhasilan program tersebut.  Kontrasepsi vasektomi merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang penggunaannya digunakan oleh para suami. Penggunaan kontrasepsi vasektomi diwilayah Kabupaten tulungagung masih rendah dengan jumlah sebanyak 387 aseptor. Rendahnya keterlibatan suami dalam penggunaan metode kontrasepsi mantap (vasektomi) diakibatkan oleh adanya kekhawatiran para suami setelah vasektomi mereka akan kehilangan kejantanannya. Adanya kesalahan persepsi dan pandangan yang negatif bahwa vasektomi itu sama dengan pengebirian, sehingga pria tidak mau untuk menjalani vasektomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam menggunakan kontrasepsi vasektomi. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode penelitian surve dengan analisis hasil penelitian berupa analisis cluster. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui wawancara kuesioner. Hasil analisis penelitian menunjukkan di wilayah Kabupaten Tulungagung terbagi menjadi 3 cluster yaitu cluster 1 dengan predikat cluster yang sangat baik meliputi wilayah Kecamatan Pucanglaban, Rejotangan, Sumbergempol dan Tulungagung. Cluster 2 dengan predikat cluster yang cukup baik meliputi wilayah Kecamatan Besuki, Bandung, Ngunut, Kedungwaru, Ngantru dan Pagerwojo. Cluster 3 dengan predikat cluster yang kurang baik meliputi wilayah Kecamatan Pakel, Campurdarat, Tanggunggunung, Kalidawir, Boyolangu, Kauman, Karangrejo, Gondang dan Sendang.  Kondisi fisik lingkungan, sosial budaya dan demografi wilayah memberikan pengaruh terhadap pola pikir dan persepsi masyarakat terhadap kontrasepsi vasektomi. Hasil analisis pada masing-masing cluster diketahui variabel-variabel yan memiliki nilai Z skor positif dan nilai Z skor negatif. Cluster 1 variabel yang memiliki nilai Z skor Positif meliputi variabel Pendidikan, Pengetahuan, Umur, Jarak pelayanan, Layanan petugas, dan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif meliputi variabel Pendapatan, Jumlah anak, Informasi petugas, Dukungan istri, Tokoh masyarakat. Cluster 2 variabel yang memiliki nilai Z skor positif meliputi variabel Pendidikan, Pendapatan, Pengetahuan, Umur, Jumlah anak, Tokoh masyarakat, dan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif meliputi variabel Jarak pelayanan, Informasi petugas, Dukungan istri, Layanan petugas. Cluster 3 variabel yang memiliki nilai Z skor positif meliputi variabel Jarak  pelayanan, Informasi petugas, Dukungan istri, Layanan petugas, dan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif meliputi Pendidikan, Pendapatan, Pengetahuan, Umur, Jumlah anak, Tokoh masyarakat. Hasil analisis anova diketahui variabel variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pembentukan cluster cluster di wilayah kabupaten Tulungagung meliputi variabel Pendidikan, Jumlah anak, Jarak pelayanan, informasi petugas, Dukungan istri dan Layanan petugas.   Kata kunci           :Keluarga Berencana, Kontrasepsi Vasektomi, Analisis Cluster
PENGARUH FAKTOR – FAKTOR LINGKUNGAN, PELAYANAN KESEHATAN DAN PERILAKU HIDUP SEHAT TERHADAP KETERJANGKITAN TUBERKULOSIS DI SURABAYA MARADONA PUANG, EMMANUEL
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                      Kota Surabaya merupakan pusat, perdagangan, pendidikan dan industri. Disisi lain Surabaya merupakan kota dengan jumlah penderita tuberkulosis terbanyak di Jawa Timur. Sebagian besar penderitanya berusia produktif (15-55 tahun). Tuberkulosis menyebabkan masyarakat tidak produktif dan menghambat pembangunan wilayah setempat. Keterjangkitan tuberkulosis banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, layanan kesehatan dan perilaku hidup sehat disamping faktor-faktor lingkungan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dan paling berpengaruh terhadap  keterjangkitan tuberkulosis untuk ditangani lebih lanjut.                     Penelitian ini tentang permasalahan kesehatan dengan menggunakan pendekatan keruangan. Analisis penelitian didasarkan pada data skunder dan diuji secara statistik menggunakan persamaan regresi linear berganda. Sampel penelitian terdiri dari kesatuan-kesatuan wilayah regional, dengan 8 variabel bebas yang diperhatikan yaitu:  variabel yang berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan meliputi persentase rumah sehat, kepadatan penduduk, dan persentase keluarga petani, yang berkaitan dengan faktor-faktor pelayanan kesehatan: persentase cakupan imunisasi BCG pada bayi dan layanan kesehatan, yang berkaitan dengan faktor-faktor perilaku:  rata-rata tingkat pendidikan masyarakat, persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat, dan persentase balita bergizi buruk.                     Hasil analisis diperoleh indikator koofisien determinasi (Adjusted R²) = 0,938. Hal ini menunjukan adanya hubungan yang kuat antara faktor-faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan perilaku hidup sehat dengan keterjangkitan tuberkulosis di Surabaya. Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap keterjangkitan tuberkulosis tersebut adalah persentase rumah sehat p = 0,039, persentase keluarga petani p = 0,03, persentase cakupan imunisasi BCG pada bayi p = 0,011, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat p = 0,024, persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat p = 0,040 persentase balita bergizi buruk p = 0,024.   Kata Kunci : Keterjangkitan Tuberkulosis, Lingkungan Kesehatan, Faktor-Faktor Yang Berpengaruh   Abstract Surabaya city is a center of trade, education and industry. On the other hand Surabaya is a city with the highest number of tuberculosis patients in East Java. Most sufferers productive age (15-55 years). Tuberculosis causes people not productive and hamper the development of the local area. Infection tuberculosis is much influenced by environmental factors, health care factors and healthy behavior in addition to other environmental factors. This study aims to determine the factors that influence and most influential tuberkulosis infection to be addressed further. This research on health problems by using a spatial approach. The analysis is based on secondary data and were statistically tested using multiple linear regression equation. The study sample consisted of units regional areas, with 8 independent variables were considered, namely: variables related to environmental factors include house percentage, population density, and the percentage of farm families, relating to factors of health care: the percentage of coverage BCG immunization in infants and health services, which is associated with behavioral factors: the average level of public education, the percentage of households behave clean and healthy living, and the percentage of children under five malnourished. The results obtained by analysis of indicators coefficient of determination (Adjusted R²) = 0.938. This shows a strong correlation between environmental factors, health services and healthy behavior with tuberculosis infection in Surabaya. The variables that influence the infection tuberculosis is a house percentage p = 0,039, the percentage of farm families p = 0,003, the percentage coverage of BCG immunization in infants p = 0,011, the average level of public education p = 0,024, the percentage of households living a clean and healthy behavior p = 0,040, the percentage of malnourished children under five p = 0,024.   Keywords: Tuberculosis Infection, Environmental Health, Influential Factors.
IMPLEMENTASI SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) DITINJAU DARI KETERCAPAIAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PADA JENJANG SMA DI KABUPATEN SIDOARJO WAHYUNI ALAM, PUDJI
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak        PP No. 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah membawa perubahan  paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Selama ini, sekolah hanya menyelenggarakan program akademik melalui pendekatan program paket semester. Pendekatan program paket semester tersebut sudah tidak efektif lagi, maka pemerintah mencoba menerapkan program pendidikan dengan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk jenjang SMP dan SMA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi Sistem Kredit Semester (SKS) ditinjau dari ketercapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada jenjang SMA di Kabupaten Sidoarjo.        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Sidoarjo di 6 SMA Negeri yang menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS). Responden diambil sebanyak 126 responden yang meliputi 6 orang kepala sekolah, 24 orang guru, dan 96 orang siswa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data  secara analisis deskriptif kuantitatif.        Hasil penelitian tentang implementasi Sistem Kredit Semester (SKS) ditinjau dari ketercapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada jenjang SMA di Kabupaten Sidoarjo adalah baik. Hal ini ditunjukan dari 6 Standar Nasional Pendidikan yang digunakan yaitu standar proses yang memenuhi kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 82% dari 104 responden,  karena perangkat pembelajaran sudah terpenuhi di semua kelas. Standar sarana dan prasarana memenuhi yang kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 68% dari 87 responden, karena sekolah sudah memenuhi standar ruang kelas dan ruang penunjang belajar. Standar pendidik yang memenuhi kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 67% dari 20 responden, karena guru memiliki kulifikasih dan kompetensi yang memadai. Standar biaya pendidikan yang memenuhi kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 80% dari 22 responden, karena rancangan anggaran biaya pendapatan belanja sekolah (RAPBS) dirumuskan merujuk pada peraturan pemerintah. Standar pengelolaan yang memenuhi kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 60% dari 18 responden karena penyusunan perencanaan program sekolah berdasarkan kesepakatan bersama. Standar penilaian memenuhi kriteria baik, dengan mendapat nilai terbanyak dari responden yaitu 87% dari 110 responden karena guru disekolah menggunakan berbagai jenis metode untuk menilai kemajuan peserta didik. Kata Kunci: Sistem Kredit Semester, Standar Nasional Pendidikan. Abstract           Government Regulation No. 32 Year 2013 on National Education Standards ( NSP ) has brought a paradigm shift from the pattern of centralized education be decentralized. During this time, the school only organizes the academic program through a program approach semester packed. Approach the semester program packages are no longer effective , the government tried to implement educational programs with Semester Credit System (SKS) for junior high school and senior high school. The purpose of this study is to investigate the implementation of Semester Credit System (SKS) in terms of the achievement of the National Education Standards (SNP) at the high school level in Sidoarjo.         The method used in this research is survey method. The research location in the district of Sidoarjo in 6 Senior High School who apply Semester Credit System ( SKS ) . Respondents were drawn as many as 126 respondents covering 6 principals , 24 teachers and 96 students. This study uses data analysis techniques in quantitative descriptive analysis.         Results of research on the implementation of Semester Credit System ( SKS ) in terms of the achievement of the National Education Standards ( SNP ) on the ladder the senior high school in Sidoarjo is good. This is shown from 6 National Education Standards applied that standard processes that meet good criteria, by getting the highest grades of respondents that is 82 % of the 104 respondents, as a learning tool has been fulfilled in all classes. Standard facilities and infrastructure meet the criteria, by getting the highest score of the respondents is 68 % of 87 respondents, because schools already meet the standards of classroom and learning support room . Standard educators who meet good criteria, by getting the highest grades of respondents is 67 % of 20 respondents, because teachers have adequate qualification and competence. The standard cost of education that meets both criteria, by getting the highest value of the respondents is 80 % of 22 respondents, since the draft budget revenues school shopping (RAPBS) formulated refers to govermment regulations. Management standars that meet good criteria, by gettin the highest grades of respondents ie 60 % of 18 respondents, because of planning school program based on mutual agreement. Standard ratings meet good the criteria, by getting the highest grades of respondents is 87 % of the 110 respondents, because the teachers use variety of methods to assess learners progress .   Keywords : Semester Credit System , The National Education Standards.
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL EKONOMI DAN FISIK TERHADAP KETERJANGKITAN DBD (DEMAM BERDARAH DENGUE) DI KABUPATEN KEDIRI RESTIKA SARI, ERNI
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang saat ini cenderung meningkat.Di Kabupaten Kediri Kejadian Luar Biasa DBD baru saja terjadi di awal tahun 2015. Faktor- faktor    lingkungan sosial ekonomi dan  fisikmerupakan anasir-anasir pendukungnya. Tujuan penelitian ini  adalah mengetahui pengaruh faktor-faktor lingkungan sosial ekonomi dan fisik terhadap keterjangkitan DBD, mengetahui faktor yang berpengaruh besar, dan mengetahui daerah-daerah yang berpotensi tinggi terjangkit DBD. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Populasi penelitian berupa kesatuan-kesatuan wilayah kecamatan di Kabupaten Kediri. Pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga di dapatkan 12 kecamatan sebagai sampel.Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dengan cara dokumentasi dari dinas- dinas terkait. Analisis penelitian berdasarkan data yang diperoleh dengan menggunakan model persamaan regresi linier ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi (PDRB, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, kepadatan penduduk, jumlah kunjungan ke puskesmas) dan lingkungan fisik (bangunan bebas jentik nyamuk, fasilitas kesehatan, curah hujan, ketinggian tempat) mempunyai pengaruh terhadap keterjangkitan DBD di Kabupaten Kediri sebesar 95%. Faktor-faktor  yang  paling  berpengaruh secara  berturut-turut adalah  bangunan  bebas  jentik  nyamuk  dengan  nilai p=0,071<0,10, jumlah kunjungan ke puskesmas dengan nilai p=0067<0,10 dan kepadatan penduduk dengan nilai p=0,042<0,10. Hasil analisis kompleks keruangan menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan yang berpotensi tinggi terjangkit DBD berdasarkan ketiga faktor yang paling berpengaruh yaitu Kec. Ngasem, Kec. Badas, Kec. Puncu, Kec. Plosoklaten, Kec. Ngancar dan Kec.Ringinrejo.   Kata kunci :  keterjangkitan DBD, kondisi lingkungan sosial ekonomifisik, daerah-daerah potensial terjangkit.     Abstract   Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is one of kind healthy problem in Indonesia that is tenderly increasing. Recently, in the beginning of 2015 a mass dengue fever hapenned in Kediri regency. Social economical environment and physical factors is the additional factors. The main idea of this research is knowing the effect of social economical environment and physical factors in dengue fever infected, knowing the biggest factor that take the effect and knowing the areas that highly potential being against by dengue fever. Research method that used is quantitative. Research population is the unity of the districts in Kediri. Sampling is done randomly so that we got 12  district as a sample. The data that used are secondary data that got by documenting from related agencies. Research analysis is based on the obtained data by using multiple linier regression model. The result of the analysis shows that socio-economic factors (GDP, education level, type of employment, population density, the volume of clinic visiting) and physic (free larvae and mosquitos building, health facilities, rainfall, altitude) having effect for dengue fever in Kediri for 95%. The most taking effect thing gradually are free larvae and mosquitos building with score p=0,071<0,10, the volume of clinic visiting with score p=0,067<0,10 and population density with score p= 0,042<0,10. The complex spatial analysis result shows that the district that highly potential against by dengue fever that based by those three factors are Ngasem district, Badas district, Puncu district, Plosoklaten district, Ngancar district and Ringinrejo district.   Key word :DHF infected, socio-economic and physical conditions, potential areas infected
PERSEPSI PENUMPANG TENTANG KONDISI TEMPAT MENAIKKAN DAN MENURUNKAN PENUMPANG BUS DI BRA’AN KECAMATAN BANDAR KEDUNGMULYO KABUPATEN JOMBANG ALIF AGWINDA, LATIFA
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bra’an merupakan wilayah paling barat Kabupaten Jombang. Bra’an berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk. Terdapat persimpangan yang merupakan pertemuan 3 arus lalu lintas dari 3 kabupaten. Bus tujuan Kediri selalu parkir lama dan melakukan kegiatan menaikkan dan menurunkan penumpang di pinggir jalan raya di Bra’an. Penyempitan ruas jalan akibat bus yang parkir menyebabkan kemacetan lalu lintas di Bra’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi calon penumpang tentang mobilitas bus, untuk mengetahui persepsi calon penumpang tentang kondisi tempat menaikkan dan menurunkan penumpang dan untuk mengetahui persepsi calon penumpang tentang waktu menunggu bus di Bra’an. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survei,pendekatan penelitian yang digunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan accidental sampling dengan jumlah sampel 96 responden. Pengambilan data dengan teknik wawancara menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan skala likert dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilitas bus di Bra’an tergolong tinggi. Kondisi lalu lintas tempat menaikkan dan menurunkan penumpang bus di Bra’an tergolong kurang lancar akibat dari bus yang melakukan aktivitas parkir yang lama yaitu berkisar 15-20 menit. Tempat parkir bus yang ada di Bra’an kurang layak untuk digunakan karena tidak memenuhi kriteria seperti luas lahan parkir dan adanya fasilitas ruang tunggu untuk calon penumpang. Waktu menunggu bus di Bra’an tergolong lama yaitu 15-20 menit. Waktu menunggu bus yang lama disebabkan oleh keinginan calon penumpang yang memilih armada yang nyaman dan tidak terlalu penuh untuk menaiki bus sehingga terjadi penumpukan penumpang. Aktivitas bus parkir dan kerumunan calon penumpang ini menyebabkan ruas jalan menyempit sehingga terjadi kemacetan.   Kata kunci : Persepsi, tempat parkir, waktu tunggu
KAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN GAYAM, KALITIDU DAN NGASEM KABUPATEN BOJONEGORO SOFIANA, EKA
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan wilayah yang berbeda di Indonesia disebabkan karena kemampuan wilayah yang berbeda dalam menghasilkan  sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kabupaten Bojonegoro terus mengalami perkembangan dengan mulai beroperasinya pertambangan migas. Kecamatan Gayam merupakan kecamatan yang di dalamnya beroperasi pertambangan migas. Kecamatan Gayam terbentuk dari dua Kecamatan yaitu Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Ngasem. Pertambangan migas tidak hanya membawa perkembangan fisik tetapi juga sosial dan ekonomi pada Kecamatan Gayam, Kalitidu dan Ngasem. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) perkembangan wilayah secara fisik pada Kecamatan Gayam, Kaltidu dan Ngasem, (2) tingkat perkembangan wilayah tiap desa di Kecamatan Gayam, Kalitidu dan Ngasem, (3) perkembangan sosial ekonomi pada Kecamatan Gayam, Kalitidu dan Ngasem. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif  kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini seluruh desa yang secara administratif masuk di 3 Kecamatan : Gayam, Kalitidu dan Ngasem. Sampel ditentukan sebanyak 47 orang untuk mengetahui perkembangan sosial dengan menggunakan teknik  purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan survei, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring. Hasil dari penelitian ini menunjukkan (1) perkembangan fisik di wilayah penelitian terlihat paling signifikan di wilayah dekat pertambangan migas yaitu Kecamatan Gayam dan Kalitidu. Perubahan penggunaan lahan pemukiman di tiga Kecamatan tahun 1994 sebesar 12% tahun 2010 sebesar 14%. (2) Terdapat variasi tingkat perkembangan wilayah tiap desa, di Kecamatan Gayam hanya terdapat satu desa atau 2,1% desa dengan tingkat perkembangan wilayah yang rendah yaitu desa Desa Brabuwan. Terdapat 11 desa atau 23,4% desa dengan tingkat perkembangan wilayah yang sedang. Di Kecamatan Kalitidu terdapat 2 desa atau 4,2% desa yang memiliki tingkat perkembangan wilayah yang tinggi yaitu Desa Kalitidu dan Desa Panjunan. Terdapat 13 desa atau 27,6% desa dengan tingkat perkembangan wilayah yang sedang. Terdapat 3 desa atau 6,4% desa yang memiliki tingkat perkembangan wilayah yang rendah yaitu Desa Talok, Desa Grebegan dan Desa Brenggolo. Di Kecamatan Ngasem terdapat 14 desa atau 29,8% desa yang memiliki tingkat perkembangan wilayah yang sedang. Terdapat  3 desa atau 6,4% desa dengan tingkat perkembangan wilayah yang rendah yaitu Desa Setren, Desa Butoh dan Desa Bandungrejo. (3) Perkembangan sosial masyarakat dengan kategori sedang sebesar 38,3%, perkembangan sosial masyarakat dengan kategori yang rendah sebesar 61,7%. Desa di Kecamatan Gayam, Kalitidu dan Ngasem dengan dengan perkembangan ekonomi yang tinggi tingkat perkembangan wilayahnya  sedang. Kata kunci: Tingkat Perkembangan Wilayah, Gayam, Kalitidu, Ngasem             
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK  MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENGARUH PROSES EKSOGEN TERHADAP KEHIDUPAN  DI KELAS X IPS SMA ULUL ALB@B TAMAN SIDOARJO SHOLIHAH, MARATUS
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil belajar dipengaruhi oleh strategi pembelajaran dan karakteristik siswa, salah satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan adalah motivasi belajar. Pemberlakuan strategi Problem Based Learning diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, yang nantinya akan berpengaruh terhadap efektivitas hasil belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Peningkatan Motivasi belajar siswa setelah penerapan strategi pembelajaran Problem Based Learning (2) Peningkatan Hasil belajar siswa setelah penerapan strategi pembelajaran Problem Based Learning. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Quasi Eksperimen Design dengan desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design. Teknik pengumpulan data hasil belajar berupa metode tes, analisis aktivitas guru terhadap keterlaksanaan pembelajaran, analisis angket motivasi siswa, dan analisis hasil belajar siswa mengunakan uji t. Hasil penelitian menunjukan (1) Motivasi belajar siswa pada kelas X IPS 1 atau kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata 80 dengan presentase kriteria interpretasi skor yaitu baik, sedangkan pada kelas X IPS 2 atau kelas kontrol mendapatkan nilai rata-rata 39 dengan presentase kriteria interpretasi skor yaitu kurang. (2) Hasil belajar siswa setelah strategi pembelajaran Problem Based  Learning, ada peningkatan yang ditunjukkan dengan uji statistika paired sample T-test nilai pretest dan posttest kelas X IPS 1 dan X IPS 2 diperoleh signifikasi 0,000 yang artinya ada perbedaan nilai sebelum dan sesudah dilakukan strategi pembelajaran Problem Based  Learning. Sedangkan berdasarkan uji statistika independent sample T-test untuk nilai posttest kelas X IPS 1 dan X IPS 2 diperoleh nilai signifikasi 0,001 yang artinya ada perbedaan rata – rata nilai posttest dikelas X IPS 1 dan nilai posttest dikelas X IPS 2. Kata kunci: strategi pembelajaran problem based learning, motivasi, hasil belajar
KAJIAN RISIKO LAHAN PERTANIAN TERHADAP BANJIR DI SUB DAS NGASINAN KECAMATAN TRENGGALEK DAN KECAMATAN POGALAN KABUPATEN TRENGGALEK AMBARSARI, DWI
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan pertanian di sub DAS Ngasinan Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan merupakan sebagian wilayah DAS Ngasinan yang berupa dataran rendah dan cekungan, sehingga sering terjadi banjir. Analisa risiko banjir diperlukan karena banjir merupakan ancaman bagi lahan pertanian. Banjir menyebabkan menurunnya produktivitas lahan pertanian yang mengakibatkan gagal tanam maupun gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir pada lahan sawah  dan  tegalan serta nilai risiko lahan pertanian berdasarkan kondisi bahaya dan kerentanannya.  Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian survei. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang terhimpun dianalisis dengan teknik skoring: (1) karakteristik bahaya banjir dengan skor tinggi, sedang dan rendah; (2) karakteristik kerentanan lahan pertanian dengan skor tinggi, sedang dan rendah. Variabel bahaya dan kerentanan dioverlay menghasilkan: (1) Karakteristik risiko lahan pertanian dengan skor tinggi, sedang dan rendah; (2) Nilai risiko lahan pertanian dengan skor tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat risiko tinggi sebesar 10% dengan luasan 235,332 Ha, sebagian besar berada pada Kelurahan Sumbergedong. Tingkat risiko sedang sebesar 27% dengan luasan 681,825 Ha, yang sebagian besar berada pada wilayah Kelurahan Tamanan, Kelurahan Kelutan dan Kelurahan Sambirejo. Tingkat risiko rendah sebesar 63% dengan luasan 1.581,843 Ha, sebagian besar berada pada wilayah Desa Ngadirenggo, Desa Bendorejo, dan Desa Kedunglurah. Hasil penelitian untuk nilai risiko tertinggi pada penggunaan lahan sawah dengan jumlah Rp223.823.000,00 dengan rata-rata Rp7.994.000,00. Penggunaan lahan tegalan dengan jumlah Rp 86.740.000,00 dengan rata-rata Rp5.102.000,00.   Kata Kunci: lahan pertanian, bahaya, kerentanan, risiko banjir
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN TANAMAN DURIAN DI KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG ACHADIAH, ELIS
Swara Bhumi Vol 1, No 2 (2016): vol. 1 Nomer 2 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Durian merupakan tanaman hortikultura  yang berharga cukup tinggi, sehingga para petani akan cenderung meningkatkan penanaman dari tahun ke tahun.  Kecamatan Wonosalam menjadi destinasi wisata petik buah durian setiap masa panen tiba. Kecamatan Wonosalam merupakan sasaran pengembangan tanaman potensial di Kabupaten Jombang pada sub sektor hortikultura yang didukung dengan kondisi topografi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan bagi tanaman durian di kecamatan Wonosalam kabupaten Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi observasi, pengukuran di lapangan, uji laboratorium, dan dokumentasi. Data yang terhimpun dipetakan dan dianalisis dengan metode matching antara karakteristik lahan dengan syarat tumbuh tanaman durian, untuk menentukan kelas kesesuaian lahan secara aktual.  Hasil penelitian mengenai evaluasi kesesuaian lahan menunjukkan Kecamatan Wonosalam memiliki kesesuaian lahan S3 (sesuai marginal) dengan faktor-faktor pembatas yang dimiliki. Kelas kesesuaian lahan dan faktor pembatas yang dimaksud meliputi kelas kesesuaian S3 n (sesuai marginal dengan faktor pembatas pH tanah) yang mencakup (2892 Ha) dari seluruh Kecamatan Wonosalam, S3 n, S3 e (sesuai marginal dengan faktor pembatas pH tanah dan kemiringan lereng) yang mencakup (1180,07 Ha) dari seluruh Kecamatan Wonosalam, Kelas kesesuaian lahan S3 t, S3 e (sesuai marginal dengan faktor pembatas temperatur dan kemiringan lereng) yang mencakup (106,38 Ha) dari seluruh luas kecamatan wonosalam. Kelas kesesuaian S3 t, S3 n, S3 e, (sesuai marginal dengan faktor pembatas temperatur, pH tanah dan kemiringan lereng) yang mencakup (293,322 Ha) dari keseluruhan luas wilayah wonosalam. Kelas kesesuaian S3 t, S3 r-1, S3 e (sesuai marginal dengan faktor pembatas berupa tempertaur, drainase dan kemiringan lereng) yang mencakup (40,488Ha) dari seluruh luas area Kecamatan Wonosalam. Kelas kesesuaian lahan dapat dinaikan menjadi kelas kesesuaian satu atau dua kelas lebih baik tergantung pada tingkat perbaiakan yang dilakukan. Hasil uji lapangan yang dilakukan terhadap hasil analisis penelitian diperoleh hasil verifikasi lapangan menunjukan 98,16% keakuratan hasil penelitian dengan cek lapangan dimana pada 1,84% terdapat kemungkinan kelas kesesuaian lahan S2 (cukup sesuai) atau S1 (sangat sesuai). Kata kunci: kesesuaian lahan, Tanaman durian.

Page 7 of 51 | Total Record : 509