cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
BENTUK INTERAKSI SOSIAL PEGAWAI REHABILITASI SOSIAL DALAM PENANGANAN ANAK JALANAN DINAS SOSIAL SURABAYA CATURSARI S, DEWI
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Anak jalanan merupakan salah satu masalah social yang cukup serius. Berawal dari orang tua yang merupakan pendatang menjadi gelandangan, pengamen bahkan pengemis kemudian berimbas pula kepada anaknya. Sebagian besar hal itu disebabkan karena adanya lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah pertumbuhan penduduk menimbulkan pengangguran, Selain itu biaya sekolah yang mahal mengakibatkan anak putus sekolah. Anak pun dituntut untuk bisa mendapatkan uang demi menyambung hidup di kota. Dinas Sosial dalam bidang Rehabilitasi Sosial berupaya untuk menangani masalah anak jalanan tersebut agar pertumbuhannya berkurang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk interaksi sosial pegawai Rehabilitasi Sosial dalam menangani anak jalanan di Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan perspektif teori interaksi sosial dari George Simmel. Pengambilan subyek menggunakan teknik purposive sedangkan untuk metode pengambilan data dengan observasi dan wawancara.  Teknik analisis data yang digunakan dari Miles dan Huberman yaitu melalui tiga tahap, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah anak jalanan terdiri dari berbagai alasan yang melatarbelakangi, baik dari lingkungan, kondisi keluarga, kondisi ekonomi. Penanganan yang dilakukan oleh bidang Rehabilitasi Sosial di Dinas Sosial melalui interaksi sosial kemudian memulangkan ke kota asalnya atau menampung anak – anak tersebut ke dalam pondok sosial. Memberikan edukasi dan juga keterampilan yang berguna bagi anak anak, cukup memberikan dampak positif, bukan hanya mengurangi anak jalanan tetapi juga menciptakan anak – anak baru yang lebih kreatif dan mental yang lebih baik.   Kata Kunci : Anak jalanan, Interaksi sosial, Rehabilitasi Sosial   Abstract Street children is one of the most serious social problems. Starting from parents who are immigrants to homeless, buskers and even beggars then also impact to their child. Most of this is due to the existence of employment is not proportional with the number of population growth causing unemployment. In addition, expensive school fees result in children dropping out of school. Children are also required to earn money for then sake of life in the city  Social services in the field of social rehabilitation seek to address the problem of street children in order to reduce their growth. This research was conducted to find out the social interaction form of Social Rehabilitation employees in handing street children in Surabaya. This research is a qualitative research using phenomenology approach and social interaction theory perspective from George Simmel. Taking subjects using purposive sampling techniques while for the method of data retrieval by observation and interview. Data analysis techniques used from Miles and Huberman is through 3 stages, data reduction, data display and conclusion. The result obtained in this study are street children consisting of various reasons that background, both from the environment, family condition, economic condition. The handling done by the Social Rehabilitation field in Social Service through social interaction then repatriates to their hometown or accommodates the children to a social cottage. Provide education and skills that are useful to children, just give a positive impact not only reduce street children but also create new more creative and mentally better children.   Kata Kunci : Street children, Social interakction, Social Rehabilitation
MOTIF KEPALA SEKOLAH DALAM PENYELENGGARAAN SEKOLAH INKLUSI SDN PANJUNAN II KALITIDU BOJONEGORO Susanti, Dwi
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak permasalahan yang  nampak  pada dunia pendidikan, terutama pada kebijakan penyelenggaraan sekolah inklusi. Sekolah inklusi sendiri adalah sekolah reguler yang menerima siswa Berkebutuhan khusus dan menyediakan pelayanan sesuai kebutuhan siswa. Permasalahan yang terjadi saat ini pihak sekolah yang ditunjuk masih tidak optimal dalam menjalankan kebijakan sekolah inklusi. Pelanggaran yang dilakukan salah satunya adalah  berkeliaran ketika jam pelajaran dimulai, hal ini menimbulkan kecemburuan pada siswa reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan sekolah inklusi di SDN Panjunan II Kalitidu Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan teori Afred Schutz menggunakan metode kualitatif, subjek penelitian dipilih menggunkan teknik purposive yaitu Kepala Sekolah. Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan cara observasi dan proses wawancara, menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian  menjelaskan temuan because motif  kepala sekolah menerima tataran sekolah inklusi karena perintah dari pemerintah dan tidak dapat menolak perintah tersebut, serta penyetaraan semua siswa dapat membantu mewujudkan harapan orangtua, pada temuan in order to motif  meliputi kepala sekolah berharap mendapatkan dana tambahan, berharap agar di  lengkapi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, adanya guru pendamping khusus yang professional agar kegiatan pembelajaran menjadi optimal, walimurid ikut serta dalam perkembangan siswa ABK kedepan agar tercipta kesetaraan antara siswa reguler dengan ABK. Kata Kunci: Pendidikan Inklusi, Kesetaraan, Anak Berkebutuhan Khusus.
POLITIK DINASTI DI KABUPATEN KEDIRI : PERTUKARAN SOSIAL TIM PEMENANGAN BUPATI HARYANTI-MASYKURI DENGAN WARGA DESA PARE LOR KECAMATAN KUNJANG Cahyaningtyas, Nilam
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politik dinasti menjadi pro dan kontra di kalangan elit politik terutama serta warga sipil. Mahkamah Konstitusi membuat sebuah keptusan yang berisi membolehkan adanya praktik politik dinasti termuat dalam putusan MK Nomor 33/PUU-XIII/2015, MK membuat keputusan tersebut atas dasar pasal 28 mengenai HAM. Hasil penelitian terdahulu kebanyakan menilai dinasti politik itu negatif . Oleh sebab itu, penulis ingin meilhat dari lain sisi. Fenomena politik dinasti juga terjadi di Kabupaten Kediri di mana Sutrisno yang menjabat menajdi bupati selama dua periode telah ‘mewariskan’ jabatan bupatinya kepada Haryanti, yakni istri pertamanya yang juga memegang jabatan selama dau periode. Penelitian dinasti politik menggunakan perspektif petukaran sosial pemikiran Peter M. Blau sekaligus dijadikan pendekatan dalam penelitian ini. Teknik analisis data yang digunakan adalah kulaitatif dan memakai metode dari Huberman. Peneliti menggali informasi mengenai pertukaran sosial antara warga Desa Pare Lor Kecamatan dengan tim pemenangan Bupati Haryanti-Masykuri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang ada pertukaran sosial antara pemenangan bupati dengan warga Desa Pare Lor Kecamatan Kunjang. Warga memberikan suaranya terhadap petahana bahkan mendapat peringkat pertama selama dua periode, pemilukada tahun 2010 dan 2015 hal ini menjadi indikator pertama bahwa Desa Pare Lor mendukung adanya politik dinasti. Peneliti dapat membuktikan bahwa politik dinasti tidak selalu dimaknai negatif dengan bukti bahwa dari hasil penelitian ini warga Desa Pare Lor cukup mengapresiasi kinerja Bupati Haryanti-Masykuri yang memberikan banyak progress pada infrastruktur di sana. Program yang diberikan juga cukup memberi kemajuan di Desa Pare Lor, seperti penghijauan, kartar di SK-kan, program GNOTA dll. Membuktikan bahwa politik dinasti dimaknai positif oleh warga Desa Pare Lor Kecamatan Kunjang. Kata Kunci : politik dinasti, warga dan tim pemenangan, pertukaran sosial.  
RESOLUSI KONFLIK PELEBARAN JALAN DUDUKSAMPEYAN GRESIK PUSPITA SARI, KURNIA
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini tentang pelebaran jalan di ruas jalan Desa Duduksampeyan. Salah satu kendala pelebaran jalan karena konflik lahan. Konflik terjadi diantara Kementrian Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Timur sebagai panitia pelebaran dan warga Duduksampeyan sebagai pemilik lahan. Konflik lahan terkendala pembebasannya yang mengalami perbedaan harga ganti-rugi. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik, menjelaskan savety valve, dan mendeskripsikan resolusi konflik pada pelebaran jalan Duduksampeyan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan perspektif teori Lewis A. Coser. Lokasi penelitian di Desa Duduksampeyan. Subjek terdiri atas Kementrian PU Provinsi Jawa Timur, warga Duduksampeyan pemilik lahan, aparat Desa Duduksampeyan, dan aktifis pelebaran. Subjek ditentukan dengan teknik bertujuan atau purposive. Penelitian ini mengadopsi model analisis  Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian menunjukkan bentuk konflik yang realistis diantaranya konflik pembebasan lahan dan konflik pembubaran Tim Delapan Belas. Konflik pembebasan akibat perbedaan herga ganti rugi. Konflik pembubabaran Tim Delapan Belas akibat digantikan dengan Tim Sembilan. Adanya katup penyelamat Lewis A. coser sebagai peredam konflik lewat aksi simpatik pelebaran jalan Duduksampeyan oleh aktifis pelebaran. Resolusi konflik pembebasan menggunakan jalur negosiasi oleh petugas saker yang berhasil menyelesaikan sisa pembebasan lahan. Kata kunci:  Pelebaran Jalan, Konflik Pembebasan Lahan, Katup-Penyelamat, Resolusi Konflik.   Abstract This research about is widening of roads on the village Duduksampeyan. One of the difficulties widening of road expansion because to conflict land. Conflict happened between The Ministry of Public Works Province of East Java as widening commite and residents Duduksampeyan as the land owner. Conflict land a release experience in the price compensation. The purpose of this research identify forms conflict, explained savety-valve, and described conflict resolution on the road widening Duduksampeyan. The method of this research adopted qualitative approaches, with Lewis A Coser perspective the theory. This research locations in the village Duduksampeyan. The subject consists of the ministry of The Ministry of Public Works Province of East Java, Residents Duduksampeyan owners, Village Officials Duduksampeyan , and Activist Widening. The subject is determined to technique aims or purposive. This research adopt model Miles and Huberman analysis. The result of research indicating a form of conflict realistic of them conflict land acquisition and conflicts dissolution Eighteen Team. Conflict the release of a result of the difference price compensation. Conflict dissolution Eighteen Team due to replaced by the Nine Team. The safety-valves Lewis A Coser as silencer conflict through of the campaign widening of road Duduksampeyan by Activist Widening. Conflict resolution liberation use the negotiations by The Officers Saker who finished the rest of land acquisition. Keyswords: Widening of Roads , Land Acquisition Conflict, Safety-Valve, Conflict Resolution.
PERILAKU MENYIMPANG SISWA SEBAGAI REPRESENTASI DIRI PADA USIA TRANSISI MENUJU DEWASA (STUDI KASUS: DI SMP NEGERI 2 MOJOANYAR) Hari Septiawati, Fiddy
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

   Abstrak Penelitian ini membahas tentang perilaku menyimpang siswa sebagai representasi diri pada usia transisi menuju dewasa. Perilaku menyimpang dengan melanggar tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa di SMP Negeri 2 Mojoanyar atas kesadaran mereka sendiri. Perilaku menyimpang yang dilakukan seperti, merokok di lingkungan sekolah, membolos sekolah pada waktu jam pelajaran, mencuri hp dan uang temannya, berkelahi, dan melakukan perbuatan seksualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku menyimpang siswa sebagai representasi diri pada pelanggaran tata tertib di SMP Negeri 2 Mojoanyar. Penelitian ini menggunakan teori Dramaturgi oleh Erving Goffman, dimana terdapat panggung depan dan panggung belakang pada siswa untuk melakukan perilaku menyimpang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, subyek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive  yaitu Guru BK serta siswa SMP yang melakukan perilaku menyimpang dalam pelanggaran tata tertib sekolah. Pengambilan data di lapangan diakukan dengan cara observasi dan proses wawancara, teknik analisis data menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa dimaknai dengan rasa saling solidaritas terhadap temannya, serta dengan Dramaturgi yang siswa perankan, maka terdapat panggung depan dan panggung belakang, dimana panggung depan siswa harus mempresentasikan dirinya sendiri terhadap peran dan karakter masing-masing jika ada guru atau teman yang mengetahuinya. Sedangkan panggung belakang dimana peran mereka sama seperti siswa lain, dimana siswa berperan sebagai dirinya sendiri sama dengan kesehariannya. Dalam peran yang siswa mainkan terdapat bahasa tubuh dan bahasa verbal sebagai interaksi antar siswa dengan guru dan teman yang lain.    Kata kunci : Perilaku Menyimpang, Representasi Diri, Dramaturgi                                                                   Abstract This research talk about deviant behaviors students as a representation themselves at the age of transition to adult. Behavior turn aside and raise awareness schools that done by a student in public junior high schools 2 mojoanyar their own on their. Conducted, such as deviant behaviors, smoke in the vicinity of the school, be absent the clock time a lesson, steal hp and money his friend, fighting, and do their deeds of sexuality. This study aims to to find how deviant behaviors students as representatives of themselves on the offense rules in the public junior high schools 2 mojoanyar. The theory was used in the study dramaturgy by erving goffman, where there are issues involving the stage front and the stage back to their students to do deviant behaviors. The qualitative method was used in the study, purposive respondent chosen using a technique that is teachers who were bk and junior high school students who do deviant behaviors in violation of good governance school. In the field of the receipt of the data done by means of observation and the process of interview, data analysis technique using analysis data from miles and huberman. This research result indicates that deviant behaviors who performed by a student is understood with the mutual solidarity to his friend, as well as by that the stude its rolent dramaturgy, there is the stage front and the back of the stage, where the stage front of students must presented himself on the role of and his own if there were teachers or friends who know. While the stage the back of where is the role of their tongues hanging out as other students, where students had a role as her own equal to daily. In the role of that the student the course of the game there have been instances of body language test and a language test verbal as interactions among the student with teachers and friend to another.    Keywords : Deviate Behavior, Students, Dramaturgy
HEGEMONI “KUNINGISASI” BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) DINAS PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN JOMBANG Kartika Rizqiyah, Faradina
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang hegemoni yang terjadi pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pemerintah Kabupaten Jombang. Kantor Dinas-Dinas serta gedung-gedung sekolah di Kabupaten Jombang  juga ikut merasakan kehadiran dari kuningisasi. Hingga seragam khusus batik untuk siswa-siswi SD, SMP, dan SMA Negeri juga diganti menjadi batik kuning dan hijau. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji bagaimana hegemoni dan resistensi dari kuningisasi yang terjadi di Kabupaten Jombang. Hasil penelitian ini menunjukkan hegemoni berhasil masuk ke dalam Dinas-Dinas dan juga Lembaga di Kabupaten Jombang. Hegemoni yang dirasakan berupa kebijakan dan anjuran mengenai kuningisasi. Meskipun anjuran kuningisasi tidak diumumkan secara resmi dari Bupati, perubahan dilakukan secara serempak oleh banyak Dinas-Dinas serta Lembaga di Kabupaten Jombang. Perubahan kuningisasi yang diawali oleh dominasi yang dilakukan oleh pemilik pemerintahan yang sah. Kemudian diciptakan konsensus yang dilakukan antara kepala Dinas dan Bupati atau orang-orang penting sebagai wakil dari Bupati. Dengan adanya dominasi dan konsensus tersebut akan muncul hegemoni. Meskipun Dinas-Dinas serta Lembaga merasakan adanya hegemoni, tetap saja ada beberapa yang melakukan resistensi sebagai bentul penolakan. Meskipun resistensi tidak dilakukan secara langsung di depan masyarakat umum, fenomena kuningisasi juga mengalami resistensi dari beberapa pihak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta menggunakan pendekatan analisis wacana kritis. Penelitian ini menggunakan teknik analisis wacana kritis sebagai teknik analisis data. Kata Kunci : Dominasi, Konsensus, Resistensi Abstract This study examines the hegemony that occurs in civil servants a.k.a PNS of official institution district Government of Jombang. The official offices and the school buildings in Jombang Regency also felt the presence of Kuningisasi. Moreover, special batik uniforms for students of elementary, junior and senior high school are also changed into yellow and green batik. The purpose of this research to examine how the hegemony and resistance of the kuningisasi that occurred in Jombang. The result of this study indicates hegemony gave influence succesfully to all of official institutions in Jombang. Hegemony appears to give the form of policy or recommendation about Kuningisasi.  The recommendation of Kuningisasi was not officially announced by the regent but the changing was made simultaneously by many official institutions in Jombang. Changing Kuningisasi is initiated by the dominance of legitimate government owners. Then, it was created by consensus between the head of the official institutions and the regent or famous people as representatives of the regent. Because there are domination and consensus so it appears  Hegemony. Although official institutions and agencies have felt that there is the existence of hegemony, it is not for some people who do resistance as a refusal barrier. The resistance is not done directly in front of general public and the phenomenon of Kuningisasi also get experience of  resistance from several parties. This study uses qualitative methods and uses the perspective  of Critical Discourse Analysis. This research uses critical discourse analysis technique as analysis technique. Keyword : Domination, Consensus, Resistance 
RASIONALITAS KONSUMSI HANDPHONE PADA KELUARGA MISKIN DI DESA KUDUBANJAR Anggraini, Ria
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang Rasionalitas Konsumsi Handphone pada Keluarga Miskin. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat adalah bersumber dari segala kebutuhan yang tidak terbatas dan juga sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apapun yang sudah mereka miliki. Salah satu kebutuhan manusia pada jaman sekarang adalah handphone yang merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi. Mereka harus dapat berpikir rasional sebelum membuat keputusan untuk memasukkan handphone dalam kebutuhan yang akan mereka konsumsi. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana rasionalitas konsumsi handphone pada keluarga miskin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif yang berusaha menggali, memahami, dan mencari fenomena sosial yang kemudian menghasilkan data yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif denan pengambilan data dengan menggunakan observasi dan wawancara. Hasil pada penelitian ini dapat ditemukan dua jenis tipe rasionalitas, yaitu rasionalitas instrumen dan rasionalitas nilai. Dalam temuan data diketahui ada beberapa alasan membeli handphone yaitu untuk bekerja serta komunikasi dan hal tersebut merupakan tindakan rasionalitas instrumen. Satu hasil penelitian yang menunjukkan tindakan rasionalitas nilai yaitu membeli handphone karena gengsi dan takut minder dengan sekitarnya. Kata Kunci: Rasionalitas, Konsumsi, Handphone, Keluarga miskin   Abstract This research about Rationality of mobile phone consumption in poor families. Obstacles faced by the community is funded by all the things not limited and also human nature who never are satisfied with any that they had have .One of the needs in the now is a cell phone that was one of the results of technological progress .They should be able to think rationally before making the decision to admit a cell phone in the need to be happening to them .This research has aimed to know and understand how rationality cell phone consumption of the poor families .Methods used in this research is qualitative research was conducted who try to dig , understand , and look for social phenomena which produces the data deep . the result of this study can be found in two types of rationality. This research uses the method the qualitative study denan the data by using observation and interview .Outcomes this research is there are several reasons buy cell phone which is to work and communication and this would be the act of rationality an instrument .One yield that research shows the act of rationality value that is buy cell phone because prestige and fear minder of to surrounding . Keywords: Rationality, Consumption, Mobile, poor family
GAYA HIDUP KONSUMTIF PENERIMA BANTUAN PKH (STUDI DI DESA REJOSARI KECAMATAN KALIDAWIR KABUPATEN TULUNGAGUNG) Ajeng Prasiwi, Paradipta
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) untuk meringankan penerima PKH di bidang pendidikan dan kesehatan. Tujuan utama dibentuknya program PKH sejak tahun 2007 adalah untuk mengurangi angka dan memutuskan rantai kemiskinan, hampir sepuluh tahun bantuan PKH diberlakukan di Indonesia tetapi belum dapat mengurangi angka kemiskinan. Kecamatan Kalidawir menempati peringkat kedua penduduk termiskin terbanyak di Kabupaten Tulungagung tetapi kondisi tersebut sangat bertolak belakang dengan gaya hidup penduduknya. Warga Desa Rejosari Kecamatan Kalidawir menjadi penerima bantuan PKH terbanyak kedua se-KabupatenTulungagung juga memiliki tingkat konsumtif yang tinggi pada kendaraan bermotor di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan teknik analisis Miles and Huberman. Hasil penelitian ditemukan bahwa penerima bantuan PKH memiliki gaya hidup konsumtif dilihat dari kepemilikan harta benda mereka. Dana PKH seharusnya dimaksimalkan untuk keperluan pendidikan dan kesehatan justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup. Dari hasil penelitian di lapangan dana bantuan program PKH dimanfaatkan untuk menunjang gaya hidup mereka untuk membeli barang mewah dikarenakan Hipperealitas dan simulacra yang didapat dari pengaruh iklan di televisi serta tidak ingin kalah saing dengan tetangga mereka yang mayoritas bekerja sebagai TKI. Saat ini Perkembangan teknologi dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang melalui iklan. Selain itu dilapangan menggambarkan bahwasannya para penerima PKH di Desa Rejosari tidak ingin kalah bersaing dengan para keluarga TKI. Sebagian penerima bantuan PKH lebih mengutamakan nilai simbolik dan tanda dari barang dan jasa yang dikonsumsinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif dari Jean P. Baudrillard agar dapat mengetahui bagaimana gaya hidup konsumtif yang dilakukan dalam keseharian mereka. Kata Kunci : Mayarakat Miskin, Gaya Hidup, PKH    Abstract Program Keluarga Harapan (PKH) is a cash grant program to Poor Households. This program aims to assist PKH recipients in the field of education and health. The main purpose of the PKH program since 2007 is to reduce the number and decision of the poverty chain.but it has been almost ten years PKH implemented in Indonesia especially applied to Poor Households but still can not reduce the poverty rate in Indonesia. Kalidawir is second ranked of the poorest in Tulungagung but the condition is very contrary to the lifestyle of its residence. The data obtained, residents of Rejosari Village, Kalidawir Sub-district, became the second largest recipient of PKH aid in Tulungagung and has a high consumptive rate on motor vehicles in Tulungagung. This research uses analytic technic by Miles and Huberman. From the results of research PKH program assistance funds will they use to buy livestock, buy luxury goods due to the influence of advertising on television and do not want to lose competitiveness with their neighbors who mostly work as TKI. Currently developing technology can affect the lifestyle of a person through ads that can attract public interest. In addition, the reality in the field illustrates that the current recipients of PKH in Rejosari Village do not want to lose out to compete with the families of TKI. Some PKH beneficiaries in Rejosari Village now prefer the symbolic value and sign of the goods and services they consume. This study uses qualitative methods and uses the perspective of Jean P. Baudrillard in order to be able to know the consumptive way of life that is done in their daily life. Keywords: The Poor, Life style, PKH 
KONSTRUKSI SOSIAL WALI SANTRI TERHADAP PROSES REHABILITASI MENTAL DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH AL JANNATU DAARUL MA’WA DEWI FATMAWATI, RISKA
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini berbicara mengenai konstruksi sosial wali santri terhadap proses rehabilitasi mental di Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Umumnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang didirikan oleh kyai untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Hal ini berbeda dengan Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa yang menjadi tempat rehabilitasi mental gangguan kejiwaan.  Diketahui bahwa seharusnya gangguan kejiwaan diobati di rumah sakit jiwa.  Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan perspektif teori konstruksi sosial Peter L Berger. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubermas terbagi menjadi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini diwujudkan dalam mengapa alasan wali santri memilih pondok tersebut sebagai tempat pengobatan keluarganya. Tahap pertama konstruksi sosial adalah eksternalisasi. Eksternalisasi berkaitan oleh stock of knowledge yang dimiliki wali santri tentang gangguan kejiwaan. Pengetahuan dasar ini meliputi pengetahuan tentang gangguan kejiwaan, pengobatan, pondok pesantren, kyai, dan ruqyah. Tahap kedua adalah objektivasi. Pada tahap objektivasi apa yang dibayangkan wali santri tidak sesuai dengan kondisi objektif. Awalnya wali santri memilih rumah sakit jiwa untuk mengobati keluarganya, namun hasilnya tidak memuaskan. Sebagian wali santri memilih tidak membawa keluarganya ke rumah sakit jiwa karena biaya yang mahal. Selanjutnya muncul Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa yang merupakan tempat rehabilitasi mental. Setelah mengikuti rehabilitasi di pondok pesantren tersebut keluarga wali santri membaik. Tahap terakhir adalah internalisasi. Pada tahap ini wali santri menerima Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa sebagai tempat rehabilitasi mental. Wali santri yakin bahwa pondok tersebut dapat menyembuhkan gangguan kejiwaan. Kata Kunci : Konstruksi Sosial, Wali Santri, Rehabilitasi, Pondok Pesantren Abstract This research talk about social construction wali santri on the process mental rehabilitation in Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa in Girimulyo village, Jogorogo, Ngawi. Generally islamic boarding school is a islamic education founded by kyai to teach the sciences religion. This is different from Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa where rehabilitation mental psychiatric disorders. Is known that psychiatric disorders it should treated in a mental hospital. This research is kulitative with social construction theory of Peter L Berger. Technique data analysis of Miles and Habermas are data reduction, data presentation, and conclusion. The result of this research manifested in why reason wali santri choose the place to treat a member of his family. The first phase construction society is eksternalisasi.  Eksternalisasi pertaining by stock of knowledge owned wali santri about psychiatric disorders. Basic knowledge includes knowledge of psychiatric disorders, treatment, islamic boarding school, kyai, and ruqyah. The second stage is objektivasi. At the objektivasi what imagined wali santri not in accordance with the objective condition . Originally wali santri choose the mental hospital to treat his family, but the result is unsatisfactory. In the other hand wali santri chose not bring his family to a mental hospital because the cost is expensive. Next, appear Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa that is a place of mental rehabilitation.  After undertaking rehabilitation in this place, the family of wali santri be better. The last stage is internlisasi. At this stage wali santri receive Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa as mental rehabilitation facility. Wali santri be sure that islamic boarding school can be cure psychiatric disorders.   Keyword: Social Construction, Wali Santri, Rehabilitation, Islamic Boarding School  Abstrak Penelitian ini berbicara mengenai konstruksi sosial wali santri terhadap proses rehabilitasi mental di Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Umumnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang didirikan oleh kyai untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Hal ini berbeda dengan Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa yang menjadi tempat rehabilitasi mental gangguan kejiwaan.  Diketahui bahwa seharusnya gangguan kejiwaan diobati di rumah sakit jiwa.  Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan perspektif teori konstruksi sosial Peter L Berger. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubermas terbagi menjadi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini diwujudkan dalam mengapa alasan wali santri memilih pondok tersebut sebagai tempat pengobatan keluarganya. Tahap pertama konstruksi sosial adalah eksternalisasi. Eksternalisasi berkaitan oleh stock of knowledge yang dimiliki wali santri tentang gangguan kejiwaan. Pengetahuan dasar ini meliputi pengetahuan tentang gangguan kejiwaan, pengobatan, pondok pesantren, kyai, dan ruqyah. Tahap kedua adalah objektivasi. Pada tahap objektivasi apa yang dibayangkan wali santri tidak sesuai dengan kondisi objektif. Awalnya wali santri memilih rumah sakit jiwa untuk mengobati keluarganya, namun hasilnya tidak memuaskan. Sebagian wali santri memilih tidak membawa keluarganya ke rumah sakit jiwa karena biaya yang mahal. Selanjutnya muncul Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa yang merupakan tempat rehabilitasi mental. Setelah mengikuti rehabilitasi di pondok pesantren tersebut keluarga wali santri membaik. Tahap terakhir adalah internalisasi. Pada tahap ini wali santri menerima Pondok Pesantren Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa sebagai tempat rehabilitasi mental. Wali santri yakin bahwa pondok tersebut dapat menyembuhkan gangguan kejiwaan. Kata Kunci : Konstruksi Sosial, Wali Santri, Rehabilitasi, Pondok Pesantren Abstract This research talk about social construction wali santri on the process mental rehabilitation in Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa in Girimulyo village, Jogorogo, Ngawi. Generally islamic boarding school is a islamic education founded by kyai to teach the sciences religion. This is different from Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa where rehabilitation mental psychiatric disorders. Is known that psychiatric disorders it should treated in a mental hospital. This research is kulitative with social construction theory of Peter L Berger. Technique data analysis of Miles and Habermas are data reduction, data presentation, and conclusion. The result of this research manifested in why reason wali santri choose the place to treat a member of his family. The first phase construction society is eksternalisasi.  Eksternalisasi pertaining by stock of knowledge owned wali santri about psychiatric disorders. Basic knowledge includes knowledge of psychiatric disorders, treatment, islamic boarding school, kyai, and ruqyah. The second stage is objektivasi. At the objektivasi what imagined wali santri not in accordance with the objective condition . Originally wali santri choose the mental hospital to treat his family, but the result is unsatisfactory. In the other hand wali santri chose not bring his family to a mental hospital because the cost is expensive. Next, appear Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa that is a place of mental rehabilitation.  After undertaking rehabilitation in this place, the family of wali santri be better. The last stage is internlisasi. At this stage wali santri receive Islamic Boarding School Salafiyah Al Jannatu Daarul Ma’wa as mental rehabilitation facility. Wali santri be sure that islamic boarding school can be cure psychiatric disorders. Keyword: Social Construction, Wali Santri, Rehabilitation, Islamic Boarding School
DINAMIKA KONFLIK DALAM PERUMUSAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA (PKB) PERIODE 2017-2019 DI PT PERTAMINA (PERSERO) ALVIATUS SHOLIKHAH, ANIF
Paradigma Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik merupakan realitas yang tidak terlepas dari kehidupan manusia, tak terkecuali dalam forum perundingan PKB Pertamina. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konflik yang terjadi dalam proses perumusan PKB, fungsi positif konflik serta katup penyelamatnya. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan Fungsionalisme Konflik milik Lewis Alfred Coser. Informan dalam penelitian ini adalah pihak yang terlibat dalam perumusan PKB Pertamina. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi dalam perumusan PKB Pertamina  merupakan bentuk dari konflik realistis dengan adanya tuntutan, keuntungan, power, sumber daya, serta nilai-nilai yang ingin dicapai oleh kedua pihak melalui usulan-usulan mereka yang diperjuangkan untuk diterima menjadi ketentuan di dalam PKB. Pada proses perundingan konflik terjadi pada saat kedua pihak menanggapi materi, ketika menemui usulan yang kontra maka muncullah konflik. Pada fenomena ini, konflik berupa perdebatan antara Federasi dengan Perusahaan untuk saling memperjuangkan usulannya agar disepakati. Di sisi lain konflik juga disebabkan karena yang menjadi tim perunding dari perusahaan bukanlah decision maker sehingga membuat pembahasan materi sulit untuk diputuskan. Konflik tersebut menyebabkan proses perundingan deadlock sementara atau pending dan harus diadakan perundingan lanjutan. Konflik ini melibatkan Direksi Perusahaan dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) sebagai pihak yang melakukan perundingan. Di sisi lain, konflik tersebut memiliki fungsi positif yakni dengan menghasilkan sebuah PKB yang sangat bermanfaat bagi seluruh stakeholder di Pertamina sebagai rambu-rambu dalam menjalankan hubungan insdustrialnya. Kata Kunci: Perjanjian Kerja Bersama (PKB), PT Pertamina (Persero), Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Konflik hubungan industrial.