Articles
337 Documents
EKSISTENSI ISRTI TNI ANGKATAN LAUT
ZDURHOTHUL FHAHIRIYAH, NABBILLAH;
HANDINI LISTYANI, REFTI
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa institusi pernikahan merenggut kebebasan perempuan. Perempuan yang menikah dengan seorang abdi negara atau seorang tentara tidaklah lepas dari aturan instansi. Perempuan yang resmi menjadi istri TNI Angkatan Laut secara otomatis tergabung dalam Jalasenastri. Anggota Jalasenastri memberikan gambaran seorang istri yang mendapatkan aturan secara budaya dan secara instansi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ibu Jalasenastri dalam menunjukkan eksistensinya ditengah belenggu aturan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perspektif Feminis Eksistensialis Simone de Beauvoir. Lokasi penelitian ini dilakukan di Surabaya. Subyek penelitian ini adalah istri TNI Angkatan Laut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa istri TNI Angkatan Laut belum mampu melakukan transendensi. Istri TNI Angkatan Laut belum mampu melaksanakan strategi yang ditawarkan Beauvoir untuk menunjukkan eksistensinya. Strategi tersebut adalah bekerja di ranah publik, menjadi intelektual, dan mencapai transformasi sosial. Istri Angkatan Laut juga masih terbelenggu oleh konsep istri dan ibu yang menghambat perempuan untuk mandiri. Kata Kunci: Eksistensi Jalasenastri, Feminisme, Kualitatif
EKSPLOITASI TENAGA KEBERSIHAN (STUDI DI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM)
PUSPA NINGTYAS, EKA
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini berawal dari adanya eksploitasi terhadap tenaga kebersihan yang terjadi di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Berdasarkan fenomena dilapangan ada tindakan eksploitasi terjadi pada petugas kebersihan dilakukan oleh penyalur tenaga kerja dan pihak perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan teori Karl Marx tentang eksploitasi kelas dimana kaum borjuis mengksploitasi kaum ploretar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendiskripsikan tindakan eksploitasi sesuai kondisi dilapagan. Tindakan eksploitasi yang terjadi pada petugas kebersihan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih. Bentuk eksploitasi yang diterima oleh petugas kebersihan adalah perampasan hak pekerja dengan upah. Kata Kunci : Eksploitasi, Kelas Sosial, Kualitatif
KONDISI SOSIO-EKONOMI KELUARGA PRASEJAHTERA DENGAN BALITA GIZI BURUK
ISNAINI, NUSHROH;
HARIANTO, SUGENG
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gizi buruk merupakan salah satu masalah yang terjadi di Indonesia. Pada awal tahun 2017, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto mempunyai balita penderita gizi buruk tertinggi. Data di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Bidang Kesehatan Masyarakat menunjukkan bahwa terdapat 49 kasus yang ditangani oleh masing-masing puskesmas. Puskesmas Kupang dengan jumlah 28 kasus dan Puskesmas Jetis 21 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang kondisi sosial ekonomi keluarga prasejahtera dengan balita penderita gizi buruk di Kecamatan Jetis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah latar belakang kondisi sosial ekonomi keluarga prasejahtera beragam. Keluarga prasejahtera memperoleh pendidikan hanya sampai jenjang SD, SMP, dan SMA. Keluarga prasejahtera bekerja di sektor informal seperti tukang bangunan, kuli bangunan, pengrajin besek, penjual mainan dan ibu rumah tangga. Ada yang bekerja di sektor formal strata bawah yaitu sebagai buruh pabrik. Pendapatan yang diperoleh terendah yaitu Rp. 40.000/hari-Rp. 400.000 /bulan dan tertinggi Rp. 2.000.000 perbulan. Kata Kunci : Gizi Buruk, Keluarga Prasejahtera, Kualitatif Deskriptif
KONFLIK ANTARA MASYARAKAT DAN APARAT DESA DALAM PEMBANGUNAN PASAR
JAMALLUDIN, MISBAH
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini membahas tentang adanya konflik masyarakat dan aparat desa. Lokasi penelitian berada di Desa Kedung Bocok Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan teori fungsional konflik milik Lewis A. Coser Tentang konflik realistis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan pasar di Kedung Bocok ternyata merugikan warga Desa Kedung Bocok. Kerugian tersebut dialami warga yang memiliki lahan pertanian yang awalnya produktif menjadi tidak produktif. Pemilik lahan pertanian juga harus beralih pekerjaan. Terdapat dua Penyebab Konflik Pembangunan Pasar Kedung Bocok Asri, yaitu: 1). Pembangunan pasar diputuskan secara sepihak oleh aparat desa. Informan tidak menjelaskan tentang lahan siapa saja yang terdampak dalam pembangunan; 2). Proses administrasi terhadap warga yang terdampak belum diselesaikan. Hal tersebut merupakan konflik realistis yang terjadi dalam pembangunan pasar Kedung Bocok Asri ini. Kata Kunci : Fungsional konflik, Masyarakat, Pembangunan Pasar
HEGEMONI KYAI TERHADAP SANTRI
VERADELLA ANUGRAH, YESHINTA;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini berangkat dari keterlibatan pondok pesantren dalam permasalahan partai politik. Adanya keterlibatan ini karena terdapat campur tangan politik di dalam pesantren. Penelitian ini meneliti bagaimana hegemoni kyai terhadap afiliasi santri dalam Pilbup Lamongan 2015 di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Menggunakan penelitian kualitatif dianalisis dengan teori hegemoni yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, hegemoni merupakan pengaruh dari Kyai yang diawali adanya kekuasaan. Hegemoni ada tiga jalur untuk mengarahkan santri yaitu hegemoni jalur agama, hegemoni jalur pendidikan dan hegemoni jalur kebudayaan. Tujuannya untuk mengetahui kebijakan kyai terhadap politik santri, mengetahui afiliasi santri dalam pemilihan bupati dan mengetahui bentuk-bentuk hegemoni kyai terhadap santri. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dianalisis dengan teori hegemoni yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci. Subjeknya merupakan Ustadz dan alumni santri. Teknik analisis data dalam penelitian ini Teknik wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian menjelaskan terjadi hegemoni kepada santri untuk mengikuti arahan dari seorang Kyai yang dianggap lebih berkuasa dalam menyampaikan asumsi. Kata kunci: Kekuasaan, Hegemoni, Pondok Pesantren.
PEMAKNAAN PEMBANGUNAN ISLAMIC CENTER DI ALUN-ALUN GRESIK
IKHWAN, MASRUL;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengidentifikasi Forum Aliansi Peduli Cagar Budaya Gresik dalam memaknai pembangunan Islamic Center. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan prespektif teori interaksionisme simbolik Helbert Blumer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode etnografi milik James P. Spradly. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi foto, dan dokumentasi tertulis. Hasil penelitian berhasil mengungkap beberapa point. Pertama, Kondisi Masyarakat Forum Aliansi terdiri dari santri tradisional; santri modern; seniman budayawan; dan kelompok kepentingan. Kedua, Pembangunan Islamic Center bertujuan merombak fungsi Alun-alun dan dinilai sebagai cara pemerintah untuk menghabiskan anggaran. Ketiga, Terdapat kelompok Inklusi dan kelompok Eksklusi. Kurangnya sosialisasi menjadi penyebab utama munculnya banyak penolakan yang dilakukan oleh warga masyarakat Gresik. Pembangunan Islamic Center di kawasan Alun-alun dapat mendiskriminasikan agama lain yang ada disekitaran Alun-alun Gresik. Selain itu pedagang kak lima (PKL) turut dirugikan dalam proyek pembangunan revitalisasi Alun-alun Gresik. Perekonomian menurun secara drastis dan sangat dirasakan oleh para pedagang kaki lima (PKL). Kata kunci : Pemaknaan, Islamic Center, Revitalisasi, Alun-alun, Cagar Budaya.
SOSIAL EKONOMI ORANGTUA, TEMAN SEBAYA MEMPENGARUHI SEKOLAH LANJUTAN
ALDIKA NURFATIMAH, MUTIARA;
WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Memilih SMA/SMK untuk sekolah lanjutan bagi siswa-siswi SMP merupakan pilihan yang dapat dipengaruhi beberapa faktor. Salah satu faktor yaitu pengaruh Status Sosial Ekonomi Orangtua dan pengaruh Teman Sebaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah Status Sosial Ekonomi Orangtua dan Teman Sebaya Berpengaruh Pada Pilihan Sekolah Lanjutan. Jumlah sampel 80 responden siswa-siswi SMP Kartika IV-11 Surabaya. Menggunakan metode pengambilan sampel proposional stratified rendom sampling. Teknik analisis menggunakan SPSS 17.0 versi Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan Status Sosial Ekonomi orangtua berpengaruh sangat lemah sebesar 14,5% dan Teman sebaya tidak memiliki pengaruh sebesar 0% pada pilihan sekolah lanjutan. Diperoleh t hitung untuk status sosial ekonomi orangtua secara parsial adalah tidak signifikan. Sebesar 1,275 lebih kecil dari t tabel ( df = 80; ? / 2 ) = 1,99 dengan sig. = 0,206 (lebih besar dari ?=0,05). Diperoleh t hitung untuk teman sebaya secara parsial adalah tidak signifikan. Sebesar -0,006 lebih kecil dari t tabel ( df = 80; ? / 2 ) = 1,99 dengan sig. = 0,996 (lebih besar dari ?=0,05). Kemudian tindakan rasional yang diambil adalah rasionalitas substantive. Menyangkut pilihan sarana dalam mencapai tujuan pada situasi nilai. Dengan adanya sarana yang telah diberikan baik dari orangtua maupun teman sebaya. Siswa tidak lagi perlu khawatir dalam memilih sekolah lanjutan dengan memanfaatkan sarana dalam mencapai tujuan pada situasi nilai tersebut.Kata kunci: Kuantitatif, Status sosial ekonomi, Intensitas Keakraban, Pendidikan
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TENTANG TRADISI RUWATAN SUKERTA
AYONA, BERLIAN;
SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Manusia menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahkluk sosial menginginkan kehidupan yang damai. Namun manusia pada kenyataannya mengalami krisis sosial. Ruwatan dipercaya sebagai pembebasan diri dari berbagai malapetaka. Hal ini menjadikan ruwatan bisa bertahan sampai sekarang. Adapun yang masih mempertahankan budaya ini adalah kelompok masyarakat Dukuh Pakis, Surabaya. Pernyataan ini menjadi menarik karena pada umumnya kelompok masyarakat kota tidak terikat dengan adat/tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi sosial masyarakat Dukuh Pakis beserta krisis dalam Ruwatan Sukerta. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial Berger. Lokasi dalam penelitian ini berada di Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Subyek riset meliputi ketua pelaksana, peruwat, peserta ruwatan, dan warga sekitar Sanggar tempat pelaksanaan Ruwatan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik analisis ini menggunkan teknik interaktif karya Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan proses konstruksi sosial pada masyarakat Dukuh Pakis, dimulai dari tahap eksternalisasi (adaptasi). Pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses obyektivikasi (pelembagaan) yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terkahir tahap internalisasi dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya. Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Ruwatan Sukerta, Krisis Sosial..
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TENTANG TRADISI RUWATAN SUKERTA
AYONA, BERLIAN;
SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Manusia menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahkluk sosial menginginkan kehidupan yang damai. Namun manusia pada kenyataannya mengalami krisis sosial. Ruwatan dipercaya sebagai pembebasan diri dari berbagai malapetaka. Hal ini menjadikan ruwatan bisa bertahan sampai sekarang. Adapun yang masih mempertahankan budaya ini adalah kelompok masyarakat Dukuh Pakis, Surabaya. Pernyataan ini menjadi menarik karena pada umumnya kelompok masyarakat kota tidak terikat dengan adat/tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi sosial masyarakat Dukuh Pakis beserta krisis dalam Ruwatan Sukerta. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial Berger. Lokasi dalam penelitian ini berada di Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Subyek riset meliputi ketua pelaksana, peruwat, peserta ruwatan, dan warga sekitar Sanggar tempat pelaksanaan Ruwatan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik analisis ini menggunkan teknik interaktif karya Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan proses konstruksi sosial pada masyarakat Dukuh Pakis, dimulai dari tahap eksternalisasi (adaptasi). Pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses obyektivikasi (pelembagaan) yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terkahir tahap internalisasi dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya. Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Ruwatan Sukerta, Krisis Sosial..
KONSTRUKSI MASYARAKAT DESA PENATARSEWU TENTANG PEMBEBASAN LAHAN
SALSA NOVINAYAH, FADILAH;
LEGOWO, MARTINUS
Paradigma Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembebasan lahan yang dilakukan di Desa Penatarsewu bertujuan untuk membangun jalan akses menuju situs pengeboran milik PT. Lapindo Brantas. Pembebasan lahan dilakukan mulai dari tahun 2004-2020(sekarang). Pembebasan lahan menargetkan lahan pertanian sebagai tempat pembangunan jalan. Sementara di sisi lain mayoritas masyarakat Desa Penatarsewu bekerja sebagai seorang petani. Adanya lahan pertanian yang masuk dalam proses pembebasan lahan tentunya mempengaruhi kehidupan masyarakat petani, khususnya kepada petani pemilik lahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi masyatakat Desa Penatarsewu dalam melihat fenomena pembebasan lahan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger. Lokasi penelitian si Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah warga asli Desa Penatarsewu yang memiliki lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat setuju akan adanya pembebasan lahan apabila mengikuti beberapa ketentuan. Pertama, pembebasan lahan harus memberikan ganti rugi minimal tiga kali lipat dari harga normal, pembebasan lahan tidak boleh menutup aliran sungai yang dimiliki oleh masyarakat, perangkat desa sebagai mediator proses pembebasan lahan harus menjalankan proses ini secara transparan, tidak ada lagi makelar tanah yang mengambil keuntungan dari masyarakat pemilik lahan. Pembebasan lahan ini dipilih masyarakat dengan melakukan beberapa pertimbangan. Pertama, masyarakat harus membebaskan lahan karena tidak menginginkan akses pengeboran melewati jalan desa, Pembebasan lahan dianggap dapat membantu penyelesaian pembagian hak waris beberapa masyarakat, Uang ganti rugi pembebasan lahan dianggap dapat digunakan untuk membeli lahan yang lebih luas daripada yang masyarakat miliki sebelumnya.