cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Preserving cultural-roots: Indigenous parenting practices in shaping ethical foundations in children Habibat Bolanle Abdulkareem; Jamila Yusuf; Kamoru Abidoye Tiamiyu
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.80877

Abstract

In an increasingly globalised world, the preservation of cultural heritage is vital in nurturing the ethical and moral development of children. Indigenous parenting practices, deeply embedded in ancestral traditions and communal values, provide a distinct framework for shaping ethical behaviour and instilling virtues such as respect, responsibility, empathy, and community consciousness. This study aims to explore the role of indigenous parenting practices in fostering ethical development in children and to assess their impact on children’s ethical decision-making and the intergenerational transmission of cultural norms. Employing a qualitative research approach, the study conducted a comprehensive review of relevant literature and analyzed case studies from various indigenous communities. Key indigenous parenting methods identified include storytelling, communal living, rites of passage, and traditional mentoring systems all of which serve as tools for ethical education. The findings reveal that these practices effectively nurture ethical values by embedding children within a strong cultural identity, fostering a sense of communal responsibility, and reinforcing virtues such as honesty, respect, and empathy. The study underscores the importance of integrating these time-tested values into modern child-rearing practices to reinforce ethical foundations in children while preserving cultural heritage.   Abstrak Dalam dunia yang semakin mengglobal, pelestarian warisan budaya sangat penting dalam memelihara perkembangan etika dan moral anak-anak. Praktik pengasuhan adat, yang tertanam dalam tradisi leluhur dan nilai-nilai komunal, menyediakan kerangka kerja yang berbeda untuk membentuk perilaku etis dan menanamkan nilai-nilai seperti rasa hormat, tanggung jawab, empati, dan kesadaran komunitas. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran praktik pengasuhan adat dalam membina perkembangan etika pada anak-anak dan untuk menilai dampaknya terhadap pengambilan keputusan etis anak-anak dan transmisi norma-norma budaya antargenerasi. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, studi ini melakukan tinjauan komprehensif terhadap literatur yang relevan dan menganalisis studi kasus dari berbagai komunitas adat. Metode pengasuhan adat utama yang diidentifikasi meliputi mendongeng, kehidupan komunal, ritus peralihan, dan sistem bimbingan tradisional yang semuanya berfungsi sebagai alat untuk pendidikan etika. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa praktik-praktik ini secara efektif memelihara nilai-nilai etika dengan menanamkan anak-anak dalam identitas budaya yang kuat, menumbuhkan rasa tanggung jawab komunal, dan memperkuat nilai-nilai seperti kejujuran, rasa hormat, dan empati. Studi ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai yang telah teruji waktu ini ke dalam praktik pengasuhan anak modern untuk memperkuat landasan etika pada anak-anak sambil melestarikan warisan budaya. Kata kunci: adat, akar budaya, anak-anak, praktik pengasuhan
Analysis of humanistic-based Islamic education curriculum in addressing moral degradation Muhammad Yoggi Aqsal Darmawan; Iqbal Ahsanul Aula
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.83443

Abstract

The humanistic curriculum provides a solution to educate students to find their identity. In a humanistic curriculum, students are taught to express their human potential as free individuals. However, the freedom granted to students in undergoing the academic process can become a problem if students lack the desire or ability to understand their potential, leading to a loss of direction in their learning process, which can eventually result in moral degradation. This study aims to analyze the development of a humanistic-based Islamic Education curriculum in dealing with the degradation of moral values that occurs in middle-class students. The method used is qualitative with in-depth interviews and reinforced with an in-depth literature study approach, involving analysis of books, journals, and government policy documents. The results of the study indicate that the humanistic curriculum results in a lack of teacher authority in providing firm direction against violations of norms, which has the potential to cause moral degradation of students. Therefore, a policy update is needed that integrates the balance between teachers and students. This study recommends a review of the policy to be more in line with national education goals and practical needs in the field.   Abstrak Kurikulum humanistik memberikan solusi untuk mendidik siswa menemukan jati dirinya. Pada kurikulum humanistik, siswa diajarkan untuk mengekspresikan potensi sifat kemanusiaannya sebagai individu yang bebas. Namun, kebebasan yang diberikan kepada siswa dalam menjalani proses akademis dapat menjadi masalah jika siswa tidak memiliki keinginan atau kemampuan untuk memahami potensi diri mereka, sehingga mereka mungkin kehilangan arah dalam proses belajar yang akan menggiring pada degradasi moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembangan kurikulum PAI berbasis humanistik dalam menghadapi degradasi nilai moral yang terjadi pada siswa kelas menengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam dan diperkuat dengan pendekatan studi literatur yang mendalam, melibatkan analisis dari buku, jurnal, dan dokumen kebijakan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum humanistik menimbulkan kurangnya otoritas guru dalam memberikan arahan tegas terhadap pelanggaran norma, yang berpotensi terjadinya degradasi moral siswa. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan kebijakan yang mengintegrasikan keseimbangan antara guru dan siswa. Penelitian ini merekomendasikan peninjauan kembali kebijakan agar lebih sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan kebutuhan praktis di lapangan. Kata Kunci: degradasi moral; pendidikan agama Islam; kebijakan pendidikan Islam
Competency-based education in midwifery: A comprehensive review of implementation strategies and outcomes in developing regions Prima Kusrini; Ari Indra Susanti
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.83661

Abstract

Competency-based education (CBE) is increasingly adopted as a reformative approach in midwifery education, particularly within developing regions such as Africa and South-East Asia. It aims to improve the preparedness of midwives to address complex maternal and newborn health challenges. This literature review employed a comprehensive analysis of 14 peer-reviewed studies, utilizing qualitative and mixed-method research designs. The studies included systematic reviews, gap analyses, and interview-based investigations across diverse educational settings. The review identified that CBE significantly enhances clinical competencies, theoretical knowledge, and professional self-confidence among midwifery students. Practical implementation strategies included the integration of simulation-based learning, continuous assessment, and mentorship models. However, significant barriers included inadequate institutional resources, faculty training, and resistance to pedagogical change. CBE offers a structured and outcomes-driven educational model that aligns theoretical instruction with practical skills acquisition. Its adoption addresses persistent gaps in midwifery training and contributes to workforce readiness in resource-limited settings. The findings suggest that CBE can serve as a transformative framework for midwifery education in developing regions. Policy support, investment in educator training, and curriculum reform are essential to realize its potential and improve reproductive health outcomes fully.   Abstrak Model pendidikan berbasis kompetensi (CBE) kini semakin diadopsi dalam program pendidikan kebidanan di negara-negara berkembang sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam praktik klinis serta menjawab kekurangan tenaga profesional di bidang kesehatan ibu dan bayi. Kajian literatur ini melibatkan analisis terhadap 14 artikel ilmiah yang telah melalui proses peer-review. Pendekatan yang digunakan meliputi metode kualitatif dan campuran, mencakup tinjauan sistematis, analisis kesenjangan, serta studi wawancara yang dilakukan di berbagai institusi pendidikan di kawasan Afrika dan Asia Tenggara. Studi-studi yang dikaji menunjukkan bahwa penerapan CBE secara signifikan memperkuat keterampilan praktik, pemahaman konseptual, dan rasa percaya diri mahasiswa kebidanan. Pendekatan yang paling efektif mencakup penggunaan simulasi dalam pembelajaran, pendampingan akademik, dan penerapan alat evaluasi berbasis kompetensi. Kendati demikian, implementasi CBE masih menghadapi hambatan, seperti keterbatasan sumber daya institusional, kurangnya pelatihan bagi tenaga pengajar, dan resistensi terhadap perubahan kurikulum. CBE berperan penting dalam menjembatani teori dan praktik, serta menawarkan pendekatan sistematis untuk meningkatkan mutu pendidikan kebidanan. Fokusnya pada pencapaian hasil memungkinkan pembentukan tenaga profesional yang lebih siap menghadapi tantangan di lapangan. Penerapan CBE memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan kebidanan di wilayah dengan sumber daya terbatas. Untuk mencapai dampak yang berkelanjutan, diperlukan dukungan berupa pelatihan tenaga pengajar, pembaruan kebijakan pendidikan, serta penguatan infrastruktur institusi. Keberhasilan implementasi model ini berkontribusi pada peningkatan layanan kesehatan ibu dan bayi serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan di negara-negara berkembang.. Kata Kunci: kebidanan; pendidikan berbasis kompetensi ; pendidikan tenaga kesehatan; strategi implementasi
Identification of learning habits of grade IV students of the elementary school Hanita Yulinda; Fabrina Dafit
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.80914

Abstract

Effective learning strategies can lead to high-quality education. This study investigates the learning patterns of outstanding students at SDN 020 Tanjung Harapan, Kampar Regency, using a qualitative descriptive research design. The research subjects consisted of students in grades 1, 2, and 3, homeroom teachers, and parents of children with special needs. Data were collected through interviews and observations, and analyzed through three stages: data reduction, data display, and conclusion or verification. The research findings reveal that high-achieving students tend to demonstrate positive study habits, including organizing and creating study plans, regularly attending classes, reviewing materials, managing time efficiently, maintaining focus, and applying discipline in their studies. These learning strategies are practiced both at school and at home, enabling students to manage academic stress effectively and sustain high performance. Furthermore, these findings are expected to motivate underachieving students to adopt similar study patterns, ultimately leading to improved academic outcomes and personal development.   Abstrak Strategi pembelajaran yang efektif dapat menghasilkan pendidikan berkualitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola belajar siswa berprestasi di SDN 020 Tanjung Harapan, Kabupaten Kampar, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas 1, 2, dan 3, wali kelas, serta orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan atau verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berprestasi cenderung memiliki kebiasaan belajar yang positif, seperti menyusun dan merencanakan jadwal belajar, mengikuti pelajaran secara teratur, mengulang materi, mengelola waktu dengan baik, menjaga fokus, serta menerapkan disiplin saat belajar. Strategi belajar ini dilakukan baik di sekolah maupun di rumah, sehingga membantu siswa dalam mengelola stres akademik dan mempertahankan prestasi yang tinggi. Selain itu, temuan ini diharapkan dapat memotivasi siswa yang kurang berprestasi untuk mengadopsi pola belajar serupa demi meningkatkan hasil akademik dan pengembangan diri. Kata Kunci: disiplin; kebiasaan belajar; pencapaian akademik; pola belajar
The effect of Powtoon learning media and inquiry learning models on students Meydi Susanti; Suciati Suciati; Ajat Sudrajat
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.83928

Abstract

The lack of technology utilization in the learning process and passive learning conditions result in students' involvement and learning outcomes being suboptimal. This study aims to analyze the effect of Powtoon learning media, utilizing inquiry learning methods, on affective learning outcomes and student involvement in learning. The type of research used is quasi-experimental. The subjects in this study were grade VI students from SDN 002 Barong Tongkok, comprising 30 students in the control class and 29 students in the experimental class. The data collection techniques employed included questionnaires, observations, and tests to assess the involvement and test results of students. The data analysis techniques used were descriptive and statistical tests. The results showed that the Powtoon media-assisted inquiry learning model had a significant effect on post-learning engagement. The inquiry learning model, assisted by Powtoon media, has a significant effect on cognitive and affective learning outcomes, as indicated by the results of the N-Gain calculation, categorized as moderate. It can be concluded that the Powtoon-assisted inquiry model learning can increase engagement and learning outcomes.   Abstrak Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran dan kondisi pembelajaran yang pasif menyebabkan keterlibatan serta hasil belajar peserta didik kurang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media pembelajaran Powtoon melalui metode pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar afektif dan keterlibatan peserta didik pada pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah Kuasi Eksperimental. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VI SDN 002 Barong Tongkok berjumlah 30 peserta didik untuk kelas kontrol dan 29 peserta didik kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner, observasi, dan tes untuk mengetahui keterlibatan serta hasil tes peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji deskripsi dan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri berbantuan media Powtoon berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan pasca-pembelajaran. Model pembelajaran inkuiri berbantuan media Powtoon berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kognitif dan afektif dapat dilihat dari hasil perhitungan N-Gain dengan kategori sedang. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model inkuiri berbantuan Powtoon dapat meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar. Kata Kunci: hasil belajar; keterlibatan peserta didik; model inkuiri; Powtoon
Integration of ICT as local content subject in SD Labschool UPI Amanda Devika Hakim; Angga Hadiapurwa
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.721

Abstract

This study examines the implementation of Information and Communication Technology (ICT) as a local content subject at SD Labschool, within the context of Kurikulum Merdeka as an educational innovation to enhance digital literacy and 21st-century skills. The purpose of this study is to describe the strategies for integrating ICT as local content, the role of educators, and the challenges faced during its implementation in the elementary school setting. This research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through direct observation and in-depth interviews with ICT teachers and library staff. The findings reveal that ICT integration includes the introduction of hardware, software. Teachers play a crucial role in guiding students to use technology wisely, especially considering the vulnerability of young learners to using digital devices primarily for entertainment. The library also has a role in providing reference sources that can support digital literacy at SD Labschool UPI. Challenges such as limited facilities and equipment damage are addressed through collaboration among teachers, students, and the school. This study emphasizes the importance of educators’ adaptability to technological developments and the potential of integrating ICT as local content to improve the quality of learning in elementary schools.   Abstrak Penelitian ini mengkaji implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran muatan lokal di SD Labschool dalam konteks Kurikulum Merdeka, sebagai inovasi pembelajaran untuk memperkuat literasi digital dan keterampilan abad ke-21. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan strategi integrasi TIK sebagai muatan lokal, peran pendidik, serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaannya di lingkungan sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan guru TIK serta staf perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi TIK dilakukan melalui pengenalan perangkat keras, perangkat lunak, serta keterampilan dasar seperti algoritma dan pemrograman sederhana menggunakan aplikasi Scratch. Guru berperan penting dalam membimbing murid untuk menggunakan teknologi secara bijak, khususnya mengingat karakteristik murid sekolah dasar yang masih rentan terhadap penggunaan perangkat digital untuk hiburan. Perpustakaan juga berperan dalam menyediakan sumber rujukan yang dapat menunjang literasi digital di SD Labschool UPI. Tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kerusakan alat diatasi melalui kolaborasi antara guru, murid, dan pihak sekolah. Penelitian ini menegaskan pentingnya adaptasi pendidik terhadap perkembangan teknologi serta potensi integrasi TIK sebagai muatan lokal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Kata Kunci: informatika; Kurikulum Merdeka; muatan lokal; teknologi informasi dan komunikasi
Implementation of the Kurikulum Merdeka in informatics learning and strengthening digital literacy Ilyas Saputra
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.722

Abstract

Kurikulum Merdeka is one strategy for improving skills needed in the 21st century. This study aims to analyze the implementation of the Kurikulum Merdeka in Informatics learning and examine how the role of school libraries can be optimized as strategic partners in supporting digital-based education. This study focuses on SMP Negeri 12 Bandung as a case study. This research uses a descriptive qualitative method through a case study approach, with data collected through observation, interviews, and literature review. The results show that the school has implemented the Kurikulum Merdeka collaboratively, making Informatics a compulsory subject, applying a project-based approach, and utilizing digital platforms. Challenges such as limited devices, the lack of a dedicated laboratory, and internet access are addressed by teachers through adaptive strategies. The library plays a strategic role as a provider of physical and digital learning resources and in curriculum development. However, the utilization of digital resources in the library still needs to be optimized. The implementation is considered progressive, although ongoing collaboration and strengthening the role of libraries are needed to support digital literacy more effectively.   Abstrak Kurikulum Merdeka menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Informatika serta menelaah bagaimana peran perpustakaan sekolah dapat dioptimalkan sebagai mitra strategis dalam mendukung pendidikan berbasis digital. Studi ini difokuskan pada SMP Negeri 12 Bandung sebagai studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara kolaboratif, menjadikan Informatika sebagai mata pelajaran wajib, serta menerapkan pendekatan berbasis proyek dan memanfaatkan platform digital. Tantangan seperti keterbatasan perangkat, ketiadaan laboratorium khusus, dan akses internet diatasi oleh guru melalui strategi adaptif. Perpustakaan berperan strategis sebagai penyedia sumber belajar fisik dan digital, serta turut berperan dalam pengembangan kurikulum. Namun, pemanfaatan sumber daya digital di perpustakaan masih perlu dioptimalkan. Implementasi dinilai progresif, meski dibutuhkan kolaborasi berkelanjutan dan penguatan peran perpustakaan untuk mendukung literasi digital secara lebih efektif. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; literasi digital; pembelajaran informatika
ICT education through project-based learning in the Kurikulum Merdeka Muhamad Wahyu Darmawan
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.724

Abstract

This study examines the implementation of the Kurikulum Merdeka in Information and Communication Technology (ICT) learning in junior high schools. The implementation of curriculum reform in technology-based subjects is crucial for preparing students to face the demands of digital literacy and 21st-century skills. This study was conducted to identify how ICT learning is implemented within the Kurikulum Merdeka and to explore the challenges and solutions implemented in schools. A qualitative descriptive method was used, involving direct observation and structured interviews with ICT teachers, curriculum coordinators, and school librarians. The study findings revealed that Project-Based Learning (PjBL) is consistently implemented in ICT classes, despite limitations in digital media and infrastructure. Challenges faced include a lack of computer laboratories, limited internet access, and teachers' reluctance to adapt to new teaching models. To overcome these obstacles, schools held internal training sessions, held collaborative discussions among teachers, and utilized student-owned devices. This study concluded that despite infrastructure limitations, the implementation of the Kurikulum Merdeka has a positive impact on students' digital skills and critical thinking. This research provides practical insights for schools, educators, and policymakers in optimizing curriculum reform in ICT subjects.   Abstrak Penelitian ini mengkaji penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP. Penerapan reformasi kurikulum dalam mata pelajaran berbasis teknologi sangat penting untuk mempersiapkan murid menghadapi tuntutan literasi digital dan keterampilan abad ke-21. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana pembelajaran TIK dilaksanakan dalam Kurikulum Merdeka serta mengeksplorasi tantangan dan solusi yang diterapkan di sekolah. Metode deskriptif kualitatif digunakan, yang melibatkan pengamatan langsung dan wawancara terstruktur dengan guru TIK, koordinator kurikulum, dan pustakawan sekolah. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Project-Based Learning (PjBL) secara konsisten diterapkan di kelas TIK, meskipun didukung oleh penggunaan media digital dan menghadapi keterbatasan infrastruktur. Tantangan yang dihadapi meliputi kurangnya laboratorium komputer, keterbatasan akses internet, serta kurangnya adaptasi guru terhadap model pengajaran baru. Untuk mengatasi kendala tersebut, sekolah menyelenggarakan pelatihan internal, diskusi kolaboratif antar guru, serta memanfaatkan perangkat milik murid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun terdapat keterbatasan infrastruktur, penerapan Kurikulum Merdeka berdampak positif terhadap keterampilan digital dan pemikiran kritis murid. Penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi sekolah, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam mengoptimalkan reformasi kurikulum pada mata pelajaran TIK. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; literasi digital; pembelajaran TIK; project-based learning
Analysis of teacher readiness implementing Kurikulum Merdeka in Informatics at Pelita Nusantara Samsul Maarip Aripin
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.726

Abstract

Rapid technological advancements in the globalization era have driven curriculum reform in Indonesia, including the Kurikulum Merdeka, which emphasizes learner-centered education and 21st-century skills through the Informatics subject in elementary schools. This study aims to analyze teacher readiness in implementing Kurikulum Merdeka at Pelita Nusantara Elementary School and to identify challenges and effective strategies. The study is significant for understanding the readiness of Informatics teachers, who require specialized technological skills and computational understanding, given that they are relatively new to teaching this subject. Employing a descriptive qualitative approach, the research involved in-depth interviews with Informatics teachers and observations at Pelita Nusantara School. Findings indicate that Informatics instruction remains at a basic level, dominated by a teacher-led instructional approach and limited use of digital media. Key challenges include inadequate ICT infrastructure, a lack of specialized training, and student behavior issues. These results underscore the importance of hands-on technical training, ICT infrastructure upgrades, and strengthened school-level collaboration to ensure the successful implementation of Kurikulum Merdeka in the Informatics subject.   Abstrak Perkembangan teknologi yang pesat di era global mendorong reformasi kurikulum di Indonesia, termasuk Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpusat pada peserta didik dan keterampilan abad ke-21, melalui Mata Pelajaran Informatika di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di SD Pelita Nusantara serta mengidentifikasi tantangan dan strategi yang efektif. Urgensi studi ini adalah untuk memahami kesiapan guru Informatika yang memerlukan keterampilan teknologi khusus dan pemahaman komputasional mengingat mereka relatif baru mengampu mata pelajaran ini. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan guru Informatika serta observasi di Sekolah Pelita Nusantara. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran Informatika masih pada tingkat dasar, didominasi oleh pendekatan instruksional, dengan pemanfaatan media digital yang terbatas. Tantangan utama meliputi keterbatasan infrastruktur TIK, ketiadaan pelatihan khusus, serta perilaku murid. Hasil ini menegaskan pentingnya pelatihan teknis langsung, peningkatan infrastruktur TIK, serta penguatan kolaborasi di tingkat sekolah untuk keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran Informatika. Kata Kunci: kesiapan guru; Kurikulum Merdeka; pembelajaran Informatika; pendidikan dasar
Systemic reflection on Informatics curriculum, models, and media in junior high school Agung Arya Anggara
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.727

Abstract

The implementation of the Informatics curriculum at the junior high school level faces significant challenges in integrating technology with effective learning models. The gap between the demands of digital competency and relevant learning practices warrants a comprehensive evaluation. This study aims to conduct a systematic evaluation of the implementation of the Informatics curriculum, analyze the effectiveness of the applied learning model, and assess the use of technological media in the learning process in junior high schools. This study employed a qualitative case study approach at SMP Labschool UPI. Data were collected through structured classroom observations, in-depth interviews with two Informatics teachers, and a comprehensive analysis of learning documents, including lesson plans and teaching modules. Data analysis was conducted through systematic reduction, thematic categorization, and reflective interpretation to identify implementation patterns. The findings indicate that the curriculum is implemented in line with the national framework, with contextual variations in learning models tailored to student characteristics and resource availability. Project-Based Learning (PjBL) and collaborative learning are the most dominant pedagogical strategies. The use of technological media demonstrates adequate integration of hardware and software, despite limitations in access and technical skills. This study highlights the importance of developing more contextual learning strategies and enhancing educator capacity through ongoing professional development programs.   Abstrak Implementasi kurikulum Informatika di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghadapi tantangan signifikan dalam mengintegrasikan teknologi dengan model pembelajaran yang efektif. Kesenjangan antara tuntutan kompetensi digital dan praktik pembelajaran yang relevan memerlukan evaluasi yang menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi sistemik terhadap implementasi kurikulum Informatika, menganalisis efektivitas model pembelajaran yang diterapkan, serta menilai pemanfaatan media teknologi dalam proses pembelajaran di SMP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di SMP Labschool UPI. Data dikumpulkan melalui observasi kelas terstruktur, wawancara mendalam dengan dua guru Informatika, serta analisis dokumen pembelajaran komprehensif yang mencakup rencana pelaksanaan pembelajaran dan modul ajar. Analisis data dilakukan melalui reduksi sistematis, kategorisasi tematik, dan interpretasi reflektif untuk mengidentifikasi pola implementasi. Temuan menunjukkan bahwa implementasi kurikulum mengikuti kerangka nasional, dengan variasi kontekstual dalam model pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik murid dan ketersediaan sumber daya. Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kolaboratif menjadi strategi pedagogis yang paling dominan. Pemanfaatan media teknologi menunjukkan integrasi perangkat keras dan lunak yang memadai meskipun terdapat keterbatasan akses dan keterampilan teknis. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengembangan strategi pembelajaran yang lebih kontekstual serta peningkatan kapasitas pendidik melalui program pengembangan profesional yang berkelanjutan. Kata Kunci: implementasi kurikulum; kurikulum Informatika; media dan model pembelajaran; teknologi pendidikan