cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INFORMASI
ISSN : 01260650     EISSN : 25023837     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
INFORMASI is an academic journal that centered in communication, is open and welcoming to contributions from the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is communication study. We are interested in scholarship that crosses disciplinary lines and speaks to readers from a range of theoretical and methodological perspectives. In other words, INFORMASI will be a forum for scholars when they address the wider audiences of our many sub-fields and specialties, rather than the location for the narrower conversations more appropriately conducted within more specialized journals. INFORMASI published twice a year (June and December) in Bahasa Indonesia or English.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Squatters: Tombak Bermata Ganda Dalam Pembangunan Koloni di Australia HY. Agus Murdiyastomo
Informasi Vol 28, No 1 (2000): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1829.391 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.7192

Abstract

Australia yang kini dikenal sebagai salah satu negara maju di bela­han bumi bagian selatan, adalah sebuah negara yang dibangun dengan susah payah oleh para pendatang dari Inggris. Dilatarbelakangi dengan situasi sosial ekonomi Inggris yang kacau, maka pemerintah Inggris me­mutuskan untuk membangun penal coloni di Australia. Imigran pertama yang dikirim adalah para narapidana, tetapi ke­nyataan mereka bukanlah pekerja keras, sehingga koloni tidak berkem­bang, yang tentu justru akan menjadi beban pemerintah Inggris. Untuk mengatasi hal tersebut diambillah kebijakan baru dengan mengirim imi­gran bebas, yang memang berminat untuk membuka dan mengembangkan usaha di Australia. Temyata kehadiran mereka memang membawa keber­hasilan, karena mereka memang orang-orang yang mempunyai etas kerja yang tinggi. Dalam perjalanan menuju keberhasilan itu mereka temyata jl/ga tidak segar/-segan melakukan pelanggaran. Mereka menduduki tanah kosong dan menguasainya untuk membuka usaha pertanian dan peternakan. Olek sebab itulah maka mereka disebut sebago; Squatters. Mereka ini berkembang menjadi orang-orang kaya di Australia, dan tumbuh menjadi kelompok borjuis. Dengan kekayaannya, para Squatters kemudian merambab bidang kehidupan yang lain, banyak di antara mereka menjadi anggota parlemen. Kedudukan di dewan legislatif me­mang mereka perlukan untuk mengamankantanah yang mereka kuasai. Dengan kekayaan pula mereka mempengaruhi pemerintah dalam melaku­kan perubahan politik.
KOMODIFIKASI SEKSUAL DALAM KEPENTINGAN EKONOMI PORTAL BERITA ONLINE Fadillah, Dani
Informasi Vol. 45 No. 2 (2015): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.97 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v45i2.7990

Abstract

Press entered a new era. It is characterized by developing online media. By nature papperless online media to be more efficient in operation. To disseminate content that they are prepared, generally the online media managers utilizing social media such as facebook, twitter, or etc. But not only leave it there, the content is spread also equipped with something that is able to attract the reader's attention. Even able to make the social media users who happen to view such content terpersuasi to click on the content. Generally seasoning the attention it is the things that are controversial (that it contains elements of sexuality). There has been a sexual commodification process undertaken by several online news portals to get as visitors. It confirms Marx and Mosco of commodification as a change of the exchange rate.Dunia pers memasuki era baru. Hal ini ditandai dengan berkembangkan media online. Dengan sifatnya yang papperless media online lebih hemat dalam pengoperasiannya. Dalam proses menyebarluaskan konten-konten yang mereka siapkan, umumnya para pengelola media online memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, atau yang sejenisnya. Namun, konten yang disebarkan turut dibekali dengan sesuatu yang mampu menarik perhatian pembaca. Bahkan mampu membuat para pengguna media sosial yang kebetulan melihat konten tersebut terpengaruh untuk melihat konten tersebut. Umumnya bumbu penarik perhatian itu adalah hal-hal yang sifatnya kontroversi (mengandung unsur seksualitas). Telah terjadi proses komodifikasi seksual yang dilakukan oleh beberapa portal berita online untuk mendapatkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Hal ini membenarkan pernyataan Marx dan Mosco tentang komodifikasi sebagai perubahan dari nilai tukar.
Analisis Framing dalam Riset Public Relations Prastya, Narayana Mahendra
Informasi Vol. 46 No. 2 (2016): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.176 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v46i2.10565

Abstract

This paper aims to give description about how to use frame analysis in Public Relations (PR) research. The author use two framing models: Entman and Pan & Kosicki. The object is organization official statement about particular issue. Frame analysis method rarely used in Public Relations research. This methods commonly use in journalism study, to analyse the news in media. Meanwhile, the key word of framing is the social construction of reality. Organization can make social construction of realty in their official statement. In acacemic term, frame analysis in PR research is useful to know how organization positioned themselves in particular situation. Other benefit is use to evaluat whether the organization frame is conformable with the public opinion or agenda setting media or not. In practical term, frame analysis give benefit for PR practitioner to create the message that can be undserstood by public, also give positive image for organization.
POLITIK KOLONIAL DAN PERKEMBANGAN SENI TARI DI PURO PAKUALAMAN PADA MASA PEMERINTAHAN PAKU ALAM IV (1864-1878 HY. Agus Murdyastomo
Informasi Vol 38, No 2 (2012): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.123 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.4451

Abstract

Pusat budaya di Yogyakarta selama ini yang lebih banyak diketahui oleh masyarakat adalah Kraton Kasultanan Yogyakarta,  tetapi sesungguhnya selain Kraton Kasutanan masih terdapat pusat budaya yang lain yaitu Pura Paku Alaman. Di Kadipaten telah terlahir tokoh-tokoh yang sangat memperhatikan kelestarian budaya Jawa khususnya seni tari tradisi. Salah satunya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam IV, yang pada masa ia berkuasa, budaya Barat yang dibawa oleh kaum kolonialis melanda daerah jajahan. Hadirnya budaya asing tentu sulit untuk ditolak. Namun demikian denga piawainya KGPAA Paku Alam IV, justru mengadopsi budaya Barat, tetapi ditampilkan dengan rasa dan estetika Jawa, dalam bentuk tari klasik. Sehingga pada masanya lahir repertoar tari baru yang memperkaya seni tari tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan seni tari di Pura Pakualaman pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam IV, dan hal-hal apa yang melatarbelakangi penciptaannya. Dalam rangka mewujudkan rekonstruksi ini dilakukan dengan metode sejarah kritis, yang tahapannya meliputi Pertama, Heuristik, atau pencarian dan pengumpulan sumber data sejarah, yang dalam hal ini dilakukan di BPAD DIY, dan di Perpustakaan Pura Pakualaman. Di kedua lembaga tersebut tersimpan arsip tentang Paku Alaman, dan juga naskah-naskah yang berkaitan dengan penciptaan tari. Kedua, Kritik, atau pengujian terhadap sumber-sumber yang terkumpul, sumber yang telah terkumpul diuji dari segi fisik untuk memperoleh otentisitas, kemudian membandingkan informasi yang termuat dengan informasi dari sumber yang berbeda, untuk memperoleh keterpercayaan atau kredibilitas.  Ketiga, Interpretasi yaitu informasi yang ada dikaji untuk diangkat fakta-fakta sejarahnya, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kisah sejarah. Untuk memperkuat interpratasi dan pemaknaan rangkaian fakta digunakan juga pendekatan budaya dalam hal ini digunakan teori akulturasi dan asimilasi. Keempat Kisah yang terangkai kemudian dituangkan dalam tulisan laporan dengan mengikuti kaidah dan teknik penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukan, bahwa  paska serangan Inggris ke Kasultanan Yogyakarta, aktivitas social politik dan ekonomi tidak dapat dilakukan dengan leluasa. Sehubungan dengan itu para raja di Jawa aktif di bidang budaya. KGPAA Paku Alam IV mempunyai perhatian besar dalam pengembangan seni tradisi khususnya tari. Banyak budaya Barat yang diserap dalam tarian yang digubah pada jamannya. Terdapat 5 nomor tarian lepas yang digubah pada masa pemerintahannya 3 diantaranya yaitu Beksan Floret, Sabel, dan Inum idenya berasal dari kebiasaan orang barat, yang kemudian digubah menjadi tarian dengan estetika Jawa. Kata Kunci : Paku Alaman, Seni Tari.
SEMIOTICS OF BORDER (ANALYSIS OF BATAS, A FILM OF RUDI SOEDJARWO) Sumekar Tanjung; Indra Ramanda
Informasi Vol 49, No 1 (2019): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.122 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i1.25396

Abstract

 This research was conducted to explain the presentation of the boundary meanings presented by Batas film through their character. The border becomes the front face of a country. The social conditions of people who are still lagging behind and far from infrastructure development make the people living in the border vulnerable to various problems. As a message delivery medium, meanings are represented by character in film. The author analyzed five scenes on each character in Batas film. These are, Ubuh’s character is threatened by the bad people who chase her in the middle of the forest, Arif’s character as a police officer who looking for the information in the community, Jaleswari’s character who cares about education problems at the border, Adeus’s character who has great desire for the advancement of the people at the border but get threats from individuals who do not want the people on the border to get a high education, the character of the Panglima who has power in the Dayak tribe community. This study uses a critical paradigm with a qualitative approach. The process describes the meaning of signs into denotations, connotations, and myths. The results of this study indicate that meanings are defined as areas that have complex problems. Access to transnational crime is still very easy as security is needed in the area. Despite the increase in technology and technology, the region must have the slightest education, strive to advance the regions, without prioritizing their own interests without ignoring the cultural values of their ancestors. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan reperesentasi makna batas yang dihadirkan oleh pembuat film Batas melalui karakter tokohnya. Perbatasan menjadi wajah terdepan dari suatu negara. Keadaaan sosial masyarakat yang masih tertinggal dan jauh dari pembangunan infrastruktur, membuat masyarakat suku Dayak yang tinggal di pedalaman rentan terhadap berbagai permasalahan. Sebagai medium penyampai pesan, film ini penting dikaji untuk menjelaskan bagaimana makna batas direpresentasikan melalui masing-masing karakter. Peneliti melakukan analisis terhadap lima scene pada masing-masing karakter dalam film Batas. Kelima scene tersebut adalah, karakter Ubuh yang terancam dengan adanya orang-orang jahat yang mengejar di tengah hutan, karakter Arif sebagai aparat penegak hukum yang mencari informasi di tengah masyarakat, karakter Jaleswari yang peduli terhadap masalah pendidikan yang terjadi di perbatasan, karakter Adeus yang memiliki keinginan besar demi kemajuan masyarakat di perbatasan namun mendapatkan ancaman dari oknum yang tidak ingin masyarakat di perbatasan mendapatkan pendidikan yang tinggi, karakter Panglima yang memiliki kuasa di masyarakat suku Dayak. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan pendekatan kualitatif. Proses analisis yang dilakukan adalah semiotika model Roland Barthes yang menjabarkan makna tanda menjadi denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna batas dimaknai adalah daerah-daerah yang memiliki masalah kompleks. Akses kejahatan transnasional masih sangat mudah, sangat diperlukan pengamanan di daerah tersebut. Meskipun terjadi peningkatan teknologi dan teknologi, wilayah harus tetap memiliki pendidikan sekecil apapun, berjuang memajukan daerah, tanpa mementingkan kepentingan sendiri tanpa mengabaikan nilai budaya leluhurnya.
Self Representation In Social Media Machmiyah, Siti
Informasi Vol 49, No 1 (2019): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.292 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i1.25480

Abstract

Editorial
Media anthropology: Studying the life of media consumers through audience ethnography Lily El Ferawati Rofil
Informasi Vol 49, No 2 (2019): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.145 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i2.29551

Abstract

Editorial
Mapping Digital Fluency in Diverse Socio-Economic Status of Citizens of DKI Jakarta 2017 Parahita, Gilang Desti
Informasi Vol. 47 No. 2 (2017): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.757 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v47i2.16224

Abstract

The loss of Ahok-Djarot, incumbent candidate pair, in the second round of gubernatorialelection was allegedly related to the spread of digital disinformation. In addition, racialand religious sentiments in the society of DKI Jakarta have been fathomed evident inthe last election. The phenomenon has driven a study on digital fluency in diverse socioeconomicstatus (SES) for example age, gender, religion, ethicity, religiousity, level ofeducation and level of income in family. Survey was conducted to 189 voters of DKIJakarta. Results show that respondents from different socioeconomic background havediverse digital fluency with the widest gaps occurred between people from lowest andhighest level of religiosity, income and education. Respondents from different gender,age generation and religion background do not have considerable fluency gaps. However,using pearson correlational analysis, only level of income and education that predictsdigital fluency level.Fenomena kekalahan Ahok-Djarot pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta tersebutditengarai mudahnya warga termakan informasi digital bohong. Selain itu, sentimenras dan agama di masyarakat DKI Jakarta yang selama ini bagaikan api dalamsekam dianggap terbukti pada Pilgub DKI terakhir. Fenomena tersebut mendorongdilakukannya riset mengenai tingkat kefasihan digital pada beragam status sosialekonomi. Status sosial ekonomi yang dimaksud dalam konteks riset ini adalah ialahusia, gender, agama, etnis, tingkat kesalehan beragama, tingkat pendidikan, dantingkat pendapatan dalam keluarga. Survei diselenggarakan terhadap 189 pemilih diDKI Jakarta. Temuan menunjukkan bahwa responden yang berlatar belakang beragamsosio ekonomi memiliki keragaman kefasihan digital pula dengan kesenjangankefasihan tertinggi terjadi di antara kelompok responden berkelas tertinggi danterendah di tingkat kesalehan, pendapatan dan pendidikan. Responden dari gender,generasi usia dan agama yang berbeda tidak menunjukkan kesenjangan fluensi yangpatut dipertimbangkan. Selain itu, dengan menggunakan analisis korelasional, hanyalevel pendapatan dan pendidikan yang mempengaruhi level kefasihan digital
SYNCRONIZING COMMUNICATION, MEDIA, AND CULTURE Lily El Ferawati Rofil
Informasi Vol 48, No 1 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.282 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i1.20533

Abstract

Editor of Jurnal Informasi
STATE POSITION AMONG OF THE INFORMATION TECHNOLOGY PARADIGM: REVIEW OF THE MEDIA LITERACY MOVEMENT BY DIY KPID AND BTKP DIY Annisa, Firly
Informasi Vol 48, No 2 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.203 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i2.15873

Abstract

The Democratic System of Pancasila that has been chosen by Indonesian founders give several consequences. The state needs to be responsible for regulating equality policies for every citizen. Not only about the issue of equitable economic resources but also equal access to information. In the context of the country, democracy and markets equal access to information can be understood as information technology paradigm. This paradigm means that all systems that use by technology information are defined by networking sense, which is an empowering citizen to influence a wide variety of processes. Through the observation and depth of methods, this research examines the role of the Yogyakarta Provincial Education and Sports Agency for educating students and the equitable distribution of information technology. The city was chosen as a research umbrella carried out by Media Literacy Activists Network in 2017. As result of this research shows that literacy education efforts were carried out by Indonesia Broadcasting Commision of Yogyakarta Special Region were still struggling in a protectionist perspective, while The Institute of Government Education Communication Technology in Yogyakarta Province is using creative media approach as an effort to use technology as part of empowerment.Sistem Demokrasi Pancasila yang dipilih oleh para pendiri bangsa Indonesia melahirkan beberapa konsekuensi logis. Diantaranya menuntut peran negara dalam mengatur kebijakan pemerataan keadilan. Keadilan tidak hanya pada persoalan pemerataan sumber-sumber ekonomi, namun juga pemerataan akses informasi. Dalam masyarakat, akses informasi ini di sebut sebagai paradigma teknologi informasi. Paradigma ini berarti ketika semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh ‘logika jaringan’ yang memungkinkan mereka memengaruhi suatu varietas luas proses-proses dan organisasi-organisasi. Ketika “logika jaringan” tersebut telah terjadi dengan melimpahnya akses informasi di dunia maya lalu langkah-langkah seperti apa yang diterapkan oleh Negara khususnya Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Yogyakarta untuk mendidik siswa dan guru sebagai bagian dari pemerataan keadilan dalam teknologi informasi? Kota ini dipilih berkaitan dengan payung riset yang dilakukan bersama-sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Media (Japelidi) pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan instrumen yang telah disusun melalui pengayaan teori digital literasi berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu, memetakan aktivitas Literasi Digital. Melalui desk study, observasi dan wawancara mendalam sebagai metode, peneliti menemukan upaya pendidikan literasi yang dilakukan KPID DIY masih berkutat dalam perspektif proteksionis sedangkan BTKP DIY lebih pada pendekatan media kreatif sebagai upaya menggunakan teknologi sebagai bagian dari pemberdayaan.