cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
BAPALA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal berkala ilmiah mahasiswa yang diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jur. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa. Jurnal ini berisikan publikasi kependidikan, kesastraan, dan kebahasaan.
Arjuna Subject : -
Articles 369 Documents
LEGENDA SAWUNGGALING DI LIDAH WETAN SURABAYA FUADILA ALHUMAHERA, DIANA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fokus penelitian pada penelitian ini ada empat yakni bagaimana miteme, episode, oposisi biner dan nilai keutamaan dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan, Surabaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan miteme, episode, oposisi biner dan nilai keutamaan dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan, Surabaya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Strukturalisme Claude Levi Strauss. Menurut Levi-Strauss (dalam Ahimsa-Putra, 2001:95) mytheme adalah unsur-unsur dalam konstruksi wacana mitis (mythical discourse), yang juga merupakan satuan-satuan yang bersifat kosokbali (oppositional), relatif, dan negatif. Selain itu, mengingat panjangnya cerita dalam legenda, Levi-Strauss membaginya ke dalam beberapa episode. Episode adalah potongan cerita yang setiap bagiannya terdapat pokok tema yang nantinya disatukan menjadi cerita yang utuh. Di dalam episode terdapat sangkutpautnya dengan miteme (Levi Strauss dalam Ahimsa-Putra, 2001:212).Menurut Levi Strauss (2005:214-215) setiap mitos dan legenda memiliki oposisi biner dan oposisi terner. Pertalian dengan kelas, seperti atas bawah, laki laki perempuan, jantan betina. Oposisi biner memiliki sifat saling kontras, bertentangan, atau merupakan kebalikannya.Dalam mitos atau legenda terdapat nilai keutamaan untuk menilai manusia atau tokoh secara hierarki adalam suatu legenda. Nilai keutamaan dalam legenda adalah nilai yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam legenda. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut dengan metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiyono, 2010:1). Dengan penelitian ini, peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut, (1) miteme dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan berjumlah tiga puluh tujuh miteme, (2) episode dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan berjumlah tiga episode yakni, kegemaran Joko Berek (JB) dan kegigihan Joko HaBerek untuk bertemu Bapaknya, Jayengrono (JR), usaha Joko Berek (JB) dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Jayengrono (JR), dan perebutan tahta dengan menjatuhkan umbul-umbul yudha menjadikan Joko Berek (JB) sebagai Temenggung di Surabaya, (3) oposisi biner dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan berjumlah dua puluh lima, dan (4) nilai keutamaan dalam legenda Sawunggaling di Lidah Wetan berjumlah lima yakni, patuh kepada orang tua, pantang menyerah, tidak memandang orang sebelah mata, berkata jujur, dan rendah hati. Kata Kunci: legenda Sawunggaling, Strukturalisme Levi-Strauss, Nilai keutamaan Abstract Research focuses on this research there are four namely how the mytheme, episode, binary opposition and the value of virtue in the legend of Sawunggaling in Lidah Wetan, Surabaya.The purpose of this study is to find and describe the mytheme, episode, binary opposition and the value of virtue in the legend of Sawunggaling in Lidah Wetan, Surabaya. This study use theory structuralism Claude Levi Strauss.According to Levi-Strauss (in Ahimsa-Putra, 2001:95) mytheme are elements in the construction of mythical discourse, which are also cosokbali, relative, and negative units. Moreover, given the length of the story in the legend, Levi-Strauss divides it into several episode. Episode are pieces of the story that every part there is a theme that will be put together to integrate the whole story. In the episode there is a link to mytheme (Levi-Strauss in Ahimsa-Putra, 2001:212). According to Levi-Strauss (2005:214-215) every myth and legend has binary opposition and ternary opposition. Ties with classes, such as top down, male, female. Binary opposition have contrasting, contradictory, or opposite properties. In myth or legend there is a value of virtue to judge people or figures hierarchically in a legend. The value of virtue in the legend is a value that has a higher position in the legend. The type of research used is descriptive qualitative. Qualitative research methods are often referred to asa naturalistic research methods because the research is natural, also called etnographi method because initially this method is more widely used for research in the field of cultural anthropology, referred to asa qualitative method because the data collected and the analysis is more qualitative (Sugiyono, 2010:1). With this research, the researchers got the following results: (1) the mythem in Sawunggaling legend in Lidah Wetan amounted to thirty seven mythems, (2) episodes in Sawunggaling legend on Lidah Wetan amounted to three episodes, that is Joko Berek (JB) Joko and Joko persistence Berek to meet his Father, Jayengrono (JR), Joko Berek (JB)s effort in completing the tasks assigned by Jayengrono (JR), and the seizure of the throne by dropping the udul-umbul yudha made Joko Berek (JB) as Temenggung in Surabaya, (3) the binary opposition in the legend of Sawunggaling in Lidah Wetan is twenty-five, and (4) the value of virtue in the legend of Sawunggaling in Lidah Wetan is five, that is, obedient to parents, never giving up, not looking at one eye, honest and humble. Keywords: Sawunggaling legend, Levi Strauss structuralism, virtue value
PENGEMBANGAN MEDIA ILUSI CARD UNTUK PEMBELAJARAN MENULIS CERITA FANTASI BAGI SISWA KELAS VII SMP HARYANI CHASANA, SITI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada kurikulum 2013, cerita fantasi menjadi kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan di tingkat SMP/MTs kelas VII. Kompetensi dasar mengenai cerita fantasi mampu memacu dan mengembangkan daya imajinasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media ilusi card dalam pembelajaran menulis cerita fantasi bagi siswa kelas VII SMP. Media ilusi card yang dikembangkan berdasarkan pada pengembangan media dan kualitas media yang memperhatikan tiga aspek, yakni kevalidan, keefektifan, dan kepraktisan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan (research and development) bermodel Sadiman dkk. Data pengembangan media ilusi card berupa deskripsi proses pengembangan media. Subjek uji coba dalam penelitian dan pengembangan ini adalah siswa SMPN 29 Surabaya. Uji coba dilakukan melalui dua tahap, yakni uji coba terbatas untuk sepuluh siswa kelas VII B dan uji coba luas untuk 32 siswa kelas VII A. Teknik pengumpulan data dengan teknik angket, validasi, observasi, dan tes, dianalisis menggunakan metode deskripsi kuantitatif. Hasil penelitian pengembangan media ilusi card dilakukan dengan melalui beberapa tahap, di antaranya analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, perumusan tujuan, perumusan butir-butir materi, perumusan alat pengukur keberhasilan, penulisan rancangan media, pemvalidasian dan perevisian, pengujicobaan, dan pemproduksian media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas media ilusi card untuk pembelajaran menulis cerita fantasi bagi kelas VII SMP layak digunakan dengan predikat ?sangat baik? dengan persentase 91,2%. Pada aspek kevalidan, media ilusi card divalidasi berdasarkan kesesuaian isi/materi dan penyajian mendapatkan hasil persentase 87,7% dengan predikat ?sangat baik?. Pada aspek keefektifan, media ilusi card dinilai berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dan siswa dan hasil tes belajar siswa menunjukkan hasil persentase 87,6% dengan predikat ?sangat baik?. Pada aspek kepraktisan, media ilusi card dinilai berdasarkan penyebaran angket repons siswa menunjukkan persentase 98,2% dengan predikat ?sangat baik?. Kata Kunci: Pengembangan, Ilusi Card, Menulis Cerita Fantasi. Abstract In the 2013 curriculum, fantasy stories became the basis of knowledge and skills competency in SMP / MTs class VII. Basic competence about fantasy story is able to stimulate and develop childs imagination. This research aims to develop ilusi card media for fantasy story writing lessons for student class VII SMP. Ilusi card media are developed based on media development and media quality that pay attention to three aspects, namely the validity, effectiveness, and practicality. This study uses research and development design modeled Sadiman et al. Data ilusi card of media development in the form of a description of media development process. Subjects trials in research and development are students of SMPN 29 Surabaya. The trials were conducted through two stages: a limited trial for ten students of class VII B and extensive trial for 32 students of VII B. Data collection techniques using questionnaires, validation, observation, and tests were analyzed using quantitative description method. The results of developing the ilusi card media is done through several stages, including the analysis of the needs and characteristics of the students, the formulation of objectives, the formulation of material points, the formulation of measuring tools of success, writing media design, validation and revision, trial, and production ready script. The results showed that the quality of ilusi card media for fantasy story riting lessons for student class VII SMP worthy to be used with a ?very good? predicate with a percentage of 91.2%. In the aspect of validity, the ilusi card media is validated based on the content / material conformity and the presentation gets the result of 87.7% percentage with the predicate "very good". In the effectiveness aspect, the ilusi cad media was assessed based on the observation result of teacher and student activity and the result of student learning test showed the result of percentage 87,6% with the predicate "very good". In the aspect of practicality, the ilusi card media judged based on the questionnaire of repons students showed 98.2% percentage with the predicate "very good". Keywords: Research and Development, Ilusi Card, Writing Fantasy Stories.
MITOS KECANTIKKAN DALAM NOVEL DRUPADI KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA ROUDATUL MASITO, RIZA; , SETIJAWAN
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Mitos kecantikan merupakan alat feminisasi perempuan yang membuat mereka terpenjara dalam ketidakpuasan terhadap tubuhnya, rasa tidak bisa memuaskan laki-laki, bahkan membenci dirinya sendiri. Perempuan yang memiliki rambut lurus ingin memiliki rambut keriting dan perempuan berambut keriting ingin meluruskan rambutnya. Sebagai sebuah konstruksi kecantikan, idealisasi itu tidak abadi. Ia berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman dan kepentingan. Konstruksi tidak perlu ditakuti selama sebagai perempuan kita telah memiliki pengetahuan dan mengenal diri sendiri. Ada yang menilai cantik dari paras semata, ada juga yang menilai dari hatinya. Meski selama ini definisi dan kategori cantik dinilai kebanyakan orang dari fisik semata. Hal tersebut telah dijabarkan oleh Naomi Wolf dalam perspektif mitos kecantikkan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini mengkaji mengenai mitos kecantikkan yang terdapat dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan objektif. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma tahun 2017 dan refleksi gambaran sosial yang terjadi dalam masyarakat. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan kata, kalimat dan paragraph yang menunjukkan mitos kecantikkan dalam novel dan berita. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pustaka. Metode analisi data yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Hasil penelitian yang ditemuka dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma yaitu, gambaran Drupadi yang dilihat dari berbagai aspek seperti asal-usul, penampilan fisik, sifat, dan status sosialnya . Mitos kecantikan yang terdapat di dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma merupakan permasalahan tentang feminisme, di mana terjadi semacam praktik patriarki di dalamnya. Tentu saja, kecantikan Drupadi di sini juga terkait dengan praktik yang membelenggunya. Kita bisa membayangkan bagaimana jika Drupadi tidak memiliki paras yang cantik, atau paling tidak, tidak ada keistimewaan sama sekali mengenai wajah Drupadi serta tubuhnya, maka Drupadi bisa saja menjadi perempuan yang diabaikan oleh para laki-laki. Tidak hanya itu, novel ini pun berupaya untuk melampaui mitos kecantikan dengan menghancurkan stereotipe yang menganggap bahwa kecantikan fisik berbanding lurus dengan kecantikan nonfisik. Selain itu, novel ini juga membuat sebuah mitos tandingan. Namun, upaya-upaya yang dilakukan oleh novel ini cenderung masih lemah. penilaian yang dihancurkan oleh novel ini hanya penilaian yang melekat pada tokoh perempuan saja. Sementara itu, para tokoh yang "tidak cantik" belum bisa lepas dari mitos kecantikan yang memuja kecantikan fisik. Hal ini menggambarkan bahwa mitos kecantikan tandingan yang dibuat belum bisa menghancurkan mitos sebelumnya. Mitos kecantikan yang terdapat di dalam novel ini merupakan representasi dari kekuasaan. . Kata Kunci : mitos kecantikan, wacana, tokoh, novel Drupadi, Naomi Wolf Abstract beauty myth is a feminization of women that keeps them imprisoned in dissatisfaction with their bodies, a sense of not being able to satisfy men, even hate themselves. Women who have straight hair want to have curly hair and curly haired women want to straighten her hair. As a beauty construction, idealization is not eternal. He changes with the times and interests. Construction need not be feared as long as we women have knowledge and know ourselves. There is a beautiful rate from the mere paras, there is also a judge of his heart. Although all this time, the definition and the beautiful category are considered mostly from the physical. It has been described by Naomi Wolf in the perspective of beauty myth. Based on this, this study examines the beauty myths contained in Drupadis novel by Seno Gumira Ajidarma. This research is a qualitative research using object approach. Sources of data in this study consisted of Drupadis novel by Seno Gumira Ajidarma in 2017 and a reflection of the social picture that occurred in society. The data in this study are quotations of words, sentences and paragraphs that show the beauty myth in novels and news. Data collection method used is literature method. Data analysis method used is descriptive analysis method. The result of research which is found in Drupadis novel by Seno Gumira Ajidarma is Drupadis picture which seen from various aspect such as origin, physical appearance, nature, and social status. The beauty myth contained in Drupadis novel by Seno Gumira Ajidarma is a matter of feminism, in which there is a kind of patriarchal practice in it. Of course, the beauty of Drupadi here is also linked to the practice of binding it. We can imagine what if Drupadi did not have a beautiful face, or at least, no privileges at all about Drupadis face and body, then Drupadi could have been a woman ignored by men. Not only that, this novel also seeks to go beyond beauty myth by destroying stereotypes that assume that physical beauty is directly proportional to nonphysical beauty. In addition, this novel also makes a counter myth. However, the efforts made by this novel tend to be weak. the judgment destroyed by this novel is only an inherent judgment on the female character alone. Meanwhile, the characters who are "not beautiful" can not be separated from the beauty myth that worships the physical beauty. This illustrates that the rival beauty myths created can not destroy the previous myth. The beauty myth contained in this novel is a representation of power. Keywords: beauty myths, discourses, characters, novels Drupadi, Naomi Wolf
EKSISTENSI TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL NYONYA JETSET KARYA ALBERTHIENE ENDAH SETYA KEMALA SARI, NIKMAS
BAPALA Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of life that occurs in society in general in the form of social problems. One of the social problems that occurs in society is gender bias with all the stigma that discredits women and puts men at the center of life. This happens because people do not understand well the gender roles that exist in the community, so that the negative stigma of women continue to occur for generations that ultimately form the construction of patriarchal society. This research includes the type of qualitative research because this research data in the form of words and description of sentences according to research problems. The approach used in this research is mimetic approach. There are two types of data sources in this study, namely primary and secondary date sources. The primary date source in this research is Alberthiene Endah Nyonya Jetset novel while secondary data source of this research is factual news related to research problem. Date collection techniques used in this study is a library technique. library techniques is a technique of date collection using literature sources as reference research applied when searching and collecting data from text books, encyclopedia, monograp, and the like. The result of this research is literature is a reflection of a phenomenon of life in society. however, in literature does not necessarily tell the details of life in society, it only has the same story and storyline. Kaywords : Literature work, Feminist, Existence, Nyonya Jetset.
PERKEMBANGAN JENIS KALIMAT DALAM BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) BAYU PRASTYO, AHMAD
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengajaran BIPA sama halnya membelajarkan seorang amatir hingga menjadi profesional. Problematika utama pemelajar BIPA dalam belajar bahasa Indonesia terletak pada tata bahasa. Penggunaan tata bahasa yang tepat dalam bahan ajar dapat memudahkan pembelajaran. Pemelajar BIPA memiliki bahan ajar yang terdiri atas enam jenjang, yaitu A1, A2, B1, B2, C1, dan C2 yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, dalam penilitian ini akan dilihat apakah perkembangan tata bahasa dalam bahan ajar BIPA sesuai dengan hakikat perkembangan dan teori oxford reding tree, yaitu dari sederhana ke kompleks pada bahan ajar jenjang awal ke jenjang yang lebih tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa dalam bahan ajar BIPA. Data dalam penelitian ini adalah kalimat yang ada dalam bahan ajar BIPA. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik catat. Instrumen pengumpulan data adalah tabel klasifikasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu (PUP) dan teknik lanjutan teknik hubung banding menyamakan (HBS), teknik hubung banding membedakan (HBB), dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP). Hasil penelitian menunjukkan jenis kalimat dalam bahan ajar BIPA menunjukkan perkembangan baik pada kalimat tunggal dan pada kalimat majemuk menunjukkan perkembangan yang tidak baik. Kata kunci: Afiksasi, Reduplikasi, Komposisi, Jenis Kalimat, Perkembangan, Bahan Ajar BIPA
PERUBAHAN MAKNA PADA KOMENTAR PERTANDINGAN SEPAK BOLA TIMNAS INDONESIA U19 PIALA AFF 2017 SHOHIBURRIDA, MUHAMMAD
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perubahan makna adalah peralihan makna satuan bahasa dari satu susunan ke susunan lain atau peralihan makna bahasa dalam sejarah suatu bahasa atau konteks dengan bahasa lain. Perubahan makna dapat diakibatkan oleh berbagai faktor yang mengakibatkan sebuah makna kata berubah dari makna awalnya sehingga akan muncul makna baru dari kata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis perubahan makna, (2) faktor penyebab perubahan makna, (3) konteks situasi perubahan makna. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa dan kalimat yang mengandung fenomena perubahan makna dalam komentar pertandingan Pertandingan Sepak Bola Timnas Indonesia U-19 pada Piala AFF 2017. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. kajian ini. Instrumen pengumpulan data adalah tabel check list. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) perubahan makna yang terjadi pada komentar pertandingan sepak bola timnas Indonesia pdi piala AFF U19 adalah perubahan makna meluas, perubahan makna total, perubahan makna pengasaran, dan perubahan makna asosiasi. perubahan makna yang paling banyak muncul adalah perubahan makna asosiasi karena penutur lebih banyak mengeluarkan kata-kata atau frasa yang mengandung sifat yang sama dengan kata atau frasa dalam konteks sepak bola; (2) faktor penyebab perubahan makna yang pada jenis perubahan makna adalah faktor perbedaan bidang pemakaian, perkembangan istilah, dan faktor asosiasi. faktor penyeban perubahan makna yang paling banyak adalah faktor perbedaan bidang pemakaian; (3) konteks situasi yang menyebabkan mumculnya kata-kata yang mengandung perubahan makna adalah konteks situasi peristiwa. . Kata kunci: jenis perubahan makna, faktor penyebab perubahan makna, konteks situasi perubahan makna.
PENGARUH METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) TERHADAP HASIL BELAJAR MENULIS TEKS ULASAN KELAS VIII MTS AL-MUSTHOFA TAHUN AJARAN 2017/2018 ALI WAFA ASWIN, KHARIS
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum 2013 yang berlaku pada pembelajaran adalah kurikulum berbasis teks. Untuk menuangkan suatu ide ke dalam bentuk teks diperlukan ketrampilan menulis yang cukup.Berdasar hasil wawancara dengan pendidik mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII di MTs Al-Musthofa Mojokerto menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi menulis teks ulasan peserta didik kelas VIII kurang optimal. Dalam upaya membelajarkan peserta didik menulis teks ulasan, metode CIRC dapat digunakan atau bisa menjadi solusi metode pengajaran bagi pendidik. Hal itu disebabkan CIRC merupakan komposisi terpadu antara membaca dan menulis secara kooperatif-kelompok. CIRC adalah jenis pembelajaran cooperative learning, yaitu suatu pembelajaran yang menggunakan semua jenis kerja kelompok yang lebih dipimpin dan diarahkan oleh pendidik. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan jenis Quasi Experimental Design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII di MTs Al-Musthofa Mojokerto. Sampel penelitian ini adalah kelas VIII B dan C. Kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu observasi, tes dan angket. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perhitungan uji signifikansi menggunakan uji-t. Pada perhitungan hasil T0 = 3,8, db = 60. Dengan db 60 diperoleh ttabel pada ts-0,05 = 1,67 dan ts-0,01 = 2,39, karena t yang diperoleh dalam perhitungan, yaitu t0 = 3,8 lebih besar dari ttabel baik pada taraf siginifikansi 0,05 maupun pada taraf signifikansi 0,01. Karena t hitung menunjukkan lebih besar dari ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dapat memengaruhi kemampuan menulis peserta didik kelas VIII MTs. Al-Musthofa. . Kata kunci: pengaruh, ulasan, CIRC.
PERKEMBANGAN KOSAKATA DAN FONOTAKTIK PADA BUKU AJAR BIPA TINGKAT A1—C2 TERBITAN KEMENDIKBUD CHABIBAH, SHELYA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2 ditujukan untuk warga asing yang ingin mahir berbahasa Indonesia. Kemahiran berbahasa berindikator utama memiliki penguasaan kosakata yang cukup. Karena itu, buku yang ideal ialah yang meningkatkan penguasaan kosakata. Kata terdiri atas deret fonem yang sistematis. Deret tersebut adalah fonotaktik. Dengan penganalisisan fonotaktik, diketahui tingkat kerumitan kosakata yang dipelajari. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perkembangan kosakata dan fonotaktik pada Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2. Data penelitian adalah kosakata bahasa Indonesia pada Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan teknik catat. Instrumen pengumpulan data adalah tabel klasifikasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu (PUP) dan teknik lanjutan teknik hubung banding menyamakan (HBS), teknik hubung banding membedakan (HBB), dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP). Hasil penelitian adalah 1) perkembangan kosakata pada Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2 fluktuatif dengan proporsi kelas kata seimbang: Buku A1 berisi 1930 kata, A2 1663, B1 2569, B2 3524, C1 2617, dan C2 2629 sehingga dinyatakan kurang baik dan 2) perkembangan fonotaktik pada Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2 meningkat berdasarkan jumlah: ada 10 pola pada Buku A1, 10 pada A2, 11 pada B1, 11 pada B2, 11 pada C1, dan 11 pada C2 tetapi berdasarkan kerumitan pola fluktuatif sehingga dinyatakan kurang baik.Kata kunci: perkembangan, kosakata, kelas kata, fonotaktik, dan Buku Ajar BIPA Tingkat A1?C2.
NILAI-NILAI BUDAYA PAPUA DALAM NOVEL CINTA PUTIH DI BUMI PAPUA KARYA DZIKRY EL HAN WORO MAHMUDAH, WINDA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Kunci : novel Cinta Putih di Bumi Papua, nilai budaya, antropologi sastra Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk nilai-nilai budaya yang terkait hubungan manusia dengan Tuhan, alam, masyarakat, orang lain, dan diri sendiri pada novel Cinta Putih di Papua karya Dzikry el Han. Novel ini mengisahkan tentang Kampung Adat Patipi yang terletak di Semenanjung Onim, Fak-fak, Papua. Masyarakat Patipi memegang teguh adat dan ajaran nenek moyang secara turun temurun, sehingga aturan-aturan dari moyang sudah mendarah daging dalam diri masyarakat Kampung Patipi di mana pun mereka berada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber datanya adalah novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry el Han. Data penelitian ini berupa penggalan kalimat, paragraf, dan dialog tokoh. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka, simak, dan catat. Untuk teknik analisis data menggunakan model pembacaan heuristik dan hermeneutik. Pengujian keabsahan data penelitian ini menggunakan model triangulasi, member check, dan konsultasi ahli. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah menjabarkan nilai budaya dalam novel Cinta Putih di Bumi Papua terkait hubungan dengan Tuhan, yaitu taat beribadah, pasrah kepada Tuhan, sabar menerima cobaan, dan selalu mengingat Tuhan; nilai budaya terkait hubungan dengan alam, yaitu memahami alam; nilai budaya terkait hubungan dengan masyarakat, yaitu tolong menolong, dan musyawarah; nilai budaya terkait hubungan dengan orang lain, yaitu ketaatan, kekerabatan, saling toleransi, dan cinta kasih; nilai budaya terkait hubungan dengan diri sendiri, yaitu keberanian, keseimbangan, kejujuran dan mencari ilmu.
TUTURAN AMBIGUITAS DALAM WACANA HUMOR WAKTU INDONESIA BERCANDA: KAJIAN PRAGMASEMANTIK NISA, KHOIRUN
BAPALA Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHumor memiliki beragam bentuk tampilan, salah satunya adalah wacana humor. Sebuah wacana dapat dikatakan mengandung humor apabila menimbulkan tawa bagi pendengarnya dan bersifat ambigu. Dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda terdapat banyak tuturan yang mengandung ambiguitas. Waktu Indonesia Bercanda adalah salah satu acara ragam yang ditayangkan di saluran televisi swasta, NET, yang dibawakan oleh Cak Lontong. Tuturan ambiguitas dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda dapat dikaji menggunakan teori pragmasemantik yang mengombinasikan ilmu pragmatik dan semantik karena meskipun makna ambiguitas berada pada ranah semantik, tetapi dalam penelitian ini makna ambiguitas dikaitkan dengan konteks situasi dan pelibat tutur dalam wacana.Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah, yaitu (1) bentuk tuturan ambiguitas, (2) penyebab ambiguitas, dam (3) penyimpangan konteks yang terjadi dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan fenomena kebahasaan yang ada melalui uraian kata. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan pragmatis yang menggunakan petutur dan penutur sebagai alat penentu. Sumber data penelitian ini adalah video acara Waktu Indonesia Bercanda yang tayang di NET dan diunggah di situs www.youtube.com di akun resmi Waktu Indonesia Bercanda mulai bulan Juli hingga Oktober 2017. Proses analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu tahap transkripsi, klasifikasi, pengodean, penganalisisan, dan penyimpulan data. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan, ditemukan tiga bentuk tuturan ambiguitas dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda, yaitu: (a) ambiguitas gramatikal, (b) ambiguitas fonetik, (3) dan ambiguitas leksikal. Kemudian ditemukan enam penyebab ambiguitas dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda, yaitu: (a) generalisasi, (b) penghematan penggunaan kata, (c) konteks kalimat, (d) homofon, (e) polisemi, dan (f) amfipoli. Kemudian ditemukan dua jenis penyimpangan konteks yang terjadi dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda, yaitu (a) penyimpangan act sequences, dan (b) penyimpangan key. Berdasarkan diskusi hasil penelitian dari temuan selama proses analisis data, bentuk tuturan ambiguitas menjadi tanda bagi penutur untuk menafsirkan makna di luar kebiasaan dalam konteks wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Koteks dan konteks adalah dua hal penting yang digunakan untuk menentukan makna dalam kajian pragmasemantik. Selain itu, tuturan yang mengalami penyimpangan konteks berakibat pada munculnya asosiasi lain bagi petutur. Dengan demikian, penentuan makna dalam tuturan ambiguitas wacana humor Waktu Indonesia Bercanda tidak dapat terlepas dari koteks dan konteks yang mengiringinya.Kata Kunci: Tuturan Ambiguitas, Wacana Humor, Waktu Indonesia Bercanda, Pragmasemantik.