TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Articles
211 Documents
KEHIDUPAN PARA ILMUAN MUSLIM DALAM BIDANG ILMU AGAMA ISLAM
agus salim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i1.18
Kehidupan para ilmu muslim dalam bidang ilmu agama Islam sangat menarik dikaji dikaitkan dengan faktor-faktor sosial, politik, ekonomi dan budaya yang mempengaruhinya. Perjalanan panjang sejarah pemikiran Islam telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang terbentuk seperti; ‘Ulum al-Qur’an, ‘Ulum al-Hadits, Fiqh, Kalam, Filsafat dan Tashawwuf. Artikel ini bermaksud mengungkap seluruh kompleksitas yang menaungi dan mengiringi kehidupan ilmuan muslim hingga terbentuknya suatu disiplin ilmu dan madzhab-madzhab pemikiran dalam Islam menjadi sangat menarik untuk dapat memahami elan vital pemikiran-pemikiran yang pernah muncul dalam sejarah peradaban Islam.
KONTEKSTUAL SEJARAH PERANG UHUD
nicolas habibi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i1.19
Perang Uhud adalah peperangan kedua yang terjadi sejak didirikannya pemerintahan Islam oleh nabi Muhammad di Madinah. Beberapa literatur menyebutkan bahwa nabi Muhammad dan pasukannya mengalami kekelahan dalam peperangan ini karena wafatnya beberapa mujahid pada perang Uhud. Namun, dalam perspektif ketercapaian tujuan awal dari serangan pasukan Quraisy terhadap pemerintahan Islam di Madinah, tidak satupun keberhasilan yang diperoleh Quraisy dan infantrinya. Setelah perang ini, kepemimpinan nabi Muhammad dan pemerintahannya justru semakin eksis di Madinah. Kelihaian dan kepiawaian nabi Muhammad mengatur strategi pada perang Uhud, menjadi mir’ah dalam sejarah dunia Islam.
KOMPARASI PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID DAN DELIAR NOER
muhammad junaidi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i1.20
Dalam wacana keindonesiaan kesenjangan antara kaum elit intelektual dan kelompok tradisional-konservatif tampak begitu jelas dan sepertinya sulit dipertemukan. Disatu sisi, pemikiran “liberal” sangat diperlukan agar dialektika dan diskursus keislaman tetap hidup secara dinamis. Sedangkan kelompok tradisional-konservatif, disisi lain, tidak bisa pula kita salahkan. Itulah kadar pemikiran mereka, lagi pula mereka berusaha dengan niat baik untuk menjaga puritanisme Islam. Nah, mengingat keduanya sama-sama penting maka perlu satu kelompok lagi yang dapat menjembatani kedua pemikiran diaras agar kesenjangan antara keduanya dapat dipertemukan secara harmonis. Terlepas dari pro dan kontra, makalah ini hanya sekedar menampilkan corak pemikiran mereka seraya sesekali melakukan penilaian yang tak terlalu tajam, mungkin agak eksklusif dan subjektif.
KONTROVERSI TAFSIR AL-QURAN BI AL-ISHĀRAH DALAM PANDANGAN ULAMA TAFSIR
husin wahab
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i1.35
Dalam kajian tafsir, kita sering menjumpai beberapa karya tafsir yang terkenal selain yang mengetengahkan maksud al-Quran menurut pendekatan makna lahiriah pada sesuatu ayat. Tafsir tersebut menekankan pada pemahaman secara tersirat dan isyarat. Tafsir ini dikenal di kalangan ulama sebagai al-tafsir al-Isyari. Namun demikian, menurut pengamatan penulis, tafsir al-isharah ini suatu ketika menggunakan istilah-istilah yang bersifat tehnis, dan pada kesempatan lain ada beberapa istilah yang sulit untuk difahami, bahkan bagi para ilmuan Islam yang kurang mendapat pencerahan dan informasi tentang pengertian istilah-istilah tersebut menurut neraca ilmu tasawuf sulit untuk menerima penafsiran tersebut. Akan tetapi yang ingin penulis tekankan bahwa bagi setiap disiplin ilmu itu ada ahli dan pakarnya yang berwibawa, dan unsur-unsur tafsir secara al-isharah yang dapat dibaca di dalam karya-karya tafsir al-Quran bagi para ulama Islam merupakan suatu khazanah ilmu tafsir bernilai yang patut untuk dikaji dan dipelajari, dan seandainya kita berhadapan dengan beberapa kekeliruan, maka kita perlu merujuk kepada ulama yang ada otoritasnya dibidang tersebut.
HIGH POLITICS: KHAZANAH VISI POLITIK MUSLIM INDONESIA
Badarus Syamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.3
Artikel ini hendak membahas dua model visi demokrasi politik yang pernah menggaung di Indonesia yakni visi religius dan humanis. Pemetaan mengenai konsep dan gagasan mengenai demokrasi perlu dilakukan. Konsep demokrasi terkadang berkembang sesuai dengan latar sejarah di mana wacana tersebut dimunculkan. Maka upaya untuk memetakan bagaimana konsep demokrasi di negara yang homogen keagamaannya dengan negara yang plural keagamaannya penting untuk dipetakan. Artikel ini akan membahas isi demokrasi Amin Rais dan Gus Dur. Dalam asumsi penulis, antara paradigma demokrasi Amien Rais dan Abdurrahman Wahid memiliki nilai tipikal masing-masing. Nilai-nilai Tipikal ini sangat penting untuk diklarifikasikan karena hal itu akan memberikan wawasan mengenai kompleknya paradigma Islam mengenai demokrasi di Indonesia. Bagaimana pandangan Amien Rais dan Abdurrahman Wahid mengenai hubungan antar agama dan negara dalam frame demokrasi, dan sejauh mana hal itu berpengaruh terhadap paradigma dan gagasan serta perjuangan keduanya dalam merealisaikan konsep demokrasi di Indonesia.
PERAN CIVIL SOCIETY DALAM FILANTROPI ISLAM
abdullah syahab
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.9
Runtuhnya orde baru dan masuknya Indonesia ke era reformasi telah memberikan peran besar civil society di Indonesia. Peranan civil society dalam pembangunan negara sangat strategis pada pemerintahan Indonesia yang mengedepankan demokratis dalam pengelolaan negara. Salah satunya dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Korupsi, kolusi dan nepotisme pada pemerintahan pada masa reformasi telah mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat yang dikelola negara. Kebijakan good governance juga telah menumbuhkan pergerakan civil society di Indonesia khususnya dalam memberikan kontribusi bagi perkembangan pengelolaan zakat di Indonesia. Menguatnya peran civil society merupakan realitas sosial kontemporer di Indonesia.
KEJU, MINYAK SAMIN DAN JAKET KULIT PRODUKSI NON-MUSLIM DALAM PERSPEKTIF HADITS
ermawati ermawati
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.10
Berkenaan dengan telah makin beragamnya jenis makan dihasilkan, di Indonesia bermunculan restoran-restoran, depot makanan, food court dan sebagainya yang menyajikan beragam makanan. Sementara pihak konsumen dalam hal ini seringkali tidak mengetahui bahan dan proses pembuatan makanan tersebut. Bagi kaum Muslim, dalam konteks ini terdapat satu persoalan krusial yakni status halal dan haram dari makanan tersebut. Artikel ini hendak mengetahui sikap mana yang layak dipegangi dengan mencoba mencari teladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Analisis dalam artikel ini menggunakan metode takhrij hadits atas hadits yang memiliki korelasi dengan persoalan di atas. Penulis menemukan satu hadits yang mempunyai korelasi dengan hal tersebut, yaitu hadits tentang hukum memakan mentega dan keju, hukum memakai mantel kulit berbulu serta garisan tentang halal dan haram. Hadits ini akan dibahas secara tahlili dari segi takhrij sanad dan dari segi analisa Fiqhul hadits.
REVITALISASI MASJID PRODUKTIF
hasbullah hasbullah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.11
Masjid Produktif adalah harapan kita semua, karena dari masjid akan melahirkan banyak kemajuan-kemajuan di segala bidang baik itu sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain. Masjid produktif akan dapat diwujudkan dengan kesadaran bersama melalui berbagai kegiatan dan komunikasi aktif baik pengurus masjid maupun jama’ah masjid secara bersamaan dengan saling bahu membahu. Masjid juga merupakan wadah yang paling strategis dalam membina dan menggerakkan potensi umat Islam untuk mewujudkan Sumbar Daya Manusia yang tangguh dan berkualitas. Sebagai pusat pembinaan umat, eksistensi masjid kini dihadapkan pada berbagai perubahan dan tantangan yang terus bergulir di lingkungan masyarakat. Maka Masjid Produktif adalah merupakan upaya secara sistematis dan berlangsung secara terus menerus untuk menyadarkan dan memberdayakan umat dengan berbagai aktivitas yang islami. Untuk mencapai hasil yang optimal perlu didukung dengan sistim, aktivitas dan lembaga pemberdayaan Masjid. Artikel ini merupakan hasil penelitian terhadap beberapa masjid yang ada di Kota Jambi, yang peneliti acak menurut kecamatan yang ada di kota Jambi, penentuan lingkup penelitian ini adalah merupakan hasil observasi terhadap masjid-masjid yang penulis anggap telah berusaha untuk meuwujudkan dan merevitalisasi masjid yang produktif dengan berbagai aktifitas khususnya dalam hal pemberdayaan ekonomi umat, bentuk dan jenis penelitian adalah kualitatif dengan observasi dan wawancara.
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER
jamaluddin arsyad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.12
Gender adalah suatu konsep sosiologis yang mulai ramai diperbincangkan di awal tahun 1977, ketika sekolompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti Patriarchal atau Sexist, tetapi menggantinya dengan wacana Gender (gender discourse). Sebelumnya istilah seks dan gender digunakan secara rancu. Karena persepsi yang berkembang di dalam masyarakat menganggap perbedaan gender (gender differences) sebagai akibat perbedaan seks (sex differences). Pembagian perean dan kerja secara seksual dipandang sesuatu hal yang wajar. Akan tetapi belakangan ini disadari bahwa tidak mesti perbedaan seks menyebabkan ketidak adilan gender (gender inequality). Artikel ini hendak mengungkap visi Islam tentang kesetaraan gender, yang dalam kenyataan masyarakat sering terjadi penyimpangan akibat bias gender.
PLURALISME DAN INKLUSIVISME: Analisa Kritik Terhadap Pemikiran Nurcholish Madjid
muhammad rusydi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.13
Nurcholish Madjid adalah seorang intelektual yang mendapat dua pola pendidikan yaitu tradisionalis dan modernis sekaligus. Kemudian ia memperdalam keilmuannya melalui bacaan khazanah Barat dan Islam. Dari dua pola pendidikan dan rujukan keilmuan ini ia mengembangkan pemikiran lalu mengemukakan wacana keagamaan yang pluralis dan inklusif. Dari wacana keagamaan yang pluralis dan inklusif lalu berkembang menjadi wacana pluralisme dan inklusivisme yakni keterbukaan, kebersamaan, toleransi, ukhuwah, dan saling menghormati. Dalam pluralisme dan inklusivisme beragama tidak ada sikap mutlak-mutlakan yaitu sikap merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah. Pemahaman pluralisme dan inklusivisme keberagamaan ini mempunyai rujukan dalam Islam dan dapat ditelusuri pada sumber Islam yang autentik. Pluralisme dan inklusivisme keberagamaan Islam sudah dibuktikan dalam perjalanan sejarah Islam sejak masa awal.