TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Articles
211 Documents
HUBUNGAN ESENSIAL AGAMA-AGAMA: TEOLOGI DAN ETIKA
media zainul bahri
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.14
Artikel ini hendak membedah kesamaan-kesamaan pokok atau hubungan esensial diantara agama-agama yang diwahyukan Tuhan kepada para utusan-Nya, terutama titik-temu menyangkut dua hal pokok diatas, yaitu titik-temu teologis dan etis. Kajian ini begitu urgen mengingat bahwa dalam ekspresi keagamaan, agama-agama yang ada sering terlibat dalam konflik yang sebenarnya hal itu sangat ironis mengingat agama secara esensialnya adalah kumpulan-kumpulan ajaran kebaikan bagi kehidupan manusia. Agama, dalam pengertiannya yang esensial pertama kali “diturunkan” Tuhan membawa ajaran kuno nan abadi (perenial) tentang dua hal pokok yakni mengajak manusia untuk mengenali Tuhan sebagai Yang Esa, Ahad, Tunggal: satu-satunya Pencipta, Sumber Awal sekaligus Muara Akhir semua makhluk ciptaannya, dan mengajarkan etika. Ekspresi kultural agama-agama sering berbeda satu sama lain dan tidak jarang menggiring pada lahirnya konflik keagamaan. Artikel ini penting guna menyadarkan manusia akan adanya kesatuan esensi keagamaan dengan ajakan untuk mengedepankan nilai-nilai esensial ini dan bukan sebaliknya, memperlebar juang perbedaan dalam ekspresi-ekspresi keagamaan yang memang berbeda.
HAK AZASI MANUSIA PERSPEKTIF MAHMOUD MOHAMED TAHA
wardah nuroniyah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2014): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v13i2.15
Artikel ini hendak membahas gagasan dan upaya para pemikir Muslim dalam mereinterpretasi ajaran Islam dalam merespon isu-isu global seperti itu tentang HAM. Reinterpretasi itu penting guna memberikan solusi dan alternatif pemikiran dengan menawarkan berbagai model reinterpretasi terhadap syariah, sehingga syariah dapat merespon isu-isu tentang HAM. Isu Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hasil dari kemajuan peradaban manusia kontemporer untuk hidup dan bergaul antar sesamanya dengan semangat kesetaraan serta sikap saling menghargai dan menghormati, apapun suku, bangsa, agama dan warna kulitnya. Salah satu pemikir yang dibahas adalah Mahmoud Mohamed Taha. Metode untuk memahami pemikiran Taha menggunakan pendekatan normatif dan pendekatan filosofis. Dua pendekatan tersebut dapat secara luas menelusuri doktrin dan hasil interpretasi Mahmoud terhadap ayat-ayat Al-Qur`an yang menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung dan menghormati prinsip-prinsip HAM.
PEMIKIRAN POLITIK SAYYID QUTB TENTANG PEMERINTAHAN ISLAM
Badarussyamsi Badarussyamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.4
Artikel ini membahas pemikiran politik Sayyid Qutb mengenai Pemerintahan Islam. Wacana ini tergolong wacana yang terus menghangat di kalangan pemikir Islam. Qutb menjelaskan bahwa politik pemerintahan dalam Islam dibangun di atas asas yang bersumber dari hati nurani, lebih dari sekedar dibangun di atas asas syari’at. Ia dibangun atas asas bahwa Allah SWT. selalu hadir setiap saat di sisi para penguasa dan rakyat mengawasi segala sesuatunya. Namun demikian, tidak bisa juga dipahami bahwa sistem sosial Islam hanya dibangun atas asas yang bersumber dari hati nurani saja. Akan tetapi yang mesti dipahami adalah bahwa dalam Islam terdapat jaminan lain selain yang ditetapkan melalui syara’. Inilah yang membuatnya berbeda dengan sistem-sistem lain yang semata-mata didasarkan atas undang-undang belaka, tanpa dukungan jaminan yang keluar dari hati nurani dan perasaan.
PLURALISME DAN DIALOG ANTAR AGAMA
abdul halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.21
Kemajemukan atau yang lebih dekat dengan sebutan pluralisme, di satu sisi menjadi khazanah budaya bangsa yang terus haras terjaga. Jika agama merupakan bagian dari khazanah budaya bangsa dengan nilai-nilai keberagamaan pemeluknya masing-masing, maka sisi lain harus diwaspadai adalah konflik atau ketegangan yang terjadi akibat persentuhan antara nilai-nilai suatu agama dengan nilai-nilai agama lain yang sangat dipengaruhi oleh individu-individu pemeluk masing-masing agama. Dalam hal ini terdapat kecenderungan penganut masing-masing agama untuk memuliakkan bentuk-bentuk tertentu dari agamanya sehingga agama itu menjadi tertutup atau yang kita kenal dengan sikap keberagamaan yang ekslusivistis, dimana hubungan timbal balik antara agama dan situasi sosialnya menjadi macet dan tidak harmonis, padahal agama berbubungan dengan sesuatu yang dianggap ilahi atau mutlak, dengan sendirinya agama itu mestinya memandang dirinya sendiri (dengan segala ajaran, upacara, perilaku keagamaan pemeluknya, dan lain-lain) sebagai hal yang bersifat lelatif dan tidak mutlak.
TAFSIR TENTANG PERISTIWA ISRA’ MI‘RAJ
Abdul Haris
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.22
Berdasarkan kajian sebagaian besar ulama tafsir bahwa peristiwa isra’ mi’raj adalah suatu peristiwa amat istimewa dan maha agung karena pada awal ayat Allah berfirman diawali dengan kata “Subhana” yang berarti “ Maha Suci” tidak terdapat pada 113 Surat lain dalam Al-Qur’an. Karenanya nyata bahwa peristiwa maha dahsyat ini dapat mewakili pembuktian kecintaan Allah dan kasih-Nya terhadapnya hamba tercnita-Nya Nabi Muhammad SAW sebagai khatamin Nabiyyin dan klimaks daripada bahwa segala syari’at Allah yang dititahkan kepada Muhammad SAW ; sholat menempati posisi strategis dan utama, karena di akhirat yang akan dipertanyakan pertama sebelum perintah lainnya adalah sholat. Allah SWT dengan tegas menyatakan pada ayat 1 surat al-isra’ ini tentang kekuasaan-Nya melalui hambaNya Muhammad dengan peristiwa mi’raj ini, untuk menunjukkan tanda-tanda kesebesaranNya dengan perjalanan sepertiga malam dari masjidil haram Makkah ke masjidil Aqsho di Palestina dengan kecepatan yang maha dahsyat di luar jangkauan pikiran manusia saat itu.
MADRASAH DAN GLOBALISASI
agus salim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.23
Perkembangan madrasah dalam konteks modern ini menjadi cukup menarik jika dihubungkan dengan fenomena globalisasi yang membawa perubahan signifikan pada sistem dan kurikulum madrasah yang sebelumnya merupakan hasil perkembangan dari sistem pendidikan individual dan cukup sarat dengan pendidikan Islam. Perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa madrasah telah melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan tuntutan globalisasi, yang menjadi tonggak bagi pembentukan madrasah “modern” dengan citra yang samasekali berbeda dengan madrasah klasik. Dalam konteks ini madrasah tampaknya tidak melihat globalisasi sebagai hal yang harus ditakuti namun harus disongsong dan hadapi.
PERANAN TASAWUF DALAM KEHIDUPAN MODERN
nilyati nilyati
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.24
Sufisme atau tasawuf merupakan buah peradaban Iaslam yang sangat tua, namun mengalami revitalisasi di era modern ini. Kehadirannya semakin bermakna ketika ia mampu menjadi”oase di padang pasir” bagi masyarakat modern yang pengalami krisis spiritual. Dalam bentuk tarekat tertentu atau dalam bentuk yang sudah termodifikasi, tasawuf menjadi obat penyakit modernisasi dengan segala dampak negatifnya. Tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya semakin memainkan peranan penting. Ia yang dahulu dituduh penyebab kemunduran Islam, dan disikapi secara negatif oleh beberapa pakar Islam, seperti Faslur Rahman dan al-Faruqi, kini makin mendapatkan tempat dalam masyarakat modern. Bahkan ia menjadi solusi yang dinantikan bagi problematika masyarakat modern.
DEISME: DARI EDWARD HERBERT SAMPAI DAVID HUMES
shofiyullah shofiyullah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i1.25
Tulisan ini membahas tiga hal penting terkait dengan deisme, terutama deisme yang berkembang di Inggris. Pertama, munculnya deisme yang dimulai dengan gagasan Edward Herbert di tahun 1624, sebagai konsekuensi dan pengaruh situasi dan kondisi saat itu. Kedua, tumbuh suburnya deisme setelah pergantian abad ke-17, terutama karena pengaruh filsafat yang dikembangkan John Locke. Ketiga, merosotnya deisme dengan cepat pada pertengahan tahun 1700-an yang disebabkan oleh pemikiran skeptisisme David Humes. Tulisan ini dimulai dengan penjabaran pengertian deisme, karakteristik, dan perkembangan historis deisme, yang diikuti dengan penjelasan tentang latar belakang utama yang mempengaruhi kemunculannya. Selanjutnya, tulisan ini akan beranjak pada tokoh-tokoh deisme dan gagasannya yang meliputi tiga masa yang berbeda: masa perintisan dari Herbert sampai Blount (1624-1695); masa kejayaan dari Toland hingga Tindal (1696-1741); dan era kemunduran dari Annet sampai ke Bolingbroke (1742-1770).
KONSTRUKSI PLURALISME AGAMA DALAM ISLAM
abdul halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i2.1
Dalam konteks Indonesia, secara sosiologis-antropologis pluralisme agama dan etnis adalah suatu fakta yang harus kita terima. Pemikiran teologis yang menawarkan pandangan inklusivisme dan pluralisme keberagamaan akan ikut meredam konflik dan ketegangan antar agama. Di sinilah letak pentingnya memperbincangkan masalah pluralisme agama dalam pluralitas bangsa (etnis) dan bagaimana memformat kembali bentuk dakwah/misi bagi agama dakwah yang ada di Indonesia, sehingga muncul desain baru tentang agama masa depan. Dialog mengenai pengalaman Iman, serta upaya membangun feologi yang inklusivistik dan dialogis bukan sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan jika teologi dipahami sebagai refleksi kritis tentang sebuah doktrin agama dengan "commited" terhadap upaya" perdamaian dan meningkatkan peradaban manusia, maka kita mestinya banyak dari faham ekslusivisme ke inklusivisme dan kemudian ke pluralisme lalu selanjutnya ke suprapluralisme.
PEMIKIRAN ALI ABDURRAZIQ TENTANG HUBUNGAN ISLAM DAN NEGARA
Badarussyamsi Badarussyamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2015): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v14i2.5
Artikel ini akan membahas pemikiran Ali Abdurraziq mengenai hubungan agama dan negara yang pembahasannya terus bergulir hingga saat ini. Sebagian Ormas Islam beserta kaum Muslim tertentu terus menggaungkan pentingnya pembentukan khilafah Islam untuk mengatasi peroalan kemasyarakatan. Dalam masalah kekhalifahan, Abdurraziq berpendapat bahwa kekhalifahan bukanlah rezim agama, bahwa lembaga ini tidak diisyaratkan dalam Islam, dan bahwa – terlepas dari niat para khalifah – tidaklah mungkin ada pengganti, atau khalifah yang menggantikan, kedudukan Rasulullah, karena menurut Abdurraziq, Rasul tidak pernah menjadi raja, tidak pernah berusaha mendirikan sebuah negara ataupun pemerintahan; dia adalah pembawa pesan yang diutus oleh Allah, dan dia bukan pemimpin politik. Itulah beberapa penggalan pemikiran Abdurraziq di dalam bukunya yang menghebohkan itu. Akan terlihat nantinya betapa pemikiran-pemikirannya itu begitu banyak memperoleh tanggapan yang beragam, baik yang mendukung maupun yang menentang keras dari sebagian besar kaum Muslim, khususnya di Mesir.