cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
EPISTEMOLOGI KEILMUAN INTEGRATIF-INTERKONEKTIF M. AMIN ABDULLAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEILMUAN ISLAM Atika - Yulanda
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 1 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i1.87

Abstract

Semakin berkembangnya kehidupan manusia maka berkembang pula keilmuan yang ada. Antara satu ilmu dengan keilmuan lainnya saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Namun dewasa ini, telah terjadi dikotomi keilmuan antara ilmu-ilmu agama dengan keilmuan sains. Masing-masing keilmuan saling memisahkan diri dan tidak saling terkait. Ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Islam itu sendiri yang menganggap bahwa keilmuan yang berasal dari Barat bisa membawa kepada kekafiran. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menyatukan kedua keilmuan itu agar tidak terjadi dikotomi antara keduanya. Upaya ini banyak dilakukan oleh beberapa tokoh. Salah satu tokoh yang berupaya untuk menggabungkan kedua keilmuan itu adalah Amin Abdullah. Ia adalah salah seorang intelektual Islam Indonesia. Penyatuan kedua keilmuan di atas dilakukan dengan mencetus sebuah gagasan yaitu integratif interkonektif yang diaplikasikan langsung di UIN Sunan Kalijaga. Integratif-interkonektif ini berusaha untuk menggabungkan antara keilmuan agama dengan ilmu sains serta filsafat. Upaya yang dilakukan oleh seorang tokoh pemikir sekaligus intelektual Islam ini berupa bangunan fisik maupun dalam hal keilmuan di UIN Sunan Kalijaga. Misalnya pengintegrasian antara Gedung keilmuan Islam dengan sains yang dahulunya tidak pernah dilakukan. Sedangkan dalam hal keilmuan yaitu memasukkan mata kuliah yang bersifat umum ke dalam studi keislaman begitupun sebaliknya agar tidak terjadi pemisahan atau dikotomi antara kedua ilmu tersebut.
HUBUNGAN SAINS DENGAN AGAMA PERSPEKTIF PEMIKIRAN IAN G BARBOUR jendri jen
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 1 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The discussion between science and religion is a very interesting study to be studied in depth. It aims to strengthen science and religion, with the hope of contributing to the realm of education. This study uses a descriptive analysis of the relationship between science and religion according to Ian G Barbour's perspective. From the author's analysis of Ian G. Barbour's relationship between science and religion, it can be concluded that, Barbour made four typologies of the relationship between science and religion including the first, conflict typology, this typology involved materialism scientific scientificand literalism religious. Second, the typology of independence, this typology distinguishes the two types into different regions. Third, the typology of dialogue, this typology considers assumptions in scientific endeavors or parallels science and religion. To four typologies of integration, which is where this typology consisting of natural theology, theolgy of nature and systematic synthesis. Science and religion make a huge contribution to inclusive metaphysics. This research is a library research (library research). The source of research data consists of two forms, primary data (primary data), and secondary data (secondary data). To analyze this research, the method (content analysis) is used. Whereas in drawing conclusions using the deductive method in which the collected data is processed selectively and systematically then special conclusions are drawn which are the results of deductive research. The results of this study offer that if there is a conflict between science and religion, Ian G Barbaour offers an offer to science with religion is conflict, independence, dialogue and integrity. Keyword: Science, Religion, Ian G Barbour
SPEKTRUM HISTORIS TAFSIR AL-QUR’AN DI INDONESIA abdul latif
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 1 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i1.97

Abstract

Karya ini menelisik tentang spektrum historis tafsir al-Qur’an yang ada di Indonesia, yang diawali dengan pembahasan tentang konteks sosial-budaya kajian tafsir di Indonesia, yang sajikan sebagai pembahaan pembuka untuk memahami landasan atau basis sosial-budaya tafsir yang dihasilkan di bumi Nusantara Indonesia. Selanjutnya penulis menulis tentang embrio tafsir di Indonesia yang sesunggiuhnya telah dimulai seiring degan peryebaran dan pertumbuhan Islan di Nusantara. Akhirnya penulis menutup pembahasan tentang perkembangan tafsir di Indonesia yang penulis bingkai dalam tiga periodesasi, yaitu periode klasik, modern, dan kontemporer. Periode klasik diawali sejak awal abad ke-17 hingga akhir abad ke19; periode modern diawali sejak peruh pertama atau pertengahan abad ke-20 hingga akhir tahun 1980-an, dan periode kontemporer terjadi sejak awal tahun 1990-an hingga sekarang.
AL-QURAN DALAM DISKURSUS TOLERANSI BERAGAMA DI INDONESIA: Analisis Kritis terhadap Tafsir Audiovisual QS al Kafirun dalam Akun Hijab Alila Wiwi Fauziah; Miski Miski
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i2.94

Abstract

Tulisan ini mencoba menganalisa postingan akun instagram Hijab Alila terkait QS. al-Kafirun yang ditengarai sebagai tuntunan bertoleransi bagi umat Islam dalam beragama. Dalam hal ini, terdapat dua pertanyaan utama yang menjadi objek kajian, yaitu bagaimana penafsiran Hijab Alila terkait QS. al-Kafiruan dan bagaimana posisi penafsiran tersebut di tengah penafsiran para ahli. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana dan model analisis konten, tulisan ini menemukan bahwa dalam menafsirkan QS. al-Kafirun, konstruk toleransi yang ditawarkan Hijab Alila justru eksklusif tetapi akun ini mampu menarasikan model tafsir yang terkesan kontekstual meski sebenarnya tekstual. Hijab Alila terkesan abai dengan konteks yang melatarbelakangi turunnya surat tersebut. Namun, pada kenyataannya, model penafsiran yang demikian, justru mampu menggeser penafsiran yang diakui otoritatif karena media yang digunakan lebih banyak diminati, terutama oleh para warganet. This article tries to analyze the posts of the Hijab Alila Instagram account related to QS. Al-Kafirun which is considered as a tolerance guide for Muslims in religion. In this case, two primary questions become the object of the study: first, How the Hijab Alila interpretation is related to QS. Al-Kafiruan; Second, how the interpretation is centered on the interpretation of experts. By using a discourse analysis approach and a content analysis model, this article found that in interpreting the QS. Al-Kafirun, the tolerances offered by Hijab Alila, are thus exclusive, but the account can put the interpretation model that feels contextual even though it is textual. Hijab Alila is impressed by the context of the decline of the letter. However, such an interpretation model is precisely able to shift the authoritative interpretation that is recognized because the media used more in demand, especially by the netizen.
INTEGRASI KEILMUAN DALAM KRITIK MATAN HADIS Muhammad Taufiq Firdaus; Muhammad Alfatih Suryadilaga
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i2.96

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang kritik matan yang terjadi di kalangan ulama hadis dan pengembangannya dalam konteks kekinian. Metode kritik matan hadis dapat dilakukan dengan meintegrasikan suatu keilmuan. Integrasi keilmuan menjadi penting dalam menyelesaikan hadis-hadis terutama terkait erat dengan sains seperti kadungan air kemih unta sebagai penyembuh penyakit. Dengan perkembangan zaman yang sangat pesat, ilmu sains yang juga sangat berkembang menjadikan hasil-hasil penelitian yang dilakukan dengan keilmuan sains tidak diragukan lagi kebenarannya secara ilmiah. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis kajian pustaka, data diperoleh dari berbagai literatur buku, artikel jurnal, tesis, dan berbagai hasil penelitian lainnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Ulama muhaditsin kontemporer melakukan kritik matan hadis dengan mengunakan ilmu sains, salah satunya melakukan kritik matan yang ada didalam kitab bukhari (2855) dan muslim (1671) hadis tentang air kemih unta, yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. penelitian tersebut menunjukan benar bahwa air kemih unta bisa mencegah tumbuhnya sel-sel kanker. Ini lah integrasi keilmuan dalam kritik matan hadis yang bisa membuat hasil hasil dari kritik matan itu benar-benar menyakinkan bahwa hadis itu shahih, walaupun umat Islam tidak diragukan lagi dalam menyakini kebenaran-kebenaran dari hadis nabi tersebut, tetapi disini untuk mengetahui tingkat keotentisitas dan keshahihan sebuah matan hadis.
PEMAHAMAN HADIS NAHDLATUL ULAMA TENTANG HUKUM SALAM LINTAS AGAMA abdul haris
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i2.98

Abstract

In the Indonesian context, the understanding of hadith is also carried out by various Muslim communities in Indonesia which in this case are the Nahdlatul Ulama community or abbreviated as NU. In connection with this, lately there was a polemic about the practice of greeting from various religious traditions carried out by officials. Along with the diversity of society, the pros and cons are inevitable. Discussions in the public room were increasingly busy responding to the issue. In this condition, the East Java Nahdlatul Ulama (PWNU) Regional Board was called to attend to study it scientifically as part of his sermon to the people, nation and state. The author tries to reveal about how the general understanding of the hadith? And how is the understanding of the hadith among the Nahdlatul Ulama religious community. In this case the hadith about greetings across religions in the context of national and state life. Dalam konteks Indonesia, pemahaman terhadap hadis juga dilakukan oleh berbagai komunitas muslim di Indonesia yang dalam hal ini adalah komunitas Nahdlatul Ulama atau disingkat NU. Bekaitan dengan hal itu, belakangan terjadi polemik praktek pengucapan salam dari berbagai tradisi agama yang dilakukan oleh para pejabat. Seiring kemajemukan masyarakat, pro kontra pun tidak terhindarkan. Diskusi diruang publik pun semakin ramai merespon isu tersebut. Dalam kondisi demikian Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur terpanggil hadir untuk mengkajinya secara ilmiah sebagai bagian khidmahnya kepada masyarakat, bangsa dan negara. Penulis berusaha mengungkap tentang bagaimanakah pemahaman hadis secara umum? Serta bagaimana pemahaman hadis dikalangan komunitas keagamaan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini hadis tentang salam lintas agama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
ILMU PENGETAHUAN DAN PEMBAGIANNYA MENURUT IBN KHALDUN Rahmat Effendi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i2.99

Abstract

Although he also discussed science with various branches and scope, so that he was known as an expert in the discourse of science in Islam, Ibn Khaldun was still often positioned as a sociologist rather than a philosopher. Ibn Khaldun's position as a philosopher will be tested in this article. This article further examines Ibn Khaldun's thinking about science by putting forward his views, divisions, and scope. On several occasions, Ibn Khaldun classifies knowledge in broad terms on the science of naqliyyat and ‘aqliyyat. This classification is contained in the magnum opus, namely Muqaddimah. The discourse proposed by Ibn Khaldun in this division of knowledge received criticism from Ibn Khaldun, as well as his defense. What Ibn Khaldun has done has shown that knowledge in the world needs to be known and mastered by Muslims. That way can deliver Muslims to be people who are in control of this world. Meskipun turut membahas ilmu pengetahuan dengan beragam cabang dan cakupannya, sehingga dikenal sebagai ahli dalam wacana ilmu pengetahuan dalam Islam, Ibn Khaldun masih sering diposisikan sebagai sosiolog dibandingkan filosof. Posisi Ibn Khaldun sebagai filosof akan diuji dalam artikel ini. Artikel ini menguji lebih jauh pemikiran Ibn Khaldun mengenai ilmu pengetahuan dengan mengedepankan pandangan, pembagian, dan ruang lingkupnya. Dalam beberapa kesempatan Ibn Khaldun mengklasifikasikan ilmu secara garis besar pada ilmu naqliyyat dan ilmu ‘aqliyyat. Klasifikasi ini jelas tertuang dalam magnum opus yaitu Muqaddimah. Diskursus yang diajukan Ibn Khaldun dalam pembagian ilmu ini mendapatkan kritikan oleh Ibn Khaldun, disamping pula pembelaan. Apa yang dilakukan Ibn Khaldun telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang ada di dunia perlu diketahui dan dikuasai umat Islam. Dengan begitu dapat mengantarkan umat Islam menjadi umat yang memegang kendali atas dunia ini.
TRADISI PEMBACAAN ASMA’ AL-HUSNA DI MASJID I’TIKAF, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG (STUDI LIVING HADIS) Muhammad Mundzir
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2019): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v18i2.100

Abstract

This article discusses a phenomenon that has become a religious tradition in Pedurungan Kidul II, Semarang. The mosque, which was originally a place of worship, has become a place of religious ritual over time. People unconsciously have carried out a habit based on al-Qur’an and hadith, specifically reciting Asma’ al-Husna. The discourse of Asma’ al-Husna has been discussed by hadith scholars who state that the hadith about people who keep Asma’ al-Husna going to heaven indirectly has its own reception when it enters the social realm. The reception turned out to have a different meaning when it was carried out by the congregation of the mosque of I’tikaf Baitul Muhajirin. The recitation of Asma’ al-Husna in the mosque originated from a takmir’s desire to introduce and broadcast the reading of Asma’ al-Husna, as time went on the assembly became wasilah to pray, establish friendship, and the names contained in Asma’ al-Husna is a provision for life for the community. This article uses a phenomenological approach and functional theory as a tool to find the meaning contained in these assemblies. Artikel ini mendiskusikan tentang sebuah fenomena yang menjadi tradisi keagamaan di Pedurungan Kidul II, Semarang. Masjid yang mulanya menjadi tempat ibadah, seiring berjalannya waktu menjadi tempat ritual keagamaan. Masyarakat secara tidak sadar telah melakukan sebuah kebiasaan berbasis Al-Qur’an dan hadis, yaitu pembacaan Asma’ al-Husna. Diskursus Asma’ al-Husna telah dibahas oleh para pensyarah hadis yang menyebutkan bahwa hadis tentang orang yang menjaga Asma’ al-Husna akan masuk surga secara tidak langsung memiliki resepsi tersendiri ketika telah masuk di ranah sosial. Resepsi tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda ketika dilakukan oleh Jemaah Masjid I’tikaf Baitul Muhajirin. Pembacaan Asma’ al-Husna di masjid tersebut berawal dari keinginan seorang takmir untuk mengenalkan dan mensyiarkan bacaan Asma’ al-Husna, seiring berjalannya waktu majelis tersebut menjadi wasilah untuk berdoa, menjalin silaturrahim, dan nama-nama yang terdapat di dalam Asma’ al-Husna menjadi bekal hidup bagi masyarakat. Artikel ini menggunakan pendekatan fenomenologi, dan teori fungsional sebagai alat untuk menemukan makna yang terkandung di majelis tersebut.
FEMINITAS DAN DEKONSTRUKSI PEREMPUAN DALAM ISLAM: STUDI KASUS PEMIKIRAN NASR HAMID ABU ZAYD Asep Saepullah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 1 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i1.113

Abstract

Ketika gender menjadi sebuah alat untuk menganalisis dan mendeteksi fenomena ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat, maka feminis dapat menggunakan teori gender untuk membantu menganalisis berbagai bentuk diskriminasi gender yang ada atau mungkin ada dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Nasr Hamid Abu Zayd salah satu tokoh ilmuan Muslim yang secara terang-terangan mengaku sebagai seorang feminis. Melalui gagasan-gagasannya, Nasr Hamid Abu Zayd berusaha membongkar hegemoni sektarian-rasialistik dengan melakukan dekonstruksi terhadap pemaknaan perempuan dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan model pembacaan kontekstual. Artikel ini bermaksud untuk memaparkan gagasan atau konsep dekonstruksi gender Nasr Hamid Abu Zayd, baru setelah itu mengidentifikasi aspek-aspek feminitas dan peran perempuan dalam Islam. Metode penilitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis kajian pustaka atau library research, data diperoleh dari berbagai literatur buku, artikel, jurnal, majalah, dan hasil kajian terdahulu lainnya. Kajian ini menemukan bahwa studi kasus atas pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd tentang feminitas dan dekonstruksi perempuan dalam Islam telah memicu perdebatan di dalam konteks keagamaan, sosial, politik, dan historis. Oleh sebab itu, Nasr Hamid Abu Zayd berusaha untuk memaknai kembali ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan kedudukan perempuan dalam Islam. When gender becomes a tool to analyze and detect the phenomenon of injustice between men and women in society, feminists can use gender theory to help analyze the various forms of gender discrimination that exist or may exist in various aspects of people's lives. Nasr Hamid Abu Zayd is one of the leading Muslim scientists who openly claims to be a feminist. Through his ideas, Nasr Hamid Abu Zayd tried to dismantle the sectarian-racial hegemony by deconstructing the meaning of women in the verses of the Koran using model a contextual reading. This article intends to elaborate on Nasr Hamid Abu Zayd's ideas or concepts of gender deconstruction, only then to identify aspects of femininity and the role of women in Islam. This research method uses a qualitative approach to the type of literature review or library research, data is obtained from various literature books, articles, journals, magazines, and the results of other previous studies. This study finds that the case study on Nasr Hamid Abu Zayd's thoughts on the femininity and deconstruction of women in Islam has sparked debates in religious, social, political, and historical contexts. Therefore, Nasr Hamid Abu Zayd tried to re-interpret the verses of the Qur’an relating to the position of women in Islam.
DIMENSI FEMINISME DALAM PEMBAHARUAN ISLAM: MENILIK PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL Raha Bis Bistara
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 1 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i1.118

Abstract

Artikel ini ingin membahas bagaimana pemikiran Muhammad Iqbal dalam merekonstruksi ajaran Agama Islam yang selama ini dianggap kaku dan bersifat inklusif. Rekonstruksi yang dilakukan oleh Iqbal secara menyeluruh mulai dari pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran, hadis, hukum Islam dan feminisme. Bagi Iqbal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sangat penting hal itu terkait bagaimana posisi perempuan dalam segala lini yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Perbedaan Muhammad Iqbal dengan pemikir muslim yang sama-sama mengkaji gerakan kesetaraan terletak pada esensi ajaran Islam yang direkonstruksi ulang serta tidak mempertentangkan dengan perkembangan zaman. Kita lihat misalnya Fatimah Mernissi dalam gerakan feminisme ia menekankan adanya penafsiran ulang terhadap ayat-ayat al-Quran dan Sunnah yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Di sinilah letak perbedaan gagasan Iqbal dengan aktifis femenis yang lain. Bagi Iqbal ajaran yang selama ini diyakini sebagai ajaran yang universal dan kaffah ternyata masih terdapat unsur politik yang menyebabkan keterasingan perempuan dalam kancah bernegara. Menurut Iqbal selama akar-akar feminisme dalam Islam tidak dicuatkan, maka selama itu juga laki-laki tidak akan bisa membawa perubahan bagi dirinya sendiri, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Dengan menggunakan metode library research penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi besar dalam wacana feminisme Islam yang selama ini dianggap masih tabu dibicarakan dalam tradisi kesarjanaan Islam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pandangan baru mengenai pemikiran Iqbal tetang feminisme yang jarang sekali dikaji oleh pemikir muslim modern. Di mana yang dikuak oleh Iqbal mengenai esensi ajaran Islam itu sendiri yang bersifat subtil bagi keutuhan umat Islam yang sampai saat ini belum sepenuhnya mereka memahami. This article discussed about how Muhammad Iqbal thought in reconstructing the teachings of Islam which has been considered rigid and inclusive. The reconstruction carried out by Iqbal thoroughly began from the understanding of the verses of the Quran, Hadith, Islamic law and feminism. Iqbal reveals that the equality between men and women is very important it is related to women positions in all lines are not negotiable anymore. The differences between Muhammad Iqbal and the other Muslim thinkers who both studied the equality movement lie in the essence of the reconstructed teachings of Islam and do not be opposed with the development of the times. We see, for example Fatimah Mernissi in the feminism movement she emphasizes the re-interpretation of verses of the Quran and sunnah that place women under men. This is Iqbal views are different from other feminist activists. For Iqbal the teachings that have been believed to be universal teachings and kaffah there is still a political element that causes the alienation of women in the state scene. According to Iqbal, as long as the roots of feminism in Islam are not encouraged, then as long as men will not be able to bring about change for themselves, society, religion, nation and country. By using the library research method, this research is expected to make a big contribution in the discourse of Islamic feminism which has been considered taboo in the tradition of Islamic scholarship. The conclusion of this study is a new view from Iqbal's thinking on feminism that is rarely studied by modern Muslim thinkers. Where Iqbal discussed about the essence of Islamic teachings itself which is subtle for the integrity of Muslims that until now they have not fully understood.

Page 9 of 22 | Total Record : 211