cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
‘UZLAH SEBAGAI JALAN MENCARI KEBENARAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Akbar Imanuddin; Muhammad Iqbal Rahman; Abdul Halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.284

Abstract

The massive development of technology in the era of the industrial revolution 4.0 has brought many social changes and, in practice, has changed human life at every level. The number of jobs that are delayed because of smartphones, the inequality of news on social media, and the truth that overflows and is obscured are examples of how life has changed significantly. This indicates that industrial revolution 4.0 does not only bring changes in a positive sense but also in a negative one. Obscurity and vagueness to the truth can, in turn, damage morality and erase human values. ‘Uzlah or separating oneself from humans, is one of the concepts in Sufism recommended by the Prophet Muhammad when slander has become rampant and riots can no longer be extinguished, which today can be seen by the existence of post-truth narratives or denial of truth. Some criticize that committing ‘uzlah is a cowardly act of running away from problems. This criticism cannot be fully justified and cannot be completely refuted – because textually, some have practiced 'uzlah (meditation in mountains, caves, away from crowds). However, 'uzlah has spiritual values ​​that can maintain emotional and mental stability for those who practice it. The paper seeks to contextualize ​​of 'uzlah according to the needs of the times. The results of this paper find that ‘uzlah can be applied today not only to practice spiritual values but also to strengthen one's stance, enjoy life, be happy at work, be measured in action, and promote objective truth. With these values, it is clear that 'uzlah can be used as one a step to find the truth in the post-truth era of the industrial revolution. Perkembangan teknologi yang begitu pesat di era revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan sosial yang jauh berbeda dan pada praktiknya telah mengubah kehidupan manusia di setiap lapisannya. Banyaknya pekerjaan yang tertunda sebab telepon pintar, ketimpangan berita di media sosial, kebenaran yang bertimpah dan terkaburkan, merupakan contoh betapa kehidupan telah berubah secara signifikan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan dalam arti positif, tapi juga negatif. Ketidakjelasan dan kekaburan terhadap kebenaran pada gilirannya dapat merusak moralitas dan menghapus nilai-nilai kemanusiaan. ‘Uzlah atau memisahkan diri dari manusia merupakan salah satu konsep dalam ilmu tasawuf yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika fitnah telah menjadi-jadi dan huru-hara tidak dapat dipadamkan lagi, yang dewasa ini dapat dilihat dengan adanya narasi post-truth atau ingkar kebenaran. Ada yang mengkritik bahwa beruzlah termasuk tindakan pengecut karena lari dari masalah. Kritik ini tidak bisa dibenarkan sepenuhnya dan tidak bisa dibantah seutuhnya–sebab ‘uzlah secara tekstual (menyendiri di gunung, gua, jauh dari keramaian) ada yang mempraktekkannya. Akan tetapi ‘uzlah memiliki nilai-nilai spriritual yang dapat menjaga kestabilan emosi dan pikiran bagi barang siapa yang mengamalkannya. Tulisan ini berupaya untuk mengkontekstualisasikan ‘uzlah sesuai kebutuhan zaman. Hasil dari tulisan ini menemukan bahwa uzlah dapat diaplikasikan dewasa ini tidak hanya untuk mengamalkan nilai-nilai spiritual, tapi juga dapat memperteguh pendirian, menikmati hidup, bahagia dalam bekerja, terukur dalam bertindak serta mengedepankan kebenaran objektif. Dengan nilai-nilai tersebut, terang bahwa ‘uzlah dapat dijadikan sebagai salah satu langkah mencari kebenaran di era post-truth revolusi industri 4.0.
MAKNA HIDUP PERSPEKTIF VICTOR FRANKL: KAJIAN DIMENSI SPIRITUAL DALAM LOGOTERAPI Rohmah Akhirul Mukharom; Jarman Arroisi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.139

Abstract

This article aims to reveal the concept of logotherapy of Victor Frankl. This study uses descriptive analysis. First, the concept of logotherapy has three pillars in its philosophical foundation, the freedom of will, in this context every human being free to make choices to determine his own choice and destiny. The will to meaning, which every human being has the desire to have meaning in life. The meaning of life is an awareness of the possibility to realize what is being done at that time which then if successfully fulfilled will produce happiness. Second, in logotherapy, there is a noetic dimension which equivalent to the spiritual dimension, which tends toward the anthropological dimension rather than the theological dimension and does not contain religion. Third, the spiritual logotherapy dimension is different from Sufism. If Sufism spiritual affirms the sharia, then logotherapy departs from human existence. The implications of these differences give to a variety of happiness, both spiritual and physical. Artikel ini bertujuan mengungkap konsep logoterapi yang diformulasikan oleh Victor Frankl. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis kajian ini menghasilkan beberapa kesimpulan: pertama, konsep logoterapi memiliki tiga landasan filosofis yaitu, kebebasan berkeinginan (the freedom of will). Dalam konteks ini setiap manusia bebas menentukan pilihan dan nasibnya sendiri. Keinginan akan makna (the will to meaning), yaitu manusia memiliki hasrat untuk memiliki makna hidup. Makna hidup adalah sebuah kesadaran untuk mengetahui apa yang dilakukan saat itu hingga menghasilkan kebahagiaan. Kedua, di dalam logoterapi terdapat dimensi spiritual yang cenderung ke arah antropologis daripada kearah teologis serta tidak mengandung konotasi agama. Ketiga, dimensi spiritual logoterapi berbeda dengan dimenssi dalam tasawuf. Jika para sufi mengafirmasi spiritual pada syariat maka logoterapi berangkat dari human exsistence. Implikasi dari kedua perbedaan tersebut melahirkan ragam kebahagiaan baik kebahagiaan ruhani dan ragawi.
TRADISI FILSAFAT ILUMINASIONISME DAN PENGARUHNYA TERHADAP KAJIAN FILSAFAT ISLAM Muhammad Iqbal Maulana; Syahuri Arsyi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.140

Abstract

After al-Ghazali attack to the tradition of Islamic philosophy with Tahafutul al-Falasifah, tradition of Islamic philosophy in area of Muslims that decline and stagnation. In Persian world, tradition of Islamic philosophy, have development with new perspective. Tradition of Islamic philosophy in the Persian rise up with Muslim philosopher Suhrawardi by philosophy of illumination with al-Hikmah al-Isyraqiyyah, as an sinthesis to philosophy peripatetic which has long dominated in the tradition of Islamic philosophy studies. This article to the explore development of the tradition and influence Suhrawardi School of illumination to the tradition of Islamic philosophy. Suhrawardi’s school of illumination philosophy has an influence to the next generation, especially in Islamic philosophy in Isfahan, Iraq and in the Islamic world. Pasca serangan al-Ghazali melalui Tahafutul al-Falasifah tradisi kajian filsafat Islam di kalangan umat Islam mengalami kemunduran dan kemandekan. Di Persia tradisi tradisi kajian filsafat Islam justru mengalami perkembangan dengan sudut pandang baru. Tradisi kajian filsafat Islam di Persia memunculkan filosof Muslim bernama Suhrawardi dengan mazhab iluminasi dengan al-Hikmah al-Isyraqiyyah, sebagai sintesis dari filsafat peripatetik yang telah lama mendominasi tradisi kajian filsafat Islam. Artikel ini akan mengulas perkembangan tradisi dan pengaruh mazhab iluminasi Suhrawardi terhadap tradisi kajian filsafat Islam. Mazhab iluminasi Suhrawardi, telah memberikan pengaruh terhadap generasi sesudahnya, terutama dalam kajian filsafat Islam di Isfahan Iraq dan dunia Islam.
HERMENEUTIKA HADIS MUHAMMAD SYAHRUR Latifah Anwar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.141

Abstract

Muhammad Syahrur’s point of view about hadith and sunnah was very different from hadith preacher expert. Syahrur declared that hadith was Prophet Muhammad’s life as a prophet (messenger) and hadith was the result of his interaction with the certain events in the different situation when he was alive. Muhammad Syahrur positioned hadith and sunnah as the result of history product which happened in Prophet Muhammad’s life and did not accommodate law legitimation. Further, he mentioned some rejected hadith practices, although it was identified as hadith shahih, or written in Shahihain. In understanding hadith, Syahrur equalized hermeneutics to ta’wil. He also referred to linguistic method proposed by Abu ‘Ali al-Farisi, which was presented by Ibn Jinni and Abd al-Qahir al-Jurjani, then inserted linguistic hermeneutics elements. Linguistic hermeneutics is the affirmation that every human language does not have synonym element. Then, every word might be disappeared throughout the history development, until create new utterance with the new meaning. Pandangan Muhammad Syahrur tentang hadis dan sunnah sangat berbeda dengan ulama hadis. Syahrur menyatakan bahwa hadis adalah kehidupan Nabi Muhammad Saw. sebagai seorang nabi (pembawa berita) dan hadis merupakan hasil interaksi beliau dengan kejadian-kejadian tertentu dalam situasi tertentu pula ketika beliau masih hidup. Muhammad Syahrur memosisikan hadis atau sunnah sebagai hasil dari produk sejarah yang terjadi dalam kehidupan Nabi Saw. dan tidak memuat legitimasi hukum. Bahkan ia memaparkan beberapa bentuk hadis yang ditolak meskipun hadis tersebut dikenal sahih, atau tertera di dalam kitab Shahihain. Dalam memahami hadis, Syahrur menyamakan hermeneutik dengan ta’wil dan ta’wil adalah hermeneutik. Ia juga berpegang kepada metode lingusitik Abu ‘Ali al-Farisi, yang direpresentasikan oleh Ibn Jinni dan ‘Abd al-Qahir al-Jurjani kemudian menambahnya dengan unsur-unsur hermeneutika lingustik. Hermeneutika linguistik adalah penegasan bahwa setiap bahasa manusia tidak memiliki unsur sinonimitas. Kemudian, setiap kata bisa saja lenyap sesuai dengan perkembangan sejarah, hingga mendatangkan ungkapan baru yang bermakna baru.
KRITIK ATAS KRITIK MATAN JONATHAN A.C. BROWN Nur Kholis
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.152

Abstract

This paper examines the thesis of Jonathan A.C. Brown in his article, entitled The Rules of Matn Criticism: There Are No Rules. One of the critical issues highlighted by Jonathan A.C. Brown in this paper that deserves to be investigated is the potential for subjectivity in the practice of matn criticism. The matn criticism referred to here is more directed to the criticism of the substance of matn; that the content of a hadith must be in line with or not contradict several arguments (dalil) such as verses of the Koran, more authentic hadiths, historical facts, reason and senses or science. Up to now, scholars have not agreed on what can be used as indicators of matn criticism. The potential for subjectivity can also occur in determining the coherence of the content of a hadith with the arguments mentioned earlier (dalil). Using an analytical approach and the perspective of hadith sciences as an analytical tool, the author assesses what Jonathan A.C. Brown has discussed in his article as a scientific finding that deserves to be examined in depth. In addition, this paper provides a scientific argument as to why scholars place more emphasis on sanad criticism as the initial and primary step in the hadith validation process rather than matn criticism. The author also finds that the authoritative subjective theory proposed by Jonathan A.C. Brown to tackle the element of subjectivity is an idea that scientifically deserves to be used as a standard of reference and further discussion. Tulisan ini menelaah ulang pemikiran Jonathan A.C. Brown dalam karyanya The Rules Matn Criticism: There Are No Rules. Salah satu problem penting yang diangkat oleh Jonathan Brown dalam tulisan ini yang layak untuk dikaji adalah adanya potensi subjektifitas dalam praktek kerja kritik matan. Kritik matan yang dimaksud di sini lebih mengarah kepada kritik substansi matan bahwa kandungan sebuah hadis haruslah sejalan atau tidak bertentangan dengan sejumlah dalil seperti ayat al-Quran, hadis yang lebih sahih, fakta sejarah, akal dan indera atau ilmu pengetahuan. Para ulama hingga kini belum bersepakat atas apa saja yang dapat dijadikan indikator yang harus koheren, potensi subjektifitas tersebut juga dapat terjadi pada praktek menentukan koherensi kandungan sebuah hadis dengan dalil yang telah disebutkan tadi. Dengan menggunakan pendekatan analitis dan cara pandang ilmu hadis sebagai payung besar, penulis menilai apa yang diangkat oleh Jonathan A.C. Brown merupakan temuan ilmiah yang layak untuk dikaji secara mendalam. Selain itu pula, tulisan ini memberikan argumentasi ilmiah kenapa para ulama lebih menitik beratkan kritik sanad sebagai langkah awal dan pokok dalam proses validasi hadis dibanding kritik matan. Penulis juga menemukan teori subjektif otoritatif yang diajukan oleh Jonathan Brown untuk menanggulangi unsur subjektifitas merupakan sebuah gagasan yang secara ilmiah layak untuk dijadikan bahan acuan dan penelitian lebih lanjut.
MUHKAM DAN MUTASYABIH DALAM AL-QUR’AN: REFLEKSI KEYAKINAN DAN IMPLIKASI TERHADAP CORAK TEOLOGI ISLAM Rahmat Effendi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.153

Abstract

Research on muhkam and mutasyabih verses in the Qur’an has been widely carried out. However, no research looks at the theological aspects historically on the implications of understanding the two forms of the verse. The muhkam verse which is qath‘i dalalah implies the birth of the basic aqidah. While the mutasyabih verse which is zhanni dalalah has implications for the birth of a branch aqidah. Based on the different understandings and interpretations of the two, the historical facts of Muslims have given birth to various opinions and schools of thought. Inevitably also cause a crisis because of cross opinion. The verse mutasyabih is misinterpreted with a narrow understanding and one interpretation. While the muhkam verse is the basis for its legitimacy. There needs to be a broad perspective in dealing with this problem. Muslims who are plural and have different intellectual capacities must be able to cultivate an attitude of tolerance for different views. The paradigm of fanatical thinking must be abandoned over branch issues. Unity must be prioritized as a starting point in building the people in pluralism. This article will examine these issues. This research is library research by looking at the historical facts that exist and using clear literature. The method used in this research is descriptive-analytical and comparative so that it can reveal the mistakes that occur among the people and see the actual comparison. The goal is to create a sense of tolerance for differences and uphold the values ​​of equality and unity among the people. Penelitian atas ayat muhkam dan mutasyabih dalam al-Qur’an telah banyak dilakukan. Akan tetapi belum ada penelitian yang melihat dari aspek teologis secara historis akan implikasi dari pemahaman kedua bentuk ayat tersebut. Dari ayat muhkam yang bersifat qath‘i dalalah berimplikasi lahirnya aqidah pokok. Sedangkan ayat mutasyabih yang bersifat zhanni dalalah berimplikasi lahirnya aqidah cabang. Atas pemahaman dan interpretasi yang berbeda terhadap keduanya, pada fakta historis umat Islam telah melahirkan berbagai pendapat dan madzhab. Tidak pelak pula menimbulkan krisis karena silang pendapat. Ayat mutasyabih disalahartikan dengan pemahaman yang sempit dan satu tafsir. Sedangkan ayat muhkam menjadi landasan legitimasinya. Perlu adanya perspektif yang luas dalam menghadapi problem tersebut. Umat Islam yang majemuk dan memiliki kapasitas intelektual yang berbeda haruslah dapat menumbuhkan sikap toleransi atas perbedaan pandang. Paradigma berpikir fanatis harus ditinggalkan atas persoalan cabang. Persatuan harus diutamakan sebagai titik tolak dalam membangun umat di tengah kemajemukan. Artikel ini akan mengkaji permasalahan tersebut. Penelitian ini adalah studi kepustakan (library research) dengan melihat fakta-fakta historis yang ada dan menggunakan literatur-literatur yang jelas. Metode yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif-analitis dan komparatif, sehingga dapat mengungkapkan dengan sebenarnya kekeliruan yang terjadi di tengah umat dan melihat perbandingan yang sebenarnya. Tujuannya adalah menimbulkan rasa toleransi atas perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan dan persatuan di tengah umat.
PRESS DISPUTE RESOLUTION: METODOLOGI RESOLUSI KONFLIK BERBASIS MEDIA: (Studi Pro-Kontra Wacana Islam Nusantara pada Media Online Indonesia) Kurnia Sari Wiwaha; Ustadi Hamsah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 1 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i1.156

Abstract

Islam has been known as a religion of Rahmatn lil’alamiin which guarantees inclusion and maintains a treatise on all humanity. However, the interpretation of universality of Islam does not meet a common understanding even though within Muslim community itself. Those diverse interpretations have resulted in how the universality of Islam has been expressed. One of those quarrels toward interpretation is the discussion of Islam Nusantara. West Sumatera is one of the regions in Indonesia which implements Islamic law as its customary law in which rejection against Islam Nusantara has been echoed across the borders. The rejection caused reactions from various parties since West Sumatera strongly stated the rejection as a way for preserving it. Those dispute has been sharpened by the online news in several Indonesian media that began to raise the phenomenon up. This research aim to find out how those medias frame the news and whether online media contribute on minimizing public tensions. This research used descriptive method with qualitative approach. The source of the data focused on Indonesian online media news on 2018 and was analyzed with framing analysis from Robert N. Entman and also using the concept of treatment recommendation as an analyzes of dispute resolution. The results discovered that media with its framing analysis technique has their own moral judgement and treatment recommendation as a form of dispute resolution towards discourses in the media. This moral judgment can show the tendency and alignment of a media regarding an issue. In addition, the media also has an important role in developing the audience’s mindset in the midst of dispute it can be analyzed from the treatment recommendation that can be used as a media based dispute resolution. Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamiin dan bersifat universal serta hadir sebagai sebuah risalah seluruh umat manusia. Akan tetapi, pemaknaan terhadap universalitas Islam tidak seragam terlebih pemaknaannya bagi kalangan umat Islam itu sendiri. Hal ini menimbulkan banyak interpetasi yang bermacam-macam untuk mengekspresikan universalitas Islam ini. Salah satu bentuk interpretasi ini adalah munculnya istilah Islam Nusantara yang kembali menuai perdebatan. Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan hukum Islam dan adatnya yang sangat kuat menolak pengistilahan ini. Penolakan ini menimbulkan banyak reaksi dari beberbagai pihak. Hal ini dikarenakan, Sumatera Barat yang sangat menjaga kelestarian budayanya menolak wacana ini yang memiliki visi samaseperti yang dimiliki Sumatera Barat. Arena pertarungan ini diperluas oleh adanya pemberitaan di media-media online Indonesia yang mulai mengangkat fenomena ini. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan bagaimana media membingkai pemberitaan dan apakah media juga memiliki peran untuk meminimalisasi ketegangan yang terjadi antara pihak yang bertikai. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang diperoleh mengacu pada pemberitaan media online mainstream Indonesia pada tahun 2018 dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis framing media model Robert N. Entman dan treatment recommendation sebagai bentuk dispute resolution wacana di media. Hasil dari penelitan ini mengungkapkan bahwa dalam pembingkaian sebuah berita, media memiliki moral judgement-nya masing-masing. Moral Judgement ini yang dapat memperlihatkan arah atau keberpihakan suatu media terhadap suatu isu. Selain itu, media juga memiliki peranan penting dalam mendewasakan khalayak di tengah konflik. Hal ini terlihat dari adanya treatment recommendation yang dapat digunakan sebagai dispute resolution berbasis media.
THE PARTICE OF THE ISRA’ MI’RAJ VALUE OF THE MANDAILING NATAL COMMUNITY Dedisyah Putra; Asrul Hamid
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.159

Abstract

Isra' Mi'raj is a very important historical event for Muslims around the world. In Islam, the commemoration of Isra' and Mi'raj is a momentum to upgrade faith, add insight and motivation to worship, especially in maintaining the five daily prayers. The journey of Isra' Mi'raj is believed to be the most sacred prophetic spiritual journey, so it is natural that many Quraysh residents of Mecca at that time doubted its truth. Commemorating Isra' and Mi'raj including the realm of ikhtilaf al-fuqaha from the past until now. But the most mu'tabar opinion states the ability (al-Jawaz) in commemorating Isra' Mi'raj to achieve benefit for the religious community. This opinion is believed by the Muslim community in Mandailing Natal Regency. This paper presents a portrait of the habits of Muslims in Mandailing Natal Regency in commemorating Isra' and Mi'raj as one of the efforts to foster religious spirit to make Mandailing Natal Regency a civilized one. This research is a field research with a qualitative method with a religious approach to explain the practice of religious spirit that should bring every Muslim in Mandailing Natal Regency to practice Islamic teachings in accordance with the spirit contained in the Isra' and Mi'raj events. In addition, the custom of the Mandailing Natal community in commemorating Isra' and Mi'raj needs to be maintained and preserved as a form of local wisdom in order to realize Mandailing Natal which has the slogan of a traditional country, obedient to worship.Isra’ Mi’raj adalah peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi umat Islam seluruh dunia. Dalam Islam, peringatan Isra’ dan Mi’raj merupakan momentum untuk mengupgrade keimanan, menambah wawasan dan motivasi beribadah terutama dalam menjaga salat lima waktu. Perjalanan Isra’ Mi’raj diyakini sebagai perjalanan rohani kenabian yang paling sakral sehingga wajar bila penduduk kafir Quraisy Kota Makkah saat itu banyak yang meragukan akan kebenarannya. Memperingati Isra’ dan Mi’raj termasuk ranah ikhtilaf al-fuqaha dari dahulu sampai sekarang. Namun pendapat yang paling mu’tabar menyatakan kebolehan (al-jawaz) dalam memperingati Isra’ Mi’raj untuk mencapai maslahat bagi masyarakat beragama. Pendapat inilah yang diyakini oleh masyarakat muslim di Kabupaten Mandailing Natal. Tulisan ini menyajikan potret kebiasaan umat Islam di Kabupaten Mandailing Natal dalam memperingati Isra’ dan Mi’raj sebagai salah satu upaya memupuk semangat beragama menjadikan Kabupaten Mandailing Natal yang madani. Penelitian ini merupakan field research dengan metode kualitiatif dengan pendekatan keagamaan guna menjelaskan praktik semangat keagamaan yang seharusnya membawa setiap umat Islam di Kabupaten Mandailing Natal mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan spirit yang terkandung pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Selain itu, kebiasaan masyarakat Mandailing Natal dalam memperingati Isra’ dan Mi’raj ini perlu dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk kearifan lokal guna mewujudkan Mandailing Natal yang memiliki slogan negeri beradat, taat berbibadat.
MERAWAT RUHANI JEMAAH: STUDI DAKWAH MAJELIS TAKLIM DI DESA PANGEDARAN, KABUPATEN SAROLANGUN, PROVINSI JAMBI As'ad As'ad; Muhammad Rafii; Abdurahman Syayuthi; Fahmi Rohim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.160

Abstract

Religious expressions in rural areas is no longer a problem with the diversity it has. The social reality in Pangedaran Village is very concerning, various problems such as the education rate is very low, knowledge support activities are very minimal, even the drugs abuse is common in the village. the social setting accompanies the da'wah activities of the taklim, which demands that the recitation can fill Islamic knowledge and religious experience and the congregation's spiritual care. Thus, it is important to reveal the da'wah activities in the recitation in caring for the congregation's spirituality to pacify the human ego as spiritual beings. The purpose of this study is to explain the rituals, experiences of members in carrying out the routines of the taklim assembly to care for the spirituality of the congregation. Qualitative methods and descriptive analysis were used to complete and obtain relevant research results. Utilizing observation, in-depth interviews and documentation to support the data to answer the main questions of this research. The findings of this study, explained that the activities of the taklim assembly in caring for the congregation's spirituality were carried out by implementing dhikr, eradicating illiteracy, filling in religious knowledge, recitation rituals, reading prayers, it were done consistently.. it provide opportunities for social interaction and support the spiritual care of the congregation with social activities that form social capital so that they enter the gemeinschaft of mind group that has the same drive and motive, namely the spiritual instability of the congregation.   Melihat ekspresi keagamaan di pedesaan sudah tidak menjadi persoalan dengan keberagaman yang dimilikinya. Realitas sosial di Desa Pangedaran sangat memprihatinkan, berbagai persoalan seperti angka pendidikan sangat rendah, aktivitas pendukung pengetahuan sangat minim, bahkan maraknya narkoba sudah menjadi rahasia umum di Desa tersebut. Setting sosial demikian mengiringi aktivitas dakwah majelis taklim, yang menuntut pengajian dapat mengisi pengetahuan keislaman dan pengalaman keagamaan dan perawat ruhani jemaah. Dengan demikian penting untuk mengungkap aktivitas dakwah dalam pengajian tersebut dalam merawat ruhani jemaah dapat menentramkan ego manusia sebagai makhluk spiritual dan landasan aritkel ini. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan ritual, pengalaman anggota dalam menjalankan rutinitas majelis taklim untuk merawat kerohanian jemaah. Metode kualitatif dan menganalisis secara deskriptif digunakan untuk menyelesaikan dan memperoleh hasil penelitian yang relevan. Memanfaatkan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi dalam mendukung informasi atau data akurat untuk menjawab pertanyaan utama dari penelitian ini. Hasil dan diskusi pada temuan penelitian ini, menjelaskan bahwa aktivitas majelis taklim dalam merawat ruhani jemaah dilakukan dengan pelaksanaan zikir, pengentasan buta aksara, mengisi pengetahuan keagamaan, ritual-ritual pengajian, pembacaan do’a, amalan-amalan dan selawat dilakukan secara konsisten. Rutinitas jemaah memberi peluang interaksi sosial dan mendukung perawatan ruhani jemaah dengan kegiatan sosial yang membentuk modal sosial sehingga mereka masuk ke dalam kelompok gemeinschaft of mind yang memiliki dorongan dan motif sama, yaitu ketidakstabilan spiritual atau ruhani jemaah.
AKULTURASI PANCA INDRA METODE YADAIN LI TAHFIZIL QUR’AN Mochammad Ashabul Yamin; Anita Puji Astutik
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.169

Abstract

The law of maintaining the purity of the Qur'an for all Muslims is fardhu 'ain (mandatory) for Muslims to maintain the authenticity of the contents and lafal of the Qur'an, either by studying, memorizing, thinking and studying the interpretation of the Qur'an. However, many people are afraid of memorizing the Qur'an because the language of the Qur'an is a foreign language and there are many and many verses in common, and what is no less important is the method of memorizing the Qur'an. They don't know yet, how to memorize the Qur'an easily, happily while still paying attention to the reading in accordance with the rules of ulumut tajwid while still paying attention to the tadabur side of the Qur'an when interacting with the Qur'an, either by memorizing or memorizing. Slowly, as time progressed, the methods of memorizing the Qur'an were perfected so that the Tahfiz al-Qur'an Quarantine Foundation formulated a sophisticated acceleration method that was given to Muslims who were able to answer the needs of the community if they wanted to memorize the Qur'an, namely memorizing the Qur'an using the Yadain Method by using the potential that exists within the five senses, which if in the process of memorizing it is done well with ‘ulum al-tajwid, it will make the process of memorizing the Qur'an easy. In this study, the author uses a qualitative approach which the author is directly involved in the field has applied the yadain method. The benefit in the application of this yadain method is to print a memorizer of the Qur'an by knowing the location of the verse and the number of the verse or what can be called (visualization of the Qur'an), then having the ability to memorize what is in the contents of the verses of the Qur'an. So that the messages contained in the Qur'an can reach him through contemplation of the verses of the Qur'an with the assistance of the translation of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia.   Hukum menjaga kemurnian al-Qur’an bagi semua muslim ialah fardhu ‘ain (wajib) bagi para pemeluk Islam untuk menjaga keotentikan isi dan lafal al-Qur’an, baik dengan mempelajari, menghafal, mentadaburi dan mempelajari tafsir al-Qur’an. Akan tetapi banyak di antara masyarakat yang takut  menghafal al-Qur'an dikarenakan bahasa al-Qur'an merupakan bahasa asing dan jumlahnya yang banyak serta mempunyai banyak kesamaan ayat, dan juga yang tidak kalah penting ialah metode dalam menghafal al-Qur’an pun mereka belum ketahui, bagaimana cara menghafal al-Qur’an dengan mudah, dengan bahagia yang tetap mengindahkan bacaan sesuai dengan kaidah ‘ulum al-tajwid beserta tetap memperhatikan sisi tadabbur al-Qur’an sewaktu berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dengan menghafal ataupun memuraja‘ah. Perlahan waktu yang terus berjalan mengalami penyempurnaan metode-metode dalam menghafal al-Qur’an sehingga  menjadikan Yayasan Karantina Tahfiz al-Qur’an merumuskan sebuah metode akselerasi yang mutakhir yang diberikan kepada umat Islam yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat apabila hendak menghafal al-Qur’an, yaitu menghafal al-Qur’an Metode Yadain dengan menggunakan potensi yang ada dalam diri berupa panca indera, yang apabila dalam proses menghafalnya dilakukan dengan baik dengan dibekali ‘ulum al-tajwid maka akan menjadi mudah proses menghafal al-Qur’an tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yang penulis secara langsung terlibat di lapangan telah menerapkan metode yadain. Manfaat dalam penerapan metode yadain ini ialah mencetak seorang penghafal al-Qur’an dengan mengetahui letak ayat dan nomor ayat atau yang bisa disebut (visualisasi al-Qur’an), kemudian mempunyai kemampuan mentadaburi apa yang berada dalam isi kandungan ayat al-Qur’an sehingga pesan-pesan yang berada dalam al-Qur’an tersebut dapat tersampai padanya melalui perenungan ayat al-Qur’an dengan dibantu terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Page 11 of 22 | Total Record : 211