TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Articles
211 Documents
MODERNITAS DAN GLOBALISASI: TANTANGAN BAGI PERADABAN ISLAM
muhammad rusydi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2018): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v17i1.67
This paper aims to explain the globalization and modernity inpact problem for Islamic civilization. Rennassaince that has been developing in west and has been giving inpact not only for progressing science and technology but also for modernity acceleration in a veriety of life field. But, the progress not for Islam because it has been facing the internal problem such as stupidity and destitution. So that, the conditions have given inpact for Islam that has been more inferior than west. The globalization and modernity moslem civilization was changed by the western civilization. Makalah ini bertujuan untuk membahas tentang dampak modernitas dan globalisasi bagi peradaban Islam. Renaissans yang membawa kepada kemajuan di Barat bukan hanya membawa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga memunculkan berbagai kemudahan dalam berbagai bidang kehidupan. Maka muncul modernitas dan globalisasi. Namun modernitas dan globalisasi ini tidak banyak menguntungkan Islam dan kaum muslim karena membawa ekses negatif dalam kalangan internal mereka. Bahkan, modernitas dan globalisasi ini menjadi tantangan bagi peradaban Islam dan kaum muslim.
POSISI TAFSIR MISTIS FENOMENOLOGI SIMBOLIK DALAM KERANGKA TAFSIR KONVENSIONAL
nunung lasmana
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.45
Artikel ini membahas tafsir fenomenologi simbolik yang mengarah kepada penafsiran secara simbolik terhadap format dan struktur al-Qur’an, seperti makna di balik huruf-huruf Hijaiyyah, angka-angka dalam al-Qur’an, jumlah ayat al-Qur’an, nama-nama surat, susunan juz (pembagian) al-Qur’an, dan tanda ‘ain. Upaya penafsiran ini bersumber dari pengalaman mistis yang dialami oleh Lukman Abdul Qahar Sumabrata. Namun, metodologi yang ditawarkan oleh Sumabrata ini sangat kontroversial karena berbeda secara signifikan dengan metode penafsiran yang dianut oleh para mufassir konvensional. Objek metode tafsir fenomenologi simbolik bukanlah bahasa verbal, melainkan simbol dan struktur al-Qur’an yang tertuang dalam Mushaf Utsmani.
TRANSFORMASI PEMIKIRAN DAN GERAKAN ISLAM INDONESIA KONTEMPORER
muhammad rusydi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.50
Transformasi Islam era kontemporer Indonesia adalah deskripsi perkembangan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia pada zaman modern. Artikel ini hendak membahas perkembangan atau “transformasi” Islam Indonesia sejak masa menjelang kemerdekaan hingga masa masa reformasi. Artikel ini menemukan bahwa transformasi Islam pada masa mutakhir Indonesia mengalami perkembangan yang pasang surut. Pada masa awal pendudukan Jepang umat Islam memperoleh kebebasa untuk melakukan transformasi Islam dalam bidang politik dan kemasyarakatan. Namun menjelang kemerdekaan Indonesia keadaan menjadi terbalik, peran trasformasi umat Islam menjadi sempit dibanding dengan peran yang diperoleh oleh golongan lainnya khususnya kalangan Nasionalis sekuler.
PENGARUH NEO-REVIVALIS ISLAM TERHADAP SEKULERISME DI PALESTINA
abdullah syahab
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.51
Artikel ini membahas serunya persinggungan neo-revilaimse dengan sekulerisme dalam Dunia Islam khususnya di Timur Tengah. Kasus yang diambil adalah kiprah Ikhwanul Muslimin melalui organisasi sayapnya yakni Hamas di Palestina dalam menghadang pertumbuhan sekulerisme. Kebangkitan Umat Islam dunia diiringi dengan berkembangnya Neo-revivalis Islam yang bercita-cita mengembalikan Islam tanpa menghilangkan nasionalisme terhadap negara. Hamas telah mendapatkan dukungan dan kepercayaan rakyat Palestina. Sekulerisme justru mengakibatkan umat Islam termarjinalkan bidang politik, ekonomi, dan budaya. Artikel ini menemukan bahwa gerakan neorevivalis Islam merupakan reaksi atas hegemoni Barat dan kesadaran baru umat Islam terhadap ajaran Islam yang telah lama hilang akibat sekulerisme yang ditanamkan Barat.
ETIKA DAKWAH: KONTEKSTUALISASI DAKWAH PROFESIONAL
edi amin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.52
Tulisan ini ingin melihat etika dakwah sebagai landasan dakwah yang kontekstual dan profesional. Dakwah yang kontekstual dan profesional diperlukan saat ini guna menghindari dakwah yang kolot, kaku, monoton, cenderung monolog, menggurui (top-down). Perubahan yang diinginkan dalam dakwah adalah pengamalan dan penghayatan nilai-nilai agama dalam segala aktivitas kehidupan individu dan masyarakat. Adapun etika dakwah yang menjadi fokus pembahasan penulisan ini mencakup: etika dalam keteladanan; etika dalam keikhlasan; etika dalam pluralisme agama; etika dalam bertauhid; etika dalam politik; etika dalam globalisasi. Enam etika tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan bagi da’i dalam membangun dakwah yang kontektual dan profesional. Sumber tulisan ini adalah al-Quran dan Hadis. buku, dan jurnal, yang dianalisis secara kualitatif.
KOMUNIKASI POLITIK DALAM TAFSIR (Kajian atas “Tafhīm al-Qur'ān” karya Abū al-Aʿlā Mawdūdī )
Hery Purwosusanto
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.53
Studi ini membahas pemikiran Abū al-Aʿlā Mawdūdī dalam tafsir Tafhīm al-Qur’ān yang difokuskan pada corak komunikasi politiknya. Ayat-ayat al-Quran yang menjadi prioritas bahasan adalah yang terkait dengan prinsip-prinsip komunikasi politik dengan metode historis dalam perspektif komunikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kontekstualitas tafsir dalam Tafhīm al-Qur’ān karya Mawdūdī sangat jelas. Ayat-ayat yang terkait dengan komunikasi ditafsirkan secara idealis, moderat dan realistik. “Negara Islam” menurutnya adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam kehidupan.
STUDY NASKAH TENTANG THALAQ DALAM KITAB TAFSIR MA‘ĀLIM AL-TANZĪL KARYA AL-BAGHAWI
ermawati ermawati
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i1.54
Artikel ini merupakan hasil studi naskah atas tafsir al-Baghawi khususnya ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 228 yang berbicara tentang thalaq. Telaah ini ingin mengetahui gaya penafsiran al-Baghawi dalam menafsirkan ayat tentang thalaq. Dari studi naskah yang dilakukan, dapat diketahui bahwa al-Baghawi sangat hati-hati dalam menafsirkan al-Qur’an serta tidak gegabah dalam menentukan pendapatnya. Al-Baghawi terlebih dahulu mengemukakan pendapat-pendapat yang diambil dari riwayat-riwayat kuat (riwāyah), sedangkan dalam menetapkan hukum dia melandaskannya pada ayat al-Qur’an. Penulis menilai bahwa penafsiran yang dikemukakan al-Baghawi didasarkan pada dalil-dalil yang shahih dan dari ayat-ayat al-Qur’an. Al-Baghawi telah mengembangkan paham bahwa ayat-ayat al-Qur’an saling menjelaskan antara satu dengan yang lain (yufasiru ba’dhuhū ba’dhan) dan metode tafsīr bi al-ma'tsur.
IKHWANUL MUSLIMIN DAN DEMOKRASI DI MESIR
abdullah syahab
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i2.55
Demokirasi di negara-negara mayoritas muslim bergulir sejak berakhirnya perang dunia II, bukan hanya kalangan sekuler yang mengikuti Pemilu namun gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin yang dicap radikal dan identik dengan terorisme juga mengambil bagian dalam pesta demokrasi di Mesir, Walau harus berhadapan dengan pemimpin otoriter dan mengalami berbagai macam teror, penyiksaan dan pembunuhan, gerakan Islam ini tetap istiqomah bahkan pada akhirnya mendapatkan kepercayaan masyarakat Mesir. Democratization in Muslim-majority countries has been running since the end of World War II, not just secularists who participated in the elections but Islamic movements like the Muslim Brotherhood stamped as radical and identical with terrorism also took part in the democratic party in Egypt. Despite having to deal with authoritarian leaders and experienced various kinds of terror, torture and murder, this Islamic movement still istiqomah even in the end get the trust of Egyptian society.
ISLAM DAN PLURALISME AGAMA
sagap al-munawwar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i2.56
Artikel ini membahas visi Islam dalam konteks pluralisme agama dengan menjadikan Piagam Madinah sebagai pijakan dasar analisis. Obyek kajiannya adalah visi pluralisme agama di Indonesia yang merujuk kepada Pancasila di mana dahulunya berasal dari konsep Piagam Jakarta. Piagam Madinah yang merupakan sunnah Rasulullah s.a.w. itu pada hakikatnya memuat prinsip-prinsip kehidupan beragama dan bernegara secara generik dan universal. Sementara Piagam Jakarta dalam bentuknya yang utuh merupakan upaya mengejawantahkan kehidupan beragama dan bernegara sesuai konteks ke-Indonesiaan. Oleh karena itu sangat relevan untuk diaktualisasikan kembali. Piagam Madinah yang merupakan sunnah Rasulullah s.a.w. itu pada hakikatnya memuat prinsip-prinsip kehidupan beragama dan bernegara secara generik dan universal. This article discusses the vision of Islam in the context of religious pluralism by making the Medina Charter as the foundation of his analysis. The object of the study is the vision of religious pluralism in Indonesia which refers to Pancasila where it originally came from the concept of the Jakarta Charter. Medina Charter which is the sunna of the Prophet Muhammad saw. it essentially contains the principles of religious life and state in a generic and universal. Meanwhile, the Jakarta Charter in its intact form is an effort to manifest religious and state life in the context of Indonesia. It is therefore very relevant to re-actualize. Medina Charter which is the sunna of the Prophet s.a.w. it essentially contains the principles of religious life and state in a generic and universal.
ISLAM WAŞATIYYAH: REFLEKSI ANTARA ISLAM MODERN DAN UPAYA MODERASI ISLAM
Mohammad Deny Irawan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2017): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v16i2.57
Diskursus tentang Islam moderat di dunia akademik mulai mencuat ke permukaan. bagaimana tidak? ketegangan yang muncul di Timur tengah, stagnanisasi perkembangan islam di Afrika hingga islamophobia di Eropa sangat berperan penting dalam kemunculan wacana islam moderat yang ditawarkan muslim di Indonesia. Islam di Indonesia memang memiliki kecendrungan berbeda dibandingan komunitas muslim di beberapa negara. Azyumardi Azra dalam sesi perkuliahan berulang kali mengungkapkan pentingnya pengembangan corak muslim yang diperagakan di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memeragakan peranan penting dalam membuat citra Islam sedikit bergeser dari setnimen keekrasan berujung kekerasan ke Islam yang memiliki cara pandang cinta damai namun tetap berada dalam bingkai Islam. Discourse on moderate Islam in the academic world began to stick to the surface. How come? the emerging tensions in the Middle East, the stagnantization of the development of Islam in Africa to Islamophobia in Europe play an important role in the emergence of moderate Islamic discourse offered by Muslims in Indonesia. Islam in Indonesia does have a different tendency than the Muslim community in some countries. Azyumardi Azra in a lecture session repeatedly expressed the importance of developing a modeled musical style in Indonesia. As a country with the largest Muslim majority in the world, Indonesia also demonstrates an important role in making the image of Islam slightly shifted from a set of sentiments of violence-endowed violence to Islam that has a peaceful love outlook but remains within the framework of Islam.