cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
EPISTEMOLOGI POSTRUKTURALISME OBJEK PEMIKIRAN ISLAM ABED AL-JABIRI DAN IMPLIKASINYA BAGI ILMU-ILMU DAN PEMIKIRAN KEISLAMAN Hardiono Hardiono
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 1 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i1.119

Abstract

Tulisan ini menganalisa tentang epistemologi dari pemikiran Arab kontemporer yakni Abed al-Jabiri. Sebagai pemikir muslim yang terkemuka berasal dari Maroko, Abed al-Jabiri terkenal dengan idenya mengkritik irasionalisme dan mengedepankan rasionalisme dalam merumuskan pemikiran Islam. Dia menjadi percaya bahwa ajaran Islam harus dilihat sebagai sekumpulan ide yang sesuai dengan rasionalitas dan gagasan ilmiah. Dalam analisisnya, Abed al-Jabiri mengkritik nalar Arab yaitu epistemologi bayani, irfani dan burhani. Dengan mengekplorasikan ketiga konsep epistemologi tersebut Abed al-Jabiri dengan tegas menyatakan bahwa ketiga konsep tersebut sudah membuat nalar Arab menjadi mundur. Al-Jabiri menganggap epistemologi nalar Arab ini sebagai titik kunci untuk memasuki semesta peradaban Arab yang membentuk secara keseluruhan bangunan keIslaman yang berkembang, bukan hanya di wilayah Arab, tetapi seluruh dunia, maka dari itu amat penting ketiga konsep ini harus dikeritisi oleh al-Jabiri dalam konsep dari postrukturalisme. This paper analyzes the epistemology of contemporary Arab thought, namely Abed al-Jabiri. As a prominent Muslim thinker from Morocco, Abed al-Jabiri is well known for his ideas of criticizing irrationalism and promoting rationalism in formulating Islamic thought. He came to believe that Islamic teachings should be seen as a set of ideas compatible with rationality and scientific ideas. In his analysis, Abed al-Jabiri criticized Arab reasoning, namely the epistemology of bayani, irfani, and burhani. By exploring these three epistemological concepts, Abed al-Jabiri firmly stated that these three concepts had made Arab reasoning backward. Al-Jabiri considers this epistemology of Arab reasoning as the key point to enter the universe of Arab civilization which forms the whole Islamic building that develops, not only in the Arab region but throughout the world, therefore it is very important that these three concepts must be scrutinized by al-Jabiri.
HERMENEUTIKA HADIS SA‘DUDDIN AL-UTSMANI (STUDI KITAB AL-MANHAJ AL-WASTH FI AL-TA’AMUL MA'A AL-SUNNAH AL-NABAWIYYAH) Wely Dozan; Mitha Mahdalena Efendi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 1 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i1.120

Abstract

Pendekatan hermeneutika dalam lintas pemikiran kontemporer kerap kali dijadikan sebagai acuan ketika memahami teks al-Qur’an dan Hadis. Hermeneutika berfungsi sebagai alat untuk memproduksi pemahaman dan metodologi yang paling populer untuk memahami teks secara kontekstual dan struktural dengan baik. Fokus penelitian ini akan memetakan pemahaman secara signifikan melalui teori hermeneutika hadis ulama kontemporer yaitu Sa’duddin al-Ustmani dalam kitabnya “al-Manhaj al-Wasth fi al-Ta‘amul ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah”. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman metodologis melalui teori hermeneutika hadis yang menghasilkan tiga aspek penting dalam memahami sunnah nabawiyyah yaitu: pertama, tasarruf dalam masalah agama yang disampaikan oleh Rasul. Kedua, tasarruf dalam agama yang di-ijtihadi Nabi ini bukanlah wahyu dan terkadang Nabi salah dalam hal ini tetapi tidak berlanjut dalam kesalahanya melainkan biasanya ada wahyu yang membenarkan. Wahyu yang membenarkan ini terkadang berupa al-Qur’an terkadang juga bukan al-Qur’an. Ketiga, tasarrufat dalam urusan dunia. Asumsi dasar penulis yaitu menguraikan pemikiran ulama kontemporer Sa’duddin al-Ustmani dalam kitabnya “al-Manhaj al-Wasth fi al-Ta‘amul ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah”, yang mana kitab ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara pertengahan dalam memahami sunnah nabawiyyah tersebut. The hermeneutic approach in contemporary thought is often used as a reference when understanding the text of the Qur’an and Hadith. Hermeneutics serves as a tool for producing understanding and the most well-known methodology for understanding texts contextually and structurally well. The focus of this research will be to map understanding significantly through the hermeneutic theory of the hadiths of contemporary scholars, namely Sa’duddin al-Ustmani in his book “al-Manhaj al-Wasth fi al-Ta‘amul ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah”. This paper aims to explore methodological understanding through the theory of hermeneutic hadith which produces three important aspects in understanding the Sunnah Nabawiyyah, namely: First, tasarruf in religious matters conveyed by the apostle. Second, the tasarruf in the religion that is ijtihadi by the Prophet is the error of revelation and sometimes it is wrong but it does not continue in the error, usually there is revelation that justifies it. The revelation that justifies this is sometimes in the form of al-Qur’an, sometimes it is not al-Qur’an. Third, tasarrufat in world affairs. The basic assumption of the author is to describe the contemporary scholar Sa’duddin al-Ustmani in his book “al-Manhaj al-Wasth fi al-Ta‘amul ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah”, which aims to provide an intermediate understanding in understanding the sunnah nabawiyyah.
POLA KONFLIK AGAMA DI WILAYAH PLURAL: STUDI KASUS PENDIRIAN RUMAH IBADAH DI KOTA JAMBI Abdul Halim; Zaki Mubarak
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 1 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i1.128

Abstract

Kota Jambi memiliki potensi konflik sosial, khususnya konflik agama terkait pendirian rumah ibadah. Sejarah konflik agama di Indonesia mencatat bahwa rumah ibadah menjadi salah satu sumber konflik potensial yang seringkali berujung pada perusakan dan pembakaran. Terkait hal tersebut, perlu dilakukan upaya agar konflik ini tidak berkepanjangan, salah satunya dengan revitalisasi kearifan budaya lokal yang tumbuh di masing-masing daerah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif dengan mengambil objek lokasi di Telanaipura, Alam Barajo, dan Kotabaru Kota Jambi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebagai kawasan majemuk, Kota Jambi juga tak luput dari konflik pendirian rumah ibadah yang terjadi di tiga wilayah, namun tidak berkepanjangan. Pola konflik diawali dengan aksi damai masyarakat muslim terhadap pendirian gereja di pemukiman mayoritas muslim. Konflik tersebut tidak berlanjut menjadi anarkis karena kearifan lokal masyarakat Kota Jambi menyelesaikan perkara melalui mufakat bersama tuo-tuo tengganai, tokoh adat, dan tokoh agama sehingga dapat diselesaikan oleh tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah daerah di Kota Jambi. Jambi City has the potential for social conflict, especially religious conflict related to the establishment of houses of worship. The history of religious conflict in Indonesia notes that houses of worship have become a source of potential conflict which often leads to destruction and burning. Related to this, it is necessary to make efforts to prevent this conflict is not prolonged, one option is by revitalizing of the local cultural wisdom that grows in each region. This study was conducted using a qualitative research approach. This research was conducted in Telanaipura, Alam Barajo, and Kotabaru in Jambi City. The results of this study found that as a pluralistic area, Jambi City was also not spared from the conflict of the establishment of places of worship that occurred in three regions, but was not prolonged. The pattern of conflict began with peaceful actions by Muslim communities against the construction of churches in Muslim-majority settlements. The conflict did not continue to be anarchic because the local wisdom of the people of Jambi City resolved cases through consensus with tuo-tuo tengganai, traditional leaders, and religious leaders so that it could be resolved by traditional leaders, religious leaders and local governments Jambi City.
TELAAH HERMENEUTIKA DALAM KITAB TA’WIL MUKHTALIF AL-HADITS KARANGAN IBN QUTAYBAH Muhammad Sakti Garwan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.121

Abstract

This article examines the book Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits, written by Ibn Qutaybah. This book is compiled in response to the political turmoil that occurred during his lifetime. Ibn Qutaybah also wanted to dispel the assumption that some groups who accused the scholars of hadith, had committed negligence, by narrating hadiths that are in conflict with each other that are not in line with the Qur‟an and the understanding of reason. This study uses the library method by making the book Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits the primary source. In addition, the author uses the theory of hermeneutics as an analytical tool to categorize this book as a hermeneutic book of classical hadith. The results of the study stated that the book Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits has its own characteristics in looking at the hadith that seem to be contradictory but in terms of meaning is not, and also he took excellent steps in completing a hadith of the Prophet Muhammad saw., in that method and step until the book Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits is categorized as a hermeneutic book of classical hadith. Tulisan ini menelaah kitab Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits, yang dikarang oleh Ibn Qutaybah. Kitab ini disusun sebagai respons tentang pergolakan politik yang terjadi pada masa beliau hidup. Ibn Qutaybah juga ingin menepis anggapan sebagian golongan yang menuduh ulama hadis telah melakukan kecerobohan dengan meriwayatkan hadis yang saling berlawanan yang tidak sejalan dengan al-Qur‟an dan pemahaman akal. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menjadikan kitab Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits sebagai sumber primer. Selain itu, penulis menggunakan teori hermeneutika sebagai alat analisis untuk mengategorikan kitab ini sebagai kitab hermeneutika hadis klasik. Hasil penelitian menyatakan bahwa kitab Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits mempunyai karakteristik tersendiri dalam melihat hadis-hadis yang kelihatan saling kontra namun pada segi maknanya tidak, dan juga beliau mengambil langkah-langkah yang sangat baik dalam penyelesaian suatu hadis Nabi Muhammad saw., dalam metode dan langkah itulah hingga kitab Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits ini dikategorikan sebagai kitab hermeneutika hadis klasik.
NILAI FILOSOFIS DAN SPIRITUAL DALAM TRADISI BAUMO MASYARAKAT KECAMATAN BATIN XXIV KABUPATEN BATANGHARI Ziman Ziman Ziman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.124

Abstract

This study discusses the philosophical and spiritual values contained in the baumo tradition of the people of Batin XXIV district, Batanghari Regency. The baumo tradition that has been going on for generations in the modern era is starting to be displaced by modern agricultural culture. Not only its existence has begun to be eroded by modern culture, but also the values contained therein have begun to be forgotten by the local community. Even though the baumo traditional values contain local wisdom values, environmental conservation values, spiritual values, and wisdom values that are very relevant in today's modern life. The method that I use in this research is a qualitative research method, to explore and understand the social and cultural phenomena that exist in society. The data collection method that the writer uses is through direct observation into the field, interviews with Umo farmers, community leaders, and traditional leaders, and documentation by examining documents related to the object of research, including Jambi Malay cultural texts. The results of this study indicate that: First, epistemologically, the community's knowledge in carrying out the baumo tradition is based on Jambi's traditional law and Malay culture, namely the syara' jointed tradition and the syara' with the Kitabullah jointed. Apart from that, the baumo tradition is also based on empirical knowledge or people's experiences in terms of natural phenomena. Axiologically, the baumo tradition contains environmental and ethical values in living life. Meanwhile, the baumo tradition also contains spiritual values in the form of belief in the soul of rice, basokat after harvesting umo as a form of belief in religion, and ethics in treating rice as a form of belief in the existence of God. Penelitian ini membahas tentang nilai filosofis dan nilai spiritual yang terkandung dalam tradisi baumo masyarakat Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batanghari. Tradisi baumo yang telah berlangsung secara turun temurun itu di era modern saat ini mulai tergeser eksistensinya oleh budaya pertanian modern. Tidak hanya eksistensinya saja yang mulai tergerus budaya modern, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pun mulai dilupakan masyarakat setempat. Padahal pada nilai-nilai tradisi baumo tersebut terkandung nilai kearifan lokal, nilai konservasi lingkungan, nilai spiritual dan nilai kearifan yang sangat relevan dalam kehidupan modern saat ini. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan tujuan untuk menggali dan memahami fenomena sosial dan budaya yang ada di masyarakat. Adapun metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah melalui observasi langsung ke lapangan, wawancara kepada para petani umo, tokoh masyarakat dan tokoh adat, serta dokumentasi dengan meneliti dokumen-dokumen yang berkaitan dengan objek penelitian, termasuk naskah-naskah budaya melayu Jambi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: Pertama, secara epistemologis pengetahuan masyarakat dalam melakukan tradisi baumo didasarkan pada hukum adat dan budaya melayu Jambi, yaitu adat yang bersendi syara‟, dan syara‟ yang bersendi kitabullah. Selain itu, tradisi baumo juga didasarkan pada pengetahuan empiris atau pengalaman masyarakat dalam hal gejala-gejala alam. Secara aksiologis, dalam tradisi baumo terkandung nilai etika lingkungan dan etika dalam menjalani hidup. Sementara itu, tradisi baumo juga mengandung nilai-nilai spiritual berupa keyakinan pada adanya jiwa padi, basokat saat usai memanen umo sebagai wujud keyakinan pada agama, serta adab dalam memperlakukan padi sebagai bentuk keyakinan pada adanya Tuhan.
PILKADA DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: STUDI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DI PROVINSI JAMBI PASCA PEMILIHAN GUBERNUR 2015 Pahrudin HM; Firdaus Firdaus
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.125

Abstract

Islam has a political concept that functions to realize synergistic welfare between the interests of the world and the hereafter. In Islam, the government must take a significant role in regulating people's lives based on the principles of the Qur'an and Sunnah. In the Indonesian context, regional autonomy provides wider space for regions to develop their territories so that people's welfare can be realized. Various studies show that local governments play a major role in efforts to improve people's welfare through their development policies. Jambi Province is a region that has held several regional elections, one of which was in 2015 when Zumi Zola and Fachrori Umar were elected as governor and deputy governor. Efforts to build Jambi with its various resources are carried out by the government through its vision and mission known as TUNTAS and aimed at improving the welfare of the community in 2015-2021. Based on this research, it is known that poverty is still a major problem that must be resolved by the Jambi Provincial Government. In addition, unemployment and development inequality between regions in Jambi Province are also problems that the government should pay attention to through innovative-solution policies in the future. Islam memiliki konsep politik yang berfungsi untuk merealisasikan kesejahteraan yang sinergis antara kepentingan kehidupan dunia dan akhirat. Pemerintah dalam Islam harus mengambil peran yang signifikan dalam mengatur kehidupan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip al-Qur‟an dan Sunnah. Dalam konteks Indonesia, otonomi daerah memberi ruang yang lebih luas bagi daerah untuk membangun wilayahnya agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Upaya membangun diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan pembangunan pemerintah daerah yang diusung kepala daerah yang terpilih melalui pilkada. Beragam studi memperlihatkan bahwa pemerintah daerah berperan besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan-kebijakan pembangunannya. Provinsi Jambi merupakan wilayah yang telah beberapa kali menyelenggarakan pilkada, salah satunya tahun 2015 dengan terpilihnya Zumi Zola dan Fachrori Umar sebagai gubernur dan wakil gubernur. Upaya membangun Jambi dengan beragam sumberdayanya dilakukan pemerintah melalui visi misinya yang dikenal dengan TUNTAS dan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tahun 2015-2021. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa kemiskinan masih menjadi problem utama yang harus dicarikan solusinya oleh Pemerintah Provinsi Jambi. Di samping itu, pengangguran dan ketimpangan pembangunan antar wilayah di Provinsi Jambi juga menjadi problem-problem yang harus menjadi perhatian pemerintah melalui kebijakan-kebijakan inovatif-solutif di masa-masa mendatang.
INTERPRETASI HADIS-HADIS TENTANG NIKAH MUT’AH (KAJIAN TEMATIK) Sinta Rahmatil Fadhilah; Umu Nisa Ristiana; Siti Aminah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.126

Abstract

The understanding of a hadith that tends to be textual, without considering all the aspects that surround it, sometimes creates misinterpretations. One example of what became viral at the end of 2017 was nikah mut‘ah, which was made viral by the online site nikahsirri.com. The issue of nikah mut‘ah then became the spotlight of various parties. Nikah mut‘ah is a marriage that is limited by time. In understanding the hadith about nikah mut‘ah, the scholars have different opinions, some say that nikah mut‘ah is haram and some say that marriage is permissible. So in order to understand the hadith, a methodology is needed. This article is a literature research-based research using the thematic methodology in understanding the related traditions about nikah mut‘ah. So, in conclusion, the mut‘ah marriage that was allowed by the Prophet was during the period before the stability of Islamic law, that is, it was allowed at the beginning of Islam when traveling and in war. He made concessions for his friends who were fighting in Allah‘s way to get married within a certain time limit, for fear that they would fall into adultery. However, then mut‘ah marriage was forbidden. Pemahaman tentang sebuah hadis yang cenderung tekstual, tanpa mempertimbangkan segala aspek yang melingkupinya, terkadang membuat salah pengartian. Salah satu contoh yang menjadi pembicaraan yang sedang viral di akhir tahun 2017 adalah nikah mut‘ah, yang diviralkan oleh situs online nikahsirri.com. Permasalahan tentang nikah mut‘ah kemudian menjadi sorotan dari berbagai pihak. Nikah mut‘ah adalah nikah yang dibatasi oleh waktu. Dalam memahami hadis tentang nikah mut‘ah para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan nikah mut‘ah tersebut haram dan ada yang mengatakan bahwa nikah itu dibolehkan. Jadi untuk memahami hadis diperlukan sebuah metodologi, artikel ini merupakan penelitian berbasis penelitian pustaka dengan menggunakan metodologi tematik dalam memahami hadis-hadis terkait tentang nikah mut‘ah. Jadi, kesimpulannya nikah mut‘ah yang diperbolehkan oleh Rasulullah adalah ketika masa sebelum stabilnya syariat Islam, yaitu diperkenankannya pada awal Islam ketika dalam keadaan bepergian dan peperangan. Beliau memberi kelonggaran kepada sahabat-sahabatnya yang ikut berperang di jalan Allah untuk nikah dengan batas waktu tertentu, karena dikhawatirkan mereka akan jatuh ke dalam perzinahan. Akan tetapi kemudian nikah mut‘ah itu diharamkan.
INDIKATOR TERCIPTANYA MASYARAKAT MADANI PERSPEKTIF AL-QUR’AN Ahmad Mustaniruddin; Hery Afriyadi; Jamilah Abu Bakar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.127

Abstract

Creating an ideal life for society is not solely the responsibility of society itself, but it requires collaboration between society and the state in creating a peaceful, prosperous, open, advanced, and modern society or better known as civil society. The role of the Koran as a guideline for human life should also talk about this. Therefore, it is necessary to reveal the indicators of civil society in the Koran so that the idealized term of civil society can be realized. By using the content analysis method, this article describes and reveals what indicators must be met to realize civil society in Indonesia as contained in the al-Qur'an. This article finds that in order to realize what is called civil society in Indonesia, the state needs to carry out its obligations and fulfill the rights of its people as well as uphold the principles of faith, humanity, unity, deliberation, and justice, and the society becomes a civilized society, upholds it. Human values, as well as divine values, highlight the material dimension as well as the spiritual dimension built on the pillars of religion and advance in the mastery of science and technology. Menciptakan kehidupan yang ideal bagi masyarakat bukan semata tanggung jawab masyarakat itu sendiri, namun diperlukan kolaborasi antara masyarakat dan negara dalam menciptakan masyarakat yang damai, sejahtera, terbuka, maju, dan modern atau yang lebih dikenal sebagai masyarakat madani. Peranan al-Qur‘an sebagai pedoman hidup manusia semestinya juga membicarakan tentang hal tersebut. Oleh karenanya, perlu mengungkap indikator masyarakat madani dalam alQur‘an agar term masyarakat madani yang diidam-idamkan dapat terwujud. Dengan menggunakan metode analisis isi, artikel ini menjelaskan dan mengungkap apa saja indikator yang wajib dipenuhi untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia yang terdapat dalam al-Qur‘an. Artikel ini menemukan bahwa untuk mewujudkan apa yang disebut dengan masyarakat madani di Indonesia, negara perlu menjalankan kewajibannya dan menunaikan hak-hak rakyatnya serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip keimanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan, dan masyarakatnya menjadi masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sekaligus nilainilai ketuhanan, menonjolkan dimensi material sekaligus dimensi spiritual yang dibangun di atas pilar agama serta maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.
AMAR MA‘RUF NAHī MUNKAR: SEBUAH KAJIAN ONTOLOGIS Badarussyamsi Badarussyamsi; Mohammad Ridwan; Nur Aiman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.175

Abstract

This article examines ontologically the term "amar ma'ruf nahī munkar" which is always hotly discussed. The aspects studied include the definition, history, law, terms, and pillars of Amar ma'ruf nahi munkar. So far, the concept of amar ma'ruf nahī munkar has not been studied comprehensively so that its meaning is minimized only in the context of da'wah, even though the social content of the meaning of the word is very important to reveal. The focus of the study in this article is how to understand the concept of amar ma'ruf nahī munkar in accordance with the instructions of the Qur'an and al-Sunnah as well as the views of Muslim scholars. The study method carried out is a literature review by examining in depth the concept of amar ma'ruf nahī munkar and its scope. The research findings show that the concept of amar ma'ruf nahī munkar has broad dimensions, both with regard to definition, history, law, terms, and pillars as well as their application. It is very possible that what has been seen as amar ma'ruf nahī munkar can not actually be called a realization of this concept, because the ontological indicators in this concept have not been fulfilled. The ontological study of the concept of ma'ruf nahī munkar implies the message that every Muslim must participate in creating a stable and comfortable social order, which can provide guarantees for the creation of a good quality of life for the community. Artikel ini mengkaji secara ontologis term “amar ma‘ruf nahī munkar” yang senantiasa hangat diperbincangkan. Aspek-aspek yang dikaji mencakup definisi, sejarah, hukum, syarat, dan rukun Amar ma‘ruf nahi munkar. Selama ini konsep amar ma‘ruf nahī munkar belum dikaji secara komprehensif sehingga dikecilkan artinya hanya dalam konteks dakwah, padahal kandungan sosial dari makna kata tersebut justru sangat penting untuk diungkap. Fokus kajian dalam artikel ini adalah bagaimana memahami konsep amar ma‘ruf nahī munkar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan al-Sunnah serta pandangan para ulama Muslim. Metode kajian yang dijalankan adalah kajian literatur dengan mencermati secara mendalam konsep amar ma‘ruf nahī munkar beserta ruang lingkupnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep amar ma‘ruf nahī munkar memiliki dimensi yang luas, baik yang berkenaan dengan definisi, sejarah, hukum, syarat, dan rukun serta aplikasinya. Sangat mungkin terjadi bahwa apa yang selama ini dipandang sebagai amar ma‘ruf nahī munkar sebenarnya belum bisa disebut sebagai realisasi terhadap konsep ini, karena belum terpenuhinya indikator-indikator ontologis dalam konsep ini. Kajian ontologis terhadap konsep ma‘ruf nahī munkar menyiratkan pesan bahwa setiap Muslim harus berpartisipasi menciptakan tatanan sosial yang stabil dan confortable, yang dapat memberikan jaminan bagi terciptanya kualitas hidup masyarakat yang baik.
THE EPISTEMOLOGY OF THE ULAMA OF THE LANDS BELOW THE WINDS' IN THE TWENTIETH CENTURY: A Study of Minhāj al-Umniyya Fī Bayān ‘Aqīdat Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘a of Tuan Guru Abdul Jalil Jambi Asad Isma; Edi Kurniawan; Mukhlas Nugraha; Massuhartono Massuhartono
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.248

Abstract

The arrival of Islam into the lands below the winds, the terminology used to designate the Malay-Indonesian world or the entire South East Asia, was inseparable from the influence of Māturidīyya and Ashāʿira in kalām. This influence was reflected in the translation works or the commentaries upon ʿAqāʾid al-Nasafī of Imam al-Nasafī in the seventeenth century. The eighteenth century and onwards also saw a rapid appearance of the translations, commentaries,ḥāshiya, and taʿlīq of Umm al-Barāhīn of Imam al-Sanūsī. In Jambi, in the early twentieth century, Tuan Guru Abdul Jalil synthesized the worldview of kalam of al-Māturidīyya and Ashāʿira in his work, Minhāj al-Umniyya fī Bayān ʿAqīdāt al-Ahl al-Sunna wa al-Jamāʿā. The result of his endeavor was an epistemology of kalām that was established upon the classical intellectual legacy of Islam. Amid the hegemony of the Western epistemology on the general modern epistemology and, specifically, that of Islam, this article attempts to discuss the epistemology of Tuan Guru Abdul Jalil in order to answer the bewilderment of the modern epistemology. After analyzing the work of Tuan Guru Abdul Jalil along with other relevant results, this article shows that the epistemology of Tuan Guru Abdul Jalil is powerfully relevant in the current debates about epistemology. Datangnya Islam ke ‘negeri bawah angin’, suatu istilah pada masa lalu yang merujuk kepada dunia Indonesia-Melayu atau Asia Tenggara secara keseluruhan, tidak terlepas dari pengaruh kalam Māturidīyyah dan Ashāʻirah. Hal ini tampak dari lahirnya karya-karya dalam bentuk terjemahan dan ulasan terhadap ʻAqāʼid al-Nasafī karya Imam al-Nasafī pada abad ke-17. Semenjak abad ke-18 dan seterusnya, muncul pula ulasan-ulasan terhadap Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī dalam bentuk terjemahan, ḥāshiyah, taʻlīq dan sebagainya secara masif. Di Jambi, pada awal abad ke-20, ada Tuan Guru Abdul Jalil yang mensintesiskan antara kalam Māturidīyyah dan Ashāʻirah dalam karyanya Minhāj al-Umniyyah fī Bayān ʻAqīdat Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʻah. Hasilnya, terbentuklah suatu epistemologi dalam bingkai kalam berlandaskan pada tradisi keilmuan Islam klasik. Di tengah hegemoni epistemologi Barat dalam bangunan epistemologi modern umumnya dan kajian keislaman khususnya, tulisan ini mendiskusikan epistemologi Tuan Guru Abdul Jalil untuk menjawab kerancuan-kerancuan epistemologis modern tersebut. Setelah menelaah karya Tuan Guru Abdul Jalil dan karya-karya yang relevan lainnya, tulisan ini menunjukkan bahwa epistemologi Tuan Guru Abdul Jalil masih sangat relevan dalam memberikan tawaran-tawaran epistemologis saat ini.

Page 10 of 22 | Total Record : 211