cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
mkb.fkunpad@gmail.com
Editorial Address
Gedung Rumah Sakit Pendidikan Unpad/Pamitran Unpad (Teaching Hospital Building) Faculty of Medicine Unpad, 3rd Floor Jl. Prof. Eyckman No. 38 Bandung, 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : 0126074X     EISSN : 23386223     DOI : 10.15395/mkb
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Bandung (MKB)/Bandung Medical Journal publishes peer-reviewed original articles and case reports in basic medical research, clinical research, and applied medical science. This journal is published quarterly (March, June, September, and December) by Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted with acceptance for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 52, No 3 (2020)" : 10 Documents clear
Effect of Iron Supplementation in Anti-Tuberculosis Drug Treatment on Interferon-γ Level in Tuberculosis Spondylitis Patients Perdana, M. F. Nanda; Rasyid, Hermawan Nagar; Ramdan, Ahmad; Ismiarto, Yoyos Dias
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.1712

Abstract

Tuberculosis (TB) is still one of the major health problems in the community. Micronutrients, including iron, are crucial in the body's defense mechanism. Iron modulates the activation of IFN-γ, which in turn will activate the macrophages. This study explores the effect of iron supplementation given with anti-tuberculosis drug therapy on the IFN-γ level in tuberculosis spondylitis patients. This was a single-blind randomized control trial study at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, from December 2018 to March 2019, using the consecutive sampling approach. Thirty-four respondents with category 1 TB spondylitis and an sTfR level of> 21.7 pg /µL were recruited and randomized into control and experimental groups. The control group (n=17) was treated with 2 RHZE for 2 months while the experimental group (n=17) received 2 RHZE and iron tablet for 2 months. An increase in the IFN-γ level of the experimental group was observed from an average of 21.7 pg/ml before therapy to an average of 72.39 pg/mL after therapy. Meanwhile, the IFN-γ level in the control group increases from an average of 22.5 pg/mL to an average of 35.35 pg/mL. This difference was statistically significant based on the analysis using the independent t-test (p-value <0.05). Therefore, the administration of anti-tuberculosis drugs with the addition of iron can increase the body's immune response, which is indicated by the increasing level of IFN-γ.Pengaruh Penambahan Zat Besi Pada Pengobatan Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Kadar Interferon-γ Pada Pasien Spondilitis Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di masyarakat. Gangguan imunitas tubuh penderita berperan dalam proses terjadinya infeksi tuberculosis. Mikronutrient yang penting dalam pertahanan tubuh salah satunya adalah zat besi. Pada penelitian ini akan dipelajari mengenai pengaruh penambahan zat besi pada terapi OAT terhadap kadar IFN-γ pada pasien spondilitis tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode single blind randomized control trial di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Desember 2018 hingga Maret 2019, dengan metode pengambilan sampel consecutive sampling. Dilakukan randomisasi pada 34 responden. Responden yaitu: penderita spondilitis TB kategori 1 dengan kadar sTfR >21,7 pg/µL. Kelompok kontrol 17 responden diterapi 2 RHZE. Kelompok eksperimen 17 responden diterapi 2 RHZE dengan tablet besi selama 2 bulan. Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar IFN-γ rata-rata kelompok eksperimen (pemberian obat anti tuberkulosis dengan penambahan zat besi) dari 21,7 pg/mL sebelum dilakukan pemberian terapi menjadi rata-rata 72,39 pg/mL setelah dilakukan pemberian terapi diuji dengan uji t sampel independen (nilai p<0,05), secara statistik berbeda signifikan dengan kelompok kontrol (pemberian obat anti tuberkulosis), yaitu dari 22,5 pg/mL sebelum dilakukan pemberian terapi menjadi rata-rata 35,35 pg/mL setelah dilakukan pemberian terapi.  Simpulan, pemberian obat anti tuberkulosis dengan penambahan zat besi dapat meningkatkan respon imun tubuh, yang ditandai dengan meningkatnya kadar IFN-γ.
Anxiety in Pregnant Women During Coronavirus (Covid-19) Pandemic in East Java, Indonesia Zakkiyatus Zainiyah; Eny Susanti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2043

Abstract

The 2019 coronavirus pandemic has been recognized as a trigger for anxiety, especially in pregnant women. Pregnant women are among those with a high-risk for contracting coronavirus, not only for themselves but also for the unborn child. Continuous information is needed for pregnant women to avoid anxiety because anxiety will result in complications for both mother and child, such as low birth weight baby and postpartum psychological disorder. The purpose of this study was to identify the prevalence of anxiety in pregnant women during the Coronavirus pandemic in Madura, East Java, Indonesia. This study was a cross-sectional descriptive study conducted from April 13 to May 8, 2020. Data were collected using a Google form distributed to all pregnant women in the Madura Region based on the list of pregnant women from the midwives in each city in this region. Seventy pregnant women returned the completed form, and data were analyzed using frequency tables and percentages. Results showed that 31.4% of pregnant women experienced very severe anxiety, 12.9% experienced severe anxiety, and the remainings did not experience anxiety. In conclusion, the coronavirus pandemic indeed increases anxiety in pregnant women which will need to be addressed to avoid negative impacts on the mother and unborn child. Counseling is needed to reduce anxiety by asking the women to stay at home, wash their hands, wear masks, eat nutritious food, have their pregnancy checked, perform exercise for pregnant women at home, and seek for help when facing emergencies. Tingkat Kecemasan Ibu Hamil pada Masa Pandemi Viruscorona (Covid-19) di  Jawa Timur, Indonesia Pandemi virus corona 2019 ini menyebabkan kecemasan, terutama pada ibu hamil, karena ibu hamil merupakan kelompok risiko tinggi untuk tertular virus corona, terutama pada janin yang dikandungnya, sehingga diperlukan informasi secara terus menerus kepada ibu hamil supaya tidak terjadi kecemasan, karena kecemasan ini akan berakibat komplikasi pada ibu dan janinnya. Dampak kecemasan pada ibu hamil dan janin adalah Berat Badan Lahir Rendah dan gangguan psikologis pada ibu setelah melahirkan. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi tingkat kecemasan ibu hamil di masa pandemi virus Corona di wilayah Madura, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan tanggal 13 April sampai dengan 8  Mei 2020  dan merupakan penelitian desktriptif dengan menggunakan google form yang disebarkan ke seluruh ibu hamil di Wilayah Madura melalui bidan yang ditunjuk setiap kota yang ada di Madura. Tujuh puluh ibu hamil mengembalikan formulir yang telah diisi dan data dianalisis menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 31.4% mengalami kecemasan sangat berat, 12.9% mengalami kecemasan berat, dan sisanya ibu tidak mengalami kecemasan atau dalam keadaan normal. Simpulan, pandemi virus corona memang meningkatkan kecemasan pada ibu hamil yang perlu diatasi untuk menghindari dampak negatif pada ibu dan janinnya. Konseling diperlukan untuk mengurangi kecemasan dengan meminta ibu-ibu untuk tinggal di rumah, mencuci tangan, memakai masker, makan makanan bergizi, memeriksakan kehamilannya, melakukan senam ibu hamil di rumah, dan mencari pertolongan saat menghadapi keadaan darurat.
Correlation between Personal Hygiene, Household Hygiene, and Atopic Dermatitis in Elementary School Children in Indonesia Muhammad Ikhfa Yusril Bahari; Deryne Anggia Paramita
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.1971

Abstract

Atopic dermatitis is a chronic inflammatory skin disease characterized by persistent itching and reddening of the skin. In general, infants and children are more susceptible to atopic dermatitis. Many factors are associated with atopic dermatitis, one of which is personal hygiene. Personal hygiene is a condition or practice to maintain or improve personal health by keeping the body and the environment clean. Personal hygiene can influence the surrounding environment, such as by influencing the household hygiene. The purpose of this study was to determine the correlation between personal hygiene, household hygiene, and atopic dermatitis incidence among children who attended Pertiwi Elementary School Medan. This was a cross-sectional study with correlational analysis designed conducted at Pertiwi Elementary School Medan from July to December 2019. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Chi-Square test with p = 0.05 considered significant. Results showed that 28 children (39.4%) had atopic dermatitis, with more girls affected than boys (n=19, 67.9% vs. n=9, 32.1%). The overall household hygiene and cleanliness were good. There is a significant relationship between personal hygiene, household cleanliness, and the incidence of atopic dermatitis (p<0.05). Hubungan Personal Hygiene, Rumah Tangga, dan Dermatitis Atopik pada Anak Sekolah Dasar di IndonesiaDermatitis atopik merupakan suatu penyakit radang kulit kronis yang ditandai dengan munculnya rasa gatal secara terus-menerus dan timbul ruam kulit yang memerah. Pada umumnya bayi dan anak-anak yang lebih rentan terhadap dermatitis atopik. Faktor-faktor yang dikaitkan dengan dermatitis atopik ini salah satunya yaitu personal hygiene. Personal hygiene adalah kondisi atau praktik yang digunakan orang menjaga atau meningkatkan kesehatan dengan menjaga diri mereka dan lingkungan mereka bersih. Faktor ini dapat mempengaruhi berbagai cakupan yang lebih luas seperti dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan personal hygiene dan tingkat kebersihan dalam rumah tangga dengan kejadian dermatitis atopik pada anak-anak di SD Swasta Pertiwi, Medan. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di SD Swasta Pertiwi Medan dari bulan Juli–Desember 2019. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dengan p=0.05 dianggap bermakna. Pada penelitian didapatkan hasil sebanyak 28 orang menderita dermatitis atopik lebih banyak perempuan 19 orang (32,1%) dibanding dengan pria 9 orang (67,9%). Hasil penelitian bahwa personal hygiene dan kebersihan dalam rumah tangga secara keseluruhan dikategorikan baik. Terdapat hubungan antara personal hygiene dan kebersihan dalam rumah tangga dengan kejadian dermatitis atopik (p<0.05).
Survival Analysis of Chronic Kidney Disease Patients with Hemodialysis in West Java. Indonesia, Year 2007 - 2018 Afiatin Afiatin; Dwi Agustian; Kurnia Wahyudi; Pandu Riono; Rully M. A. Roesli
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2124

Abstract

The prevalence of chronic kidney disease on dialysis or CKD5D is increasing with a significant impact on disease burden in many countries. Patients are usually listed in the national renal registries, which report demographic data, incidence, prevalence, and outcome. The survival rate is an important outcome measure to characterize the impact of treatment in the CKD5 patient population in the national and international renal registries. Indonesian Society of Nephrology (InaSN) has the Indonesian Renal Registry program to collect data that was endorsed to monitor dialysis treatment quality in Indonesia.  IRR releases an annual report, but there is no survival analysis yet.   This study aimed to discover the five-year survival rate of CKD5D patients in West Java between 2007–2018 and its factor based on the IRR database. A retrospective cohort study was performed by gaining all patients' data from the IRR database, then data on all of the patients from West Java province who completed a 5-year follow-up on December 31, 2018.  Kaplan-Meier analysis and Cox proportional hazard's model were used to analyze the risk factors. There were 3,199 data included in this study. In total, the 1, 2, 3, 4, and 5 year survival rates are 82%, 70%, 62%, 58%, and 55 %, respectively.  Patients whose age is above 55 years and with unknown underlying kidney disease have a worse survival rate with a hazard ratio of 1.28 and 1.50, respectively. Further exploration of IRR data will provide better information on dialysis treatment in Indonesia. Ketahanan Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronis dengan Hemodialisis di Jawa Barat Indonesia tahun 2007-2018Prevalensi penyakit ginjal kronis pada dialisis atau PGK5D meningkat dan memberi beban penanganan penyakit di banyak negara. Pasien biasanya terdaftar dalam register ginjal nasional yang melaporkan data demografis, insiden, prevalensi dan luaran klisis. Tingkat ketahanan hidup merupakan parameter penting dalam registrasi ginjal untuk menggambarkan kualitas terapi pada  populasi pasien PGK stadium 5. Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) memiliki program Registri Ginjal Indonesia yang disebut Indonesian Renal Registry (IRR) untuk mengumpulkan data pasien PGK5D untuk  memantau kualitas pengobatan dialisis di Indonesia. IRR merilis laporan tahunan tetapi belum dilengkapi dengan  analisis ketahanan hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka ketahanan hidup lima tahun pasien PGK5D di Jawa Barat antara tahun 2007-2018 dan faktor risikonya berdasarkan basis data dari IRR. Studi kohort retrospektif dengan mengambil semua data pasien dari basis data IRR kemudian ditentukan data pasien Jawa Barat yang lengkap dan di follow up selama 5 tahun pada 31 Desember 2018.   Analisis Kaplan-Meier dan model proporsional hazard Cox digunakan untuk menganalisis faktor risiko. Subjek berjumlah 3199 data yang dimasukkan dalam penelitian ini. Kesimpulannya, angka harapan hidup satu, 2, 3, 4, dan 5 tahun berturut-turut adalah 82%, 70%, 62%, 58%, dan 55%. Usia lebih dari 55 tahun dan penyakit ginjal yang mendasari memiliki kelangsungan hidup yang lebih buruk dengan hazard ratio 1,28 dan 1,50. Eksplorasi lebih lanjut dari data IRR akan memberikan informasi yang lebih baik tentang perawatan dialisis di Indonesia.
Physical Factors in Age-Related Decline Physical Performance among the Older Adults in Bandung Vitriana Vitriana; Irma Ruslina Defi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.1992

Abstract

The aging process is associated with increased body fat and decreased muscle mass and strength in older adults. This condition is frequently associated with loss of mobility and functions. This study aimed to explore the relationship between physical performance and handgrip strength, body composition, and anthropometry in community-dwelling older adults living in Bandung, West Java Province, Indonesia. A cross-sectional study was performed from December 2015 to June 2016 on community-dwelling older adults above 60 years old who were the members of the West Java Branch of Lembaga Lansia Indonesia, Indonesia, with the ability to walk without an assistive device and to perform hand grip properly as an additional inclusion criterion. Subjects were excluded if they experienced severe cardiorespiratory or vascular abnormalities, used artificial implants, underwent hormone therapy, and had any disease that would affect the accuracy of the variable measurement. A total of 106 subjects (60-85 years old) participated in this study. A significant negative correlation between total body fat and physical performance and a positive correlation between handgrip strength to physical performance were observed among subjects. However, no correlation was found between the anthropometric measurement and physical performance. The total body fat percentage, muscle mass index, and handgrip strength correlate significantly to the physical performance in older adults and may be used as a good indicator to preserve physical function and quality of life in the elderly.Faktor-Faktor Fisik yang Memengaruhi Penurunan Performa Fisik Lanjut Usia di Lembaga Lansia Indonesia Cabang Jawa BaratProses penuaan sering dihubungkan dengan peningkatan lemak tubuh yang disertai dengan berkurangnya massa dan kekuatan otot pada lanjut usia. Kondisi ini sering berkaitan dengan hilangnya kemampuan mobilisasi dan fungsi lainnya. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara performa fisik dengan kekuatan genggam tangan, komposisi tubuh dan antropometri pada komunitas lanjut usia yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian potong lintang dilakukan periode Desember 2015 sampai dengan Juni 2016 pada lanjut usia yang tinggal dalam komunitas dan merupakan anggota Lembaga Lansia Indonesia Cabang Jawa Barat, berusia lebih dari 60 tahun, serta mampu berjalan tanpa alat bantu dan dapat menggenggam tangan dengan baik. Partisipan dieksklusi bila menderita gangguan kardiorespirasi atau vaskuler yang berat, menggunakan implan artifisial, menjalani terapi hormonal dan mempunyai penyakit yang berpotensi mempengaruhi akurasi penilaian variabel. Dari total 106 partisipan dengan rentang usia 60–85 tahun, ditemukan korelasi negatif antara total lemak tubuh dengan performa fisik, dan korelasi positif antara kekuatan genggam tangan dengan performa fisik, akan tetapi tidak ditemukan hubungan antara komponen antropometri dengan performa fisik. Persentasi total lemak tubuh, indeks massa otot dan kekuatan tangan mempunyai hubungan yang bermakna dengan performa fisik pada lanjut usia dan dapat menjadi indikator yang baik dalam mempertahankan fungsi fisik dan kualitas hidup pada lanjut usia.
Relationship between Maternal Vitamin D Level and Small for Gestational Age Infant in West Java, Indonesia Setyorini Irianti; Raden Tina Dewi Judistiani; Sylvia Rachmayati; Jusuf Sulaeman Effendi; Budi Setiabudiawan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Small for gestational age (SGA) infants is one of the unfavorable outcomes of pregnancy that needs to be prevented. There are not many studies available on the association of maternal vitamin D levels during pregnancy and SGA infants. This study aimed to discover the association between maternal vitamin D level and SGA infants in West Java. A cohort study was performed from February 2018 to January 2019 by recruiting 304 pregnant women in Bandung, Cimahi, Waled, and Sukabumi, West Java Province, Indonesia. Of that number, 203 women were followed until the delivery date. Data were collected from the results of serial ultrasonography examinations and maternal vitamin D level measurements. Bivariate analysis and logistic regression were then performed to determine the relationship between variables. This study showed that 30 of 203 (14.78%) infants were born as SGA infants. The mothers of these SGA infants had a lower maternal vitamin D level at the beginning of the second trimester and smaller anthropometric measurements at the beginning of the third trimester. However, no significant difference was found between normal infants and SGA infants when the overall values for all trimesters were compared. It can be inferred that the maternal vitamin D level has a negative relationship with SGA infants in West Java, Indonesia. Further studies are required to prove the relationship between maternal vitamin Dl level and SGA infants.Hubungan Kadar Vitamin D Ibu dan Bayi Kecil Masa Kehamilan di Jawa BaratBayi kecil masa kehamilan (KMK) adalah luaran kehamilan yang perlu dicegah. Informasi tentang hubungan kadar vitamin D ibu dengan kejadian bayi KMK di Indonesia masih terbatas. Kadar vitamin D dan karakteristik ibu diduga berpengaruh dalam kejadian bayi KMK. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar vitamin D ibu dengan kejadian KMK pada bayi. Studi kohort dilakukan dari Februari 2018 hingga Januari 2019 dengan merekrut 304 ibu hamil di Bandung, Cimahi, Waled, dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.  Dari jumlah 203 orang diantaranya berhasil diikuti sejak trimester satu hingga persalinan dan terpilih menjadi  subjek penelitian kasus kontrol. Pemeriksaan ultrasonografi, kadar vitamin D dan hemoglobin ibu dilakukan serial tiap trimester. Dilakukan analisis bivariat dan regresi logistik untuk menentukan hubungan antar variabel yang diteliti. Dari penelitian ini didapatkan sebanyak 30 dari 203 (14,78%) persalinan  dengan luaran bayi KMK.  Bayi KMK cenderung  mempunyai riwayat kadar vitamin  D yang lebih rendah pada awal trimester kedua dan hasil antropometri yang lebih rendah pada awal trimester tiga, namun secara statistik tidak berbeda signifikan. Simpulan penelitian ini bahwa kadar vitamin D ibu hamil memiliki korelasi negatif dengan bayi KMK. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hubungan antara kadar vitamin D ibu dan bayi KMK. 
Correlation Between Blood Glucose and Estradiol Levels in Women in Reproductive Age David Lionardi; Chrismis Novalinda Ginting; Linda Chiuman
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2079

Abstract

Type 2 Diabetes mellitus (Type 2 DM) is a metabolic disorder characterized by an increase in blood sugar caused by decreased insulin secretion by pancreatic beta cells and/or impaired insulin function (insulin resistance). This study aimed to determine the specific levels of estradiol hormone in reproductive age women with diabetes mellitus in different age groups. This was an analytical study in  September at Royal Prima Hospital, North Sumatra, Indonesia. Twenty women participated in this study after informed consent and were divided into two age groups: 40–45 years old and 46–50 years old.  Blood samples were collected after 10-12 hours of fasting to assess blood sugar and estradiol hormone levels. Data were then analyzed using the dependent t-test dependent and compared. No significant difference in blood sugar level was found between the two age groups (p-value=0.113, p-value> 0.05) that there were no significant differences in blood sugar levels between the two age groups. The estradiol hormone level in the age group 40-45 years was lower than in the age group 46–50 years, and the difference was significant (p-value =0.000, p-value<0.05). No significant correlation was seen between type 2 DM and estradiol hormone level in this study. In conclusion, age is not the main contributing factor for the increase and decrease in blood sugar level, and type 2 DM does not correlate with estradiol hormone. Hubungan Antara Kadar Glukosa Darah dengan Kadar Estradiol Pada Masa ReproduktifDiabetes mellitus (DM) Tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin). Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar hormon estradiol wanita reproduktif yang menderita diabetes mellitus pada kelompok usia yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dilakukan di bulan September di Rumah Sakit Royal Prima, North Sumatera, Indonesia. Sebanyak 20 wanita berpartisipasi dalam penelitian ini setelah mendapat persetujuan dan dibagi atas dua kelompok usia, 40–45 tahun dan 46–50 tahun. Sampel darah diambil setelah 10-12 jam puasa untuk menilai kadar gula darah dan hormon estradiol. Data kemudian dianalisis menggunakan t-test dependent dan dibandingkan. Tidak ada perbedaan kadar gula darah yang signifikan antara kedua kelompok usia (p=0.113; p>0.05) sehingga tidak ada perbedaan kadar gula darah yang bermakna antara kedua kelompok tersebut. Kadar hormon estradiol pada kelompok usia 40–45 tahun memiliki kadar estadiol lebih rendah dibanding dengan kelompok usia 46–50 tahun. Tidak terdapat korelasi antara DM tipe 2 dan hormon estradiol yang bermakna pada  penelitian ini.. Simpulam, bahwa usia bukan merupakan faktor penyebab utama peningkatan dan penurunan kadar gula darah dan DM tipe 2 tidak berhubungan dengan hormon estradiol.
Effect of Exercise Duration on Klotho and GluN2B Gene Expressions in Hippocampus of Wistar Rats with Moderate Intensity Exercise Hanna Goenawan; Bela Ita Karina; Titing Nurhayati; Julia Windi Gunadi; Setiawan Setiawan; Ronny Lesmana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2026

Abstract

Exercise could delay the degeneration process by increasing Klotho, which is an endogen antioxidant. Klotho protects against oxidative damages, regulates hippocampal synaptic plasticity, and enhances GluN2B expression. This study aimed to analyze the effect of 14-day and 8-week moderate-intensity exercise on Klotho and GluN2B mRNA expressions in rat hippocampus. This study was an animal experimental study using Wistar rats that was performed from June to September 2019 at the Central Laboratory, Universitas Padjadjaran, Indonesia. Rats were divided into 4 groups: control (14-day control and 8-week control) and exercise group (14-day exercise and 8-week exercise).  The exercise groups ran at a moderate intensity (20m/min) for 30min/day, 5x/week. Hippocampus was then subjected to klotho and GluN2B gene expression analysis. The exercise groups showed a higher Klotho expression, both in 14 days (0.844±0.124 vs. 1.057±0.013) and 8 weeks (0.897±0.072 vs. 1.380±0.168) although statistically insignificant (p=0.24). No difference in GluN2B gene expression was observed between control and exercise groups on 14 days (1±0.09 vs. 1.22±0.09) and 8 weeks (1.24±0.03 vs. 1.38±0.05; p=0.11). In conclusion, 14-day and 8-week moderate-intensity exercise did not alter Klotho and GluN2B expressions in rat hippocampus. Pengaruh Durasi Olahraga terhadap Perubahan Ekspresi Gen Klotho dan GluN2B di Hipokampus Tikus Galur Wistar yang Mendapatkan Perlakuan Lari Intensitas SedangOlahraga dapat menghambat proses degenerasi saraf dengan meningkatkan salah satu antioksidan endogen, yaitu Klotho. Klotho dapat melindungi sel neuron dari kerusakan oksidatif dan meningkatkan sinaptik plasticity pada hipokampus.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh olahraga lari pada hewan coba pada 14 hari dan 8 minggu terhadap perubahan ekspresi gen Klotho and GluN2B di hipokampus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2019 di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan tikus jantan galur wistar. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan dan kontrol. Olahraga dilakukan dengan treadmill tikus, kecepatan 20m/min, 30 menit perhari selama 5 kali perminggu. Kemudian, mRNA otak digunakan untuk PCR dengan menggunakan primer klotho dan GluN2B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.24) pada ekspresi gen Klotho pada 14 hari (0.844±0.124 vs 1.057±0.013) dan 8 minggu (0.897±0.072 vs 1.380±0.168) antara kelompok kontrol dan kelompok lari. Ekspresi gen dari GluN2B juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0.11) pada 14 hari (1±0.09 vs 1.22±0.09)  dan 8 minggu (1.24±0.03 vs 1.38 ± 0.05). Simpulan, bahwa 8 minggu olahraga tidak meningkatan ekspresi Klotho dan GluN2B yang signifikan
Correlation Between HbA1c and Albuminuria in Type 2 Diabetes Mellitus Jesika Merlin; Pusparini Pusparini
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2013

Abstract

In patients with type 2 diabetes mellitus (Type 2 DM), glycemic control plays an essential role in reducing macro- and microvascular complications. The earliest marker for diabetic nephropathy is the presence of albuminuria. Meanwhile, HbA1c  has been recognized as a marker of glycemic control in the blood. This study aimed to identify the correlation between HbA1c and albuminuria in type 2 DM. This was a cross-sectional study involving 100 patients with type 2 DM aged 40–70 years visiting Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia. Secondary data from medical records of type 2 DM patients undergoing HbA1c and albuminuria examinations from January to December 2015 were used. The mean age of subjects was 55.4 ±8.7 years, with the majority (55%) being of female gender. The mean HbA1c concentration was 9.8±2.4%. Most subjects (83%) had an HbA1c level of ≥7 %. Albuminuria was found in the majority of the subjects (78%), where 33% of them had positive  1 albuminuria. The Spearman correlation test showed a positive strong significant correlation between HbA1c and albuminuria, with r=0.865 and p<0.001. Thus, it can be concluded that there is a significant correlation between HbA1c and albuminuria in type 2 DM.Korelasi HbA1c dan Albuminuria pada Diabetes Melitus Tipe 2 Pada penderita diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2), kontrol glikemik memegang peranan penting untuk menurunkan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Petanda awal terjadinya nefropati diabetik adalah adanya albuminuria. HBA1c merupakan petanda untuk mengetahui kontrol glikemik didalam darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara HbA1c dengan albuminuria pada  DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang, mengikutsertakan 100 penderita DM tipe 2 berusia 40–70 tahun di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis penderita DM tipe 2 yang melakukan pemeriksaan HbA1c dan albuminuria pada bulan Januari 2015 sampai dengan Desember 2015. Rerata usia subjek adalah 55,47±8,7 tahun dengan subjek terbanyak berjenis kelamin perempuan (55%). Rerata kadar HbA1c berkisar 9,8±2,4 %. Sebagian besar subjek mempunyai kadar HbA1c ≥7 % yaitu 83%. Albuminuria dijumpai pada sebagian besar subjek yaitu 78% dan sebagian besar subjek mempunyai albuminuria positif 1, yaitu 33 %. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat korelasi positif kuat yang bermakna antara HbA1c dengan albuminuria dengan nilai r=0,865 dan p<0,001. Dengan demikian, dapat disimpulkan terdapat korelasi yang bermakna antara HbA1c dan albuminuria pada DM tipe 2.
Antihyperglycemic Effectiveness Test of 96% Ethanol Extract of Soursop Leaves on Mus musculus Induced by Streptozotocin Nur Fadhillah Khalid; Peter Kabo; Natsir Djide
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.2042

Abstract

Annona muricata L. is widely known throughout Indonesia as having great potentials as an antidiabetic agent. This study aimed to evaluate the antihyperglycemic effectiveness of ethanol extract 96% from soursop leaves and to compare its effects to metformin and insulin aspart injection as antidiabetic agents. This was a cross-sectional experimental study with random sampling approach which was performed at Phytochemistry and Biopharmacy Laboratory, Faculty of Pharmacy, Hasannudin University, Indonesia, from February 17 to March 3, 2020. Twenty-four Mus musculus subjects induced by streptozotocin were divided into six groups, which received 96% ethanol extract from Annona muricata in various doses. The extract was produced using the maceration process. The fasting blood sugar level was measured using the point of care testing (POCT) method, and data collected were then analyzed using a univariate approach. Results showed that the average fasting blood glucose level (FBG) was decreasing with increasing doses (5 g/kgBW=127 mg/dL, 10 g/kgBW =114 mg/dL, and 15 g/kg BW=97.75 mg/dl with a p-value of 0.000 based on repeated ANOVA. When compared to the positive control 1 (metformin), the decrease in FBG level in this control group (70.67 mg/dL) was better than in the group that received ethanol extract from Annona muricata L. In subjects in positive control 2 (insulin aspart), the average FBG level remained high, which was 473 mg/dL. Hence, 96% ethanol extract of Annona muricata L. can effectively lower fasting blood glucose in Mus musculus. Uji Efektivitas Antihiperglikemik Ekstrak Ethanol 96% Daun Sirsak pada Mus musculus yang diinduksi dengan Streptozotocin Tanaman sirsak menyebar di pelosok Indonesia serta banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai obat herbal untuk berbagai macam penyakit, diantaranya  sebagai antidiabetes. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas antihiperglikemik ekstrak ethanol 96% daun sirsak pada mencit yang diinduksi dengan streptozotocin dan membandingkan efeknya  dengan metformin dan insulin aspart. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain cross-sectional dan teknik sampling secara acak yang dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Biofarmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin pada 17 Februari–3 Maret 2020. Sebanyak 24 ekor mencit yang diinduksi streptozotocin dibagi menjadi enam kelompok yang menerima ekstrak etanol 96% dari daun sirsak dalam berbagai dosis. Pembuatan ekstrak menggunakan proses maserasi dan untuk mendapatkan gula darah puasa (GDP) menggunakan metode point of care testing (POCT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar GDP menurun dengan peningkatan dosis pada dosis 5 g/kgBB=127 mg/dL, 10 g/kgBB=114 mg/dL, 15 g/kgBB=97,75 mg/dL dengan nilai p=0,000 berdasar atas uji ANOVA. Jika dibanding dengan kontrol positif 1 (metformin) penurunan nilai GDP jauh lebih baik pada kelompok kontrol 70,67 mg/dL lebih baik dibandingkan pada kelompok yang mendapat ekstrak etanol dari daun sirsak. Pada subjek kontrol positif 2 (insulin aspart) nilai kadar GDP tetap tinggi, yaitu 473 mg/dL. Simpulan, ekstrak ethanol 96% daun sirsak efektif menurunkan kadar glukosa darah puasa pada mencit.

Page 1 of 1 | Total Record : 10