cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
mkb.fkunpad@gmail.com
Editorial Address
Gedung Rumah Sakit Pendidikan Unpad/Pamitran Unpad (Teaching Hospital Building) Faculty of Medicine Unpad, 3rd Floor Jl. Prof. Eyckman No. 38 Bandung, 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : 0126074X     EISSN : 23386223     DOI : 10.15395/mkb
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Bandung (MKB)/Bandung Medical Journal publishes peer-reviewed original articles and case reports in basic medical research, clinical research, and applied medical science. This journal is published quarterly (March, June, September, and December) by Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted with acceptance for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 651 Documents
Comparison of Carcinoembryonic Antigen Serum Levels in Colorectal Cancer Patients with Different Histopathological Grades Chandra Agusrly; Taufik Sungkar; Gontar Alamsyah Siregar
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.057 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1950

Abstract

Histopathological grading, which represents the degree of histopathological differentiation, is often used as one of the factors to determine the prognosis of colorectal cancer. However, this grading cannot comprehensively present the clinical features of the disease. Carcinoembryonic antigen (CEA), as a tumor marker tested in the laboratory, is commonly used to determine the diagnosis and prognosis of colorectal cancer. The purpose of this study was to determine differences in CEA serum levels based on the cellular differentiation of colorectal cancer. This was a cross-sectional analytical study on medical records of colorectal cancer patients who were admitted to H. Adam Malik General Hospital Medan, Indonesia from January 2016 to December 2018. As many as 52 medical records of colorectal cancer patients who met the inclusion and exclusion criteria were included in this study. These patients were then divided into three groups based on the histopathological grade: well-differentiated, moderately differentiated, and poorly-differentiated. The Kruskal-Wallis test was then used to compare the CEA levels in these different histopathological grades. Results show that the CEA serum level was different in colorectal cancer patients with different histopathological grades (p=0.020). The CEA level was significantly higher in the poorly-differentiated group than the well-differentiated (p=0.044) and moderately differentiated (p=0.015) groups. Hence, the CEA level of colorectal cancer patients with poorly-differentiated grade is the highest when compared to other grades. Perbandingan Kadar Serum Carcinoembryonic Antigen Berdasar atas Derajat Histopatologi Pada Pasien Kanker Kolorektal Derajat diferensiasi dapat dijadikan sebagai salah satu faktor prognosis pada kanker kolorektal. Namun, penilaian ini tidak dapat menyajikan gambaran klinis penyakit secara komprehensif. Penanda tumor carcinoembryonic antigen (CEA) sebagai penanda tumor yang diuji di laboratorium, umumnya digunakan untuk menentukan diagnosis dan prognosis kanker kolorektal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar serum CEA berdasar atas diferensiasi sel kanker kolorektal. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain bedah lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien yang didiagnosis kanker kolorektal di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan periode Januari 2016 hingga Desember 2018. Sebanyak 52 catatan medis pasien kanker kolorektal yang memenuhi inklusi dan kriteria eksklusi dimasukkan dalam penelitian ini. Derajat diferensiasi dikelompokkan menjadi tiga: derajat baik, sedang, dan buruk. Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk membandingkan kadar CEA berdasar atas derajat diferensiasi. Hasil menunjukkan bahwa kadar serum CEA berbeda pada pasien kanker kolorektal dengan nilai histopatologis yang berbeda (p=0,020). Tingkat CEA secara signifikan lebih tinggi pada kelompok berdiferensiasi buruk daripada kelompok berdiferensiasi baik (p=0,044) dan kelompok berdiferensiasi sedang (p=0,015). Oleh karena itu, tingkat CEA pasien kanker kolorektal dengan derajat diferensiasi buruk adalah yang tertinggi jika dibandingkan dengan tingkat lainnya.
Performance of Xpert® MTB/RIF in detecting Multidrug-Resistance Tuberculosis in West Java, Indonesia Edhyana Sahiratmadja; Gde Sindu Mega; Basti Andriyoko; Ida Parwati
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.27 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1966

Abstract

Indonesia is the 2nd country with the highest tuberculosis (TB) caseload in the world. Inappropriate TB treatment may lead to multidrug-resistance tuberculosis (MDR-TB) development. TB rapid detection is important, and very much needed, to prevent transmission and deaths due to this disease. The Xpert® MTB/RIF is proposed to address this problem. This study aimed to assess the performance of the Xpert® MTB/RIF test in West Java, Indonesia. This was a cross-sectional study conducted on MDR-TB suspects referred to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, West Java, Indonesia, using data from the eTB Manager. The performance of Xpert® MTB/RIF testing and its validity was tested against conventional drug susceptibility testing (DST). In total, data from 4,452 MDR-TB suspects were retrieved but only 578 data that had both DST and Xpert® MTB/RIF results were included in the study. The Xpert® MTB/RIF showed a sensitivity of 88% (95%CI: 85%-91%), specificity of 66% (95%CI: 60%-72%), positive predictive value of 79% (95%CI: 75%-83%), and negative predictive value of 80% (95%CI: 74%-85%), with a detection accuracy of 79%. Xpert® MTB/RIF test in this study shows a good performance for the diagnosis of MDR-TB when compared to the Mycobacterium tuberculosis culture as the gold standard. Therefore, rapid Xpert® MTB/RIF examination is recommended for MDR-TB screening for countries with a high TB burden as a complementary tool to the reference standard test. Performa Xpert® MTB/RIF Dalam Mendeteksi Tuberculosis Resisten Obat di Jawa Barat, IndonesiaIndonesia adalah negara ke-2 dengan jumlah kasus tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Pengobatan TB yang tidak sesuai dapat mengakibatkan kuman TB menjadi resisten terhadap obat TB yang disebut TB multidrug-resistances (TB-MDR). Untuk itu diperlukan alat deteksi yang mumpuni sehingga kuman TB-DR dapat segera didiagnosis dan diberikan pengobatan yang tepat; dengan demikian pencegahan dan kematian akibat TB dapat ditekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur performa mesin Xpert® MTB/RIF dalam mendeteksi kuman TB-MDR di Jawa Barat, Indonesia. Studi potong lintang dilakukan dengan mengambil data dari 4452 pasien terduga TB-MDR yang terregistrasi di eTB Manager selama tahun 2012-2016 yang dikirim ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Walaupun demikian, hanya 578 yang memiliki hasil test kultur untuk mengetahui sensitivitas obat TB. Dari kedua test tersebut, didapatkan Xpert® MTB/RIF memiliki sensitivitas 88% (95% IK: 85%-91%), spesifisitas 66% (95%CI: 60%-72%), positive predictive value 79% (95% IK: 75%-83%), dan negative predictive value 80% (95% IK: 74%-85%), dengan akurasi 79%. Test TB-MDR menggunakan Xpert® MTB/RIF pada penelitian ini menunjukkan performa yang baik, sehingga test ini sangat direkomendasikan untuk deteksi TB-MDR yang cepat, utamanya di daerah dengan prevalensi TB yang tinggi.
Comparison of Antibacterial Efficacy between 96% Ethanolic Extracts from Abrus precatorius L. and Piper betle L. Leaves against Escherichia coli Felicia Saraswati; Yohanna Angelina; Sandy Vitria Kurniawan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.01 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v51n2.1970

Abstract

Escherichia coli (E.coli) is a frequently found infectious pathogen commonly transmitted through water. In Indonesia, the level of this pathogen exceeds the accepted standard. Several studies have shown the presence of antibiotic-resistant E.coli, making studies on alternative treatments for E.coli necessary. Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves are among herbs that have herbal antibacterial properties. This study observed and compared the antibacterial effects of Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves against E.coli. This was an in vitro experimental study performed at the Laboratory of the Department of Microbiology, Faculty of Medicine and Health Science, Atma Jaya Catholic University, from August to November 2019. Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves were extracted by maceration in 96% Ethanol, and further processed into concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, and 100%. Disc-diffusion on Mueller-Hinton Agar was used to identify the inhibition zones of the extracts against E.coli ATCC 25922. Ciprofloxacin disc and 96% ethanol impregnated-discs were used as positive and negative controls, respectively. Independent t-test results showed a significant difference between Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves effects against E.coli with p=0.044 and p=0.045 (p<0.05), respectively. In conclusion, Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves have antibacterial effects against E.coli ATCC 25922, albeit less sensitivity than Ciprofloxacin, with Piper betle L. presents a greater effect than Abrus precatorius L.Perbandingan Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Abrus precatorius L. dan Daun Piper betle L. Terhadap Escherichia coliEscherichia coli (E.coli) adalah patogen infeksius yang sering ditemukan dan ditularkan melalui air. Di Indonesia, tingkat patogen ini melebihi standar yang diterima. Beberapa penelitian telah menunjukkan ada E.coli yang kebal antibiotik, membuat penelitian tentang pengobatan alternatif untuk E.coli diperlukan. Daun Abrus precatorius L. dan Piper betle L. berpotensi sebagai pengobatan herbal antibakteri. Penelitian ini bertujuan melihat dan membandingkan efek antimikroba kedua daun tersebut terhadap E.coli. Penelitian eksperimental in vitro ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya mulai dari Agustus sampai November 2019. Daun  Abrus precatorius L. dan Piper betle L.  dimaserasi menggunakan etanol 96%, lalu dibentuk konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Difusi cakram pada agar Mueller-Hinton dilakukan untuk menguji zona hambat kedua ekstrak terhadap bakteri E.coli ATCC 25922. Cakram ciprofloksasin merupakan kontrol positif, dan kontrol negatif adalah cakram yang direndam etanol 96%. Hasil uji independent t-test didapatkan perbedaan bermakna antara efektivitas ekstrak kedua daun terhadap E.coli, yaitu daun Abrus precatorius L. p=0.044 dan daun Piper betle L. p=0.045 (p<0.05). Simpulan, daun  Abrus precatorius L. dan Piper betle L. memiliki efek antibakteri terhadap E.coli ATCC 25922 walaupun tidak lebih sensitif dari Ciprofloksasin dengan Piper betle L. memiliki efek yang lebih besar dibanding dengan Abrus precatorius L.
Histopathological Effects of Omega-3 in Reducing Cartilage Destruction Progression in Mice with Knee Joint Osteoarthritis Farry, Farry; Ismiarto, Yoyos Dias; Chaidir, M. Rizal; Ismono, Darmadji
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.669 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1784

Abstract

rimary and secondary osteoarthritis relates to inflammatory processes and inflammatory mediators and is destructive to the articular cartilage. Omega-3 is known to be an alternative treatment for rheumatoid arthritis due to the anti-inflammatory effect. This study is an experimental study with simple random sampling using 36 Wistar mice, which were divided into an intervention group and a control group, to understand the effect of omega-3 in slowing progress cartilage destruction in knee joint with osteoarthritis. This study is performed at the Clinical Pharmacology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, and the Anatomical Pathology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital, in November 2018. Osteoarthritis was induced using intraarticular 1 mg monosodium iodoacetate injection to the mouse knee joint. The intervention group received oral omega-3 every day while the control group did not. Samples from the knee joint were extracted to evaluate the cartilage destruction histopathologically. Results were then analyzed using the Mann-Whitney test and a significant difference of the osteoarthritis grades was identified between the intervention group and the control group on day 7 (p=0.003), day 14 (p=0.003), and day 21 (p=0.003). In addition, a significant difference in the osteoarthritis grading changes was also found between the study group and the control group on day 7 and day 21 (p=0.004). Hence, omega-3 has the ability to slow down the histopathological cartilage destruction progress in mice with knee joint osteoarthritis.Efek Pemberian Omega-3 terhadap Perlambatan Progresivitas Destruksi Kartilago Sendi Lutut Tikus yang Mengalami Osteoartritis Secara HistopatologisOsteoartritis primer dan sekunder berhubungan dengan proses inflamasi dan mediator inflamasi dan merusak tulang rawan artikular. Omega-3 dikenal sebagai pengobatan alternatif untuk rheumatoid arthritis karena efek anti-inflamasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pengambilan sampel acak sederhana menggunakan 36 tikus Wistar, yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, untuk memahami efek omega-3 dalam memperlambat perkembangan kerusakan tulang rawan pada sendi lutut dengan osteoarthritis. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, dan Laboratorium Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Dr. Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung, pada November 2018. Seluruh hewan uji dilakukan induksi osteoartritis dengan monosodium iodoasetat sebanyak 1 mg yang disuntikkan ke dalam sendi lutut. Kelompok perlakuan diberikan omega-3 1 kali per hari per oral, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan omega-3. Sampel jaringan sendi lutut diambil dan dilakukan penilaian destruksi kartilago secara histopatologis. Hasil kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan perbedaan yang signifikan dari nilai osteoartritis diidentifikasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada hari 7 (p=0,003), hari 14 (p=0,003), dan hari 21 (p=0,003). Selain itu, perbedaan yang signifikan dalam perubahan penilaian osteoarthritis juga ditemukan antara kelompok studi dan kelompok kontrol pada hari ke 7 dan hari ke 21 (p=0,004). Oleh karena itu, omega-3 memiliki kemampuan untuk memperlambat progres destruksi tulang rawan histopatologis pada tikus dengan osteoartritis sendi lutut. 
Tuberkulosis Perinatal Bermanifestasi sebagai Tuberkulosis Milier dan Meningitis Heda Melinda D. Nataprawira; Faisal Faisal
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) perinatal adalah kasus TB yang jarang dilaporkan karena manifestasi klinis tidak spesifik, serta terdapat permasalahan dalam pemeriksaan laboratorium dan radiologis sehingga tidak terdiagnosis. Istilah TB perinatal menjelaskan adanya infeksi Mycobacterium tuberculosis yang terjadi pada masa perinatal baik selama kehamilan, persalinan, maupun pascapersalinan dalam masa neonatus. Seorang bayi laki-laki usia tiga bulan dirujuk ke Emergensi Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan riwayat demam lama dan tidak mau menetek. Proses kelahiran tidak ada masalah. Pada pemeriksaan fisis ditemukan letargis, febris, takipnea, dan hepatosplenomegali. Pewarnaan Ziehl Neelsen aspirat lambung menunjukkan basil tahan asam positif. Uji kulit tuberkulin menunjukkan nonreaktif, foto toraks memperlihatkan gambaran milier, dan fungsi lumbal memberikan interpretasi TB meningitis. Berdasarkan penelusuran aktif sumber penularan TB serumah, ternyata ayah dan kakek bayi merupakan sumber penularan. Selain diberikan paduan oral antituberkulosis standar, juga diberikan antibiotik dan prednison. Dalam perjalanan penyakitnya, terjadi syok sepsis serta koagulasi intravaskular diseminata dan bayi meninggal. Dari kultur darah teridentifikasi Staphylococcus haemolyticus. Disimpulkan bahwa walaupun tidak terdapat permasalahan saat kelahiran bayi, diperlukan penelusuran aktif kemungkinan TB perinatal pada keluarga dengan sumber penularan TB positif. Diperlukan kewaspadaan terdapatnya TB pada wanita hamil di negara berkembang dengan jumlah kasus TB tinggi. [MKB. 2010;42(3):135-9].Kata kunci: tuberkulosis perinatal Perinatal Tuberculosis Presenting as Miliary Tuberculosis and MeningitisPerinatal tuberculosis (TB) is rarely reported, because the clinical manifestations are not specific and there is a problem in its laboratory and radiology examination which caused undiagnosed. Perinatal TB is the preferred description that encompasses TB acquired either intra uterine, during or post delivery in early newborn period. A-3- month old baby was transferred to Pediatric Emergency Hasan Sadikin Hospital because of prolong fever and unable to breastfeed. There was no problem with delivery. Lethargic, fever, tachypnea, and hepatosphlenomegali were found on physical examination. Ziehl Neelsen smear of gastric lavage yielded positive acid fast bacilli. Tuberculine test was non reactive, chest x-ray showed a miliary pattern, and cerebral spinal fluid analysis gave tuberculous meningitis interpretation. By active finding, his father and grandfather were detected as a source of TB transmission. In additon to oral antituberculosis regimen, antibiotics and prednison were also given. Septic shock and disseminated intravascular coagulation were occurred during his illness and the baby died. Staphylococcus haemolyticus was identified from blood culture. In conclusion, although there were no problems during labor, active investigation of perinatal TB possibility is required on the family with a source of TB. Caution on TB in pregnant women is necessary at developing country with high rates of TB. [MKB. 2010;42(3):135-9].Key words: Disseminated intravascular coagulation, miliary, meningitis, perinatal tuberculosis DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n3.25
Laporan Kasus: Penyakit Kawasaki Atipikal Budi Setiabudiawan; Reni Ghrahani; Gartika Sapartini; Mohamad Yanuar Anggara; Herry Garna
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Kawasaki merupakan penyebab utama kelainan jantung dapatan yang sering ditemukan pada anak. Di Indonesia, penyakit ini masih sangat jarang didiagnosis karena dianggap masih jarang dan belum diketahui secara luas. Dua laporan kasus berikut merupakan laporan kasus anak perempuan dan laki-laki, masing-masing berusia 17 bulan dan 3 tahun. Keduanya datang dengan demam yang persisten lebih dari 5 hari dan hanya memenuhi 3 kriteria klasik penyakit Kawasaki, yakni mata merah dan disertai dengan perubahan mukosa bibir serta ekstremitas. Penderita kemudian didiagnosis sebagai penyakit Kawasaki atipikal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan C-reactive protein dan laju endap darah disertai gambaran ekokardiografi yang normal. Kedua anak diberikan imunoglobulin intravena (IGIV) dengan dosis 2 gram/kgBB dosis tunggal dan aspirin dosis 80 mg/kgBB/hari. Penderita mengalami perbaikan setelah 1 hari mendapat terapi kombinasi tersebut. Disimpulkan bahwa pengobatan dengan kombinasi IGIV dan aspirin memberikan respons yang baik pada penyakit Kawasaki atipikal. [MKB. 2011;43(3):146–52].Kata kunci: Aspirin, imunoglobulin intravena, penyakit Kawasaki atipikal Case Reports: Atypical Kawasaki DiseaseKawasaki disease is the most common cause of acquired heart disease in children. In Indonesia the disease is rare to diagnosed, because of difficulty in diagnosis and not widely known. These were 2 case reports about a girl and a boy age 17 months and 3 years, who came with persistent fever more than 5 days and only fulfilled 3 criteria of Kawasaki disease, which are red eyes, changes in lips, mucose of oral and extremities. They were diagnosed as atypical Kawasaki disease. Laboratory examinations showed an increased of C-reactive protein and erythrocyte sedimentation rate with normal echocardiography. The patients were improved after treated with 2 grams per bodyweight of intravenous immunoglobulin (IVIG) and 80 mg per bodyweight of aspirin. The patients were better after one day combination therapy. In conclusion that atypical Kawasaki disease has good response to combination of IVIG and aspirin. [MKB. 2011;43(3):146–52].Key words: Aspirin, atypical Kawasaki disease, intravenous immunoglobulin DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n3.61
Perbandingan Penanganan Clubfoot Metode Kite-Lovell dengan Ponseti Primadhi, Andri; Ismiarto, Yoyos D.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clubfoot banyak terjadi pada bayi baru lahir dan akan menghambat anak untuk berjalan. Bila kelainan ini tidak ditangani dengan benar, akan menetap sampai dewasa dan mempengaruhi kualitas hidupnya. Umumnya penatalaksanaan inisial clubfoot menggunakan cara konservatif, walaupun pemilihan metode manipulasi masih menjadi kontroversi. Penanganan clubfoot di RS Hasan Sadikin Bandung (RSHS) menggunakan metode Kite-Lovell dan Ponseti, yang berbeda dalam teknik manipulasinya. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa penatalaksanaan clubfoot dengan metode Ponseti lebih baik dibandingkan Kite-Lovell. Penelitian ini membandingkan hasil penanganan clubfoot menggunakan kedua metode tahun 2001-2005. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data yang diambil dari rekam medis pasien clubfoot di RSHS, terdiri dari karakteristik pasien, metode, serta kemajuan pasien tersebut, diukur menggunakan skoring Dimeglio. Jumlah pasien ada 64 anak, atau 103 kaki karena tidak semua anak memiliki kelainan bilateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien laki-laki lebih dominan yaitu 36 anak (56%). Bila digolongkan menurut usia saat pertama kali berobat, persentase terbanyak ialah pada kelompok usia paling dini, yaitu 0-3 bulan (34 anak). Sebanyak 71 kaki (69%) ditangani dengan metode Kite-Lovell sedangkan sisanya dengan metode Ponseti. Dengan skoring Dimeglio, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada hasil penanganan antara kedua metode, tetapi angka keberhasilan akan lebih tinggi bila penanganan dilakukan pada usia lebih dini.Kata kunci: Clubfoot, metode Kite-Lovell, metode PonsetiComparison Between Kite-Lovell Method and Ponseti in ClubfootTreatmentClubfoot is anomalies frequently seen in the newborns. This limits the child's walking ability. Without adequate treatment, it will interfere the patient's living. Treatment consists of conservative and operative. Conservative treatment is initial choice, with controversies about its methods. Conservative treatment consists of Kite-Lovell and Ponseti methods. There is difference between them in the matter of manipulation. Numbers of study said that the Ponseti methods gave better result than Kite-Lovell. This study was to compare about the two methods performed in Hasan Sadikin General Hospital in the year of 2001-2005. The design was cross sectional. Data collected from the medical records from 2001 to 2005, including characteristic, methods used, and clinical improvement that measured by Dimeglio scoring system. This research included 64 children, or 103 foot, due to not all the children had bilateral clubfoot. The results showed that male patients were dominant (56%). According to age at initial treatment, the most common was 0-3 years, i.e. 34 children. Seventy-one feet (69%) were treated with Kite-Lovell methods, and the rests by Ponseti methods. Using Dimeglio scoring, we measured the initial and final scores, and there was no significant difference between them, but the results are better if done at younger age. Key words: Clubfoot, Kite-Lovell method, Ponseti method DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.255
Kadar Lipid Darah Mencit Betina Middle-Aged Galur Swiss Webster setelah Pemberian Jus Buah Pare (Momordica charantia L.) Shintawati, Rita; Hernawati, -; Indraswati, Desi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penuaan sistem reproduksi (ovarian aging) telah diketahui pada beberapa spesies vertebrata dan manusia yang ditandai dengan kadar estrogen yang rendah. Hal ini berhubungan dengan peningkatan jumlah lipid (obesitas) dan sejumlah penyakit metabolik seperti hiperlipidemia, penyakit kardiovaskular, dll. Buah pare Momordica charantia L.) memiliki banyak manfaat yang menguntungkan bagi kesehatan manusia, seperti efek hipoglikemik, antioksidan, hipokolesterolemik, dan hipotrigliseridemik. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar lipid darah mencit pada usia middle-aged setelah diberikan jus buah pare. Dilakukan uji eksperimental pada Maret–April 2010 di Laboratorium Fisiologi Universitas Pendidikan Indonesia dan Kedokteran Hewan IPB terhadap 25 mencit galur Swiss Webster betina usia 10 bulan (middle-aged) yang terbagi dalam lima kelompok perlakuan berbeda (kontrol positif, kontrol negatif, 0,5 mL/40 g BB, 1,0 mL/40 g BB, dan 1,5 mL/40 g BB) yang diberikan jus buah pare selama 10 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jus buah pare dapat menurunkan bobot badan mencit secara bermakna (p<0,05) pada semua dosis. Jus buah pare tidak dapat menurunkan kadar kolesterol total, tetapi meningkatkan kadar HDL (p<0,05) pada semua dosis perlakuan. Pada parameter lain, jus buah pare dapat menurunkan kadar trigliserida pada dosis 1,5 mL/40 g BB (p<0,05) dan menurunkan kadar LDL pada dosis 0,5 mL/40 g BB (136,49 mg/dL). Simpulan, jus buah pare dapat menstabilkan kadar trigliserida dan LDL kolesterol pada dosis 0,5 mL/40 g BB serta meningkatkan HDL kolesterol, tetapi tidak berpengaruh pada penurunan kadar kolesterol total. [MKB. 2011;43(2):93–7].Kata kunci: Buah pare, kadar lipid darah, mencit betina middle-agedLipid Level of Middle-Aged Female Mice Swiss Webster after Pare Juice Momordica charantia L. AdministrationOvarian aging has been noted in some vertebrate animals and human being, indicated by low estrogen level. This is related to enhancement of lipid (obesity) and some metabolic diseases such as hyperlipidemia, cardiovascular disease, etc. Pare juice (Momordica charantia L.), contains of abundant advantageous bioactivities, such as hypoglycemic effect, antioxidant, hypocholesterolemic, and hypotrigliseridemic. This research purposed was to determine blood lipid levels of mice at the age of middle-aged after being given pare juice. The experimental animal used 25 females mice of 10 months old (middle-aged) on March–April 2010 at Physiology Laboratory Universitas Pendidikan Indonesia and Veteriner Medicine IPB, divided into five different treatment groups (controle positive, controle negative, 0.5 mL/40 g bw, 1.0 mL/40 g bw, and 1.5 mL/40 g bw) which were fed with pare juice for 10 days. Completely randomized design was used in this research. Results showed that pare juice reduced lower body weight of mice (p<0.05) at all doses. Pare juice did not reduce total cholesterol levels, but increased HDL (p<0.05) at all doses. Other parameters to pare juice reduced triglyceride levels at doses of 1.5 mL/40 g BW (p<0.05) and LDL levels at dose 0.5 mL/40 g BW (136.49 mg/dL). In conclusions, pare juice can stabilize triglyseride and LDL cholesterol level at dose 0.5 mL/40 g BW and increases HDL cholesterol, but has no influence to total cholesterol. [MKB. 2011;43(2):93–7].Key words: Blood lipid, middle-aged female mice, pare fruit DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n2.50
SENSITIVITAS Salmonella Sp. PENYEBAB DEMAM TIFOID TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG Maulana, Yanti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit demam enterik yang disebabkan Salmonella sp. terutama Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Selain menggunakan kloramfenikol sebagai drug of choice , banyak pula antibiotik lain yang digunakan untuk penyembuhannya. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan peningkatan resistensi bakteri. Penelitian ini bermaksud mengetahui sensitivitas Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi terhadap beberapa antibiotik pilihan yang banyak digunakan di Indonesia dengan tujuan memberi informasi pola resistensi guna terapi empiris. Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi didapat dari penderita demam tifoid di Rumah Sakit Immanuel Bandung tahun 2004–2007, dan dilakukan uji resistensi dengan metode difusi cakram menurut Kirby Bauer dengan standar NCCLS. Antibiotik uji terdiri dari amoksisilin, amoksisilin-asam klavulanat, kloramfenikol, siprofloksasin, seftriakson, trimetoprim, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan penisilin yaitu amoksisilin dan gabungan amoksisilin-asam klavulanat memberikan sensitivitas terhadap Salmonella sp. yang masih tinggi 99,36–99,68%. Kloramfenikol yang selama ini masih dipertahankan sebagai drug ofchoice masih sensitif 99,05% walaupun ternyata ada 3 sampel (0,95%) resisten. Karena sensitivitas tidak mencapai 100% berarti ada kemungkinan kurang lebih 8% resisten, itu sebabnya walaupun data ini dapat digunakan sebagai terapi empiris, disarankan untuk melakukan tes resistensi pada Salmonella sp. penyebab demam tifoid guna terapi antibiotik yang rasional dan tepat guna. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa S. typhi dan S. paratyphi masihsensitif terhadap antibiotik uji.Kata kunci: Sensitivitas, Salmonella sp., antibiotikSENSITIVITY TEST OF Salmonella Sp. AS CAUSATIVE OF TYPHOID FEVER TO SEVERAL ANTIBIOTICS AT IMMANUEL HOSPITAL BANDUNGTyphoid fever is an enteric fever caused by Salmonella sp. especially Salmonella typhi and Salmonella paratyphi. Various antibiotics used for therapy beside chloramphenicol as drug of choice. Non rational use of antibiotics may result increasing of resistence in bacteria. The aim of the research is to know the sensitivity of Salmonella typhi and Salmonella paratyphi to some antibiotics. The purpose is to gather information about antibiotics which are still effective for typhoid fever and enteric therapy. Salmonella typhi and Salmonella paratyphi strain from positive cultures diagnose typhoid fever patients at Immanuel Hospital Bandung during 2004-2007. The method of resistance is Kirby Bauer's disk diffusion assay with NCCLS standard. The disk antibiotics used are amoxicillin, amoxicillinclavulanic acid, chloramphenicol, ciprofloxacin, ceftriaxone, trimethoprim, and trimethoprim-sulfamethoxazole. The result showed penicillin group, amoxicillin and amoxicillin-clavulanic acid had 96.3–99.68% sensitive against Salmonella sp. Sensitivity of chloramphenicol as drug of choice of typhoid fever still 99.05%. Since the sensitivity less than 100%, it means there was about 8% resistence. Thats why eventhough this data can be used as empiric therapy, the writer suggest to do sensitivity test to Salmonella sp. that caused typhoid to get rationally dan effective treatment. From the result, it's concluded that Salmonella typhi and Salmonella paratyphi are still sensitive to all that antibiotics.Key words: Sensitivity, Salmonella sp., antibiotic DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.248
Pengaruh Pemakaian Pipa Nasogastrik pada Kejadian Otitis Media Efusi Kamaludin, Deden; Boesoirie, Thaufiq S.; Soeseno, Bogi; Purwanto, Bambang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis media merupakan peradangan lapisan mukoperiosteum di telinga tengah tanpa melihat penyebab atau patogenesisnya. Angka kejadiannya bervariasi, di Bandung dan sekitarnya mencapai 6,9%. Penyebab otitis media karena terganggunya fungsi tuba eustakius dapat ditimbulkan oleh pemakaian pipa nasogastrik (PNG). Dilakukan penelitian analisis observasional untuk melihat pengaruh PNG pada kejadian otitis media efusi pada penderita rawat inap di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher Rumah Sakit Hasan Sadikin. Sebanyak 34 orang subjek didapatkan dalam periode Januari 2007 yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Pada 34 subjek dilakukan pemeriksaan fisik THT dan timpanometri sebelum dan selama pemasangan PNG. Pemeriksaan timpanometri diulang tiap 24 jam sampai PNG dilepas. Timpanogram dibaca dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Friedman untuk membandingkan nilai tengah tekanan dan compliance antara sebelum dan sesudah pemasangan PNG. Uji Spearman correlation untuk mengetahui hubungan tekanan dengan compliance di telinga tengah. Besarnya kejadian ganguan otitis media efusi diuji dengan uji binomial. Terjadi penurunan puncak tekanan dan compliance di telinga tengah sampai hari ke-3 (p=0,197), sedangkan pada hari ke-4–ke-7 terjadi peningkatan kembali. Simpulan, penggunaan PNG tidak berpengaruh pada tingkat otitis media efusi, tetapi pada penurunan puncak tekanan (daPa) dan compliance (mmho) telinga tengah. [MKB. 2011;43(1):42–8].Kata kunci: Compliance, otitis media, pipa nasogastrik, tekanan, telinga tengah, tuba eustakiusThe Effect of Using Nasogastric Tube on Incidence of Otitis Media with Effusion Otitis media is an inflammation of the middle ear mucoperiosteal without reference to its cause or pathogenesis. The incidence rate in Bandung area was 6.9%. Otitis media caused by Eustachian tube dysfunction might be induced by the use of nasogastric tube (NGT). An observational analytic was conducted to know the effect of NGT on incidence rate of otitis media with effusion in hospitalized patients at Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Dr. Hasan Sadikin Hospital. There were 34 subjects in January 2007 were included in this study. Before NGT insertion all subjects had physical examination and tympanometry. Every 24 hours tympanometry was performed till exertion the NGT. Tympanogram was collected and analysed statistically by Friedman test to compared median value of pressure before and after NGT insertion, and that of compliance. Spearman correlation test to identify correlation between peak pressure and compliance in the middle ear, and binomial to test hypotesis. There was decreasing pressure and compliance in middle ear until day 3 (p=0.197) and increased on day -4 and -7. In conclusion, the incidence rate of otitis media with effusion is not affected by using of NGT. The using of NGT is associated with reduced peak middle ear pressure (daPa) and peak compliance (mmho). [MKB. 2011;43(1):42–8].Key words: Compliance, eustachian tube, middle ear, pressure, nasogastric tube, otitis media DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.43