cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
mkb.fkunpad@gmail.com
Editorial Address
Gedung Rumah Sakit Pendidikan Unpad/Pamitran Unpad (Teaching Hospital Building) Faculty of Medicine Unpad, 3rd Floor Jl. Prof. Eyckman No. 38 Bandung, 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : 0126074X     EISSN : 23386223     DOI : 10.15395/mkb
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Bandung (MKB)/Bandung Medical Journal publishes peer-reviewed original articles and case reports in basic medical research, clinical research, and applied medical science. This journal is published quarterly (March, June, September, and December) by Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted with acceptance for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 651 Documents
Peluang Kematian Penderita Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immune Deficiency Syndrome berdasarkan Gabungan Derajat Anemia, Indeks Massa Tubuh, dan Jumlah Cluster Differentiation 4 Sumantri, Rachmat; Supandiman, Iman; Indjradinata, Ponpon; van der Ven, Andre; van Crevel, Reinout
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.298 KB)

Abstract

Prevalensi anemia pada infeksi human immunodeficiency virus (HIV) cukup tinggi, berkisar antara 1,3% sampai 95% bergantung pada stadium penyakitnya. Anemia, cluster differentiation 4 (CD4), dan viral load (VL) merupakan faktor risiko independen untuk kematian. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan faktor risiko yang penting untuk anemia dan progresivitas penyakit. Dilakukan penelitian kohor untuk mengevaluasi respons pengobatan selama follow-up 6 bulan dengan endpoint kematian, serta menghitung peluang kematian penderita acquired immunodeficiency syndrome (HIV-AIDS) berdasarkan gabungan derajat anemia, IMT, dan jumlah CD4. Subjek penelitian adalah penderita HIV-AIDS di klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, periode Januari−Juni 2008, studi kohor dilakukan pada periode Juli−Desember 2008. Tercatat 534 penderita HIVAIDS yang masuk dalam data di klinik Teratai RSHS, sampai akhir penelitian terdapat 458 penderita yang masih aktif berobat, 38 penderita drop-out, 8 penderita pindah ke tempat lain, dan 28 penderita meninggal. Prevalensi anemia kelompok yang sama pada penelitian sebelumnya yaitu 41,6%. Dalam follow-up selama 6 bulan terdapat 26 kematian pada kelompok anemia dan hanya 2 kematian pada kelompok nonanemia. Gabungan antara derajat anemia sedang-berat, dengan CD4 ≤50/mm3, dan IMT <18,5 menunjukkan peluang kematian terbesar, dalam penelitian ini sebesar 80%. Simpulan, faktor risiko yang penting untuk kematian pada penderita HIV-AIDS yaitu jumlah CD4, derajat anemia, dan IMT. [MKB. 2012;44(1):50–6].Kata kunci: Anemia, CD4, indeks massa tubuhOpportunity of Death in Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome Patients by Combining Degree of Anemia, Body Mass Index, and Cluster Differentiation 4 CountThe prevalence of anemia in human immunodeficiency syndrome (HIV) infection was quite high, ranging from 1.3 to 95% depending on the stadium of HIV infection. Anemia, cluster differentiation 4 (CD4), and viral load were known as the independent risk factors for death. Body mass index (BMI) is an important risk factor for anemia and progression of the HIV infection. A cohort study had been conducted to evaluate the response of therapy, and deaths as the end point, and to calculate the opportunity of death  by combining the degree of anemia, BMI, and CD4 in HIV-AIDS patients. The subjects were patients in Teratai Clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital-Bandung from  January to June 2008. During 6 months of follow-up from  July−December 2008, there were 534 patients in the database of Teratai Clinic, with only 458 continuing the therapy, thirty eight  patients were dropped-out, eight patients moved to other hospital and 28 patients died. The prevalence of anemia from previous study of those 534 patients was 41.6%. After 6 months of follow-up, there were 26 deaths among anemic patients and 2 deaths in non-anemic patients. The combination of moderate-severe anemia, CD4 ≤50/mm3 and BMI <18.5 showing the highest opportunity of death in this study was 80%. In conclusion, the important risk factors of deaths in HIV-AIDS patients were CD4, grade of anemia, and BMI. [MKB. 2012;44(1):50–6].Key words: Anemia, body mass index, CD4DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.212
Methylenetetrahydrofolate Reductase C677T Distribution among Cervical Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Maskoen, Ani Melani; Kurniawan, Cynthia; Susanto, Herman; Sahiratmadja, Edhyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.831 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.754

Abstract

Cervical cancer is the second most common cancer among women in the world. Persistent infection with high risk human papillomavirus (HPV) is one of the necessary causes of cervical cancer development. However, host genetic factors may also play a role in cervical cancer carcinogenesis. Methylenetetrahydrofolate reductase enzyme, encoded by the MTHFR gene, regulates folate metabolism which is important for genetic expression and stability. Single nucleotide polymorphism (SNP) C677T in MTHFR gene may produce a thermo-labile enzyme, resulting in a reduced enzyme activity. The aim of this study was to explore the SNP C677T of MTHFR gene and the susceptibility to cervical cancer among cancer patients visiting Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia. This descriptive quantitative study involved cervical cancer patients recruited in 2010 and their control group. Genomic DNA was extracted from patients’ blood. MTHFR C677T genotype was performed using BeadXpress Reader Illumina® and some samples were re-genotyped for confirmation using conventional PCR-RFLP. The distribution of MTHFR C677T genotype in cervical cancer patients was 71.6%, 25.4%, and 3%, and 44%, 36%, and 20% in control group for CC, CT, and TT, respectively. This yielded a statistical significant difference of CC vs CT+TT (p 0.014 with OR 3.22 and CI 95% 1.24 – 8.33). Taken together, this result indicates that T allele has a protective effect against cervical cancer development. Further studies to confirm this effect in bigger population is warranted. [MKB. 2016;48(4):216–21]Key words: Cervical cancer, MTHFR C677T, polymorphism, Bandung Distribusi C677T gen Methylenetetrahydrofolate Reductase pada Pasien Kanker Serviks di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin BandungKanker serviks menduduki peringkat kedua sebagai kanker yang paling sering ditemukan pada wanita di dunia. Infeksi persisten oleh human papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi merupakan salah satu penyebab utama kanker serviks. Selain itu, factor genetic juga turut berperan dalam proses perkembangan kanker serviks. Enzim methylenetetrahydrofolate reductase yang disandi oleh gen MTHFR berfungsi meregulasi metabolism folat. Polimorfisme C677T pada gen MTHFR dapat membuat produksi enzim menjadi termolabil sehingga terjadi penurunan aktivitas. Distribusi folat yang abnormal dapat mengganggu proses metilasi, sintesis, dan perbaikan DNA yang dikaitkan dengan perkembangan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR pada pasien kanker serviks di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung, Indonesia. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan pasien kanker serviks yang diinklusi tahun 2010 dan sebagai control adalah wanita yang datang untuk pemeriksaan PAPsmear. DNA genomic diisolasi dari darah pasien dan dihibridisasi dengan menggunakan system BeadXpress Reader Illumina® untuk menentukan jenis genotipenya. Genotipe beberapa sampel dikonfirmasi dengan metode PCR-RFLP. Hasil distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR dengan genotipe CC, CT, dan TT pada pasien kanker serviks adalah 71,6%, 25,4%, dan 3% dan pada kontrol adalah 44%, 36%, and 20%. Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pasien kanker serviks dan kontrolnya, dengan genotipe CC vs CT+TT menunjukkan nilai p=0,014 (OR 3.22 dan IK 95% 1,24–8,33). Simpulan, alel T menunjukkan efek yang protektif pada perkembangan kanker serviks. Penelitian harus dilanjutkan untuk membuktikan efek protektif alel pada kanker serviks.[MKB. 2016;48(4):216–21]Kata kunci: Kanker serviks, MTHFR C677T, polimorfisme, Bandung
Pengaruh Pendidikan Penyikatan Gigi dengan Menggunakan Model Rahang Dibandingkan dengan Metode Pendampingan terhadap Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa-siswi Tunanetra SLB-A Bandung Putri, Megananda Hiranya; Sirait, Tiurmina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.793 KB)

Abstract

Mencegah terjadinya karies gigi pada penderita gangguan penglihatan tidak mudah dan lazimnya diperlukan seorang pengasuh (care giver). Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan pre and post test design yang dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa Tipe A (SLB-A) Negeri Bandung yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan penyikatan gigi dengan menggunakan model rahang dibandingkan dengan metode pendampingan terhadap tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa-siswi tunanetra di SLB-A Bandung. Subjek penelitian adalah 26 siswa kelompok model rahang yang diberi pembimbingan lisan dan pendidikan penyikatan gigi dengan menggunakan model rahang, melakukan praktik menyikat gigi secara mandiri, serta 26 siswa kelompok pendampingan yang diberi pembimbingan lisan dan dilakukan pendampingan saat menyikat gigi. Kedua kelompok diperiksa kebersihan giginya dengan skor Personal Hygiene Performance (PHP) sebelum dan sesudah pendidikan, dengan 3 kali pengulangan pendidikan. Analisis data dilakukan dengan uji t-dependent yang menunjukkan terdapat perbedaan kebersihan mulut yang signifikan antara sebelum dengan setelah dilakukan pendidikan, berturut-turut pada kelompok model rahang (p=0,00) dan kelompok pendampingan (p=0,00). Analisis data dengan uji t-independent menunjukkan tidak terdapat perbedaan perubahan skor PHP sebelum dan sesudah pendidikan antara kedua kelompok sampel (p>0,05). Simpulan, tidak terdapat perbedaan perubahan skor PHP antara pendidikan penyikatan gigi model rahang dan metode pendampingan. Kata kunci: Metode pendampingan, model rahang, pendidikan penyikatan gigi, skor Personal Hygiene Performance (PHP)Comparison of Toothbrushing Education Effect to Dental and Oral Hygiene Levels between Jaw Model Method and Mentoring Method on in Visually Impaired Students in SLB-A BandungPreventing the occurrence of dental caries in patients with visual impairment is not easy and usually requires support from a caregiver. This study was a quasi experiment with pre- and post-test design which was implemented in SLB-A Bandung, which is a public school for visually impaired students. The purpose of this study was to determine the effect of toothbrushing education by using a model of the jaw compared with the mentoring method to the level of dental and oral hygiene students with visual impairments. The subjects in this study consisted of 26 students who received oral coaching and teeth brushing education using a jaw model with independent tooth brushing and another 26 students who received oral coaching and mentoring during toothbrushing. Both groups were examined for their oral hygiene index using Personal Hygiene Performance (PHP) score before and after the training with 3 repetitions of education. Data analysis was performed using t-dependent test which indicated a significant difference between oral hygiene before and after training in the jaw model group (p=0.00) and advocacy groups (p=0.00), respectively. However, analysis of the data with t-independent test shows no difference in PHP score change before and after education between the two sample groups (p>0.05). Conclusion, there is no difference in PHP score change between toothbrushing education using jaw model method and mentoring method.Key words: Education brushing teeth, jaw model, mentoring method, personal hygiene performance (PHP) score DOI: 10.15395/mkb.v46n3.318
Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi terhadap Lansia Teressa, Maria; Rukmini, Elisabeth
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.411 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.967

Abstract

Populasi lanjut usia (lansia) di negara maju maupun negara berkembang akan meningkat dan menimbulkan masalah kesehatan. Banyaknya masalah kesehatan yang terjadi selama proses penuaan memerlukan sikap dan perhatian khusus terhadap lansia. Calon profesional yang terkait dengan bidang kesehatan perlu dipersiapkan untuk menyikapi dan memberi perhatian kepada lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan perbandingan pengetahuan dan sikap mahasiswa terhadap lansia antara mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan mahasiswa Fakultas Psikologi (FP) Unika Atma Jaya dari tanggal 1 Juli 2016 sampai 31 Desember 2016. Penelitian ini melibatkan 86 mahasiswa FK dan FP tingkat pertama, kedua, dan ketiga Unika Atma Jaya. Pengetahuan dan sikap mahasiswa terhadap lansia pada mahasiswa kedokteran dan psikologi diukur dengan alat ukur Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa terhadap Lansia dan dibanding dengan menggunakan uji-t tidak berpasangan. Mahasiswa FK dan FP Unika Atma Jaya memiliki pengetahuan dan sikap yang tinggi terhadap lansia. Skor mahasiswa psikologi rata-rata lebih tinggi (33,47) dibanding dengan mahasiswa kedokteran (33,35), meskipun perbedaan ini tidak signifikan. Simpulan, tidak terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap mahasiswa terhadap lansia antara mahasiswa kedokteran dan mahasiswa psikologi. [MKB. 2017;49(2):73–8] Kata kunci: Lansia, mahasiswa, pengetahuan, perbandingan, sikap  Medical and Psychology Students’ Knowledge and Attitude toward Elderly The proportion of older people is increasing worldwide, and so are the health problems. Health concerns related to aging create a growing need for health workers to provide care to elder people. Therefore, health care workers must be prepared to address and care for elderly. The aim of this study was to compare medical and psychology students’ knowledge and attitude towards elderly in Atma Jaya Catholic University of Indonesia. This study was conducted from 1 July 2016 to 31 December 2016. A total of 86 of the first, second, and third year students completed a questionnaire referred to as Students’ Knowledge and Attitude toward Elderly Questionnaire (SKAEQ). The medical and psychology students’ knowledge and attitude was  compared using independent t-test. The results showed that medical and psychology students had high knowledge and attitude towards elderly. Although the mean score of the psychology students (33.47) was higher than the medical students’ (33.35), the difference was not significantly different. In conclusion, there is no difference in the knowledge and attitude towards elderly between medical and psychology students. [MKB. 2017;49(2):73–8] Key words: Attitude, comparison, elderly, knowledge, student 
Antioxidant Activities of Black Soybean Extract (Glycine max (L.) Merr.) and Daidzein as Hydroxyl and Nitric Oxide Scavengers Irwan, Mulia; Girsang, Ermi; Nasution, Ali Napiah; Lister, I Nyoman Ehrich; Amalia, Annisa; Widowati, Wahyu
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.086 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1816

Abstract

Free radicals are known as a leading factor in aging. Nitric oxide (NO) and O2•- have been shown to inhibit the synthesis of matrix components and stimulate prolidase activities involved in collagen degradation. Hydroxyl (•OH) radical is a precursor of hyaluronic acid degradation. Antioxidants act as a scavenger for free radicals, creating a possibility to use them to prevent the aging process. Black soybeans (Glycine max (L.) Merr.) contain bioactive compounds that have the ability to scavenge free radicals, including daidzein. Daidzein belongs to the isoflavones group which is the most active compound in black soybean. This study aimed to understand the antioxidant activities of the black soybean extract (BSE) and daidzein compound in the scavenging of •OH and NO radicals and was performed at the Aretha Medika Utama-Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC), Bandung, Indonesia, from September to November 2018. The scavenging activity of •OH was assessed using the deoxyribose method, while the assessment of the scavenging of NO radicals was carried out using the sodium nitroprusside method. BSE and daidzein had an •OH scavenging activity with an IC50 value of 71.07 μg/mL, followed by daidzein with 24.57 μg/mL. A higher NO scavenging activity was seen in BSE with an IC50 of 71.60 μg/mL followed by daidzein with 35.68 μg/mL. Daidzein has a higher antioxidant activity through hydroxyl and nitric oxide scavenging compared to Glycine max (L.) Merr. extract. Hence, daidzein has a higher potential as an anti-aging agent based on the free-radical theory of aging. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merr.) dan Daidzein sebagai Pemerangkap Hidroksil dan Nitrogen MonoksidaRadikal bebas dikenal sebagai faktor utama penuaan. Nitrogen monoksida (NO) dan O2•- telah terbukti menghambat sintesis komponen matriks dan merangsang aktivitas prolidase yang terlibat dalam degradasi kolagen. Radikal hidroksil (•OH) adalah prekursor dari degradasi asam hialuronat. Antioksidan bertindak sebagai pemerangkap radikal bebas sehingga dapat digunakan untuk mencegah proses penuaan. Kedelai hitam (Glycine max (L.) Merr.) mengandung senyawa bioaktif yang mampu memerangkap radikal bebas, salah satunya adalah daidzein. Daidzein termasuk dalam kelompok isoflavon yang merupakan senyawa paling aktif dalam kedelai hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, pemerangkapan •OH dan NO dari ekstrak etanol kedelai hitam (BSE) dan senyawa daidzein. Penelitian ini dilakukan selama bulan September sampai dengan November tahun 2018 di Laboratorium Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC) Bandung. Pemerangkapan •OH dilakukan dengan metode deoksiribosa, sedangkan pemerangkapan radikal NO dilakukan dengan metode menghitung natrium nitroprusida. BSE dan daidzein memiliki aktivitas pemerangkapan •OH dengan nilai IC50 71,07 μg/mL diikuti oleh daidzein 24,57 μg/mL. Aktivitas pemerangkapan NO pada BSE ditunjukkan dengan IC50 71,60 μg/mL sementara daidzein 35,68 μg/mL. Daidzein memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi berdasarkan pemerangkapan •OH dan NO dibanding BSE. Oleh karena itu, daidzein memiliki potensi lebih sebagai antiaging menurut teori penuaan akibat radikal bebas.
Functional Recovery of Rare Case of Sciatic Nerve Schwannoma with Peripheral Nerve Block and without Intraoperative Neurophysiological Monitoring Jefri Henky; Ahmad Faried
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.4 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1996

Abstract

Schwannoma are benign peripheral nerve tumors derived from the Schwann cells in the neural sheath. Sciatic nerve schwannoma in the lower extremity is uncommon, accounting for only 1% of all schwannoma cases. This report aimed to describe the functional recovery after lower limb surgery of sciatic nerve schwannoma with peripheral nerve block and without intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) performed in Semen Padang Hospital in 2019. A 78-year-old woman presented with a complaint of pain on her slowly growing mass at the right popliteal region, which had existed for 22 years. Microsurgical resection was performed with local peripheral nerve block and without intraoperative neurophysiological monitoring. Tumor was removed en-bloc by sharp dissection using a microscope without any complication. The patient had significant pain relief without any neurologic deficit three weeks after the surgery. Penyembuhan Secara Fungsi Kasus Langka Schwannoma Saraf Sciatic dengan Blok Saraf Perifer Tanpa Pemantauan Neurofisiologis Intraoperatif Schwannoma adalah tumor saraf tepi jinak yang berasal dari sel Schwann dalam selubung saraf. Pada ekstremitas bawah, schwannoma saraf sciatic jarang terjadi, terhitung 1% dari semua schwannoma. Laporan ini bertujuan menggambarkan pemulihan fungsional dengan blok saraf perifer setelah operasi tungkai bawah schwannoma saraf sciatic tanpa pemantauan neurofisiologis intraoperatif (IOM) di Rumah Sakit Semen Padang, 2019. Seorang wanita 78 tahun datang dengan keluhan nyeri pada massa yang tumbuh perlahan di daerah popliteal kanannya selama 22 tahun. Reseksi bedah mikro dilakukan dengan blok saraf perifer secara lokal dan tanpa pemantauan neurofisiologis intraoperatif. Tumor terangkat secara en-bloc dengan diseksi tajam menggunakan mikroskop tanpa ada komplikasi. Pada minggu ketiga pascaoperasi, pasien mengalami pengurangan rasa sakit yang signifikan tanpa defisit neurologis.
Correlation between Quality of Life and Gastroesophageal Reflux Disease Kevin Tandarto; Riki Tenggara; Febie Chriestya; Mario Steffanus
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.2003

Abstract

Gastroesophageal reflux disease (GERD) is a disease characterized by the rise of stomach acid into the esophagus which leads to heartburn and regurgitation. The prevalence of adult GERD cases worldwide is 11-38.8%. This study aimed to determine the correlation between GERD and quality of life among patients affected by this disease. This was a cross-sectional study conducted on 92 GERD patients in Atma Jaya Hospital, Jakarta, Indonesia from April 2018 to June 2018. Two questionnaires, GERD-Q and GERD-HRQL were used in this study. A validation of the Indonesian version of the GERD-HRQL questionnaire was performed prior to this study. The Mann Whitney test was used to identify the correlation between GERD and the quality of life in patients with upper gastrointestinal symptoms. This study indicated that the GERD-HRQL questionnaire showed good validity and reliability. Results showed that there was a correlation between GERD and quality of life (p = 0.005) in patients with upper gastrointestinal symptoms. In conclusion, GERD affects the quality of life of patients affected by this disease. Korelasi antara Kualitas Hidup dan Penyakit Refluks GastroesofagusGastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit refluks gastroesofagus adalah penyakit yang ditandai dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi terbakar di dada dan regurgitasi. Prevalensi kasus GERD di seluruh dunia pada orang dewasa adalah 11–38,8%. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara GERD dan kualitas hidup di antara pasien yang terkena penyakit ini. Penelitian dilakukan pada 92 pasien GERD di Rumah Sakit Atma Jaya, Jakarta, Indonesia dari April 2018 hingga Juni 2018. Dua kuesioner, GERD-Q dan GERD-HRQL digunakan dalam penelitian ini. Validasi kuesioner GERD-HRQL versi bahasa Indonesia dilakukan sebelum penelitian ini. Analisis uji Mann Whitney digunakan untuk mengidentifikasi korelasi antara GERD dan kualitas hidup pada pasien dengan gejala gastrointestinal bagian atas. Penelitian ini menunjukkan bahwa kuesioner GERD-HRQL memperlihatkan validitas dan reliabilitas yang baik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan erdapat korelasi antara GERD dan kualitas hidup (p=0,005) pada pasien dengan gejala gastrointestinal atas. Simpulan, GERD mempengaruhi kualitas hidup pasien yang terkena penyakit ini.
Nutrition Counseling Need in Burn Patients Kiki Lukman; Hardisiswo Soedjana; Rani Septrina; Lisa Hasibuan; Selvy Harianti; Amelia Febrina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1882

Abstract

Burns can increase metabolic responses of the sufferers, making adequate nutrition important for burn patients and needs to be considered in the management of burns. Counseling on the importance of nutrition for burn patients can reduce the risk of burn complications. This study was an intervention study designed to increase the community's knowledge and awareness of the importance of nutrition in burn patients. In this study, a lecture session and discussion session on nutrition in burn patients were held by the Division of Plastic Surgery, Department of Surgery, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia at the Jatinangor Public Health Center, Sumedang, Indonesia, on August 14, 2019. Of all participants attending this event, thirty-one participants who participated in through the whole agenda of this event were sampled to be the respondents. Data were collected using a pre- and post-test questionnaires consisting of items on basic knowledge, first treatment, and nutrition for burn patients. More women (74%) participated in this study. Most respondents were over 40 years old (39%) and graduated from senior high school (39%). There was a significant increase in knowledge of the respondents before and after counseling the nutrition of burn patients (p<0.05). Thus, counseling is proven to increase knowledge in the general population that it should be performed routinely in various areas. Perlunya Penyuluhan Nutrisi Pada Pasien Luka Bakar Luka bakar dapat meningkatkan respons metabolik penderitanya. Nutrisi adekuat pada pasien luka bakar merupakan hal yang cukup penting dan perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan luka bakar. Penyuluhan tentang pentingnya nutrisi untuk pasien luka bakar dapat mengurangi risiko komplikasi luka bakar. Penelitian ini adalah studi intervensi yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi pada pasien luka bakar. Dalam penelitian ini, sesi kuliah dan sesi diskusi tentang nutrisi pada pasien luka bakar diadakan oleh Divisi Bedah Plastik, Departemen Bedah, Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia di Pusat Kesehatan Masyarakat Jatinangor, Sumedang, Indonesia, pada 14 Agustus 2019. Dari semua peserta yang menghadiri acara ini, tiga puluh satu peserta yang berpartisipasi melalui seluruh agenda acara ini dijadikan sampel untuk menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah tes yang terdiri atas pengetahuan dasar, pengobatan pertama, dan nutrisi untuk pasien luka bakar. Lebih banyak perempuan (74%) yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar responden berusia di atas 40 tahun (39%) dan lulus dari sekolah menengah atas (39%). Ada peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan responden sebelum dan sesudah penyuluhan nutrisi pasien luka bakar (p<0,05). Simpulan, penyuluhan terbukti meningkatkan pengetahuan masyarakat bahwa itu harus dilakukan secara rutin di berbagai bidang.
Correlation between Proteinuria and Glomerular Filtration Rate in Type 2 Diabetes Mellitus Dani Rosdiana; Mukhyarjon Mukhyarjon; Hendra Asputra; Nisa Faradisa Hernita; Olivia Makmur; Prayogo Prayogo; Hetty Hirfawaty
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2469.618 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1811

Abstract

Indonesia faces a double burden of communicable and non-communicable diseases, including metabolic and degenerative problems. Delay in the detection of diabetic nephropathy (DN) as one of the chronic microvascular complications is often seen, leading to the need for hemodialysis due to the end-stage renal disease (ESRD). An assessment of diabetes mellitus (DM) control target achievement, based on the guideline from the Indonesian Society of Endocrinology (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, PERKENI), and nephropathy early detection was performed in 54 Type-2 DM patients from 5 private hospitals in Pekanbaru Riau, Indonesia, from November 2018 to September 2019. Results showed poor achievement of DM control with 61.1% had abnormal body mass index, 57.5% had HbA1c>7%, and 77.7% had LDL serum >100 mg/dL. Nevertheless, most patients achieved good blood pressure control (74%). A high percentage of nephropathy-proteinuria was seen (40.7%) with 40.9% of them revealed renal insufficiency classified as chronic kidney disease (CKD) stage 3 and 4. There was a significant correlation between proteinuria and declined GFR (p=0.016), onset of DM (p=0.02), and diastolic blood pressure (p=0.03). No correlation was found between HbA1c and declined GFR, which may be due to the cross-sectional nature of the study. It will be interesting to perform a prospective study on proteinuria modification as a predictor of nephropathy early detection in DM patients since kidney biopsy and urine albumin creatinine ratio assessment are not available in primary health care services in remote areas. Korelasi antara Proteinuria dan Laju Filtrasi Glomerulus pada Diabetes Melitus Tipe 2Indonesia menghadapi beban ganda penyakit menular dan tidak menular, termasuk masalah metabolisme dan degeneratif. Keterlambatan dalam deteksi nefropati diabetik sebagai salah satu komplikasi mikrovaskular kronis sering terlihat, mengarah pada kebutuhan untuk hemodialisis karena penyakit ginjal stadium akhir (ESRD). Dari 54 pasien diabetes melitus (DM) tipe-2 tanpa keluhan edema, sesak, dan lemas dari 5 rumah sakit swasta di Pekanbaru, Riau, Indonesia, dari November 2018 hingga September 2019, dilakukan penilaian kontrol DM sesuai panduan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Didapatkan hasil bahwa pencapaian kontrol DM masih buruk dengan 61,1% memiliki indeks massa tubuh abnormal 57,5% memiliki HbA1c >7%, dan 77,7% memiliki serum LDL >100 mg/dL. Namun demikian, sebagian besar pasien mencapai kontrol tekanan darah yang baik (74%). Pasien terdeteksi proteinuria >25 mg/dL mencapai 40,7% dengan 40,9% diantaranya mengalami gangguan filtrasi ginjal yang didefinisikan sebagai GFR <60 diklasifikasikan penyakit ginjal kronis tahap 3 dan 4. Walaupun secara statistik tidak ditemukan hubungan bermakna antara kontrol glikemik dengan insufisiensi renal, namun ditemukan hubungan yang bermakna antara nefropati dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) (p=0.016), awitan DM (p=0,02), dan tekanan darah diastolik (p=0,03). Tidak ada hubungan bermakna antara HbA1c dan penurunan GFR yang mungkin disebabkan observasi sesaat. Akan menarik untuk melakukan studi prospektif pada modifikasi proteinuria sebagai prediktor deteksi dini nefropati pada pasien DM karena biopsi ginjal dan penilaian rasio albumin kreatinin urin tidak tersedia di layanan perawatan kesehatan primer di daerah terpencil.
Platelet-Derived Microparticle Count in β-Thalassemia Patients with Direct Labeling Monoclonal Antibody CD62P and CD41 Ivan Lumban Toruan; Pandji Irani Fianza; Delita Prihatni
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.822 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1836

Abstract

Thromboembolic events are potentially life-threatening clinical complications found in β-thalassemia patients. The pathogenesis of the hypercoagulable state in β-thalassemia patients results from the degradation of excess α-globin chains in red blood cells, leading to intracellular labile iron accumulation, oxidative stress, and more rigid, deformed, and eventually prematurely damaged red blood cells. This process is associated with the loss of the normal asymmetrical distribution of membrane phosphatidylserine and its exposure to the outer surface of the blood cell membrane resulting in the formation of tenase complexes, prothrombinase, and thrombin complexes. Increased thrombins lead to platelet activation and platelet-derived microparticles synthesis, which in turn contributes to thrombus formation. This study aimed to determine the increase in the platelet-derived microparticle count by direct labeling of CD62P and CD41 monoclonal antibodies in β-thalassemia patients when compared with normal subjects. This was a cross-sectional analytical quantitative study conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Dharmais Cancer Hospital Jakarta Indonesia between August and September 2019. Sixty patients, divided evenly into β-thalassemia group and control group, were labeled by CD62P and CD41 monoclonal antibodies. Results showed that the β-thalassemia group had a platelet count of 197x103/uL (58–1,261) with a median count for platelet-derived microparticles of 10,553 events/uL (779–90,971) as opposed to 1,861 events/uL (1,244–3,174) in the normal group (p<0.05). Therefore, the platelet-derived microparticle count in the β-thalassemia patients is 5.7 times greater than in the normal subjects.Jumlah Platelet Derived Microparticles pada Pasien Thalassemia β dengan Metode Pelabelan Langsung Antibodi Monoklonal CD62P dan CD41Kejadian tromboemboli berpotensi komplikasi klinis yang mengancam jiwa ditemukan pada pasien thalassemia β. Patogenesis keadaan hiperkoagulasi pada pasien thalassemia β akibat dari degradasi rantai globin α berlebih dalam sel darah merah yang menghasilkan akumulasi besi labil intraseluler, dan mengarah pada stres oksidatif serta sel darah merah yang lebih kaku dan cacat, dengan akibat kerusakan prematur. Proses ini dikaitkan dengan hilangnya distribusi asimetris normal dari fosfatidilserin membran dan paparannya pada permukaan luar membran sel darah, yang meyebabkan pembentukan kompleks tenase, kompleks protrombinase dan trombin. Peningkatan trombin mengarah pada aktivasi trombosit dan sintesis platelet derived microparticles yang selanjutnya berkontribusi pada pembentukan trombus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peningkatan jumlah platelet derived microparticles dengan metode pelabelan langsung antibodi monoklonal CD62P dan CD41 pada pasien thalassemia β dibanding dengan subjek normal. Penelitian ini merupakan suatu penelitian kuantitatif dengan metode analitik potong lintang yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta antara bulan Agustus dan September 2019. Enam puluh pasien, dibagi secara merata menjadi kelompok thalassemia β dan kelompok kontrol, diberi label oleh CD62P dan CD41 antibodi monoklonal. Hasil penelitian menunjukkan kelompok thalassemia β memiliki jumlah trombosit 197x103/uL (58–1.261) dengan jumlah median platelet derived microparticles 10.553 partikel/uL (779–90.971) dibanding dengan 1.861 partikel/uL ( 1,244–3,174) pada kelompok normal (p<0,05). Simpulan, jumlah platelet derived microparticles  pada pasien thalassemia β adalah 5,7 kali lebih besar daripada pada subjek normal.