cover
Contact Name
Khairuddin
Contact Email
khairuddinazka15@gmail.com
Phone
+6282286180987
Journal Mail Official
khairuddinazka15@gmail.com
Editorial Address
Tanah Bara
Location
Kab. aceh singkil,
Aceh
INDONESIA
Indonesian Journal of Public Administration and Policy
ISSN : 31236480     EISSN : 31241735     DOI : 10.70742/ijpap
Core Subject :
Indonesian Journal of Public Administration and Policy (IJPAP), with registered ISSN 3123-6480 (print) and 3124-1735 (online), is a scholarly journal published by Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara, Aceh, Indonesia. The journal is managed and published through the Abdurrauf Institute journal platform at https://journal.abdurraufinstitute.org, which functions solely as the journal’s online publishing platform and domain identity. Abdurrauf Institute does not represent a university, college, or higher education institution. The journal addresses a wide range of issues and contemporary debates in the field of public administration. Its primary objective is to disseminate conceptual ideas and research findings that contribute to the advancement of studies in public administration and public policy management. IJPAP focuses on major issues related to the development of public administration and public policy studies. These include, but are not limited to, administrative development, regional policy, regional autonomy and bureaucracy, public civil service, decentralization, economic development and knowledge development, public management, as well as public decision-making processes and techniques. Through these areas of focus, the journal aims to promote scholarly discussions and empirical analyses that strengthen governance practices and policy formulation in the public sector. The journal was first published in print in September 2025 and is currently also available in an online edition to ensure broader academic accessibility. In each publication year, IJPAP publishes two issues annually, scheduled for March and September. Scholars, researchers, and practitioners are warmly invited to submit their best manuscripts for consideration and publication in this journal.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilihan Umum Tahun 2024: Studi di Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo Gafar Tomutu; Ellys Rachman; Tety Thalib
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i1.446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dan faktor-faktor yang memengaruhinya dalam Pemilu 2024 di Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo. Partisipasi pemilih merupakan indikator krusial dalam mengukur kualitas demokrasi, namun partisipasi pemilih di wilayah ini tercatat hanya 79,43% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 13.704 orang. Angka ini menyoroti tantangan serius dalam pelaksanaan proses demokrasi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa rendahnya partisipasi dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci, yaitu keterbatasan pengetahuan politik warga negara, kendala ekonomi yang memicu praktik jual beli suara, apatisme politik akibat kekecewaan terhadap wakil rakyat terpilih, dan tekanan sosial dari elit lokal. Selain itu, peran lembaga penyelenggara pemilu dalam memberikan pendidikan pemilih yang efektif masih kurang memadai, sehingga banyak warga negara yang memilih secara tidak rasional atau bahkan tidak memilih sama sekali. Temuan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif untuk meningkatkan partisipasi pemilih melalui peningkatan pendidikan politik, pemberdayaan ekonomi, dan pemulihan kepercayaan publik terhadap proses pemilu dan hasilnya. Kata kunci : Partisipasi Politik, Pemilu 2024, Politik Lokal, Apatisme, Politik Uang, Tabongo
Evaluation of environmental impact assessment compliance in public construction projects and its implications for sustainable development Benedicta Njideka Okafor; Blessing Justin Onwurliri
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i1.451

Abstract

Environmental Impact Assessment (EIA) has become a central instrument for integrating environmental, social, and economic considerations into public construction projects. This article evaluates EIA compliance in public infrastructure development and examines its implications for sustainable development. Drawing on international and local literature, the review synthesizes evidence on EIA concepts and principles, legal and institutional frameworks, methods for assessing compliance, and the outcomes of effective or weak implementation. The findings show that although many countries have established mandatory EIA regulations for major public works, practical compliance remains inadequate. Key barriers include institutional weaknesses, limited technical capacity, corruption and political interference, poor-quality documentation, and low levels of public participation. These constraints result in incomplete implementation of mitigation measures, inadequate monitoring and follow-up, and a persistent gap between EIA prescriptions and on-site practice. Consequently, non-compliance contributes to environmental degradation, loss of biodiversity, heightened public health risks, and slower progress toward relevant Sustainable Development Goals. The article proposes a set of integrated strategies to improve EIA compliance: strengthening regulatory enforcement, enhancing institutional and professional capacity, leveraging geospatial and digital monitoring technologies, and deepening public participation and transparency. It concludes by identifying priority areas for future research, including quantitative assessment of compliance levels, sector-specific challenges, community-based monitoring models, and the application of emerging technologies such as artificial intelligence and IoT-enabled systems to EIA enforcement
Entrepreneurial Government Dalam Membangun Birokrasi Publik Suyetno Suyetno
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i1.468

Abstract

Dimasa depan pemerintah sudah terlalu besar untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kecil tetapi terlalu kecil untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi masyarakat. Pemerintah akan menghadapi masyarakat yang semakin cerdas (knowledge based society) dan masyarakat yang semakin banyak tuntutan (demanding community). Menyikapi hal tersebut pemerintah harus mengubah cara pandang, perilaku, dan caranya mengelola sektor publik ini secara modern. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perspektif entrepreneurial government dalam birokrasi publik dan best practice penerapan entrepreneurial government di Indonesia.
Penerapan Manajemen Risiko dalam Pengadaan Barang dan Jasa di BP2JK Wilayah Gorontalo Ahmad Nurmansyah Sumaga; Ellys Rachman; Yahya Antu
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i1.478

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen risiko dalam pengadaan barang dan jasa di Unit Pelayanan Pengadaan Konstruksi Daerah (BP2JK) Gorontalo. Penelitian ini berfokus pada tiga aspek utama: tingkat pengetahuan sumber daya manusia (SDM), dukungan anggaran, dan mekanisme evaluasi dan pemantauan. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa implementasi manajemen risiko di BP2JK Gorontalo belum optimal. Dari segi SDM, pemahaman staf tentang konsep manajemen risiko masih terbatas karena kurangnya pelatihan terstruktur, sehingga identifikasi risiko lebih bergantung pada pengalaman individu daripada prosedur standar. Dari perspektif anggaran, tidak ada alokasi khusus untuk mendukung kegiatan manajemen risiko, sehingga upaya mitigasi dan pemantauan lapangan dibatasi oleh keterbatasan keuangan. Sementara itu, mekanisme evaluasi dan pemantauan dilakukan secara reaktif daripada preventif, menyebabkan potensi risiko terdeteksi terlambat. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan terstruktur, penyediaan alokasi anggaran khusus untuk manajemen risiko, dan pengembangan sistem evaluasi terpadu dengan implementasi berkala sangat diperlukan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam kegiatan pengadaan di BP2JK Gorontalo.  
Public Administration in Managing Institutional Da’wah within the Regional Governments of Central Java Ahmas Anas; Bahar ALTUNOK
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i1.480

Abstract

This study aims to analyse the role of public administration in institutional da’wah management in local governments in Central Java, focusing on administrative structures and mechanisms, the implementation of public governance principles, as well as challenges and strategies for strengthening da’wah governance as a value-based public service. This study uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observations, and documentation studies in several local governments in Central Java. The research informants included local government officials, state civil servants, as well as representatives of religious institutions and figures. Data analysis was carried out thematically by linking empirical findings and theoretical frameworks of public administration and institutional da’wah. The results of the study indicate that institutional da’wah has been formally integrated into the local government’s administrative system; however, its management remains dominated by an administrative and procedural approach. The implementation of the principles of accountability, transparency, and participation is normative, but has not produced a substantive impact on socio-religious change. Sectoral institutional structures, rigid bureaucracy, and limited human resource capacity are the main challenges in institutional da’wah management. These findings underscore the need to strengthen da’wah governance through a collaborative approach, capacity building of the apparatus and da’i, as well as evaluation based on public values and social impact. This research presents an integrative perspective on the relationship between public administration and da’wah, positioning institutional da’wah as a value-based public service within the context of local government studies.
Digital Statecraft: Integrating Information Technology Into Islamic Governance Systems Moses Adeolu AGOI
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.581

Abstract

Emphasizing the incorporation of information technology to improve administrative efficiency, openness, responsiveness, and policy creation, this paper looks at the confluence of digital transformation and Islamic legal digital statecraft. Governments are increasingly using artificial intelligence (AI), big data analytics, blockchain, cloud computing, and digital public infrastructure (DPI) in the context of the Fourth Industrial Revolution to update public institutions and enhance state capacity. Incorporating cutting-edge technologies into government, however, presents hurdles including ethical accountability, cybersecurity threats, bureaucratic resistance, regulatory compliance, and digital exclusion. To assess digital statecraft, the research creates an analytical framework combining public administration theory with information systems research. Using institutional theory and research on digital governance, it evaluates how technological integration transforms public value generation and administrative legitimacy. Comparative policy analysis and peer-reviewed literature from 2015 to 2025 reveal enabling circumstances, governance hazards, and observable results of digital transformation. Results show that three inextricably linked legs support good digital statecraft: resilient digital infrastructure with interoperability, flexible legislative and ethical structures, and strong institutional capacity including digital leadership. Although integrated digital ecosystems can improve service delivery and citizen involvement, sustained risks like algorithmic prejudice and privacy breaches highlight the necessity of responsible, inclusive, and accountable governance policies. The study as a whole shows that achieving legitimacy and public value in contemporary governance calls for balancing technical invention with institutional, moral, and social factors in order to create sustainable digital statecraft. [Menekankan integrasi teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi administrasi, keterbukaan, responsivitas, serta perumusan kebijakan, tulisan ini mengkaji pertemuan antara transformasi digital dan tata kelola negara digital dalam perspektif hukum Islam. Dalam konteks Revolusi Industri Keempat, pemerintah semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), analitik big data, blockchain, komputasi awan, dan infrastruktur publik digital (Digital Public Infrastructure/DPI) untuk memodernisasi institusi publik dan meningkatkan kapasitas negara. Namun, integrasi teknologi mutakhir ke dalam pemerintahan menghadirkan berbagai tantangan, termasuk akuntabilitas etis, ancaman keamanan siber, resistensi birokrasi, kepatuhan regulatif, serta kesenjangan digital. Untuk menilai tata kelola negara digital, penelitian ini mengembangkan kerangka analitis yang menggabungkan teori administrasi publik dengan kajian sistem informasi. Dengan menggunakan teori institusional dan penelitian tentang tata kelola digital, studi ini mengevaluasi bagaimana integrasi teknologi mentransformasi penciptaan nilai publik dan legitimasi administratif. Analisis kebijakan komparatif serta telaah literatur ilmiah bereputasi dari tahun 2015 hingga 2025 mengungkap kondisi pendukung, risiko tata kelola, serta hasil nyata dari transformasi digital. Temuan menunjukkan bahwa tata kelola negara digital yang efektif ditopang oleh tiga pilar yang saling terkait erat: infrastruktur digital yang tangguh dan interoperabel, kerangka legislasi dan etika yang adaptif, serta kapasitas institusional yang kuat termasuk kepemimpinan digital. Meskipun ekosistem digital yang terintegrasi dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik dan partisipasi warga negara, risiko berkelanjutan seperti bias algoritmik dan pelanggaran privasi menegaskan pentingnya kebijakan tata kelola yang bertanggung jawab, inklusif, dan akuntabel. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa pencapaian legitimasi dan nilai publik dalam tata kelola kontemporer memerlukan keseimbangan antara inovasi teknologi dengan faktor institusional, moral, dan sosial guna mewujudkan tata kelola negara digital yang berkelanjutan.]
Menuju Keadilan Subtantif dalam Layanan Publik Digital: Tata Kelola Disfungsi Identitas Kependudukan Arditya Prayogi; Muhammad Sobri Maulana; Dwitia Pratiwi
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.592

Abstract

The digitalization of public services promises efficiency, transparency, and expanded access. However, in practice, dysfunctional population identity data (Number of Population Identification Number/NIK) often becomes a major obstacle for citizens in accessing social security programs. So far, this problem is more often understood as an administrative or technical disruption, although there are still limited studies examining it as a substantive justice issue in the governance of digital public services. This article analyzes substantive justice in the context of the digitalization of public services through a case study of NIK dysfunction in social security access in Biak City, Papua. Using a socio-legal approach, the research examines how data synchronization failures, infrastructure constraints, and frontline service practices affect the fulfillment of citizens' rights to public services. The findings indicate that NIK issues are not only technical but also a matter of institutional accountability, process design, and inequality in digital access. The novelty of this article lies in the use of a substantive justice perspective to position NIK dysfunction as an issue of citizens' rights in digital services, while also offering an operational framework for improvement. Practically, this article proposes: (i) a case-based rapid remediation mechanism, (ii) minimum service standards for verification and escalation, (iii) transparent integration of complaints and status tracking, and (iv) literacy support and mentoring for vulnerable groups. [Digitalisasi layanan publik menjanjikan efisiensi, transparansi, dan perluasan akses. Namun, dalam praktiknya, disfungsi data identitas kependudukan (Nomor Induk Kependudukan/NIK) sering menjadi penghambat utama ketika warga mengakses program jaminan sosial. Sejauh ini, persoalan tersebut lebih sering dipahami sebagai gangguan administratif atau teknis, padahal masih terbatas kajian yang menelaahnya sebagai persoalan keadilan substantif dalam tata kelola layanan publik digital. Artikel ini menganalisis keadilan substantif dalam konteks digitalisasi layanan publik melalui studi kasus disfungsi NIK pada akses jaminan sosial di Kota Biak, Papua. Dengan pendekatan socio-legal, penelitian menelaah bagaimana kegagalan sinkronisasi data, hambatan infrastruktur, serta praktik pelayanan di garda depan memengaruhi pemenuhan hak warga atas pelayanan publik. Temuan menunjukkan bahwa masalah NIK tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan persoalan akuntabilitas kelembagaan, desain proses, dan ketidaksetaraan akses digital. Kebaruan artikel ini terletak pada penggunaan perspektif keadilan substantif untuk menempatkan disfungsi NIK sebagai isu hak warga dalam layanan digital, sekaligus menawarkan kerangka perbaikan yang operasional. Secara praktis, artikel ini mengusulkan: (i) mekanisme remediasi cepat berbasis kasus, (ii) standar layanan minimum untuk verifikasi dan eskalasi, (iii) integrasi pengaduan dan pelacakan status secara transparan, serta (iv) dukungan literasi dan pendampingan bagi kelompok rentan.]
Direction of Socio-Cultural Transformation Policy Based on Community Empowerment in Realizing Prosperity in Southwest Maluku Indonesia Ambar Teguh Sulistiyani; Amanda Elista; Nabilla Arsifatika; Nadiyah Salsa Billah; Khalda Hanifah
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.992

Abstract

This research focuses on efforts to improve community welfare in Southwest Maluku Regency (MBD). The poverty level of MBD Regency is much higher compared to the average poverty level in Maluku Province and the national average. Judging from the high potential of natural resources, such as the Masela Block, marine fisheries resources, buffalo, cattle, goat, forest products, regency should have the ability to alleviate poverty. Today we have entered a new decade in Long Term Regional Development, 2025-2045. How can the direction of socio-cultural transformation policies based on community empowerment create prosperity? This research uses a policy analysis approach, which is based on the MBD Regency Initial Long Term Regional Development Plan document. The data analyzed comes from secondary data, which is processed using descriptive statistics. The results of this research show that there is a socio-cultural transformation in overcoming poverty and improving welfare through community empowerment in MBD Regency. The recommendation submitted to the MBD Regency Government is that the direction of social and cultural transformation policies based on integrative social engineering is important so that an empowered, innovative and prosperous society is created. [Penelitian ini berfokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Tingkat kemiskinan di Kabupaten MBD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku dan rata-rata nasional. Mengingat potensi sumber daya alam yang tinggi, seperti Blok Masela, sumber daya perikanan laut, kerbau, sapi, kambing, serta hasil hutan, kabupaten ini seharusnya memiliki kemampuan untuk mengurangi kemiskinan. Saat ini kita telah memasuki dekade baru dalam Rencana Pembangunan Daerah Jangka Panjang, 2025-2045. Bagaimana arah kebijakan transformasi sosial-budaya yang berbasis pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan kemakmuran? Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kebijakan, yang didasarkan pada dokumen Rencana Pembangunan Daerah Jangka Panjang Awal Kabupaten MBD. Data yang dianalisis berasal dari data sekunder, yang diolah menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya transformasi sosial-budaya dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat di Kabupaten MBD. Rekomendasi yang diajukan kepada Pemerintah Kabupaten MBD adalah agar arah kebijakan transformasi sosial dan budaya yang berbasis sosial integratif teknik Hal ini penting agar tercipta masyarakat yang berdaya, inovatif, dan sejahtera.]
Konstitusionalitas Kebijakan Publik Berbasis E-Governance dalam Reformasi Birokrasi Digital di Indonesia Ahmad Nurun
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.1061

Abstract

The transformation of technology-based governance through e-Governance public policies has become an important aspect of bureaucratic reform in Indonesia. Nevertheless, its implementation continues to raise constitutional concerns related to the protection of citizens’ rights, digital inequality, bureaucratic transparency, personal data security, and the accountability of state authorities in the use of digital technology. This article examines the constitutionality of e-Governance-based public policies within the framework of digital bureaucratic reform in Indonesia and identifies an appropriate governance model for developing democratic and socially just digital administration. The study employs normative legal research using statutory, conceptual, and socio-legal approaches, and is analyzed through the perspectives of the rule of law, good governance, responsive governance, and digital constitutionalism. The findings indicate that the implementation of e-Governance in Indonesia has not fully reflected the principles of the rule of law and good governance due to several persistent challenges, including unequal access to digital public services (digital divide), limited digital literacy, weak protection of personal data, restricted public participation, and the potential misuse of digital technology in administrative governance. These conditions demonstrate that digital bureaucratic reform in Indonesia remains predominantly oriented toward administrative modernization and bureaucratic efficiency rather than the strengthening of digital democracy, social justice, and constitutional rights protection. Therefore, digital bureaucratic reform requires the reconstruction of a responsive e-Governance model that prioritizes transparency, public participation, digital rights protection, and social justice as the foundation of constitutional and inclusive digital governance. [Transformasi tata kelola pemerintahan berbasis teknologi melalui kebijakan publik e-Governance telah menjadi aspek penting dalam reformasi birokrasi di Indonesia. Namun demikian, implementasinya masih menimbulkan berbagai persoalan konstitusional yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak warga negara, ketimpangan digital, transparansi birokrasi, keamanan data pribadi, serta akuntabilitas otoritas negara dalam penggunaan teknologi digital. Artikel ini mengkaji konstitusionalitas kebijakan publik berbasis e-Governance dalam kerangka reformasi birokrasi digital di Indonesia serta mengidentifikasi model tata kelola yang tepat dalam mewujudkan administrasi digital yang demokratis dan berkeadilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan socio-legal, yang dianalisis melalui perspektif negara hukum, good governance, responsive governance, dan konstitusionalisme digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi e-Governance di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan prinsip negara hukum dan good governance karena masih terdapat berbagai tantangan, seperti ketimpangan akses terhadap layanan publik digital (digital divide), rendahnya literasi digital, lemahnya perlindungan data pribadi, terbatasnya partisipasi publik, serta potensi penyalahgunaan teknologi digital dalam tata kelola administrasi pemerintahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa reformasi birokrasi digital di Indonesia masih lebih berorientasi pada modernisasi administrasi dan efisiensi birokrasi daripada penguatan demokrasi digital, keadilan sosial, dan perlindungan hak-hak konstitusional. Oleh karena itu, reformasi birokrasi digital memerlukan rekonstruksi model e-Governance yang responsif dengan menempatkan transparansi, partisipasi publik, perlindungan hak digital, dan keadilan sosial sebagai landasan utama dalam mewujudkan tata kelola digital yang konstitusional dan inklusif.]
Transformasi Mata Pencaharian Pascatambang Melalui Pengembangan UMKM Berbasis Pariwisata: Analisis Pemberdayaan Masyarakat di Tebing Breksi Sambirejo Gufran Tuanaya; Hanisya Azzahra Larasati; Ambar Teguh Sulistiyani; Amanda Elista
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.1149

Abstract

Transformasi usaha masyarakat sambirejo dari penambang menuju pengelola pariwisata menunjukkan tantangan yang luar biasa. Hilangnya mata pencaharian penduduk setempat pasca penutupan tambang telah meningkatkan angka kemiskinan di Desa Sambirejo. Proses transisi dari masyarakat penambang menuju pengelola pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi pemberdayaan masyarakat Desa Sambirejo di mana, harus menjalankan peran sebagai pelaku UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan UMKM serta nilai sosial yang dihasilkan dalam mendukung transformasi mata pencaharian masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan berdasarkan kerangka SROI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara akumulatif keberhasilan pemberdayaan UMKM di Tebing Breksi dapat dipahami sebagai hasil dari keterhubungan antara transformasi penghidupan, akses ekonomi lokal, penguatan kelembagaan, hingga pada manfaat sosial yang dirasakan masyarakat. Transformasi yang bermula dari kawasan tambang menjadi destinasi wisata telah menciptakan struktur peluang ekonomi baru bagi warga Sambirejo. Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh terbukanya ruang usaha bagi masyarakat lokal, berkembangnya kemampuan masyarakat untuk mengorganisasi diri, serta meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Temuan yang didapatkan lebih menunjukkan pengalaman dan sudut pandang informan yang diwawancarai sehingga tak dapat digeneralisasikan untuk seluruh pelaku UMKM di kawasan Tebing Breksi. Penelitian ini memberikan perspektif bahwa kerangka SROI dapat diterapkan sebagai pendekatan analisis kualitatif untuk mengevaluasi nilai sosial pemberdayaan UMKM pada kawasan wisata pascatambang.

Page 1 of 2 | Total Record : 11