cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Batam Kota
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
ISSN : -     EISSN : 29632935     DOI : https://doi.org/10.53547/mqfnnn80
Core Subject :
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini is an open-access, peer-reviewed scientific journal managed by the Early Childhood Christian Education Study Program and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under E-ISSN 2963-2935 (online) and accepts articles in both Indonesian and English. The primary focus of Real Kiddos is the publication of scholarly works in the field of early childhood education, particularly from the perspective of Christian education, examined through academic, interdisciplinary, and contextual approaches (see the Focus and Scope section for details). Real Kiddos welcomes contributions from academics, practitioners, educators, researchers, and students, both from Indonesia and abroad, who are committed to the holistic development of early childhood education. The journal is published twice a year, in March and September, and aims to serve as a reputable platform for scientific publication at both the national and international levels. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 47 Documents
Efektivitas Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Peserta Didik May
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/3ywcg712

Abstract

This study aims to examine the interactive learning strategies employed by Christian Religious Education teachers to enhance students’ learning independence. Learning independence is defined as the ability of students to manage and regulate their own learning processes autonomously, without reliance on others. In this context, Christian Religious Education teachers play a strategic role as instructors, mentors, facilitators, and role models who influence the intellectual, emotional, spiritual, and social development of their students. The research applies a qualitative method using a literature review approach, focusing on analyzing scholarly works regarding the effectiveness of Christian Religious Education teachers in fostering learning independence. The findings indicate that effective implementation of interactive learning strategies can promote learning independence by stimulating students’ interests and talents, creating a supportive learning environment, providing motivation and recognition, and strengthening social skills. Moreover, internal factors such as motivation and self-efficacy, alongside external factors including family support and the school environment, significantly contribute to shaping students’ learning independence. Therefore, the active role of Christian Religious Education teachers is essential in achieving the objectives of Christian education, namely developing students into independent, responsible, and integrity-driven individuals. Keywords: early childhood education;interactive learning; learning independence; teacher effectiveness Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran interaktif yang diterapkan oleh guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan kemandirian belajar peserta didik. Kemandirian belajar dipahami sebagai kemampuan siswa untuk mengatur serta mengendalikan proses belajarnya secara mandiri tanpa bergantung pada pihak lain. Dalam konteks ini, guru Pendidikan Agama Kristen berperan strategis sebagai pengajar, pembimbing, fasilitator, sekaligus teladan yang berpengaruh terhadap perkembangan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial peserta didik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang berfokus pada analisis literatur mengenai efektivitas peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam membentuk kemandirian belajar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran interaktif dapat mendorong kemandirian belajar melalui upaya menumbuhkan minat dan bakat siswa, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, memberikan motivasi serta penghargaan, dan mengembangkan keterampilan sosial. Selain itu, faktor internal seperti motivasi dan keyakinan diri, serta faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan lingkungan sekolah, turut memengaruhi proses pembentukan kemandirian belajar peserta didik. Dengan demikian, peran aktif guru Pendidikan Agama Kristen menjadi faktor esensial dalam mewujudkan tujuan pendidikan Kristen, yakni membentuk pribadi peserta didik yang mandiri, bertanggung jawab, dan berintegritas. Kata kunci: efektivitas guru; kemandirian belajar; pembelajaran interaktif; pendidikan anak usia dini
Pendidikan Moral dan Agama sebagai Upaya Menummbuhkan Sikap Empati dan Kasih Sayang pada Anak Usia Dini di Sekolah Suset Pasaribu; Susanti Hasibuan; Puja Maharani Sijabat
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/s69m5786

Abstract

Digital transformation poses serious challenges to the moral and spiritual development of early childhood, particularly in the formation of empathy and love. This study aims to analyze the role of moral and religious education, with an emphasis on Early Childhood Christian Education (PKAUD), in shaping a child’s character founded on love. The method employed is a qualitative-descriptive literature study, integrating theories of moral development (Piaget, Erikson, Bronfenbrenner) with the biblical-theological framework of love (hesed, agape, paideia). The findings indicate that the family serves as the primary ecosystem for cultivating children’s empathy through role modeling, spiritual practices, and the management of digital media. The church, through Sunday school and pastoral care, plays a role in instilling disciplined yet gentle love, while schools reinforce collaboration by implementing interactive learning grounded in moral and faith-based values. Theoretically, this study affirms that the development of children’s empathy is rooted not only in psychological aspects but also in spirituality as a transformative divine reality. This research contributes by offering a conceptual model of Christian early childhood education that integrates discipline, faith-based role modeling, and spiritual guidance, thereby positioning moral and religious education not merely as normative, but as a transformative means for children’s growth. Keywords: children and modernity; early childhood Christian education; early childhood theology; empathy and love Abstrak Transformasi digital membawa tantangan serius bagi perkembangan moral dan spiritual anak usia dini, khususnya dalam pembentukan empati dan kasih. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pendidikan moral dan agama, dengan penekanan pada Pendidikan Kristen Anak Usia Dini (PKAUD), dalam membentuk karakter anak yang berlandaskan kasih. Metode yang digunakan adalah kajian kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, yang mengintegrasikan teori perkembangan moral (Piaget, Erikson, Bronfenbrenner) dengan kerangka teologis Alkitabiah tentang kasih (hesed, agape, paideia). Hasil kajian menunjukkan bahwa keluarga merupakan ekosistem utama pembentukan empati anak melalui keteladanan, praktik spiritual, dan pengelolaan media digital. Gereja, melalui sekolah minggu dan pelayanan pastoral, berperan menanamkan kasih yang disiplin namun penuh kelembutan, sedangkan sekolah memperkuat kolaborasi dengan menerapkan pembelajaran interaktif berbasis nilai moral dan iman. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan empati anak tidak hanya berakar pada aspek psikologis, tetapi juga spiritual sebagai realitas ilahi yang transformatif. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan model konseptual pendidikan Kristen anak usia dini yang memadukan disiplin, keteladanan iman, dan pendampingan spiritual, sehingga pendidikan moral dan agama dipahami bukan hanya normatif, melainkan sarana transformatif untuk pertumbuhan anak. Kata Kunci: anak dan modernitas; empati dan kasih; pendidikan kristen anak usia dini; teologi anak usia dini  
HUBUNGAN SPIRITUALITAS DAN RESILIENSI ANAK USIA DINI: PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN PSIKOLOGI POSITIF Fredik Melkias Boiliu
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/hg1v0j97

Abstract

This study highlights the importance of building resilience in early childhood as preparation for developmental challenges, with spirituality serving as a key protective factor. Christian Religious Education (CRE) and positive psychology are viewed as strategic in nurturing spirituality that strengthens children’s resilience. The purpose of this study is to analyze the relationship between spirituality and resilience in early childhood from the perspectives of CRE and positive psychology, as well as to identify its formative mechanisms. A qualitative-descriptive method was employed through literature review of national and international journals, textbooks, and relevant documents. The findings show that CRE develops children’s spirituality through faith narratives, ritual practices, and secure caregiving relationships, while positive psychology reinforces it by fostering character strengths such as gratitude, hope, forgiveness, and optimism. The integration of both perspectives creates synergy between internal factors, such as meaning in life and emotional regulation, and external factors, such as faith community support, effectively strengthening resilience. This study affirms that developing spirituality based on CRE and positive psychology is a significant pedagogical and psychological strategy for fostering children’s holistic resilience. Keywords: Christian religious education; early childhood resilience; early childhood spirituality; positive psychology Abstrak Penelitian ini menyoroti pentingnya membangun resiliensi anak usia dini sebagai bekal menghadapi tantangan perkembangan, dengan spiritualitas sebagai faktor protektif utama. Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan psikologi positif dipandang strategis dalam menumbuhkan spiritualitas yang mampu memperkuat daya lenting anak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keterkaitan spiritualitas dan resiliensi anak usia dini dari perspektif PAK dan psikologi positif, serta mengidentifikasi mekanisme pembentukannya. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi literatur terhadap jurnal nasional dan internasional, buku teks, dan dokumen relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa PAK membentuk spiritualitas anak melalui narasi iman, praktik ritual, dan relasi pengasuhan yang aman, sedangkan psikologi positif memperkuatnya melalui pengembangan kekuatan karakter seperti syukur, harapan, pengampunan, dan optimisme. Integrasi keduanya menghasilkan sinergi antara faktor internal, seperti makna hidup dan regulasi emosi, serta faktor eksternal, seperti dukungan komunitas beriman, yang efektif memperkokoh resiliensi. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan spiritualitas berbasis PAK dan psikologi positif merupakan strategi signifikan dalam membangun ketangguhan anak secara holistik. Kata Kunci: pendidikan agama Kristen; psikologi positif; resiliensi anak usia dini; spiritualitas anak usia dini  
Screen Free Parenting sebagai Wujud Kasih: Alternatif Kreatif bagi Orang Tua Kristen dalam Membimbing Anak Usia Dini Serepina Yoshika Hasibuan; Sarah Gracia Lumbantobing; Yafarman Zai; Olwin Rivi Gosal
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/jj5b0p50

Abstract

The increasing use of digital devices among young children has created a dilemma in Christian family parenting. Parents often choose the practicality of giving gadgets to calm or distract their children, despite being aware of the potential negative impacts. This condition highlights the need for an alternative approach to parenting that not only protects children from digital risks but also nurtures their growth in love and faith. This study aims to formulate a screen-free parenting approach by integrating child development theories and Christian theology.The research method employed a literature study by analyzing Piaget’s preoperational stage, Erikson’s psychosocial needs, and the theological concept of Imago Dei (Gen. 1:27). Additional literature reviewed includes recommendations from the WHO and the American Academy of Pediatrics regarding screen time limitations for young children. The results show that children need love, identity, and meaningful relationships that cannot be replaced by digital interactions. Face-to-face family engagement through conversation, prayer, Bible reading, and creative activities is more effective in fostering empathy, spirituality, and the wholeness of a child’s personality. The conclusion emphasizes that screen-free parenting is a contextual alternative approach aligned with Christian values. This study contributes practical guidance for Christian parents to accompany their children in the digital era without relying on gadgets. Keywords: Christian perspective; creative alternative; gadget; theology of childhood Abstrak Penggunaan gawai pada anak usia dini semakin meningkat dan menimbulkan dilema dalam pola asuh keluarga Kristen. Orang tua sering kali memilih kepraktisan dengan memberikan gawai untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak, meskipun menyadari dampak negatifnya. Kondisi ini menunjukkan perlunya alternatif pengasuhan yang tidak hanya melindungi anak dari risiko digital, tetapi juga menolong mereka bertumbuh dalam kasih dan iman. Penelitian ini bertujuan merumuskan pendekatan screen-free parenting dengan mengintegrasikan teori perkembangan anak dan teologi Kristen. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menganalisis teori preoperational Piaget, kebutuhan psikososial Erikson, serta konsep teologis Imago Dei (Kej. 1:27). Literatur tambahan yang ditelaah mencakup rekomendasi WHO dan American Academy of Pediatrics mengenai pembatasan paparan layar pada anak usia dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak membutuhkan kasih, identitas, dan relasi bermakna yang tidak dapat digantikan oleh interaksi digital. Relasi tatap muka dalam keluarga melalui percakapan, doa, pembacaan firman, dan aktivitas kreatif lebih efektif dalam menumbuhkan empati, spiritualitas, dan keutuhan diri anak. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa screen-free parenting merupakan pendekatan alternatif yang kontekstual dan sejalan dengan nilai iman Kristen. Temuan ini memberikan kontribusi berupa panduan praktis bagi orang tua Kristen untuk mendampingi anak di era digital tanpa bergantung pada gawai. Kata Kunci: alternatif kreatif; gawai; pendidikan anak usia dini; perspektif Kristen; teologi anak
Literatur Teologi Moderen: Relevansi dan Implikasi bagi Pendidikan Iman Anak Usia Dini Roi Ganda Panggabean; Permon Asso
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/shyd0q66

Abstract

This study is a literature review that aims to analyze the integration of modern Christian theological thought with early childhood faith education (PAKAUD). Modern Christian theology, through its contextual approach to biblical texts and its response to socio-cultural dynamics, provides new perspectives for designing relevant faith-learning strategies in the digital era. The research method used is a literature review, examining recent books, journal articles, and academic sources, both national and international, focusing on early childhood Christian education. The analysis shows that integrating modern theology with holistic pedagogy such as Godly Play, storytelling, and experience-based learning enriches the process of faith formation from an early age. Practical implications include the development of contextual curricula, training for early childhood Christian teachers, creating child-friendly learning environments, and strengthening collaboration among families, churches, and schools. Therefore, this study contributes to building a model of children’s faith education that is responsive to modern challenges while maintaining a solid theological foundation. Keywords: early childhood; faith education for children; Godly Play; literature review; modern theology Abstrak Penelitian ini merupakan kajian pustaka yang bertujuan untuk menganalisis integrasi pemikiran teologi Kristen modern dengan praktik pendidikan iman anak usia dini (PAKAUD). Teologi Kristen modern, melalui pendekatan kontekstual terhadap teks Alkitab dan responsnya terhadap dinamika sosial-budaya, memberikan perspektif baru dalam merancang strategi pembelajaran iman yang relevan di era digital. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menelaah buku, artikel jurnal, dan sumber akademik terkini, baik nasional maupun internasional, yang berfokus pada pendidikan Kristen anak usia dini. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi teologi modern dengan pedagogi holistik, seperti penggunaan metode Godly Play, storytelling, serta pembelajaran berbasis pengalaman dapat memperkaya proses pembentukan iman anak sejak dini. Implikasi praktisnya meliputi pengembangan kurikulum kontekstual, pelatihan guru PAK AUD, penciptaan lingkungan belajar ramah anak, serta kolaborasi antara keluarga, gereja, dan sekolah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam membangun model pendidikan iman anak yang relevan dengan tantangan zaman modern tanpa kehilangan fondasi teologis yang kokoh. Kata kunci: anak usia dini; Godly Play; kajian pustaka; pendidikan iman anak; teologi modern
From Bethlehem to the Classroom: An Incarnational Paradigm for Christian Early Childhood Education Gunawan; Sri Pertiwi
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/grkdde11

Abstract

This article develops an incarnational pedagogical paradigm for Christian early childhood education, grounded in the biblical narrative of the Incarnation as presented in Luke 2:1-20 and John 1:14. Employing a constructive theological method, the study integrates exegetical analysis of the selected biblical texts with contemporary educational theory and developmental psychology to formulate a holistic framework for children aged 0-6. Four interconnected dimensions are proposed: pedagogy as hospitality, curriculum as narrative participation, assessment as gift and growth, and community as the primary site of formation. The study argues that the Incarnation, understood as God's embodied presence in Jesus Christ, fundamentally reorders the logic of Christian education by displacing cognitive-centered and performance-driven models in favor of a framework centered on embodiment, relational presence, and prevenient grace. Children are affirmed as imago Dei, possessing intrinsic dignity and spiritual capacity prior to any academic achievement. The study concludes that when incarnational theology fully inhabits educational practice, the Christian classroom becomes a modern Bethlehem, a sacred space where divine love is made concretely real in the lives of young children and where the church reclaims its formative role in holistic child development. Keywords: incarnational theology; Christian early childhood education; embodied pedagogy; imago Dei; spiritual formation Abstrak Artikel ini mengembangkan paradigma pedagogis inkarnasional untuk pendidikan anak usia dini Kristen, yang berlandaskan pada narasi Alkitab tentang Inkarnasi sebagaimana tertuang dalam Lukas 2:1-20 dan Yohanes 1:14. Dengan menggunakan metode teologi konstruktif, penelitian ini mengintegrasikan analisis eksegesis teks Alkitab yang dipilih dengan teori pendidikan kontemporer dan psikologi perkembangan untuk merumuskan kerangka holistik bagi anak usia 0-6 tahun. Empat dimensi yang saling terhubung diusulkan, yakni pedagogi sebagai keramahtamahan, kurikulum sebagai partisipasi naratif, penilaian sebagai anugerah dan pertumbuhan, serta komunitas sebagai ruang pembentukan utama. Penelitian ini berargumen bahwa Inkarnasi, yang dipahami sebagai kehadiran Allah yang menjelma dalam diri Yesus Kristus, secara fundamental menyusun ulang logika pendidikan Kristen dengan menggeser model yang berpusat pada kognisi dan berorientasi kinerja, menuju kerangka yang berpusat pada penjelmaan, kehadiran relasional, dan anugerah yang mendahului. Anak-anak diteguhkan sebagai imago Dei, yang memiliki martabat intrinsik dan kapasitas spiritual sebelum pencapaian akademis apa pun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketika teologi inkarnasional sepenuhnya menghuni praktik pendidikan, ruang kelas Kristen menjadi Betlehem modern, yakni ruang sakral di mana kasih ilahi diwujudkan secara nyata dalam kehidupan anak-anak usia dini, dan di mana gereja kembali mengemban perannya dalam pengembangan anak secara holistik. Kata Kunci: teologi inkarnasional; pendidikan anak usia dini Kristen; pedagogi terwujud; imago Dei; pembentukan spiritual
Mendidik Si Kecil dan Teologi: Analisis Filsafat Pendidikan Klasik Perennialisme, Esensialisme dan Rekonstruksionisme Jabes Pasaribu; Ervi Johan Lo; Tiurma Basa Marina Simanjuntak
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/ce0gnd24

Abstract

Early childhood education is frequently approached through a technical-pedagogical lens without adequate philosophical foundations, while classical educational philosophy continues to operate in relative isolation from Christian educational theology. This gap constitutes the departure point of this study. This research aims to construct an integrative conceptual framework connecting three streams of classical educational philosophy (Perennialism, Essentialism, and Reconstructionism) with Christian educational theology for early childhood, employing “the Little One” as an anthropological metaphor denoting the human person in a state of becoming as a subject of Imago Dei. The method employed is a critical-philosophical literature study with an interdisciplinary approach between educational philosophy and Christian theology, conducted through systematic stages of literature exploration, conceptual categorization, critical-comparative analysis, and theological synthesis. The findings reveal that Perennialism contributes to the transmission of enduring values sourced from God as the origin of universal truth, yet requires pedagogical reinterpretation to remain responsive to the holistic development of young children; Essentialism provides a foundation for structured and systematic character formation consonant with the Biblical mandate, though it must be guarded against passive transmission tendencies that undermine children's agency; while Reconstructionism opens the transformative dimension of Christian education through forming children as Gospel-grounded agents of change, albeit with its transformative vision needing to be corrected by divine revelation rather than human critical reason alone. The integration of all three produces a holistic transmit–form–transform paradigm for Christian early childhood education. This study contributes to the development of philosophically grounded Christian educational theology and carries practical implications for churches, families, and educational institutions in nurturing a new generation intellectually, spiritually, and socially in the light of Christ. Keywords: early childhood; classical educational philosophy; perennialism and essentialism; reconstructionism; Christian educational theology and Imago Dei Abstrak Pendidikan anak usia dini sering kali didekati secara teknis-pedagogis tanpa fondasi filsafat yang memadai, sementara diskursus filsafat pendidikan klasik masih berjalan terpisah dari kerangka teologi pendidikan Kristen. Kesenjangan inilah yang menjadi titik berangkat penelitian ini. Penelitian ini bertujuan membangun kerangka konseptual integratif antara tiga aliran filsafat pendidikan klasik (Perennialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionisme)  dengan teologi pendidikan Kristen bagi anak usia dini, dengan ”Si Kecil” sebagai metafora antropologis yang menunjuk pada manusia dalam kondisi becoming sebagai subjek Imago Dei. Metode yang digunakan adalah studi literatur kritis-filosofis dengan pendekatan interdisipliner antara filsafat pendidikan dan teologi Kristen, melalui tahapan eksplorasi literatur, kategorisasi konsep, analisis kritis-komparatif, dan sintesis teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perennialisme berkontribusi pada pewarisan nilai-nilai abadi yang bersumber dari Allah sebagai Sumber kebenaran universal, namun memerlukan reinterpretasi pedagogis agar responsif terhadap perkembangan holistik anak usia dini; Esensialisme memberikan landasan bagi pembentukan karakter yang terstruktur dan sistematis yang sejalan dengan mandat Alkitab, namun harus dihindari dari kecenderungan transmisi pasif yang mengabaikan agensi anak; sedangkan Rekonstruksionisme membuka dimensi transformatif pendidikan Kristen melalui pembentukan anak sebagai agen perubahan yang berpijak pada Injil, meski visi transformasinya harus dikoreksi oleh penyataan ilahi, bukan semata rasio kritis manusiawi. Integrasi ketiganya menghasilkan paradigma mewariskan–membentuk–mentransformasi yang holistik bagi PAUD Kristen. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi pendidikan Kristen yang berbasis filsafat sekaligus memberikan implikasi praktis bagi gereja, keluarga, dan lembaga pendidikan dalam mendidik generasi baru secara intelektual, spiritual, dan sosial dalam terang Kristus. Kata Kunci: anak usia dini; filsafat pendidikan klasik; perennialisme dan esensialisme; rekonstruksionisme; teologi pendidikan Kristen dan Imago Dei
Integrating Indigenous Knowledge into Early Childhood Education Curricula in Nigeria: Implications for Learning and Cultural Sustainability Oluwasegun Samuel Kolade
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/jebzdk41

Abstract

Early Childhood Education (ECE) in Nigeria has historically been rooted in indigenous knowledge systems transmitted through oral traditions, storytelling, songs, proverbs, and communal play. Despite policy recognition of cultural relevance, classroom practice continues to prioritize standardized, Western-oriented curricula, creating a disconnect between children's cultural environments and their formal learning experiences. This study examines how indigenous knowledge and cultural practices are integrated into early childhood education curricula in Nigeria, with a focus on classroom practices, teacher perceptions, and pedagogical implications. Grounded in Vygotsky's socio-cultural learning theory and the culturally responsive pedagogy frameworks of Ladson-Billings and Gay, the study adopts a qualitative design. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with early childhood educators, and analysis of curriculum documents, and analyzed thematically. Findings reveal that while teachers occasionally incorporate indigenous stories, songs, games, and proverbs into classroom activities, such integration remains inconsistent and largely dependent on individual teacher initiative rather than systematic curriculum design. Children demonstrated markedly higher engagement and participation during culturally grounded activities. Key constraints include inadequate professional development in culturally responsive pedagogy, limited availability of culturally relevant instructional materials, and rigid adherence to standardized curricula. The study concludes that sustainable integration of indigenous knowledge into ECE requires systematic curriculum reform, targeted teacher training, and stronger home–school collaboration to support both learning outcomes and cultural continuity. Keywords: cultural sustainability; culturally responsive pedagogy; curriculum integration Nigeria; early childhood education; indigenous knowledge Abstrak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Nigeria secara historis berakar pada sistem pengetahuan lokal yang diwariskan melalui tradisi lisan, bercerita, nyanyian, peribahasa, dan permainan komunal. Meskipun relevansi budaya telah diakui dalam kebijakan pendidikan, praktik di kelas masih cenderung mengutamakan kurikulum terstandarisasi yang berorientasi Barat, sehingga menciptakan kesenjangan antara lingkungan budaya anak dan pengalaman belajar formal mereka. Studi ini mengkaji bagaimana pengetahuan lokal dan praktik budaya diintegrasikan ke dalam kurikulum PAUD di Nigeria, dengan fokus pada praktik pembelajaran di kelas, persepsi guru, dan implikasi pedagogis. Berlandaskan teori pembelajaran sosio-kultural Vygotsky serta kerangka pedagogi responsif budaya dari Ladson-Billings dan Gay, penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur dengan pendidik PAUD, dan analisis dokumen kurikulum, kemudian dianalisis secara tematik. Temuan menunjukkan bahwa meskipun guru sesekali memasukkan cerita, lagu, permainan, dan peribahasa lokal ke dalam kegiatan kelas, integrasi tersebut masih bersifat tidak konsisten dan sangat bergantung pada inisiatif individu guru, bukan pada rancangan kurikulum yang sistematis. Anak-anak menunjukkan keterlibatan dan partisipasi yang jauh lebih tinggi selama kegiatan yang berbasis budaya. Kendala utama meliputi kurangnya pengembangan profesional dalam pedagogi responsif budaya, terbatasnya ketersediaan bahan ajar yang relevan secara budaya, dan dominasi kurikulum terstandarisasi yang kaku. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi pengetahuan lokal yang berkelanjutan dalam PAUD memerlukan reformasi kurikulum yang sistematis, pelatihan guru yang terarah, serta kolaborasi yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga guna mendukung hasil belajar sekaligus keberlangsungan budaya. Kata Kunci: integrasi kurikulum Nigeria; keberlanjutan budaya;pedagogi responsif budaya; pendidikan anak usia dini; pengetahuan lokal
Spiritualitas Anak Usia Dini dalam Perspektif Yesus: Analisis Eksegetis Markus 10:13–16 Yudhy Sanjaya; Agiana Her Visnhu Ditakristi; Upa Silaen
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/prg7sr63

Abstract

The development of pedagogy in early childhood Christian Religious Education (CRE) often emphasizes the cognitive transmission of doctrine, while the spiritual dimension of children as theological subjects has not been sufficiently articulated through exegetical readings focused on Gospel texts. This article analyzes Mark 10:13–16 to explain how the passage presents children as those who are received by Jesus and presented as a model for receiving the Kingdom of God, and to examine its relevance for the pedagogy of early childhood Christian Religious Education. This study employs a descriptive qualitative method with a narrative and lexical exegetical approach to Mark 10:13–16, enriched by a reading of the parallel texts in Matthew 19:13–15 and Luke 18:15–17 as well as a review of literature on child theology and Christian education. The specific contribution of this article lies in the formulation of three characteristics of early childhood spirituality derived from the reading of this passage, namely receptivity to grace, incarnational relationality, and the paradigmatic function of the child for the life of discipleship. The findings show that Mark 10:13–16 not only affirms Jesus’ acceptance of children, but also positions them as theological subjects who reveal the logic of the Kingdom of God. These findings imply the need to develop a more child-friendly, relational, and community-based pedagogy of Christian Religious Education that involves family and church, while giving space to children’s experiences of faith within the Christian community. Keywords: Mark 10:13–16; children's spirituality; Christian religious education; narrative exegesis; pedagogy of children’s faith formation Abstrak Perkembangan pedagogi Pendidikan Agama Kristen (PAK) anak usia dini kerap berfokus pada transmisi kognitif doktrin, sementara dimensi spiritualitas anak sebagai subjek teologis belum banyak dirumuskan melalui pembacaan eksegetis yang terfokus pada teks Injil. Artikel ini menganalisis Markus 10:13–16 untuk menjelaskan bagaimana perikop tersebut menampilkan anak sebagai pihak yang diterima Yesus dan dijadikan acuan dalam menerima Kerajaan Allah, serta menelaah relevansinya bagi pedagogi PAK anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksegesis naratif dan leksikal terhadap Markus 10:13–16, yang diperkaya dengan pembacaan teks paralel Matius 19:13–15 dan Lukas 18:15–17 serta studi pustaka teologi anak dan pendidikan Kristen. Kontribusi khusus artikel ini terletak pada perumusan tiga ciri spiritualitas anak usia dini dari pembacaan perikop tersebut, yakni reseptivitas terhadap anugerah, relasionalitas yang inkarnasional, dan fungsi paradigmatik anak bagi kehidupan murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Markus 10:13–16 tidak hanya menegaskan penerimaan Yesus terhadap anak-anak, tetapi juga menempatkan mereka sebagai subjek pembinaan iman yang mengungkapkan logika Kerajaan Allah. Temuan ini berimplikasi pada pengembangan pedagogi PAK yang lebih ramah anak, berbasis relasi, melibatkan keluarga dan gereja, serta memberi ruang bagi pengalaman iman anak dalam komunitas Kristen. Kata Kunci: Markus 10:13-16; spiritualitas anak; pendidikan agama Kristen; eksegesis naratif; pedagogi iman anak
FORMASI SPIRITUAL DAN PERKEMBANGAN EMOSI ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI KRISTEN Fredik Melkias Boiliu
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/tvefr543

Abstract

Early childhood emotional development is inseparable from the spiritual formation process that shapes the way children interpret themselves, relationships, and the surrounding environment. However, in the practice of early childhood education in Indonesia, the spiritual dimension is often reduced to ritual activities, without a deep connection to the development of children's emotions. This article aims to examine the relationship between spiritual formation and early childhood emotional development from a Christian psychological perspective. This study uses a literature study method by analyzing the literature on developmental psychology, Christian psychology, and theology of children's education. The results of the study show that spiritual formations that are relational, contextual, and consistent contribute significantly to emotional regulation, security, empathy, and emotional resilience in early childhood. The discussion affirms that in Christian psychology, emotions are understood as the initial space of the child's experience of faith, where love, acceptance, and secure attachment become the foundation of spirituality. The implications of this study show that early childhood Christian education in Indonesia needs to integrate emotional mentoring and spiritual formation holistically, by involving the active role of teachers and parents as value mediators and role models of faith in daily life. Keywords: early childhood; spiritual formation; emotional development; Christian psychology Abstrak Perkembangan emosi anak usia dini tidak dapat dipisahkan dari proses formasi spiritual yang membentuk cara anak memaknai diri, relasi, dan lingkungan sekitarnya. Namun, dalam praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia, dimensi spiritual sering kali direduksi menjadi aktivitas ritual, tanpa keterkaitan yang mendalam dengan perkembangan emosi anak. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji relasi antara formasi spiritual dan perkembangan emosi anak usia dini dalam perspektif psikologi Kristen. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis literatur psikologi perkembangan, psikologi Kristen, serta teologi pendidikan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa formasi spiritual yang bersifat relasional, kontekstual, dan konsisten berkontribusi signifikan terhadap regulasi emosi, rasa aman, empati, dan ketahanan emosional anak usia dini. Pembahasan menegaskan bahwa dalam psikologi Kristen, emosi dipahami sebagai ruang awal pengalaman iman anak, di mana kasih, penerimaan, dan kelekatan aman menjadi fondasi spiritualitas. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini Kristen di Indonesia perlu mengintegrasikan pendampingan emosi dan formasi spiritual secara holistik, dengan melibatkan peran aktif guru dan orang tua sebagai mediator nilai dan teladan iman dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: anak usia dini; formasi spiritual; perkembangan emosi; psikologi Kristen