cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
Manthano: Journal of Christian Education
ISSN : 28290135     EISSN : 2828951X     DOI : https://doi.org/10.53547/by40mc18
Core Subject :
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen, P-ISSN 2829-0135 and E-ISSN 2828-951X, is an open access and peer reviewed scientific journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia, through its Institute for Research and Community Service or LPPM. The journal is nationally accredited with SINTA 4 status, published twice a year in March and September, and accepts manuscripts in both Indonesian and English. MANTHANO publishes the results of academic and scientific inquiry in the field of Christian Education, both empirical and conceptual. Its scope includes the theology of Christian education, learning strategies and curriculum, educational management and leadership, the philosophy of Christian education, educational measurement, assessment, and evaluation, learning technology, family education, and Christian character education. The journal welcomes contributions from lecturers, researchers, practitioners, and students, both from Indonesia and abroad. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double blind review process. Each published article is assigned a DOI under the prefix 10.53547.
Arjuna Subject : -
Articles 55 Documents
Diskursus Guru Kristen: Diciptakan untuk Mendidik, Mengajar dan Melayani Grace Son Nassa; Yornan Masinambow; Masye Rompa; Nahor Banfatin
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 2 (2024): september
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/evxe8w82

Abstract

Abstract This article describe and analyze the Christian teacher discursively, where the Christian teacher is created to educate also teach, and serve. Christian teachers must first understand the theological concepts of creation to redemption as fundamental in educating students. Christian teachers must rely on Christ as a guide for their teaching and education in addition to themselves with various scientific perspectives. In this article, a qualitative research approach with a literature study method is used to describe and analyze Christian teachers. The results found are that Christian teachers in their progress as educators must have biblical insights that are first attached to the teacher and then implemented in students. In addition, Christian teachers need to be creative and effective like Christ who in His teaching attracted the attention of many people, complicated teaching but simplified as best as possible but with the aim of proclaiming the Kingdom of God. The Christian teacher's biblical knowledge and creativity are based on introducing God based on His word to the learners. Christian teachers must upgrade themselves in teaching and educating, not be rigid and follow Christ who taught with power, creativity and effectiveness, in contrast to the scribes who taught as a formality and stuck to legalism. In this way, the Christian teacher's progress is discursively dynamic, meeting the challenges of the times while at the same time adhering to biblical insights based on the teaching of Jesus Christ, the Great Teacher. Abstrak Artikel menjabarkan serta menganalisis tentang guru Kristen secara diskursif, dimana guru Kristen dicipta untuk mendidik sekaligus mengajar dan melayani. Guru Kristen harus terlebih dahulu memahami konsep teologis penciptaan hingga penebusan sebagai hal fundamental dalam mendidik para peserta didik. Guru Kristen harus mengandalkan Kristus sebagai pedoman pengajaran dan pendidikannya selain diri mereka sendiri dengan berbagai perspektif keilmuan yang ada. Dalam artikel ini, pendekatan penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan digunakan untuk mendeskripsikan serta menganalisis guru Kristen. Adapun hasil yang ditemukan adalah guru Kristen dalam kemajuannya sebagai pendidik harus memiliki wawasan alkitabiah yang terlebih dahulu melekat dalam diri guru lalu diimplementasikan pada peserta didik. Selain itu, guru Kristen perlu kreatif dan efektif seperti Kristus yang dalam pengajaran-Nya yang menarik perhatian banyak orang, pengajaran yang rumit namun disederhanakan sebaik mungkin namun dengan tujuan pewartaan Kerajaan Allah. Wawasan alkitabiah dan kreatifitas guru Kristen didasarkan pada memerkenalkan Allah berdasarkan firman-Nya kepada para peserta didik. Guru Kristen harus mengupgrade diri dalam mengajar dan mendidik, tidak kaku serta mengikuti Kristus yang mengajar dengan berotoritas, kreativitas, dan efektivitas, kontras dengan para ahli Taurat yang mengajar sebagai formalitas dan terjebak pada legalisme. Dengan begitu, kemajuan guru Kristen secara diskursif adalah bergerak dinamis, memenuhi tantangan zaman namun pada saat yang sama berpatokan pada wawasan alkitabiah berdasarkan pada pengajaran Yesus Kristus, Sang Guru Agung.
Penerapan Teknologi dan Media Pembelajaran Fisik dalam Meningkatkan Mutu Belajar Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Pedalaman Jhoni Cong; Nova Ritonga
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 2 (2024): september
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/gvc66069

Abstract

Abstract The continuous advancement of education, coupled with the rapid development of information and communication technology, necessitates attaining high-quality education. However, the issue of education quality in remote areas remains a critical challenge. One of the primary causes is the lack of adequate learning facilities, particularly teaching aids. Therefore, this research aims to investigate how to address the subpar education quality in severely underdeveloped remote schools by providing physical learning media to assist teachers in delivering materials and facilitating student comprehension. This research employed a literature review approach, utilizing various available sources, including books and journal articles. The findings highlight the significant role of physical learning media in enhancing education quality in remote areas. The utilization of readily available recycled materials, coupled with their low cost, promotes effective learning and contributes to environmental waste reduction. Abstrak Dunia pendidikan yang semakin terus menerus maju dengan diiringi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menuntut agar pendidikan memiliki mutu yang baik. Namun, permasalahan mutu pendidikan yang ada di pedalaman sampai saat ini masih sangat krusial. Salah satu penyebabnya ialah sarana pembelajaran yang berkaitan dengan media pembelajaran yang tidak tersedia. Oleh sebab itu, pada penelitian ini penulis ingin meneliti bagaimana keadaan mutu pendidikan di sekolah pedalaman yang sangat jauh tertinggal diatasi dengan menyediakan media pembelajaran fisik sebagai alat bantu guru dalam menyampaikan materi dan memudahkan peserta didik dalam memahami materi. Penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan dengan berbagai literatur yang tersedia baik buku-buku, maupun artikel jurnal. Penelitian ini menghasilkan pemahaman bahwa media pembelajaran fisik sangat membantu meningkatkan mutu pendidikan di wilayah pedalaman, karena memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di lingkungan, biaya yang sangat relatif rendah bahkan pemanfaatannya membantu menanggulangi sampah pada lingkungan.
Academic Capitalism and Theological Education: A Critical Analysis of the Commodification of Ministerial Vocation in the Neoliberal Era Jabes Pasaribu; Oniaman Buulolo; Frank Hammond-Essel
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/dqmxcc97

Abstract

Christian theological education faces serious challenges as academic capitalism increasingly shapes higher education. Market logic emphasizing efficiency, competition, and profit shifts theological education from spiritual formation and vocational calling toward economic investment and expected returns. This article critically examines how the commodification of education affects theological institutions, particularly graduates’ orientations toward ecclesial ministry. Using a critical interdisciplinary literature review, the study integrates sociology of education, practical theology, and postcolonial studies, engaging international scholarship alongside literature and policy sources from Indonesia and Asia. It argues that rising educational costs, market-oriented accreditation, and the declining role of churches as financial guarantors intensify tensions between ministerial vocation and post-study economic needs, risking the reduction of ministry to a materially rewarded profession. The article’s novelty lies in connecting academic capitalism with Maldonado-Torres’s concept of coloniality and interpreting educational and economic pressures through a Global South perspective. It concludes by proposing theological education reform that integrates spiritual formation, communal responsibility, and financial sustainability. Abstrak Pendidikan teologi Kristen menghadapi tantangan serius seiring semakin kuatnya pengaruh kapitalisme akademik dalam pendidikan tinggi. Logika pasar yang menekankan efisiensi, kompetisi, dan keuntungan menggeser pendidikan teologi dari proses pembentukan spiritual dan panggilan vokasional menuju investasi ekonomi yang menuntut imbal hasil. Artikel ini secara kritis mengkaji bagaimana komodifikasi pendidikan memengaruhi institusi teologi, khususnya orientasi lulusan terhadap pelayanan gerejawi. Dengan menggunakan tinjauan literatur interdisipliner kritis, penelitian ini mengintegrasikan sosiologi pendidikan, teologi praktis, dan studi pascakolonial melalui dialog antara literatur internasional dan sumber literatur serta kebijakan dari Indonesia dan Asia. Artikel ini berargumen bahwa meningkatnya biaya pendidikan, akreditasi yang berorientasi pasar, dan melemahnya peran gereja sebagai penjamin pembiayaan memperkuat ketegangan antara panggilan pelayanan dan kebutuhan ekonomi pascastudi, yang berisiko mereduksi pelayanan menjadi profesi yang berorientasi pada imbalan material. Kebaruan artikel ini terletak pada pengaitan kapitalisme akademik dengan konsep coloniality Maldonado-Torres serta interpretasi terhadap tekanan pendidikan dan ekonomi melalui perspektif Global South. Artikel ini mengusulkan reformasi pendidikan teologi yang mengintegrasikan pembentukan spiritual, tanggung jawab komunal, dan keberlanjutan finansial.
Living as Sojourners: Faith Formation among Indonesian Christian Diaspora in Malaysia Dewi Lidya Sidabutar; Abraham Marsal Sakati Sakati; Winson Hermanto Simamora
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/z7bp2488

Abstract

Research in Christian Religious Education (CRE) has shown that faith formation extends beyond formal instruction to the communal life of the church. However, empirical evidence on how non-formal CRE shapes faith formation within Southeast Asian Christian diaspora communities remains limited. This qualitative case study examined how Bethel Church Malaysia (BCM) Johor Bahru fostered faith formation among Indonesian Christian migrants. Data were collected through three months of participant observation (November 2025 to April 2026), semi-structured interviews with nine purposively selected participants – seven congregation members and two church leaders – and analysed using thematic analysis. The findings identified three interconnected dimensions of non-formal CRE: contemplative rootedness through biblical devotional practices, communal belonging through faith-based relationships, and civic witness through culturally engaged participation in the host society. These dimensions emerged from the congregation's everyday communal life and were interpreted through 1 Peter 2:11–12, which frames believers as sojourners and exiles, while Jeremiah 29:7 informed their understanding of civic responsibility. The study concludes that diaspora congregations function as intentional environments of non-formal CRE that strengthen spiritual identity, communal resilience, and public witness. It proposes an empirically grounded model of diaspora faith formation with practical implications for Christian ministry and religious education in migrant communities across Southeast Asia. Abstrak Penelitian dalam bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK) menunjukkan bahwa pembentukan iman tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui kehidupan komunal gereja. Namun, bukti empiris mengenai bagaimana PAK non-formal membentuk iman pada komunitas diaspora Kristen di Asia Tenggara masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Bethel Church Malaysia (BCM) Johor Bahru membangun pembentukan iman di kalangan migran Kristen Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui observasi partisipatif (November 2025 hingga April 2026), wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan partisipan terpilih – tujuh anggota jemaat dan dua pemimpin gereja. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga dimensi yang saling berkaitan dalam PAK non-formal, yaitu keberakaran kontemplatif melalui praktik devosional Alkitabiah, kepemilikan komunal melalui relasi berbasis iman, dan kesaksian publik melalui partisipasi yang terlibat secara budaya dalam masyarakat setempat. Ketiga dimensi tersebut berkembang melalui kehidupan komunal jemaat sehari-hari dan ditafsirkan berdasarkan 1 Petrus 2:11–12, yang menggambarkan orang percaya sebagai pendatang dan perantau, sementara Yeremia 29:7 memberikan landasan bagi pemahaman tentang tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja diaspora berfungsi sebagai lingkungan PAK nonformal yang secara sengaja memperkuat identitas spiritual, ketahanan komunitas, dan kesaksian publik. Penelitian ini juga menawarkan model empiris pembentukan iman berbasis diaspora yang memberikan implikasi praktis bagi pelayanan gereja dan Pendidikan Agama Kristen pada komunitas migran di Asia Tenggara.
Kecerdasan Spiritual dalam Konteks Pengajaran Kristen: Memahami Efek Pencerahan Rohani melalui Narasi Efesus 1:17-18 Tabita Leiwakabessy; Daniel Pesah Purwonugroho
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/h8z4xn78

Abstract

Abstract Spiritual intelligence is an intelligence highly needed by learners. Spiritual intelligence is the highest intelligence, and it can shape the personality, motivation, and mental strength of learners. From a Christian faith perspective, spiritual intelligence can be nurtured through Biblical narratives as teaching material. Ephesians 1:17-18 is a teaching material that can enhance learners' spiritual intelligence. This teaching material is also delivered through storytelling technique. Storytelling is a teaching technique to make learners experience imaginative effects and enable them to extract values from the teaching material without feeling lectured. Storytelling heavily relies on the competence of the teacher. Teachers can combine storytelling with various tools to create imaginative effects so that learners' spiritual intelligence can be achieved. Using a qualitative-descriptive method, the author concludes that Ephesians 1:17-18 is the appropriate teaching material to be presented through storytelling to enhance learners' spiritual intelligence. Ephesians 1:17-18 narrates how the Ephesian church realizes their existence in Jesus, which leads them to experience spiritual enlightenment and have an impact on their personal lives. The same can happen to learners if Ephesians 1:17-18 is applied through storytelling to enhance each learner's spiritual intelligence. Abstrak Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat dibutuhkan peserta didik. Kecerdasan spritiual adalah kecerdasan tertinggi dan kecerdasan spiritual dapat membentuk kepribadian, motivasi dan kekuatan mental peserta didik. Dalam perspektif iman Kristen, kecerdasan spiritual dapat dibentuk dengan kisah Alkitab sebagai materi ajar. Efesus 1:17-18 adalah materi ajar yang dapat meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik. Materi ajar tersebut juga disampaikan dengan teknik story-telling. Story-telling adalah sebuah teknik mengajar untuk membawa peserta didik mengalami efek imajinatif dan membuat peserta didik dapat mengambil value yang berasal dari bahan ajar tanpa merasa digurui. Story-telling sangat amat bergantung dengan kompetensi pengajar. Pengajar dapat menggabungkan story-telling dengan berbagai alat untuk menciptakan efek imajinatif agar kecerdasan spiritual peserta didik dapat dicapai. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, penulis menyimpulkan bahwa Efesus 1:17-18 adalah bahan ajar yang tepat untuk dibawakan secara story-telling demi meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik. Efesus 1:17-18 menceritakan tentang bagaimana jemaat Efesus menyadari keberadaan mereka di dalam Yesus yang membuat jemaat Efesus mengalami pencerahan spiritual dan memberikan dampak dalam kehidupan pribadi masing-masing. Hal tersebut juga dapat terjadi kepada peserta didik apabila menerapkan Efesus 1:17-18 dengan story-telling untuk meningkatkan kecerdasan spiritual masing-masing peserta didik.
Pola Asuh Single Mother terhadap Pembentukan Moral Remaja Usia 14-17 Tahun dalam Masyarakat di Keluarahan Botang Eka Pasolang; Steven Tommy Dalekes Umboh; Simon
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/rc9nxs71

Abstract

Abstract Single Parents will certainly not be easy in carrying out multiple roles, especially in teaching morals to teenagers. Many ways are done to from good morals starting from parenting that is applied in everyday life so that teenagers can understand what is good and what is bad. The purpose of this study is to find out how single mother parenting affects the moral formation of adolescents aged 14-17 years which will later provide benefits for Christian families to pay attention to parenting patterns in shaping adolescent morals. This study uses a qualitative descriptive method and collection uses the method of observation, interviews and literature study. Then present the data, analyze the data by reducing data and conclude the research results. The research location is in Botang, Village, Makale District, South Sulawesi using three single mother informants and three teenage informants. The results of the study indicate that the parenting style applied by single mothers to adolescents in the Botang sub-district is a strict, disciplined parenting pattern which is included in authoritarian parenting and an independent and non-restrictive parenting styleincluded in democtratic parenting. The result of this upbringing on the morals of adolescents in the Botang village is that adolescents show attitudes and behaviors that are in accordance with God’s will, namely being active in service, obedient to their parents, responsible, disciplined and do not violate the norms in society. Abstrak Orang tua tunggal (single mother) pastinya tidak akan mudah dalam menjalankan peran ganda, apalagi dalam mengajarkan moral terhadap anak remaja. Banyak cara yang dilakukan untuk membentuk moral yang baik diawali dari pola asuh yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari supaya remaja bisa memahami mana yang baik dan yang buruk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pola asuh single mother terhadap pembentukan moral remaja usia 14-17 yang nantinya memberikan manfaat kepada keluarga Kristen untuk memperhatikan pola asuh dalam membentuk moral remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan studi pustaka. Kemudian menyajikan data, menganalisis data dengan mereduksi data serta menyimpulkan hasil penelitian. Lokasi penelitian bertempat di Kelurahan Botang, Kecamatan Makale, Sulawesi Selatan dengan menggunakan tiga informan single mother dan tiga informan anak remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan single mother terhadap remaja di Kelurahan Botang pola asuh tegas yang mendisiplinkan yang termasuk dalam pengasuhan otoriter dan pola asuh yang memandirikan dan tidak mengekang, yang termasuk kedalam pengasuhan demokratis. Hasil dari pengasuhan ini terhadap moral remaja di Kelurahan Botang adalah remaja menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan yakni aktif dalam pelayanan, patuh terhadap orang tua, bertanggung jawab, disiplin serta tidak melanggar norma dalam masyarakat.
Contextual Teaching Learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sebagai Strategi mencapai Pengalam Spiritual Yafarman Zai; Setiaman Larosa
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/99r4w957

Abstract

Abstract In Christian Religious Education learning, intellectual theory and spiritual experience are two concepts that must be achieved. Both are specifically related to each other and differentiate them from other lessons. Achieving both is not easy if done with the wrong strategy. Many problems were found that students felt that PAK lessons were very boring, seemed theoretical and did not build spiritual experiences for their students. The author examines that CTL is the right strategy to answer this problem. Contextual Teaching Learning (CTL) is a learning strategy that connects what is learned with real life, with an emphasis on cognitive development and students' learning experiences as well as their ability to apply knowledge in everyday life. By using the literature study method by conducting a literature review related to the CTL concept, the results were found that CTL has implementation steps, namely: constructivism, inquiry, questioning, community learning, modeling, reflection, and authentic assessment where experience is a characteristic of each of these steps.The application of CTL in PAK will train students to have a spiritual experience with God and be able to live in their knowledge of Christ. So, CTL can help Christian Religious Education educators carry out a learning process that is not only fun but also builds students' spirituality based on the spiritual experiences they experience while studying Christian religious lessons Abstrak Dalam pembelajaran Pendidikan agama Kristen, teori intelektual dan pengalaman spiritual adalah dua konsep yang harus dicapai. Keduanya saling berkaitan secara spesifik dan menjadi pembeda dari pelajaran lainnya. Pencapaian keduanya tidaklah mudah jika dilakukan dengan strategi yang keliru. Banyak masalah ditemukan bahwa peserta didik merasa pelajaran PAK sangat membosankan, terkesan teoritis dan tidak membangun pengalaman spiritual bagi peserta didiknya. Penulis meneliti bahwa CTL merupakan strategi yang tepat untuk menjawab persoalan tersebut. Contextual Teaching Learning (CTL) adalah strategi pembelajaran yang menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata, dengan penekanan pada perkembangan kognitif dan pengalaman belajar peserta didik serta kemampuan mereka untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan metode studi literatur dengan melakukan kajian pustaka terkait konsep CTL, maka ditemukan hasil bahwa CTL memiliki langkah penerapan, yaitu: konstruktivisme, inquiry, questioning, community learning, modelling, reflection, dan authentic assessment yang mana pengalaman menjadi suatu ciri khas setiap langkah tersebut. Penerapan CTL dalam PAK akan melatih peserta didik untuk mempunyai pengalaman spiritual dengan Tuhan dan mampu hidup dalam pengenalan mereka kepada Kristus. Jadi, CTL dapat membantu para pendidik Pendidikan Agama Kristen melaksanakan proses pembelajaran yang bukan hanya menyenangkan tetapi juga membangun spiritual peserta didik berdasarkan pengalaman spiritual yang dialaminya saat belajar pelajaran agama Kristen.
Mendalami Dampak Perselisihan Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosional Anak di Keluarga Kristiani Daniel Rizki Purba; Maruasas Nainggolan; Mikael Harianja; Ricky Pramono Hasibuan
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/1667sr12

Abstract

Abstract Family harmony is the dream of every human being who builds a household ark. Unfortunately, sometimes the reality in the family presents different facts. Instead of harmony, what happens is that the dispute between the two parents is shown in front of their children. Every incident of dispute that is seen by children, must be left in their memory. In addition, this leaves scars on his heart which impact his emotional intelligence as well. This research seeks to explore the impact of parental disputes on the emotional intelligence of children in Christian families. It is hoped that the use of a narrative qualitative method that is strengthened by literature review is expected to be able to provide a strong, careful, and systematic description of the biblical narrative about parental disputes, children's emotional intelligence, and the impact of parental disputes on children's emotional intelligence in Christian families. It was concluded that parental disputes in Christian families had an impact on children's irritable behavior, lack of self-confidence, children's difficulties with empathy, and children experiencing moral degradation. Abstrak Keharmonisan keluarga adalah dambaan setiap insan yang membangun bahtera rumah tangga. Sayangnya kadang kenyataan di keluarga memaparkan fakta yang berbeda, bukannya keharmonisan malah yang terjadi justru perselisihan kedua orang tua yang dipertontonkan di hadapan anak-anaknya. Setiap peristiwa perselisihan yang dilihat oleh anak, pasti membekas dalam ingat mereka. Selain itu, hal ini meninggalkan luka pada hatinya yang berdampak juga pada kecerdasan emosionalnya. Penelitian ini berupaya mendalami dampak perselisihan orang tua terhadap kecerdasan emosional anak di keluarga Kristiani. Penggunaan metode kualitatif naratif yang diperkokoh kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang kuat, cermat, serta sistimatik terkait narasi Alkitab tentang perselisihan orang tua, kecerdasan emosional anak, dan dampak perselisihan orang tua terhadap kecerdasan emosional anak di keluarga Kristiani. Disimpulkan bahwa perselisihan orang tua di keluarga Kristiani berdampak pada perilaku anak yang mudah marah, kurangnya kepercayaan diri anak, kesulitan anak berempati, dan anak mengalami degradasi moral.
Mendalami Dampak Perselisihan Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosional Anak di Keluarga Kristiani Kosma Manurung
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/q7k6gr11

Abstract

Abstract Family harmony is the dream of every human being who builds a household ark. Unfortunately, sometimes the reality in the family presents different facts. Instead of harmony, what happens is that the dispute between the two parents is shown in front of their children. Every incident of dispute that is seen by children, must be left in their memory. In addition, this leaves scars on his heart which impact his emotional intelligence as well. This research seeks to explore the impact of parental disputes on the emotional intelligence of children in Christian families. It is hoped that the use of a narrative qualitative method that is strengthened by literature review is expected to be able to provide a strong, careful, and systematic description of the biblical narrative about parental disputes, children's emotional intelligence, and the impact of parental disputes on children's emotional intelligence in Christian families. It was concluded that parental disputes in Christian families had an impact on children's irritable behavior, lack of self-confidence, children's difficulties with empathy, and children experiencing moral degradation. Abstrak Keharmonisan keluarga adalah dambaan setiap insan yang membangun bahtera rumah tangga. Sayangnya kadang kenyataan di keluarga memaparkan fakta yang berbeda, bukannya keharmonisan malah yang terjadi justru perselisihan kedua orang tua yang dipertontonkan di hadapan anak-anaknya. Setiap peristiwa perselisihan yang dilihat oleh anak, pasti membekas dalam ingat mereka. Selain itu, hal ini meninggalkan luka pada hatinya yang berdampak juga pada kecerdasan emosionalnya. Penelitian ini berupaya mendalami dampak perselisihan orang tua terhadap kecerdasan emosional anak di keluarga Kristiani. Penggunaan metode kualitatif naratif yang diperkokoh kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang kuat, cermat, serta sistimatik terkait narasi Alkitab tentang perselisihan orang tua, kecerdasan emosional anak, dan dampak perselisihan orang tua terhadap kecerdasan emosional anak di keluarga Kristiani. Disimpulkan bahwa perselisihan orang tua di keluarga Kristiani berdampak pada perilaku anak yang mudah marah, kurangnya kepercayaan diri anak, kesulitan anak berempati, dan anak mengalami degradasi moral.
Strategi Peningkatan Kreativitas Guru di Tengah Keterbatasan Media Internet Desire Karo Karo; Vivi Restiana; Apriana Haelitik; Sri Ulina Karo Karo
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2024): maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/narhhr83

Abstract

Abstract Learning in the current digital era has changed the way of learning and teaching in education, changing the way of teaching and learning from conventional to more varied by using existing technological developments, such as the internet. The internet is a medium that provides benefits in learning. However, the limitations of internet media can also be an obstacle in the learning process. Teachers are required to remain able to teach amidst existing limitations. Therefore, strategies are needed to increase teacher creativity amidst internet limitations. This research uses a descriptive qualitative research method with an approach through literature analysis or literature study. From the research conducted, there are several strategies for increasing teacher creativity amidst internet limitations. Thus it can be concluded that teachers can still teach creatively by using appropriate teaching strategies even amidst the limitations of internet media. Abstrak Pembelajaran di era digital saat ini telah mengubah cara belajar dan mengajar dalam pendidikan, perubahan cara belajar-mengajar dari konvensional menjadi lebih bervariasi dengan menggunakan perkembangan teknologi yang ada, seperti internet. Internet sebagai media yang memberikan manfaat dalam pembelajaran. Namun keterbatasan media internet juga dapat menjadi hambatan dalam proses pembelajaran. Guru dituntut harus tetap mampu mengajar di tengah keterbatasan yang ada. Oleh karenanya diperlukan strategi peningkatan kreativitas guru di tengah keterbatasan internet. Peneliitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan melalui analisis literatur atau studi kepustakaan. Dari penelitian yang dilakukan terdapat beberapa strategi peningkatan kreativitas guru di tengah keterbatasan internet. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru tetap dapat mengajar kreatif dengan menggunakan strategi mengajar yang tepat meski di tengah keterbatasan media internet.