cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
Manthano: Journal of Christian Education
ISSN : 28290135     EISSN : 2828951X     DOI : https://doi.org/10.53547/by40mc18
Core Subject :
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen, P-ISSN 2829-0135 and E-ISSN 2828-951X, is an open access and peer reviewed scientific journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia, through its Institute for Research and Community Service or LPPM. The journal is nationally accredited with SINTA 4 status, published twice a year in March and September, and accepts manuscripts in both Indonesian and English. MANTHANO publishes the results of academic and scientific inquiry in the field of Christian Education, both empirical and conceptual. Its scope includes the theology of Christian education, learning strategies and curriculum, educational management and leadership, the philosophy of Christian education, educational measurement, assessment, and evaluation, learning technology, family education, and Christian character education. The journal welcomes contributions from lecturers, researchers, practitioners, and students, both from Indonesia and abroad. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double blind review process. Each published article is assigned a DOI under the prefix 10.53547.
Arjuna Subject : -
Articles 55 Documents
Analisis Komparatif Tujuan Pendidikan Amsal 1:1-7 dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia Eni Rombe; Ragil Kristiawan; Elshadai Charis Hariyanto
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 1 (2026): Maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fcvg4x16

Abstract

Abstract: This study aims to compare the concept of educational objectives in Proverbs 1:1-7 with the thoughts of Ki Hajar Dewantara, and to formulate their implications for higher education in Indonesia. Employing a qualitative approach with library research methods, primary data sources include Proverbs 1:1-7 and Ki Hajar Dewantara's works, while secondary data are derived from relevant theological and pedagogical literature. Data analysis was conducted using qualitative content analysis and comparative approaches. The findings reveal that Proverbs 1:1-7 emphasises "the fear of the Lord" as the foundation of education oriented toward forming wise, just, and honest individuals. Ki Hajar Dewantara's thoughts emphasise education that liberates humans through a balance of thought, feeling, physical development, and heart, rooted in the nation's cultural values. The convergence of both concepts lies in their holistic vision and rejection of educational reductionism, while their divergence lies in the source of authority and orientation of ultimate goals. The implications for Indonesian higher education include formulating a holistic graduate profile, strengthening character education, and developing contextual curricula that integrate spiritual values and local wisdom.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif konsep tujuan pendidikan dalam Amsal 1:1-7 dan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta merumuskan implikasinya bagi pendidikan tinggi Teologi di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, data primer bersumber dari Kitab Amsal 1:1-7 dan karya Ki Hajar Dewantara, sementara data sekunder berasal dari literatur teologis dan pedagogis yang relevan. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi kualitatif dan pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amsal 1:1-7 menekankan "takut akan Tuhan" sebagai fondasi pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia berhikmat, adil, dan jujur. Pemikiran Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan yang memerdekakan manusia melalui keseimbangan olah pikir, rasa, raga, dan hati serta berakar pada nilai budaya bangsa. Titik temu kedua konsep terletak pada visi holistik dan penolakan terhadap reduksionisme pendidikan Teoligi di Inonesia, sementara perbedaannya terletak pada sumber otoritas dan orientasi tujuan akhir. Implikasi bagi pendidikan tinggi Teologi di Indonesia meliputi perumusan profil lulusan utuh, penguatan pendidikan karakter, dan pengembangan kurikulum kontekstual yang mengintegrasikan nilai spiritual dan kearifan lokal.
Penggunaan Gadget dan Tantangan Pendidikan Agama Kristen dalam Membina Remaja Kristen di Era Digital Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 1 (2026): Maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/8knqy831

Abstract

Abstract: The increasingly intensive use of gadgets not only serves as a means of communication and entertainment, but also shapes the orientation of young people's lives, which often conflicts with Christian principles. As a result, Christian religious education faces serious challenges related to the dynamic and complex digital world of young people. The phenomenon of increasing dependence among young people indicates a shift in the space for shaping and nurturing young people from the conventional to the virtual space. This study aims to analyse theological and pedagogical challenges of gadget use on the spiritual development of Christian adolescents in the digital age. Using a descriptive qualitative approach, it can be concluded that gadgets have functioned as a new space for spirituality formation that significantly influences how Christian adolescents understand themselves, their faith, and the world. Theological digital literacy has emerged as a strategic approach to help adolescents interpret digital reality critically and responsibly. The pedagogical challenges of PAK require a transformation to more dialogical and contextual methods. Reconstructing the role of the church and school as adaptive faith-forming communities is key to building adolescent spirituality that is reflective, relevant, and rooted in Christian values in the midst of digital culture. Abstrak: Penggunaan gadget yang semakin intens tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan, tetapi juga membentuk orientasi hidup remaja yang sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip iman Kristen. Terlebih, fenomena meningkatnya ketergantungan remaja terhadap gadget menunjukkan adanya pergeseran ruang pembentukan dan pembinaan remaja dari ruang konvensional ke ruang virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara teologis dan pedagogis tantangan penggunaan gadget terhadap pembinaan iman remaja Kristen di era digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa gadget telah berfungsi sebagai ruang pembentukan spiritualitas baru yang secara signifikan memengaruhi cara remaja Kristen memahami diri, iman, dan dunia. Literasi digital teologis muncul sebagai pendekatan strategis untuk menolong remaja menafsirkan realitas digital secara kritis dan bertanggung jawab. Tantangan pedagogis PAK menuntut transformasi metode yang lebih dialogis dan kontekstual. Dan tentunya membangun peran gereja dan sekolah sebagai komunitas pembentuk iman yang adaptif menjadi kunci dalam membangun spiritualitas remaja yang reflektif, relevan, dan berakar pada nilai Kristiani di tengah budaya digital
AI and the Crisis of Spiritual Formation: Reconstructing the Philosophy of Christian Religious Education in the Post-Human Era from the Perspectives of Ellul and Heidegger Daniel Agustin; Dewita Silaban; Suset Pasaribu; Ellesion Sitorus; Riris Fitriyani Br Tanggang; Jelita Malau; Toga Hasiholan Siburian
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/zpwqn605

Abstract

The dominance of artificial intelligence (AI) in education presents both technical and ontological challenges for Christian Religious Education (CRE), which is grounded in spiritual formation, human relationships, and encounter with the Divine. This article aims to analyse the crisis of spiritual formation caused by AI dominance in CRE and to reconstruct a philosophy of CRE centred on the imago Dei in the post-human era. The study employs a qualitative-philosophical approach, library research, and critical correlative hermeneutics, using Jacques Ellul’s theory of technique and Martin Heidegger’s concept of Gestell as critical frameworks. The reconstruction draws on the relational doctrine of the imago Dei and Thomas Groome’s Shared Christian Praxis. The analysis shows that AI dominance can mechanise spirituality, reduce learners to standing-reserve, and displace the contemplative and relational dimensions of CRE. As its contribution, this article proposes a contemplative-relational model of CRE that places exemplary relationships, faith communities, contemplative practices, hermeneutical dialogue with Scripture and tradition, and technology as a serving instrument at the centre of education. This model restores existential reflection, the divine-human relationship, and authentic faith formation as central aims of CRE. Abstrak Dominasi kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan menghadirkan tantangan teknis sekaligus ontologis bagi Pendidikan Agama Kristen (PAK), yang berakar pada pembentukan spiritual, relasi manusia, dan perjumpaan dengan Yang Ilahi. Artikel ini bertujuan menganalisis krisis pembentukan spiritual akibat dominasi AI dalam PAK dan merekonstruksi filosofi PAK yang berpusat pada imago Dei dalam era pascamanusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis, penelitian kepustakaan, dan hermeneutika korelatif kritis, dengan teori technique Jacques Ellul dan konsep Gestell Martin Heidegger sebagai kerangka kritis. Rekonstruksi kemudian dikembangkan melalui doktrin imago Dei yang relasional dan Shared Christian Praxis Thomas Groome. Hasil analisis menunjukkan bahwa dominasi AI dapat memekanisasi spiritualitas, mereduksi peserta didik menjadi standing-reserve, dan menggeser dimensi kontemplatif serta relasional dalam PAK. Sebagai kontribusi, artikel ini menawarkan model PAK kontemplatif-relasional yang menempatkan keteladanan relasional, komunitas iman, praktik kontemplatif, dialog hermeneutis dengan Kitab Suci dan tradisi, serta teknologi sebagai instrumen pelayanan. Model ini menegaskan kembali refleksi eksistensial, relasi ilahi-manusia, dan pembentukan iman autentik sebagai pusat pendidikan.
Artificial Intelligence, Human Agency, and the Threat to Humanity: A Christian Education Perspective Aprilius Nahak; Rachmat Tony SinjoBantaeng; Renni Sipahutar
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/54dhrs87

Abstract

As generative artificial intelligence (AI) becomes increasingly embedded in education and ministry, Christian education faces the challenge of preserving human agency amid growing reliance on AI systems. This conceptual-theological study examines the implications of AI risks for Christian education and explores how theology can inform the preservation of human dignity and agency. Using qualitative library research and conceptual-thematic analysis, the study draws on literature concerning AI risk, technology ethics, human agency, imago Dei, and Christian education. It argues that the gradual erosion of human agency through habitual delegation represents an everyday dimension of AI risk, potentially weakening human judgement and the capacity to govern AI systems. From a relational understanding of imago Dei, human dignity and moral responsibility transcend intelligence and computational capability. The study proposes Christian AI literacy as a framework comprising four interrelated dimensions: theological, ethical, critical, and humanistic literacy. This framework extends AI education beyond technical competence towards forming responsible persons who preserve human dignity and agency before God, neighbour, and creation. Abstrak Seiring dengan semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam pendidikan dan pelayanan gerejawi, pendidikan Kristen menghadapi tantangan untuk mempertahankan agensi manusia di tengah meningkatnya ketergantungan pada sistem AI. Penelitian teologis-konseptual ini mengkaji implikasi risiko AI bagi pendidikan Kristen dan mengeksplorasi bagaimana teologi dapat menjadi landasan untuk menjaga martabat dan agensi manusia. Dengan menggunakan penelitian kepustakaan kualitatif dan analisis tematik-konseptual, penelitian ini mengkaji literatur tentang risiko AI, etika teknologi, agensi manusia, teologi imago Dei, dan pendidikan Kristen. Penelitian ini berargumen bahwa terkikisnya agensi manusia secara bertahap akibat kebiasaan mendelegasikan tugas kepada AI merupakan dimensi risiko AI dalam kehidupan sehari-hari yang berpotensi melemahkan penilaian manusia dan kemampuannya untuk mengendalikan sistem AI. Berdasarkan pemahaman relasional tentang imago Dei, martabat dan tanggung jawab moral manusia melampaui kecerdasan dan kemampuan komputasional. Penelitian ini mengusulkan literasi AI Kristen yang mencakup empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu literasi teologis, etis, kritis, dan humanistik. Kerangka ini memperluas pendidikan AI melampaui kompetensi teknis menuju pembentukan pribadi yang bertanggung jawab dalam menjaga martabat dan agensi manusia di hadapan Allah, sesama, dan ciptaan.
Konten Renungan Digital dalam Pembentukan Formasi Spiritual Generasi Z: Perspektif Pendidikan Agama Kristen Yosua Feliciano Camerling; Revaldi Tri Wira Atan; Nela Bura Parrang
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/1axm8k44

Abstract

Digital media has become part of how Generation Z encounters religious messages and explores faith. This study examined the role of digital devotional content in spiritual formation from a Christian Religious Education perspective. It used an integrative literature review of scholarly works on Generation Z, digital religion, spiritual formation, and Christian education, with particular attention to Indonesian contexts and publications from 2020 to 2026. The literature was analysed through identification, thematic categorisation, comparison, and theological-pedagogical synthesis. The findings highlighted four features of digital devotions: conciseness, multimodal presentation, emotional-reflective engagement, and contextual-interactive engagement. These features could encourage biblical engagement and faith practice, although short-form content also risked limiting biblical understanding and weakening connections with faith communities. The study proposed a five-stage conceptual model: catalyst, text, reflection, praxis, and community. The model offered a framework for developing digital devotions that connect biblical teaching with reflection, daily practice, and Christian community.  Abstrak Media digital telah menjadi bagian dari kehidupan Generasi Z dalam menerima pesan keagamaan dan memahami iman. Penelitian ini mengkaji peran konten renungan digital dalam pembentukan spiritualitas dari perspektif Pendidikan Agama Kristen. Penelitian menggunakan tinjauan literatur integratif terhadap kajian tentang Generasi Z, agama digital, pembentukan spiritualitas, dan pendidikan Kristen, dengan perhatian pada konteks Indonesia dan publikasi tahun 2020–2026. Literatur dianalisis melalui tahap identifikasi, pengelompokan tema, perbandingan temuan, serta sintesis teologis-pedagogis. Hasil kajian menunjukkan empat karakteristik renungan digital, yaitu pesan ringkas, penyajian multimodal, keterlibatan emosional-reflektif, dan interaksi kontekstual. Karakteristik ini dapat mendorong keterlibatan dengan Alkitab dan praktik iman, tetapi konten singkat juga berisiko membatasi pemahaman Alkitab dan mengurangi keterhubungan dengan komunitas iman. Penelitian ini mengusulkan model konseptual lima tahap: katalisator, teks, refleksi, praksis, dan komunitas. Model ini menawarkan kerangka untuk menyusun renungan digital yang menghubungkan pengajaran Alkitab dengan refleksi, praktik hidup, dan komunitas Kristen.