cover
Contact Name
Rizki Zakwandi
Contact Email
r.zakwandi@upi.edu
Phone
+6285669180173
Journal Mail Official
wapfi@upi.edu
Editorial Address
JL. Setiabudhi No. 229 Bandung, 40154 Jawa Barat - Indonesia. e-mail: wapfi@upi.edu Tel / fax : (022) 2004548 / (022) 2004548
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
WAPFI (Wahana Pendidikan Fisika)
ISSN : 23381027     EISSN : 26854414     DOI : https://doi.org/10.17509/wapfi
The below mentioned areas are just indicative. The editorial board also welcomes innovative articles that redefine any Science, especially Physics and Technology Education field. Earth Science and Education Basic Science in Physics Education New Technologies in Physics Education Research and Development in Physics Education Globalisation in Physics Education Women in Physics Education Computers, Internet, Multimedia in Physics Education Organization of Laboratories of Physic Curriculum Development on Physics Education Teaching, Media, and Learning Physics
Articles 216 Documents
Kelayakan E-Modul Berbasis Problem Base Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP Faishal Nurhidayat; Lutfiani Agustin; Bayu Setiaji
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 7, No 2 (2022): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) September 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1962.905 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v7i2.45374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan media pembelajaran berupa e-modul berbasis Problem Base Learning (PBL) pada materi pemantulan dan pembiasan untuk kelas VIII SMP. Tujuan pengembangan modul pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Model pembelajaran yang dipilih adalah Problem Base Learning (PBL) karena model pembelajaran ini berorientasi pada masalah kehidupan sehari-hari yang sejalan dengan kemampuan berpikir kritis.  Metode yang digunakan adalah 4D yang terdiri dari define, design, develop, dan disseminate. Data diperoleh dari uji kelayakan ahli materi dengan menyebarkan angket. Data yang didapatkan berupa data kuantitatif dan juga kualitatif dengan total 46 responden. Berdasarkan hasil data tersebut menghasilkan skor persentase untuk 5 aspek yang diujikan yaitu aspek kualitas isi dengan skor 85,6%, aspek tata bahasa 85,5%, aspek problem base learning 84,1%, aspek penyajian 87,8% dan aspek media 88,2%.  menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan layak digunakan karena mendapatkan skor total persentase 86,2%. Dari semua skor persentase yang didapatkan masuk dalam kategori “sangat layak”.
Halaman Depan WaPFi Februari 2019 Achmad Samsudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 1 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.077 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i1.15821

Abstract

Halaman Depan WaPFi Februari 2019
Penerapan Cooperative Learning Tipe TPSQ untuk Mengoptimalkan Kemampuan Membuat Peta Konsep dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII pada Materi Optik Nia Kurniasih; Purwanto Purwanto; Parsaoran Siahaan
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.852 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20158

Abstract

Pemahaman konsep siswa merupakan bagian penting dalam pembelajaran, pemahaman konsep dapat ditingkatkan melalui penggunaan peta konsep dalam pembelajaran. Hasil studi pendahuluan menunjukkan persentase siswa yang dapat menentukan konsep hanya 63,89% konsep utama, 55,56% konsep inklusif, 36,11% konsep kurang inklusif dan 25% konsep spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat peta konsep. Model pembelajaran cooperative learning tipe think pair square (TPSq) diprediksi dapat meningkatkan kemampuan membuat peta konsep. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan dalam membuat peta konsep dan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya model cooperative learning tipe Think Pair Square (TPSq). Jenis penelitian ini adalah pre-experimental dengan desain one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian dilakukan kepada 27 siswa kelas VIII salah satu SMP di Kota Bandung. Data dikumpulkan melalui tes, peta konsep siswa, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil menunjukan bahwa adanya pengaruh dari penerapan cooperative learning tipe TPSq terhadap kemampuan membuat peta konsep dengan nilai rata-rata peta konsep untuk setiap pertemuan adalah 68,13 kategori sedang, prestasi belajar siswa pada materi optik meningkat dengan nilai n-gain sebesar 0,5 kategori sedang dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,50 kategori cukup. Kata Kunci: Cooperatie learning; Peta konsep; Prestasi belajar. ABSTRACT Understanding student’s concepts is an important part of learning, conceptual understanding can be improve through the use of concept maps in learning. Preliminary study results show the percentage of students who can determine the concept only 63.89% of the main concept, 55.56% inclusive concept, 36.11% less inclusive concept and 25% specific concepts. This shows that need a learning model that can improve students' ability in making concept maps. Cooperative learning model type think pair square (TPSq) is predicted to improve the ability to create concept maps. The purpose of this study is to determine the ability to create concept maps and student achievement after the implementation of cooperative learning model Think Pair Square (TPSq). This type of research is pre-experimental with one-group pretest-posttest design. The sample of the research was done to 27 students of class VIII one of junior high school in Bandung. Data were collected through by test, student concept maps, and instructional learning observation sheets. The result shows that the influence of the implementation of cooperative learning TPSq type on the ability to create concept map with average value of concept map for each meeting is 68,13 medium category, student achievement on optical material increases with n-gain value equal to 0.5 medium category and value of correlation coefficient of 0,50 enough category. Keywords: Cooperative Learning; Concept Maps; Learning Achievement.
PENERAPAN INTERAKSI KELAS CO-CONSTRUCTIVE BERBASIS INVESTIGASI SAINS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENARIK KESIMPULAN SISWA SMA Gilang Gumilar; Muslim Muslim; Ridwan Efendi
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 1, No 1 (2013): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.182 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v1i1.4888

Abstract

Hasil studi pendahuluan memperlihatkan bahwa kegiatan belajar mengajar fisika tidak ada interaksi dua arah antara guru dan siswa serta jarang melakukan kegiatan praktikum. Selain itu, keterampilan menarik kesimpulan siswa juga sangat rendah. Penelitian ini difokuskan pada upaya peningkatan keterampilan menarik kesimpulan siswa melalui penerapan interaksi kelas co-constructive berbasis investigasi sains. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan menarik kesimpulan sebagai hasil dari penerapan interaksi kelas co-constructive berbasis investigasi sains serta mengetahui proses yang terjadi selama interaksi kelas co-constructive berbasis investigasi sains dilaksanakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design. Sampel penelitian ini adalah 40 orang siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan lembar observasi. Diperoleh hasil bahwa keterampilan menarik kesimpulan siswa mengalami peningkatan dengan skor n-gain sebesar 0,41 yang termasuk dalam kategori sedang. Adapun proses yang terjadi selama interaksi kelas co-constructive dan investigasi sains dilaksanakan, secara kuantitatif investigasi sains lebih dominan, akan tetapi jika ditinjau secara kualitatif interaksi kelas co-constructivelah yang berperan dalam mempengaruhi peningkatan keterampilan menarik kesimpulan siswa SMA.The results of a preliminary study show that the learning and teaching physics has no two-way interaction between teacher and student and has a few practical activities. In addition, students’ capability to draw conclusions is also very low. The research focused on improving the skills of students through the application of drawing conclusions through co-constructive classroom interactions which is based on science investigation. The purpose of this study was to determine the enhancement of ability of drawing conclusions as a result of the application of co-constructive classroom interactions based on scientific investigation and to know the processes that occur during the interaction of co-constructive classroom-based science investigation carried out. The method used is a quasy-experimental design with pretest-posttest one group design. This study sample was 40 students in class X in one of the Senior High school in Bandung. The data was collected through testing and observation sheet. The results infer that the students’ skills in drawing conclusion were increased by a score of n-gain of 0.41 is included in the medium category. From quantitative perspective, the processes that occur during the interaction of constructive and co-class scientific investigation carried out of science is more dominant, but when it is viewed by qualitative one, co-constructive classroom interaction play a role in influencing the improvement the skills of senior high school students to draw conclusions.
INVENTORY PEMAHAMAN GRAFIK DAN KEMAMPUAN REPRESENTASI KONSEP FISIKA SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN KINEMATIKA Adna Tajriyaani Jun Lallo; Parlindungan Sinaga; Setiya Utari
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 2 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.35 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i2.25429

Abstract

Kemampuan merepresentasikan konsep fisika merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang dalam mempelajari fisika karena dalam memahami konsep yang rumit sering kali seseorang kesulitan apabila konsep tersebut hanya dinyatakan oleh satu format representasi. Salah satu kemampuan yang penting dimiliki oleh siswa yakni kemampuan pemahaman grafik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang profil pemahaman grafik dan kemampuan representasi siswa pada pokok bahasan kinematika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif untuk memperoleh informasi mengenai penemuan suatu variabel, gejala, atau keadaan tanpa adanya manipulasi. Pada desain penelitian dilakukan serangkaian test yang mengukur pemahaman grafik dan kemampuan representasi yang secara operasional diukur dengan Test Understanding Graphics (TUG) dan test kemampuan representasi berupa uraian terbatas. Sampel pada penelitian ini berjumlah 194 orang siswa kelas VIII di salah satuh SMP Negeri Kota Bandung. Materi yang diujikan dalam penelitian ini adalah materi gerak lurus dan hukum Newton pada pokok bahasan kinematika. Penilaian pemahaman grafik diolah menggunakan statistik deskriptif yang hasilnya dikategorikan berdasarkan tiga level yakni Tinggi, Sedang, Rendah. Penilaian yang digunakan dalam tes kemampuan representasi merujuk pada kriteria multiple ways. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini terdapat sebanyak 3,1% siswa dengan kategori pemahaman grafik tinggi, 64,4% siswa dengan kategori pemahaman sedang, dan 29,9% siswa dengan kategori pemahaman rendah. Hasil kemampuan representasi siswa dalam aspek kemampuan untuk mengkonstruksi representasi baru dari representasi sebelumnya lebih baik dari pada aspek kemampuan free-body diagram. Oleh sebab itu Pemahaman grafik dan  kemampuan free-body diagram harus lebih banyak dilatihkan kepada siswa pada jenjang SMP agar lebih mudah untuk memahami konsep fisika.Kata kunci : Pemahaman Grafik, Kemampuan representasi, Test Understanding Graphics
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, TRANSFERRING (REACT) BERBASIS KARAKTER PADA POKOK BAHASAN HUKUM NEWTON Ulfah Larasati Zahro; Vina Serevina; Made Astra
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.075 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4906

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKS Fisika dengan Menggunakan Strategi Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) Berbasis Karakter pada Pokok Bahasan Hukum Newton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Research and Development (RD) dengan menggunakan model ADDIE (Analysis, Desain, Development, Implementatiom, dan Evaluation). LKS yang dikembangkan meliputi 1) Judul, 2) Petunjuk Penggunaan, 3) Daftar Isi, 4) Peta Konsep, 5) Kompetensi Dasar, 6) Tujuan Pembelajaran, 7) Langkah-langkah REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transfering). Langkah-langkah dalam mengembangkan LKS adalah analisis, perencanaan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi LKS. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan berupa penyebaran kuisioner di SMAN 89 Jakarta Kelas XI MIPA 4 dan SMAN 67 Jakarta Kelas XI MIPA 4 dengan responden 64 siswa (100%), terdapat 65% siswa menyatakan pentingnya Lembar Kerja Siswa (LKS) Fisika Hukum Newton di Sekolah. Lalu, 91% siswa menyatakan kebutuhan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menggunakan Strategi REACT Berbasis Karakter. Kemudian, 90% siswa menyatakan kebutuhan LKS Fisika Hukum Newton dengan Menggunakan Strategi REACT Berbasis Karakter. Pengambilan data validasi menggunakan instrumen berupa kuesioner kepada ahli materi dan ahli media. Uji coba produk dilakukan oleh guru dan beberapa siswa. Kesimpulan dari analisis kebutuhan adalah pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Fisika dengan menggunakan strategi Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transfering (REACT) berbasis karakter pada pokok bahasan Hukum Newton dapat dijadikan media pendukung pembelajaran fisika.
PROFIL PENERAPAN PEMBELAJARAN MANDIRI MELALUI LITERSI KONSEP TEORI RELATIVITAS EINSTEIN DI SMA M Yasin Kholifudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 2 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.874 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i2.9435

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan proses penerapan pembelajaran mandiri melalui literasi konsep teori relativitas einstein dengan sintak pembelajaran; 1) guru menentukan topik materi untuk dipelajari secara mandiri di perpustakaan sekolah, 2) peserta didik melakukan literasi pembelajaran mandiri di perpustakaan sekolah, 3) guru memantau aktivitas pembelajaran mandiri peserta didik, 4) peserta didik merekam hasil pembelajaran mandiri berupa resume kedalam buku catatan fisika, 5) peserta didik menyelesaikan problematika terori relativitas einstein secara mandiri. Metode tersebut diterapkan pada 36 peserta didik kelas XII IPA 4 SMA Negeri 2 Kebumen Tahun Pelajaran 2017/2018, instrumen penelitian; lembar pengamatan, angket, dan tes hasil belajar, diperoleh simpulan bahwa proses kemandirian belajar dapat dikelompokan dalam katagori kemandirian; tinggi, sedang, dan rendah. Kemandirian belajar peserta didik bersinergi dengan hasil belajar yang diperoleh, semakin tinggi kemandirian belajar semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh. Pencerahan logika berpikir, penalaran, dan bertindak dari seorang guru dalam upaya membentuk karakter kemandirian belajar peserta didik masih sangat diperlukan dan ditingkatkan.   Kata Kunci:  Independent Learning; Literacy; Einstein Relativity Theory ABSTRACT The obyektive of the research was to describe the application of the independent-learning through literacy in the einstein's relativity theory the learning procedures are; 1) the teacher determines the topic of the learning material to be learned independently at the school library, 2) the students study the material independently literacy at the school library, 3) the teacher observes the  students activities independently learning, 4) the students make a summary of what they learned in their  physics note books , 5) the students solve the problems of einstein’s relativity theory independently. The method was applied to the 36 students of grade XII, class IPA 4 Senior High School N 2 Kebumen, in the academic year 2017/2018, the research instruments are; observation sheets, questionnaires, and the students achievement test, can be concluded showed that the students independence was classified into there categories i.e. high, moderate, and low.  The students independence in learning synergize with students achievement, the higher the independence of the students the better the students achievement. To build the students character of independence the teacher still needs to give the models of logic, reasoning, as well as model behavior. Keywords: Independent Learning; Literacy; Einstein Relativity Theory      
MENGONSTRUKSI RANCANGAN SOAL DOMAIN KOMPETENSI LITERASI SAINTIFIK SISWA SMP KELAS VIII PADA TOPIK GERAK LURUS Adib Rifqi Setiawan; Setiya Utari; Muhamad Gina Nugraha
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 2 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.619 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i2.8277

Abstract

Seiring perkembangan zaman, literasi saintifik dipilih sebagai tujuan utama pendidikan sains. Literasi saintifik dianggap bisa digunakan untuk mempersiapkan generasi saat ini untuk menghadapi saat nanti. Literasi saintifik adalah pemahaman terhadap konsep dan proses sains serta bisa menggunakan pemahaman tersebut dalam keseharian. Sebagai tujuan utama dalam pendidikan sains, literasi saintifik dalam keseharian masyarakat menjadi gambaran keberhasilan pendidikan sains yang dilakukan oleh setiap negara. Namun kemampuan ini belum dilatihkan secara optimal melalui proses pembelajaran sains di Indonesia. Peneliti melakukan konstruksi soal yang bisa digunakan untuk mengukur kemampuan literasi saintifik siswa dalam domain kompetensi pada topik gerak lurus. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif jenis survei dengan jumlah soal 18 butir. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Kabupaten  Bandung Barat dengan jumlah sampel sebanyak 140 orang siswa kelas VIII menggunakan pengambilan sampel acak. Dari hasil penelitian diperoleh koefisien reliabilitas (rhh) sebesar 0,73 (kategori tinggi) dengan validitas item, tingkat kesukaran, dan daya pembeda setiap butir soal yang beragam. Hasil yang diperoleh akan dijadikan acuan untuk menganalisis kesulitan literasi saintifik siswa SMP kelas VIII pada topik gerak lurus serta merekonstruksi rencana pembelajaran sains yang melatihkan literasi saintifik. Over the times, scientific literacy have been selected as the main purpose of science education.Scientific literacy is considered to be used to prepare the current generation for life in the future. Scientific literacy is an understanding of the concepts and processes of science and can use that understanding in everyday life. As the main purpose of science education, scientific literacy in everyday society be a description the success of science education undertaken by each country. However, this capability has not been trained optimally through the learning process of science in Indonesia. Researcher conducted a construction matter that can be used to measure the literacy skills of students in the scientific domain competence on the topic of straight motion. This research use descriptive research type of survey with amount question 18 items. The population in this research is a class VIII student in one of the Junior High School in West Bandung regency with a total sample of 140 eighth grade students using random sampling. The result showed reliability coefficient (rhh) by 0.73 (high category) with the validity of the item, level of difficulty, and distinguishing each item on diverse. The results earned will be used as a reference for analyzing the difficulties of scientific literacy class VIII junior high school students on the topic of straight motion and reconstruct the science lesson plan which trains scientific literacy.Keywords:  Construction; Scientific Literacy Profile; Domain Competence
Analisis Kemampuan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Fisika Bentuk Representasi Gambar di SMA Negeri se-Kabupaten Morowali Utara Risky Mbayowo; Marungkil Pasaribu
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 1 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.454 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i1.32458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal fisika bentuk representasi gambar di SMA Negeri se-Kabupaten Morowali Utara yang terdiri atas kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal fisika bentuk representasi gambar di SMA Negeri se-Kabupaten Morowali Utara. Subjek penelitian ini adalah 20 siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Lembo, 25 siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Petasia, dan 15 siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Mori Atas tahun ajaran 2020/2021, sehingga subjek penelitian berjumlah 60 siswa. Data diperoleh dari lembar jawaban tes kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal fisika bentuk representasi gambar dan hasil wawancara. Soal tes berjumlah 6 butir soal esai yang terdiri dari 2 soal kategori menganalisis, 2 soal kategori mengevaluasi, dan 2 soal kategori menciptakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal fisika bentuk representasi gambar di SMA Negeri se-Kabupaten Morowali Utara pada materi Hukum Newton dan gerak parabola sebesar 33,51 yang berada pada kategori kurang. Kata kunci : Kemampuan berpikir tingkat tinggi, Menganalisis, Mengevaluasi, Menciptakan  ABSTRACT This study aims to describe the high-order thinking skills of students in solving physics questions in the form of image representations in state high schools in North Morowali Regency which consists of the ability to analyze, evaluate, and create. The descriptive research method was used to describe the high-order thinking skills of students in solving physics questions in the form of image representations in public high schools in North Morowali Regency. The subjects of this study were 20 students of class XI IPA 1 SMA Negeri 1 Lembo, 25 students of class XI IPA 1 SMA Negeri 1 Petasia, and 15 students of class XI IPA 1 SMA Negeri 1 Mori Atas school year 2020/2021, so the research subjects were 60 students. . Data obtained from the answer sheet of the test of higher order thinking skills in solving physics questions in the form of image representations and interview results. There are 6 test questions in the essay which consists of 2 questions in the analyzing category, 2 questions in the evaluating category, and 2 questions in the category of creating. The results showed that the average high-order thinking ability of students in solving physics questions in the form of image representations in State Senior High Schools in North Morowali Regency on the material of Newton's Law and parabolic motion was 33.51 which was in the poor category.  Keywords: High-order thinking skills, Analyzing, Evaluating, Creating 
PROFIL MOTIVASI BELAJAR IPA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DALAM PEMBELAJARAN IPA BERBASIS STEM Ridwan Hani; Irma Rahma Suwarma
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 1 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.557 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i1.10942

Abstract

ABSTRAK Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat menuntut manusia untuk lebih meningkatkan kemampuan dirinya untuk dapat bersaing dalam lingkup nasional maupun global. Tidak hanya dibutuhkan kemampuan kognitif tetapi juga perlu softskills yang mendukung keterampilan pada abad 21. Pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) merupakan salah satu pembelajaran yang mampu melatih keterampilan abad 21 tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi profil motivasi belajar IPA siswa dalam pembelajaran IPA berbasis STEM. Profil motivasi yang diukur mencakup 5 komponen yaitu intrinsic motivation, self-determination, self-efficacy, career motivation, dan grade motivation. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan analisis data statistik deskriptif. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas STEM (ekstrakurikuler) di salah satu SMP Negeri di kota Bandung dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Profil motivasi belajar IPA diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Science Motivation Questionnaire II (SMQ). Hasil penelitian menunjukan bahwa 24% siswa memiliki motivasi belajar IPA yang sangat tinggi, 68% siswa memiliki motivasi belajar IPA yang tinggi, dan 8% siswa memiliki motivasi belajar IPA yang sedang. Tidak ada siswa yang memiliki motivasi rendah atau sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran berbasis STEM, secara keseluruhan siswa memiliki motivasi belajar IPA yang tinggi. Kata Kunci: Pembelajaran IPA berbasis STEM; Motivasi Belajar IPA  ABSTRACT Science and technology are growing rapidly demanding human to further enhance his ability to compete in national as well as global scope. Not only required cognitive abilities but also required softskill which included 21st century skills. STEM-based learning (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) is one of the lessons that can train 21st century skills. This research was carried out to indentify students’ science learning motivation profile in STEM-based science learning. the measured motivational profile includes 5 components such as intrinsic motivation, self-determination, self-efficacy, career motivation, and grade motivation. The research was conducted using quantitative method with descriptive statistical data analysis. Sample of this research were 25 students who’s involved in STEM extracuricullar in one of junior high school in Bandung. Students’ science learning motivation profile measured using an instrument adapted from Science Motivation Questionnaire II (SMQ). The results showed that 24% of students have a very high secience learning motivation, 68% of students have a high science learning motivation, and 8% of students have a moderate science learning motivation. There is no student has low or very low motivation. Based on the research result, it can be concluded that in STEM-based science learning, overall students have high science learning motivation. Keywords: STEM-based Science Learning, Science Learning Motivation

Page 2 of 22 | Total Record : 216