cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 267 Documents
IMPLEMENTASI GAMIFIKASI SEBAGAI MANAJEMEN PENDIDIKAN UNTUK MOTIVASI PEMBELAJARAN Rahardja, Untung; Aini, Qurotul; Khoirunisa, Alfiah
EDUTECH Vol 18, No 1 (2019): PEMBELAJARAN DI DIGITAL ERA
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i1.14697

Abstract

As we know now, Indonesia has begun to enter the era of revolution 4.0 which in that era had a lot of changes in all fields. Including in the field of education, the changes that occur in the world of education today are so significant with the abandonment of teaching methods that still use conventional methods. Track tasks with books, face-to-face communication, collect hard copy assignments, which of course will cause a lot of losses in a certain period of time, like many long-stored tasks that are hard to find when needed. Learning methods are considered a boring way, where students cannot explore learning searches for the number of files that have been collected. So from now on the application of learning methods is done with the concept of gamification. Gamification learning methods are made to follow the era when students prefer to play games rather than learning, therefore the gamification method can be applied to management of education at a higher level of education. It is hoped that this method can increase students' interest in learning so that it motivates to explore abilities in the learning process.Seperti yang kita ketahui sekarang, Indonesia sudah mulai memasuki era revolusi 4.0 yang di era itu banyak perubahan yang terjadi di semua bidang. Termasuk dalam bidang pendidikan, perubahan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini begitu signifikan dengan mulai ditinggalkannya metode pengajaran yang masih menggunakan cara konvensional. Melacak tugas dengan buku, komunikasi tatap muka, mengumpulkan tugas dalam bentuk hardcopy, yang tentu saja akan menyebabkan banyak kerugian dalam jangka waktu tertentu, seperti banyak tugas yang lama tersimpan dan sulit ditemukan ketika dibutuhkan. Metode pembelajaran dianggap sebagai cara yang membosankan, dimana siswa tidak dapat mengeksplorasi dalam pencarian pembelajaran untuk jumlah file yang telah dikumpulkan. Jadi mulai sekarang penerapan metode pembelajaran dilakukan dengan konsep gamification. Metode pembelajaran gamification dibuat untuk mengikuti era ketika siswa lebih memilih untuk bermain game daripada belajar, oleh karena itu metode gamification dapat diterapkan untuk manajemen pendidikan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Diharapkan bahwa metode ini dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar sehingga memotivasi untuk mengeksplorasi kemampuan dalam proses pembelajaran.
THE DEVELOPMENT OF PROBLEM-BASED LEARNING MODEL IN TROUBLESHOOTING TO ENHANCE STUDENTS’ CRITICAL THINKING SKILLS AT AUTOMOTIVE PROGRAM OF SENIOR VOCATIONAL SCHOOL Iskandar, Suryana
EDUTECH Vol 14, No 2 (2015): INOVASI DAN APLIKASI PENDIDIKAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i2.1378

Abstract

Abstract. The This topic has been proposed based on the condition that the competitive ability of SMK graduates in automotive field was lower than the current need job market. According to (Global Competitiveness Report 2010-2011:15 ) the condition of Competitiveness of Indonesia today is on the 44th rank out of 132 countries in the world and still below countries in the ASEAN region. One of the skills needed by learners in facing the tight competition is the critical thinking to solve a problem. This competence has not been reached, because the model of teaching implemented by the teachers today is still conventional. The research has been conducted to find the answer of the question : What kind of learning model that could improve students ' critical thinking skills in vocational subjects of vocational competence Light Vehicle Engineering? The method used in accordance with the objective is the Research and Development model. The Research and development is a type of research that combines qualitative and quantitative research. The qualitative research used for the analysis of the results of preliminary studies while quantitative used as the validation and testing of the model used the t test by using SPSS version 13, to determine which group is more or whether there is no difference between the two groups.The population used in this study is SMK in Bandung. The study samples was taken purposively are two kinds of international school and vocational education of the National Standard of Competence on Light Vehicle Engineering( Specialisation ) located in Bandung. The subjects are the students of Light Vehicle Engineering skill program in SMKN 6 Bandung class XI, SMKN 8 Bandung, and students of class XI of SMK Merdeka Bandung. The result of the validation shows a 95% confidence level or with α 5% to reject H0. This means that there are significant differences between groups of data on the starter post test of experiment group and control group. This shows there is an increased competence to think critically of the students of Automotive Vocational Skills Program with learning problem-solving model called troubelshooting.Keywords : Light Vehicle, Critical thinking, Problem solving troubleshooting, Vocational High School.Abstrak. Latar belakang penelitian dilandasi oleh suatu keadaan kurangnya kemampuan daya saing lulusan di pasar kerja dibandingkan dengan laporan Global Copetitiveness Report 2010-2011:15) berada pada urutan ke 46 dari 132 negara di dunia dan masih di bawah negara ASEAN. Kurangnya kemampuan daya saing ini, salah satunya disebabkan oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis untuk memecahkan suatu masalah yang dibutuhkan di dunia kerja, karena pembelajaran yang dilakukan pendidik cenderung masih konvensional. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Model pembelajaran yang bagaimana yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik SMK pada mata pelajaran kompetensi kejuruan Teknik Kendaraan Ringan? Tujuan Penelitian adalah untuk menemukan model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis dalam memahami pengetahuan mata pelajaran kompetensi kejuruan Teknik Kendaraan Ringan sehingga mereka mampu memecahkan masalah pada pekerjaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development dan pendekatannya menggabungkan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis hasil studi pendahuluan sedangkan kuantitatif digunakan untuk validasi dan pengujian model dengan teknik analisis uji U-test dan uji T-test dan pengerjaannya dibantu dengan program SPSS versi 13.Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah SMK yang ada di Kota Bandung, sedangkan penetapan sampel digunakan secara purpossif, yaitu SMK RSBI (SMKN 6) dan SMK Bertaraf Nasional yang menyelenggarakan pendidikan Kompetensi Kejuruan Teknik Kendaraan Ringan, terdiri dari dua klasifikasi, yaitu SMKN 8 Bandung dan SMK Swasta Merdeka Bandung. Hasil validasi menunjukan dengan taraf kepercayaan sebesar 95% ternyata H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok data starter dan pengisian post test pada kelompok Eksperimen dan kelompok control. Hasil penelitian ini diperoleh model Pembelajaran Pemecahan Masalah troubleshooting dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik SMK Program Keahlian Otomotif.Kata kunci: Kendaraan Ringan, Berfikir kritis, Pemecahan masalah troubleshooting, SMK.
BOX MEDIA MODEL THROUGH THE USE OF CONTEXTUAL UNDERSTANDING TO IMPROVE STUDENT LEARNING CONCEPTS IN VOLUME BEAM Rohaeni, Dede
EDUTECH Vol 15, No 1 (2016): MEDIA DAN MODEL PEMBELAJARAN TERBARU
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i1.2230

Abstract

Abstract. This research is motivated Cilengkrang Elementary School fifth grade students in the learning of the beam volume is still experiencing difficulties. This happens because the learning process that takes place is conventional. Learning by applying a contextual model chosen researchers by reason students will know if the learning is associated with the real world of students. The method used in this research is a classroom action research methods to the design of the research procedure refers to the spiral model Kemmis and MC. Tujuanpenelitianini is to obtain an overview of the planning, implementation and improvement of students' understanding of the results of the application of the concept model of contextual learning in the classroom beam volume V Elementary School Cilengkrang. The method used in this research is a classroom action research methods to the design of the research procedure refers to the spiral model Kemmis and MC. Taggart. Based on the implementation of the actions performed by three cycles, as a whole has shown an increase from the initial data, both process and outcomes of learning. So that the application of contextual models can enhance students' understanding of class V SDN Cilengkrang Northern District of Sumedang Sumedang district of the concept of the beam volume. Keywords: Contextual Model, Mathematics, Mathematics Learning Objectives  Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi siswa kelas V SDN Cilengkrang dalam pembelajaran volume balok masih mengalami kesulitan. Ini terjadi karena proses pembelajaran yang berlangsung bersifat konvensional. Pembelajaran dengan menerapkan model kontekstual dipilih peneliti dengan alasan siswa akan paham jika pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan rancangan prosedur penelitiannya mengacu pada model spiral Kemmis dan MC. Tujuanpenelitianini yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai perencanaan, pelaksanaan dan peningkatan hasil pemahaman siswa dengan penerapan model kontekstual dalam pembelajaran konsep volume balok di kelas V SD Negeri Cilengkrang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan rancangan prosedur penelitiannya mengacu pada model spiral Kemmis dan MC. Taggart. Berdasarkan pelaksanaan tindakan yang dilakukan sebanyak tiga siklus, secara keseluruhan telah menunjukan adanya peningkatan dari data awal, baik dalam proses maupun hasil belajar. Sehingga penerapan model kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SDN Cilengkrang Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang terhadap konsep volume balok. Kata Kunci: Model Kontekstual, Matematika, Tujuan Pembelajaran Matematika
PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI PELATIHAN PAIKEM (PELATIHAN PADA GURU MI DAN MTS DI KABUPATEN CIANJUR) Dewi, Laksmi
EDUTECH Vol 13, No 3 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN LAYANAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i3.3094

Abstract

Abstract. Learning is not monopoly of teachers (teacher centered). The teacher in charge of teaching and, especially, the students who do learning activities, both have the same right to manage their learning process with its various components. Teachers should have the pedagogic skills makes the students learn. Pedagogical competence of teachers need to be trained to increase their skills, so that teachers are able to create an active learning, innovative, creative, effective and fun for students. Successful training is training that can provide added value to knowledge, attitudes and skills of the participants. Good training is training that suits participants needs and its results can be applied in paraticipants workplace. PAIKEM training which has been implemented successfully contribute to the improvement of pedagogical competence of the participants.Keywords: effective training, relevance, improving the competence of teachersAbstrak. Pembelajaran bukanlah monopoli guru (teacher centered). Guru yang bertugas mengajar dan, terutama, peserta didik yang melakukan kegiatan belajar, keduanya memiliki hak yang sama untuk mengelola proses pembelajaran dengan berbagai komponennya. Untuk itulah guru harus memiliki keterampilan pedagogik membuat siswa belajar. Kompetensi pedagogik guru perlu dilatih agar keterampilannya meningkat, sehingga guru mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan untuk peserta didik. Pelatihan yang berhasil adalah pelatihan yang dapat memberikan nilai tambah pada pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta. Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan peserta dan hasilnya dapat diterapkan di dunia kerja peserta. Pelatihan PAIKEM yang telah dilaksanakan ini berhasil memberikan sumbangan bagi peningkatan kompetensi pedagogik para peserta.Kata Kunci : pelatihan efektif, relevansi, peningkatan kompetensi guru
MENJADI GURU PROFESIONAL (ISU DAN TANTANGAN MASA DEPAN) Arifin, Zaenal
EDUTECH Vol 13, No 1 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i1.3225

Abstract

Abstract, Teaching it is an art because every teacher has their own style and characteristics. Therefore, every teacher has different styles and techniques in teaching. So is their performance, models, they ways they deliver the material, the use of methods and media as well as evaluation. In teaching, teachers are expected to not get stuck with the routine of traditional teaching (teacher-centered), which assumes that the learner is an "empty bottle" and must be filled with the knowledge as much as possible. The traditional concept of teaching has long been an issue in education, but in fact until now there are still many teachers who implement such methods at schools. The problem is how to change the paradigm of the teacher to become a professional teacher? How do teachers develop learning system in schools? How do they carry out effective learning? How to prepare teachers for the future? To address these problems, the writer tried to conduct a study of the literature and the results of relevant researches. To change the paradigm of teachers into professional teachers, then there are several requirements that must be met. First, teachers must have a minimum qualification and competence as a teacher candidate. In Indonesia, all teachers (kindergarten, elementary, junior high, high school or equivalent) should have at least relevant diploma (D.IV) or bachelor (S1) degree. Second, they have to understand the developmental level of students. Third, teachers must often be given the opportunity to attend training on the implementation of the curriculum and learning according to each level of education. Fourth, each semester, teachers are required to implement a learning model that can activate learners (student - centered) at school. This means each semester teachers use different learning model which is considered effective and relevant so that within one year there are two models of learning they strongly master in practice. Furthermore, to develop a learning system in schools, there are several things that must be mastered by teachers, among others: the development of strategies that should be considered including the mastery of a foreign language (at least in English) , the mastery of pedagogical competence and mastery of ICT (information and communication technology); learning (planning, implementation, and evaluation); organizing the class structure and routines; planning to achieve the objectives, outcomes and standards. To carry out an effective learning, teachers must be able to communicate effectively, use appropriate learning models, conduct classroom management ; use resources creatively, understand individual differences in learning, teach, values and moral education, work effectively with parents, as well as assessing and reporting objectively.Keywords: professional teacher, teacher-centered, student-centered, effective learning, learning system Abstrak. Mengajar itu adalah seni, karena setiap guru yang mengajar memiliki gaya dan karakteristik tersendiri. Karena itu, setiap guru mengajar memiliki gaya dan teknik yang berbeda. Begitu juga penampilan, model, cara menyampaikan materi, penggunaan metode dan media maupun evaluasi. Dalam mengajar, diharapkan guru tidak terjebak dengan rutinitas mengajar secara tradisional (teacher-centered), yang menganggap peserta didik itu adalah sebuah “botol kosong” dan harus diisi dengan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Konsep mengajar yang tradisional ini sudah lama menjadi isu dalam dunia pendidikan, tetapi faktanya di sekolah, sampai sekarang masih banyak guru yang melaksanakan cara-cara seperti itu. Permasalahannya adalah bagaimana mengubahparadigma guru untuk menjadi guru yang profesional ? Bagaimana guru mengembangkan sistem pembelajaran di sekolah ? Bagaimana melaksanakan pembelajaran yang efektif ? Bagaimana mempersiapkan guru untuk masa yang akan datang ? Untuk menjawab permasalahan ini, penulis mencoba melakukan kajian dari berbagai literatur dan hasil penelitian yang relevan.Untuk mengubah paradigma guru menjadi guru yang profesional, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, guru harus memiliki kualifikasi dan kompetensi minimal sebagai calon guru. Di Indonesia, semua guru (TK, SD, SMP, SMA dan yang sederajat) minimal harus D.IV atau S.1 (Sarjana) yang relevan. Kedua, memahami tingkat perkembangan siswa. Ketiga, guru harus sering diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan tentang implementasi kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Keempat, tiap semester, guru diwajibkan untuk menerapkan salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik (child-centered) di sekolah. Artinya, setiap semester guru harus mengganti model pembelajaran yang dianggap efektif dan relevan, sehingga dalam waktu satu tahun ada dua model pembelajaran yang betul-betul dikuasai guru secara praktis. Selanjutnya, untuk mengembangkan sistem pembelajaran di sekolah, ada beberapa hal yang harus dikuasai guru, antara lain pengembangan strategi yang harus dipertimbangkan, yaitu penguasaan bahasa asing (minimal bahasa Inggris), penguasaan kompetensi pedagogi, dan penguasaan ICT (information and communication technology).pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi); pengorganisasian struktur kelas dan rutinitas; perencanaan untuk mencapai tujuan, hasil dan standar. Untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif, maka guru harus mampu berkomunikasi secara efektif; menggunakan model pembelajaran yang tepat; manajemen kelas; menggunakan sumber daya secara kreatif; memahami perbedaan individu dan belajar; mengajar, nilai, dan pendidikan moral; bekerja secara efektif bersama orang tua; serta melakukan penilaian dan pelaporan secara objektif. Untuk mempersiapkan guru pada masa yang akan datang, ada tiga halKata Kunci : guru profesional, techer-centered, student-centered, pembelajaran yang efektif, sistem pembelajaran
MULTIMEDIA IN LITERACY DEVELOPMENT AT REMOTE ELEMENTARY SCHOOLS IN WEST JAVA (MULTIMEDIA DALAM PENGEMBANGAN LITERASI DI SEKOLAH DASAR TERPENCIL JAWA BARAT) Hartati, Tatat
EDUTECH Vol 15, No 3 (2016): ESENSI PEMBELAJARAN MASA KINI
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i3.4873

Abstract

Abstract. This research aims to design a multimedia based literacy learning model using PAIKEM (Active, Innovative, Creative, Effective, Fun Learning). This research was located in a remote area in West Java. This research used Research and Development approach. The data was collected through library study, observation, interview, questionnaire and performance assess-ment. The instruments used include RPP, IPKG I, and IPKG II in order to assess the RPP and the learning process. The data analysis was qualitatively descriptive which include: 1) Theoretical analysis about literacy, multimedia and PAIKEM; 2) The analysis of teacher's ability in literacy learning, media and PAIKEM approach; 3) Assessment of teacher's need for media; 4) The devel-opment of learning models which are suitable with teachers' and students' need in remote areas; 5) The analysis of the model developed; 6) Analysis for improvement; 7) Analysis for refinement and dissemination. This research involved two remote schools in Subang regency dan West Ban-dung regency. The results showed that teachers in remote areas of West Java needed training on literacy materials and methods based on PAIKEM and computer use for learning media. The teachers were trained on making learning media using powerpoint and camtasia studio.Keywords: multimedia, literacy, PAIKEM, remote elementary schoolsAbstrak, Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pembelajaran literasi ber-basis multimedia dengan menggunakan pendekatan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kre-atif, Efektif, Menyenangkan). Penelitian ini berlokasi di daerah terpencil Jawa Barat. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan, “Research Development” . Teknik pengumpulan data melalui kajian pustaka, observasi, wawancara, angket dan penilaian kinerja. Instrumen penelitian terdiri dari RPP dan IPKG I serta IPKG II untuk menilai RPP dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif mencakup: 1) Analisis teoritis tentang literasi, multimedia dan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif dan Menyenangkan (PAIKEM); 2). Analisis kemampuan guru dalam pembelajaran literasi, media dan pendekatan PAIKEM; 3) Analisis kebutuhan guru (need assessment) tentang media; 4) Pengembangan model pembelajaran sesuai kebutuhan guru dan murid di daerah terpencil;5)Analisis hasil pengembangan model, 6) Analisis untuk perbaikan, 7) Analisis penyempurnaan dan penyebarluasan. Setting yang digunakan adalah dua sekolah terpencil di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di daerah terpencil Jawa Barat memerlukan pelati-han materi dan metode literasi berdasarkan PAIKEM dan penggunaan komputer untuk media pem-belajaran. Media computer yang dilatihkan adalah powerpoint dan camtasiastudio.Kata Kunci: multimedia, literasi, PAIKEM, sekolah dasar terpencil
RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN DARING DI PERGURUAN TINGGI: STUDI KASUS PADA MATA KULIAH KURIKULUM PEM-BELAJARAN DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Dewi, Laksmi
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.7616

Abstract

Abstract. This research aims to develop online learning program of Curriculum and Instruc-tion Course to enhance effectiveness and efficiency which include tools and management of online learning, system of evaluation, and assessment of effectiveness and efficiency of online learning. The online learning program was conducted to facilitate the high number of classes that should be served. The research method used was design and development, where the program developed was in the form of prototype which was then tested in limited scale. The analysis of the problems re-vealed that students’ competency was influenced by their low motivation because Curriculum and Instruction course was regarded as second level course. An online learning program was devel-oped to enhance students’ competency in studying Curriculum and Instruction course through sev-eral steps consisting of preparation/development, implementation, and evaluation using systemic approach.Keywords: online learning, design and development, higher education institutionAbstrak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan program pembelajaran daring pada Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan perkuliahan, mengembangkan perangkat dan tatakelola Pembelajaran Daring, dan mengembangkan sistem penilaian dan melakukan penilaian terhadap efektivitas dan efisiensi Pembelajaran Daring pada Mata Kuliah MKDK Kurikulum dan Pembelajaran yang efektif dan efisien. Hal ini didasarkan pada banyaknya kelas yang harus dilayani proses pembelajarannya. Metode penelitiannya menggunakan metode design dan pengembangan, yaitu metode dimana program yang dikem-bangkan baru berbentuk prototype yang kemudian dapat diujicobakan secara terbatas. Hasil dari analisis masalah pada penelitian ini adalah masih rendahnya penguasaan kompetensi belajar maha-siswa dipengaruhi oleh rendahnya motivasi belajar mahasiswa yang menyebutnya bahwa mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran dianggap sebagai kelompok mata kuliah level kedua. Kemudi-an melalui penelitian ini mengembangkan model pembelajaran daring meningkatkan kompetensi belajar mahasiswa, pada mata kuliah MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Program pembelajaran melalui tahapan persiapan/ pengembangan , pelaksanaan, dan evaluasi, dengan menggunakan pen-dekatan sistemik.Kata Kunci: Pembelajaran daring, Perancangan dan Pengembangan, Perguruan Tinggi
PENGGUNAAN MODEL NUMBER HEAD TOGETHER DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI TOPIK DASAR-DASAR ILMU GEOGRAFI UNTUK PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA Taufiq, Ahmad -
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12268

Abstract

Abstract. This study focused on Geography subject of Grade X students of SMA 2 Subang, which was motivated by low students’ achievement. Teachers are therefore required to create collaborative class atmosphere. One of the learning models that emphasize cooperation is the Numbered Heads Together method of cooperative learning model. This study aimed to find out students’ response on the implementation of the Numbered Heads Together method in teaching fundamentals of Geography basic competence. This study used descriptive qualitative approach and Kemmis and Taggart model of action research. The results indicated that there was an increase in students’ achievement through the application of the Numbered Heads Together method. This was shown by comparing the test results in cycle 1 and cycle 2, which although were still below the Minimum Mastery Criteria of 70, were able to unfold the students’ desire to have a class that was not boring. Teachers should be more creative in addressing the paradigm change toward a more student-centered learning. The learning model used must be continually perfected and in accordance with the condition of the school environment. Packaging of teaching materials should consider the available guideline and time allocation so that the sorting of the materials can be inte-grated with the model. The application of any learning model should focus on creating active in-stead of passive learning activities.Abstrak. Penelitian ini berfokus pada pembelajaran geografi kelas X SMA Negeri 2 Subang, yang dilatarbelakangi oleh rendahnya prestasi belajar siswa. Maka guru dituntut untuk menciptakan suasana kelas yang mengandung unsur kolaborasi. Salah satu penerapan pembelaja-ran yang berorientasi pada model belajar kooperatif adalah Number Head Together. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk respon peserta didik terhadap model pembelajaran Number Head Together pada kompetensi dasar Dasar-Dasar Ilmu Geografi. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif berupa penelitian tindakan kelas. Model Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan adalah Kemmis dan Taggart. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pening-katan prestasi yang terjadi dalam pembelajaran dengan model kooperatif tipe Number Head To-gether. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan hasil tes pada siklus 1 dan siklus 2. Kes-impulan dari penerapan model Number Head Together pada proses pembelajaran topik Dasar-Dasar Ilmu Geografi secara umum belum membuahkan hasil yang menunjukkan ke arah perbaikan prestasi, sebab nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (70) meskipun terjadi peningkatan hasil tes pada siklus 1 dan siklus 2, tetapi lebih kepada terungkapnya keinginan siswa untuk melakukan model yang mampu membuat situasi kelas yang tidak membosankan. Guru harus lebih kreatif dalam menjawab perubahan paradigma pembelaja-ran kearah student center. Model yang dikembangkan tersebut harus terus di sempurnakan dan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah. Kemasan bahan ajar harus melihat patokan dan alokasi waktu yang ada sehingga pemilahan materi mampu dipadukan dengan model yang tersebutPenera-pan model apapun haruslah berpatokan pada menciptakan kegiatan pembelajaran, sehingga siswa dipandang aktif dan tidak pasif.
PROGRAM LEARNING DAY SEBAGAI UPAYA MEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL JATINANGOR Andayani, Farah
EDUTECH Vol 17, No 3 (2018): KOMPUTER, SEKOLAH & KOMUNITAS BELAJAR
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v17i3.14345

Abstract

Program Learning Day ini diciptakan atas upaya pemberdayaan masyarakat pada yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat lokal agar mereka memiliki daya saing tinggi dan mampu mencapai kesejahteraan finansialnya sendiri tanpa bergantung kepada pihak lain. Di Jatinangor  awalnya terdiri atas mata pencaharian masyarakat lokal yang mayoritas adalah buruh kebun pada zaman penjajahan Belanda. Akan tetapi setelah tahun 1979 wilayah perkebunan ini diubah menjadi kawasan pendidikan sehingga kini ada berbagai macam perguruan tinggi, Perubahan tersebut tentu saja membawa dampak besar terhadap perubahan kegiatan mata pencaharian yang ada di Jatinangor.                Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui latar belakang dan implementasi program Learning Day sebagai Pemberdayaan Masyarakat lokal Jatinangor oleh The Local Enablers (TLE), serta pembahaman pihak TLE, baik pengurus TLE dan Agen Pemberdaya TLE dalam memaknai pemberdayaan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka.                Hasil penelitian ini menunjukan latar belakang dari adanya program Learning Day sebagai pemberdayaan masyarakat adalah adanya social gap dan perspektif negatif di antara masyarakat lokal Jatinangor dengan pendatang yang menetap di Jatinangor. Pemahaman yang dimiliki oleh pengurus dan agen pemberdaya TLE adalah program Learning Day sebagai bentuk kepedulian  pendatang dalam mampu meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat lokal. Implementasi program meplalui tahapan pemberdayaan masyarakat melalui Mardikanto dan Soebiato (2017) yaitu seleksi lokasi; sosialisasi; proses pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas kajian wilayah, pengembangan kelompok, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, serta mentoring dan evaluasi; kemudian pemandirian masyarakat.           
THE APPLICATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL IN PEDAGOGIC COURSE Nuryani, Pupun
EDUTECH Vol 14, No 1 (2015): DINAMIKA PENDIDIKAN INDONESIA
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i1.1315

Abstract

Abstract. Today the challenges of employment is more toward teamwork. Given the growing importance of cooperative interactions in employment, this should be anticipated by the education world, one of which through classroom instruction strategies. This study aimed to describe the initial condition of the characteristic of PGSD students’ ability inPedagogic course, to depic the application of cooperative learning in Pedagogic course, and to know the strengths and weaknesses of cooperative learning in Pedagogic course. This used qualitative approach with descriptive analysis method. The results showed that the initial condition of the characteristic of PGSD students’ ability in in Pedagogic coursebasically has a good enough quality. It was also found that. theapplication of cooperative learning is more preferable for students than lecturing method. The results conclude that the application of cooperative learning in Pedagogic course can improve the ability of students in the learning process.Keywords : Cooperative Learning Model, Pedagogic course,Abstrak. Dewasa ini tantangan lapangan pekerjaan lebih banyak berorientasi pada kerjasama tim. Mengingat semakin pentingnya interaksi kooperatif dalam lapangan pekerjaan, maka hal ini harus diantisipasi oleh dunia pendidikan salah satunya melalui strategi pembelajaran kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi awal karakteristik kemampuan mahasiswa PGSD pada mata kuliah pedagogik; mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif pada mata kuliah pedagogik; mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif pada mata kuliah pedagogic. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Sedangkan pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.. Hasil penelitian menunjukan kondisi awal karakteristik kemampuan mahasiswa PGSD pada mata kuliah pedagogik pada dasarnya memiliki kualitas yang cukup baik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dalam mata kuliah pedagogik lebih disukai mahasiswa dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah. Simpulan hasil penelitian, penerapan model pembelajaran kooperatif pada mata kuliah pedagogik dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam proses pembelajaran.Kata Kunci : model pembelajaran kooperatif, mata kuliah Pedagogik

Page 4 of 27 | Total Record : 267