cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021" : 10 Documents clear
FEMINISME EKSISTENSIALIS DALAM NOVEL DRUPADI KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Munaris Munaris; Joko Setyo Nugroho
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.41926

Abstract

Pembicaraan mengenai perempuan tidak terlepas dari isu kesetaraan gender atau emansipasi. Isu tentang emansipasi sendiri merupakan wujud dari penolakan kaum perempuan terhadap kesenjangan hak, kewajiban, dan perannya dalam kehidupan. Penyuaraan kesetaraan gender tersebut seringkali dilakukan melalui pemikiran yang terdokumentasi di sebuah karya tulis, salah satunya dalam bentuk karya sastra, yaitu novel. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk opresi terhadap perempuan dan perlawanan perempuan sebagai wujud eksistensinya dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma dari perspektif feminism eksistensialis Simone de Beaviour. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data pada penelitian ini adalah novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi. Data yang berupa kutipan-kutipan di dalam novel kemudian dikaji dengan teori feminisme-eksistensialis Simone de Beaviour. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma terdapat 10 data terkait bentuk-bentuk opresi terhadap perempuan yang terdiri atas: (1) pandangan perbedaan posisi perempuan dan laki-laki, (2) opresi terhadap perempuan dari segi pelayanan dalam perkawinan, dan (3) pelecahan seksual; serta 13 data terkait bentuk-bentuk perlawanan kaum perempuan sebagai wujud eksistensinya yang terdiri atas: (1) bekerja, (2) menjadi agen intelektual, dan (3) melakukan transformasi dalam masyarakat. Kata kunci: feminisme eksistensialis, opresi, eksistensi, perempuan, Drupadi EXISTENSIALIST FEMINISM IN SENO GUMIRA AJIDARMA’S DRUPADI NOVEL AbstractThe discussion about women cannot be separated from the issue of gender equality or emancipation.  The issue of emancipation itself is a manifestation of women's rejection of the gap in their rights, obligations and roles in life.  The voicing of gender equality is often carried out through thoughts that are documented in a written work, one of which is in the form of literary works, namely novels.  Based on this explanation, this research was conducted to describe the forms of oppression against women and women's resistance as a manifestation of their existence in the Drupadi novel by Seno Gumira Ajidarma from the perspective of Simone de Beaviour's existentialist feminism.  This study uses a qualitative approach with descriptive methods.  The data source in this study is the Drupadi novel by Seno Gumira Ajidarma.  Data collection in this study was carried out by using documentation techniques.  The data in the form of quotations in the novel were then studied with the feminism-existentialist theory of Simone de Beaviour.  The results of this study indicate that in the Drupadi novel by Seno Gumira Ajidarma, there are 10 data related to forms of oppression against women consisting of, (1) views of the different positions of women and men,  (2) oppression against women in terms of service in marriage;  and (3) sexual harassment;  as well as 13 data related to forms of women's resistance as a form of their existence consisting of, (1) work, (2) becoming an intellectual agent, and (3) transforming society. Keywords: eksistensialist feminism, oppression, existence, women, Drupadi
SEKSUALITAS PEREMPUAN DAN WACANA DOMINAN PATRIARKI DALAM BEAUTIFUL YOU KARYA CHUCK PALAHNIUK Putri Ayienda Dinanti; Joesana Tjahjani
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.30707

Abstract

Patriarki adalah salah satu sistem sosial yang mengatur di beberapa negara. Imbas dari sistem patriarki, perempuan sering mengalami dominasi dan tekanan yang ditimbulkan oleh laki-laki. Hal tersebut dilakukan melalui penguasaan terhadap seksualitas perempuan. Mengacu pada latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan mengungkap hubungan seksualitas perempuan dengan wacana patriarki di dalam karya sastra, khususnya novel Beautiful You. Karya tersebut ditulis oleh Chuck Palahniuk di tahun 2014 dan termasuk ke dalam jajaran sastra kontemporer Amerika. Metode berlandaskan kualitatif dipilih ke dalam penelitian untuk mendapatkan gambaran analisis yang lebih rinci. Tulisan ini menggunakan pendekatan struktural dan kritik sastra feminis. Teori sekuen Schmitt dan Viala, serta bagan fungsional transformasi Greimas digunakan untuk membongkar struktur dan strategi naratif teks. Teori feminisme eksitensialis milik Beauvoir kemudian dipaparkan untuk menemukan ideologi dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, struktur teks dan strategi naratif memang mengindikasikan kehadiran dominasi laki-laki di sepanjang cerita. Kedua, laki-laki mendominasi melalui tubuh dan seksualitas perempuan. Ketiga, dominasi tersebut berhubungan erat dengan adopsi wacana patriarki yang kemudian menjadi ideologi dalam teks. Kata kunci: dominasi, kesusastraan, patriarki, perempuan, seksualitasWOMEN’S SEXUALITY AND DOMINANT DISCOURSE OF PATRIARCHY IN BEAUTIFUL YOU BY CHUCK PALAHNIUK AbstractPatriarchy is one of the social systems that governs in several countries. As a result of the patriarchal system, women often experience domination and pressure caused by men. This is done through domination of women's sexuality. Referring to this background, this study is aimed at revealing the relationship between women's sexuality and patriarchal discourses in literary works, especially in the novel Beautiful You. The work is written by Chuck Palahniuk in 2014 and belongs to the ranks of contemporary American literature. A qualitative based method is selected in the study to obtain a more detailed description of the analysis. The study uses a structural approach and feminist literary criticism. Schmitt and Viala's sequence theory, as well as Greimas’ transformation functional chart are used to unravel the text structure and narrative strategy. Beauvoir's theory on existentialist feminism is presented to find ideologies in the text. The results of the research show that: first, the structure of the text and the narrative strategy indeed indicate the presence of male dominance throughout the story. Second, men dominate through women's bodies and sexuality. Third, that dominance is closely related to the adoption of patriarchal discourses which later become an ideology in the text. Keywords: domination, literature, patriarchy, women, sexuality 
AN ANALYSIS OF SLANG LANGUAGE USED IN THE TEENAGER INTERACTION Nuraeni, Frasasti Wahyu; Pahamzah, John
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.37058

Abstract

Language variation, slang, is one of the recently language uses in mostly teenager interaction. They use this language variation in having various types and reasons. This paper is qualitative studies which aimed at finding and explore the types of slang language used and the reasons of using slang in teenager interaction. It was used as the method to describe a result of a process based on the category that had been determined. The data were collected from document analysis and close ended questionnaire which were analyzed by using interactive model of data analysis: data reduction, data display, and drawing conclusion / verification. The study found that the types of slang language used in teenager interaction showed various result in each types. The first highest result was acronym with the total 33 words or 37.93%. Then, the second was clipping with the total 25 words or 28.75%. Next, the third was fresh and creative with the total 16 words or 18.39%. After that, the fourth was compounding with the total eight words or 9.19%, and the lowest was imitative with the total five words or 5.74%. In line with the result of slang language used types, the result of teenagers’ reason in using slang on their interaction also showed impressive result. There were seven reasons of why the teenagers were using slang language in their interaction. The first highest result was the reason of to enrich the language by inventing new words with the total 15 frequencies or 17.85%. Then, the reason was to induce either friendliness with the total 14 frequencies or 16.70%. Next, the reason were to be different and for easing of social intercourse with the total 13 frequencies or 15.47%. The reasons of to be different and for easing of social intercourse had the same frequencies and percentage in this result. After that, the reason was to reduce seriousness of a conversation with the total 11 frequencies or 13.09%. Next, the reason was just for fun of the thing with the total 10 frequencies or 11.90%, and the last reason was for delights in virtuosity with the total eight frequencies or 9.52%. Keywords: communication, slang types, reason of using slang, and teenager.ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA SLANG DALAM INTERAKSI REMAJAAbstrakVariasi bahasa, bahasa gaul, adalah salah satu bahasa yang baru-baru ini digunakan dalam sebagian besar interaksi remaja. Mereka menggunakan variasi bahasa ini karena memiliki berbagai jenis dan alasan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan motode kualitatif yang bertujuan untuk menemukan dan mengeksplorasi jenis-jenis bahasa gaul yang digunakan dan alasan penggunaan bahasa gaul dalam interaksi remaja. Metode kualitatif digunakan sebagai metode untuk mendeskripsikan hasil dari suatu proses berdasarkan kategori yang telah ditentukan. Data diperoleh dari analisis dokumen dan angket tertutup yang dianalisis menggunakan analisis data model interaktif: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi. Hasil penelitian menemukan bahwa jenis-jenis bahasa gaul yang digunakan dalam interaksi remaja menunjukkan hasil yang beragam di setiap jenisnya. Hasil tertinggi pertama adalah akronim dengan jumlah 33 kata atau 37,93%. Kemudian yang kedua yaitu kliping dengan total 25 kata atau 28,75%. Berikutnya, yang ketiga yaitu kata baru dan kreatif dengan total 16 kata atau 18,39%. Setelah itu, kata majemuk dengan total delapan kata atau 9,19%, dan yang terendah yaitu kata peniruan dengan total lima kata atau 5,74%. Sejalan dengan hasil penggunaan jenis bahasa gaul, hasil alasan remaja dalam menggunakan bahasa gaul di interaksinya juga menunjukkan hasil yang mengesankan. Ada tujuh alasan mengapa para remaja tersebut menggunakan bahasa gaul dalam interaksi mereka. Alasan yang pertama adalah untuk memperkaya bahasa dengan menemukan kata-kata baru sebanyak 15 frekuensi atau 17,85%. Kemudian alasan yang kedua untuk menginduksi keramahan dengan total 14 frekuensi atau 16.70%. Selanjutnya, alasan yang ketiga agar berbeda dan untuk memudahkan pergaulan dengan total 13 frekuensi atau 15,47%. Sejalan dengan hasil penggunaan jenis bahasa gaul, hasil alasan remaja dalam menggunakan bahasa gaul di interaksinya juga menunjukkan hasil yang mengesankan. Alasan untuk menjadi berbeda dan untuk memudahkan pergaulan memiliki frekuensi dan persentase yang sama pada hasil ini. Setelah itu, alasan berikutnya untuk mengurangi keseriusan percakapan dengan total 11 frekuensi atau 13,09%. Selanjutnya, hanya untuk bersenang-senang dengan total 10 frekuensi atau 11,90%, dan yang terakhir adalah kesenangan dalam virtuositas dengan total delapan frekuensi atau 9,52%. Kata kunci: komunikasi, tipe-tipe bahasa gaul, alasan penggunaan bahasa gaul, dan remaja.
KEARIFAN LOKAL DALAM BAHASA-BAHASA ETNIS DI SULAWESI UTARA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Hadirman, Hadirman; Ardianto, Ardianto
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.36029

Abstract

Penelitian bahasa-bahasa etnis di Sulawesi Utara kaitannya dengan kearifan lokal dan multikulturalisme penting dilakukan. Melalui penelitian akan terungkap nilai-nilai kearifan lokal yang berwawasan multikultural. Selain itu, penelitian ini memiliki implikasi pada pembentukan karakter bangsa ketahanan integrasi bangsa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai kearifan lokal khususnya yang berwawasan multikultural dalam bahasa-bahasa etnis (daerah) di Sulawesi Utara dan implikasinya terhadap pendidikan karakter bangsa. Metode pengumpulan atau penyediaan data dilakukan melalui studi pustaka, simak, dan catat khususnya terkait data lisan percakapan masyarakat lokal menggunakan bahasa etnis. Model analisis data yang digunakan adalah interaktif-dialektis. Melalui model ini, pengumpulan data dan analisis secara bersama-sama, berulang kali, sesuai kebutuhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa-bahasa etnis di Sulawesi Utara mengandung nilai kearifan lokal, khususnya pemakaian bahasa etnis dalam konteks atau ranah budaya dan sosial kemasyarakatan. Nilai kearifan lokal yang terepresentasi  dalam bentuk leksikon dan ungkapan bahasa etnis antara lain bahasa Tonsea, Bantik, Tombulu, Mongondow, dan Sangihe-Talaud adalah bantu-membantu, musyawarah, moral dan etika, dan harga-menghargai. Temuan nilai kearifan lokal dalam bahasa-bahasa etnis tersebut dapat dijadikan bahan pendidikan karakter bangsa di sekolah maupun di perguruan tinggi. Kata kunci: nilai kearifan lokal, bahasa etnis, pendidikan karakter bangsa  LOCAL WISDOM IN ETNIC LANGUAGES IN NORTH SULAWESI AND IMPLICATION TO EDUCATION OF NATION CHARACTER AbstractResearch on ethnic languages in North Sulawesi in relation to local wisdom and multiculturalism is important. Through research, it will be revealed the values of local wisdom with a multicultural perspective. In addition, this research has implications for shaping the character of the nation for the resilience of national integration. This study aims to describe the value of local wisdom, especially those with a multicultural perspective in ethnic languages in North Sulawesi and its implications to education of national character. The method of collecting or providing data was carried out through literature study, listening, and taking notes, especially related oral data on local community convertions using ethnic languages. The data analysis model used was interactive-dialectical. Through this model, data collection and analysis are jointly, repeatedly, as needed. The results of the analysis show that the ethnic languages in North Sulawesi contain local wisdom value, especially the use of ethnic languages ini the cultural and social contexts or realms. The value of local wisdom are represented in the form lexicons and expressions of ethnic languages, including Tonsea, Bantik, Tombulu, Mangondow, and Sangihe-Talaud are helping, discussion, morals, and respect. The findings of the value of local wisdom in ethnic languages can bhe used as material for nationa character in schools and universities. Keywords: local wisdom, ethnic languages, education of nation character
IDEOLOGICAL REPRESENTATION THROUGH NOUNS IN THE QUESTION OF RED AND ITS SELF-TRANSLATION AMBA Andy Bayu Nugroho; Myrna Laksman Huntley; Rahayu Surtiati Hidayat
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.41601

Abstract

Literary translation are often faced with problems of equivalence, faithfulness, accuracy, and naturalness. This becomes more complex because the author can choose between many options. Therefore, the author’s choice of style has roles in representing his ideology. This study discusses literary translation by the author herself. This study aims at explaining whether the case of self-translation of the novel The Question of Red (TQOR) and Amba experienced distinction in the lexical category of style markers which led to a potential difference in the self-translator's ideology. A qualitative research method with Fairclough's critical discourse analysis approach was used to reveal the ideological representation. The data sources are an English novel, TQOR, and its Indonesian translation, Amba. The research data are nouns in source text and their translation which represent the self-translator’s ideology. The analysis followed Fairclough’s model of description, interpretation, and explanation. The results show that the ST has more nouns as the lexical style markers than the TT. In both texts, abstract nouns are used more frequently than concrete nouns which offers more affective involvement so that the readers of both texts can feel the experience of the characters rather than giving sensory perceptions to the readers. Keywords: ideological representation, style markers, nouns, self-translation AbstrakPenerjemahan karya sastra selalu dihadapkan pada permasalahan kesepadanan, kesetiaan, keakuratan, dan kealamiahan yang dapat menjadi lebih rumit karena pengarang dapat menggunakan gaya bahasa yang khusus. Penelitian ini membahas kasus penerjemahan karya sastra yang dilakukan oleh pengarangnya sendiri (swaterjemah). Penelitian ini bertujuan melihat apakah kasus swaterjemah novel The Question of Red (TQOR) dan Amba mengalami pergeseran gaya bahasa kategori leksikal yang mengarah pada potensi pergeseran ideologi pengarang-penerjemah. Metode penelitian kualitatif dengan analisis wacana kritis Fairclough digunakan untuk mengungkap ideologi pengarang-penerjemah. Sumber data berupa novel berbahasa Inggris, TQOR, dan terjemahan bahasa Indonesianya, Amba. Data penelitian adalah nomina di dalam TSu dan terjemahannya dalam TSa yang merepresentasikan persepsi ideologis pengarang-penerjemah. Analisis menggunakan model AWK Fairclough, yaitu deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TSu memiliki lebih banyak pemarkah gaya bahasa kategori leksikal nomina daripada TSa. Pada kedua teks, nomina abstrak lebih banyak digunakan daripada nomina konkret. Dengan demikian pengarang-penerjemah lebih menawarkan keterlibatan afektif agar pembaca turut merasakan pengalaman tokoh-tokohnya daripada memberikan persepsi indrawi. Kata Kunci: representasi ideologis, gaya bahasa, nomina, swaterjemah
"PRO-WHOM?": A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF PRESIDENT DONALD TRUMP'S IMMIGRATION POLICY SPEECHES Yolla Shinta Noer Aini; B.R. Suryo Baskoro; Aprillia Firmonasari
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.34478

Abstract

Immigration has been an integral part of American history, drawing the attention of every one to the country's presidents, including the incumbent Donald J. Trump. President Trump is known to have been quite "frank" in conveying his views of immigrants and immigration, as well as his perspectives regarding their positive and negative aspects. This qualitative descriptive study aims to analyze the view about immigrants and immigration conveyed through President Trump's speeches on immigration policy. Using Fairclough's three-dimensional framework for its analysis, it finds that President Trump's ideology is reflected in several textual aspects of his speeches, including their transitivity, mood, modality, and thematic structure. These practices highlight the involvement of other actors in drafting these speeches, which offer a discourse on immigrants and immigration that marginalizes previous policies.Keywords: Critical Discourse Analysis, Immigrants Immigration, Ideology, Trump, Policy.  “PRO SIAPA?”: ANALISIS WACANA KRITIS PIDATO-PIDATO KEBIJAKAN IMIGRASI PRESIDEN TRUMPAbstrak            Imigrasi adalah isu yang sangat lekat sepanjang sejarah Amerika. Setiap presiden Amerika selalu memberikan perhatian khusus dalam isu ini, termasuk Presiden Trump. Presiden Trump dikenal sebagai presiden yang cenderung untuk berbicara cukup “frontal” dalam membahas topik atau mengemukakan pendapat terhadap imigrasi dan imigran. Pro dan kontra menjadi hal yang tak terhindarkan di masa kepemimpinannya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini berupaya untuk mengungkap ideologi yang dianut oleh presiden Trump berkaitan dengan pandangannya terhadap imigrasi dan imigran dalam tiga pidato kebijakan imigrasi yang disampaikannya. Penelitian ini menggunakan kerangka analisis tiga dimensi dari Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek tekstual berupa transitivitas, modus dan modalitas, serta pengembangan tematik mengindikasikan ideologi Trump terhadap imigrasi dan imigran. Melalui pembahasan praktik wacana, diketahui jika ada keterlibatan pihak lain dalam penyusunan pidato. Konsep-konsep ideologi yang ditemukan melalui analisis praktik sosial cenderung untuk memihak Amerika dan memarjinalisasi kebijakan imigrasi lama serta imigran. Kata kunci: Analisis Wacana Kritis, Imigran Imigrasi, Ideologi, Trump, Kebijakan.
THE MANIFESTATION OF NON-FORMAL MINANGKABAU LANGUAGE PERSERVATION WITHIN CLOSE RELATION SAKATO COMMUNITY IN YOGYAKARTA Shintia Dwi Alika
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.26357

Abstract

AbstractIndonesian society is a multilingual and multicultural society that embraces different cultural backgrounds, languages, and regional characteristics. One of the characteristics of regionalism and cultural identity of a tribe is the regional language possessed by a region. It is the regional language that gives distinctive features for its speakers. Minangkabau language is one of the regional languages in Indonesia originating from West Sumatra whose native speakers are Minangkabau tribe. Art Society Sakato is a community that originated from the Minangkabau tribe who is quite active and influential in the city of Yogyakarta. The intimacy between the members of Sakato is very deep because they are very familiar and come from the same region. Therefore, this research is focused in the domain of the sacrifice. Despite being away from his home region Sakato still uses the Minangkabau language in a Javanese tribal community. This makes the researcher interested to research about the preservation of sociolinguistic study language. This research is descriptive qualitative. The data collection method used is the method of referring and interviewing. The form of language defense was analyzed using Miles and Huberman's theory (data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing). Based on the results of data analysis, the form of defense of Minangkabau languages of nonformal variety in the sphere of kekariban in the sakato art community in the city of Yogyakarta in the form of phoneme and morphological.Keywords: language preservation, Minangkabau language, the domain of the sacrifice, sakato, the manifestation of language preservation. WUJUD PEMERTAHANAN BAHASA MINANGKABAU NONFORMAL DALAM RANAH KEKARIBAN PADA KOMUNITAS SAKATO DI YOGYAKARTAAbstrakMasyarakat Indonesia merupakan masyarakat multilingual dan multikultural yang mewadahi perbedaan berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan ciri kedaerahan. Salah satu ciri kedaerahan dan identitas budaya dari suatu suku bangsa adalah bahasa kedaerahan yang dimiliki oleh suatu daerah. Bahasa daerahlah yang memberi ciri pembeda bagi penuturnya. Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat yang penutur aslinya adalah suku Minangkabau. Komunitas Seni Sakato merupakan komunitas yang berasal dari suku Minangkabau yang cukup aktif dan berpengaruh di Kota Yogyakarta. Kedekatan antaranggota Sakato sangat mendalam karena mereka sangat akrab dan berasal dari satu daerah yang sama. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan dalam ranah kekariban. Walaupun berada jauh dari daerah asalnya Sakato tetap menggunakan bahasa Minangkabau di tengah masyarakat bersuku Jawa. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang wujud pemertahanan bahasa kajian sosiolinguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan wawancara. Wujud pemertahanan bahasa dianalisis menggunakan teori Miles dan Huberman (pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan). Berdasarkan hasil analisis data, wujud pemertahanan bahasa Minangkabau ragam nonformal dalam ranah kekariban pada komunitas seni sakato di Kota Yogyakarta berupa fonologi dan morfologi..Kata Kunci : pemertahanan bahasa, bahasa Minangkabau, ranah kekariban, sakato, wujud pemertahanan bahasa.
LANGUAGE SOCIALIZATION IN FAMILY ENVIRONMENTS THROUGH TERMS OF ADDRESS TO CHILDREN Wira Kurniawati; Suhandano Suhandano; Bernadette Kushartanti
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.39455

Abstract

As a linguistic resource, term of address in language socialization can become a means to make children competent in language and in society. This article aims to describe the practice of language socialization that is reflected from terms of address used by parents with children in the family environment. The study took place in Sleman Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia. The data were obtained through questionnaires and observations. The questionnaires were distributed to parents through six schools (Play Groups, Day Care Centers, and Kindergartens) in the city center of Sleman Regency (N=145). Meanwhile, observations were made on five families living in urban Sleman. The data were analyzed by qualitative method which began with classifying the forms of address to then find out the motivation and socialization values contained in these forms of address. The results of the research indicated that, as a linguistic resource, several forms of address with various motivations were found. The forms and motivations for the preferred addresses toward children indicated that in urban family environments parents tend to rely on child-centered communication during the language socialization process. In this case, parents adapted their language usage to meet their children’s developmental levels. This is evident from the use of address in the form of proper names and kinship terms (which can be followed by proper names) that are utilized to avoid the use of second person pronouns. In addition, there is an emphasis on affection conveyed through addresses in the form of adjectival nominalization, nominal forms, terms of endearment, and various forms of appositives. The values reflected in the selection of such addresses are courtesy, affection, hope, cultural and religious identity, and position of society between locality and nationality.   Keywords: language socialization; address to children; family environment SOSIALISASI BAHASA DI LINGKUNGAN KELUARGA MELALUI KATA SAPAAN UNTUK ANAK-ANAK AbstrakSebagai salah satu sumber kebahasaan, pemakaian sapaan dalam sosialisasi bahasa dapat menjadi sarana untuk menyosialisasikan anak agar memiliki kecakapan dalam berbahasa dan bermasyarakat. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sosialisasi bahasa yang tecermin dari pemakaian kata sapaan oleh orang tua kepada anak di lingkungan keluarga. Penelitian berlangsung di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Data diperoleh melalui kuesioner dan observasi. Kuesioner dibagikan kepada orang tua melalui enam sekolah (Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak, dan Taman Kanak-Kanak) di Kabupaten Sleman (N = 145), sedangkan observasi dilakukan terhadap lima keluarga yang tinggal di lingkungan urban Sleman. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif yang diawali dengan melakukan klasifikasi bentuk-bentuk sapaan untuk kemudian mengetahui motivasi dan nilai sosialisasi yang terkandung dari bentuk-bentuk sapaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai sumber kebahasaan dalam sosialisasi, ditemukan beberapa bentuk sapaan dan berbagai motivasi pemakaiannya. Bentuk dan motivasi sapaan untuk anak-anak menunjukkan bahwa orang tua cenderung menggunakan komunikasi yang berpusat pada anak. Orang tua menyesuaikan penggunaan bahasa mereka untuk memenuhi tingkat perkembangan anak mereka. Hal ini terlihat dari penggunaan sapaan berupa nama diri dan istilah kekerabatan (yang dapat diikuti dengan nama diri) yang digunakan untuk menghindari penggunaan kata ganti orang kedua. Selain itu, ada penekanan pada aspek afeksi melalui sapaan berupa nominalisasi kata sifat, bentuk nominal, bentuk ungkapan kasih, dan berbagai bentuk apositif. Pemilihan jenis-jenis sapaan tersebut mengandung nilai-nilai yang secara implisit diajarkan kepada anak, yaitu kesopanan, kasih sayang, harapan, identitas budaya dan agama, serta identitas masyarakat di antara lokalitas dan nasionalitas. Kata kunci: sosialisasi bahasa, sapaan pada anak, lingkungan keluarga
READERS’ RESPONSE TO THE PERFORMANCE OF TEATER GANDRIK’S TANGIS ON THE RECENT SOCIO-POLITICAL PHENOMENA Muhammad Rasyid Ridlo; Nurhadi BW; Wiyatmi Wiyatmi
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.36321

Abstract

Literary works, including in this context play scripts later performed, often go beyond mere entertainment or exhibition. Play scripts and theatrical performances as well frequently introduce particular moral lessons, educative messages, even social controls. This research aims to describe the following matters: (a) the coverage of national mass media on three performances of Tangis (Cry) by Teater Gandrik; (b) the socio-political phenomena presented in the performance; and (c) the construct of the readers or audience on the performance. The object of this research consists of a number of news or reviews of such performance covered in national mass media in 2015. To collect the data, reading and taking notes methods were applied. The validity and reliability of the data were measured by employing semantic validity as well as intra-rater and inter-rater reliabilities. The data was later categorized and analyzed using a descriptive qualitative approach, focusing on literary reception. There were at least 15 news or reviews compiled, signifying a considerable interest of the mass media in interpreting the performance. Almost each of these coverages discusses the social circumstance represented in the play. The issue of the conflict between KPK (Corruption Eradication Commission) and Polri (Indonesian National Police) is one of the actual phenomena indirectly captured by the media relating to this performance. These media reportages serve as a construct established by the audience (experts) or the review creator or news reporters about Teater Gandrik, particularly on the play that crowns this group as one of top-notch Indonesian theater companies.Keywords: reception, performance, teater gandrik, mass media, social phenomenaRESPON PEMBACA TERHADAP PERTUNJUKAN DRAMA TANGIS OLEH TEATER GADRIK DALAM FENOMENA SOSIAL-POLITIK TERKINIAbstrakKarya sastra, termasuk dalam konteks ini naskah drama yang kemudian dipentaskan, seringkali lebih dari sekadar hiburan atau pameran. Naskah drama dan pertunjukan teater juga sering memperkenalkan pelajaran moral tertentu, pesan edukatif, bahkan kontrol sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut: (a) liputan media massa nasional atas tiga pertunjukan Tangis (Menangis) oleh Teater Gandrik; (b) fenomena sosial politik yang dihadirkan dalam pertunjukan; dan (c) konstruk pembaca atau penonton terhadap pertunjukan. Objek penelitian ini terdiri dari sejumlah berita atau ulasan tentang pertunjukan tersebut yang diliput di media massa nasional pada tahun 2015. Untuk mengumpulkan data digunakan metode membaca dan mencatat. Validitas dan reliabilitas data diukur dengan menggunakan validitas semantik serta reliabilitas intra-penilai dan antar-penilai. Data tersebut kemudian dikategorikandan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan fokus pada resepsi sastra. Sedikitnya ada 15 berita atau resensi yang dihimpun, menandakan minat media massa yang cukup besar dalam memaknai pertunjukan tersebut. Hampir setiap liputan ini membahas tentang keadaan sosial yang direpresentasikan dalam lakon tersebut. Isu konflik antara KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Polri (Polri) merupakan salah satu fenomena aktual yang secara tidak langsung ditangkap oleh media terkait kinerja tersebut. Reportase media ini menjadi konstruksi yang dibangun oleh penonton (pakar) atau pembuat resensi atau reporter berita tentang Teater Gandrik, terutama pada lakon yang menobatkan grup ini sebagai salah satu perusahaan teater terkemuka di Indonesia.Kata kunci: resepsi, pertunjukan, teater gandrik, media massa, fenomena sosial
GIVING ROOM FOR THOSE WHO ARE FORGOTTEN: READING THE FIGURES OF QUEEN KALINYAMAT AND DEWI RENGGANIS IN INDONESIAN NOVELS Wiyatmi Wiyatmi
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.35894

Abstract

            The patriarchal system which is dominant in most ethnic groups in Indonesia has brought up narratives that favor men. As a result, men are the main characters and heroes in a number of Indonesian folk literature, whereas the position and role of women tend to be marginalized. This study tries to understand two female figures, Queen Kalinyamat and Dewi Rengganis, who were transformed in Indonesian novels. In folklore both tend to be marginalized because they accentuate male heroes. However, in Indonesian novels both tend to be highlighted on their position and role in society, as can be found in the novel Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) and Cantik Itu Luka (Kurniawan, 2004, first edition). By using a qualitative descriptive method that bases on the framework of postmodernist feminism analysis, this study tries to interpret its position and role in society. By using a qualitative descriptive method that bases on the framework of postmodernist feminism analysis, this study tries to interpret its position and role in society. The results showed that the novels Ratu Kalinyamat and Cantik Itu Luka were written to bring back female characters that had existences as subjects who not only had power over their autonomy but were also able to exercise their power. Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) which transformed Queen Kalinyamat and Cantik Itu Luka (2004, first edition) which transformed Dewi Rengganis, and Dayang Sumbi showed an effort to bring back female figures who historically and in myths were considered to exist in the past. This is in line with the mission of feminist literature and feminist studies aimed at identifying the elimination and elimination of information about women in general. Keywords: feminism, women, folklore, marginalization, patriarchy MEMBERI RUANG UNTUK MEREKA YANG TERLUPAKAN:MEMBACA SOSOK RATU KALINYAMAT DAN DEWI RENGGANIS DALAM NOVEL INDONESIA Abstrak            Sistem patriarki yang dominan di sebagian besar suku bangsa di Indonesia telah memunculkan narasi-narasi yang berpihak pada laki-laki. Akibatnya, laki-laki menjadi tokoh utama dan pahlawan dalam sejumlah sastra rakyat Indonesia, sedangkan posisi dan peran perempuan cenderung terpinggirkan. Penelitian ini mencoba memahami dua sosok perempuan, Ratu Kalinyamat dan Dewi Rengganis, yang ditransformasikan dalam novel-novel Indonesia. Dalam cerita rakyat keduanya cenderung terpinggirkan karena menonjolkan pahlawan laki-laki. Namun, dalam novel-novel Indonesia keduanya cenderung menonjolkan kedudukan dan perannya dalam masyarakat, seperti yang terdapat dalam novel Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) dan Cantik Itu Luka (Kurniawan, 2004, edisi pertama). Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berpijak pada kerangka analisis feminisme postmodernis, penelitian ini mencoba menginterpretasikan posisi dan perannya dalam masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berpijak pada kerangka analisis feminisme postmodernis, penelitian ini mencoba menginterpretasikan posisi dan perannya dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Ratu Kalinyamat dan Cantik Itu Luka ditulis untuk menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan yang memiliki eksistensi sebagai subjek yang tidak hanya memiliki kekuasaan atas otonominya tetapi juga mampu menjalankan kekuasaannya. Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) yang mentransformasikan Ratu Kalinyamat dan Cantik Itu Luka (2004, edisi pertama) yang mentransformasikan Dewi Rengganis, dan Dayang Sumbi menunjukkan upaya untuk memunculkan kembali sosok-sosok perempuan yang secara historis dan mitos dianggap ada di masa lalu. Hal ini sejalan dengan misi sastra feminis dan studi feminis yang bertujuan untuk mengidentifikasi eliminasi dan eliminasi informasi tentang perempuan secara umum. Kata kunci: feminisme, perempuan, folklore, marginalisasi, patriarki

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue