cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
PENGARUH APLIKASI TEKNIK SERANGGA MANDUL (TSM) TERHADAP STERILITAS TELUR DAN PENURUNAN POPULASI VEKTOR DEMAM BERDARAH Aedes aegypti DI DAERAH SUB URBAN ENDEMIS DBD DI SALATIGA Setiyaningsih, Riyani; Agustini, Maria; Heriyanto, Bambang; Santoso, Budi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.911 KB)

Abstract

AbstrakTeknik Serangga Mandul (TSM) adalah teknik pengendalian vektor yang ramah lingkungan dan spesifik target. Adanya resistensi vektor mendorong dikembangkan TSM dalam mengurangi populasi vektor. Salah satu parameter penurunanvektor dapat dilihat dari telur steril. Telur steril adalah telur yang tidak mengandung embrio dan biasa disebut telur mandul. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi TSM terhadap peningkatan telur mandul danpenurunan populasi Ae. aegypti. Penelitian dilakukan di daerah pemukiman penduduk Kota Salatiga pada tahun 2012. Ae. aegypti jantan diiradiasi menggunakan sinar gamma cobalt-60 (70 Gy) dan dilakukan di BATAN Jakarta. Pelepasan Ae. aegypti jantan mandul dilakukan sebanyak lima kali, satu minggu sekali. Banyaknnya nyamuk yang dilepaskan adalah 45 ekor tiap rumah. Parameter yang diukur adalah presentase telur mandul sebelum dan sesudah aplikasi TSM dan penurunan populasi Ae. aegypti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase telur mandul yang dihasilkan diluar rumah setelah pelepasan jantan mandul pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima adalah 72,15%, 49,55%, 87,69%, 61,93%, and 50,89%. Presentase telur mandul di dalam rumah setelah pelepasan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima adalah 67,53%, 100%, 72,36%, 57,93%, dan 94,05%. Pelepasan jantan mandul sebanyak lima kali telah menyebabkan populasi Ae. aegypti di luar dan dalam rumah turun menjadi 89,25% dan 49,21%. Kata kunci: TSM, telur mandul, Ae. aegyptiAbstractSterile Insect Technique (SIT) is a vector control method which is safe to the environment and directed to specific target. The vector resistance against insecticide encourage the application of SIT in an effort to reduce the mosquitopopulations. Indicators and parameters of the population can be determined by the percentage of eggs sterility. Sterile egg is that does not contain embryo and usually called barren egg and does not hatch. The aim of the study was todetermine the effect of SIT on increasing percentage eggs sterility followed by reducing Aedes aegypti population. The Study had been carried out in the residential area of Salatiga in 2012, Central Java. Males Ae. aegypti were irradiated using cobalt-60 gamma ray (70 Gy) and was done in BATAN Jakarta. Sterile male Ae.aegypti were released five times,once a week. A number of 45 Ae.aegypti sterile males were released in each target house. Parameters measured were percentage of eggs sterile before and after aplication of sterile male, and reducing Ae.aegypti population. The results showed the percentage of sterile eggs produced outdoor after the release of sterile males from the first, second, third,fourth, and fifth were, 72.15%, 49.55%, 87.69%, 61.93%, and 50.89%. The sterile of the indoor eggs after the release of sterile males from the first, second, third, fourth, and fifth, were 67.53%, 100%, 72.36%, 57.93%, and 94.05%. The release of sterile males five times has affected the populations of Ae. aegypti outdoor and indoor reduced to to 89.25% and 49.21%.Keywords: SIT, sterility eggs, Ae. aegypti
BAHAN AKTIF DALAM KOMBINASI OBAT FLU DAN BATUK-PILEK, DAN PEMILIHAN OBAT FLU YANG RASIONAL Gitawati, Retno
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.543 KB)

Abstract

AbstrakFlu, salesma atau batuk pilek adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat virus, merupakan self-limiting disease dan hanya memerlukan pengobatan simtomatik. Obat-obat yang digunakan adalah obat bebas, umumnya dalam bentuk kombinasi tetap, dengan komposisi zat aktif bervariasi. Tulisan ini bertujuan mengkaji bahan aktif dalam preparat flu kombinasi tetap dan pemilihan obat flu yang rasional. Kajian dilakukan secara cross-sectional dengan sumber data berasal dari 56 referensi berupa buku, panduan, jurnal/artikel on-line maupun publikasi tercetak, menggunakan kata kunci ”common cold, cough, over-the-counter drugs, non-prescription, self-medication, analgetics, sympathomimetics, antihistamines, decongestant, antibiotics, immunomodulators, food supplement, flu, dan batuk-pilek”.Diperoleh sejumlah 191 preparat kombinasi tetap berbentuk tablet dan sirup yang diindikasikan untuk mengurangi gejala flu (common-cold), dengan komposisi zat aktif utama antihistamin dan dekongestan. Komponen tambahan lainnya adalah analgesik, antitusif, ekspektoran, stimulan. Kekuatan (strength) dosis tiap komponen masih sesuai dengan dosis yang direkomendasi, namun tercatat masih ada preparat dengan dosis dekongestan (fenilpropanolamin) yang lebih tinggi dari yang direkomendasi. Tidak ada preparat tunggal yang mampu mengatasi semua gejala flu sekaligus, sehingga preparat flu kombinasi menjadi pilihan utama. Dalam menggunakan preparat flu kombinasi perlu memilihproduk yang tepat dan rasional sesuai dengan gejala spesifik, karena kemungkinan tidak semua zat aktif dalam komposisi produk obat flu diperlukan oleh penderita.Kata kunci: flu, batuk-pilek, komposisi obat flu, simtomatik.AbstractFlu or common-cold is an acute upper respiratory tract infection mainly caused by virus, and a self-limiting disease which is requires only symptomatic treatments to alleviate the symptoms. Common-cold medication is usually an OTC drug and a fixed-dose combination of various active ingredients. The purpose of this paper is to review the active ingredients in cold medicines and how to select the medicines rationally. This review is conducted cross-sectional with data sources derived from 56 references in the form of books, guidelines, on-line journals/articles or printed publications, using the keywords: common cold, cough, over-the-counter (OTC) drugs, non-prescription, self-medication, analgesics,sympathomimetics, antihistamines, decongestants, antibiotics, immunomodulators, food supplements, flu, and batukpilek.It is obtained about 191 fixed-dose combination of tablet and syrup which is indicated for reducing the symptoms of common-cold. The main active ingredients of the fixed-dose combination are antihistamines and decongestants. An additional component is an analgesic, antitussive, expectorant and stimulant. The doses strength of each component isin accordance with the recommended dose, but noted there is still a dose preparation with decongestants (phenylpropanolamine) higher than recommended. No single cold preparations were able to overcome all the symptoms of flu at once, so the flu combination product becomes the primary of choice. When using a common-cold combinationproduct, it is important to select a product most suited to the individual and specific symptoms, as possibly not all the active ingredients are necessary for the patient.Keywords: flu, common-cold, composition of common-cold product, symptomatic
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIACNE NANOPARTIKEL KITOSAN – EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana) Rismana, Eriawan; Kusumaningrum, Susi; Bunga, Olivia; Nizar, Nizar; Marhamah, Marhamah
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.469 KB)

Abstract

AbstrakUji aktivitas antiacne dari pasta dan bubuk nanopartikel kitosan – ekstrak kulit manggis telah diamati terhadap daya hambat pertumbuhan Propionibacterium acnes. Bahan pasta nanopartikel kitosan – ekstrak manggis dibuat melalui reaksi gelasi ionik dengan cara mencampurkan larutan kitosan 0,2 % (dalam asam asetat) dengan ekstrak etanol 70 %kulit buah manggis yang kemudian direaksikan dengan natrium tripolifosfat 0,1 %. Sedangkan bahan bubuk nanopartikel kitosan – ekstrak manggis diproduksi melalui metode freeze drying dari bahan pasta nanopartikel. Hasil pengujian antiacne dari bahan pasta dan bubuk nanopartikel kitosan – ekstrak manggis menunjukkan bahwa kedua bahan dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes yang baik dengan konsentrasi terendah 0.15 %.Kata kunci : antiacne, pasta, kitosan, nanopartikel, ekstrak etanol 70 % kulit buah manggisAbstractThe antiacne activity of paste and powder of chitosan – Garcinia mangostana extract nanoparticles were observed that it’s against of Propionibacterium acnes. The paste of nanoparticles has been prepared by ionic gelation reaction by mixture 0.2 % chitosan solution in acetic acid with Garcinia mangostana 70 % ethanol extract and it’s continued byreaction process with 0.1 % sodium tripolyphosphate. Meanwhile the powder of nanoparticles was produced by freeze drying process of a paste of the nanoparticles. The results of antiacne activity of paste and powder of nanoparticles were showed that it’s could against Propionibacterium acnes with the lowest concentration about 0.15 %.Keywords : antiacnes, paste, chitosan, nanoparticles, Garcinia mangostana 70 % ethanol extract
STUDI MONITORING EFEK SAMPING OBAT ANTITUBERKULOSIS FDC KATEGORI 1 DI PROVINSI BANTEN DAN PROVINSI JAWA BARAT Sari, Ida Diana; Yuniar, Yuyun; Syaripuddin, Muhamad
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.927 KB)

Abstract

AbstrakHasil Riskesdas 2007 menunjukkan kasus Tuberkulosis (TB) Paru ditemukan merata di seluruh provinsi di Indonesia, sedangkan hasil Riskesdas 2010 menunjukkan prevalensi TB paru nasional adalah 725 per 100.000 penduduk. Salah satu penyebab putusnya terapi adalah efek samping obat. Hal ini menimbulkan resistensi kuman sehingga memperberat penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi efek samping akibat penggunaan obat antituberkulosis(OAT) dan kepatuhan pasien. Jenis penelitian adalah time series, dilakukan terhadap pasien baru penderita tuberkulosis di 10 puskesmas di Provinsi Banten dan Jawa Barat pada bulan Mei 2011. Pasien diikuti selama 6 bulan hingga periode penelitian berakhir. Pasien diwawancara mengenai efek samping obat yang dialaminya setiap bulan saat mengambil obat atau kunjungan ke rumah oleh petugas puskesmas. Pemantauan kepatuhan dilakukan dengan menghitung obatsisa yang disimpan oleh pasien. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 92 pasien, semuanya masih patuh dalam menjalani terapi. Frekuensi kejadian efek samping yang paling sering timbul pada bulan pertama dan kelima yaitu mual; pada bulan kedua pusing; serta pada bulan ketiga, keempat dan keenam nyeri sendi. Efek samping lain yang sering timbul akibat penggunaan OAT yaitu mengantuk dan lemas pada bulan pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pemantauan yang dilakukan petugas, efek samping yang terjadi dapat terdata dan tidak menyebabkan menurunnya kepatuhan pasien. Hal ini dapat terjadi karena adanya komunikasi yang baik antara pasien dengan petugas mengenai proses pengobatan TB. Disarankan agar pemantauan efek sampingdan kepatuhan dilakukan dengan menekankan pada komunikasi pasien dengan petugas. Selain itu perlu dilakukan pemantauan laboratorium secara rutin.Kata Kunci: Efek Samping, Obat Antituberkulosis (OAT), Tuberkulosis (TB) paruAbstractThe result of Basic Health Research in 2007 shown that lung tuberculosis cases spread out all over Indonesia. Meanwhile, the 2010 Basic Health Research shown the prevalence of lung TB was 725 per 100,000 populations. Side effects are among the causes of therapy drop out thus resulted in bacterial resistance which further caused the severityof TB. This research aimed to explore the information of side effects experiences caused by TB drugs therapy as well as to monitor adherence. The research was a time series research, conducted to new patients diagnosed as having lung TB in 10 public health centers (PHCs) in Banten and West Java provinces on May 2011. Those patients were followed up to6 months until the research was terminated. Patients’ experiences of side effects were collected by monthly interview, when they came to the PHCs to take drugs or during patient’s home visit by the PHC staff. Monitoring of adherence was conducted by counting the tablet at patients’ home. The sample was 92 patients, whom all were counted as adhering thetherapy. The most frequent side effect in the first and fifth months was nausea; in the second month was dizziness; and in the third, fourth and sixth month was neuromyalgia. Other side effects reported were drowsiness and weakness in the first three months. Based on the result, it is concluded that by health provider monitoring, the side effects can beidentified and had not caused low adherence. This can be the result of good communication between patients and health provider about TB therapy. It is recommended that side effects and adherence monitoring should be conducted by emphasizing on patients and provider communication. In addition, laboratory monitoring should be conductedperiodically.Keywords : side effects, antituberculosis drugs, lung tuberculosis
KESIAPAN PUSKESMAS PONED (PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI DASAR) DI LIMA REGIONAL INDONESIA Mujiati, Mujiati; Lestary, Heny; Laelasari, Eva
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.668 KB)

Abstract

AbstrakKesiapan peran Puskesmas sangat penting dalam mencapai target Angka Kematian Ibu di Indonesia. Oleh karena itu,Kementerian Kesehatan RI menyediakan Puskesmas PONED, yang mampu memberikan pelayanan obstetrik neonatalemergensi dasar 24 jam, dengan tenaga terlatih, peralatan dan perbekalan yang memadai (termasuk di dalamnyaadalah alat kesehatan, obat, dan alat transportasi). Sumber data dari hasil Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011.Variabel tenaga kesehatan terlatih, pelayanan 24 jam, alat kesehatan dan obat serta alat transportasi dikelompokkanberdasarkan 5 regional (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Bagian Timur). Dari 1.446Puskesmas PONED, sebanyak 88,7% Puskesmas memberikan pelayanan 24 jam, melibatkan dokter 79,9%, bidan96,1%, dan perawat 32,8%. Dari 17 jenis obat dan 26 alat kesehatan (alkes) standar pelayanan PONED, rata-rata angkaketersediaan di Puskesmas PONED hanya 6,06 jenis obat dan 14,12 alkes PONED, sedangkan untuk angkakecukupan, rata-ratanya adalah 5,54 jenis obat dan 12,43 alkes PONED. Sebanyak 53,3% Puskesmas PONED memilikiPuskesmas Keliling, 43,0% memiliki ambulans, dan hanya 3,7% yang memiliki perahu bermotor. Berdasarkan limaregional di Indonesia, terdapat perbedaan kesiapan Puskesmas PONED dalam hal pelayanan 24 jam, tenaga kesehatanterlatih, obat dan alkes, serta alat transportasi. Namun secara keseluruhan, regional Jawa-Bali lebih siap dibandingkandengan regional lain. Perlu perhatian dan intervensi untuk meningkatkan kesiapan puskesmas PONED, terutamameningkatkan ketersediaan dan kecukupan alat dan obat PONED, melibatkan tenaga bidan dan perawat dalampelayanan PONED, serta menyediakan dan memfungsikan pusling dan ambulans untuk pelayanan PONED.Kata Kunci: PONED, pelayanan, tenaga kesehatan, alat, obat, transportasiAbstractRoles of primary health care center (HC) are very important to achieve Maternal Mortality Rate (MMR) target inIndonesia. The Ministry of Health Indonesia provides Basic Emergency Obstetric Care (BEmOC), in which the HC iscapable with appropriate facilities (trained personnel, equipment, logistics, drugs, and transportation) to carry out basicemergency maternity and 24-hours neonatal services. The data obtained from The Indonesian Health Facility Survey2011 (Rifaskes 2011). All variables were grouped based on 5 regions in Indonesia (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan,Sulawesi, and Eastern Region). There are 1,446 Basic Emergency Obstetrict Care (BEmOCs). As much as 1,283(88.7%) BEmOCs have been carrying out 24-hours service. Service in BEmOC has involved the doctors (79.9%), themidwives (96.1%), and the nurses (32.8%). As much as 53.3% of BEmOC have mobile health care, 43.0% haveambulance, and only 3.7% have motor boat. There are variations of 24-hours service, trained personnel, drugs,equipment, and transportation in BEmOC based on five regions in Indonesia. Java-Bali region is more preparedcompared to others. Attention and intervention are needed to improve availability and adequacy of equipment and drugs,involvement of nurse and midwife in BEmOC services, as well as providing of well functioned mobile health care andambulance.Keywords: BEmOC, trained personnel, service, drugs, equipment, transportation
STUDI KEBIJAKAN PENGENDALIAN SCHISTOSOMIASIS DI KABUPATEN POSO DAN KABUPATEN SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH TAHUN 2012 Erlan, Ahmad; Junaidi, Muh.; Veridiana, Ni Nyoman; Puryadi, Puryadi; Octaviani, Octaviani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.592 KB)

Abstract

AbstrakSchistosomiasis merupakan salah satu penyakit parasit terpenting dalam kesehatan masyarakat. Di Indonesiaschistosomiasis disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelaniahupensis lindoensis. Penyakit ini hanya ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah di dua kabupaten yaitu Kabupaten Posodan Sigi. Selama ini pengendalian yang dilakukan masih bersifat rutin yaitu pengobatan, survei fokus keong,pengumpulan tinja, dan pengadaan tool kit. Belum pernah dilakukan penelitian dari aspek kebijakan pemerintah daerahdalam pengendalian schistosomiasis. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memberikan opsi kebijakan bagipemerintah daerah dalam pengendalian schistosomiasis. Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah menilai persepsistakeholder mengenai pengendalian schistosomiasis, menilai kebijakan yang selama ini dilakukan oleh pemerintahdaerah dalam pengendalian schistosomiasis dan merumuskan suatu opsi kebijakan. Metode penelitian yang dipakaiadalah studi kualitatif dengan wawancara mendalam kepada stakeholder di Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi, danpemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dimana sampeladalah stakeholder yang berkompeten mengeluarkan kebijakan tentang pengendalian schistosomiasis. Data primerdikumpulkan dengan wawancara mendalam, sedangkan data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan dokumendokumenyang terkait dengan kebijakan pengendalian schistosomiasis. Hasil wawancara mendalam menunjukkanbahwa pada umumnya semua stakeholder sudah tahu kalau schistosomiasis adalah penyakit spesifik lokal yang diIndonesia cuma ada di Provinsi Sulawesi Tengah, apa penyebabnya dan bagaimana cara pengendaliannya. Tindaklanjut dari surat keputusan yang sudah dikeluarkan oleh Gubernur Sulawesi Tengah yang membentuk tim terpadupengendalian schistosomiasis sampai sekarang belum ada gerakan. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yangdiharapkan terlibat, belum tahu apa yang akan dikerjakan. Perlu dilakukan pertemuan koordinasi lintas sektor agarpengendalian schistosomiasis dapat terpadu, saling mendukung, bersinergi dan dapat menghasilkan tujuan yangdiharapkan yaitu eliminasi di bawah 1%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah persepsi stakeholder mengenaipengendalian schistosomiasis cukup baik, mereka pada umumnya mengerti apa itu schistosomiasis, apa penyebabnyadan cara pengendaliannya. Kebijakan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah daerah dalam pengendalianschistosomiasis sudah mendapat dukungan dari Gubernur Sulawesi Tengah. Opsi kebijakan yang mendukung TimTerpadu Pengendalian Schistosomiasis adalah perlunya dibuatkan Peraturan Daerah sebagai regulasi agarimplementasi di lapangan mendapat dukungan penuh dari semua SKPD yang terlibat dalam memberikan bantuannyabaik itu sumbangan pemikiran, sumber daya maupun dana. Masyarakat juga harus diberikan hukuman adat, berupadenda potong sapi dari tokoh adat jika tidak berperilaku hidup bersih dan sehat di wilayah endemis serta harusmendukung program pemerintah daerah dalam pengendalian schistosomiasis.Kata kunci: Opsi kebijakan, stakeholder, schistosomiasisAbstractSchistosomiasis is one of the most important parasitic diseases in public health. In Indonesia schistosomiasis caused byworms Schistosoma japonicum in Oncomelania hupensis snail intermediate host lindoensis. The disease is only found inStudi Kebijakan Pengendalian … (Ahmad Erlan, Muh. Junaidi, Ni Nyoman Veridiana, Puryadi, Octaviani)43Central Sulawesi province in two districts of Poso district and Sigi. This control is performed during routine is still thetreatment, the survey focused snails, stool collection, and procurement tool kit. There was no study have ever beencarried out regarding the government policy to eradicate schistosomiasis. This study generally aims to provide policyoptions for local governments in the control of schistosomiasis. Specific objectives to be achieved are to assessstakeholder perceptions regarding the control of schistosomiasis, appraise the policy that has been used by the localgovernment in the control of schistosomiasis and formulate a policy option. The research method used is a qualitativestudy with in-depth interviews to stakeholders in Poso district, Sigi, and Central Sulawesi provincial government. Thepurposive samples were stakeholders who are competent to issue a policy on the control of schistosomiasis. Primarydata were collected by in-depth interviews, and secondary data were obtained by collecting documents related toschistosomiasis control policies. The results of in-depth interviews showed that in general all the stakeholders alreadyknew that schistosomiasis is a disease in specific local Indonesian and only found in Central Sulawesi, besides, they alsounderstand the cause and how to control the disease. As a follow-up of the decree issued by the Governor of CentralSulawesi, an integrated team of schistosomiasis control was established, however, no activities have been carried out bythe team up to now. There was no clear guidelines have been set up. There is a need to conduct inter-sectoral meetingin order to eliminate the cases below 1%. The study conclude that the stakeholders’ perception on schistosomiasis, whatthe cause of it, and how to control them are relatively good. The Governor supported the policy of local districtgovernment in eradication of schistosomiasis. However, lack of operational guidelines made these activities did notoperate very well. The propose policies option among others is to established a regulation that all related infrastructuresshould support the schistosomiasis eradication process by providing resources and funds including contributing ideasand measures to achieve the objectives. Communities should also involves and be responsible in the process includingcarry out sanctions to community members who do not comply with the regulation through community punishment. Tothose who do not comply with the rule to keep their environmental clean and sanitary should be given a sanctions suchas to cut their cow/livestock. Supporting Team Integrated Control of Schistosomiasis is needed for a regulation as theregulation on the ground that the implementation of the full support of all SKPDs involved in providing assistance bothcontribute ideas, resources and funds. People should be given the customary penalties, such as fines cut a cow fromtraditional leaders behave otherwise clean and healthy living in endemic areas and the need to support local governmentprograms in the control of schistosomiasis.Keywords : policy options, stakeholders, schistosomiasis
HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERILAKU, DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN ANGKA KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA PALU Chadijah, Sitti; Sumolang, Phetisya Pamela Frederika; Veridiana, Ni Nyoman
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 1 Mar (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.851 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit Kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Penyakit kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu antara 45-65%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan hubungan antara pengetahuan, perilaku dan sanitasilingkungan dengan angka kecacingan pada anak Sekolah Dasar (SD) di Kota Palu. Penelitian dilakukan di Kelurahan Watusampu dan Kelurahan Lolu Utara di Kota Palu, Sulawesi Tengah selama delapan bulan, yaitu bulan April sampai November 2011. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan menggunakan disain cross sectional study. Datadikumpulkan dengan cara wawancara dan pengambilan sampel tinja dari 288 siswa SD. Pemeriksaan tinja dilakukan di Balai Litbang P2B2 Donggala dengan penggunakan metode langsung. Pengumpulan tinja dilakukan selama tiga hari berturut-turut setelah kunjungan ke sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 288 sampel, 90 sampel adalahpositif terinfeksi cacing. Jenis cacing paling dominan menginfeksi adalah Ascaris lumbricoides (83,34%). Prevalensi kecacingan pada anak SD di Kota Palu sebesar 31,6%. Tidak ada bukti yang cukup menunjukkan hubungan antara pengetahuan, perilaku, dan sanitasi lingkungan dengan angka kecacingan pada anak SD di Kota Palu. (p-value > 0,05;p = 0,466, p = 0,382, p = 0,349).Kata kunci: prevalensi kecacingan, anak sekolah dasar, pengetahuan, perilaku, sanitasi lingkungan, Kota PaluAbstractSoil transmitted helminth diseases are wide spread in urban and rural areas. Soil transmitted helminth disease is still a public health problem in Indonesia due to the prevalence is still high with range 45-65%. The aim of this study was to determine the prevalence and the association between knowledge, practice, and environmental sanitation and soil transmitted helminth disease prevalence in elementary school students in Palu Municipality, Central Sulawesi. This study was carried out in Watusampu and Lolu Utara villages in Palu Municipality, Central Sulawesi for eight months, from April to November 2011. This was an observational study with a cross-sectional design. Data were collected from interviewand stool examination of 288 students. The stool samples were examined in laboratory of vector borne disease research and development by using “direct method”. The stool samples were collected for three days in a row after visiting schools. The results showed that from 288 samples, 90 samples were positive for soil transmitted helminth. Most of thesamples were positive for Ascaris lumbricoides (83.34%). The prevalence of soil transmitted helminth in elementary school students in Palu Municipality was 31.6%. There was no evidence of the association between knowledge, practise, and enviromental sanitation and soil transmitted helminth disease in elementary school students in Palu Municipality (pvalue > 0.05; p = 0.466, p = 0.382, p = 0.349).Key words : Soil transmitted helminth prevalence, elementary school student, knowledge, practise, enviromentalsanitation, Palu Municipality
PERAN DUKUN BAYI DALAM MENUNJANG KESEHATAN IBU DAN ANAK Kasnodihardjo, Kasnodihardjo; Kristiana, Lusi; Angkasawati, Tri Juni
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.597 KB)

Abstract

AbstrakHasil analisis Riskesdas 2010 menggambarkan bahwa Kabupaten Bantul Yogyakarta termasuk 10 besar dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia yang mempunyai Indek Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) cukup baik yaitu sebesar 0,69148. IPKM yang merupakan komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan termasuk di dalamnya kesehatan ibu dan anak. Jika mendasarkan pada asumsi bahwa ada hubungan yang signifikan kemajuan ekonomi suatu masyarakat dengan tingginya status kesehatan masyarakat maka untuk daerah Bantul menjadikan suatu pertanyaan, karena jumlah keluarga pra-sejahtera atau keluarga miskin di kabupaten tersebut masih cukup tinggi. Oleh karena itu perlu diungkap berbagai faktor endogen; salah satunya faktor sosial budaya yang diduga ikut berperan menunjang status kesehatan masyarakat di kabupaten tersebut. Daerah penelitian dikonsentrasikan di desa Gadingsari Kecamatan Sanden Bantul Yogyakarta, yang mana kasus kematian bayi dan balita sedikit. Data berupa berbagai informasi budaya kaitannya dengan KIA dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada sejumlah informan yang terdiri dari ibu-ibu yang sedang hamil, ibu-ibu pernah melahirkan dan atau sedang mempunyai bayi atau anak balita, sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa warga masyarakat yang dianggap mengetahui tentang budaya setempat. Selain wawancara juga dilakukan pengamatan terhadap sejumlah obyek yang berkaitan dengan KIA. Hasil wawancara dimasukan ke dalam tabel matrik informasi esensial untuk menemukan berbagai informasi yang erat kaitannya dengan KIA. Analisa hasil secara diskriptif kualitatif. Salah satu hasil penelitian menggambarkan masih adanya kepercayaan dan keterikatan masyarakat kepada dukun bayi. Dukun bayi walaupun tidak lagi melakukan pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan, namun masih dibutuhkan jasanya untuk memijat ibu sehabis bersalin dan bayi setelah dilahirkan, membantu ibu dalam menangani bayi setelah dilahirkan dan memberikan nasehat tentang hal-hal yang berkaitan dengan KIA, ini tentunya ikut berperan menunjang KIA di desa Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul Yogyakarta.Kata Kunci : dukun bayi, Kesehatan Ibu dan AnakAbstractThe results of the analysis of Basic Health Research in 2010 showed that Bantul District of Yogyakarta Province, is one of the 10 Districts / Municipalities in Indonesia bearing good Community Health Development Index of 0.69148. Community Health Development Index (CHDI) is a composite that describes the progress of health development, including maternal and child health. Based on the assumption that there is a significant relationship economic development of community and hight status of health as shown by the CHDI , it is a draws a question, because the preposperous and poor families in the district are quite high. Therefore, it is should be determine what are the various endogenous factors, such as socio-cultural factors; among those factors might play an important role in supporting the health status of the community. This study was concentrated in the rural village of Gadingsari Sanden, Bantul District in the Province of Yogyakarta, which has low cases of infant and child mortality. Data on the various culture practices in relation with mother and child health were collected through in-depth interviews. The informan were pregnant women, women whohave given births, or those who have babies or toddlers. Onther informants were community leaders and some members of the community considered familier with local culture. Alongside with interviews, observations were also conducted on the number of objects related to mother and child health. The results was qualitative descriptive analysis. The result of the study illustrates although perform its role antenatal care and attending births,TBAs is still needed to massage of mothers and infant, and give advice another matters related to MCH.Keywords : traditional birth attendans, Maternal and Child Health Care
HITUNG ANGKA LEKOSIT SEBAGAI SALAH SATU PREDIKTOR PROGNOSIS FUNCTIONAL OUTCOME DAN LAMA PERAWATAN RUMAH SAKIT PADA STROKE ISKEMIK AKUT Gofir, Abdul; Indera, Indera
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.799 KB)

Abstract

AbstrakLekositosis merupakan petanda klasik inflamasi sistemik. Iskemik serebral akan mencetuskan respons inflamatorik  melalui  akumulasi  granulosit  dan  akhirnya  lekosit  mononuclear  di  sekitar  daerah  infark. Dengan  demikian,  hitung  angka  lekosit  kemungkinan  dapat digunakan  sebagai  indikator  prognosis outcome klinis dan lama rawat inappada stroke iskemik akut. Tujuan studi adalah untuk mengetahui apakah hitung angka lekosit dapat memprediksi severitas prognosis outcome klinis dan lama rawat inap pada stroke iskemik akut. Dalam studi prospektif ini, didapatkan 120 subyek penelitian dengan stroke iskemik akut. Hitung angka lekosit subyek penelitian didapatkan saat awal masuk rumah sakit. Prognosis outcome klinis stroke iskemik akut dinilai menggunakan National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) setelah keluar dari rumah sakit. Lama rawat inap dihitung dari saat masuk sampai keluar rumah sakit. Korelasi antara hitung angka lekosit dengan NIHSS dan lama rawat inap dianalisis untuk menentukan prediktor prognosis stroke iskemik akut. Hasil studi menunjukkan pasien dengan angka lekosit yang tinggi memiliki outcome fungsional neurologis yang berat berdasarkan National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS). Lekositosis juga meningkatkan lama masa rawat inap. Angka lekosit menunjukkan  korelasi  yang  sedang  terhadap  outcome  klinis  dan  korelasi  yang  kuat  terhadap  lama rawat inap pada stroke iskemik akut (r = 0.647 dan 0.706) dan bermakna signifikan secara statistik (p < 0.001 untuk keduanya). Kesimpulan yang didapat adalah angka lekosit saat masuk rumah sakit dapat menjadi prediktor outcome fungsional neurologis dan lama masa rawat inap pada pasien stroke iskemik akut.Kata Kunci : Stroke iskemik akut; Hitung angka lekosit; NIHSS; Lama rawat inap; PrognosisAbstractElevated leukocyte count is a classic marker of systemic inflammation. Brain ischemia elicits an inflammatory response with a rapid accumulation of granulocytes and later of mononuclear leukocytes around the infarct zone. Therefore, it is possible that blood leukocyte count might serve as prognostic indicator of functional outcome and length of stay (LOS) in acute ischemic stroke. The aim of the study is to determine whether the leukocyte count can predict prognosis of functional outcome and length of stay in acute ischemic stroke. This study is a prospective study. Leukocyte count of 120 patients with acute ischemic stroke was obtained on admission to the hospital. Prognosis of functional outcome was determined by using National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) after hospital discharge. Length of stay was measured from admission until hospital discharge. Correlation between leukocyte count and functional outcome (as measured by NIHSS) and LOS was analysed to establish predictor of prognosis in acute ischemic stroke. Patients with higher leukocyte count had poor functional neurological outcome based on National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS). Higher leukocyte count also increased length of stay (LOS). Leukocyte count showed moderate correlation with clinical outcome and strong correlation with length of stay of acute ischemic stroke (r = 0.665 and 0.706 respectively) and was statistically significant (p < 0.001 for both). The conclusion is that Leukocyte count on admission could serve as a predictor of functional neurological outcome and length of stay in patients with acute ischemic stroke.Keywords : Acute ischemic stroke; leukocyte count; NIHSS; Length of stay; Prognosis
KESESUAIAN GEJALA KLINIS MALARIA DENGAN PARASITEMIA POSITIF DI WILAYAH PUSKESMAS WAIRASA KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Mau, Fridolina; Sopi, Ira Bule
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.279 KB)

Abstract

AbstrakSalah satu indikator penentuan endemisitas malaria adalah Annual Malaria Incidence (AMI). Angka AMI Puskesmas Wairasa Kabupaten Sumba Tengah selama tiga tahun berturut-turut (2009, 2010, 2011) sebesar 144‰, 187‰, dan 108‰. Tujuan kegiatan adalah menilai kesepakatan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Puskesmas Wairasa  dan  Loka  Litbang  P2B2  Waikabubak  dan  mengidentifikasi  gejala  klinis  yang  dapat  menjadi  penanda sesorang positif malaria. Desain kegiatan cross sectional, subyek kegiatan adalah pasien tersangka malaria yang berkunjung ke puskesmas. Kesepakatan hasil pemeriksaan kedua mikroskopis cukup tinggi (0,92). Disimpulkan bahwa kesepakatan pemeriksaan cukup baik. Ada 14 gejala klinis pada responden dengan parasitemia positif yaitu demam, mengigil, sakit kepala, berkeringat, suhu badan meningkat (37°C), mual, muntah, pucat, pegal (nyeri otot), nafsu makan kurang, diare, batuk, pilek, pembesaran limpa. Gejala yang secara bermakna menunjukkan kemungkinan lebih besar infeksi malaria adalah demam (OR 4,945 95% CI 2,010-12,168), sakit kepala (OR 2,230 95% CI 1,551-3,470), pucat (OR 1,557 95% CI 1,046-2,318), dan badan pegal (nyeri otot) (OR 1,778 95% CI 1,778-2,622), sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu tanda adanya infeksi malaria di daerah ini.Kata Kunci : Malaria, Parasitemia, gejala klinisAbstractOne of the indicator to determine malaria endemicity is the Annual Malaria Incidence (AMI). The number of AMI at Wairasa Health Center, Central Sumba within three consecutive year (2009,2010 and 2011) were 144‰, 187‰ and 108‰. The aim of the study were to confirm the results of microscopic examination between Wairasa Health Center  and  Loka  Litbang  P2B Waikabubak  and  to  identify  clinical  symptoms  that  can  be used as a marker of malaria positive. The study used cross sectional design, the sampel were patient suspected with malaria visiting the health center. The conformity of the microscopic assessment between the two centers are quite high (0.92). The symptoms found in patient with parasitemia positive in which fever, headache, pale and body aches (muscle pain) are significantly showed the likelihood of having malaria infection and therefore can be used as a marker of malaria infection in central Sumba. The conclusion that the agreement is quite good examination. Based on multivariate analysis found four symptoms were significantly associated with parasitaemia of fever (95% CI 2.010 to 12.168 4.945), headache (OR 2.230 95% CI 1.551 to 3.470), white (OR 1.557 95% CI 1.046 to 2.318), body feels stiff (OR 1.778 95% CI 1.778 to 2.622) can be one sign of malaria infection in this area.Keywords : Malaria, Parasitemia, clinical symptoms

Page 7 of 47 | Total Record : 467