cover
Contact Name
Kurniatun Karomah
Contact Email
hsji.indonesia@gmail.com
Phone
+6281287852886
Journal Mail Official
hsji.indonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Health Science Journal of Indonesia
ISSN : 20877021     EISSN : 23383437     DOI : https://doi.org/10.22435/hsji
Core Subject : Health,
Health Science Journal of Indonesia is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such as researchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of health research and towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in health research in order to advance science and technology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factor in the development of science and technology.
Articles 95 Documents
The Health Promotion Effectiveness On Mother Knowledge Of Stunting Prevention In Toddlers: Literature Review Ghodiq Ufthoni; Bagoes Widjanark; Apoina Kartini; Tri Joko
Health Science Journal of Indonesia Vol 13 No 2 (2022): (In Press)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v13i2.6452

Abstract

Background: The goal of public health promotion is to increase people's capacity for action through direct instruction from and for the general public, in order to enable them to take responsibility for their own well-being. It also aims to develop programs based on getting people involved in social activities that support healthy living. Stunting begins to occur when a child is two years old and occurs when the embryo is still inside the womb. Stunting is a condition when someone's normal level of badness is higher than the normal level of badness for someone else. Aim examine the effect of health promotion on mothers' knowledge about stunting prevention in toddlers. Method: Literature review is done by searching on direct science sites, Pubmed, and google scholar. They used the critical word The effect of health promotion on mothers' knowledge of stunting prevention in toddlers. References were selected based on the criteria of 1) journals related to stunting prevention, health promotion, and maternal knowledge, 2) 2017-2021 published years, and 3) fully accessible journals. Results: A total of 8362 journals were analyzed, but none of them fit the bill or had anything to do with how health education affects mothers' awareness of how to prevent stunting. The impact of health promotion on mothers' awareness of stunting prevention is then demonstrated from the 25 references found. In order to prevent stunting, health promotion involves a learning process that transforms bad behavior patterns into good ones. Conclusion: Health promotion is a learning process carried out to change unhealthy behavior patterns into healthy behavior so that stunting can occur. Keywords: Health promotion, knowledge, mothers, toddlers, stunting Abstrak Latar Belakang: Promosi kesehatan masyarakat adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat untuk bertindak melalui instruksi langsung dari dan untuk masyarakat umum, agar memungkinkan mereka bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka sendiri. Selain itu juga bertujuan untuk mengembangkan program yang berbasis pada keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosial yang mendukung hidup sehat. Stunting mulai terjadi saat anak berusia dua tahun dan terjadi saat embrio masih berada di dalam kandungan. Stunting adalah kondisi ketika tingkat keburukan normal seseorang lebih tinggi dari tingkat keburukan normal orang lain. Tujuan mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting pada balita. Metode: Kajian pustaka dilakukan dengan mencari di situs ilmu langsung, Pubmed, dan google scholar. Menggunakan kata kunci Pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting pada balita. Referensi dipilih berdasarkan kriteria: 1) jurnal terkait pencegahan stunting, promosi kesehatan, dan pengetahuan ibu; 2) tahun terbit 2017-2021; 3) jurnal yang dapat diakses sepenuhnya. Hasil: Sebanyak 8362 jurnal dianalisis, namun tidak ada satupun yang sesuai atau berkaitan dengan bagaimana pendidikan kesehatan mempengaruhi kesadaran ibu tentang cara mencegah stunting. Dampak promosi kesehatan terhadap kesadaran ibu tentang pencegahan stunting kemudian ditunjukkan dari 25 referensi yang ditemukan. Kesimpulan: Untuk mencegah stunting, promosi kesehatan melibatkan proses pembelajaran yang mengubah pola perilaku buruk menjadi baik. Kata kunci: Promosi kesehatan, pengetahuan, ibu, balita, stunting
Intake of macromolecular nutrition status in pulmonary tuberculosis subjects at the Seputih Raman Health Center, Central Lampung I Putu Priamaji Girinaja; Rahayu Yekti; Pratiwi Dyah Kusumo
Health Science Journal of Indonesia Vol 13 No 1 (2022): (In Press)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v13i1.6454

Abstract

Background: The condition of pulmonary tuberculosis patients is affected by low nutritional status and this will slow recovery time. The problem of this research is the need to describe the calorie intake of pulmonary tuberculosis patients after receiving education on nutritional patterns high in protein and fat in pulmonary tuberculosis patients at the start of their treatment. In the initial conditions, TB patients generally experience protein and energy deficits, then during the course of treatment for approximately six months, it is necessary to evaluate the nutritional intake profile of TB patients. Therefore the expected goal of this research is to obtain profile data on the intake of energy, protein, fat, and carbohydrates as well as micronutrients. Methods: Research using a descriptive interview approach using a 24-hour food recall questionnaire and www.nutrisurvey.com analysis in the work area of the Seputih Raman Public Health Center, Central Lampung in 2021. Results: Based on nutrisurvey data, subjects were found to be underweight (60%), with the highest carbohydrate intake deficit (80%) compared to intake of protein (46.67%) and fat (53.33%). Conclusion: This shows through our result, the need to emphasize the balance of nutritional intake in the nutrition education of Pulmonary Tuberculosis subjects not only protein and fat intake. Thus tuberculosis patients also need to pay attention to a balanced intake of carbohydrates Keywords: Pulmonary tuberculosis, nutrition intake. Seputih Raman Abstrak Latar Belakang : Kondisi pasien tuberkulosis paru dipengaruhi status gizi yang rendah dan hal ini akan memperlambat waktu pemulihan. Permasalahan penelitian ini perlunya gambaran asupan kalori penderita tuberkulosis paru setelah mendapat edukasi pola gizi tinggi protein dan lemak pada pasien tuberkolusis paru pada awal pengobatan mereka. Dalam kondisi awal, pada umumnya pasien Tuberkulosis mengalami defisit protein dan energi kemudian dalam perjalanan pengobatan selama kurang lebih enam bulan, perlu dilakukan evaluasi melihat profil asupan nutrisi pasien Tuberkulosis. Oleh karenanya tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah didapatkan profil data asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat juga mikronutrien. Metode: Penelitian pendekatan deskriptif wawancara dengan alat ukur kuesioner food recall 24 jam dan analisa www.nutrisurvey.com di daerah kerja puskesmas Seputih Raman, Lampung Tengah Tahun 2021. Hasil: Berdasarkan data analisa nutrisurvey, didapatkan 60% pasien status gizi kurus, dengan angka defisit asupan karbohidrat paling tinggi (80%) dibandingkan asupan protein (46,67%) dan lemak (53,33%). Kesimpulan: Melalui hasil penelitian kami, hal ini menunjukkan perlunya menekankan keseimbangan asupan gizi pada edukasi gizi pasien Tuberkulosis Paru bukan hanya pada asupan protein dan lemak, dengan demikian pasien Tuberkulosis juga perlu memperhatikan asupan karbohidrat yang seimbang. Kata kunci: Tuberkulosis paru, asupan nutrisi, Seputih Raman.
Body Mass Index and Working Period Associated with Low Back Pain in Pedicab Drivers Amardeep Kaur Kaur Singh; Indri Seta Septadina; Eka Febri Zulissetiana
Health Science Journal of Indonesia Vol 13 No 1 (2022): (In Press)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v13i1.6455

Abstract

Background: Low back pain (LBP), commonly referred to radiating low back pain or sciatica, is the discomfort between the ribcage and the gluteal folds. A risk factor for LBP is being overweight because weak abdominal muscles lead the center of gravity to shift forward, increasing lumbar lordosis and promoting exhaustion in the paravertebral muscles. A working period is an accumulation of one's work activities over a long period. If the activity is carried out continuously over the years can cause health problems. Methods: This study was an observational analytic study using a cross-sectional study—a research population of pedicab drivers in Kemuning District, Palembang City. Classification data include age, gender, and body mass index Results: Fifty-seven pedicab drivers met the requirements for participation. Bivariate analysis using the Chi-Square Test yielded a p-value of 0.038, indicating a significant association between BMI and low back pain, and a p-value of 0.025, indicating a significant association between length of employment and lower back pain. Conclusion: BMI and working period had a significant relationship with lower back pain. Keywords: low back pain, working period, body mass index Abstrak Latar Belakang :Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah nyeri di daerah punggung di antara tulang rusuk dan lipatan gluteal, termasuk juga nyeri ekstremitas yang menjalar karena gangguan punggung. Berat badan yang berlebih menyebabkan tonus otot abdomen lemah, sehingga pusat gravitasi seseorang akan terdorong ke depan dan menyebabkan lordosis lumbalis akan bertambah yang kemudian menimbulkan kelelahan pada otot paravertebra, hal ini merupakan risiko terjadinya LBP. Lama kerja merupakan akumulasi aktivitas kerja seseorang yang dilakukan dalam jangka waktu panjang yang apabila aktivitas tersebut dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu bertahun-tahun dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Metode : Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancangan potong lintang (cross-sectional study). Populasi penelitian pengayuh becak di Kec.Kemuning, Kota Palembang. Data klasifikasi meliputi usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh. Ditemukan 57 pengayuh becak yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil : Hasil analisis bivariat yang diperolehi dengan Uji Chi Square diperoleh nilai p sebesar 0.038, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan nyeri punggung bawah dan nilai p sebesar 0.025 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan nyeri punggung bawah. Kesimpulan : IMT dan lama kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan nyeri punggung bawah. Kata kunci: nyeri punggung bawah, usia, IMT
The Bacterial Susceptibility of Levofloxacin for Urinary Tract Infections Bacteria in Type 2 Diabetes Mellitus Patients Zulfikar Dwi Kiswahyu Nindo; Mahyarudin Mahyarudin; Mardhia Mardhia; Andriani Andriani
Health Science Journal of Indonesia Vol 13 No 2 (2022): (In Press)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v13i2.6469

Abstract

Abstract Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia, and can be associated with long term organ damage, organ dysfunction, and multiple organ failure. Type 2 DM causes high glucose levels in urine and suppression of the immune system, as in result it becomes a predisposing factor for urinary tract infections (UTIs). The antibiotic therapies that can be given in UTIs is levofloxacin which is effective against many types of bacteria that cause UTIs.This study aimed to determine the pattern of levofloxacin sensitivity against the bacteria that cause UTIs patients with type 2 DM. Methods: The study used a descriptive method with a total sample of 22 bacterial isolates that had been isolated from UTIs patients with type 2 DM . The bacterial isolates were collections of the Microbiology Laboratory, Faculty of Medicine, Tanjungpura University. The study was conducted from June to October 2019. The antibiotic sensitivity test used the disc diffusion method and interpretation based on the Clinical & Laboratory Standards Institute (CLSI). Results: levofloxacin was sensitive to UTIs bacteria by 95,45% with a total of 21 isolates from 22 isolates. The levofloxacin sensitivity pattern which was sensitive to types of bacteria such as Escherichia coli (100%), Pseudomonas aeruginosa (100%), Enterobacter aerogenes (66,67%), Klebsiella sp. (100%), and Shigella sp. (100%). Conclusion: levofloxacin is sensitive against bacteria that cause UTIs in type 2 DM patients with a percentage of 95,45%. Keywords: Diabetes mellitus; Urinary Tract Infections; Levofloxacin. Abstrak Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik menahun yang memiliki karakteristik berupa hiperglikemia, kondisi ini dapat berkaitan dengan kerusakan organ jangka panjang, disfungsi organ, dan kegagalan berbagai organ dalam tubuh. DM tipe 2 mengakibatkan tingginya kadar glukosa dalam urin dan penekanan sistem imun, sehingga dapat menjadi faktor predisposisi terhadap infeksi saluran kemih (ISK). Terapi antibiotik yang dapat diberikan pada ISK adalah levofloksasin yang efektif terhadap banyak jenis bakteri penyebab ISK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sensitivitas antibiotic levofloksasin terhadap bakteri penyebab infeksi saluran kemih pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan total sampel sebanyak 22 isolat bakteri yang telah diisolasi dari pasien ISK dengan DM tipe 2. Isolat bakteri merupakan koleksi Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Oktober 2019. Pengujian sensitivitas antibiotik menggunakan metode difusi cakram dan menggunakan tabel Clinical & Laboratory Standards Institute (CLSI) sebagai panduan kriteria. Hasil: levofloksasin sensitif terhadap bakteri ISK sebesar 95,45% dengan jumlah isolat sebanyak 21 dari 22 isolat uji. Pola sensitivitas levofloksasin yang bersifat sensitif pada jenis bakteri yaitu Escherichia coli (100%), Pseudomonas aeruginosa (100%), Enterobacter aerogenes (66,67%), Klebsiella sp. (100%), dan Shigella sp. (100%). Kesimpulan: levofloksasin sensitif terhadap bakteri penyebab ISK pada pasien DM tipe 2 dengan persentase sebesar 95,45%. Kata kunci: Diabetes Melitus; Infeksi Saluran Kemih; Levofloksasin.
Resilience and Emotional Intelligence Related to Workers' Stress Level in the Quarter Life Crisis Ice Yulia Wardani; Diva Aisyah Oktaviana; Riska Amalya Nasution
Health Science Journal of Indonesia Vol 13 No 2 (2022): (In Press)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v13i2.6473

Abstract

Background: young adults are vulnerable to stress due to difficulty completing their developmental tasks, which would make them be trapped in a quarter-life crisis. Resilience and emotional intelligence are needed to minimize work stress. Objectives: to investigate the relationship between resilience and emotional intelligence with stress levels in workers during the quarter-life crisis. Methods: A quantitative descriptive, correlative, and cross-sectional design was used for the research. Results: 57% of workers had low resilience, 51,9% had good emotional intelligence, and 68,6% experienced moderate stress. The results of the analysis identified a relationship between resilience and emotional intelligence with the stress level of workers during the quarter-life crisis in DKI Jakarta (p=0.001). Conclusions: workers with high resilience and good emotional intelligence experience lower stress than workers with low resilience and low emotional intelligence. This study recommends regular screening of workers’ mental health by health services and also for educational institutes to include material on resilience, emotional intelligence, work stress, and quarter-life crisis. Researchers recommend cooperation between companies and mental health services. Keywords: emotional intelligence, quarter life crisis, resilience, work stress, workers Abstrak Latar Belakang: dewasa muda rentan mengalami stres akibat sulit menyelesaikan tugas perkembangannya, sehingga dapat terjebak pada quarter life crisis. Resiliensi dan kecerdasan emosi dibutuhkan untuk meminimalkan stres kerja. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan resiliensi dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis. Metode: penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelatif dan desain cross sectional. Hasil: 57% pekerja memiliki resiliensi rendah, 51,9% pekerja mempunyai kecerdasan emosi baik, dan 68,6% pekerja mengalami stres sedang. Hasil analisis mengidentifikasi adanya hubungan resiliensi dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis di DKI Jakarta (p=0,001). Kesimpulan: pekerja dengan tingkat resiliensi tinggi dan kecerdasan emosi baik mengalami stres lebih rendah dibandingkan pekerja dengan resiliensi rendah dan kecerdasan emosi rendah. Penelitian ini merekomendasikan adanya skrining rutin kesehatan jiwa pekerja oleh pelayanan kesehatan serta institut pendidikan untuk memasukkan materi resiliensi, kecerdasan emosi, stres kerja, dan quarter life crisis. Peneliti merekomendasikan adanya kerja sama antara perusahaan dengan layanan kesehatan jiwa. Kata kunci: kecerdasan emosional, pekerja, resiliensi, stres kerja, quarter life crisis

Page 10 of 10 | Total Record : 95